Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Agustus 2021

JANGAN MENANGIS, INDONESIA

Akhudiat *
 
Bencana dan keberuntungan silih berganti
Jangan menangis, Indonesia
Malang mujur silih berganti
 
Jangan menangis, Indonesia
Kejayaan dan keruntuhan silih berganti
Jangan menangis, Indonesia

Sabtu, 21 November 2020

Puisi-Puisi Mario F. Lawi

Kompas, 20 Apr 2014
 
Sepasang Hikayat
 
Semestinya tak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta.

Minggu, 25 Oktober 2020

Puisi-Puisi Petrus Nandi

Kepada Klaudia Pyokula
 
/1/
Tak terbenam gelisah yang mengendap pada kujur kita. Kita bertolak dari kenangan yang membatu di istana kaisar dan misteri beranda Yerusalem yang belum dapat kita terawang.

Rabu, 14 Maret 2018

Puisi-Puisi Eka Budianta

Jendelasastra.com
CERITA DI KEBUN KOPI

bunga-bunga putih
yang bisa dipetik sewaktu-waktu
telah membuat burung kecil itu
termangu

1978

Rabu, 05 Januari 2011

TRIPAMA, Sri Mangkunegara IV (bagian I)

Alih bahasa: Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

TRIPAMA
Sri Mangkunegara IV

1. Yogyanira kang para prajurit
lamun bisa sira anuladha
duk inguni caritane
andelira sang prabu
Sasrabahu ing Maespati
aran patih Suwanda
lelabuhanipun
kang ginelung tri prakara
guna kaya purun ingkang den antepi
nuhoni trah utama.

2 Lire lelabuhan tri prakawis
guna bisa saniskareng karya
binudi dadya unggule
kaya sayektinipun
duk bantu prang Magadha nagri
amboyong putri dhomas
katur ratunipun
purune sampun tetela
aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri
Suwanda mati ngrana

3. Wonten malih tuladha prayogi
satriya gung nagri ing Ngalengka
Sang Kumbakarna arane
tur iku warna diyu
suprandene nggayuh utami
duk wiwit prang Ngalengka
dennya darbe atur
mring raka amrih raharja
Dasamuka tan kengguh ing atur yekti
dene mungsuh wanara.

4. Kumbakarna kinen mangsah jurit
mring kang raka sira tan lenggana
nglungguhi kasatriyane
ing tekad tan asujud
amung cipta labuh nagari
tan noleh yayah rena
myang leluhuripun
wus mukti aneng Ngalengka
mangke arsa rinusuk ing bala kapi
punagi mati ngrana.

5. Wonten malih kinarya palupi
Suryaputra Narpati Ngawangga
lan Pandhawa tur kadange
len yayah tunggil ibu
suwita mring Sri Kurupati
aneng nagri Ngastina
kinarya gul-agul
manggala golonganing prang
Baratayudha ingadegken senapati
ngalaga ing Kurawa.

6. Den mungsuhken kadange pribadi
aprang tandhing lan sang Dananjaya
Sri Karna suka manahe
den nggonira pikantuk
marga dennya arsa males sih
mring sang Duryudana
marmanta kalangkung
dennya ngetok kasudiran
aprang rame Karna mati jinemparing
sembada wirotama.

7. Katri mangka sudarsaneng Jawi
pantes kang para prawira
amirita sakadare
ing lelabuhanipun
awya kongsi mbuwang palupi
manawa tibeng nistha
ina esthinipun
sanadyan tekading buta
tan prabeda ngudi panduming dumadi
marsudi ing kautaman.

(Sri Mangkunegara IV. 1995. Tripama. Semarang: Dahara Prize)


TIGA SURI TELADAN
Sri Mangkunegara IV

1. Seyogyanya, wahai para prajurit
apabila engkau dapat meneladani
konon pada zaman dahulu ceritanya
handalan utama sang prabu
Harjunasasrabahu di kerajaan Maespati
bernama Patih Suwanda
bakti dan pengabdiannya meliputi,
terangkum dalam tiga perkara, yaitu
berguna, berhasil, dan bersedia seperti yang telah diyakini
memenuhi kesanggupan kasatria utama.

2. Adapun yang dimaksud dengan tiga perkara pengabdian
berguna, artinya dapat menyelesaikan tugas dan kewajibannya
berusaha untuk dapat senantiasa unggul;
berhasil: maksudnya adalah
ketika membantu perang melawan kerajaan Magada,
berhasil memboyong putri sebanyak delapan ratus,
dipersembahkan kepada Sang Raja;
berserdia: telah terbukti nyata berani
berperang melawan Raja Raksasa dari Negeri Alengka,
Patih Suwanda gugur di medan laga.

3. Ada lagi teladan yang utama
ksatria agung dari negeri Alengka
bernama Sang Kumbakarna
walau dia berwujud seorang raksasa
namun dia berusaha mencapai keutamaan
sejak berkecamuknya perang di negeri Alengka
dia mengajukan saran
kepada kakandanya agar dapat selamat,
Dasamuka tidak terpengaruh atas saran adindanya
beliau tetap berperang melawan pasukan kera.

4. Kumbakarna ditugaskan maju berperang
atas perintah kakandanya itu dia tidak menolak
menetapi kesanggupan sebagai ksatria
walau dalam hati kecilnya tidak setuju,
hanya yang terpikir dalam benaknya tetap membela negara
dan teringat akan ayahanda dan ibundanya
serta segenap para leluhurnya
sudah hidup mulia dan luhur di negeri Alengka
sekarang akan dirusak oleh pasukan kera
dia bersumpah mati di medan laga.

5. Ada lagi yang lain teladan utama
Suryaputra raja negeri Awangga
dan dia masih saudara kandung Pandawa
lain ayahanda, tetap satu ibundanya
dia mengabdi kepada raja Sri Kurupati
di negeri Hastinapura
menjadi panglima perang
memimpin pasukan tempur dalam peperangan
ketika Baratayudha dia dijadikan senopati
bala pasukan perang Korawa.

6. Berhadapan dengan saudaranya sendiri
berperang tanding melawan Sang Dananjaya
Sri Karna sangat senang hatinya
oleh karena dia mendapatkan jalan
untuk dapat membalas budi baik
dari Sang Duryudana
tentu berusaha dengan sungguh-sungguh
mengerahkan segenap kesaktiannya
berperang ramai sekali, namun Karna gugur terpanah
sebagai ksatria yang gagah pemberani.

7. Ketiga tokoh itu menjadi teladan orang Jawa
sepantasnya diteladan bagi semua perwira tamtama
tentu inilah teladan sekadarnya
atas pengabdiannya kepada negara
jangan sampai engkau meninggalkan teladan itu
apabila tidak ingin jatuh dalam kehinaan,
hina dina yang sesungguhnya
walau niatnya sungguh suci,
tidak berbeda budinya bagi sesama,
berusahalah mencapai keutamaan hidup.

(Sri Mangkunegara IV. 1995. Tiga Perumpamaan. Semarang: Dahara Prize)

Selasa, 21 Desember 2010

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Memandangmu dari Sisi Benakku

melihatmu dari sisi benakku
diantara cahaya mata terpaku
juga pada redup matamu
temaram siluetmu
di antara celah-celah bidai bambu
membayang samar pada pagar
mengisahkan kedalaman duka
atau rasa rindu yang masih tersisa
memisahkan antara benar dan alpa
dalam jazirah perjalanan luka

engkau berdiri menepi
mungkin itu sebuah isyarat
engkau telah jenuh menanti
atau telah tak ada arti
ribuan jarak yang terlewati
entah apa yang engkau cari
diantara beribu ujung argumentasi
mungkin mempertahankan eksistensi

tak ada warna abu-abu di langit kita
karena Tuan kita hanya memberi
dua warna antara mawar atau melati
yang tertanam pada masing-masing hati

Semarang, 20 November 2010



Bacalah

“bacalah,” begitulah ungkap-Mu yang paling romantis itu dan semua seperti tersihir untuk menyitir dan mengungkapkannya.
lalu kami pun menjadi mahir untuk membaca dan meneriakkannya. namun kami hanya pandai membaca aksara-aksara yang ditulis oleh para tetangga, sedangkan ketika membaca huruf-huruf yang kami gores ke dada sendiri, kami menjadi gagu dan alpa.

Sidomoro, 18 November 2010



Haruskah Engkau

haruskah engkau memenuhi rongga batinku
menyita hampir-hampir seluruh ingatan
menjadikannya seperti sejenis rindu

haruskah engkau mengisi kota hatiku
memenuhi hampir-hampir seluruh ruang kosongnya
dengan baris-baris namamu

ya hanya namamu
teringat olehmu seperti mengenang derita purba sebuah kota
orang-orangnya tertawan berbagai derita dan senjata

lalu tiba-tiba orang-orang itu menjelma menjadi hatiku
sedangkan senjata itu adalah namamu
mungkin juga senyummu

engkau tak kan pernah tahu di mana letak derita
karena aku telah menyimpannya
di dada

Sidomoro, 10 November 2010



Apa Kabar, Pagi?

apa kabar, pagi?
di tengah-tengah hiruk pikuk
debu-debu industri
masih sempat ku dengar
Engkau bernyanyi
pada pokok-pokok dedahan
dan reranting sunyi

Sidomoro, 8 November 2010



Pantun Rindu

patuh dalam didih dadaku
jatuh dalam pedih batinku
menyimak amsal sendu tak diam-diam
gelegak magma rindu tak padam-padam

Sidomoro, 19 November 2010



Angin Pagi

angin pagi menyeret anganku kepadaMu dalam iringan orkesta tubuh yang rapuh.

Senin, 27 September 2010

SERAT KALATIDHA Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita


http://www.sastra-indonesia.com/
Dan diterjemahkan oleh Puji Santosa

1. Mangkya darajating praja
kawuryan wus sunya-ruri
rurah pangrehing ukara
karana tanpa palupi.
Ponang parameng-kawi
kawileting tyas malatkung
kongas kasudranira
tidhem tandhaning dumadi.
Hardayengrat dening karoban rubeda.

2. Ratune ratu utama
patihe patih linuwih
pra nayaka tyas raharja
panekare becik-becik
parandene tan dadi
paliyasing kalabendu
Malah sangkin andadra
rubeda kang ngreribedi.
Beda-beda hardane wong sanagara.

3. Katatangi tangisira
sira sang parameng kawi
kawileting tyas duhtita
kataman ing reh wirangi
dening upaya sandi
sumaruna anarawang
panglipur manuhara
met pamrih melik pakolih
temah suh-ha ing karsa tanpa weweka.

4. Dhasar karoban pawarta
babaratan ujar lamis
pinudya dadya pangarsa
wekasan malah kawuri.
Yen pinikir sayekti
pedah apa aneng ngayun
andhedher kaluputan
siniraman banyu lali.
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

5. Ujaring Panitisastra
awawarah asung peling
ing jaman keneng musibat
wong ambek jatmika kontit.
Mangkono yen niteni.
Pedah apa amituhu
pawarta lalawora
mundhak angroronta ati.
Angur-baya ngiketa cariteng kuna.

6. Keni kinarya darsana
palimbang ala lan becik.
Sayekti akeh kewala
lalakon kang dadi tamsil
masalahing ngaurip
wahanira tinemu
temahan anarima
mupus papasthening takdir
puluh-puluh anglakoni kaelokan.

7. Amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
yen tan milu anglakoni
boya kaduman melik
kaliren wakasanipun.
Dilalah kersa Allah
begja-begjaning kang lali
luwih begja kang eling lan waspada.

8. Samono iku babasan
padu-paduning kapengin
enggih makoten Man Doplang
bener ingkang ngarani
nanging sajroning batin
sejatine nyamut-nyamut.
Wis tuwa arep apa
muhung mahasing ngasepi
supayantuk parimamaning Hyang Suksma.

9. Beda lan kang wus santosa
kinarilan ing Hyang Widhi
satiba malanganeya
tan susah ngupaya kasil
saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
marga samaning titah
rupa sabarang pikolih
parandene masih taberi ikhtiyar.

10. Sakadare linakonan
mung tumindak mara ati
angger tan dadi prakara
karana wirayat muni
ikhtiyar iku yekti
pamilihe reh rahayu
sinambi budi daya
kanthi awas lawan eling
kang kaesthi antuka parmaning Suksma.

11. Ya Allah ya Rasulullah
kang sipat murah lan asih
mugi-mugi aparinga
pitulung ingkang nartani
ing alam awal akhir
dumunung ing gesang ulun
mangkya sampun awredha
ing wekasan kadi pundi
mila mugi wontena pitulung Tuwan.

12. Sageda sabar santosa
mati sajroning ngaurip
kalis ing reh huru-hara
murka angkara sumingkir
tarlen meleng melatsih
sanityaseng tyas mamatuh
badharing sapudhendha
antuk wajar sawatawis
borong angga suwarga mesi martaya.



Terjemahan dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut:

ZAMAN RUSAK
Raden Ngabehi Ranggawarsita

1. Sekarang derajat negara
terlihat telah suram
pelaksanaan undang-undang sudah rusak
karena tanpa teladan.
Kini, Sang Pujangga
hatinya diliputi rasa sedih, prihatin
tampak jelas kehina-dinannya
amat suram tanda-tanda kehidupan
akibat kesukaran duniawi, bertubi-tubi kebanjiran bencana.

2. Raja yang tengah berkuasa adalah raja utama
perdana menterinya pun seorang yang terpilih
para menteri juga bercita-cita menyejahterakan rakyat
pegawai aparatnya pun baik-baik,
meski demikian tidak menjadi
penolak atas zaman terkutuk ini,
malahan keadaan semakin menjadi-jadi
berbagai rintangan yang mengganggu
berbeda-beda perbuatan angkara orang seluruh negara.

3. Daripada menangis sedih, bangkitlah
wahai Sang Pujangga
meski diliputi penuh duka cita
mendapatkan rasa malu
atas berbagai fitnahan orang.
Mereka yang mendekatimu bergaul,
menghibur, seolah membuat enak hatimu,
padahal bermaksud memperoleh keuntungan,
sehingga merusak cita-cita luhur, karena tanpa kehati-hatianmu.

4. Dasarnya terbetik berbagai berita,
kabar angin yang berujar munafik
Sang Pujangga hendak diangkat menjadi pemuka,
akhirnya malahan berada di belakang.
Apabila dipikir-pikir dengan benar
berfaedah apa berada di muka?
Menanam benih-benih kesalahan
disirami oleh air kelupaan
apabila tumbuh berkembang menjadi kesukaran.

5. Menurut buku Panitisastra
memberi ajaran dan peringatan
di dalam zaman yang penuh bencana
bahwa orang berjiwa bijak justru kalah dan berada di belakang.
Demikian apabila mau memperhatikan tanda-tanda zaman.
Apakah gunanya kita percaya
pada berita-berita kosong
justru terasa semakin menyakitkan hati
lebih baik menulis cerita-cerita kuna.

6. Hal itu dapat digunakan sebagai teladan
untuk membandingkan hal buruk dan baik.
Tentunya banyak juga
lakuan-lakuan yang menjadi contoh
tentang masalah-masalah hidup
hingga akhirnya ditemukannya,
keadaan tawakal (narima),
menyadari akan ketentuan takdir Tuhan,
bagaimana pula hal ini mengalami keanehan.

7. Menghadapi zaman edan
keadaan menjadi serba sulit
turut serta edan tidak tahan
apabila tidak turut serta melakukan
tidak mendapatkan bagian
akhirnya menderita kelaparan.
Sudah kehendak Tuhan Allah
betapun bahagianya orang yang lupa
lebih berbahagia mereka yang sadar dan waspada.

8. Demikianlah perumpamaannya
padahal mereka menginginkan,
bukankah demikian Paman Doplang?
Benar juga yang menyangkanya,
namun di dalam batin
sesungguhnya hal itu masih jauh.
Sudah tua mau apalagi,
sebaiknya menjauhkan diri dari keramaian duniawi
supaya mendapatkan anugerah kasih Tuhan Yang Maha Esa.

9. Berbeda bagi mereka yang telah teguh sentosa jiwanya
dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa
betapapun tingkah laku perbuatannya
tidak susah untuk mendapatkan penghasilan
oleh karena dari datangnya pertolongan Tuhan
Tuhan senantiasa memberi petunjuk dan pertolongan
jalannya melalui sesama makhluk
berupa segala sesuatu yang bermanfaat.
Meskipun demikian, dia masih tetap tekun rajin berusaha.

10. Sekadar menjalani hidup
hanya semata bertindak mengenakan hati
asalkan tidak menjadi suatu masalah
dengan memperhatikan petuah orang tua
bahwa ikhtiar itu sesungguhnya
memilih jalan agar selamat
sambil terus berusaha
disertai dengan awas dan sadar
yang bertujuan agar mendapatkan kasih anugerah Tuhan.

11. Ya Allah, ya Rasulullah
yang bersifat pemurah dan pengasih
semoga berkenan melimpahkan
pertolongan yang menyelamatkan
di dunia hingga ke akhirat
tempat hidup hamba
padahal sekarang (hamba) sudah tua
pada akhirnya nanti bagaimana (terserah),
maka semoga ada pertolongan Tuhan.

12. Semoga dapat sabar sentausa
laksana mati di dalam hidup
terbebas dari segala kerusuhan,
angkara murka, tamak, loba menyingkir semua
tiada lain karena berkonsentrasi diri memohon kasih Tuhan
senantiasa melatih hatinya patuh
agar dapat mengurungkan kutukan
sehingga mendapatkan sinar terang sekadarnya
berserah diri agar dapat masuk surga yang berisi keabadian.

(Teks asli bahasa Jawa diambil dari Bratakesawa (ed). 1959. Djangka Ranggawarsitan. Cetakan ketiga. Yogyakarta: Kulawarga Bratakesawa. Terjemahan bahasa Indonesia dilakukan oleh Puji Santosa).

[Puji Santosa adalah peneliti bidang kebahasaan dan kesusastraan pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, pernah menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah (2006—2008), alumnus magister humaniora dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (2002), dan kini menjabat sebagai Koordinator Jabatan Fungsional di lingkungan Pusat Bahasa. Naskah ini dimuat dalam Kakilangit 161/Mei 2010, halaman 1—13; Sisipan Majalah Sastra Horison Tahun XLIV, Nomor 5/2010. Mei 2010).http://www.facebook.com/topic.php?uid=151560011581&topic=16181

Sabtu, 20 Maret 2010

Puisi-Puisi Imamuddin SA

SAMUDRO MOLO

tak bisakah aku
sedikit menyisir nyanyian ombak
sekedar berdiri
memaknai jejak

laut itu
yang sejenak lalu
menunjukkan taringnya
membiarkan nafas habis termangsa

namun kini
keganasan singgah kembali
membuyarkan mimpi
lewat riak sungai tak terkendali

tuhan ....
adakah ini batu ujian
ataukah sebatas peringatan
akan pengingkaran;
tentang rapuh zaman

sungguh, segalanya kau hadirkan
untuk menyambut keberadaan
tahun kesembilan
dalam wujud luka bersahut-sahutan;
entah darah yang bagaimana
esok kan balik menyapa
dan aku masih enggan berkata

Kendalkemlagi, 2009



TENTANG KEPUTUSASAAN

kudengar suaramu dari tepi laut
melantunkan lagu nelayan
tentang perahu dan ikan
tentang gemuruh ombak
yang menghempas tepian

aku menyisihkan waktu
sekedar menyelami nyanyianmu
sejenak mengusik batinku;

dari jauh
kau seolah menyapaku
mengisahkan yunus
dalam selimut ikan paus

sungguh aku semakin mengerti
bahwa keputusasaan
bukanlah suatu jalan
kala melangkah di hadapan tuhan

dan kini aku harus kembali
menghampiri saudara-saudaraku yang lalai
mencoba membata hati
mengokohkan kaki
biar rapuh iman tak menghampiri

Kendalkemlagi, 2009



PAYUNG SAKSI

batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi

sungguh, kembara batin
yang telah mengepak mimpi
menembus tabir ilusi
kini singgah di pelayaran hari
menafsir misi
sendiri

namun, adakah hasrat kan kembali
bertasbih selaksa ibnu hajar
di pesisir jalan ini?

batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi

Kendalkemlagi, Oktober 2007

Puisi-Puisi Imamuddin SA

ADA YANG BUTA

ada yang ragu
di bilik hatimu
akan seberkas keyakinan
sayu

apakah rakaat-rakaat laku
kan menyebrangmu
sampai di pantai keabadian itu
ataukah hanya sebatas tarian jasad
dengan qasidah tak bersyarat

sementara, jiwamu berkecamuk
bertanya-tanya akan darojat sholat
yang tak kunjung teralat
ada yang buta
- taqlidmu

Surabaya, 23 Agustus 2008



MENIMBA TELAGA SUCI

cukup lewat puitika munajat
tuk menguras kawah di hadapannya

dan harus dengan gayung
sahadat sungsangku
mengeja abjad demi abjad lakuku
tuk menimba telaga suci
dari degup sisi sendiri;
maaf, aku telah lalai!

Kendalkemlagi, Oktober 2007



DARI ALIF SAMPAI YA’
kepada Sang Nabi

lidahku laksana kutub
dan sarafku tak bergaun wol
hingga bibirku membeku
membisu

imajiku kaku
tiada aksara terangkai untukmu
hampa mengukir puitika puja syahdu,
sungguh segalanya telah terlampaui keanggunanmu

gontai jalan hatiku
mengangan angan tuk kembali memujimu
sebab abjad terusang olehku

di sisa degup sahadat
merekat
kusisipkan rekaat munajat
lewat tembang-tembang yang kau gurat;

“dari alif sapai ya’
adalah bukti perjalanan waktu
disingkap kebersatuan laku
terkunci keyakinan kalbu,

esok kita kan bersatu
kala kusanggup membongkar tanda
yang kau kisah untukku
sebab yang tertuju hanyalah satu;
yakinku!”

Kendalkemlagi, Maret 2008

Kamis, 28 Januari 2010

Kepada Yth Edgar Sahabatku

Hasnan Bachtiar

Aku memahamimu Edgar, penghianatan Helen, perihnya seseorang di surga, dan membiasnya asa bahkan dalam mimpimu. Saat kejadian Tamerlence, begitu pula aku, tiada kehidupan. Kau temukan suratku untukmu, benar kan Edgar? Kutulis, “tak ada apapun yang tersisa untuk disembunyikan dalam kehidupan.” Nampaknya kau mulai menikmatinya, kehidupan, Ligeia, sampai sesakit maut itu indah asal kau jumpai asamu. Tapi kau mencipta Edgar, kaulah penyebab datangnya maut itu, jangan tolol, kau pembunuh di Rue Morgue! Aku senang, kau mengakuinya.

Minggu, 19 April 2009

Puisi-Puisi Arina Habaidillah

http://artstreet.multiply.com/
Sang Pemimpi

Ia menulis berbait-bait puisi
dan lebih banyak lagi
lalu menghadap langit
mencoba membaca dalam sunyi
potret kesunyian seorang diri
yang sedang menanti
awal kehadiran sang pemimpi

surabaya, 120908



Kebisuan

berbicara padamu sekan berbicara pada
debu
debu-debu yang berterbangan
hanya melewati, tak mengerti arti

aku

kebisuan yang merajalela
tak kau buka barang satu kata
untuk merubah semua yang tersisa

tak

bisakah kau mengucap :
aku rindu
di depanku?

bisu

hanya itu?
ada apa denganmu?
aku tak tahu.
mencoba mencari tau, tapi sekali lagi aku bilang
: percuma

120409



Aku Tak Bisa Membacamu Dalamku

sepatah kata dariku mungkin tak berarti bagimu
aku berucap,kau berpaling
tak mengerti jikaku rindu

aku tak bisa membacamu dalamku
mencoba mengerti, tapi kau memang tak bisa
untuk dimengerti

duniaku terguncang
merasakah kau?
tidak!
apa umpan balik darimu?
hanya diam
tak peduli!

aku tak bisa membacamu dalamku
hanya angan yang terbang tinggi
tak dapat ku geluti buah pikirmu
tak dapat ku nanti sikap manismu

seakan semuanya terkubur bersama luka pilu
hati yang berbunga
ucapan manis darimu
segalanya raib bersama anganku

aku tak bisa membacamu dalamku
mencoba mengerti,tapi tak bisa untuk dimengerti



Hanya Angan

ruang itu membuatku kembali tercekat
dalam buaian anganangan yang tak terlaksana
hanya menarawang jauh
tak mengerti jika hati sedang bertempur
tak ada yang di perebutkan saat ini
sekali lagi itu hanya angan

kala batang itu tua
lalu merapuh
tinggal serpihan
tebuang
tak berarti

hati terhujam rindu
semakin menusuk
dalam.
suatu saat akan ada waktu
harus bertemu
aku harap, itu berwujud nyata


Lamongan 150409



Tak Ada

tak ada yang dapat bertahan
dalam kondisi gelap gulita
tak dapat

tak ada yang bisa tegak berdiri
jika tiada usaha suatu apapun
tak ada

aku menggenggam kuat tanganku
sedikit berkeringat
karna tak ada yang tau
sampai kapan kita bertahan
tertunduk lesu
dalam buaian musikalisasi rindu
tergenggam kuat
dalam alunan melodi amarah
segalanya tak tergambar dalam
layar kehidupan

Lamongan 150409

Puisi-Puisi Imamuddin SA

DI BATAS KABUT MUARA LOKA

ada kersik batin
membangun kesadaran lain
menerawang mata
sejenak menata lelangkah

ah, masa telah menua
seiring jiwa-jiwa lara
menghadap kesejatian raga
di batas kabut muara loka

aku yang masih malu menatapmu
mencoba berbisik
di hening laut
akan tawar air dalam garam bertaut
membenturkan ketakutan ombak
menguji kesetiaan jejak

Kendalkemlagi, Juni 2008



MENGINTIP LOKA GAIB

adalah kesungsangan jiwa
menjelma melodi nyanyian nyawa
mengeringkan embun rindu
pada lambaian daun-daun kalbu

engkau yang setia mengeja aksara
sejenak membatulah
meneteskan sejuk air dari langit-langit goa
menggenggam kedalaman laku samudra
mengintip loka gaib semesta
di batas permainan maya

ah, bangunlah dinding-dinding imanmu
pecahkan kaca kesombonganmu
sebab muaramu masih seribu waktu

Kendalkemlagi, September 2008



MENABUH GAMELAN KESEJATIAN

sayup terhempas
jiwaku
menengadahkan angkuh
membujuk hati dalam keikhlasan lati

ada yang menarik
sebuah persinggahan diri
di kedalaman
-nang
-ning
-nong
-gong
kala panjak kemanusiaan
menabuh gamelan kesejatian

melenggang tangan kanan
menangkap selendang kalam
menghempas sampur kesungsangan
lewat kiri lambaian lengan

ada yang mengawasi;
mata-mata kaki menyisir sisi-sisi sendiri
berdiri dengan satu jari
menapak jejak pada ruas jalan yang bernilai

Kendalkemlagi, 26 September 2008

Senin, 23 Februari 2009

WAHAI BUNGA, BUNGA PINUS HIJAU

Dom Dinis

Wahai bunga, bunga pinus hijau,
tahukah engkau kabar kawanku
0h Tuhan, dimanakah dia?

Wahai bunga, bunga ranting hijau,
tahukah engkau kabar kekasihku?
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?

Tahukah engkau kabar kawanku,
ia yang mendustai janjinya padaku!
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?

Tahukah engkau kabar kekasihku,
ia yang mendustai sumpahnya padaku
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?

-Engkau ingin tahu kabar kawanmu
kukatakan padamu dia sehat dan hidup.
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?

Engkau ingin tahu kabar kekasihmu
Kukatakan kepadamu dia sehat dan hidup.
Oh Tuhan dimanakah gerangan dia?

Kukatakan padamu dia dia sehat dan hidup
dan dia akan bersamamu sebelum tenggat waktu tiba.
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?

Kukatakan padamu dia sehat dan hidup
dan dia akan bersamamu sebelum waktunya
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?

*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008

SYAIR PERGI SENDIRI

Joao Ruiz De Castelo Branco

Dewi, dengan sedih
Mataku pergi karena Anda, kasihku,
Anda tak pernah menatap mata
Yang lebih sedih dari siapapun.

Begitu sedih, begitu rindu,
Begitu pedih karena perpisahan,
Begitu lelah, berlinang dan sendu,
Mata ini lebih baik mati,
dari pada hidup seratus ribu kali.
Mata sedih ini beranjak penuh kesedihan,
Jauh dari sebuah harapan yang indah,
Anda tak pernah menatap mata
Yang lebih sedih dari siapapun.

*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008

RUBAYAT

Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitil Ka’bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa wasil dengan Yang Baqi

Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shar Nawi
Beroleh khilafat ilmu yang asli
Dari Abdul Kadir Sayyid Jilani

Hamzah Shar Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berarus
Menjadi kapur di dalam Barus

Aho segala kamu anak alim
Jangan bersahabat dengan yang zalim
Karena Rasulullah sempura hakim
Melarang kita sekalian khadim

Kunjung-kunjung di bukit tinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada tubuhnya

Nurani kenyataan yang pasti
Supaya terang laut yang dalam
Berhenti angin ombak pun mati
Menjadi sultan kedua alam

Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjelma sultan kedua alam

*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008

GURINDAM DUA BELAS

Raja Ali Haji

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahari

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
disitulah banyak orang yang tergelincir

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang sangat gagah

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang mulia
lihat kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

apabila banyak berkata-kata
disitulah jalan masuk dusta

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencatat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008

Minggu, 18 Januari 2009

Puisi Puisi Abdul Wachid B.S.

http://www.suarakarya-online.com/
Rani yang Bertanya

Rani yang masih di kamarnya
Rani yang masih di mimpi kanaknya
Rani yang tak biasa di pagi harinya
Rani yang jalan-jalan di imajinasinya

Rani,
Tatkala bumi bagai dalam ayakan Tuhan
Pohon-pohon belakang rumahmu
cemas hempaskan tubuhnya
Tak lagi kuasa kuatkan akar-akarnya
Lintang-pukang orang-orang di bawahnya

Bagai dalam ayakan Tuhan
Tembok-tembok mengombak naik-turun
Rani,
Rumah-rumah seperti roti kering yang kau ledakkan
Di tanganmu. Lintang-pukang kurcaci menghindarinya

Rani yang dalam dekapan ibunya
Rani yang amat sangat ketakutan
Rani yang masih balita itu tengadahkan tangan
Rani yang bertanya
"Tuhan, apakah Engkau sungguh marah hari ini?"

Jambidan, Yogyakarta, 27 Mei 2006



Wonokromo

Silaturrahmi ke Wonokromo
Desa santri yang mengaji
Ada rumah kekasih yang tersembunyi
Sejarah masjid yang "Hamengkubuwono"

Ada pertemuan dua sungai
Di sikunya masjid itu hijau kebiruan
Ada makam di baratnya bila kulewati
Selalu kusampaikan salam pertemuan

Aku masih mendengar lantun
Gadis kecil menderaskan al-Qur'an
Entah di pesantren Gus Fuad atau Gus Katip
Kucari-cari suaranya seperti meratap

Lalu tertimpa gelak-girang para bocah
Di sore itu di halaman masjid hijau kebiruan itu
Aku masih mendengar larangan masuk rumah
Dari lelaki tua yang diabaikan itu

Tapi paginya setelah gempa luluhlantakkan
Rumah dan pesantren-pesantren
Orang-orang baru membaca tanda
Aku masih mendengar doanya

Dalam kalimat adzan
Kepada shalat kepada kebaikan
Aku masih mendengar doanya
Sekuntum melati di antara debu dan serakan batu bata

Silaturrahmi ke Wonokromo
Kucari-cari rumah kekasih yang tersembunyi
Kucari-cari suaranya semakin sayup menyepi
Ternyata rumah hatiku pun telah poranda

Wonokromo, Yogyakarta, 4 Juli 2006



Hujan Begitu Baik

ya. hujan begitu baik mencucikan yogya
dari debu, yang ranggaskan daun jambu
depan rumah kekasihku
dari diriku, yang mandi setiap hari
tapi tak juga sampai wangi surgawi

hujan mengendapkan debu
mengisi pori-pori tanah
lalu tertampung di dalam hati
menjadi harapan dan keyakinan
kekasih menari-nari di dalam pandangan

hujan menjelma panorama ajaib
dalam mata yang saling mencari dan menunggu
dan mengajakku memutar arloji
ketika ibu mendekapku di jendela
dan aku bertanya
"ibu, di mana bidadari sang kekasih itu?"
jawab ibu, "di saat hujan, ucapkanlah doa
sebab bidadari bertaburan dari langit itu
ditemani malaikat, akan memunguti doa-
doamu, agar lebih cepat sampai
pada perkenan Tuhan"

ya. hujan begitu baik menari-nari di daun jambu
di bawahnya sebuah halte yang
pasca gempa atapnya tinggal separoh
ternyata di halte itulah kekasihku
mencari dan menunggu dan mau membeku
hujan senantiasa tergoda padanya
hujan tak kuasa menahan rasa, bahkan
hujan telah basah mendekapnya
sampai membirukan bibirnya
ketika aku sampai padanya, hujan terkesima
dan kekasihku pun malu-malu
dan bertanya
"mengapa engkau begitu lama
sehingga aku melulu menjadi debu di halte ini?"

November, 2007



Segoroyoso

Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Padahal dilingkari pegunungan kapur selatan
Dan di sebaliknya suara ombak laut selatan
Tapi gedebur menggema ini dari dalam bumi

Di malam menambah bayang-bayang kematian itu
Tiap gedebur menggema ini dari dalam bumi
Kentongan sahut bersahutan menambah pilu
Seluruh rumah dan nisan telah rata dengan debu
Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Melewatinya seperti berdiri di atas perahu
Bergoyang batin, bergelombang hari-hari kau aku
Angin dan debu semakin selimuti tenda-tenda itu

Yogyakarta, 5 Juli 2006



Puncak Cinta

Rindu memang selalu sakit
Tapi pertemuan cinta akan mengobati

Puncak cinta adalah kerinduan
Karenanya kita bisa maknai
Harap-harap cemas
Pada kekasih yang dicintai

Karena cinta kita mengenali diri
Betapa aku membutuhkanmu
Kuhayati jatuh-bangunnya hatiku
Dalam mencintaimu

Tapi kunikmati saja kesakitanku
Karena merindukanmu
Seperti kurasakan nikmatnya cinta
Yang telah kucecap dari lidah hatimu

Warungboto, Yogyakarta, 27 Juni 2006

Selasa, 06 Januari 2009

Puisi-Puisi Johan Khoirul Zaman

CAHAYA ILAHI

Malam dari pijaran cahaya Allah
Sunyi menjadi tahajud suci di dalam hati
mengukir nama dalam tasbih paling syahdu.

Memanggil-MU dengan tangan yang bergetar
tak mampu diri rasakan rindu ini

Surabaya 12-07-08



KALAM CINTA

Maha Mulia yang menggenang
sepanjang waktu alirkan Rahmat
yang tak kuat matahari pandang pesonaMu
sehingga ia bagaikan Engkau saedang ia bukanlah Engkau

cintraMu tak bersembunyi dalam getar
kembali diri hanyut dalam air yang jernih nan bening
"sungguh dari air itulah kehidupan diturunkan"
aku sekaligus tak ingin berubah dalam kejap waktu ini.

Bandung 29-12-08



GELEMBUNG REVOLUSI SYURGAWI

“Manusia- manusia dalam novel, manusia-manusia dalam film
Mahluk –mahluk dalam dunia kesunyian memanggil ruh para pemberontak.

Orang-orang dari guyuran rupiah dan dollar
Insan-insan dari lumpur politik
Jasad-jasad dalam rongga dunia memanggil nyawa para pemberi adil

O……Kalbu yang getir,
aku memanggil Ruh yang kesepian dipesta monster kapitalisme
dengan 1 jari tengah berwarna merah

O… …..mimpi yang tertimbun gedung megah,
Aku memanggil hasrat yang sekarat diatas ranjang putih
tempat pembantaian pada kemanusiaan berada
dengan 1 slogan, IMPREALISME……kadal bunting.

Dengarlah, Revolusi syurgawi ini bukanlah revolusi basa-basi
yang memuja demokerasi palsu, agamis buta atau sosialis tuli.

Tak ada ruang bagi rasisme berkhotbah.Tak ada fasisme berorasi,
karena saat ini,
Aku memanggil arwah-arwah yang mati tanpa doa-doa
dan kembang wangi 7 rupa.

Disinilah aku tersenyum,melihat mereka dikubur dengan tanah merah,
disiram ludah-ludah gelandangan dari langit yang memerah.”

Lamongan.2-05-07



KAU DAN BINTANG
Teruntuk: Restu LA Rose

Sehabis langit mengurai gerimis
dewi malam berlarian menutup senja
kini malam sedang bercerita
pada bulan yang mengandung purnama
pada dimensi tata surya dinegri cahaya

restu bumi mengajak mata
”tataplah 2 bintang dikemalaman
meraka beradu senyum dengan kehangatan ”

kau dan aku berselimut malam
agar perbincangan tak didengar burung malam
ini rahasih rindu
biarlah hanya kita yang tahu

kau dan bintang telah megajari ku senyum
tentang hari, rasa, juga cinta
restu diri panggillah aku dengan jari manismu
agar madunya menumpah ruah dalam qalbu
Sungguh, mengingatmu adalah berburu langit biru dikemalaman.

Lamongan. 15-11-08



SEJARAH TRAGEDI

“Demi masa sesungguhnya manusia dalam keadaan hina”

Dari waktu yang dijejali teror
kelam benar hidup tersakiti
peluit berbunyi siang ini
diperempatan hidup anak manusia ditilang

diruang keluarga para perempuan terbahak didepan tv
sedang sijelata menjadi kambing guling dialam nasibnya

demi kebodohan yang diagung-agungkan
kulit renta menjerit dikupas matahari

merataplah budak budak dunia dikaki para koruptor
sebelum serigala bermata samurai datang membabi buta
dengan letusan
karena suara keadilan akan disebut pemberontakan
patuhlah rakyat ku…
patuhlah dirimu dicumbui kebohongan
aku mencintaimu dari tanah hingga air
walau aku harus menguras air mata kesengsaraanmu
itu semua karena aku cinta pada rakyatku

maap aku harus membungkam suara nabi dengan dolar
karena aku ingin kau terus bercanda dengan doa
mengadulah padaNya
asal jangan kau turun kejalan menggugat ketimpangan
sebab kekuasaan itu begitu menyenangkan
oh…. Sejarah yang papa
aku takut pada apa yang disebut hidup
ketika mereka bekerja untuk kerakusan

orang pintar hanya menjadi pemutar,
pemutar kata atupun fakta

aku bodoh karena aku dibodohi
aku berteriak karena aku sesak, muak
dengan apa yang terjadi
aku pun diam karena aku ditodong kejahatan

lalu hidup ku tak bisa tenang
demi hutan hutan yang terbakar
apa yang terjadi pada jiwa manusia

Tuhan seperti mati dibawah ajang caci maki
dengan pedang berlumur kekjian

oh…..sejarah berbunuhan
aku ingin menilang diri sendiri dengan senyuman
karena doaku telah berhamburan dalam gerimis
dan membiarkan aku bersemayam dalam mendung

aku ingin membalas perang kebencian dengan laut yang meluap
agar sunyi menjadi penawar kaum yang dikalahkan kesombongan dunia
tapi mereka masih tetap ber ulah
kesadaran mati dipadang tandus
kemana kita akan pulang?

disudut bumi pun kini terjadi perang

kita tak bisa berharapkan tenang
karena semua tragedi sudah diciptakan

selamat jalan guguran bunga
akan kukirim wangimu kepemakaman
manusia-mansuia penuh cinta

selamat tinggal alam raya hijau
akan ku panggil engkau saat matahari terbenam

selamat jalan ruh kemiskinan
aku menunggu suara lapar disamping Zahra

selamat tinggal kehidupan yang damai
aku dan para perindu akan selalu berkata :

“ Demi masa…..Sesungguhnya manusia dalam keadaan hina”

Lamongan 22-11-08



SUMUR RATAPAN

Sumur itu meratap pada sesaji malam,
aliran mata air terdiam dalam tenang,
sesekali angin berbisik pada aroma mistik dari pepohonan.

Ruh kesepian merenung pada setiap kemelut dunia,
teriakan mesin mengubah lebat rimba
dengan gambar tak berupa.

Tanah tertusuk keris
tempat mahluk ganjil bersemayam.

Bebatuan retak,
disini sumur ratapan mengaliri batu gajah
lalu merenung menuju pemakaman wali.

Dan sang legenda dunia saat ini bersanding dipohon jati,
Meresapi resapan sumur yang meratap.

Mantup Lamongan 29-10-2008

Jumat, 21 November 2008

Puisi-Puisi Fakhrudin Aris

AKU AKAN PERGI

aku akan pergi bersama malam-malammu
memeluk getar alam yang sasar di tubuhku
memainkan kejora di antara gugusan
bintang yang mengkilat di matamu
menjadi naga ditanganku
menjadi api yang meracuni
mimpi-mimpimu
cinta
hapus aku dari kesumatmu.

Lamongan, 2007



GERBANG LUKA

lenyapmu pada angin
mengantarku
di gerbang luka tak bersudah
menunggumu
adalah perjamuan daun lontar
dalam aksara
yang meneteskan rindu
ngiang sengat lebah-lebah

aku lenyap atas pesta malam itu
melenyapkan diri dalam senyapmu.

Lamongan, 2007



MENERJEMAHKAN LUKA

rangkaian cahaya membentuk
butiran luka di dadaku
membercak di perjalalan
seribu pohon

ketika awan berkaca
menerjemahkan luka
tangis langit
mengabarkan beku kutub
mencair di pusat tubuhku.

Lamongan, 2008



KESYAHDUAN SUJUD

aku menari indah dalam kekafiran
melantangkan syair sayap shahwat


aku arungi sungai yang berkobar
mencari hikmah kehidupan
dalam dzikir kepasrahan

munajadku ekstase kehidupan
bebaskan keikhlasan
yang terselip dalam nafasku

kunyanyikan kesyahduan sujud
membekas di kitab
mujarobatmu.

Lamongan, 2008



JELAGA SUNYI

tangismu
mengalirkan darah
menuju kubur
pengembaraan sukma
adalah jelaga sunyi
dalam gelap abadi
ruang
dimensi

Lamongan, 2007



JEJAK HIJRAH

jejak hijrah ke ruang lain dunia
mengarungi putaran doa-doa

syair-syair samawi membuka lobang cinta
mengelus tangga ke gerbang langit

aku menari sufi
mencoba membongkar rahasia langit
pertautkan dunia dan akhirat
di ujung telapak kakiku.

Lamongan, 2007



WANITA

bagiku
dirimu adalah jejak luka
sejarah kelam
kobaran cinta
yang di kentalkan dalam
harum vas bunga.

Lamongan, 2007



KHATULISTIWA

mengembala
khatulistiwa
dalam jiwa
adalah
pesan kegaiban
dari pintu
mimpi
yang
dikobarkan
sejarah
belaka.

Lamonagn, 2007



MENGGARISKAN MIMPI

gadis pemimpi itu mengaduk tidurku
mencampur mimpinya dengan mimpiku
di tungku malam

ia menetaskan kisah
di pojok alur cerita
tentang rumusan kehidupannya sendiri

gadis pemimpi itu memainkan imajinasinya
hanya dalam mimpi yang abadi
ia memuja mimpi-mimpinya
menggariskan mimpi diguratan di kening

sementara itu
aku telah sibuk memutar waktu
membuka jendela mimpi
dari abjad-abjad yang berlari
dalam mimpi.

Lamongan, 2008



KUPU-KUPU DI DADA

matahari melipat senja di dadaku
kemudian mengendap di dadamu
tapi kita lupa bahwa di dada kita
pernah ada seekor kupu-kupu
dengan sayap luka
menyisir malam yang rapuh.

Lamongan, 2008

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito