SEKS, SASTRA, KITA
Kumpulan Esei Goenawan Mohamad
Penerbit Sinar Harapan,
Cetakan I, 1980, 173 halaman
Peresensi : Th. Sumartana
http://majalah.tempointeraktif.com/
SASTRA Indonesia modern lahir dari induknya yaitu nasionalisme. Ia lahir dan dibesarkan bersama dengan anak-anak nasionalisme yang banyak. Pendidikan, institusi keagamaan, kegiatan sosial, ideologi, birokrasi, partai politik dan lain sebagainya. Ia turut merasakan kesakitan beranak bagi lahirnya suatu bangsa. Ikut pula berpasang surut bersama dengan peri kehidupan bangsanya. Ia merupakan bagian integral revolusi suatu bangsa yang menerobos keluar dari kungkungan isolasi masyarakat sukunya dahulu, dan dari penindasan bangsa lain.
Jelas, bahwa para pendukung sastra Indonesia modern adalah species yang bernama homo Indonesiensis. Dan sebagaimana persoalan yang dihadapi oleh gerakan nasionalisme di Indonesia, maka sastra Indonesia modern pun berada di sebuah jalan simpang tiga. Yaitu internasionalisme, nasionalisme dan daerahisme.
Sejak akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 telah muncul elite pendidikan baru di Hindia Belanda. Dengan munculnya elite pendidikan ini turut terangkat pula bahasa Indonesia sebagai bahasa intelektual. Ia terangkat dari bahasa pasar dan bahasa administrasi pemerintahan.
Kontinyuitas Tahun 1917 berdirilah Balai Pustaka, lalu muncul Pujangga Baru, 1933, sebagai upaya memenuhi tuntutan baru. Lahir pula Angkatan 45 yang gegap gempita dengan semangat perang dan revolusi. Angkatan tahun 50-an merupakan reaksi yang ingin hidup realistis dengan soal pedesaan dan kedaerahan. Dan yang terakhir adalah Angkatan 66.
Kelima angkatan dalam sastra tersebut resah menjawab tantangannya sendiri dan sibuk berpolemik satu dengan yang lain. Seluruh watak, citra serta semangatnya tumbuh dalam pergolakan dan persoalan lingkungan masyarakatnya. Antara tahun 1933-1963 terjadilah pergulatan batin yang intens yang kesemuanya muncul dalam sastra Indonesia modern, baik dalam bentuk puisi, prosa maupun telaah sastra.
Ternyata sastra Indonesia modern adalah sebuah kompleks yang besar. Dan amat rumit. Sastra Indonesia tumbuh secara spontan bagaikan tumbuhnya kota-kota tanpa rencana. Tak ada cetak biru, tak ada pola, tak ada tata sastra yang merancang perkembangannya. Tak ada instansi penanggungjawab. Dalam keadaan semacam ini maka ia mirip dengan suasana sebuah slum besar. Dan publik sastra Indonesia hanyalah mengenal sastrawan mereka sebagai nomor-nomor karya yang terserak-serak. Masing-masing berdiri sendiri tanpa hubungan.
Dalam kompleks besar tersebut, salah satu fungsi esensial kumpulan esei Goenawan Mohamad ini, ialah bahwa ia bisa menjadi semacam buku penunjuk jalan tentang sastra Indonesia dan tentang karya seni pada umumnya. Dalam delapan eseinya Goenawan Mohamad mencoba menelaah hasil dan persoalan kesenian Indonesia dari sejarahnya masing-masing.
Apa yang ingin ia tunjukkan adalah kontinyuitas. Kesusastraan Indonesia mempunyai satu sumbu, garis sumbu itu bisa ditarik dari kenyataan kesenian di masyarakatnya. Empat esei pertama khusus bicara tentang sastra. Salah satu pokok yang menarik adalah upaya Goenawan untuk mengidentifikasikan para sastrawan dalam strata sosial masyarakatnya serta publik peminatanya.
Agak berbeda dengan para penelaah lainnya ia menunjuk bahwa produsen karya sastra di Indonesia adalah sekelompok orang yang dibesarkan, dan hidup, sebagai bagian dari lapisan sosial yang justru tidak aman dengan strata atas masyarakatnya. Tapi, sementara itu, juga bukan bagian dari tingkat yanng bawah. Pada mereka terdapat pelbagai ciri satu kelas menengah yang sedang bergerak — paling sedikit karena pendidikan, kalau tidak karena asal-usul.
Dengan identifikasi semacam ini Goenawan lalu menarik garis yang amat konsekuen hampir dalam sekujur tulisannya yang menelaah hasil, persoalan, serta kontinyuitas karya sastra Indonesia. Kelas Menengah Bawah Pada bagian lain ia menyebut, bahwa dunia sastra Indonesia adalah dunia 15% penduduk Indonesia. Ia adalah kesusastraan kota. Ciri khasnya adalah pembacanya yang terbatas. Kesusastraan Indonesia adalah kesusastraan minoritas. Dan sastrawan Indonesia sebenarnya adalah ahli waris dari lingkungan kebudayaan yang belum sudah, yang bernama Indonesia, berada di antara masa silam yang menjauh dan masa depan yang belum pasti.
Dengan deskripsi tersebut maka Goenawan dengan leluasa dan tegas berbicara tentang tema sastra Indonesia yang bercirikan keraguan, kebimbangan, keterpencilan, keresahan, pemberontakan, keterasingan, dan lain sebagainya. Tema-tema tersebut menjadi sah. Penjabaran semacam ini tentu memberi kesan seolah-olah para sastrawan tinggal dalam suatu kompleks ghetto kelas menengah bawah yang terisolasi dari dunianya.
Dengan kata lain, Goenawan terasa kurang bicara soal heterogenitas serta gerak mobilitas mereka sebagai seniman. Tapi lepas dari alasan-alasan filosofis tentang fungsi karya sastra, mungkin “penemuan” Goenawan tersebut di atas dapat pula merupakan semacam legitimasi sosial bagi fungsi karya sastra itu sendiri di tengah masyarakatnya.
Ia selalu bergerak sebagaimana subyeknya yang resah mempertanyakan persoalan masyarakatnya. Di situ ia mendapat kebebasannya sebagai ‘orang luar’ yang tak terhisab dalam masyarakat. Tulisan lain yang amat menarik adalah tentang penyair Amir Hamzah. Goenawan menempatkan Amir Hamzah dalam konflik kreatif di lingkungan masyarakat pada masanya. Demikian pula ditampilkan konflik spiritual yang mendalam dari Amir Hamzah sebagai penyair besar Indonesia. Ia muncul sebagai penyair yang penuh ragu, seorang yang sendu dan penyabar. Yang berpolemik secara mental dengan dirinya sendiri.
Goenawan Mohamad bukanlah seorang dari kelompok kritisi ‘pendidikan’, bukan pula pemikir sastra ‘perjuangan’. Dan Amir Hamzah bukan seorang penyair partisan. Membaca bagian ini terlintas kesan adanya pantulan-pantulan proyektif antara Goenawan Mohamad dan Amir Hamzah, setidak-tidaknya dalam sikap spiritual menghadapi persoalan zamannya.
Dalam artikel ‘Kesusastraan Indonesia dalam kebimbangan’ penutupnya berbunyi “Untuk apa berdebat dan berpolemik, jika segala pendirian adalah nisbi?” Pertanyaan tersebut mungkin untuk sebagian kita kedengaran ganjil. Sebab bukankah sesuatu yang nisbi justru mestinya tinggal dalam nisbahnya dengan yang lain? Atau adakah sastrawan yang sadar diri (self-conscius) dan sadar tentang kenisbiannya akan menjadi self-sufficient? nisbi tanpa nisbah? Manifes Kebudayaan.
Namun, ketika kita membaca renungan Goenawan tentang Amir Hamzah dapatlah kita pahami dengan terang kenapa ia sampai kepada pertanyaan yang ganjil semacam itu. Posisinya itu pula yang mungkin turut menyebabkan kupasannya tentang film Indonesia, nyaris menjadi semacam pembelaan — seperti yang ia lakukan terhadap kehidupan teater mutakhir di Indonesia.
Sebagai eksponen Manifes Kebudayaan banyak kita harapkan Goenawan membahas kehidupan sastra tahun 60-an, sewaktu terjadi polemik sengit antara kubu ‘realisme sosialis’ dan ‘humanisme universil’. Pada tahap ini agaknya jalan simpang tiga yang klasik di zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Angkatan tahun 50-an sudah habis ditelusuri.
Pilihan tidak lagi antara internasiolisme, nasionalisme dan daerahisme. Akan tetapi pilihan ideologis yang menjangkau seluruh persoalan itu secara seutuh-utuhnya. Goenawan mengatakan bahwa Manifes Kebudayaan bagi sejumlah besar mereka adalah suatu usaha untuk memecahkan dilema itu secara kurang lebih berhasil. Tanggung jawab pribadi dipulihkan. Diakuinya bahwa Manifes bersikap skeptis terhadap ideologi bahkan cenderung anti-ideologi.
Ekspresi literer yang mutakhir dari kecenderungan semacam ini berpuncak dalam kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri yang bukan hanya anti ideologi, akan tetapi bahkan anti ide dalam kehidupan kesusastraan Indonesia. Itulah potret terakhir yang kita dapat tentang sastrawan Indonesia.
Tampilkan postingan dengan label Th Sumartana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Th Sumartana. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 September 2010
Tuntutan Reformasi
Th. Sumartana
http://www.tempo.co.id/
DI KALANGAN aktivis reformasi, khususnya di tengah kegiatan mahasiswa berdemo, Soeharto ditampilkan sebagai pucuk pimpinan pemerintahan yang membawa negeri ini ke dalam kubangan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Saat itu tuntutan mahasiswa jelas: Soeharto turun.
Namun, ketika Soeharto benar-benar menurunkan diri, semua orang terkesima. Demo mahasiswa seperti kehilangan tema. Sudah tercapaikah tujuan perjuangan? Akan turun jugakah gerakan reformasi?
Sesudah Soeharto turun, tuntutan reformasi dari kalangan mahasiswa, khususnya yang berkenaan dengan apa yang disebut "reformasi" total, belum bisa dirumuskan dengan tegas. Munculnya Habibie sebagai presiden pengganti menjadi jadwal dari munculnya sebuah dilema. Padahal, jika reformasi memang merupakan gagasan yang perlu diperhatikan, mau tak mau, harus ada kejelasan sikap terhadap perkembangan politik sosial yang sungguh dilematis sekarang ini.
Dalam rangka ini bisa dikatakan bahwa Soeharto sebenarnya memimpin sebuah negara darurat selama lebih dari 32 tahun. Kehidupan sosial-politik diatur seperti dalam naungan undang-undang darurat. Kehidupan semacam ini membuat kerucut kekuasaan semakin meruncing dan berada di satu ruangan, sehingga pemerintah Orde Baru berjalan selama 32 tahun nyaris tanpa pengawasan yang berarti. Semua orang, individual dan kolektif, harus loyal, ditambah dengan teror, tekanan setiap saat akhirnya menciptakan kehidupan sosial-politik yang penuh ketakutan. Pengawasan dianggap sebagai oposisi, atau akan dimasukkan dalam keranjang sampah "partai terlarang" dengan segala "anak-cucunya". Sebagai konsekuensi logis absennya pengawasan, lahirlah korusi-kolusi-nepotisme, yang semakin hari semakin meruyak dan membesar, yang kemudian mengantar kepada krisis nasional.
Bersamaan dengan meruyaknya krisis, hal yang paling meresahkan adalah munculnya fragmentasi sosial pada tingkat kehidupan masyarakat. Energi masyarakat yang diempang oleh alasan stabilitas yang menuntut loyalitas dari atas menyebabkan kemandekan dan proses pembusukan di setiap sektor kehidupan masyarakat. Mereka terus-menerus mengunyah wacana yang didominasi penguasa, serta merta menyerah pada tuntutan absolut dari pucuk kekuasaan dalam bingkai yang semakin sempit, lalu timbullah primordialisme yang nyaris absolut.
Di bawah kekuasaan yang monolitis bagai piramida, di kalangan masyarakat muncul piramida-piramida dengan corak dan watak yang sama dengan piramida yang dibangun oleh kekuasaan Soeharto. Masyarakat tidak terbiasa umtuk saling kontrol dan berbeda pendapat. Inilah tragedi beruntun yang dipupuk oleh kehidupan politik selama kurang lebih 32 tahun terakhir ini.
Bila ditimbang-timbang, kemungkinan timbulnya polarisasi sosial-horizontal inilah yang meresahkan, karena hal itu bisa menjadi penghalang utama bagi upaya reformasi total. Pola dominatif dan pola kepentingan kelompok sudah tercipta di kalangan bawah, mengikuti pola politik yang dikembangkan selama ini, yakni politik sebagai cara untuk memaksa kelompok lain tunduk pada kehendak penguasa. Entah atas nama pembangunan, stabilitas, mayoritas, atau nama hal-hal yang agung dan hal-hal keramat yang lain.
Tuntutan reformasi 1998 terkait dengan dua karakter utama, yaitu bersifat total-menyeluruh dan bersifat damai. Dua nilai ini menggambarkan kesadaran tentang proses yang berkelanjutan dan sekaligus cara yang berkeadaban dan manusiawi. Dalam rangka inilah aspek vertikal dari kehidupan politik dan aspek horizontal dari kehidupan bermasyarakat perlu dibuka dan direformasi tanpa henti. Karena, penyempitan orientasi kelompok-kelompok masyarakat justru akan merupakan lawan yang menghadang gerak pembaruan yang diinginkan oleh kalangan reformasi.
Di pihak lain, apabila reformasi ini jelas dan tegas hendak diperjuangkan dengan cara damai, tidak ada jalan lain yang terbuka kecuali melalui pemilihan umum. Pemilu yang benar-benar jujur dan adil harus didasarkan Undang-Undang Pemilu dan Kepartaian yang benar-benar jujur dan adil pula.
Dengan demikian, agenda utama semua pihak, baik kabinet Habibie, DPR-MPR, para intelektual, dunia kampus, para mahasiswa, maupun para petinggi agama. Lembaga swadaya masyarakat diarahkan untuk merumuskan bersama keinginannya dalam menjamin produk undang-undang yang benar-benar jujur dan adil sehingga bisa ditampung setepat dan secepat mungkin aspirasi rakyat dalam pemilu. Demikian pula reformasi benar-benar total, yang bisa menampung kehendak seluruh rakyat.
Pada tahap ini, proses rekonsilisasi sosial politik, atau dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, akan diwujudkan dalam proses damai pemilu. Kedaruratan dan kemacetan kehidupan politik akan bisa ditembus bersama dengan langkah ini. Saya bersepakat penuh dengan pandangan Mar’ie Muhammad saat wawancara di SCTV, Minggu, 24 Mei 1998. Di samping hal-hal yang lain, kabinet Habibie harus menyatakan dirinya transisional, memberikan penanganan sebaik-baiknya pada persoalan ekonomi bangsa, dan membentuk tim independen untuk secepatnya merancang Undang-Undang Kepartaian dan Undang-Undang Pemilu. Undang-undang tersebut akan segera pula dibicarakan dan diratifikasi oleh DPR dan segera mungkin diundangkan.
Apabila mulai sekarang sampai pemilu mendatang segala masalah itu bisa dirampungkan dalam waktu enam bulan, bangsa ini bisa menunjukkan kemampuannya selaku masyarakat yang tanggap terhadap panggilan sejarah dan bisa memecahkan persoalan sulit yang dihadapi. Dan, kenyataan ini akan dicatat oleh sejarah sebagai sebuah pencapaian sosial-politik yang luar biasa penting. Hal-hal lain yang mendesak akan diputuskan oleh kabinet hasil pemilu mendatang.
Akan halnya yang teramat penting adalah agar kontrol dan pengawasan oleh masyarakat terhadap kekuasaan politik bisa dijalankan secara efektif. Dan bersamaan dengan itu, rekonsiliasi pada tingkat kehidupan sosial bisa dijalankan dengan efektif pula. Dengan demikian, bagi segala bentuk ketegangan sosial selalu tersedia jalan keluar karena ada kemampuan untuk melakukan konsensus bersama. Alhasil, gerak reformasi yang total dan damai ini akan bermuara kepada rancangan dan pelaksanaan pemilu yang benar-benar jujur dan adil, insya Allah akan dilangsungkan dalam tahun 1998 ini juga.
Majalah D&R, 06 Juni 1998
*) Direktur Interfidei, Yogyakarta
http://www.tempo.co.id/
DI KALANGAN aktivis reformasi, khususnya di tengah kegiatan mahasiswa berdemo, Soeharto ditampilkan sebagai pucuk pimpinan pemerintahan yang membawa negeri ini ke dalam kubangan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Saat itu tuntutan mahasiswa jelas: Soeharto turun.
Namun, ketika Soeharto benar-benar menurunkan diri, semua orang terkesima. Demo mahasiswa seperti kehilangan tema. Sudah tercapaikah tujuan perjuangan? Akan turun jugakah gerakan reformasi?
Sesudah Soeharto turun, tuntutan reformasi dari kalangan mahasiswa, khususnya yang berkenaan dengan apa yang disebut "reformasi" total, belum bisa dirumuskan dengan tegas. Munculnya Habibie sebagai presiden pengganti menjadi jadwal dari munculnya sebuah dilema. Padahal, jika reformasi memang merupakan gagasan yang perlu diperhatikan, mau tak mau, harus ada kejelasan sikap terhadap perkembangan politik sosial yang sungguh dilematis sekarang ini.
Dalam rangka ini bisa dikatakan bahwa Soeharto sebenarnya memimpin sebuah negara darurat selama lebih dari 32 tahun. Kehidupan sosial-politik diatur seperti dalam naungan undang-undang darurat. Kehidupan semacam ini membuat kerucut kekuasaan semakin meruncing dan berada di satu ruangan, sehingga pemerintah Orde Baru berjalan selama 32 tahun nyaris tanpa pengawasan yang berarti. Semua orang, individual dan kolektif, harus loyal, ditambah dengan teror, tekanan setiap saat akhirnya menciptakan kehidupan sosial-politik yang penuh ketakutan. Pengawasan dianggap sebagai oposisi, atau akan dimasukkan dalam keranjang sampah "partai terlarang" dengan segala "anak-cucunya". Sebagai konsekuensi logis absennya pengawasan, lahirlah korusi-kolusi-nepotisme, yang semakin hari semakin meruyak dan membesar, yang kemudian mengantar kepada krisis nasional.
Bersamaan dengan meruyaknya krisis, hal yang paling meresahkan adalah munculnya fragmentasi sosial pada tingkat kehidupan masyarakat. Energi masyarakat yang diempang oleh alasan stabilitas yang menuntut loyalitas dari atas menyebabkan kemandekan dan proses pembusukan di setiap sektor kehidupan masyarakat. Mereka terus-menerus mengunyah wacana yang didominasi penguasa, serta merta menyerah pada tuntutan absolut dari pucuk kekuasaan dalam bingkai yang semakin sempit, lalu timbullah primordialisme yang nyaris absolut.
Di bawah kekuasaan yang monolitis bagai piramida, di kalangan masyarakat muncul piramida-piramida dengan corak dan watak yang sama dengan piramida yang dibangun oleh kekuasaan Soeharto. Masyarakat tidak terbiasa umtuk saling kontrol dan berbeda pendapat. Inilah tragedi beruntun yang dipupuk oleh kehidupan politik selama kurang lebih 32 tahun terakhir ini.
Bila ditimbang-timbang, kemungkinan timbulnya polarisasi sosial-horizontal inilah yang meresahkan, karena hal itu bisa menjadi penghalang utama bagi upaya reformasi total. Pola dominatif dan pola kepentingan kelompok sudah tercipta di kalangan bawah, mengikuti pola politik yang dikembangkan selama ini, yakni politik sebagai cara untuk memaksa kelompok lain tunduk pada kehendak penguasa. Entah atas nama pembangunan, stabilitas, mayoritas, atau nama hal-hal yang agung dan hal-hal keramat yang lain.
Tuntutan reformasi 1998 terkait dengan dua karakter utama, yaitu bersifat total-menyeluruh dan bersifat damai. Dua nilai ini menggambarkan kesadaran tentang proses yang berkelanjutan dan sekaligus cara yang berkeadaban dan manusiawi. Dalam rangka inilah aspek vertikal dari kehidupan politik dan aspek horizontal dari kehidupan bermasyarakat perlu dibuka dan direformasi tanpa henti. Karena, penyempitan orientasi kelompok-kelompok masyarakat justru akan merupakan lawan yang menghadang gerak pembaruan yang diinginkan oleh kalangan reformasi.
Di pihak lain, apabila reformasi ini jelas dan tegas hendak diperjuangkan dengan cara damai, tidak ada jalan lain yang terbuka kecuali melalui pemilihan umum. Pemilu yang benar-benar jujur dan adil harus didasarkan Undang-Undang Pemilu dan Kepartaian yang benar-benar jujur dan adil pula.
Dengan demikian, agenda utama semua pihak, baik kabinet Habibie, DPR-MPR, para intelektual, dunia kampus, para mahasiswa, maupun para petinggi agama. Lembaga swadaya masyarakat diarahkan untuk merumuskan bersama keinginannya dalam menjamin produk undang-undang yang benar-benar jujur dan adil sehingga bisa ditampung setepat dan secepat mungkin aspirasi rakyat dalam pemilu. Demikian pula reformasi benar-benar total, yang bisa menampung kehendak seluruh rakyat.
Pada tahap ini, proses rekonsilisasi sosial politik, atau dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, akan diwujudkan dalam proses damai pemilu. Kedaruratan dan kemacetan kehidupan politik akan bisa ditembus bersama dengan langkah ini. Saya bersepakat penuh dengan pandangan Mar’ie Muhammad saat wawancara di SCTV, Minggu, 24 Mei 1998. Di samping hal-hal yang lain, kabinet Habibie harus menyatakan dirinya transisional, memberikan penanganan sebaik-baiknya pada persoalan ekonomi bangsa, dan membentuk tim independen untuk secepatnya merancang Undang-Undang Kepartaian dan Undang-Undang Pemilu. Undang-undang tersebut akan segera pula dibicarakan dan diratifikasi oleh DPR dan segera mungkin diundangkan.
Apabila mulai sekarang sampai pemilu mendatang segala masalah itu bisa dirampungkan dalam waktu enam bulan, bangsa ini bisa menunjukkan kemampuannya selaku masyarakat yang tanggap terhadap panggilan sejarah dan bisa memecahkan persoalan sulit yang dihadapi. Dan, kenyataan ini akan dicatat oleh sejarah sebagai sebuah pencapaian sosial-politik yang luar biasa penting. Hal-hal lain yang mendesak akan diputuskan oleh kabinet hasil pemilu mendatang.
Akan halnya yang teramat penting adalah agar kontrol dan pengawasan oleh masyarakat terhadap kekuasaan politik bisa dijalankan secara efektif. Dan bersamaan dengan itu, rekonsiliasi pada tingkat kehidupan sosial bisa dijalankan dengan efektif pula. Dengan demikian, bagi segala bentuk ketegangan sosial selalu tersedia jalan keluar karena ada kemampuan untuk melakukan konsensus bersama. Alhasil, gerak reformasi yang total dan damai ini akan bermuara kepada rancangan dan pelaksanaan pemilu yang benar-benar jujur dan adil, insya Allah akan dilangsungkan dalam tahun 1998 ini juga.
Majalah D&R, 06 Juni 1998
*) Direktur Interfidei, Yogyakarta
Dr Th Sumartana Meninggal
http://www.suaramerdeka.com/Sabtu, 25 Januari 2003
Direktur Yayasan Dian Interfidei Yogyakarta Dr Th Sumartana, Jumat kemarin pukul 18.15 meninggal di Rumah Sakit Ciawi Jawa Barat. Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu terkena serangan penyakit jantung di sela-sela acara strategic planning yang diselenggarakan oleh Demos, lembaga baru yang diketuainya.
''Saat itu sedang jam istirahat, tiba-tiba Pak Tana kejang-kejang dan lemas. Kami bawa ke RS Ciawi, tapi jiwanya tidak tertolong,'' ujar Lalang dari Demos.
Almarhum lahir di Banjarnegara 15 Oktober 1944. Menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Theologi Jakarta 1972. Jenjang S3 di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda 1991. Pada 1972-1975 menjadi redaktur teologi di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, 1975-1982 sebagai peneliti di Litbang Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Jakarta, 1991-1995 menjadi staf pengajar di Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Dia aktif di beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM), antara lain Forsa Salatiga, Interfidei Yogyakarta, dan Demos Jakarta. Th Sumartana sangat giat mengampanyekan pemahaman pluralis dan perdamaian pada setiap kesempatan.
Kepada Direktur Forsa J Mardimin, dia pernah berpesan, bila meninggal makamnya tidak perlu dinisan (dikijing), tapi di atas makam cukup diletakkan batu besar bertuliskan ''Th Sumartana Dikubur di Sini''.
Sesuai dengan rencana, Sabtu pagi ini jenazah tiba di rumah duka Jalan Merdeka Utara Nomor 6 kompleks Bumi Soka Indah Salatiga. Malam nanti diadakan kebaktian. Minggu besok pukul 09.00 dimakamkan di Pakem, Yogyakarta. ''Pak Tana sudah membeli satu makam di Yogya, waktu itu Rp 1 juta,'' tutur Mardimin.
Almarhum meninggalkan seorang istri, Retnowinarti, dan tiga anak yaitu Tinur, Adi, dan Nugi.(C19-16j)
Direktur Yayasan Dian Interfidei Yogyakarta Dr Th Sumartana, Jumat kemarin pukul 18.15 meninggal di Rumah Sakit Ciawi Jawa Barat. Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu terkena serangan penyakit jantung di sela-sela acara strategic planning yang diselenggarakan oleh Demos, lembaga baru yang diketuainya.
''Saat itu sedang jam istirahat, tiba-tiba Pak Tana kejang-kejang dan lemas. Kami bawa ke RS Ciawi, tapi jiwanya tidak tertolong,'' ujar Lalang dari Demos.
Almarhum lahir di Banjarnegara 15 Oktober 1944. Menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Theologi Jakarta 1972. Jenjang S3 di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda 1991. Pada 1972-1975 menjadi redaktur teologi di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, 1975-1982 sebagai peneliti di Litbang Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Jakarta, 1991-1995 menjadi staf pengajar di Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Dia aktif di beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM), antara lain Forsa Salatiga, Interfidei Yogyakarta, dan Demos Jakarta. Th Sumartana sangat giat mengampanyekan pemahaman pluralis dan perdamaian pada setiap kesempatan.
Kepada Direktur Forsa J Mardimin, dia pernah berpesan, bila meninggal makamnya tidak perlu dinisan (dikijing), tapi di atas makam cukup diletakkan batu besar bertuliskan ''Th Sumartana Dikubur di Sini''.
Sesuai dengan rencana, Sabtu pagi ini jenazah tiba di rumah duka Jalan Merdeka Utara Nomor 6 kompleks Bumi Soka Indah Salatiga. Malam nanti diadakan kebaktian. Minggu besok pukul 09.00 dimakamkan di Pakem, Yogyakarta. ''Pak Tana sudah membeli satu makam di Yogya, waktu itu Rp 1 juta,'' tutur Mardimin.
Almarhum meninggalkan seorang istri, Retnowinarti, dan tiga anak yaitu Tinur, Adi, dan Nugi.(C19-16j)
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito