Tampilkan postingan dengan label Mujtahidin Billah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mujtahidin Billah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2009

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://embun-tajali.blogspot.com
RINDU

Ku bersenandung dalam rindu,ku merintih dalam perih,ku berharap dalam cemas,ku melangkah dalam gunda,ku memuja dalam do,a.

saat fajar menjelang ku menjelma dalam nyanyian burung krikit menyapaku penuh rindu,ketika mentari mulai terik ku rsakan hadir mu dalam sang bayu membelaiku dalam bisik syahdu.sore mulai datang ku dengar suaramu memangilku dalam teriakan anak-anak yang bermain penuh ceria,malam mulai menyapa menyelimuti sang bumu hijau ku lihat kelipan matamu dalam pesona sang bintang ku rasa senyumu dalam cahaya rembulan kau tidurkan aku dalam buaian lembut angin malam.

ku sayangimu itu lah sebabnya aku tak erhenti mendo,akan ke selamatanmu da berharap kita kan kembali bersama.



CAHAYA CINTA

lihatlah langit malam yang bercahaya lihatlah bintang yang sinarnya benderang menyentuh wajah kita lihatlah aku bintangmu yang satu yang kaucinta yang kaukasihsayang yang kaugenapi dengan kerinduan dan perasaan hangat pesona ribuan derajat tabir cahaya lihatlah ke kedalaman mataku ke kedalaman jantung hatiku ke kedalaman jiwaku yang bersayap yang terbang membawamu ke surga cinta yang paling tinggi paling indah paling agung agar kita bisa duduk bersama di singgasana keesaan cinta singgasana keesaan kasih sayang singgasana kerinduan yang tak terbelah terbagi oleh raga ini

lihatlah aku duhai kekasih yang paling kasih

pada kursi tertinggi singgasana cinta ini aku duduk bersanding bersamamu hidup tanpa perlu hitungan usia dan ukuran waktu segalanya kekal segalanya tak berujung pangkal segalanya hanya cinta dan kasih sayang segalanya hanya kau dan aku

segalanya surga segalanya cahaya cinta segalanya kau dan aku



CAHAYA DI NEGERI INI

seperti kau katakan, apalah ertinya cahaya di negeri ini
jika di hati kita sendiri masih gelap tidak bermatahari dan bulan
setiap hari mrt melintas di depan lingkaran pintu langit
membawa kita ke rumah-rumah dan gedung-gedung besar
pernahkah kita menyapa Tuhan dengan salaman cinta
pandangan kita tertinggal jauh di sepanjang rel-rel kosong
sungguh, kita menatap kekosongan membeku di udara.


seperti kau katakan, penyakit di zaman ini makin menjadi-jadi
setiap hari kita harus mengawal pemakanan, mengunyah banyak buah-buahan,
memasak sayuran, kurangkan makan telur dan daging, bersenam di park,
demi meredakan tekanan darah dan jantung yang terlalu tinggi
hingga membuat kita sering marah-marah sesama sahabat dan keluarga
pembuluh jantung kita sudah terlalu sarat berlumutkan kolesterol, lemak,
asin garam, msg, manis gula yang membuncitkan kantung perut,
menjalar dalam pundi-pundi kencing, mencipta angka-angka kubur
pernahkah kita bermusuh pada burung-burung pada alam
burung-burung arwah kini menghantui wabak demam
manusia mengkanserkan tamadun di zaman kita, di zaman kita
ada tangan-tangan primitif menyembelih musang
demi memuaskan nafsu santapan, menguburkan ayam beramai-ramai
seperti anak perempuan bahari jahiliyah, ditanam hidup-hidup
ke dalam kejap lubang tanah yang terdalam, berlimpah lumpur darah,
atas dosa apakah ia dibunuh sekejam itu, atau siapakah
yang kita cuba salah-salahkan?


seperti kau katakan, apalah ertinya cahaya di negeri ini
jika setiap warna lampunya yang berbeda memendam kesangsian
wajah-wajah yang sakit tak saling memaafkan, setiap hari
kita hanya mementingkan suhu badan, cemas mengawasi termometer,
menghabiskankan kotak-kotak pil vitamin, jangan sampai menjangkiti demam
selsema di antara kita, tubuh kita senantiasa bertenaga dan ngalirkan
seberapa banyak hamis peluh, sedangkan di dalam rongga-rongga kita
mengapa tidak dilorongi cahaya di negeri ini, betapa sulitnya kita
meneropongi kalbu tanpa suara kunang-kunang, seusai menyelinap lubang
kunci rumah, seperti kau katakan sebaik saja kita kuarantinkan diri
di kamar dapur, menghalau asap perang, memetakan jalan penawar
dari serba ketakutan yang menjaringi maut.
seperti kau katakan, apalah ertinya cahaya di negeri ini
jika kita tak segagah kelkatu, atau hanya mendakap bermilyar galaksi
yang runtuh ke dada kolam, tak juga kita mahu mengerti
apa yang ada di dalam diri, di seberang rumput terbaring
jaket-jaket yang kotor, jauhilah dari menghisap batang rokok,
membakar hutan rawa paru-paru, kau impikan zawiyah perkebunan
yang damai dan tenang, merumusi kurun salasilah yang cukup
sihat dan bervitamin, di negeri yang seindah ini
penghuninya menzuriatkan bangsa sayur-sayuran, bangsa buah-buahan
yang segar matang di kebun-kebun firdaus menghijau.

Kamis, 30 April 2009

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://embun-tajali.blogspot.com
SANG PENYAIR

( I )

Duhai, Penyair, sudah berapa banyak kata yang kautuliskan? Sudah berapa banyak puisi yang kauhasilkan? Apakah hari akan setia menemanimu dengan kata yang kaupetik dari lelangit aksara? Aku menunggu kauserahkan puisi terakhirmu untuk kubacakan di muka para pendengar.

Panggung ini sepi dari para pengunjung sejak kau tinggalkan kursi dan kertas kerja berserakan. Pena ini tak akan kehabisan tinta; lalu apalagi yang kau khawatirkan? Kemarilah, temani aku di sini membaca puisipuisi yang kaugubah.

Sering kunyanyikan lagu dari baitbait puisimu. Pemain kecapi dan seruling telah biasa memadukannya. Kini, apalagi yang kau risaukan? Apakah kau tak lagi dapat menulis, karena jemari telah lemah dan tubuh sudah renta? Puisipuisimu tak akan pernah berhenti mengalir, walau kau hanya sanggup gerakkan mata sebagai tanda.


( II )

Musim semi telah tiba. Bungabunga berubah warna. Daun dan ranting berguguran. Angin mengantar berita dari daerah yang paling jauh. Kemudian, berhenti di depan sosok perempuan berwajah lembut. Ia serahkan surat berisi cerita dari negeri asing. Kabar tentang lelaki merindu senja.

Apakah yang telah membuat gelisah hati perempuan itu? Rasa rindu ingin bertemu? Ataukah nyeri karena perpisahan? Angin masih terdiam menanti jawaban perempuan.

Duhai, Penyair, mengapa kauhentikan goresan demi goresan pena yang biasa menari lincah di atas kertas kerjamu? Bukankah baitbait ini begitu indah? Bahkan mawar pun bersedia menggadaikan wanginya demi mendengarkan baitbait puisi cintamu? Mengapa tak kau lanjutkan kisah cinta dalam setiap puisimu? Apakah nasib memaksamu berhenti dan membuat ingatanmu letih?

Pada akhir surat terselip tandatangan kematian kata; dan Penyair tak lagi bercerita.

(Jombang, 12 Oktober 2008)



BEGITU INDAH.

apa benar Tuhan mengirimmu untuk menjadi kekasihku? menyertai langkah kakiku mengarungi arus nasib ke muara tuju. apa benar kau kasih tercintaku? jika memang kaulah perempuan itu, akan kurapatkan hatiku ke hatimu. tangan saling genggam. kaki sama langkah. bersamamu kusalin cerita ke dalam lagu nan syahdu.

apa benar Tuhan menciptamu sebagai pendampingku? akan kuhambakan diriku. kukuduskan namamu. kusujudkan keningku. kunapaskan namamu.
kau yang begitu indah. perempuan anggun pengusir gundah. pengobat sepi penghibur lara. menarilah dalam jingkat perlahan. satu langkah satu langkah. lentik jarimu gemulai menjelma sayap burung enggang. aku mengikutimu sebagai naga langit terbang. seperti dalam kisah leluhur kita sebelum dayak terbelah.

apa benar Tuhan membelahmu dari satu jiwaku? karena kulihat wajahmu terlihat wajahku. kulihat diriku terlihat dirimu. dari jiwaku yang satu, kita bikin jiwa beribu.



SENJA

lelaki yang terdiri di tepi lautan
menanti kabar tentang senja
serintis angin tak juga kelar beri kabar
perempuan yang mengutuk cintanya
lelaki mencari senja di balik cakrawala
tak juga ia temukan

--sampai kapan?

hari mempertua usia
belum usai pencarian
payah badan tak berdaya
dari balik kabut
sosok bayang menjelma perempuan
lelaki terdiam

“senja

itu bukan kau!”



WAHAY, APA ITU CINTA?

Aku memandang nyalang, pada manusia lalu lalang
Kulihat, tanpa sedikitpun segan, mereka menggamitkan jemari tangan
Kata cinta menguar di angkasa, menghayutkan gemawan mega
Mangaburkan keindahan bintang gemintang, panji dan agungnya bentara
Namun di sini, berdiri aku dalam keraguan
Tak mengerti dan terus bertanya :
Apakah segalon cinta lebih manis ketimbang sececap cita?
Dan apakah bahagia terwujudi harus dengan dimiliki?
Dan apakah seorang pangeran hanya dapat menjadi raja,
Pabila mempersandingkan permaisuri di sisinya?

Dan tanya itu menggiringku masuk ke dalam labirin tua
Lorong pekat penuh lembap yang dindingnya berkeropeng dusta
Penuh tipu daya, tiap simpangannya menyesatkan pengelana
Aku ikuti setitik cahya, dan kulihat jawab di ujungnya

Aku bertanya lantang, “Wahai, apakah itu cinta?”
Kulihat sepasang muda-mudi bergelayutan mesra
Sang gadis tertawa mengikik, sang pemuda menggeliat laknat
Sahutnya, cinta adalah hari ini
Yang tergantikan segera oleh hari esok
Dia adalah kesenangan yang berkelindan selalu
Birahi yang terpuaskan, nikmat yang berseliweran
Aku tercenung, dan terus termenung
Jika cinta adalah pesta pora, lalu apa arti cerita Majnun
Cinta baginya adalah kisaran derita
Tetapi Majnun hanya tahu itu cinta, walau dia buta
Oh, betapa takdir cintanya berakhir nestapa

Aku berpaling dari mereka yang mencemooh nakal
Lalu aku pergi menuju ujung lain lorong teka-teki
Kuikuti suara-suara merdu, tawa, dan musik syahdu
Walau gelap pekat, suara itu menuntunku pasti
Dan akhirnya kulihat panggung megah berdiri kokoh
Dipenuhi penyair dan pujangga sepanjang masa

Dadaku serasa bergolak, aku menyeruak dan berteriak, “Wahai apakah itu cinta?”
Seorang pujangga menoleh, berdiri, dan menjawab panggilanku lalu mulai bersyair,
Cinta adalah roman tanpa batas
Inspirasi yang takkan mati; Api yang takkan padam
Yang geloranya membuatmu remuk redam
Tapi, bagai kecanduan, kau akan terus menyesapnya
Membuatmu merasa terbang menuju menuju mentari yang menyala perkasa
Sekali lagi, keraguan menyelinap dan membisik
Mestikah begitu, sebab kulihat nyala sangat redup
Menyambangi jalinan pernikahan yang suci
Gairah sejoli telah berakhir, tapi tidak memupus ikatannya
Tapi mereka masih menyebutnya cinta
Walau madunya telah habis, Sang kumbang masih hinggap di atas kembang

Aku melengos tak puas, dan berjalan tak tahu ke mana
Kususuri lorong berliku, begitu panjang jalanan, begitu terjal undakan
Dan pada satu tangganya, kulihat seorang pengemis renta mengharap derma
Dia berkata, “berikanlah milikmu yang terbaik, dan kusampaikan kebijaksanaanku”
Aku sebenarnya tak ingin percaya, tapi kakiku terlalu letih mencari jawab
Kuulurkan sebongkah batu mirah sembari bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Si pengemis diam dalam takzim, dan menjawab,
Cinta adalah menghamba tanpa bertanya
Ketaatan tanpa memerlukan jawaban
Kau memuja, dan menjadikan dirimu budak dengan sukarela
Kata-kata cinta adalah perintah yang tiada terbantah
Aku terpekur dan tak henti berpikir
Jika cinta merupakan penghambaan, lalu apa arti cinta Ilahi?
Dia yang menurunkan hujan, dan lebih agung dari apapun jua
Dia yang memberikan rizki kepada orang paling durjana sekalipun
Dia yang mencintai makhluk-Nya, dan tak memerlukan apapun dari makhluk-Nya

Aku merasa rugi atas permata yang terbuang percuma
Ini bukanlah kebijaksanaan; melainkan kedunguan!
Cinta si pengemis selamanya menjadikan dirinya pengemis
Yang mengiba, meminta, dan mengharap sejumput kasih
Jika ini dinamakan cinta, maka terkutuklah kata cinta!
Aku muak atas pencarian ini, lalu memutuskan keluar
Labirin tua tak lagi mengurungku, dan bau laut seakan memanggilku
Ini adalah aroma kebebasan yang menarik para pemberani
Dan seperti cerita lama, aku berlayar menuju samudera berombak, –sendiri
Angin kencang membantu lajuku, dan kapalku menuju horizon di tapal batas
Mencari dunia baru untuk ditaklukkan
Di ujung dek aku berteriak penuh kegembiraan
Walau kegembiraan itu kadang dibayar oleh rasa hampa di tengah lautan
Oh, tahun-tahun berselang; musim-musim berganti datang
Waktu-penuh-kenangan yang berkandung duka dan suka
Namun, pada suatu hari yang mengejutkan
Badai datang menenggelamkan apa yang tersisa
Aku lihat puing-puing yang karam, dan onggokan
Sementara aku hanyut ditemani tongkang yang terombang-ambing
Entah mengantarkanku ke mana

Di suatu tempat, saat aku membuka mataku
Aku rasai pasir lembut yang harum baunya
Dan riak ombak bermain-main di sekujur tubuhku
Apakah ini tanah orang- orang mati, ataukah aku masih hidup?
Oh, betapa hausnya aku…seteguk air akan mengobatiku
Dan, aku lihat sesosok datang mendekat
Sorot matanya menatapku lekat
Lalu menuangkan seteguk air pada bibirku yang kekeringan sangat
Pandanganku terasa kabur, dan dunia terasa berputar begitu cepat
Aku berharap dia adalah malaikat tak bersayap yang memberikan jawab
Aku merasa maut sebentar lagi menjemput,
Jadi tak ada salahnya bertanya, toh rasa malu akan terbawa lalu
Setelah sekian lama, sekali lagi aku bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Dia termangu,dan hanya tersenyum
Untuk menenangkan jiwaku yang sekarat, dia menatapku lembut
Dan kata-kata bagai menetes dari mulutnya
Kata-kata serasa madu yang manisnya teringat selalu, Jawabnya :
Cinta bukanlah benda untuk dimiliki
Tetapi tindakan untuk diperjuangkan
Cinta adalah kebaikan tanpa imbalan
Pernahkah mentari bertanya padamu atas sinarnya yang terang
Dan pernahkah pepohonan meminta jawaban atas keteduhannya
Jika kau memberikan segelas air pada orang asing,
Dan dia tak berhutang padamu apapun
Itulah cinta.
Bagaikan petani, kau menanam benihnya
Lalu orang lain memakan buahnya, menghilangkan rasa laparnya
Tetap ingatlah, cinta adalah pilihan hatimu
Bukan keterpaksaan dari rasa takut
Sebab cinta tidak pernah membuatmu merasa kehilangan
Dia terus membuat hatimu merasa kaya
Namun, sungguh dunia telah tercerai berai,
Dan manusia menjadi tersesat oleh makna cinta
Tergelincir keserakahan, cinta menjadi memabukkan
Untuk memiliki, bukannya memberikan
Untuk menguasai, bukannya mengasihi
Jika cinta tinggallah nafsu diri belaka
Yang tersisa hanyalah kerusakan semata
Tiada peduli sesama; Semuanya mengagungkan diri jua
Orang menamakannya cinta; tapi itu hanyalah dusta

Hari itu, aku tahu
Bahwa perjalananku bukannya berakhir,
Tetapi baru saja dimulai

Lalu aku mengatup mata
Dan mulai mendoa
Untuk satu pilihan kata di hati.


Kamis, 09 April 2009

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://sajaksufi.wordpress.com/
Aku Mencintai Ikan-Ikan Dalam Tubuhku

Telah Kaubina kasus akuarium itu dalam tubuhku aku pun mencintai ikan-ikan dalam air waktu dalam usia karang dalam uban lumut dalam hijab zarah pasir dalam igau buih nafas ikan-ikanku tak mahu lagi mengunyah roti taburkan zikir asma’Mu hanya asma’Mu merasuk di balik sisik-sisik ikan cahaya menembus cahaya gelisah mencakar dinding-dinding kaca air apakah rupa apakah kata-kata apakah lemas ikan-ikan beradu di singgahsana air makrifat sesudah mengenal hakikat akulah itu bercermin dalam warna air tanpa perasingan Kau adalah rahsia kalbu di antara semua kalbu yang mabuk fana terhukum pada makam kematian dan tatkala terbuka pintu kehidupan hanyalah ngalir air di bawah arasy memuarakan rakit doa selaksa abad menanggung rindu atma cinta derita sang maulana musafir resah ikan-ikan yang tak pernah tidur merenangi wilayah sejati mentafsir tirai kebenaran kuleraikan wadi mani manikam kulepaskan semua wajah yang bukan wajahMu di mihrab malakut maka kun jadilah aku asal muasal mentajallikan diri dalam kerajaan air yang kusaskikan hanya Kau di samawi jabarut ghaib di khutub lahut seribu ikan-ikanku menjadi satu di

l a u t a n k h u l z u m



Sang Peribadi
Untuk anggota Kalam_Senja.

Ketika waktu belum Kauciptakan
hanya cinta dalam kebadian
di lautan suara Kau menjaring kata

"Kun....."

di negeri lain Kaurumuskan pelbagai wajah
aku adalah sebutir atom yang pernah memecahkan tangis
menggelepar saat mengupas kulit wajah
seketul daging akal tiba-tiba menguak pintu
saujana cakerawala bernama raga, menapak turun
dari tiap-tiap tangga langit, menjejaki tanah akar
berkelana dengan sebilah wujud tajalli
bukan kerana terusir dari langit, bukan kerana tersalah makan
buah larangan, bukan kerana hasutan ular di bawah redup
pohon syurga, bukan kerana bongkaknya iblis enggan sujud
di kakimu Adam, bukan juga kerana teramat mencintaimu Hawa
sampai terlucut celana dalam tanpa sehelai benang pun
melekat di tubuh

ya Alif,

tatkala kubedah daging akal ini
'aku manusia keterlanjangan!'
namun bukan dari unsur jasad alam semesta
tidak akan hancur walau dikerat dan dibedah
Kaujelmakan ratusan tunas peribadi
berjubah cahaya, aku pun menyarungnya
maka kutahu keberadaan-Mu
di dalam tubuh jagat ini jua, bukan di luar



Di Balik Wajah Kalem
Untuk anggota Antologi Sajak_sufi

Memang bulan pun tidak pernah melihatkan keindahan wajahnya
bila malam terlalu pekat untuk diterangi
warna-warna kelam berbaur dengan dingin malam
mengulit sama rongga si tubuh kerdil dalam laluan jauhnya

Memang begitu lumrah malah kebiasaan yang digumul
bersama ketulan-ketulan rasa mendongkol di dada sebaknya
walaupun belum sampai menitis airmata tapi sendu yang
menggoncang bahu cukup menggegarkan seluruh
keupayaan seorang aku
dalam sia-sisa perjalanan panjangnya

Memang begitulah jika sudah ada tanda-tanda keletihan di mamah usia
yang tidak pernah kenal siapa engkau dulunya
tidak pernah tunduk dan berundur biar sejinjit langkahnya
malah akan terus meraung mengejar dan memburu waktu sisa
yang tinggal bersama kenangan yang mesti dibuang sama
sejak tabir senja tadi telah mengelubungi jagatraya kehidupannya

Memang belum ada yang boleh membantu
selain dari paduan citarasa yang unggul dan jatidiri
di bawah naungan sebuah nama yang dibina di atas
puing-puing kertas dijilat bersama baramasa tak punya ihsan
di balik wajah kalem yang tidak pasti di mana hujungnya
tempat berlabuhnya tubuh di kala panggilan Mu tiba
tanpa di duga tidak boleh dibilang hari begitupun saat
tidak lagi berkesan untuk mengembalikan segala kepayahan
menjadi untaian mutiara

Memang begitulah akhirnya bukan sebuah kesudahan yang direka
sejak tercongolnya jasad telah ditandai dengan tangisan pertama
hingga akhirnya tiada lagi airmata untuk mengiringi
kepergian jauh ke liang kamar sepimu sendiri
dalam tidur yang lama

Memang begitulah segalanya terakam Cuma
di balik wajah kalem
menyimpan dendam – dendam rindu seorang insan
meraih keperluan fitrahnya anak manusia
terlalu pegal-linu
mendenyut-denyut dari langkah ke langkah
sampai bilakah itu yang tidak boleh dibilangnya tapi tahu
pasti bilakah akhir di manakah penghujung penitian usia
yang hampir benar dengan panggilan-panggilan Mu

ya Rabbi!!!

Memang di balik wajah kalem inilah kurakam pendam
kusimpan rapi segalanya hingga di sana kelak dalam
kumpulan besar yang dijanjikan barulah segalanya
terlerai biarpun belum tentu terhurai satu demi satu dalam
kerana aku kau dia dan mereka adalah sama tapi tak
serupa di bawah naungan-Nya

memang di balik wajah kalem inilah kusimpan
rindu dalam diamku.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito