Tampilkan postingan dengan label Pipiet Senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pipiet Senja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 September 2010

Jalan Bareng Hamsad Rangkuti

Pipiet Senja
http://sosbud.kompasiana.com/

Hamsad Rangkuti, siapa yang tak mengenalnya? Cerpen-cerpennya dimuat dalam berbagai harian dan majalah, terbitan dalam dan luar negeri. Bahkan beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman, antara lain dimuat dalam New Voice in Southeast Asia Solidarity (1991), Manoa, Pasific Journal of International Writing, University of Hawaii Presss (1991, Beyond The Horison, Short Stories from Contemporary Indonesia, Monash Asia Institute, Jurnal Rima, Review of Indonesia and Malaysia Affairs, University Sydney. Vol. 25,1991. Cerpen-cerpennya juga termuat dalam beberapa antologi cerita pendek mutakhir, antara lain Cerpen-cerpen Indonesia Mutakhir, editor Suratman Markasam, 1991.

Di kalangan sastrawan sosok ini dikenal eksentrik. Ia menikahkan putranya dengan mengundang Menteri Kehutanan RI. Sebagai penghormatan atas hadirnya Menhut, secara pribadi merupakan temannya, ia memberikan emas kawin 500 batang pohon jati unggulan kepada mantunya yang langsung ditanam.

Ini gebrakan Hamsad yang kedua. Saat mantu anaknya yang pertama, ia menyewa Kereta Api Listrik Bogor-Jakarta yang biasa dinaikinya, sebagai tempat akad nikah dan resepsi pernikahan putrinya. Tiga kumpulan cerpennya Lukisan Perkawinan dan Cemara (1982) serta Sampah Bulan Desember di tahun 2000, masing-masing diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, Grafiti Pers, dan Kompas. Salah satu cerpennya difilmkan oleh mahasiswa IKJ, ia ikut main.

Sebagaimana cerita-cerita yang ditulisnya dalam cerpen yang realis, unik dan kocak dengan mengeksploitasi kehidupan rakyat kecil, demikianlah dalam kehidupan sehari-hari. Dia merupakan sosok seniman Medan yang santun.

Ia pernah bercerita ketika kulit kepalanya melepuh lantaran tersiram air panas. Menjelang pulang malam, dan istrinya memanaskan air untuknya buat mandi.

“Saat itu Abang lagi mikirin bagian akhir cerpen yang lagi abang tulis. Eh, lupa mencampur air panas di ember dengan di kulah. Langsung siram saja ke kepala!”

Ramah, bersuara lembut dan rendah hati, Bang Hamsad akrab dengan kemiskinan dan penderitaan. Di Sumatra Utara, ia dibesarkan sebagai pedagang buah yang hidup di pasar. Menulis cerpen baginya seperti berbohong. Apa yang ditulis sering merupakan khayalannya, mimpinya dan kebohongannya. Hamsad lalu menunjuk proses penciptaaan salah satu contoh cerpen yang menghebohkan: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu.

Tak lulus SMA, tapi pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah Horizon yang disegani penulis se-Tanah Air, Bang Hamsad memiliki keinginan yang sederhana di hari tuanya. Saat memperoleh uang tunai sebesar Rp 70 juta sebagai peraih Anugerah Sastra Khatulistiwa 2003, dia ingin membeli angkot untuk anak-anaknya yang sudah dewasa tapi masih menganggur.

Ayah empat anak tersebut menyadari bahwa saat ini mencari pekerjaan tidaklah mudah. Oleh karena itu ia memilih membeli kendaraan angkot sebagai modal kerja anak-anaknya untuk bisa lebih mandiri. Keinginan ayah 4 anak, kelahiran 7 Mei 1943 ini tak muluk-muluk. Ia mengolah keadaannya dengan kreatif. Dan Hamsad Rangkuti berhasil! (Sumber; Radar Depok)

Suatu petang pada bulan Juli yang cerah, aku dan Bang Hamsad jalan bareng menuju Palembang. Sejak dua hari sebelumnya ia sudah menanyaiku tentang tiketnya. Panitia telah mengurus semuanya, mereka kirim kurir untuk mengantar tiket kami ke rumahku. Mereka pun telah mentransfer ke rekeningku untuk ongkos taksi ke bandara.

Dinihari kuterima lagi pesan singkat bahwa Bang Hamsad akan menunggu di rumahnya di Depok Baru. Jadwalnya di PDS HB.Jassin siang itu sudah dipending, digantikan oleh seorang rekannya; menerima rombongan penikmat sastra dari daerah.

Sebuah rumah mungil di kompleks perumahan tampak sepi. Istri Bang Hamsad belum lama dioperasi, ada tumor ganas di payudaranya. Saat itu ia sedang berada di rumah anaknya di Jakarta.

Aku punya kesempatan untuk turun dari taksi, melihat-lihat suasana di dalam. Beberapa lukisan karya pelukis terkenal “made in” Indonesia, sahabat-sahabat tuan rumah, tampak terpajang dengan megahnya di ruang tamu. Lukisan sosok Hamsad Rangkuti, terkesan sangat sederhana dan nyentrik. Sebuah lukisan kuno yang mengingatkanku akan lukisan Chairil Anwar.

Adakah seniman selalu identik dengan kebersahajaan, kemiskinan, kenyentrikan yang tak masuk akal untuk ukuran manusia normal? Demikian sempat terlintas di benakku. Sejujurnya, kerap aku merasa bukanlah sebagian dari golongan seniman. Tak ada pula pengakuan secara jelas bahwa diriku adalah seorang seniman.

Kemudian kutahu bahwa seorang Hamsad Rangkuti tidaklah sama dengan Chairil Anwar, Gerson Poyk, WS. Rendra, dan seniman hebat serta eksentrik yang pernah dimiliki bangsa ini. Hamsad Rangkuti memiliki imaji liarnya sendiri dan mengusung nilai-nilai Islami.

Tentu saja aku merasa mendapat kehormatan bisa jalan bareng sastrawan sekaliber dia. Bahkan mendampinginya sebagai pembicara dalam suatu forum sastra. Kugali sebanyak mungkin kisah-kisah, pengalaman hidupnya sebagai seorang sastrawan. Ternyata banyak juga kisahnya yang menurutku menginspirasi, mulai dari yang memprihatinkan, membahagiakan, mengharukan hingga menyebalkan dan menggelikan.

“Coba ditulis, Bang, lalu diterbitkan. Sungguh kisah inspirasi yang sarat pembelajaran, sangat berguna untuk generasi muda kita,” usulanku ditanggapi dengan kekehannya yang khas.

Kupikir, ia bukan tidak mau menerbitkan memoarnya, mungkin lebih suka ada yang menuliskan untuknya. Itulah yang membedakannya dengan diriku yang telah menulis beberapa catatan hidupku dengan jari-jemariku sendiri.

Pernah dalam suatu forum yang dihadiri para sastrawan senior, beberapa dari mereka menyudutkanku, menyebutku sebagai; tukang nulis narcis!

Tidak, bantahku, niatan awalku hanya untuk berbagi kisah yang sayang sekali jika dibuang begitu saja di benakku. Aku selalu berharap kisah-kisah yang pernah kulakoni (dibukukan) dapat memberi pembelajaran, dan berbuah hikmah untuk pembaca.

Kalau tidak menulis hendak bagaimanakah lagi caraku mencari nafkah? Keahlian lain, bahkan ijazah SMA pun aku tak punya.

Di pesawat, seketika aku baru menyadari bahwa inilah penerbangan pertamaku setelah diopname cukup lama, melalui begitu banyak situasi yang menyakitkan, diambil darah tiap saat, ditransfusi dan diinfus secara terus-menerus. Itulah perawatan terlama, setelah melahirkan Butet, yang menggoyahku secara fisik, emosi dan psikhis.

Saat terkapar begitu, aku sempat berpikir, mungin sejak ini aku takkan pernah mampu jalan-jalan lagi, keliling Tanah Air yang kucintai dengan segenap hati. Jika Allah berkenan, sungguh tiada yang mampu mengelak, ternyata masih diberi-Nya hamba yang lemah ini waktu dan kesempatan untuk berkarya, menyebar virus menulis.

“Alhamdulillah, ya Robb…. Hamba masih diberi kesempatan jalan-jalan jauh begini,” gumamku membatin, tanpa terasa mataku membasah.

Aku tak pernah mengira, beberapa bulan kemudian, ternyata Allah masih memberiku pula saat-saat yang lebih menguras emosi, enerji bahkan keimanan. Sungguh tak pernah kusangka dan terbayangkan!

Kami dijemput di Bandara Sultan Mahmod 2, Rabu, pukul 19.30. Pesawatnya delay sampai 90 menit. Panitia langsung menggiring kami ke sebuah restoran untuk santap malam. Kenyang makan dengan menu khas Palembang, sop ikan patin, ikan beluga yang asam-asam segar, kami kemudian diajak jalan-jalan, melihat panorama jembatan Ampera di waktu malam.

Suasananya romantis sekali dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Mengingatkanku akan tepi sungai Nil di Kairo. Di sini juga ada perahu hias yang dimanfaatkan untuk rumah makan atau kafe. Hanya saja sungai Musi tidak sepanjang dan seluas sungai Nil. Di sini pun tak ada gedung-gedung pencakar langit yang megah serta terang-benderang.

“Ini sumber inspirasi para seniman, ya, Bang?” decakku langsung mengagumi nuansa alam yang terkesan eksotis.

Tampak para pedagang menjajakan jualannya yang diterangi lampu-lampu kecil. Tampak pula beberapa pasangan lelaki-perempuan, entah suami-istri atau baru pacaran di antara keremangan.

“Kalau Abang, mau buat puisi itu diendapkan dululah,” kilah Hamsad Rangkuti, ketika dimintai seorang panitia untuk membuat puisi.

“Ada yang kurang nih, apa coba?” kataku.

“Kurang penerangan memang,” sahut Erhamna mengakui.

Malangnya, kameraku tidak bagus, demikian pula ponselku. Jadi, aku tak bisa jeprat-jepret, mengabadikan jembatan Ampera di waktu malam.

“Semoga masih ada lain kali, ya,” ujarku berharap yang disambut panitia dengan hangat.

Ternyata penerangan yang serba apa adanya itu bukan hanya di kawasan jembatan Ampera, melainkan hampir di seluruh kota empek-empek ini. Bahkan ketika kami melintasi kediaman Gubernur, keremangan itu sama sekali tidak pilih kasih. Kami tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuk kediaman orang nomer satu di Palembang itu.

Panitia mengantar kami ke rumah pribadi Hajjah Asmawati, Kepala Sekolah. Ia sedang menginap di rumah dinas suaminya. Sebuah kediaman yang indah dan nyaman di antara beberapa rumah yang dihuni oleh ibu serta saudara-saudaranya.

Bahna lelahnya aku segera tertidur lelap hingga terdengar azan subuh. Setelah membersihkan diri terasa segar kembali, dan siap untuk apapun. Hehe.

“Walaaah!” seruku dalam hati begitu sampai di tempat acara. Temanya kok besar amat, apa tak salah nih?

Seminar Nasional Menulis Kreatif!

Kulihat panitia sibuk menyiapkan segalanya, termasuk Fauziah dan Erhamna, keduanya selalu mengawal kami sejak tiba di bumi Palembang. Seorang perempuan sebaya menghampiriku saat kubuka laptop, menyiapkan presentasi.

“Ini loh, Teteh, kakakku yang rumahnya dikau inapi semalam,” kata Fauziah.

“Oh, iya…. Bu Kepala Sekolah SMAN 3, ya,” sambutku, kutinggalkan laptop dan menyalaminya.

Beberapa jenak kami bercakap-cakap ringan. Ia menyatakan sangat bangga dan bahagia, karena seorang penulis ngetop berkenan menginap di rumahnya.

“Aduh, Ibu, jangan bilang begitulah. Seharusnya saya yang merasa sangat bahagia, sekaligus terharu. Acara besar begini baru kali inilah saya hadiri di Palembang.”

Terus-terang, risih dan malu hati jika kudengar sanjungan berlebihan.

Kuperhatikan sejenak suasana gedung aula di SMKN I itu. Ini kerja sama dengan SMAN 3, sponsornya ada Indosat dan Penerbit Yudhistira. Pesertanya lebih dari 200, terdiri dari siswa dan guru. Pukul 08.00 pun peserta sudah memenuhi aula. Acara yang serius nian, kurasa.

Pembicara pertama seorang Profesor dari Universitas Sriwijaya. Namanya dengan huruf gede-gede terpajang di backdrop, Pofesor Chuzaimah. Ia sudah sepuh, tapi kecantikannya masih kentara dengan jari jemari lentik dan kuku-kuku terpelihara.

Pembicara kedua; Dra.Sastri Yunizarti Bakry asal Sumbar (tidak hadir karena kongres PMI di Solo). Padahal bukunya Kekuatan Cinta yang sedianya akan dipromosikan dan dibedah. Ia meneleponku, menyatakan penyesalan tak bisa hadir.
Pembicara ketiga, ya, diriku ini yang ijazah SMA pun tidak punya, nginggris belepotan pula. Pembicara keempat abangku senior, sastrawan mumpuni; Hamsad Rangkuti. Sesungguhnya aku merasa tak enak juga, malu hatilah, seharusnya ia pembicara pertama. Hamsad Rangkuti namanya bukan saja sudah nasional melainkan mendunia. Banyak karyanya yang mendapat penghargaan bertaraf internasional. Mungkin panitia tidak mengetahuinya, atau memang sengaja ingin menonjolkan pembicara daerah, entahlah.

“Pssst, Bang, jangan dimakan salaknya. Bagaimana nanti kalau sakit perut?” ujarku kepada Hamsad Rangkuti yang iseng menyomot salak di antara jeruk dan lengkeng yang terhidang di hadapan kami.

“Sudah disajikan, ya, dicicipilah, Dek,” sahutnya kalem dengan gayanya yang khas, nyeniman bangeeettt!

Di meja makan rumah Bu Kepsek kami hanya saling berdiam melihat roti tawar kupas dan selai nanas. Kurasa kami sejenis orang yang, agak bagaimana begitu, ya, dengan sarapan macam itu. Maklumlah, biasa nasi atau bubur ayam, lontong, ops…dari beras-beras juga. Hehe.

Dalam perjalanan di mobilnya Erhamna, Hamsad Rangkuti sempat diledeki oleh Fauziah.

“Maaf, ya, apa Abang nih sudah sisiran dulu? Nanti kita akan jumpa dengan para pejabat Palembang loh, Bang….”

Aku hampir tersedak mendengar gurauannya, tetapi Hamsad Rangkuti tampaknya santai saja menyahut, “Kalau di depan kaca di kamar mandi, umpamanya, cukup kubasahi tanganku, lalu kuusapkan ke rambutku.”

Fauziah mengejarnya dengan kalimat, “Sungguh, tak pake sisir lagi, Bang?”

Hamsad Rangkuti hanya terkekeh kecil. Aku tersenyum maklum. Penampilan si Abang satu ini memang sangat bersahaja, khas seorang seniman sejati. Sungguh jauh dari jas dan pantalon necis yang biasa dipakai oleh para pejabat.

Namun, bukankah kita jangan hanya melihat penampilan luarnya? Lihatlah, segudang karyanya yang mengagumkan. Karya-karyanya itulah yang telah menerbangkannya ke pelosok mancanegara, mendudukkannya di kalangan para petinggi negeri dan dunia. Dikenal, dihargai dan dikagumi oleh masyarakat sastra internasional.
Acara diawali dengan sajian lagu-lagu oleh Nadjib dkk. Nadjib guru olah raga SMAN 3, suaranya bagus, gayanya tak kalah dengan penyanyi profesional. Lagu Palembang di Waktu Malam, Neng Geulis, Ibu-nya Iwan Fals, menggema serta menghangatkan sekitarnya.

Ada laporan panitia kemudian sambutan Bu Hajjah Asma, disusul Kepala Dinas yang berujung diresmikannya acara ini; tok, tok, tooook!

Profesor Chuzaimah bicara tentang kreatif menulis, agaknya sudah terbiasa dengan bahasa presentasi ilmiah di depan mahasiswa civitas akademi. Sebagaimana galibnya seorang profesor, tata bahasanya apik, kadang diselingi bahasa Inggris. Maklumlah, S3-nya saja di Amerika. Intinya menekankan bagaimana pentingnya menulis kreatif dalam bahasa Inggris.

Kucermati suasana aula yang luas itu dan tertib. Tidak, kurasa ini malah terlalu tertib dan senyap, nyaris tak ada (tak berani?) bisik-bisik sekalipun. Belakangan baru kutahu bahwa peserta para guru, duduk di deretan bangku paling depan, kebanyakan adalah murid sang Profesor. Pantaslah!

Tiba giliranku langsung masuk dengan ‘teror virus menulis’, diselipkan kiat-kiat menjadi penulis hebat, sekilas kisah inspirasi dan banyolan khas diriku. Maka, pecahlah suasananya menjadi gelak tawa. Banyak bapak dan ibu guru kulihat tertawa geli, anak-anak SMA pun mengakak waktu mendengar istilah-istilah gaul yang kucomot dari candaanku dengan putriku.

Plong!
Padahal, hatiku sempat kebat-kebit disandingkan dengan Profesor. Sampai diam-diam ku-SMS Butet dan dibalasnya; Beuh, ngapain pake grogi, ngomong aja kayak Mama biasanya. Ocreh, Mom: Semangaaat!

Hamsad Rangkuti, ternyata nian memaparkan materinya, meskipun tanpa laptop dan LCD. Melainkan langsung buka-buka dari buku kumpulan cerpen karyanya yang mendapat award dari Bangkok.

“Ini akan saya bacakan nukilan cerpen; Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu.”

Suasana mendadak heboh dan semarak!

Pada sesi dialog interaktif, terlihat sekali para peserta sangat antusias. Mereka banyak bertanya seputar kepenulisan kreatif. Ada dua peserta yang memanfaatkan gilirannya untuk curhatan, bahkan membacakan puisinya. Seorang peserta mengaku ngefans berat Pipiet Senja, mempersembahkan sebuah puisi yang ditulisnya saat itu. Tersanjung sekaligus terharu.

“Sukses, ya Uni,” ujarku kepada Ibu Kepsek saat dimintai komentar usai acara. “Semua buku yang kami bawa laris manis, terima kasih, ya Uni….”

“Kami yang harus berterima kasih sama Teteh dan Bang Hamsad. Ini acara paling menarik yang pernah kami gelar di kota Palembang.”

Kami diajak makan siang di restoran khas Palembang. Sajian wisata kuliner yang hanya kulihat di televisi, siang itu sungguh tersaji di hadapanku. Kami makan lahap dan nikmat sekali. Kembali kucicipi pindang beluga, pindang patin yang segar, nikmatnya!

Terhibur sudah perutku, ini sarapan sekaligus makan siang. Tak terpikirkan bahwa hal seperti ini bisa menimbulkan penyakit baru, bahkan memperparah kondisi perutku; lambung, limpa, kandung empedu dan lain-lainnya itu.

“Ini terlalu singkat waktunya. Kalau latihan 2-3 hari, sekaligus praktek langsung menulis kreatif, tentu lebih efektif dan akan segera tampak hasilnya,” berkata Erhamna.

“Teteh dan Abang, masih maukah datang ke sini nanti kalau ada acara lagi?” tanya rekannya, Fauziah.

Aku melirik Bang Hamsad, kulihat anggukannya, maka aku pun menyertai kesiapannya itu dengan kalimat: “Insya Allah, Dek….”

Petang itu aku kembali ke Jakarta, sementara Bang Hamsad masih akan beberapa hari lagi berada di Palembang. Lagi-lagi pesawatnya delay (aneh, tak pernah minta maaf!) 1,5 jam, ditambah Damri jurusan Pasar Minggu lama sekali datangnya, sehingga aku baru sampai di rumah sekitar pukul sebelas malam.

Dinihari aku terbangun dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Dadaku sesak sekali, perut serasa diaduk-aduk, panas, sakit, mual…. Muntah-muntah hebat sampai lima hari lamanya!

Setelah berobat ke Dokter spesialis di HGA, rumah sakit swasta dekat rumah, aku baru bisa muncul di kantor.

“Dek, mungkin Teteh akan minta cuti sakit,” kataku kepada Rosi dan Pur.

“Kenapa, Teh, sakit lagi, ya?” tanya keduanya, menatap wajahku dengan cemas.

“Iya nih, Dek…. Hancur-hancuran rasanya badanku ini,” keluhku untuk pertama kalinya, kemudian kusalami keduanya dan pamitan pulang.

Kedatanganku ke kantor waktu itu memang hanya untuk berbagi oleh-oleh Palembang, empek-empek dan kerupuk, sekalian pamitan untuk diopname kembali.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito