Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Bedah buku di PDS HB Jassin "Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia"


 
Bedah buku Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia akan diadakan di PDS HB Jassin pada April depan dengan pembahas Sihar Ramses Simatupang dan moderator Bp. Eka Chris Eka Budianta, lalu pemantik diskusinya Sunu Wasono bersama Sofyan RH. Zaid. Mari ramaikan dan jangan ketinggalan untuk order bukunya. LIMITED STOKS.

Kamis, 10 Maret 2011

Sastra, di Antara Gender dan Spiritualitas

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Jakarta — Itulah kenangan seorang gadis cilik. Gadis cilik itu kini telah menjadi dewasa dan menulis berbagai kisah dalam bentuk novel. Dia bernama Camilla Gibb. Sastrawan yang tinggal di Toronto, Kanada ini menemukan dunia lain lewat dialog lisan. Sebuah pandangan yang dia dapat lewat komunikasi.

Gadis kecil itu menerima tamunya – seorang ibu yang menjual roti. Roti yang enak dan hangat. Lalu gadis kecil itu bertanya asal si ibu. Si ibu menjawab, “Saya dari Palestina?” Apa itu Palestina? Perempuan itu pun menjawab padanya, “Semacam sebuah negara…”

“Sastra merupakan cara untuk membuka dunia. Bukan stereotipe. Sastra dapat menjadi alat untuk menunjukkan rasa kasih sayang dari perbedaan. Sastra dapat mengubah persepsi terhadap orang lain,” tutur Gibb.

Dari negeri yang berdwibahasa itu–Inggris dan Prancis, Gibb telah menerbitkan tiga novel, yaitu Petty Details, Mouthing the Words dan Sweetness in the Belly. Novelnya yang terakhir berkisah tentang perjuangan perempuan muslim bernama Lily dalam mempertahankan keyakinan dan komitmennya kepada keluarga saat menghadapi tantangan pribadi, sosial maupun politik yang memberatkan.

Novel ini juga dilatari kekaguman Gibb pada ketabahan kaum perempuan di tengah peperangan di berbagai tempat, yang menurutnya merupakan simpati yang dia ungkapkan tanpa melihat perbedaan latar dan warna kulit.

“Rasa itu merupakan gerakan yang menjadikan jarak, perang dan perbatasan bukan lagi permasalahan,” ujarnya.

Gibb kemudian menyebutkan dua persen penduduk Kanada secara keseluruhan adalah muslim, di antara Hindu, Yahudi dan banyak lagi hal yang memperlihatkan keberagaman. Gibb menyebutkan hal tersebut jangan dilihat dari angka statistik, tapi hal yang memperlihatkan bahwa ada kondisi multikultural di masa lampau di negara ini.

Jauh sebelum 11 September – yang sempat mempengaruhi pandangan timur dan barat – Gibb ingin mengetahui apa yang terjadi di dunia. Dia belajar tentang antropologi, belajar tentang dunia Arab di Kairo, apa itu Islam sebenarnya terutama di tengah negara Islam yang lebih besar.

Eksistensi Perempuan

Dialog bertajuk “Perempuan dan Agama dalam Sastra—Pengalaman Indonesia dan Kanada” mengundang Camilla Gibb sebagai pembicara. Selain Camilla, acara yang berlangsung Kamis (22/3), dua perempuan sastrawan Indonesia, Ayu Utama dan Abidah El Khalieqy, pengamat Maman S Mahayana dan moderator Gadis Arivia.

“Tapi apa yang terjadi, perempuan masih saja dikurung secara normatif sebagai penunggu rumah, pengasuh anak dan ‘tenghak-tenghuk’ di depan tungku api. Bergelut dengan suara riuh dan sumpah serapah pasar,” ujar Abidah yang menulis novel Geni Jora dan menjadi pemenang Sayembara Penulisan Novel 2003 Dewan Kesenian Jakarta.

Dalam makalahnya, Abidah menulis: Siapakah sesungguhnya yang mempengaruhi realitas demikian? Dalam konteks Islam, Fiqh-lah yang paling berpengaruh. Karena fiqh sesungguhnya merupakan respon atas realitas persoalan sosial, yang konsekuensinya ketika persoalan sosial mengalami perubahan, maka fiqh juga harus berubah. Sebagaimana dalam tokoh Annisa dalam novel Perempuan Berkalung Sorban, perempuan akan terus bertanya, seperti Tuhan akan menanyakan kelak, atas alasan apa eksistensi perempuan dikubur hidup-hidup. Dosa apa yang telah mereka perbuat.

Bagi Ayu Utami, persoalan dasar yang menjadi penyebab penulis perempuan lebih sulit menggarap tema universal (seperti tema sosial, politik dan ekonomi dalam karya sastra, red), ketimbang masalah yang partikular karena penyebabnya adalah perempuan nyaris selalu spesifik dan lantaran persoalan perempuan terletak pada pengalaman tubuhnya. “Bukan pengalaman ide-ide belaka. Sebab, tubuh perempuan adalah medan penguasaan masyarakatnya. Hubungan kekuasaan ini bukan hanya berbasis gender, tetapi bisa berlatar kolonialisme,” kata penulis novel Saman dan Larung ini.

Sedangkan Maman S Mahayana kemudian menjelaskan isi makalahnya yang bertema “Mencari Perempuan dan Agama dalam Novel Indonesia”. Maman menyebutkan bahwa dalam sejarah, kolonialisme Belanda, Jepang, Orde Baru tegangan politik ikut mempengaruhi wacana agama dan perempuan dalam kesusastraan Indonesia. Dia kemudian menyebutkan beberapa jalur dalam kesusastraan Indonesia—seperti juga bahasa Indonesia—yang melalui tiga jalur perkembangan.

Pertama melalui penerbit swasta terutama yang dikelola oleh golongan peranakan Tionghoa belakangan golongan pribumi misalnya Hamka dan Helmi Yunan Nasution yang menerbitkan Pedoman Masjarakat (1935) juga Dian Rakyat yang didirikan oleh Sutan Takdir Alisjahbana yang menerbitkan novel Belenggu karya Armijn Pane. Jalur kedua, melalui media massa, surat kabar dan majalah yang pada media massa terbitan abad ke-20 yang melahirkan beberapa penulis wanita. Ketiga, melalui penerbitan Balai Pustaka yang merupakan bagian dari lembaga kolonial Belanda.

Pada Balai Pustaka muncul tiga pengarang wanita yaitu Paulus Supit, Selasih (nama lainnya Sariamin, Seleguri) juga pengarang Hamidah (Fatimah Hasan Delais). Tokoh utama perempuan selain pada karya Paulus Supit, kemudian terkesan jatuh sebagai pecundang. Selain itu, Maman menyebut banyak nama penulis perempuan lainnya hingga dekade terakhir dengan karakter dan fenomenanya. Seperti terhadap problem masalah di dalam sastra masa kini, yang dia tanggapi secara subjektif lebih kepada gender dan bukan lagi persoalan kualitas. “Mengapa persoalan gender yang dijadikan isu dan bukan peningkatan kualitas,” papar Maman.***

Selasa, 07 September 2010

Geliat “Kritis” Cerpenis Malaysia

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Aku saksikan wajahnya yang dipajang berbagai koran, biasanya di halaman sosial; atau aku melihat sekilas mobil suaminya yang diparkir di luar salah satu hotel – mobil dengan pelat bernomor satu digit (orang kaya jadah) yang mudah diingat. Namun, aku tak pernah bertemu Alissa….

Barisan kalimat di atas adalah bagian dari salah satu cerpen “Yang Terkasih”, dari antologi cerpen berjudul Pahlawan dan Cerita Lainnya karya Karim Raslan, sastrawan Malaysia yang melaunching bukunya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta (4/9).

Dialihbahasakan oleh Naning Pranoto dan A Rahman Abu, halaman 5 dari buku terbitan Yayasan Obor Indonesia ini hanyalah salah satu ungkapan emotif dari tokoh di cerpen-cerpennya terhadap strafikasi sosial di negeri jiran. Cerpen “Yang Terkasih” mengungkapkan kisah tokoh utama bernama Shukor, seorang wartawan yang ditelepon mantan pacarnya saat menjadi korban penganiayaan suaminya yang tak lain seorang bangsawan Melayu.

Hal ini kemudian menjadi fokus dari seorang pengamat, Maman S Mahayana, yang diundang sebagai salah satu pembicara mendampingi Nirwan Arsuka. “Saya yakin, buku ini bermasalah kalau diterbitkan di Malaysia,” ujar Maman S Mahayana, salah satu pembicara yang juga pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Didampingi oleh Nirwan Arsuka, Maman kemudian membeberkan karya Karim Raslan pada cerpen “Ayo ke Timur”. Cerpen ini mengangkat tentang dunia pelacuran di Sabah, yang mengisahkan tentang tokoh utama yang memesan gadis di sebuah hotel.

“Tentang perdagangan manusia. Benar atau tidak, itu soal lain,” ujar Maman, sambil mengungkapkan sebuah nama penulis Malaysia, yang juga sempat mendapatkan teguran karena mengambil kilas sensualitas sekali pun lewat metafora “arungi bahtera, gelombang samudera”.

Antologi ini memperlihakan gaya bertutur yang terkadang agak sensual. Karya Karim, dikomentari Maman, merepresentasikan gaya hidup bangsawan Melayu yang seolah berkutat mempertahankan keluhuran narasi. Di balik itu, banyak rambu dan tabu ditabraknya. Meski tidak dapat menghindari dari hakikatnya yang fiksionalitas, antologi cerpen ini lebih menyerupai potret keluarga bangsawan Melayu yang tidak semuanya baik-baik saja. Selalu ada penyimpangan. Dikatakan oleh Maman, dua sisi itulah yang yang kebetulan dihadirkan dalam ke-8 cerpen dalam antologi ini.

Alur dan Humor
Di luar hal itu, kehadiran penulis satu rumpun – bahasa Melayu – tetap menarik perhatian buat khazanah sastra kita. Seperti kehadiran beberapa tokoh penyair di tanah jiran – nama seperti Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri hingga karya Pramoedya Ananta Toer yang diminati di banyak negeri – juga telah banyak dikenal. Karya beberapa penulis bahkan kerap diterbitkan di Majalah Dewan Sastera yang dikenal cukup berwibawa.

Tentang karya Karim Raslan, Nirwan Arsuka mengomentari bahwa pengacara, kolumnis dan penulis buku lulusan Cambridge University kelahiran 1963 itu, mempunyai keunikan justru pada alurnya.
Nirwan Arsuka mengatakan bahwa ada dua bentuk pengungkapan dalam alur. Dari gelap ke terang sebagaimana dilakukan oleh karya kanak-kanak atau karya religius. Lalu, karya yang mulanya terang dan pada akhirnya kisah tersingkap secara mengejutkan. “Karim tak menghadirkan peristiwa awal secara dramatis, hadir di suasna yang tenang dan tanpa ketegangan. Lalu cerita bergerak pelan lalu terungkap dan nampak semuanya di bagian belakang,” ujarnya.

Dia juga mengomentari bahwa bentuk semacam ini – termasuk kejenakaannya – nampak pada karya-karya Idrus (Kumpulan karya Idrus: “Dari Ave Maria, ke Jalan Lain ke Roma”, red). Penulis-penulis Indonesia, kata Nirwan, sangat konsentrasi pada bentuk dan pola namun sering melupakan kekuatan plot. “Misalnya pada Eka Kurniawan dan AS. Laksana yang jenaka tapi bukan dalam peristiwa dan pengalaman antropologis melainkan mengarah pada faktor bahasa. Kejenakaan hanya dibentuk dari bahasa imaji baru yang terasa lucu, misalnya ‘kencing yang terbahak-bahak’,” papar Nirwan.

Pendapat ini akhirnya dipatahkan oleh Maman dengan mengungkapkan banyak nama penulis Indonesia lainnya yang cukup jenaka di dalam kisah. Nama-nama sastrawan seperti Mahbub Djunaedi, Firman Muntaco, SM Ardan dan Ajip Rosidi, adalah segelintir sastrawan yang ada di dalam referensinya.

Minggu, 26 Oktober 2008

Ssst, Nama Gadis Itu Kriti ?

Sihar Ramses Simatupang
Sinar Harapan,04/27/2003
http://www.sriti.com/

Sosok tubuh kecil dan ringkih itu berusaha berpacu cepat di atas sadel sepedanya menembus jalan berbatu dan sempit di tegalan sawah. Gadis kecil nakal, walau di beberapa tungkai lutut kaki dan tangannya telah terlihat bekas kecil luka bagai koin logam, tetap saja dia naik sepeda di atas permukaan tanah yang sempit untuk ukuran ban sepeda.

Kriti Puspita namanya, bocah perempuan kecil yang lincah. Sepedanya terus saja meliuk di antara rambutnya yang panjang bergoyang diterpa angin. Embusan angin semakin kencang, meniup roknya yang panjang hingga hampir ke mata kaki. Angin mempermainkan poninya. Hatinya terbuai dan mengayuh sepeda lebih kencang. Tampak kawan-kawan karibnya yang lelaki duduk di pinggiran tegalan sawah. Sebagian ada yang berdiri sambil memukul-mukul kakinya ke lubang tanah, seekor yuyu dia lihat jadi rebutan para anak lelaki.

Wajahnya masih polos. Khas lugu gadis desa yang mulai merekah. Dadanya belum lagi ranum namun setiap pemuda sudah mulai melirik dan berani memastikan kalau dia kelak menjadi seorang wanita dengan buah dada yang padat dan berisi. Wajahnya tidak bisa dikatakan terlalu cantik, namun tetap menarik. Hidungnya agak pesek tapi matanya bersih. Bicaranya lancar.

Dia sering bermain di kolam dan empang sepanjang tegalan sawah Lamongan. Dia juga sering mandi di bak tepat di belakang rumah neneknya. Waktu itu musim panas, sehingga kolam kering dan tidak bisa untuk mandi dan membersihkan diri di pinggirannya. Apalagi kalau mandi di empang atau kolam, biar orang desa kulitnya tetap merasa gatal kalau kena air empang kecoklatan. Di musim kemarau, airnya sama sekali tak dapat curahan hujan atau kiriman dari sungai sehingga air jadi sedikit dan bercampur lumpur dan tanah.

Di bak mandi nenek, si gadis kecil yang entah kenapa merasa jadi nakal itu mandi bersama kawan-kawannya. Mereka tertawa dan baru berhenti ketika terdengar teriakan nenek yang memanggil namanya. Teman-temannya tertawa, ekspresi wajahnya menyiratkan ketakutan, namun suaranya tetap terkekeh sekadar untuk tidak menyurutkan kebahagiaan yang lain.

Dia bukan anak dari keluarga terpandang. Di desa ini memang tak banyak orang yang terpandang. Desa yang kerap mengirim anak-anaknya sekolah di kota besar sehingga hampir tak berpikir lagi untuk menumpuk harta dan membeli perabotan rumah. Televisi masih jarang, satu televisi cukup untuk mengundang beberapa tetangga setiap malam.

Dia memang bersekolah di tempat ini. Bahkan, hingga sekolah lanjutan atas pun dia masih berada di desa ini. Walau tubuhnya tidak begitu tinggi, pendek seperti gadis Lamongan lainnya, orangtuanya cukup bangga dengan perangainya yang masih bisa diatur dan tak banyak neko-neko.

Saat masih sekolah lanjutan pertama dia menolak saat diajak orangtuanya untuk menari. Katanya, tubuhnya kaku dan dia tak mau harus dipaksa. Untuk mengaji, dia bisa saja karena memang orangtuanya sejak kecil mengharuskannya ikut Pondok TPA yang ada di setiap desa. Selain itu, dia juga orang yang suka menulis diary?orang kadang menyebut tulisannya itu puisi sehinga dia merasa juga punya potensi untuk menjadi penyair.

Di tempat ini, dia sempat terkagum-kagum pada para santri yang mengaji. Suara-suara mengaji terdengar di sepanjang surau dan pondokan, setiap dia mengayuh sepedanya dan melintas di sana.
# # #

Tapi entah mengapa, dia tak pernah tertarik pada para lelaki yang ada di tempat itu. Ya, dia sudah remaja. Ketika dia katakan dia tak suka pada para lelaki yang berada di asrama itu, itu wajar saja. Hanya, bagaimanapun dia harus jujur kalau dia pun sebenarnya juga punya sosok ideal yang dia sukai.

Entah kenapa juga bila dia malah menyukai seorang lelaki yang berkuliah. Usianya saja jelas jauh lebih tua ketimbang dirinya. Mahasiswa semester lima sebuah universitas di Lamongan.
Sayangnya walau lelaki itu jadi cinta pertamanya, si pemuda yang juga tak disangkanya ikut dalam grup kesenian itu, tidak merasa dicintai olehnya sama sekali. Akh, lelaki selalu pura-pura. Bisa jadi itu praduga perempuan yang pertama kali dialami sepanjang hidupnya. Nyatanya, dia kini memang perempuan. Kata ibu, kalau seseorang sudah haid berarti dia sudah akil baliq.
?Karena sudah akil baliq kamu harus jaga dirimu baik-baik ya, Nduk. Sikapmu harus njawani. Jangan macem-macem,? ujar ibunya.

Kala itu dia hanya mengangguk, sambil balas memandangi Nyi yang ikut-ikutan nimbrung, ingin tahu apa yang dibicarakan kedua anak-beranak, para penerusnya itu. Nyi memang orang yang kuat, setua ini masih saja bekerja dengan rajin dan tepat waktu. Menyapu halaman dengan sapu lidi waktu matahari belum muncul. Tangannya yang berkeriput senang merasakan dinginnya embun subuh. Suara azan baru saja selesai menghilang di telinga.

Nyi sudah salat subuh, tidurnya saja lebih cepat dari anak dan cucunya. Dia sangat rapih kalau hendak berangkat tidur, seprai, selimut dan sarung bantal harus dicuci rutin beberapa kali seminggu. Kalau ada debu sedikit, dia segera mengambil sapu lidi yang khusus untuk menepiskannya. Kata Nyi, agar tidurnya bisa tenang.

Si cucu cepat-cepat membantu kalau dilihat neneknya sudah kerepotan di atas tempat tidur. Kadang, si cucu sekadar membantu dengan satu tangan agar kelihatan dia ikut sibuk, dan batinnya agak tenang tak membiarkan neneknya yang tua bekerja sendirian. Biar sudah begitu, si nenek yang mengerti akal bulus cucunya, segera menarik tubuh yang kini mulai menampakkan kemolekannya itu ke pangkuannya. Tawa cucunya yang terpingkal-pingkal segera terdengar saat tangannya menggelitiki pinggang dan leher si cucu dengan tangannya yang tua dan keriput. Ibu dan bapak hanya tersenyum saja melihat ulah nenek dan cucu itu.
?Dasar kamu itu, tolong nenekmu saja pakai malas-malasan. Terus saja, Nyi. Biar dia kapok,? kata Ibu, pura-pura marah.

Bapak hanya tersenyum saja sambil menyalakan rokoknya. Dia masih saja duduk di beranda dengan rokok lintingan sambil menatap pohon nangka dan jambu yang sebentar lagi berbuah. Walau begitu, suara di belakang punggungnya selalu dijawabnya dengan raut wajah yang berubah.

Rumah kecil ini memang memberikan kesempatan setiap penghuninya untuk bisa akrab. Dari beranda, pintu depan yang berjendela dua, ruang tamu dan pintu tempat tidur hingga ke dapur terlihat lowong dan memberikan celah buat setiap orang untuk berdialog dari depan ke belakang. Itulah yang kerap diingat si gadis pada kelebihan dari rumahnya itu. Di depannya ada pelataran, lebih tepatnya halaman kebun yang cukup luas, pohon nangka, pohon jambu dan ada beberapa pohon yang tak begitu diketahuinya dengan jelas bertumbuhan di tanah beberapa meter itu. Di samping ada kandang ayam peliharaan bapak.
# # #

Cinta pertamanya itu memang cinta tak berbalas. Lelaki itu orang yang pendiam dan acuh tak acuh?barangkali dia menganggap dirinya cuma anak kecil. Namun sebagai kakak, lelaki itu perhatian sekali padanya. Gayanya yang luwes baru akan kaku bila dia balas memandang ?si kakak? dengan tatapan mata yang berbeda.

Nama lelaki yang selisih delapan tahun dari dirinya itu Ihromi. Orangnya pintar, kuliahnya saja di IAIN. Melihat penampilan fisiknya pasti setiap orang akan menyukai dia. Tubuhnya tegap, dadanya bidang. Kesan alim terlihat dari rambutnya yang selalu dipotong pendek, geraknya yang tak sembrono dan terburu-buru, dan memakai kopiah setiap senja. Mulai dari maghrib hingga masuk kembali ke kamar di pondokannya, kopiah itu baru dilepas.

Namun, tak ada yang menyangka kisah romantis itu harus lepas karena ketidakpedulian lelaki yang ternyata menganggap dirinya sebagai adik. Aku tahu banyak tentang Kriti, sejak mulai cinta pertamanya itu hingga perjalanan dia selepas SMA dan bekerja di kota besar. Aku sering mengamatinya baik dari dekat atau jauh. Bahkan hingga Kriti bekerja di sebuah pabrik di areal industri kota Surabaya.
# # #

?Tahu tentang mas Ihromi, Mas Bayu??
?Tahu, Dik Kriti,? kataku sambil menatapnya.
?Ingat kan??
?Ingat, lelaki yang kamu ingat hingga sekarang itu kan? Ke mana dia sekarang, Dik Kriti??
?Sudah tiada, Mas. Kabarnya kecelakaan?
?Kenapa??
?Katanya saat menyeberangkan istrinya yang lagi hamil. Waktu itu dia mau check-up kali,? ujar Kriti. Lalu kami pun berbincang tentang kisah masa kecil dan kenangan tentang lelaki baik itu. Aku cemburu, tapi bagiku kenangan adalah kenangan. Dia bukan lagi berupa masa depan. Semuanya jelas berbeda.
# # #

Begitulah perjalanan cinta seorang gadis kecil. Bayu namaku. Akulah teman Kriti di masa kecil itu. Kriti Puspita, perempuan ini akhirnya memang semakin dewasa. Semakin mekar, seindah namanya. Seringkali kita menganggap kalau wajah dan tubuh indah, maka semuanya akan indah, sampai namanya pun harus indah. Atau kalau nama indah, maka wajahnya akan indah juga.

Begitu juga dengan Kriti saya kira, di balik nama indahnya, orang akan menuntut si Kriti itu harus cantik. Tapi? ya syukur, kebetulan wajahnya lumayan juga. Namun, di balik kesempurnaan nama dan wajahnya itu, dia tetap saja bukan apa-apa. Dia tetap Kriti, gadis polos yang bersahaja.

Kriti memang wanita biasa?ups, jangan sebut wanita, akan lebih halus kalau dibilang perempuan?ya betul, Kriti memang seorang perempuan biasa. Dia kini menjadi buruh di sebuah pabrik. Tidak beda dengan yang lainnya, bau keringatnya pun pastilah seperti buruh kalau pulang kerja. Amis, apek, keringatnya berleleran sebelum mandi sore.

Dari Ihromi, dia sempat juga mencintai lelaki lain yang dinas di dekat tempatnya bekerja. Tapi dia segera menjauhi lelaki itu karena kecewa si lelaki ternyata bukan tipe orang yang setia. Jadilah kenangan pahit kedua. Baru pada kekasih lainnya, aku terpilih juga sebagai orang yang beruntung. Bermula dari curhat, aku menyatakan perasaanku, yang ternyata tak ditolaknya. Aku begitu bahagia.

Buruh ketemu tukang parkir, ya kloplah. Apalagi yang dipikirkan kecuali kerja dan pacaran begitu kami selesai bertugas, pada shift sore. Di antara gerobak sampah, di pinggir kali, di sela alunan lagu dangdut, di tengah riuh cekikikan para buruh yang juga berasal dari berbagai kabupaten di Jawa Timur, kami telah punya dunia sendiri.

Sekali-sekali, nonton bioskop yang paling murah harganya di kota ini. Yah, agar uang buat nasi dan tabungan jadi tak terkurangi. Kadang malah Kriti ketemu aku dengan pakaian kerjanya, tidak pakai parfum atau bedak. Polos, ngobrol ngalor-ngidul, saling menatap, saling melirik.

Tapi dia tetap menarik bagiku. Menarik, itu saja cukup. Tak perlu cantik-cantik sebab wajahku pun sama sekali tidak ganteng. Memang dia cuma buruh dan aku tukang parkir. Waktu kerjanya delapan jam tiap hari dengan berganti shift setiap minggu. Kerjaku di antara terik matahari siang.
Namanya saja buruh, Kriti juga tak punya jadwal cuti kalau dia mens, atau barangkali cuti khusus melahirkan dan cuti punya anak.

Tidak ada itu. Mana mau sih perusahaan ngomong soal cuti-cutian. Lha wong yang diomongkan cuma untung melulu. Mana punya perhatian buat Kriti, seorang buruh yang kerap diperas seperti tenaga sapi.
Tapi syukurlah, Kriti tidak pernah minta waktu buat cuti melahirkan, atau cuti punya anak, atau sekadar cuti mens. Sebab dia masih lajang, masih gadis atau setidaknya dia masih sendirian.

Aku tahu semuanya, sebab si Kriti itu kini akan menjadi calon istriku juga. Akh, Kriti. Setiap menatap dia, pasti akan kembali terbentang kenanganku tentang gadis kecil, yang bersepeda, main air di bak mandi atau suara dia mengaji di sebuah TPA Lamongan. Kenangan masa kecilnya itu seringkali juga menyentuh kerinduanku untuk pulang. Menjenguk makam emak dan bapakku. Menjenguk calon mertua lelaki yang sebatang kara. Ayah Kriti sendirian di sana, sebab mas Kriti banyak yang merantau dan Kriti anak paling bungsu. Sedangkan Ibu Kriti sudah tiga tahun tiada. Nyi, nenek Kriti yang lembut itu, bahkan telah berpulang sejak kami bocah.

Rencanaku, kalau menikah di depan penghulu nanti, aku akan mengontrak rumah di pinggir kali dekat pabrik Kriti itu. Bapaknya akan kami boyong. Tak usah dulu pikir anaklah. Krisis ekonomi ini, dosa rasanya membiarkan bayi hidup ke dunia tanpa nafkah yang kecukupan.

Surabaya, 1997

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito