Akhudiat *
Bencana dan keberuntungan silih berganti
Jangan menangis, Indonesia
Malang mujur silih berganti
Jangan menangis, Indonesia
Kejayaan dan keruntuhan silih berganti
Jangan menangis, Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Agustus 2021
Sabtu, 21 November 2020
Puisi-Puisi Mario F. Lawi
Kompas, 20 Apr 2014
Sepasang Hikayat
Semestinya tak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta.
Sepasang Hikayat
Semestinya tak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta.
Minggu, 25 Oktober 2020
Puisi-Puisi Petrus Nandi
Kepada Klaudia Pyokula
/1/
Tak terbenam gelisah yang mengendap pada kujur kita. Kita bertolak dari kenangan yang membatu di istana kaisar dan misteri beranda Yerusalem yang belum dapat kita terawang.
/1/
Tak terbenam gelisah yang mengendap pada kujur kita. Kita bertolak dari kenangan yang membatu di istana kaisar dan misteri beranda Yerusalem yang belum dapat kita terawang.
Rabu, 14 Maret 2018
Puisi-Puisi Eka Budianta
Jendelasastra.com
CERITA DI KEBUN KOPI
bunga-bunga putih
yang bisa dipetik sewaktu-waktu
telah membuat burung kecil itu
termangu
1978
Rabu, 05 Januari 2011
TRIPAMA, Sri Mangkunegara IV (bagian I)
Alih bahasa: Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/
TRIPAMA
Sri Mangkunegara IV
1. Yogyanira kang para prajurit
lamun bisa sira anuladha
duk inguni caritane
andelira sang prabu
Sasrabahu ing Maespati
aran patih Suwanda
lelabuhanipun
kang ginelung tri prakara
guna kaya purun ingkang den antepi
nuhoni trah utama.
2 Lire lelabuhan tri prakawis
guna bisa saniskareng karya
binudi dadya unggule
kaya sayektinipun
duk bantu prang Magadha nagri
amboyong putri dhomas
katur ratunipun
purune sampun tetela
aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri
Suwanda mati ngrana
3. Wonten malih tuladha prayogi
satriya gung nagri ing Ngalengka
Sang Kumbakarna arane
tur iku warna diyu
suprandene nggayuh utami
duk wiwit prang Ngalengka
dennya darbe atur
mring raka amrih raharja
Dasamuka tan kengguh ing atur yekti
dene mungsuh wanara.
4. Kumbakarna kinen mangsah jurit
mring kang raka sira tan lenggana
nglungguhi kasatriyane
ing tekad tan asujud
amung cipta labuh nagari
tan noleh yayah rena
myang leluhuripun
wus mukti aneng Ngalengka
mangke arsa rinusuk ing bala kapi
punagi mati ngrana.
5. Wonten malih kinarya palupi
Suryaputra Narpati Ngawangga
lan Pandhawa tur kadange
len yayah tunggil ibu
suwita mring Sri Kurupati
aneng nagri Ngastina
kinarya gul-agul
manggala golonganing prang
Baratayudha ingadegken senapati
ngalaga ing Kurawa.
6. Den mungsuhken kadange pribadi
aprang tandhing lan sang Dananjaya
Sri Karna suka manahe
den nggonira pikantuk
marga dennya arsa males sih
mring sang Duryudana
marmanta kalangkung
dennya ngetok kasudiran
aprang rame Karna mati jinemparing
sembada wirotama.
7. Katri mangka sudarsaneng Jawi
pantes kang para prawira
amirita sakadare
ing lelabuhanipun
awya kongsi mbuwang palupi
manawa tibeng nistha
ina esthinipun
sanadyan tekading buta
tan prabeda ngudi panduming dumadi
marsudi ing kautaman.
(Sri Mangkunegara IV. 1995. Tripama. Semarang: Dahara Prize)
TIGA SURI TELADAN
Sri Mangkunegara IV
1. Seyogyanya, wahai para prajurit
apabila engkau dapat meneladani
konon pada zaman dahulu ceritanya
handalan utama sang prabu
Harjunasasrabahu di kerajaan Maespati
bernama Patih Suwanda
bakti dan pengabdiannya meliputi,
terangkum dalam tiga perkara, yaitu
berguna, berhasil, dan bersedia seperti yang telah diyakini
memenuhi kesanggupan kasatria utama.
2. Adapun yang dimaksud dengan tiga perkara pengabdian
berguna, artinya dapat menyelesaikan tugas dan kewajibannya
berusaha untuk dapat senantiasa unggul;
berhasil: maksudnya adalah
ketika membantu perang melawan kerajaan Magada,
berhasil memboyong putri sebanyak delapan ratus,
dipersembahkan kepada Sang Raja;
berserdia: telah terbukti nyata berani
berperang melawan Raja Raksasa dari Negeri Alengka,
Patih Suwanda gugur di medan laga.
3. Ada lagi teladan yang utama
ksatria agung dari negeri Alengka
bernama Sang Kumbakarna
walau dia berwujud seorang raksasa
namun dia berusaha mencapai keutamaan
sejak berkecamuknya perang di negeri Alengka
dia mengajukan saran
kepada kakandanya agar dapat selamat,
Dasamuka tidak terpengaruh atas saran adindanya
beliau tetap berperang melawan pasukan kera.
4. Kumbakarna ditugaskan maju berperang
atas perintah kakandanya itu dia tidak menolak
menetapi kesanggupan sebagai ksatria
walau dalam hati kecilnya tidak setuju,
hanya yang terpikir dalam benaknya tetap membela negara
dan teringat akan ayahanda dan ibundanya
serta segenap para leluhurnya
sudah hidup mulia dan luhur di negeri Alengka
sekarang akan dirusak oleh pasukan kera
dia bersumpah mati di medan laga.
5. Ada lagi yang lain teladan utama
Suryaputra raja negeri Awangga
dan dia masih saudara kandung Pandawa
lain ayahanda, tetap satu ibundanya
dia mengabdi kepada raja Sri Kurupati
di negeri Hastinapura
menjadi panglima perang
memimpin pasukan tempur dalam peperangan
ketika Baratayudha dia dijadikan senopati
bala pasukan perang Korawa.
6. Berhadapan dengan saudaranya sendiri
berperang tanding melawan Sang Dananjaya
Sri Karna sangat senang hatinya
oleh karena dia mendapatkan jalan
untuk dapat membalas budi baik
dari Sang Duryudana
tentu berusaha dengan sungguh-sungguh
mengerahkan segenap kesaktiannya
berperang ramai sekali, namun Karna gugur terpanah
sebagai ksatria yang gagah pemberani.
7. Ketiga tokoh itu menjadi teladan orang Jawa
sepantasnya diteladan bagi semua perwira tamtama
tentu inilah teladan sekadarnya
atas pengabdiannya kepada negara
jangan sampai engkau meninggalkan teladan itu
apabila tidak ingin jatuh dalam kehinaan,
hina dina yang sesungguhnya
walau niatnya sungguh suci,
tidak berbeda budinya bagi sesama,
berusahalah mencapai keutamaan hidup.
(Sri Mangkunegara IV. 1995. Tiga Perumpamaan. Semarang: Dahara Prize)
http://pujagita.blogspot.com/
TRIPAMA
Sri Mangkunegara IV
1. Yogyanira kang para prajurit
lamun bisa sira anuladha
duk inguni caritane
andelira sang prabu
Sasrabahu ing Maespati
aran patih Suwanda
lelabuhanipun
kang ginelung tri prakara
guna kaya purun ingkang den antepi
nuhoni trah utama.
2 Lire lelabuhan tri prakawis
guna bisa saniskareng karya
binudi dadya unggule
kaya sayektinipun
duk bantu prang Magadha nagri
amboyong putri dhomas
katur ratunipun
purune sampun tetela
aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri
Suwanda mati ngrana
3. Wonten malih tuladha prayogi
satriya gung nagri ing Ngalengka
Sang Kumbakarna arane
tur iku warna diyu
suprandene nggayuh utami
duk wiwit prang Ngalengka
dennya darbe atur
mring raka amrih raharja
Dasamuka tan kengguh ing atur yekti
dene mungsuh wanara.
4. Kumbakarna kinen mangsah jurit
mring kang raka sira tan lenggana
nglungguhi kasatriyane
ing tekad tan asujud
amung cipta labuh nagari
tan noleh yayah rena
myang leluhuripun
wus mukti aneng Ngalengka
mangke arsa rinusuk ing bala kapi
punagi mati ngrana.
5. Wonten malih kinarya palupi
Suryaputra Narpati Ngawangga
lan Pandhawa tur kadange
len yayah tunggil ibu
suwita mring Sri Kurupati
aneng nagri Ngastina
kinarya gul-agul
manggala golonganing prang
Baratayudha ingadegken senapati
ngalaga ing Kurawa.
6. Den mungsuhken kadange pribadi
aprang tandhing lan sang Dananjaya
Sri Karna suka manahe
den nggonira pikantuk
marga dennya arsa males sih
mring sang Duryudana
marmanta kalangkung
dennya ngetok kasudiran
aprang rame Karna mati jinemparing
sembada wirotama.
7. Katri mangka sudarsaneng Jawi
pantes kang para prawira
amirita sakadare
ing lelabuhanipun
awya kongsi mbuwang palupi
manawa tibeng nistha
ina esthinipun
sanadyan tekading buta
tan prabeda ngudi panduming dumadi
marsudi ing kautaman.
(Sri Mangkunegara IV. 1995. Tripama. Semarang: Dahara Prize)
TIGA SURI TELADAN
Sri Mangkunegara IV
1. Seyogyanya, wahai para prajurit
apabila engkau dapat meneladani
konon pada zaman dahulu ceritanya
handalan utama sang prabu
Harjunasasrabahu di kerajaan Maespati
bernama Patih Suwanda
bakti dan pengabdiannya meliputi,
terangkum dalam tiga perkara, yaitu
berguna, berhasil, dan bersedia seperti yang telah diyakini
memenuhi kesanggupan kasatria utama.
2. Adapun yang dimaksud dengan tiga perkara pengabdian
berguna, artinya dapat menyelesaikan tugas dan kewajibannya
berusaha untuk dapat senantiasa unggul;
berhasil: maksudnya adalah
ketika membantu perang melawan kerajaan Magada,
berhasil memboyong putri sebanyak delapan ratus,
dipersembahkan kepada Sang Raja;
berserdia: telah terbukti nyata berani
berperang melawan Raja Raksasa dari Negeri Alengka,
Patih Suwanda gugur di medan laga.
3. Ada lagi teladan yang utama
ksatria agung dari negeri Alengka
bernama Sang Kumbakarna
walau dia berwujud seorang raksasa
namun dia berusaha mencapai keutamaan
sejak berkecamuknya perang di negeri Alengka
dia mengajukan saran
kepada kakandanya agar dapat selamat,
Dasamuka tidak terpengaruh atas saran adindanya
beliau tetap berperang melawan pasukan kera.
4. Kumbakarna ditugaskan maju berperang
atas perintah kakandanya itu dia tidak menolak
menetapi kesanggupan sebagai ksatria
walau dalam hati kecilnya tidak setuju,
hanya yang terpikir dalam benaknya tetap membela negara
dan teringat akan ayahanda dan ibundanya
serta segenap para leluhurnya
sudah hidup mulia dan luhur di negeri Alengka
sekarang akan dirusak oleh pasukan kera
dia bersumpah mati di medan laga.
5. Ada lagi yang lain teladan utama
Suryaputra raja negeri Awangga
dan dia masih saudara kandung Pandawa
lain ayahanda, tetap satu ibundanya
dia mengabdi kepada raja Sri Kurupati
di negeri Hastinapura
menjadi panglima perang
memimpin pasukan tempur dalam peperangan
ketika Baratayudha dia dijadikan senopati
bala pasukan perang Korawa.
6. Berhadapan dengan saudaranya sendiri
berperang tanding melawan Sang Dananjaya
Sri Karna sangat senang hatinya
oleh karena dia mendapatkan jalan
untuk dapat membalas budi baik
dari Sang Duryudana
tentu berusaha dengan sungguh-sungguh
mengerahkan segenap kesaktiannya
berperang ramai sekali, namun Karna gugur terpanah
sebagai ksatria yang gagah pemberani.
7. Ketiga tokoh itu menjadi teladan orang Jawa
sepantasnya diteladan bagi semua perwira tamtama
tentu inilah teladan sekadarnya
atas pengabdiannya kepada negara
jangan sampai engkau meninggalkan teladan itu
apabila tidak ingin jatuh dalam kehinaan,
hina dina yang sesungguhnya
walau niatnya sungguh suci,
tidak berbeda budinya bagi sesama,
berusahalah mencapai keutamaan hidup.
(Sri Mangkunegara IV. 1995. Tiga Perumpamaan. Semarang: Dahara Prize)
Selasa, 21 Desember 2010
Puisi-Puisi Zawawi Se
http://sastra-indonesia.com/
Memandangmu dari Sisi Benakku
melihatmu dari sisi benakku
diantara cahaya mata terpaku
juga pada redup matamu
temaram siluetmu
di antara celah-celah bidai bambu
membayang samar pada pagar
mengisahkan kedalaman duka
atau rasa rindu yang masih tersisa
memisahkan antara benar dan alpa
dalam jazirah perjalanan luka
engkau berdiri menepi
mungkin itu sebuah isyarat
engkau telah jenuh menanti
atau telah tak ada arti
ribuan jarak yang terlewati
entah apa yang engkau cari
diantara beribu ujung argumentasi
mungkin mempertahankan eksistensi
tak ada warna abu-abu di langit kita
karena Tuan kita hanya memberi
dua warna antara mawar atau melati
yang tertanam pada masing-masing hati
Semarang, 20 November 2010
Bacalah
“bacalah,” begitulah ungkap-Mu yang paling romantis itu dan semua seperti tersihir untuk menyitir dan mengungkapkannya.
lalu kami pun menjadi mahir untuk membaca dan meneriakkannya. namun kami hanya pandai membaca aksara-aksara yang ditulis oleh para tetangga, sedangkan ketika membaca huruf-huruf yang kami gores ke dada sendiri, kami menjadi gagu dan alpa.
Sidomoro, 18 November 2010
Haruskah Engkau
haruskah engkau memenuhi rongga batinku
menyita hampir-hampir seluruh ingatan
menjadikannya seperti sejenis rindu
haruskah engkau mengisi kota hatiku
memenuhi hampir-hampir seluruh ruang kosongnya
dengan baris-baris namamu
ya hanya namamu
teringat olehmu seperti mengenang derita purba sebuah kota
orang-orangnya tertawan berbagai derita dan senjata
lalu tiba-tiba orang-orang itu menjelma menjadi hatiku
sedangkan senjata itu adalah namamu
mungkin juga senyummu
engkau tak kan pernah tahu di mana letak derita
karena aku telah menyimpannya
di dada
Sidomoro, 10 November 2010
Apa Kabar, Pagi?
apa kabar, pagi?
di tengah-tengah hiruk pikuk
debu-debu industri
masih sempat ku dengar
Engkau bernyanyi
pada pokok-pokok dedahan
dan reranting sunyi
Sidomoro, 8 November 2010
Pantun Rindu
patuh dalam didih dadaku
jatuh dalam pedih batinku
menyimak amsal sendu tak diam-diam
gelegak magma rindu tak padam-padam
Sidomoro, 19 November 2010
Angin Pagi
angin pagi menyeret anganku kepadaMu dalam iringan orkesta tubuh yang rapuh.
Memandangmu dari Sisi Benakku
melihatmu dari sisi benakku
diantara cahaya mata terpaku
juga pada redup matamu
temaram siluetmu
di antara celah-celah bidai bambu
membayang samar pada pagar
mengisahkan kedalaman duka
atau rasa rindu yang masih tersisa
memisahkan antara benar dan alpa
dalam jazirah perjalanan luka
engkau berdiri menepi
mungkin itu sebuah isyarat
engkau telah jenuh menanti
atau telah tak ada arti
ribuan jarak yang terlewati
entah apa yang engkau cari
diantara beribu ujung argumentasi
mungkin mempertahankan eksistensi
tak ada warna abu-abu di langit kita
karena Tuan kita hanya memberi
dua warna antara mawar atau melati
yang tertanam pada masing-masing hati
Semarang, 20 November 2010
Bacalah
“bacalah,” begitulah ungkap-Mu yang paling romantis itu dan semua seperti tersihir untuk menyitir dan mengungkapkannya.
lalu kami pun menjadi mahir untuk membaca dan meneriakkannya. namun kami hanya pandai membaca aksara-aksara yang ditulis oleh para tetangga, sedangkan ketika membaca huruf-huruf yang kami gores ke dada sendiri, kami menjadi gagu dan alpa.
Sidomoro, 18 November 2010
Haruskah Engkau
haruskah engkau memenuhi rongga batinku
menyita hampir-hampir seluruh ingatan
menjadikannya seperti sejenis rindu
haruskah engkau mengisi kota hatiku
memenuhi hampir-hampir seluruh ruang kosongnya
dengan baris-baris namamu
ya hanya namamu
teringat olehmu seperti mengenang derita purba sebuah kota
orang-orangnya tertawan berbagai derita dan senjata
lalu tiba-tiba orang-orang itu menjelma menjadi hatiku
sedangkan senjata itu adalah namamu
mungkin juga senyummu
engkau tak kan pernah tahu di mana letak derita
karena aku telah menyimpannya
di dada
Sidomoro, 10 November 2010
Apa Kabar, Pagi?
apa kabar, pagi?
di tengah-tengah hiruk pikuk
debu-debu industri
masih sempat ku dengar
Engkau bernyanyi
pada pokok-pokok dedahan
dan reranting sunyi
Sidomoro, 8 November 2010
Pantun Rindu
patuh dalam didih dadaku
jatuh dalam pedih batinku
menyimak amsal sendu tak diam-diam
gelegak magma rindu tak padam-padam
Sidomoro, 19 November 2010
Angin Pagi
angin pagi menyeret anganku kepadaMu dalam iringan orkesta tubuh yang rapuh.
Senin, 27 September 2010
SERAT KALATIDHA Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita
http://www.sastra-indonesia.com/
Dan diterjemahkan oleh Puji Santosa
1. Mangkya darajating praja
kawuryan wus sunya-ruri
rurah pangrehing ukara
karana tanpa palupi.
Ponang parameng-kawi
kawileting tyas malatkung
kongas kasudranira
tidhem tandhaning dumadi.
Hardayengrat dening karoban rubeda.
2. Ratune ratu utama
patihe patih linuwih
pra nayaka tyas raharja
panekare becik-becik
parandene tan dadi
paliyasing kalabendu
Malah sangkin andadra
rubeda kang ngreribedi.
Beda-beda hardane wong sanagara.
3. Katatangi tangisira
sira sang parameng kawi
kawileting tyas duhtita
kataman ing reh wirangi
dening upaya sandi
sumaruna anarawang
panglipur manuhara
met pamrih melik pakolih
temah suh-ha ing karsa tanpa weweka.
4. Dhasar karoban pawarta
babaratan ujar lamis
pinudya dadya pangarsa
wekasan malah kawuri.
Yen pinikir sayekti
pedah apa aneng ngayun
andhedher kaluputan
siniraman banyu lali.
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.
5. Ujaring Panitisastra
awawarah asung peling
ing jaman keneng musibat
wong ambek jatmika kontit.
Mangkono yen niteni.
Pedah apa amituhu
pawarta lalawora
mundhak angroronta ati.
Angur-baya ngiketa cariteng kuna.
6. Keni kinarya darsana
palimbang ala lan becik.
Sayekti akeh kewala
lalakon kang dadi tamsil
masalahing ngaurip
wahanira tinemu
temahan anarima
mupus papasthening takdir
puluh-puluh anglakoni kaelokan.
7. Amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
yen tan milu anglakoni
boya kaduman melik
kaliren wakasanipun.
Dilalah kersa Allah
begja-begjaning kang lali
luwih begja kang eling lan waspada.
8. Samono iku babasan
padu-paduning kapengin
enggih makoten Man Doplang
bener ingkang ngarani
nanging sajroning batin
sejatine nyamut-nyamut.
Wis tuwa arep apa
muhung mahasing ngasepi
supayantuk parimamaning Hyang Suksma.
9. Beda lan kang wus santosa
kinarilan ing Hyang Widhi
satiba malanganeya
tan susah ngupaya kasil
saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
marga samaning titah
rupa sabarang pikolih
parandene masih taberi ikhtiyar.
10. Sakadare linakonan
mung tumindak mara ati
angger tan dadi prakara
karana wirayat muni
ikhtiyar iku yekti
pamilihe reh rahayu
sinambi budi daya
kanthi awas lawan eling
kang kaesthi antuka parmaning Suksma.
11. Ya Allah ya Rasulullah
kang sipat murah lan asih
mugi-mugi aparinga
pitulung ingkang nartani
ing alam awal akhir
dumunung ing gesang ulun
mangkya sampun awredha
ing wekasan kadi pundi
mila mugi wontena pitulung Tuwan.
12. Sageda sabar santosa
mati sajroning ngaurip
kalis ing reh huru-hara
murka angkara sumingkir
tarlen meleng melatsih
sanityaseng tyas mamatuh
badharing sapudhendha
antuk wajar sawatawis
borong angga suwarga mesi martaya.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut:
ZAMAN RUSAK
Raden Ngabehi Ranggawarsita
1. Sekarang derajat negara
terlihat telah suram
pelaksanaan undang-undang sudah rusak
karena tanpa teladan.
Kini, Sang Pujangga
hatinya diliputi rasa sedih, prihatin
tampak jelas kehina-dinannya
amat suram tanda-tanda kehidupan
akibat kesukaran duniawi, bertubi-tubi kebanjiran bencana.
2. Raja yang tengah berkuasa adalah raja utama
perdana menterinya pun seorang yang terpilih
para menteri juga bercita-cita menyejahterakan rakyat
pegawai aparatnya pun baik-baik,
meski demikian tidak menjadi
penolak atas zaman terkutuk ini,
malahan keadaan semakin menjadi-jadi
berbagai rintangan yang mengganggu
berbeda-beda perbuatan angkara orang seluruh negara.
3. Daripada menangis sedih, bangkitlah
wahai Sang Pujangga
meski diliputi penuh duka cita
mendapatkan rasa malu
atas berbagai fitnahan orang.
Mereka yang mendekatimu bergaul,
menghibur, seolah membuat enak hatimu,
padahal bermaksud memperoleh keuntungan,
sehingga merusak cita-cita luhur, karena tanpa kehati-hatianmu.
4. Dasarnya terbetik berbagai berita,
kabar angin yang berujar munafik
Sang Pujangga hendak diangkat menjadi pemuka,
akhirnya malahan berada di belakang.
Apabila dipikir-pikir dengan benar
berfaedah apa berada di muka?
Menanam benih-benih kesalahan
disirami oleh air kelupaan
apabila tumbuh berkembang menjadi kesukaran.
5. Menurut buku Panitisastra
memberi ajaran dan peringatan
di dalam zaman yang penuh bencana
bahwa orang berjiwa bijak justru kalah dan berada di belakang.
Demikian apabila mau memperhatikan tanda-tanda zaman.
Apakah gunanya kita percaya
pada berita-berita kosong
justru terasa semakin menyakitkan hati
lebih baik menulis cerita-cerita kuna.
6. Hal itu dapat digunakan sebagai teladan
untuk membandingkan hal buruk dan baik.
Tentunya banyak juga
lakuan-lakuan yang menjadi contoh
tentang masalah-masalah hidup
hingga akhirnya ditemukannya,
keadaan tawakal (narima),
menyadari akan ketentuan takdir Tuhan,
bagaimana pula hal ini mengalami keanehan.
7. Menghadapi zaman edan
keadaan menjadi serba sulit
turut serta edan tidak tahan
apabila tidak turut serta melakukan
tidak mendapatkan bagian
akhirnya menderita kelaparan.
Sudah kehendak Tuhan Allah
betapun bahagianya orang yang lupa
lebih berbahagia mereka yang sadar dan waspada.
8. Demikianlah perumpamaannya
padahal mereka menginginkan,
bukankah demikian Paman Doplang?
Benar juga yang menyangkanya,
namun di dalam batin
sesungguhnya hal itu masih jauh.
Sudah tua mau apalagi,
sebaiknya menjauhkan diri dari keramaian duniawi
supaya mendapatkan anugerah kasih Tuhan Yang Maha Esa.
9. Berbeda bagi mereka yang telah teguh sentosa jiwanya
dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa
betapapun tingkah laku perbuatannya
tidak susah untuk mendapatkan penghasilan
oleh karena dari datangnya pertolongan Tuhan
Tuhan senantiasa memberi petunjuk dan pertolongan
jalannya melalui sesama makhluk
berupa segala sesuatu yang bermanfaat.
Meskipun demikian, dia masih tetap tekun rajin berusaha.
10. Sekadar menjalani hidup
hanya semata bertindak mengenakan hati
asalkan tidak menjadi suatu masalah
dengan memperhatikan petuah orang tua
bahwa ikhtiar itu sesungguhnya
memilih jalan agar selamat
sambil terus berusaha
disertai dengan awas dan sadar
yang bertujuan agar mendapatkan kasih anugerah Tuhan.
11. Ya Allah, ya Rasulullah
yang bersifat pemurah dan pengasih
semoga berkenan melimpahkan
pertolongan yang menyelamatkan
di dunia hingga ke akhirat
tempat hidup hamba
padahal sekarang (hamba) sudah tua
pada akhirnya nanti bagaimana (terserah),
maka semoga ada pertolongan Tuhan.
12. Semoga dapat sabar sentausa
laksana mati di dalam hidup
terbebas dari segala kerusuhan,
angkara murka, tamak, loba menyingkir semua
tiada lain karena berkonsentrasi diri memohon kasih Tuhan
senantiasa melatih hatinya patuh
agar dapat mengurungkan kutukan
sehingga mendapatkan sinar terang sekadarnya
berserah diri agar dapat masuk surga yang berisi keabadian.
(Teks asli bahasa Jawa diambil dari Bratakesawa (ed). 1959. Djangka Ranggawarsitan. Cetakan ketiga. Yogyakarta: Kulawarga Bratakesawa. Terjemahan bahasa Indonesia dilakukan oleh Puji Santosa).
[Puji Santosa adalah peneliti bidang kebahasaan dan kesusastraan pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, pernah menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah (2006—2008), alumnus magister humaniora dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (2002), dan kini menjabat sebagai Koordinator Jabatan Fungsional di lingkungan Pusat Bahasa. Naskah ini dimuat dalam Kakilangit 161/Mei 2010, halaman 1—13; Sisipan Majalah Sastra Horison Tahun XLIV, Nomor 5/2010. Mei 2010).http://www.facebook.com/topic.php?uid=151560011581&topic=16181
Sabtu, 20 Maret 2010
Puisi-Puisi Imamuddin SA
SAMUDRO MOLO
tak bisakah aku
sedikit menyisir nyanyian ombak
sekedar berdiri
memaknai jejak
laut itu
yang sejenak lalu
menunjukkan taringnya
membiarkan nafas habis termangsa
namun kini
keganasan singgah kembali
membuyarkan mimpi
lewat riak sungai tak terkendali
tuhan ....
adakah ini batu ujian
ataukah sebatas peringatan
akan pengingkaran;
tentang rapuh zaman
sungguh, segalanya kau hadirkan
untuk menyambut keberadaan
tahun kesembilan
dalam wujud luka bersahut-sahutan;
entah darah yang bagaimana
esok kan balik menyapa
dan aku masih enggan berkata
Kendalkemlagi, 2009
TENTANG KEPUTUSASAAN
kudengar suaramu dari tepi laut
melantunkan lagu nelayan
tentang perahu dan ikan
tentang gemuruh ombak
yang menghempas tepian
aku menyisihkan waktu
sekedar menyelami nyanyianmu
sejenak mengusik batinku;
dari jauh
kau seolah menyapaku
mengisahkan yunus
dalam selimut ikan paus
sungguh aku semakin mengerti
bahwa keputusasaan
bukanlah suatu jalan
kala melangkah di hadapan tuhan
dan kini aku harus kembali
menghampiri saudara-saudaraku yang lalai
mencoba membata hati
mengokohkan kaki
biar rapuh iman tak menghampiri
Kendalkemlagi, 2009
PAYUNG SAKSI
batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi
sungguh, kembara batin
yang telah mengepak mimpi
menembus tabir ilusi
kini singgah di pelayaran hari
menafsir misi
sendiri
namun, adakah hasrat kan kembali
bertasbih selaksa ibnu hajar
di pesisir jalan ini?
batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi
Kendalkemlagi, Oktober 2007
tak bisakah aku
sedikit menyisir nyanyian ombak
sekedar berdiri
memaknai jejak
laut itu
yang sejenak lalu
menunjukkan taringnya
membiarkan nafas habis termangsa
namun kini
keganasan singgah kembali
membuyarkan mimpi
lewat riak sungai tak terkendali
tuhan ....
adakah ini batu ujian
ataukah sebatas peringatan
akan pengingkaran;
tentang rapuh zaman
sungguh, segalanya kau hadirkan
untuk menyambut keberadaan
tahun kesembilan
dalam wujud luka bersahut-sahutan;
entah darah yang bagaimana
esok kan balik menyapa
dan aku masih enggan berkata
Kendalkemlagi, 2009
TENTANG KEPUTUSASAAN
kudengar suaramu dari tepi laut
melantunkan lagu nelayan
tentang perahu dan ikan
tentang gemuruh ombak
yang menghempas tepian
aku menyisihkan waktu
sekedar menyelami nyanyianmu
sejenak mengusik batinku;
dari jauh
kau seolah menyapaku
mengisahkan yunus
dalam selimut ikan paus
sungguh aku semakin mengerti
bahwa keputusasaan
bukanlah suatu jalan
kala melangkah di hadapan tuhan
dan kini aku harus kembali
menghampiri saudara-saudaraku yang lalai
mencoba membata hati
mengokohkan kaki
biar rapuh iman tak menghampiri
Kendalkemlagi, 2009
PAYUNG SAKSI
batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi
sungguh, kembara batin
yang telah mengepak mimpi
menembus tabir ilusi
kini singgah di pelayaran hari
menafsir misi
sendiri
namun, adakah hasrat kan kembali
bertasbih selaksa ibnu hajar
di pesisir jalan ini?
batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi
Kendalkemlagi, Oktober 2007
Puisi-Puisi Imamuddin SA
ADA YANG BUTA
ada yang ragu
di bilik hatimu
akan seberkas keyakinan
sayu
apakah rakaat-rakaat laku
kan menyebrangmu
sampai di pantai keabadian itu
ataukah hanya sebatas tarian jasad
dengan qasidah tak bersyarat
sementara, jiwamu berkecamuk
bertanya-tanya akan darojat sholat
yang tak kunjung teralat
ada yang buta
- taqlidmu
Surabaya, 23 Agustus 2008
MENIMBA TELAGA SUCI
cukup lewat puitika munajat
tuk menguras kawah di hadapannya
dan harus dengan gayung
sahadat sungsangku
mengeja abjad demi abjad lakuku
tuk menimba telaga suci
dari degup sisi sendiri;
maaf, aku telah lalai!
Kendalkemlagi, Oktober 2007
DARI ALIF SAMPAI YA’
kepada Sang Nabi
lidahku laksana kutub
dan sarafku tak bergaun wol
hingga bibirku membeku
membisu
imajiku kaku
tiada aksara terangkai untukmu
hampa mengukir puitika puja syahdu,
sungguh segalanya telah terlampaui keanggunanmu
gontai jalan hatiku
mengangan angan tuk kembali memujimu
sebab abjad terusang olehku
di sisa degup sahadat
merekat
kusisipkan rekaat munajat
lewat tembang-tembang yang kau gurat;
“dari alif sapai ya’
adalah bukti perjalanan waktu
disingkap kebersatuan laku
terkunci keyakinan kalbu,
esok kita kan bersatu
kala kusanggup membongkar tanda
yang kau kisah untukku
sebab yang tertuju hanyalah satu;
yakinku!”
Kendalkemlagi, Maret 2008
ada yang ragu
di bilik hatimu
akan seberkas keyakinan
sayu
apakah rakaat-rakaat laku
kan menyebrangmu
sampai di pantai keabadian itu
ataukah hanya sebatas tarian jasad
dengan qasidah tak bersyarat
sementara, jiwamu berkecamuk
bertanya-tanya akan darojat sholat
yang tak kunjung teralat
ada yang buta
- taqlidmu
Surabaya, 23 Agustus 2008
MENIMBA TELAGA SUCI
cukup lewat puitika munajat
tuk menguras kawah di hadapannya
dan harus dengan gayung
sahadat sungsangku
mengeja abjad demi abjad lakuku
tuk menimba telaga suci
dari degup sisi sendiri;
maaf, aku telah lalai!
Kendalkemlagi, Oktober 2007
DARI ALIF SAMPAI YA’
kepada Sang Nabi
lidahku laksana kutub
dan sarafku tak bergaun wol
hingga bibirku membeku
membisu
imajiku kaku
tiada aksara terangkai untukmu
hampa mengukir puitika puja syahdu,
sungguh segalanya telah terlampaui keanggunanmu
gontai jalan hatiku
mengangan angan tuk kembali memujimu
sebab abjad terusang olehku
di sisa degup sahadat
merekat
kusisipkan rekaat munajat
lewat tembang-tembang yang kau gurat;
“dari alif sapai ya’
adalah bukti perjalanan waktu
disingkap kebersatuan laku
terkunci keyakinan kalbu,
esok kita kan bersatu
kala kusanggup membongkar tanda
yang kau kisah untukku
sebab yang tertuju hanyalah satu;
yakinku!”
Kendalkemlagi, Maret 2008
Kamis, 28 Januari 2010
Kepada Yth Edgar Sahabatku
Hasnan Bachtiar
Aku memahamimu Edgar, penghianatan Helen, perihnya seseorang di surga, dan membiasnya asa bahkan dalam mimpimu. Saat kejadian Tamerlence, begitu pula aku, tiada kehidupan. Kau temukan suratku untukmu, benar kan Edgar? Kutulis, “tak ada apapun yang tersisa untuk disembunyikan dalam kehidupan.” Nampaknya kau mulai menikmatinya, kehidupan, Ligeia, sampai sesakit maut itu indah asal kau jumpai asamu. Tapi kau mencipta Edgar, kaulah penyebab datangnya maut itu, jangan tolol, kau pembunuh di Rue Morgue! Aku senang, kau mengakuinya.
Aku memahamimu Edgar, penghianatan Helen, perihnya seseorang di surga, dan membiasnya asa bahkan dalam mimpimu. Saat kejadian Tamerlence, begitu pula aku, tiada kehidupan. Kau temukan suratku untukmu, benar kan Edgar? Kutulis, “tak ada apapun yang tersisa untuk disembunyikan dalam kehidupan.” Nampaknya kau mulai menikmatinya, kehidupan, Ligeia, sampai sesakit maut itu indah asal kau jumpai asamu. Tapi kau mencipta Edgar, kaulah penyebab datangnya maut itu, jangan tolol, kau pembunuh di Rue Morgue! Aku senang, kau mengakuinya.
Jumat, 08 Mei 2009
Minggu, 19 April 2009
Puisi-Puisi Arina Habaidillah
http://artstreet.multiply.com/
Sang Pemimpi
Ia menulis berbait-bait puisi
dan lebih banyak lagi
lalu menghadap langit
mencoba membaca dalam sunyi
potret kesunyian seorang diri
yang sedang menanti
awal kehadiran sang pemimpi
surabaya, 120908
Kebisuan
berbicara padamu sekan berbicara pada
debu
debu-debu yang berterbangan
hanya melewati, tak mengerti arti
aku
kebisuan yang merajalela
tak kau buka barang satu kata
untuk merubah semua yang tersisa
tak
bisakah kau mengucap :
aku rindu
di depanku?
bisu
hanya itu?
ada apa denganmu?
aku tak tahu.
mencoba mencari tau, tapi sekali lagi aku bilang
: percuma
120409
Aku Tak Bisa Membacamu Dalamku
sepatah kata dariku mungkin tak berarti bagimu
aku berucap,kau berpaling
tak mengerti jikaku rindu
aku tak bisa membacamu dalamku
mencoba mengerti, tapi kau memang tak bisa
untuk dimengerti
duniaku terguncang
merasakah kau?
tidak!
apa umpan balik darimu?
hanya diam
tak peduli!
aku tak bisa membacamu dalamku
hanya angan yang terbang tinggi
tak dapat ku geluti buah pikirmu
tak dapat ku nanti sikap manismu
seakan semuanya terkubur bersama luka pilu
hati yang berbunga
ucapan manis darimu
segalanya raib bersama anganku
aku tak bisa membacamu dalamku
mencoba mengerti,tapi tak bisa untuk dimengerti
Hanya Angan
ruang itu membuatku kembali tercekat
dalam buaian anganangan yang tak terlaksana
hanya menarawang jauh
tak mengerti jika hati sedang bertempur
tak ada yang di perebutkan saat ini
sekali lagi itu hanya angan
kala batang itu tua
lalu merapuh
tinggal serpihan
tebuang
tak berarti
hati terhujam rindu
semakin menusuk
dalam.
suatu saat akan ada waktu
harus bertemu
aku harap, itu berwujud nyata
Lamongan 150409
Tak Ada
tak ada yang dapat bertahan
dalam kondisi gelap gulita
tak dapat
tak ada yang bisa tegak berdiri
jika tiada usaha suatu apapun
tak ada
aku menggenggam kuat tanganku
sedikit berkeringat
karna tak ada yang tau
sampai kapan kita bertahan
tertunduk lesu
dalam buaian musikalisasi rindu
tergenggam kuat
dalam alunan melodi amarah
segalanya tak tergambar dalam
layar kehidupan
Lamongan 150409
Sang Pemimpi
Ia menulis berbait-bait puisi
dan lebih banyak lagi
lalu menghadap langit
mencoba membaca dalam sunyi
potret kesunyian seorang diri
yang sedang menanti
awal kehadiran sang pemimpi
surabaya, 120908
Kebisuan
berbicara padamu sekan berbicara pada
debu
debu-debu yang berterbangan
hanya melewati, tak mengerti arti
aku
kebisuan yang merajalela
tak kau buka barang satu kata
untuk merubah semua yang tersisa
tak
bisakah kau mengucap :
aku rindu
di depanku?
bisu
hanya itu?
ada apa denganmu?
aku tak tahu.
mencoba mencari tau, tapi sekali lagi aku bilang
: percuma
120409
Aku Tak Bisa Membacamu Dalamku
sepatah kata dariku mungkin tak berarti bagimu
aku berucap,kau berpaling
tak mengerti jikaku rindu
aku tak bisa membacamu dalamku
mencoba mengerti, tapi kau memang tak bisa
untuk dimengerti
duniaku terguncang
merasakah kau?
tidak!
apa umpan balik darimu?
hanya diam
tak peduli!
aku tak bisa membacamu dalamku
hanya angan yang terbang tinggi
tak dapat ku geluti buah pikirmu
tak dapat ku nanti sikap manismu
seakan semuanya terkubur bersama luka pilu
hati yang berbunga
ucapan manis darimu
segalanya raib bersama anganku
aku tak bisa membacamu dalamku
mencoba mengerti,tapi tak bisa untuk dimengerti
Hanya Angan
ruang itu membuatku kembali tercekat
dalam buaian anganangan yang tak terlaksana
hanya menarawang jauh
tak mengerti jika hati sedang bertempur
tak ada yang di perebutkan saat ini
sekali lagi itu hanya angan
kala batang itu tua
lalu merapuh
tinggal serpihan
tebuang
tak berarti
hati terhujam rindu
semakin menusuk
dalam.
suatu saat akan ada waktu
harus bertemu
aku harap, itu berwujud nyata
Lamongan 150409
Tak Ada
tak ada yang dapat bertahan
dalam kondisi gelap gulita
tak dapat
tak ada yang bisa tegak berdiri
jika tiada usaha suatu apapun
tak ada
aku menggenggam kuat tanganku
sedikit berkeringat
karna tak ada yang tau
sampai kapan kita bertahan
tertunduk lesu
dalam buaian musikalisasi rindu
tergenggam kuat
dalam alunan melodi amarah
segalanya tak tergambar dalam
layar kehidupan
Lamongan 150409
Puisi-Puisi Imamuddin SA
DI BATAS KABUT MUARA LOKA
ada kersik batin
membangun kesadaran lain
menerawang mata
sejenak menata lelangkah
ah, masa telah menua
seiring jiwa-jiwa lara
menghadap kesejatian raga
di batas kabut muara loka
aku yang masih malu menatapmu
mencoba berbisik
di hening laut
akan tawar air dalam garam bertaut
membenturkan ketakutan ombak
menguji kesetiaan jejak
Kendalkemlagi, Juni 2008
MENGINTIP LOKA GAIB
adalah kesungsangan jiwa
menjelma melodi nyanyian nyawa
mengeringkan embun rindu
pada lambaian daun-daun kalbu
engkau yang setia mengeja aksara
sejenak membatulah
meneteskan sejuk air dari langit-langit goa
menggenggam kedalaman laku samudra
mengintip loka gaib semesta
di batas permainan maya
ah, bangunlah dinding-dinding imanmu
pecahkan kaca kesombonganmu
sebab muaramu masih seribu waktu
Kendalkemlagi, September 2008
MENABUH GAMELAN KESEJATIAN
sayup terhempas
jiwaku
menengadahkan angkuh
membujuk hati dalam keikhlasan lati
ada yang menarik
sebuah persinggahan diri
di kedalaman
-nang
-ning
-nong
-gong
kala panjak kemanusiaan
menabuh gamelan kesejatian
melenggang tangan kanan
menangkap selendang kalam
menghempas sampur kesungsangan
lewat kiri lambaian lengan
ada yang mengawasi;
mata-mata kaki menyisir sisi-sisi sendiri
berdiri dengan satu jari
menapak jejak pada ruas jalan yang bernilai
Kendalkemlagi, 26 September 2008
ada kersik batin
membangun kesadaran lain
menerawang mata
sejenak menata lelangkah
ah, masa telah menua
seiring jiwa-jiwa lara
menghadap kesejatian raga
di batas kabut muara loka
aku yang masih malu menatapmu
mencoba berbisik
di hening laut
akan tawar air dalam garam bertaut
membenturkan ketakutan ombak
menguji kesetiaan jejak
Kendalkemlagi, Juni 2008
MENGINTIP LOKA GAIB
adalah kesungsangan jiwa
menjelma melodi nyanyian nyawa
mengeringkan embun rindu
pada lambaian daun-daun kalbu
engkau yang setia mengeja aksara
sejenak membatulah
meneteskan sejuk air dari langit-langit goa
menggenggam kedalaman laku samudra
mengintip loka gaib semesta
di batas permainan maya
ah, bangunlah dinding-dinding imanmu
pecahkan kaca kesombonganmu
sebab muaramu masih seribu waktu
Kendalkemlagi, September 2008
MENABUH GAMELAN KESEJATIAN
sayup terhempas
jiwaku
menengadahkan angkuh
membujuk hati dalam keikhlasan lati
ada yang menarik
sebuah persinggahan diri
di kedalaman
-nang
-ning
-nong
-gong
kala panjak kemanusiaan
menabuh gamelan kesejatian
melenggang tangan kanan
menangkap selendang kalam
menghempas sampur kesungsangan
lewat kiri lambaian lengan
ada yang mengawasi;
mata-mata kaki menyisir sisi-sisi sendiri
berdiri dengan satu jari
menapak jejak pada ruas jalan yang bernilai
Kendalkemlagi, 26 September 2008
Senin, 23 Februari 2009
WAHAI BUNGA, BUNGA PINUS HIJAU
Dom Dinis
Wahai bunga, bunga pinus hijau,
tahukah engkau kabar kawanku
0h Tuhan, dimanakah dia?
Wahai bunga, bunga ranting hijau,
tahukah engkau kabar kekasihku?
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
Tahukah engkau kabar kawanku,
ia yang mendustai janjinya padaku!
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?
Tahukah engkau kabar kekasihku,
ia yang mendustai sumpahnya padaku
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?
-Engkau ingin tahu kabar kawanmu
kukatakan padamu dia sehat dan hidup.
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
Engkau ingin tahu kabar kekasihmu
Kukatakan kepadamu dia sehat dan hidup.
Oh Tuhan dimanakah gerangan dia?
Kukatakan padamu dia dia sehat dan hidup
dan dia akan bersamamu sebelum tenggat waktu tiba.
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
Kukatakan padamu dia sehat dan hidup
dan dia akan bersamamu sebelum waktunya
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
Wahai bunga, bunga pinus hijau,
tahukah engkau kabar kawanku
0h Tuhan, dimanakah dia?
Wahai bunga, bunga ranting hijau,
tahukah engkau kabar kekasihku?
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
Tahukah engkau kabar kawanku,
ia yang mendustai janjinya padaku!
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?
Tahukah engkau kabar kekasihku,
ia yang mendustai sumpahnya padaku
Oh Tuhan, di manakah gerangan dia?
-Engkau ingin tahu kabar kawanmu
kukatakan padamu dia sehat dan hidup.
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
Engkau ingin tahu kabar kekasihmu
Kukatakan kepadamu dia sehat dan hidup.
Oh Tuhan dimanakah gerangan dia?
Kukatakan padamu dia dia sehat dan hidup
dan dia akan bersamamu sebelum tenggat waktu tiba.
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
Kukatakan padamu dia sehat dan hidup
dan dia akan bersamamu sebelum waktunya
Oh Tuhan, dimanakah gerangan dia?
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
SYAIR PERGI SENDIRI
Joao Ruiz De Castelo Branco
Dewi, dengan sedih
Mataku pergi karena Anda, kasihku,
Anda tak pernah menatap mata
Yang lebih sedih dari siapapun.
Begitu sedih, begitu rindu,
Begitu pedih karena perpisahan,
Begitu lelah, berlinang dan sendu,
Mata ini lebih baik mati,
dari pada hidup seratus ribu kali.
Mata sedih ini beranjak penuh kesedihan,
Jauh dari sebuah harapan yang indah,
Anda tak pernah menatap mata
Yang lebih sedih dari siapapun.
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
Dewi, dengan sedih
Mataku pergi karena Anda, kasihku,
Anda tak pernah menatap mata
Yang lebih sedih dari siapapun.
Begitu sedih, begitu rindu,
Begitu pedih karena perpisahan,
Begitu lelah, berlinang dan sendu,
Mata ini lebih baik mati,
dari pada hidup seratus ribu kali.
Mata sedih ini beranjak penuh kesedihan,
Jauh dari sebuah harapan yang indah,
Anda tak pernah menatap mata
Yang lebih sedih dari siapapun.
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
RUBAYAT
Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitil Ka’bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah
Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa wasil dengan Yang Baqi
Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shar Nawi
Beroleh khilafat ilmu yang asli
Dari Abdul Kadir Sayyid Jilani
Hamzah Shar Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berarus
Menjadi kapur di dalam Barus
Aho segala kamu anak alim
Jangan bersahabat dengan yang zalim
Karena Rasulullah sempura hakim
Melarang kita sekalian khadim
Kunjung-kunjung di bukit tinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada tubuhnya
Nurani kenyataan yang pasti
Supaya terang laut yang dalam
Berhenti angin ombak pun mati
Menjadi sultan kedua alam
Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjelma sultan kedua alam
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Baitil Ka’bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah
Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa wasil dengan Yang Baqi
Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shar Nawi
Beroleh khilafat ilmu yang asli
Dari Abdul Kadir Sayyid Jilani
Hamzah Shar Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berarus
Menjadi kapur di dalam Barus
Aho segala kamu anak alim
Jangan bersahabat dengan yang zalim
Karena Rasulullah sempura hakim
Melarang kita sekalian khadim
Kunjung-kunjung di bukit tinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada tubuhnya
Nurani kenyataan yang pasti
Supaya terang laut yang dalam
Berhenti angin ombak pun mati
Menjadi sultan kedua alam
Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjelma sultan kedua alam
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
GURINDAM DUA BELAS
Raja Ali Haji
barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahari
barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat
apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah
hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh
mengumpat dan memuji hendaklah pikir
disitulah banyak orang yang tergelincir
jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang sangat gagah
jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa
jika hendak mengenal orang mulia
lihat kepada kelakuan dia
jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu
cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru
apabila banyak berkata-kata
disitulah jalan masuk dusta
apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat
apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih
apabila banyak mencatat orang
itulah tanda dirinya kurang
apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur
apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut
apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar
lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya
daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar
keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka
jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru
hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa
hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela
hendak memegang amanat
buanglah khianat
hendak marah
dahulukan hujjah
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahari
barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat
apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah
hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh
mengumpat dan memuji hendaklah pikir
disitulah banyak orang yang tergelincir
jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang sangat gagah
jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa
jika hendak mengenal orang mulia
lihat kepada kelakuan dia
jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu
cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru
apabila banyak berkata-kata
disitulah jalan masuk dusta
apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat
apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih
apabila banyak mencatat orang
itulah tanda dirinya kurang
apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur
apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut
apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar
lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya
daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar
keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka
jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru
hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa
hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela
hendak memegang amanat
buanglah khianat
hendak marah
dahulukan hujjah
*) dari kumpulan puisi Antologia De Poeticas, gramedia 2008
Minggu, 18 Januari 2009
Puisi Puisi Abdul Wachid B.S.
http://www.suarakarya-online.com/
Rani yang Bertanya
Rani yang masih di kamarnya
Rani yang masih di mimpi kanaknya
Rani yang tak biasa di pagi harinya
Rani yang jalan-jalan di imajinasinya
Rani,
Tatkala bumi bagai dalam ayakan Tuhan
Pohon-pohon belakang rumahmu
cemas hempaskan tubuhnya
Tak lagi kuasa kuatkan akar-akarnya
Lintang-pukang orang-orang di bawahnya
Bagai dalam ayakan Tuhan
Tembok-tembok mengombak naik-turun
Rani,
Rumah-rumah seperti roti kering yang kau ledakkan
Di tanganmu. Lintang-pukang kurcaci menghindarinya
Rani yang dalam dekapan ibunya
Rani yang amat sangat ketakutan
Rani yang masih balita itu tengadahkan tangan
Rani yang bertanya
"Tuhan, apakah Engkau sungguh marah hari ini?"
Jambidan, Yogyakarta, 27 Mei 2006
Wonokromo
Silaturrahmi ke Wonokromo
Desa santri yang mengaji
Ada rumah kekasih yang tersembunyi
Sejarah masjid yang "Hamengkubuwono"
Ada pertemuan dua sungai
Di sikunya masjid itu hijau kebiruan
Ada makam di baratnya bila kulewati
Selalu kusampaikan salam pertemuan
Aku masih mendengar lantun
Gadis kecil menderaskan al-Qur'an
Entah di pesantren Gus Fuad atau Gus Katip
Kucari-cari suaranya seperti meratap
Lalu tertimpa gelak-girang para bocah
Di sore itu di halaman masjid hijau kebiruan itu
Aku masih mendengar larangan masuk rumah
Dari lelaki tua yang diabaikan itu
Tapi paginya setelah gempa luluhlantakkan
Rumah dan pesantren-pesantren
Orang-orang baru membaca tanda
Aku masih mendengar doanya
Dalam kalimat adzan
Kepada shalat kepada kebaikan
Aku masih mendengar doanya
Sekuntum melati di antara debu dan serakan batu bata
Silaturrahmi ke Wonokromo
Kucari-cari rumah kekasih yang tersembunyi
Kucari-cari suaranya semakin sayup menyepi
Ternyata rumah hatiku pun telah poranda
Wonokromo, Yogyakarta, 4 Juli 2006
Hujan Begitu Baik
ya. hujan begitu baik mencucikan yogya
dari debu, yang ranggaskan daun jambu
depan rumah kekasihku
dari diriku, yang mandi setiap hari
tapi tak juga sampai wangi surgawi
hujan mengendapkan debu
mengisi pori-pori tanah
lalu tertampung di dalam hati
menjadi harapan dan keyakinan
kekasih menari-nari di dalam pandangan
hujan menjelma panorama ajaib
dalam mata yang saling mencari dan menunggu
dan mengajakku memutar arloji
ketika ibu mendekapku di jendela
dan aku bertanya
"ibu, di mana bidadari sang kekasih itu?"
jawab ibu, "di saat hujan, ucapkanlah doa
sebab bidadari bertaburan dari langit itu
ditemani malaikat, akan memunguti doa-
doamu, agar lebih cepat sampai
pada perkenan Tuhan"
ya. hujan begitu baik menari-nari di daun jambu
di bawahnya sebuah halte yang
pasca gempa atapnya tinggal separoh
ternyata di halte itulah kekasihku
mencari dan menunggu dan mau membeku
hujan senantiasa tergoda padanya
hujan tak kuasa menahan rasa, bahkan
hujan telah basah mendekapnya
sampai membirukan bibirnya
ketika aku sampai padanya, hujan terkesima
dan kekasihku pun malu-malu
dan bertanya
"mengapa engkau begitu lama
sehingga aku melulu menjadi debu di halte ini?"
November, 2007
Segoroyoso
Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Padahal dilingkari pegunungan kapur selatan
Dan di sebaliknya suara ombak laut selatan
Tapi gedebur menggema ini dari dalam bumi
Di malam menambah bayang-bayang kematian itu
Tiap gedebur menggema ini dari dalam bumi
Kentongan sahut bersahutan menambah pilu
Seluruh rumah dan nisan telah rata dengan debu
Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Melewatinya seperti berdiri di atas perahu
Bergoyang batin, bergelombang hari-hari kau aku
Angin dan debu semakin selimuti tenda-tenda itu
Yogyakarta, 5 Juli 2006
Puncak Cinta
Rindu memang selalu sakit
Tapi pertemuan cinta akan mengobati
Puncak cinta adalah kerinduan
Karenanya kita bisa maknai
Harap-harap cemas
Pada kekasih yang dicintai
Karena cinta kita mengenali diri
Betapa aku membutuhkanmu
Kuhayati jatuh-bangunnya hatiku
Dalam mencintaimu
Tapi kunikmati saja kesakitanku
Karena merindukanmu
Seperti kurasakan nikmatnya cinta
Yang telah kucecap dari lidah hatimu
Warungboto, Yogyakarta, 27 Juni 2006
Rani yang Bertanya
Rani yang masih di kamarnya
Rani yang masih di mimpi kanaknya
Rani yang tak biasa di pagi harinya
Rani yang jalan-jalan di imajinasinya
Rani,
Tatkala bumi bagai dalam ayakan Tuhan
Pohon-pohon belakang rumahmu
cemas hempaskan tubuhnya
Tak lagi kuasa kuatkan akar-akarnya
Lintang-pukang orang-orang di bawahnya
Bagai dalam ayakan Tuhan
Tembok-tembok mengombak naik-turun
Rani,
Rumah-rumah seperti roti kering yang kau ledakkan
Di tanganmu. Lintang-pukang kurcaci menghindarinya
Rani yang dalam dekapan ibunya
Rani yang amat sangat ketakutan
Rani yang masih balita itu tengadahkan tangan
Rani yang bertanya
"Tuhan, apakah Engkau sungguh marah hari ini?"
Jambidan, Yogyakarta, 27 Mei 2006
Wonokromo
Silaturrahmi ke Wonokromo
Desa santri yang mengaji
Ada rumah kekasih yang tersembunyi
Sejarah masjid yang "Hamengkubuwono"
Ada pertemuan dua sungai
Di sikunya masjid itu hijau kebiruan
Ada makam di baratnya bila kulewati
Selalu kusampaikan salam pertemuan
Aku masih mendengar lantun
Gadis kecil menderaskan al-Qur'an
Entah di pesantren Gus Fuad atau Gus Katip
Kucari-cari suaranya seperti meratap
Lalu tertimpa gelak-girang para bocah
Di sore itu di halaman masjid hijau kebiruan itu
Aku masih mendengar larangan masuk rumah
Dari lelaki tua yang diabaikan itu
Tapi paginya setelah gempa luluhlantakkan
Rumah dan pesantren-pesantren
Orang-orang baru membaca tanda
Aku masih mendengar doanya
Dalam kalimat adzan
Kepada shalat kepada kebaikan
Aku masih mendengar doanya
Sekuntum melati di antara debu dan serakan batu bata
Silaturrahmi ke Wonokromo
Kucari-cari rumah kekasih yang tersembunyi
Kucari-cari suaranya semakin sayup menyepi
Ternyata rumah hatiku pun telah poranda
Wonokromo, Yogyakarta, 4 Juli 2006
Hujan Begitu Baik
ya. hujan begitu baik mencucikan yogya
dari debu, yang ranggaskan daun jambu
depan rumah kekasihku
dari diriku, yang mandi setiap hari
tapi tak juga sampai wangi surgawi
hujan mengendapkan debu
mengisi pori-pori tanah
lalu tertampung di dalam hati
menjadi harapan dan keyakinan
kekasih menari-nari di dalam pandangan
hujan menjelma panorama ajaib
dalam mata yang saling mencari dan menunggu
dan mengajakku memutar arloji
ketika ibu mendekapku di jendela
dan aku bertanya
"ibu, di mana bidadari sang kekasih itu?"
jawab ibu, "di saat hujan, ucapkanlah doa
sebab bidadari bertaburan dari langit itu
ditemani malaikat, akan memunguti doa-
doamu, agar lebih cepat sampai
pada perkenan Tuhan"
ya. hujan begitu baik menari-nari di daun jambu
di bawahnya sebuah halte yang
pasca gempa atapnya tinggal separoh
ternyata di halte itulah kekasihku
mencari dan menunggu dan mau membeku
hujan senantiasa tergoda padanya
hujan tak kuasa menahan rasa, bahkan
hujan telah basah mendekapnya
sampai membirukan bibirnya
ketika aku sampai padanya, hujan terkesima
dan kekasihku pun malu-malu
dan bertanya
"mengapa engkau begitu lama
sehingga aku melulu menjadi debu di halte ini?"
November, 2007
Segoroyoso
Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Padahal dilingkari pegunungan kapur selatan
Dan di sebaliknya suara ombak laut selatan
Tapi gedebur menggema ini dari dalam bumi
Di malam menambah bayang-bayang kematian itu
Tiap gedebur menggema ini dari dalam bumi
Kentongan sahut bersahutan menambah pilu
Seluruh rumah dan nisan telah rata dengan debu
Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Melewatinya seperti berdiri di atas perahu
Bergoyang batin, bergelombang hari-hari kau aku
Angin dan debu semakin selimuti tenda-tenda itu
Yogyakarta, 5 Juli 2006
Puncak Cinta
Rindu memang selalu sakit
Tapi pertemuan cinta akan mengobati
Puncak cinta adalah kerinduan
Karenanya kita bisa maknai
Harap-harap cemas
Pada kekasih yang dicintai
Karena cinta kita mengenali diri
Betapa aku membutuhkanmu
Kuhayati jatuh-bangunnya hatiku
Dalam mencintaimu
Tapi kunikmati saja kesakitanku
Karena merindukanmu
Seperti kurasakan nikmatnya cinta
Yang telah kucecap dari lidah hatimu
Warungboto, Yogyakarta, 27 Juni 2006
Selasa, 06 Januari 2009
Puisi-Puisi Johan Khoirul Zaman
CAHAYA ILAHI
Malam dari pijaran cahaya Allah
Sunyi menjadi tahajud suci di dalam hati
mengukir nama dalam tasbih paling syahdu.
Memanggil-MU dengan tangan yang bergetar
tak mampu diri rasakan rindu ini
Surabaya 12-07-08
KALAM CINTA
Maha Mulia yang menggenang
sepanjang waktu alirkan Rahmat
yang tak kuat matahari pandang pesonaMu
sehingga ia bagaikan Engkau saedang ia bukanlah Engkau
cintraMu tak bersembunyi dalam getar
kembali diri hanyut dalam air yang jernih nan bening
"sungguh dari air itulah kehidupan diturunkan"
aku sekaligus tak ingin berubah dalam kejap waktu ini.
Bandung 29-12-08
GELEMBUNG REVOLUSI SYURGAWI
“Manusia- manusia dalam novel, manusia-manusia dalam film
Mahluk –mahluk dalam dunia kesunyian memanggil ruh para pemberontak.
Orang-orang dari guyuran rupiah dan dollar
Insan-insan dari lumpur politik
Jasad-jasad dalam rongga dunia memanggil nyawa para pemberi adil
O……Kalbu yang getir,
aku memanggil Ruh yang kesepian dipesta monster kapitalisme
dengan 1 jari tengah berwarna merah
O… …..mimpi yang tertimbun gedung megah,
Aku memanggil hasrat yang sekarat diatas ranjang putih
tempat pembantaian pada kemanusiaan berada
dengan 1 slogan, IMPREALISME……kadal bunting.
Dengarlah, Revolusi syurgawi ini bukanlah revolusi basa-basi
yang memuja demokerasi palsu, agamis buta atau sosialis tuli.
Tak ada ruang bagi rasisme berkhotbah.Tak ada fasisme berorasi,
karena saat ini,
Aku memanggil arwah-arwah yang mati tanpa doa-doa
dan kembang wangi 7 rupa.
Disinilah aku tersenyum,melihat mereka dikubur dengan tanah merah,
disiram ludah-ludah gelandangan dari langit yang memerah.”
Lamongan.2-05-07
KAU DAN BINTANG
Teruntuk: Restu LA Rose
Sehabis langit mengurai gerimis
dewi malam berlarian menutup senja
kini malam sedang bercerita
pada bulan yang mengandung purnama
pada dimensi tata surya dinegri cahaya
restu bumi mengajak mata
”tataplah 2 bintang dikemalaman
meraka beradu senyum dengan kehangatan ”
kau dan aku berselimut malam
agar perbincangan tak didengar burung malam
ini rahasih rindu
biarlah hanya kita yang tahu
kau dan bintang telah megajari ku senyum
tentang hari, rasa, juga cinta
restu diri panggillah aku dengan jari manismu
agar madunya menumpah ruah dalam qalbu
Sungguh, mengingatmu adalah berburu langit biru dikemalaman.
Lamongan. 15-11-08
SEJARAH TRAGEDI
“Demi masa sesungguhnya manusia dalam keadaan hina”
Dari waktu yang dijejali teror
kelam benar hidup tersakiti
peluit berbunyi siang ini
diperempatan hidup anak manusia ditilang
diruang keluarga para perempuan terbahak didepan tv
sedang sijelata menjadi kambing guling dialam nasibnya
demi kebodohan yang diagung-agungkan
kulit renta menjerit dikupas matahari
merataplah budak budak dunia dikaki para koruptor
sebelum serigala bermata samurai datang membabi buta
dengan letusan
karena suara keadilan akan disebut pemberontakan
patuhlah rakyat ku…
patuhlah dirimu dicumbui kebohongan
aku mencintaimu dari tanah hingga air
walau aku harus menguras air mata kesengsaraanmu
itu semua karena aku cinta pada rakyatku
maap aku harus membungkam suara nabi dengan dolar
karena aku ingin kau terus bercanda dengan doa
mengadulah padaNya
asal jangan kau turun kejalan menggugat ketimpangan
sebab kekuasaan itu begitu menyenangkan
oh…. Sejarah yang papa
aku takut pada apa yang disebut hidup
ketika mereka bekerja untuk kerakusan
orang pintar hanya menjadi pemutar,
pemutar kata atupun fakta
aku bodoh karena aku dibodohi
aku berteriak karena aku sesak, muak
dengan apa yang terjadi
aku pun diam karena aku ditodong kejahatan
lalu hidup ku tak bisa tenang
demi hutan hutan yang terbakar
apa yang terjadi pada jiwa manusia
Tuhan seperti mati dibawah ajang caci maki
dengan pedang berlumur kekjian
oh…..sejarah berbunuhan
aku ingin menilang diri sendiri dengan senyuman
karena doaku telah berhamburan dalam gerimis
dan membiarkan aku bersemayam dalam mendung
aku ingin membalas perang kebencian dengan laut yang meluap
agar sunyi menjadi penawar kaum yang dikalahkan kesombongan dunia
tapi mereka masih tetap ber ulah
kesadaran mati dipadang tandus
kemana kita akan pulang?
disudut bumi pun kini terjadi perang
kita tak bisa berharapkan tenang
karena semua tragedi sudah diciptakan
selamat jalan guguran bunga
akan kukirim wangimu kepemakaman
manusia-mansuia penuh cinta
selamat tinggal alam raya hijau
akan ku panggil engkau saat matahari terbenam
selamat jalan ruh kemiskinan
aku menunggu suara lapar disamping Zahra
selamat tinggal kehidupan yang damai
aku dan para perindu akan selalu berkata :
“ Demi masa…..Sesungguhnya manusia dalam keadaan hina”
Lamongan 22-11-08
SUMUR RATAPAN
Sumur itu meratap pada sesaji malam,
aliran mata air terdiam dalam tenang,
sesekali angin berbisik pada aroma mistik dari pepohonan.
Ruh kesepian merenung pada setiap kemelut dunia,
teriakan mesin mengubah lebat rimba
dengan gambar tak berupa.
Tanah tertusuk keris
tempat mahluk ganjil bersemayam.
Bebatuan retak,
disini sumur ratapan mengaliri batu gajah
lalu merenung menuju pemakaman wali.
Dan sang legenda dunia saat ini bersanding dipohon jati,
Meresapi resapan sumur yang meratap.
Mantup Lamongan 29-10-2008
Malam dari pijaran cahaya Allah
Sunyi menjadi tahajud suci di dalam hati
mengukir nama dalam tasbih paling syahdu.
Memanggil-MU dengan tangan yang bergetar
tak mampu diri rasakan rindu ini
Surabaya 12-07-08
KALAM CINTA
Maha Mulia yang menggenang
sepanjang waktu alirkan Rahmat
yang tak kuat matahari pandang pesonaMu
sehingga ia bagaikan Engkau saedang ia bukanlah Engkau
cintraMu tak bersembunyi dalam getar
kembali diri hanyut dalam air yang jernih nan bening
"sungguh dari air itulah kehidupan diturunkan"
aku sekaligus tak ingin berubah dalam kejap waktu ini.
Bandung 29-12-08
GELEMBUNG REVOLUSI SYURGAWI
“Manusia- manusia dalam novel, manusia-manusia dalam film
Mahluk –mahluk dalam dunia kesunyian memanggil ruh para pemberontak.
Orang-orang dari guyuran rupiah dan dollar
Insan-insan dari lumpur politik
Jasad-jasad dalam rongga dunia memanggil nyawa para pemberi adil
O……Kalbu yang getir,
aku memanggil Ruh yang kesepian dipesta monster kapitalisme
dengan 1 jari tengah berwarna merah
O… …..mimpi yang tertimbun gedung megah,
Aku memanggil hasrat yang sekarat diatas ranjang putih
tempat pembantaian pada kemanusiaan berada
dengan 1 slogan, IMPREALISME……kadal bunting.
Dengarlah, Revolusi syurgawi ini bukanlah revolusi basa-basi
yang memuja demokerasi palsu, agamis buta atau sosialis tuli.
Tak ada ruang bagi rasisme berkhotbah.Tak ada fasisme berorasi,
karena saat ini,
Aku memanggil arwah-arwah yang mati tanpa doa-doa
dan kembang wangi 7 rupa.
Disinilah aku tersenyum,melihat mereka dikubur dengan tanah merah,
disiram ludah-ludah gelandangan dari langit yang memerah.”
Lamongan.2-05-07
KAU DAN BINTANG
Teruntuk: Restu LA Rose
Sehabis langit mengurai gerimis
dewi malam berlarian menutup senja
kini malam sedang bercerita
pada bulan yang mengandung purnama
pada dimensi tata surya dinegri cahaya
restu bumi mengajak mata
”tataplah 2 bintang dikemalaman
meraka beradu senyum dengan kehangatan ”
kau dan aku berselimut malam
agar perbincangan tak didengar burung malam
ini rahasih rindu
biarlah hanya kita yang tahu
kau dan bintang telah megajari ku senyum
tentang hari, rasa, juga cinta
restu diri panggillah aku dengan jari manismu
agar madunya menumpah ruah dalam qalbu
Sungguh, mengingatmu adalah berburu langit biru dikemalaman.
Lamongan. 15-11-08
SEJARAH TRAGEDI
“Demi masa sesungguhnya manusia dalam keadaan hina”
Dari waktu yang dijejali teror
kelam benar hidup tersakiti
peluit berbunyi siang ini
diperempatan hidup anak manusia ditilang
diruang keluarga para perempuan terbahak didepan tv
sedang sijelata menjadi kambing guling dialam nasibnya
demi kebodohan yang diagung-agungkan
kulit renta menjerit dikupas matahari
merataplah budak budak dunia dikaki para koruptor
sebelum serigala bermata samurai datang membabi buta
dengan letusan
karena suara keadilan akan disebut pemberontakan
patuhlah rakyat ku…
patuhlah dirimu dicumbui kebohongan
aku mencintaimu dari tanah hingga air
walau aku harus menguras air mata kesengsaraanmu
itu semua karena aku cinta pada rakyatku
maap aku harus membungkam suara nabi dengan dolar
karena aku ingin kau terus bercanda dengan doa
mengadulah padaNya
asal jangan kau turun kejalan menggugat ketimpangan
sebab kekuasaan itu begitu menyenangkan
oh…. Sejarah yang papa
aku takut pada apa yang disebut hidup
ketika mereka bekerja untuk kerakusan
orang pintar hanya menjadi pemutar,
pemutar kata atupun fakta
aku bodoh karena aku dibodohi
aku berteriak karena aku sesak, muak
dengan apa yang terjadi
aku pun diam karena aku ditodong kejahatan
lalu hidup ku tak bisa tenang
demi hutan hutan yang terbakar
apa yang terjadi pada jiwa manusia
Tuhan seperti mati dibawah ajang caci maki
dengan pedang berlumur kekjian
oh…..sejarah berbunuhan
aku ingin menilang diri sendiri dengan senyuman
karena doaku telah berhamburan dalam gerimis
dan membiarkan aku bersemayam dalam mendung
aku ingin membalas perang kebencian dengan laut yang meluap
agar sunyi menjadi penawar kaum yang dikalahkan kesombongan dunia
tapi mereka masih tetap ber ulah
kesadaran mati dipadang tandus
kemana kita akan pulang?
disudut bumi pun kini terjadi perang
kita tak bisa berharapkan tenang
karena semua tragedi sudah diciptakan
selamat jalan guguran bunga
akan kukirim wangimu kepemakaman
manusia-mansuia penuh cinta
selamat tinggal alam raya hijau
akan ku panggil engkau saat matahari terbenam
selamat jalan ruh kemiskinan
aku menunggu suara lapar disamping Zahra
selamat tinggal kehidupan yang damai
aku dan para perindu akan selalu berkata :
“ Demi masa…..Sesungguhnya manusia dalam keadaan hina”
Lamongan 22-11-08
SUMUR RATAPAN
Sumur itu meratap pada sesaji malam,
aliran mata air terdiam dalam tenang,
sesekali angin berbisik pada aroma mistik dari pepohonan.
Ruh kesepian merenung pada setiap kemelut dunia,
teriakan mesin mengubah lebat rimba
dengan gambar tak berupa.
Tanah tertusuk keris
tempat mahluk ganjil bersemayam.
Bebatuan retak,
disini sumur ratapan mengaliri batu gajah
lalu merenung menuju pemakaman wali.
Dan sang legenda dunia saat ini bersanding dipohon jati,
Meresapi resapan sumur yang meratap.
Mantup Lamongan 29-10-2008
Jumat, 21 November 2008
Puisi-Puisi Fakhrudin Aris
AKU AKAN PERGI
aku akan pergi bersama malam-malammu
memeluk getar alam yang sasar di tubuhku
memainkan kejora di antara gugusan
bintang yang mengkilat di matamu
menjadi naga ditanganku
menjadi api yang meracuni
mimpi-mimpimu
cinta
hapus aku dari kesumatmu.
Lamongan, 2007
GERBANG LUKA
lenyapmu pada angin
mengantarku
di gerbang luka tak bersudah
menunggumu
adalah perjamuan daun lontar
dalam aksara
yang meneteskan rindu
ngiang sengat lebah-lebah
aku lenyap atas pesta malam itu
melenyapkan diri dalam senyapmu.
Lamongan, 2007
MENERJEMAHKAN LUKA
rangkaian cahaya membentuk
butiran luka di dadaku
membercak di perjalalan
seribu pohon
ketika awan berkaca
menerjemahkan luka
tangis langit
mengabarkan beku kutub
mencair di pusat tubuhku.
Lamongan, 2008
KESYAHDUAN SUJUD
aku menari indah dalam kekafiran
melantangkan syair sayap shahwat
aku arungi sungai yang berkobar
mencari hikmah kehidupan
dalam dzikir kepasrahan
munajadku ekstase kehidupan
bebaskan keikhlasan
yang terselip dalam nafasku
kunyanyikan kesyahduan sujud
membekas di kitab
mujarobatmu.
Lamongan, 2008
JELAGA SUNYI
tangismu
mengalirkan darah
menuju kubur
pengembaraan sukma
adalah jelaga sunyi
dalam gelap abadi
ruang
dimensi
Lamongan, 2007
JEJAK HIJRAH
jejak hijrah ke ruang lain dunia
mengarungi putaran doa-doa
syair-syair samawi membuka lobang cinta
mengelus tangga ke gerbang langit
aku menari sufi
mencoba membongkar rahasia langit
pertautkan dunia dan akhirat
di ujung telapak kakiku.
Lamongan, 2007
WANITA
bagiku
dirimu adalah jejak luka
sejarah kelam
kobaran cinta
yang di kentalkan dalam
harum vas bunga.
Lamongan, 2007
KHATULISTIWA
mengembala
khatulistiwa
dalam jiwa
adalah
pesan kegaiban
dari pintu
mimpi
yang
dikobarkan
sejarah
belaka.
Lamonagn, 2007
MENGGARISKAN MIMPI
gadis pemimpi itu mengaduk tidurku
mencampur mimpinya dengan mimpiku
di tungku malam
ia menetaskan kisah
di pojok alur cerita
tentang rumusan kehidupannya sendiri
gadis pemimpi itu memainkan imajinasinya
hanya dalam mimpi yang abadi
ia memuja mimpi-mimpinya
menggariskan mimpi diguratan di kening
sementara itu
aku telah sibuk memutar waktu
membuka jendela mimpi
dari abjad-abjad yang berlari
dalam mimpi.
Lamongan, 2008
KUPU-KUPU DI DADA
matahari melipat senja di dadaku
kemudian mengendap di dadamu
tapi kita lupa bahwa di dada kita
pernah ada seekor kupu-kupu
dengan sayap luka
menyisir malam yang rapuh.
Lamongan, 2008
aku akan pergi bersama malam-malammu
memeluk getar alam yang sasar di tubuhku
memainkan kejora di antara gugusan
bintang yang mengkilat di matamu
menjadi naga ditanganku
menjadi api yang meracuni
mimpi-mimpimu
cinta
hapus aku dari kesumatmu.
Lamongan, 2007
GERBANG LUKA
lenyapmu pada angin
mengantarku
di gerbang luka tak bersudah
menunggumu
adalah perjamuan daun lontar
dalam aksara
yang meneteskan rindu
ngiang sengat lebah-lebah
aku lenyap atas pesta malam itu
melenyapkan diri dalam senyapmu.
Lamongan, 2007
MENERJEMAHKAN LUKA
rangkaian cahaya membentuk
butiran luka di dadaku
membercak di perjalalan
seribu pohon
ketika awan berkaca
menerjemahkan luka
tangis langit
mengabarkan beku kutub
mencair di pusat tubuhku.
Lamongan, 2008
KESYAHDUAN SUJUD
aku menari indah dalam kekafiran
melantangkan syair sayap shahwat
aku arungi sungai yang berkobar
mencari hikmah kehidupan
dalam dzikir kepasrahan
munajadku ekstase kehidupan
bebaskan keikhlasan
yang terselip dalam nafasku
kunyanyikan kesyahduan sujud
membekas di kitab
mujarobatmu.
Lamongan, 2008
JELAGA SUNYI
tangismu
mengalirkan darah
menuju kubur
pengembaraan sukma
adalah jelaga sunyi
dalam gelap abadi
ruang
dimensi
Lamongan, 2007
JEJAK HIJRAH
jejak hijrah ke ruang lain dunia
mengarungi putaran doa-doa
syair-syair samawi membuka lobang cinta
mengelus tangga ke gerbang langit
aku menari sufi
mencoba membongkar rahasia langit
pertautkan dunia dan akhirat
di ujung telapak kakiku.
Lamongan, 2007
WANITA
bagiku
dirimu adalah jejak luka
sejarah kelam
kobaran cinta
yang di kentalkan dalam
harum vas bunga.
Lamongan, 2007
KHATULISTIWA
mengembala
khatulistiwa
dalam jiwa
adalah
pesan kegaiban
dari pintu
mimpi
yang
dikobarkan
sejarah
belaka.
Lamonagn, 2007
MENGGARISKAN MIMPI
gadis pemimpi itu mengaduk tidurku
mencampur mimpinya dengan mimpiku
di tungku malam
ia menetaskan kisah
di pojok alur cerita
tentang rumusan kehidupannya sendiri
gadis pemimpi itu memainkan imajinasinya
hanya dalam mimpi yang abadi
ia memuja mimpi-mimpinya
menggariskan mimpi diguratan di kening
sementara itu
aku telah sibuk memutar waktu
membuka jendela mimpi
dari abjad-abjad yang berlari
dalam mimpi.
Lamongan, 2008
KUPU-KUPU DI DADA
matahari melipat senja di dadaku
kemudian mengendap di dadamu
tapi kita lupa bahwa di dada kita
pernah ada seekor kupu-kupu
dengan sayap luka
menyisir malam yang rapuh.
Lamongan, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito