Bagian pertama dari dua tulisan
Ahmadun Yosi Herfanda
_Republika, 30 April 2006
Poetry begins in delight And ends in wisdom.
Tesis singkat penyair AS, Robert Frost, di atas rasanya sangat pas untuk memulai pembicaraan tentang sajak-sajak karya 50 perempuan dalam Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia (APPPI) 2005 (Risalah Badai dan Ksi, 2005) yang dieditori oleh Mathori A Elwa.
Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 Desember 2011
Kegairahan Perempuan dan Problem Estetika Sastra [2]
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan
Ahmadun Yosi Herfanda
__Republika, 07 Mei 2006
Di tengah mencairnya ‘orientasi estetik’ (orientasi kesastraan) dalam berpuisi dewasa ini muncul sangat banyak penulis perempuan. Mereka memaraki komunitas-komunitas penggemar puisi, sejak komunitas saiber sampai penerbitan buku. Mereka bahkan menjadi motor utama komunitas-komunitas tersebut. Komunitas Bunga Matahari, misalnya, ditokohi Gratiagusti Chananya Rompas (Anya). Cybersastra.net dikomandani Medy Loekito. Sedangkan Risalah Badai — penerbit antologi-natologi puisi khusus karya perempuan — dimotori oleh Amdai Muth Siregar.
Ahmadun Yosi Herfanda
__Republika, 07 Mei 2006
Di tengah mencairnya ‘orientasi estetik’ (orientasi kesastraan) dalam berpuisi dewasa ini muncul sangat banyak penulis perempuan. Mereka memaraki komunitas-komunitas penggemar puisi, sejak komunitas saiber sampai penerbitan buku. Mereka bahkan menjadi motor utama komunitas-komunitas tersebut. Komunitas Bunga Matahari, misalnya, ditokohi Gratiagusti Chananya Rompas (Anya). Cybersastra.net dikomandani Medy Loekito. Sedangkan Risalah Badai — penerbit antologi-natologi puisi khusus karya perempuan — dimotori oleh Amdai Muth Siregar.
Kamis, 14 Oktober 2010
Pemikiran Kritis Arief Budiman
Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika
Masalah-masalah kebebasan, negara dan pembangunan, adalah tiga tema besar yang banyak dikaji Arief Budiman dalam esei-eseinya yang tersebar di berbagai media massa. Dengan tema besar itu, intelektual tersebut merambah ke persoalan politik, sosial, ekonomi, seni dan budaya. Dengan tema-tema itu pula ia tumbuh dan dikenal sebagai pemikir interdisipliner, dengan pandangan-pandangan yang kritis dan tajam.
Buku yang dieditori oleh Luthfi Assyaukanie dan Stanley ini memuat tidak kurang dari 103 esei Arief Budiman yang pernah dimuat di berbagai media massa. Terbagi dalam 10 bab, buku ini diawali dengan tulisan-tulisan yang menyorot masalah demokrasi dan pembangunan. Bab-bab selanjutnya berbicara tentang negara, kekuasaan dan masyarakat, politik dan isu sosial, HAM dan kebebasan, kebudayaan, seni dan sastra, film dan media massa, pemuda dan mahasiswa, psikologi, serta tokoh dan pengalaman luar negeri.
Menyimak semua tulisan yang dimuat, buku ini terasa merangkum semua pemikiran Arief Budiman tentang bidang-bidang yang sempat dirambah dan diperhatikannya. Salah satu yang menarik adalah pemikiran Arief tentang kebebasan, yang diartikulasikan pada tulisan-tulisan tentang seni, sastra dan budaya. Bagi pencetus ide ’sastra kontekstual’ ini, kebebasan harus berorientasi pada kemajuan dan perbaikan.
Cakupan tema dan topiknya yang luas dan beragam menjadikan buku ini pantas dibaca oleh kaum terpelajar dari kalangan manapun, serta cocok dijadikan referensi berbagai disiplin ilmu dan bidang kehidupan. ahmadun yh
Judul buku: Kebebasan, Negara, Pembangunan
Penulis: Dr Arief Budiman
Penerbit: Pustaka Alvabet dan Freedom Institute, Jakarta
Tebal: 446 halaman
Cetakan: Pertama, Agustus 2006
Panduan Penting Penelitian Sosial
Selama ini, pendekatan-pendekatan penting penelitian sosial cenderung dilihat dan diterapkan secara terpisah. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif, misalnya, ditempatkan sebagai kubu yang berlainan. Masing-masing pendekatan memiliki pengikut yang berpegang pada acuan paradigma rigid yang hampir tak dapat dirunut secara rasional. Buku ini mencoba menyatukan kedua kubu tersebut, dengan alur berpikir setara yang secara simultan mendekatkan keduanya.
Terpapar dalam lima bab, buku ini menekankan uraian-urainnya pada pendekatan kualitatif. Dibuka dengan pengantar tentang penelitian kualitatif, disusul dengan metodologi-metodologi penelitian kualitatif, paradigma ilmu pengetahuan, kedudukan paradigma dalam penelitian kualitatif, metode-metode penelitian kualitatif, dan diakhiri dengan bab tentang masa depan penelitian kualitatif.
Berbeda dengan pendekatan kuantitatif, menurut Agus Salim, pendekatan kualitatif belum banyak dipelajari oleh para ilmuwan Indonesia. Salah satu sebabnya adalah kurangnya buku pemandu berbahasa Indonesia. Buku ini hadir sebagai respons atas kebutuhan yang dirasakan makin mendesak tersebut.
Tentu, buku ini dapat menjadi referensi dan acuan penting bagi para periset Indonesia, khususnya para peneliti pemula dan mahasiswa, baik tingkat sarjana, master, maupun doktoral. ahmadun yh
Judul buku: Teori dan Paradigma Penelitian Sosial
Penulis: Dr Agus Salim MS
Penerbit: Tiara Wacana, Yogyakarta
Tebal: 302 halaman
Cetakan: Pertama, Agustus 2006
http://www.infoanda.com/Republika
Masalah-masalah kebebasan, negara dan pembangunan, adalah tiga tema besar yang banyak dikaji Arief Budiman dalam esei-eseinya yang tersebar di berbagai media massa. Dengan tema besar itu, intelektual tersebut merambah ke persoalan politik, sosial, ekonomi, seni dan budaya. Dengan tema-tema itu pula ia tumbuh dan dikenal sebagai pemikir interdisipliner, dengan pandangan-pandangan yang kritis dan tajam.
Buku yang dieditori oleh Luthfi Assyaukanie dan Stanley ini memuat tidak kurang dari 103 esei Arief Budiman yang pernah dimuat di berbagai media massa. Terbagi dalam 10 bab, buku ini diawali dengan tulisan-tulisan yang menyorot masalah demokrasi dan pembangunan. Bab-bab selanjutnya berbicara tentang negara, kekuasaan dan masyarakat, politik dan isu sosial, HAM dan kebebasan, kebudayaan, seni dan sastra, film dan media massa, pemuda dan mahasiswa, psikologi, serta tokoh dan pengalaman luar negeri.
Menyimak semua tulisan yang dimuat, buku ini terasa merangkum semua pemikiran Arief Budiman tentang bidang-bidang yang sempat dirambah dan diperhatikannya. Salah satu yang menarik adalah pemikiran Arief tentang kebebasan, yang diartikulasikan pada tulisan-tulisan tentang seni, sastra dan budaya. Bagi pencetus ide ’sastra kontekstual’ ini, kebebasan harus berorientasi pada kemajuan dan perbaikan.
Cakupan tema dan topiknya yang luas dan beragam menjadikan buku ini pantas dibaca oleh kaum terpelajar dari kalangan manapun, serta cocok dijadikan referensi berbagai disiplin ilmu dan bidang kehidupan. ahmadun yh
Judul buku: Kebebasan, Negara, Pembangunan
Penulis: Dr Arief Budiman
Penerbit: Pustaka Alvabet dan Freedom Institute, Jakarta
Tebal: 446 halaman
Cetakan: Pertama, Agustus 2006
Panduan Penting Penelitian Sosial
Selama ini, pendekatan-pendekatan penting penelitian sosial cenderung dilihat dan diterapkan secara terpisah. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif, misalnya, ditempatkan sebagai kubu yang berlainan. Masing-masing pendekatan memiliki pengikut yang berpegang pada acuan paradigma rigid yang hampir tak dapat dirunut secara rasional. Buku ini mencoba menyatukan kedua kubu tersebut, dengan alur berpikir setara yang secara simultan mendekatkan keduanya.
Terpapar dalam lima bab, buku ini menekankan uraian-urainnya pada pendekatan kualitatif. Dibuka dengan pengantar tentang penelitian kualitatif, disusul dengan metodologi-metodologi penelitian kualitatif, paradigma ilmu pengetahuan, kedudukan paradigma dalam penelitian kualitatif, metode-metode penelitian kualitatif, dan diakhiri dengan bab tentang masa depan penelitian kualitatif.
Berbeda dengan pendekatan kuantitatif, menurut Agus Salim, pendekatan kualitatif belum banyak dipelajari oleh para ilmuwan Indonesia. Salah satu sebabnya adalah kurangnya buku pemandu berbahasa Indonesia. Buku ini hadir sebagai respons atas kebutuhan yang dirasakan makin mendesak tersebut.
Tentu, buku ini dapat menjadi referensi dan acuan penting bagi para periset Indonesia, khususnya para peneliti pemula dan mahasiswa, baik tingkat sarjana, master, maupun doktoral. ahmadun yh
Judul buku: Teori dan Paradigma Penelitian Sosial
Penulis: Dr Agus Salim MS
Penerbit: Tiara Wacana, Yogyakarta
Tebal: 302 halaman
Cetakan: Pertama, Agustus 2006
Jumat, 17 September 2010
Pekan Presiden Penyair: Mengapresiasi Sang Maestro
Ahmadun Yosi Herfanda
http://arsip.net/Republika
Penyair Sutardji Calzoum Bachri adalah maestro perpuisian Indonesia. Sapardi Djoko Damono menempatkannya sebagai 'mata kiri' -- untuk menyandingkannya dengan Cahiril Anwar yang disebut sebagai 'mata kanan' -- kesusatraan Indonesia.
Tetapi, Sutardji, dengan nada guyon pernah menyebut dirinya sebagai 'presiden penyair Indonesia'. Dan, sebutan itu melekat hingga sekarang. "Ketika Sutardji menyebut dirinya 'presiden penyair' sebenarnya hanya guyon, tapi julukan itu populer hingga sekarang," kata Rendra, suatu hari.
Namun, siapapun mengakui Sutardji sebagai penyair besar. Meskipun kebesarannya tidak dapat diperbandingkan dengan Rendra atau Taufiq Ismail -- karena masing-masing memiliki keunggulan sendiri -- kritikus sastra Indonesia terkini, Maman S Mahayana, meniilai Sutardji lebih besar dibanding Chairil Anwar.
"Sutardji dapat dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting perjalanan sejarah sastra Indonesia," kata Maman dalam dialog sastra di Kafe Penus, komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (5/7) lalu.
Menurut Maman, banyak aspek menarik pada puisi-puisi Sutardji, yang tidak akan habis-habisnya untuk dikaji, baik semangat pemberontakan, pencapaian estetik, maupun semangatnya untuk kembali ke puitika Timur, yakni puitika mantra -- tradisi sastra lisan Melayu lama. "Selain puitika mantra yang membebaskan kata dari beban makna, puisi-puisi Sutardji juga dipengaruhi tasawuf," katanya.
Dalam diskusi sastra pra-Pekan Presiden Penyair itu Maman menguraikan banyak aspek menarik dari karya dan pemikiran Sutardji, yang menurutnya akan dikaji tuntas dalam sesi seminar internasional -- salah satu mata acara Pekan Presiden Penyair yang akan berlangsung di TIM pada 14-19 Juli 2007.
Menjelang diskusi, ketua panitia iven internasional itu, Asrizal Nur, mengemukakan alasannya mengapa memilih penyair kelahiran Riau itu untuk dirayakan secara cukup besar-besaran, bukan Rendra, misalnya. "Acara besar untuk Rendra sudah sering diadakan orang. Sedangkan untuk Sutardji belum. Padahal, peran Sutradji sangat penting bagi sastra Indonesia, dan banyak sisi kreatif yang layak diteladani," katanya.
Menurut Asrizal, Pekan Presiden Penyair diadakan sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-66 Sutardji. Berbagai mata acara disiapkan untuk memeriahkan perhelatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu, yang diketuainya itu. "Kita adakan semeriah mungkin agar dampak apresiatifnya benar-benar terasa bagi masyarakat sastra Indonesia," katanya.
Berbagai mata acara yang akan mewarnai Pekan Presiden Penyair ini, antara lain lomba baca puisi Piala Sutardji Calzoum Bachri, seminar internasional tentang karya-karya Sutardji, talkshow Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru, panggung apresiasi, pameran foto, bazaar buku, serta ditutup dengan malam puncak dan pidato kebudayaan Sutardji Calzoum Bachri (SCB).
Seminar internasional, tambah Asrizal, akan menghadirkan pakar sastra dari dalam dan luar negeri, membahas fenomena kepengarangan Sutardji dari berbagai sisi dalam tiga sesi pembicaraan, yaitu Penerimaan Warga Sastra Dunia terhadap Karya SCB, Estetika Dalam Karya SCB, dan Posisi SCB dalam Peta Sastra.
Pembicara yang direncanakan tampil adalah Prof Dr Koh Young-Hun (Korea), Dr Haji Hashim Bin Haji Abd Hamid (Brunei Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato' Kemala (Malaysia), Dr Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Maria Emelia Irmler (Portugal), dan Harry Aveling (Australia), serta para pakar sastra dari dalam negeri seperti Dr Abdul Hadi WM, Taufik Ikram Jamil, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Donny Gahral Adian.
"Seminar akan diadakan pada Kamis, 19 Juli 2007, di Galeri Cipta II TIM. Diharapkan akan dihadiri para sastrawan, seniman, pengamat sastra, kritikus dan akademisi sastra, peneliti sastra, aktivis komunitas sastra, siswa, mahasiswa, guru, pelajar, serta masyarakat umum," tambah Maman, penanggung jawab seminar.
Sedangkan lomba baca puisi Piala Sutardji akan diadakan pada 14-16 Juli di halaman parkir TIM. Lomba dibagi ke dalam dua babak, penyisihan dan final. "Lomba bersifat terbuka dan lintas kategori. Persyaratan utamanya, peserta minimal berusia 15 tahun," tambah Asrizal. "Pendaftaran peserta akan dilayani sampai tanggal 12 Juli 2007," tambahnya.
Selama dua malam berturut-turut, 17-18 Juli, pukul 19.30, akan digelar Malam Apresiasi Karya Sutardji Calzoum Bachri di Teater Kecil TIM. Pada acara tersebut akan tampil beberapa seniman dan pejabat pemerintah untuk membacakan karya-karya Sutardji.
Pada 17 Juli, menurut Asrizal, akan tampil Jose Rizal Manua, Slamet Sukirnanto, Hamzad Rangkuti, Ahmadun Yosi Herfanda, Agus R Sarjono, Rukmi Wisnu Wardhani, Asrizal Nur, Shantined, Musikalisasi Local Ambeien, Amien Wangsitalaja, Diah Hadaning, Wanda Leopalda, Badai Muth Siregar, Rara Gendis, Hudan Hidayat, Remy Novaris DM, Chavcay Syaefullah, Wowok Hesti Prabowo, dan Musikalisasi Puisi Saung Pangulinan.
Panggung apresiasi, pada 18 Juli, akan dimeriahkan penampilan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan MS Ka'ban, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiyaksa Dault, beberapa pejabat pemerintah dari daerah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
"Selain itu, juga akan tampil sejumlah penyair dan tokoh masyarakat, seperti KHA Mustofa Bisri, D Zawawi Imran, Fahrunnas MA Jabbar, Tan Lioe Ie, Acep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, serta musikalisasi puisi Sanggar Matahari dan Komunitas Budaya Nusantara Tanjung Pinang," tambah Asrizal.
Malam puncak acara, 19 Juli 2007, pukul 19.00 WIB, akan diisi pidato kebudayaan oleh Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri, pemutaran film dokumenter dan pentas musik SCB, serta beberapa penampilan seni pendukung lainnya.
Sutardji, yang sempat hadir pada diskusi sastra di Kafe Penus, menyambut gembira apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya-karyanya. Ia berharap, acara ini akan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat dan penghargaan pemerintah terhadap sastra. "Mudah-mudahan acara seperti ini juga dapat diselenggarakan untuk penyair lain," katanya.
Talk Show dan Dua Bintang Tamu
Dua bintang tamu yang masih belia, Abdurahman Faiz (penyair cilik) dan Niken Larasati (siswa SMA, juara menulis cerpen nasional) akan ikut memeriahkan talk show Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru.
Acara menarik ini akan digelar pada pada 18 Juli, pukul 09.00-12.00 WIB di Teater Kecil TIM. "Acara ini akan mempertemukan dan mengakrabkan Sutardji dengan para siswa dan guru SMA," kata Asrizal Nur.
Karena itu, tambahnya, acara ini bersifat terbuka bagi para guru dan siswa dari daerah mana pun. "Para guru dan siswa yang berminat dapat mendaftarkan diri sesegera mungkin dengan mengontak panitia di 021-7752144. Pendaftaran akan ditutup jika jumlah peserta telah memenuhi kuota," tambahnya.
http://arsip.net/Republika
Penyair Sutardji Calzoum Bachri adalah maestro perpuisian Indonesia. Sapardi Djoko Damono menempatkannya sebagai 'mata kiri' -- untuk menyandingkannya dengan Cahiril Anwar yang disebut sebagai 'mata kanan' -- kesusatraan Indonesia.
Tetapi, Sutardji, dengan nada guyon pernah menyebut dirinya sebagai 'presiden penyair Indonesia'. Dan, sebutan itu melekat hingga sekarang. "Ketika Sutardji menyebut dirinya 'presiden penyair' sebenarnya hanya guyon, tapi julukan itu populer hingga sekarang," kata Rendra, suatu hari.
Namun, siapapun mengakui Sutardji sebagai penyair besar. Meskipun kebesarannya tidak dapat diperbandingkan dengan Rendra atau Taufiq Ismail -- karena masing-masing memiliki keunggulan sendiri -- kritikus sastra Indonesia terkini, Maman S Mahayana, meniilai Sutardji lebih besar dibanding Chairil Anwar.
"Sutardji dapat dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting perjalanan sejarah sastra Indonesia," kata Maman dalam dialog sastra di Kafe Penus, komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (5/7) lalu.
Menurut Maman, banyak aspek menarik pada puisi-puisi Sutardji, yang tidak akan habis-habisnya untuk dikaji, baik semangat pemberontakan, pencapaian estetik, maupun semangatnya untuk kembali ke puitika Timur, yakni puitika mantra -- tradisi sastra lisan Melayu lama. "Selain puitika mantra yang membebaskan kata dari beban makna, puisi-puisi Sutardji juga dipengaruhi tasawuf," katanya.
Dalam diskusi sastra pra-Pekan Presiden Penyair itu Maman menguraikan banyak aspek menarik dari karya dan pemikiran Sutardji, yang menurutnya akan dikaji tuntas dalam sesi seminar internasional -- salah satu mata acara Pekan Presiden Penyair yang akan berlangsung di TIM pada 14-19 Juli 2007.
Menjelang diskusi, ketua panitia iven internasional itu, Asrizal Nur, mengemukakan alasannya mengapa memilih penyair kelahiran Riau itu untuk dirayakan secara cukup besar-besaran, bukan Rendra, misalnya. "Acara besar untuk Rendra sudah sering diadakan orang. Sedangkan untuk Sutardji belum. Padahal, peran Sutradji sangat penting bagi sastra Indonesia, dan banyak sisi kreatif yang layak diteladani," katanya.
Menurut Asrizal, Pekan Presiden Penyair diadakan sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-66 Sutardji. Berbagai mata acara disiapkan untuk memeriahkan perhelatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu, yang diketuainya itu. "Kita adakan semeriah mungkin agar dampak apresiatifnya benar-benar terasa bagi masyarakat sastra Indonesia," katanya.
Berbagai mata acara yang akan mewarnai Pekan Presiden Penyair ini, antara lain lomba baca puisi Piala Sutardji Calzoum Bachri, seminar internasional tentang karya-karya Sutardji, talkshow Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru, panggung apresiasi, pameran foto, bazaar buku, serta ditutup dengan malam puncak dan pidato kebudayaan Sutardji Calzoum Bachri (SCB).
Seminar internasional, tambah Asrizal, akan menghadirkan pakar sastra dari dalam dan luar negeri, membahas fenomena kepengarangan Sutardji dari berbagai sisi dalam tiga sesi pembicaraan, yaitu Penerimaan Warga Sastra Dunia terhadap Karya SCB, Estetika Dalam Karya SCB, dan Posisi SCB dalam Peta Sastra.
Pembicara yang direncanakan tampil adalah Prof Dr Koh Young-Hun (Korea), Dr Haji Hashim Bin Haji Abd Hamid (Brunei Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato' Kemala (Malaysia), Dr Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Maria Emelia Irmler (Portugal), dan Harry Aveling (Australia), serta para pakar sastra dari dalam negeri seperti Dr Abdul Hadi WM, Taufik Ikram Jamil, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Donny Gahral Adian.
"Seminar akan diadakan pada Kamis, 19 Juli 2007, di Galeri Cipta II TIM. Diharapkan akan dihadiri para sastrawan, seniman, pengamat sastra, kritikus dan akademisi sastra, peneliti sastra, aktivis komunitas sastra, siswa, mahasiswa, guru, pelajar, serta masyarakat umum," tambah Maman, penanggung jawab seminar.
Sedangkan lomba baca puisi Piala Sutardji akan diadakan pada 14-16 Juli di halaman parkir TIM. Lomba dibagi ke dalam dua babak, penyisihan dan final. "Lomba bersifat terbuka dan lintas kategori. Persyaratan utamanya, peserta minimal berusia 15 tahun," tambah Asrizal. "Pendaftaran peserta akan dilayani sampai tanggal 12 Juli 2007," tambahnya.
Selama dua malam berturut-turut, 17-18 Juli, pukul 19.30, akan digelar Malam Apresiasi Karya Sutardji Calzoum Bachri di Teater Kecil TIM. Pada acara tersebut akan tampil beberapa seniman dan pejabat pemerintah untuk membacakan karya-karya Sutardji.
Pada 17 Juli, menurut Asrizal, akan tampil Jose Rizal Manua, Slamet Sukirnanto, Hamzad Rangkuti, Ahmadun Yosi Herfanda, Agus R Sarjono, Rukmi Wisnu Wardhani, Asrizal Nur, Shantined, Musikalisasi Local Ambeien, Amien Wangsitalaja, Diah Hadaning, Wanda Leopalda, Badai Muth Siregar, Rara Gendis, Hudan Hidayat, Remy Novaris DM, Chavcay Syaefullah, Wowok Hesti Prabowo, dan Musikalisasi Puisi Saung Pangulinan.
Panggung apresiasi, pada 18 Juli, akan dimeriahkan penampilan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan MS Ka'ban, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiyaksa Dault, beberapa pejabat pemerintah dari daerah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
"Selain itu, juga akan tampil sejumlah penyair dan tokoh masyarakat, seperti KHA Mustofa Bisri, D Zawawi Imran, Fahrunnas MA Jabbar, Tan Lioe Ie, Acep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, serta musikalisasi puisi Sanggar Matahari dan Komunitas Budaya Nusantara Tanjung Pinang," tambah Asrizal.
Malam puncak acara, 19 Juli 2007, pukul 19.00 WIB, akan diisi pidato kebudayaan oleh Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri, pemutaran film dokumenter dan pentas musik SCB, serta beberapa penampilan seni pendukung lainnya.
Sutardji, yang sempat hadir pada diskusi sastra di Kafe Penus, menyambut gembira apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya-karyanya. Ia berharap, acara ini akan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat dan penghargaan pemerintah terhadap sastra. "Mudah-mudahan acara seperti ini juga dapat diselenggarakan untuk penyair lain," katanya.
Talk Show dan Dua Bintang Tamu
Dua bintang tamu yang masih belia, Abdurahman Faiz (penyair cilik) dan Niken Larasati (siswa SMA, juara menulis cerpen nasional) akan ikut memeriahkan talk show Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru.
Acara menarik ini akan digelar pada pada 18 Juli, pukul 09.00-12.00 WIB di Teater Kecil TIM. "Acara ini akan mempertemukan dan mengakrabkan Sutardji dengan para siswa dan guru SMA," kata Asrizal Nur.
Karena itu, tambahnya, acara ini bersifat terbuka bagi para guru dan siswa dari daerah mana pun. "Para guru dan siswa yang berminat dapat mendaftarkan diri sesegera mungkin dengan mengontak panitia di 021-7752144. Pendaftaran akan ditutup jika jumlah peserta telah memenuhi kuota," tambahnya.
Sabtu, 24 Juli 2010
Kreativitas Guru, Tumpuan Pengajaran Sastra
Ahmadun Yosi Herfanda*
http://www.infoanda.com/Republika
Saya selalu merasa bahagia tiap kali membaca karya-karya siswa SMU, puisi maupun cerpen, yang dimuat di suplemen Kaki Langit Majalah Horison. Meskipun di satu sisi, suplemen tersebut kerap dianggap memerosotkan wibawa majalah tersebut, tetapi di sisi lain suplemen tersebut cukup menggairahkan budaya menulis kreatif di kalangan siswa. Suplemen tersebut juga menjadi bukti makin banyaknya siswa SMU yang kini gemar dan mahir menulis karya sastra.
Jika dikaitkan dengan persoalan pengajaran sastra, yang selama ini sering dikeluhkan, karya-karya siswa SMU pada suplemen tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pelaksanaan pengajaran sastra di SMU saat ini sebenarnya sudah tidak seburuk yang diduga. Banyak sekolah maupun guru sastra yang sudah memberikan perhatian lebih bagi peningkatan apresiasi sastra para siswanya. Mereka tidak hanya diberi pengatahuan dan sejarah sastra, juga tidak hanya diajak mengapresiasi karya-karya sastra, tapi juga diajak untuk menulis karya sastra. Setidaknya, melalui kegiatan ekstra kurikuler dan sanggar-sanggar sastra di sekolah.
Upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbanyak porsi pengajaran sastra guna meningkatkan apresiasi sastra para siswa juga terlihat pada buku-buku pegangan pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang disusun berdasarkan prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi. Misalnya saja, adalah buku-buku yang disusun oleh Diyan Kurniawati dkk, yakni Bahasa Indonesia (Intan Pariwara), serta yang disusun oleh Tika Hatikah dan Mulyanis, Membina Komptensi Berbahasa dan Sastra Indonesia (Grafindo Media Pratama). Aspek kebahasaan menempati porsi yang sama dengan aspek apresiasi sastra. Aspek-aspek lainnya adalah mendengarkan, berbicara, dan menulis. Jadi, semua aspek penguasaan bahasa Indonesia mendapatkan porsi yang seimbang.
Selain itu, contoh-contoh karya sastra yang menjadi obyek pelajaran juga karya-karya sastra terkini, tanpa meninggalkan karya-karya sastra lama. Peristiwa-peristiwa kesenian yang diambil sebagai bahan bacaan juga peristiwa-peristiwa terkini. Pada buku Bahasa Indonesia 1A, misalnya, siswa dikenalkan pada karya-karya Kirjomulyo, Leon Agusta, Ramadhan KH, Rendra, Slamet Sukirnanto, Asrul Sani, Toto Sudarto Bachtiar, Abdul Hadi WM, Dali S Naga, Taufiq Ismail, Hartoyo Andangjaya, Popi Sopiati, Marianne Katoppo, YB Mangunwijaya, NH Dini, Marga T, Wildan Yatim, Bakdi Sumanto, A Rumadi, Sugiarta Sriwibawa, Ahmad Tohari, Ahmadun Yosi Herfanda, Pandir Kelana, Amal Hamzah, Prijo Basuki, Ajib Hamzah, Motinggo Boesye, Iman Budhi Santosa, Hidayat Muhammad, dan Amir Hamzah.
Pada buku yang sama, jilid 1B, siswa dikenalkan pada karya-karya Arisel Ba, Emha Ainun Najib, Djisno Zero, Bejo, Nugroho Notosusanto, JE Siahaan, Seno Gumira Ajidarma, Sanusi Pane, Max Arifin, Putu Wijaya, A Rumadi, Sopocles, Rendra, Bakdi Soemanto, Iwan Simatupang, Har, Sutan Takdir Alisyahbana, YB Mangunwijaya, Mochtar Lubis, Gerson Poyk, Budi Darma, Ayu Utami, NH Dini, Ahmad Tohari, Hamka, Amijn Pane, Idrus, Adjib Hamzah, YB Sudarmanto, dan Marah Rusli.
Sementara, pada buku Membina Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia jilid 2A (kelas II SMU semester 1) siswa dikenalkan pada karya Sena Gumira Ajidarma, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Chairil Anwar, Putu Wijaya, Bakdi Sumanto, Puntung CM Pudjadi, Rendra, sampai Hikayat Sri Rama. Pada buku yang sama, jilid 2B (untuk kelas II SMU semester 2), siswa dikenalkan pada karya-karya Motinggo Boesye, Harris Effendi Tahar, Robert Fontaine, Ernest Hemingway, dan Abdul Muis. Dan, pada jilid 3B (untuk kelas III SMU Semester 2), siswa dikenalkan sejak pada karya-karya Umar Kayam, Jamil Suherman, Budi Darma, Gregorio Lopez Y Fuentes, Muhammad Ali, Motinggo Boesye, B Sularto, Mochtar Lubis, Suwarsih Djojopuspito, sampai Raja Ali Haji.
Melihat nama-nama sastrawan yang karya-karyanya dikutip pada buku-buku tersebut, sebenarnya sudah tidak pas lagi tudingan sementara pengamat bahwa pengajaran sastra di SMU berhenti hanya sampai Angkatan 66. Sebab, banyak nama-nama sastrawan kontemporer, bahkan terkini, yang karya-karyanya diperkenalkan kepada siswa melalui buku-buku tersebut. Tulisan-tulisan non-sastra yang dikutip juga diambil dari surat-surat kabar dan majalah yang berisi peristiwa-peristiwa terkini. Bahkan, mungkin terlalu inginnya menyesuaikan materi pengajaran sastra dengan perkembangan (sastra) terkini, ada nama-nama yang belum dikenal yang karyanya ikut dikutip, seperti Bejo (cerita lucu), Har (legenda Banyuwangi), Ariesel Ba (puisi), Popi Supiati (puisi) dan Djisno Zero (cerpen, dikutip dari Jawa Pos).
Dengan begitu, materi (buku) yang tersedia untuk pengajaran sastra di SMU sebenarnya sudah sedemikian maju dan sesuai dengan perkembangan sastra dan zaman terkini. Guru tinggal mendorong siswa untuk membaca karya-karya lain dari pengarang-pengarang pilihan yang karya-karyanya dikutip tersebut. Jika mau dicari kekurangannya, barangkali adalah masih kurangnya kesempatan bagi siswa untuk diajak berlatih menulis karya sastra.
Berdasarkan buku-buku di atas, pada aspek ketrampilan menulis, siswa hanya diajak menulis karya sastra pada kelas I semester 2 (jilid 1B), yakni menulis cerpen, puisi dan naskah drama. Inipun, barangkali, hanya diberikan pada satu dua kali pertemuan saja. Pada kenyataannya, di banyak SMU, pelajaran kesenian memang hanya diberikan pada siswa kelas I saja. Karena itu, masih diperlukan kegiatan ekstra kurikuler kesenian, termasuk seni sastra, untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat-bakat seni (sastra) siswa.
Melihat materi dan porsi pengajaran sastra yang saat ini sudah cukup bagus, dan sesuai dengan perkembangan sastra terkini, sebenarnya ada peluang besar bagi guru bahasa/sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra. Tetapi, karena pengajaran sastra masih hanya bagian dari pengajaran bahasa, pelaksanaan pengajaran sastra untuk mencapai tujuan tersebut masih sulit untuk berlangsung maksimal. Apalagi, jika upaya guru untuk itu terhalang oleh minimnya buku sastra di perpustakaan sekolah.
Prestasi siswa dalam pengajaran sastra yang tidak muncul sebagai nilai (rapor) tersendiri, juga tidak dapat mendorong mereka untuk bersungguh-sungguh dalam pelajaran sastra. Cukup logis jika siswa merasa tidak perlu bersungguh-sungguh dalam menguasai pelajaran apresiasi sastra, karena prestasi mereka dalam pelajaran ini hanya akan menyumbang tidak lebih dari 20 persen nilai bahasa Indonesia pada rapornya — persentase nilai lainnya disumbang oleh aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan kebahasaan. Apalagi, jika minat mereka pada bidang sastra memang rendah.
Pada akhirnya, efektif tidaknya pengajaran sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra, bertumpu pada kreativitas guru bahasanya. Jika sang guru bahasa tidak memiliki minat terhadap sastra, serta apresiasi dan pengetahuan sastranya rendah, maka sulit diharap akan melaksanakan pengajaran sastra secara maksimal, kreatif dan efektif. Dan, jika kebanyakan guru bahasa Indonesia berkarakter demikian, maka pengajaran sastra akan tetap menuai kegagalan. Kenyataannya, rata-rata lulusan SMU saat ini memiliki minat baca dan apresiasi sastra yang sangat rendah.
Karena itu, seperti berkali-kali dikemukakan oleh Taufiq Ismail, sangat penting untuk mengusulkan kembali agar pelajaran sastra dipisahkan saja dari pelajaran bahasa Indonesia. Rasanya, inilah cara paling tepat agar pengajaran sastra di SMU dapat berlangsung secara efektif dan maksimal.
Namun, sembari menunggu kebijakan ‘pemisahan pengajaran sastra dari pengajaran bahasa’ yang belum jelas akan disetujui atau tidak alangkah baiknya jika para guru bahasa dapat memaksimalkan pengajaran sastra di sekolah masing-masing. Meskipun hanya menyumbang 20 persen pada nilai bahasa Indonesia, pengajaran sastra perlu diefektifkan dengan menekankan pada apresiasi.
Langkah sederhananya adalah mendorong atau mewajibkan siswa lebih banyak membaca karya sastra, seperti memberi penugasan pada siswa untuk membuat resensi karya sastra sebanyak mungkin. Sementara, siswa-siswa yang berbakat menulis kreatif dapat dipupuk melalui kegiatan ekstra kurikuler di luar jam pelajaran resmi.
Tradisi kompetitif dengan memberi penghargaan pada karya siswa, baik resensi sastra maupun karya kreatif (cerpen dan puisi), dapat juga dipilih untuk merangsang budaya baca dan tulis siswa. Dalam hal ini, kreativitas guru dalam mengajarkan sastra menjadi tumpuan utama. Hanya dengan kesungguhan, kecintaan, dan kreativitas guru, kualitas pengajaran sastra di sekolah dapat didongkrak secepatnya, agar apresiasi sastra kaum terpelajar kita bisa ditingkatkan lagi.
*) Sastrawan dan wartawan Republika.
http://www.infoanda.com/Republika
Saya selalu merasa bahagia tiap kali membaca karya-karya siswa SMU, puisi maupun cerpen, yang dimuat di suplemen Kaki Langit Majalah Horison. Meskipun di satu sisi, suplemen tersebut kerap dianggap memerosotkan wibawa majalah tersebut, tetapi di sisi lain suplemen tersebut cukup menggairahkan budaya menulis kreatif di kalangan siswa. Suplemen tersebut juga menjadi bukti makin banyaknya siswa SMU yang kini gemar dan mahir menulis karya sastra.
Jika dikaitkan dengan persoalan pengajaran sastra, yang selama ini sering dikeluhkan, karya-karya siswa SMU pada suplemen tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pelaksanaan pengajaran sastra di SMU saat ini sebenarnya sudah tidak seburuk yang diduga. Banyak sekolah maupun guru sastra yang sudah memberikan perhatian lebih bagi peningkatan apresiasi sastra para siswanya. Mereka tidak hanya diberi pengatahuan dan sejarah sastra, juga tidak hanya diajak mengapresiasi karya-karya sastra, tapi juga diajak untuk menulis karya sastra. Setidaknya, melalui kegiatan ekstra kurikuler dan sanggar-sanggar sastra di sekolah.
Upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbanyak porsi pengajaran sastra guna meningkatkan apresiasi sastra para siswa juga terlihat pada buku-buku pegangan pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang disusun berdasarkan prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi. Misalnya saja, adalah buku-buku yang disusun oleh Diyan Kurniawati dkk, yakni Bahasa Indonesia (Intan Pariwara), serta yang disusun oleh Tika Hatikah dan Mulyanis, Membina Komptensi Berbahasa dan Sastra Indonesia (Grafindo Media Pratama). Aspek kebahasaan menempati porsi yang sama dengan aspek apresiasi sastra. Aspek-aspek lainnya adalah mendengarkan, berbicara, dan menulis. Jadi, semua aspek penguasaan bahasa Indonesia mendapatkan porsi yang seimbang.
Selain itu, contoh-contoh karya sastra yang menjadi obyek pelajaran juga karya-karya sastra terkini, tanpa meninggalkan karya-karya sastra lama. Peristiwa-peristiwa kesenian yang diambil sebagai bahan bacaan juga peristiwa-peristiwa terkini. Pada buku Bahasa Indonesia 1A, misalnya, siswa dikenalkan pada karya-karya Kirjomulyo, Leon Agusta, Ramadhan KH, Rendra, Slamet Sukirnanto, Asrul Sani, Toto Sudarto Bachtiar, Abdul Hadi WM, Dali S Naga, Taufiq Ismail, Hartoyo Andangjaya, Popi Sopiati, Marianne Katoppo, YB Mangunwijaya, NH Dini, Marga T, Wildan Yatim, Bakdi Sumanto, A Rumadi, Sugiarta Sriwibawa, Ahmad Tohari, Ahmadun Yosi Herfanda, Pandir Kelana, Amal Hamzah, Prijo Basuki, Ajib Hamzah, Motinggo Boesye, Iman Budhi Santosa, Hidayat Muhammad, dan Amir Hamzah.
Pada buku yang sama, jilid 1B, siswa dikenalkan pada karya-karya Arisel Ba, Emha Ainun Najib, Djisno Zero, Bejo, Nugroho Notosusanto, JE Siahaan, Seno Gumira Ajidarma, Sanusi Pane, Max Arifin, Putu Wijaya, A Rumadi, Sopocles, Rendra, Bakdi Soemanto, Iwan Simatupang, Har, Sutan Takdir Alisyahbana, YB Mangunwijaya, Mochtar Lubis, Gerson Poyk, Budi Darma, Ayu Utami, NH Dini, Ahmad Tohari, Hamka, Amijn Pane, Idrus, Adjib Hamzah, YB Sudarmanto, dan Marah Rusli.
Sementara, pada buku Membina Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia jilid 2A (kelas II SMU semester 1) siswa dikenalkan pada karya Sena Gumira Ajidarma, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Chairil Anwar, Putu Wijaya, Bakdi Sumanto, Puntung CM Pudjadi, Rendra, sampai Hikayat Sri Rama. Pada buku yang sama, jilid 2B (untuk kelas II SMU semester 2), siswa dikenalkan pada karya-karya Motinggo Boesye, Harris Effendi Tahar, Robert Fontaine, Ernest Hemingway, dan Abdul Muis. Dan, pada jilid 3B (untuk kelas III SMU Semester 2), siswa dikenalkan sejak pada karya-karya Umar Kayam, Jamil Suherman, Budi Darma, Gregorio Lopez Y Fuentes, Muhammad Ali, Motinggo Boesye, B Sularto, Mochtar Lubis, Suwarsih Djojopuspito, sampai Raja Ali Haji.
Melihat nama-nama sastrawan yang karya-karyanya dikutip pada buku-buku tersebut, sebenarnya sudah tidak pas lagi tudingan sementara pengamat bahwa pengajaran sastra di SMU berhenti hanya sampai Angkatan 66. Sebab, banyak nama-nama sastrawan kontemporer, bahkan terkini, yang karya-karyanya diperkenalkan kepada siswa melalui buku-buku tersebut. Tulisan-tulisan non-sastra yang dikutip juga diambil dari surat-surat kabar dan majalah yang berisi peristiwa-peristiwa terkini. Bahkan, mungkin terlalu inginnya menyesuaikan materi pengajaran sastra dengan perkembangan (sastra) terkini, ada nama-nama yang belum dikenal yang karyanya ikut dikutip, seperti Bejo (cerita lucu), Har (legenda Banyuwangi), Ariesel Ba (puisi), Popi Supiati (puisi) dan Djisno Zero (cerpen, dikutip dari Jawa Pos).
Dengan begitu, materi (buku) yang tersedia untuk pengajaran sastra di SMU sebenarnya sudah sedemikian maju dan sesuai dengan perkembangan sastra dan zaman terkini. Guru tinggal mendorong siswa untuk membaca karya-karya lain dari pengarang-pengarang pilihan yang karya-karyanya dikutip tersebut. Jika mau dicari kekurangannya, barangkali adalah masih kurangnya kesempatan bagi siswa untuk diajak berlatih menulis karya sastra.
Berdasarkan buku-buku di atas, pada aspek ketrampilan menulis, siswa hanya diajak menulis karya sastra pada kelas I semester 2 (jilid 1B), yakni menulis cerpen, puisi dan naskah drama. Inipun, barangkali, hanya diberikan pada satu dua kali pertemuan saja. Pada kenyataannya, di banyak SMU, pelajaran kesenian memang hanya diberikan pada siswa kelas I saja. Karena itu, masih diperlukan kegiatan ekstra kurikuler kesenian, termasuk seni sastra, untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat-bakat seni (sastra) siswa.
Melihat materi dan porsi pengajaran sastra yang saat ini sudah cukup bagus, dan sesuai dengan perkembangan sastra terkini, sebenarnya ada peluang besar bagi guru bahasa/sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra. Tetapi, karena pengajaran sastra masih hanya bagian dari pengajaran bahasa, pelaksanaan pengajaran sastra untuk mencapai tujuan tersebut masih sulit untuk berlangsung maksimal. Apalagi, jika upaya guru untuk itu terhalang oleh minimnya buku sastra di perpustakaan sekolah.
Prestasi siswa dalam pengajaran sastra yang tidak muncul sebagai nilai (rapor) tersendiri, juga tidak dapat mendorong mereka untuk bersungguh-sungguh dalam pelajaran sastra. Cukup logis jika siswa merasa tidak perlu bersungguh-sungguh dalam menguasai pelajaran apresiasi sastra, karena prestasi mereka dalam pelajaran ini hanya akan menyumbang tidak lebih dari 20 persen nilai bahasa Indonesia pada rapornya — persentase nilai lainnya disumbang oleh aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan kebahasaan. Apalagi, jika minat mereka pada bidang sastra memang rendah.
Pada akhirnya, efektif tidaknya pengajaran sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra, bertumpu pada kreativitas guru bahasanya. Jika sang guru bahasa tidak memiliki minat terhadap sastra, serta apresiasi dan pengetahuan sastranya rendah, maka sulit diharap akan melaksanakan pengajaran sastra secara maksimal, kreatif dan efektif. Dan, jika kebanyakan guru bahasa Indonesia berkarakter demikian, maka pengajaran sastra akan tetap menuai kegagalan. Kenyataannya, rata-rata lulusan SMU saat ini memiliki minat baca dan apresiasi sastra yang sangat rendah.
Karena itu, seperti berkali-kali dikemukakan oleh Taufiq Ismail, sangat penting untuk mengusulkan kembali agar pelajaran sastra dipisahkan saja dari pelajaran bahasa Indonesia. Rasanya, inilah cara paling tepat agar pengajaran sastra di SMU dapat berlangsung secara efektif dan maksimal.
Namun, sembari menunggu kebijakan ‘pemisahan pengajaran sastra dari pengajaran bahasa’ yang belum jelas akan disetujui atau tidak alangkah baiknya jika para guru bahasa dapat memaksimalkan pengajaran sastra di sekolah masing-masing. Meskipun hanya menyumbang 20 persen pada nilai bahasa Indonesia, pengajaran sastra perlu diefektifkan dengan menekankan pada apresiasi.
Langkah sederhananya adalah mendorong atau mewajibkan siswa lebih banyak membaca karya sastra, seperti memberi penugasan pada siswa untuk membuat resensi karya sastra sebanyak mungkin. Sementara, siswa-siswa yang berbakat menulis kreatif dapat dipupuk melalui kegiatan ekstra kurikuler di luar jam pelajaran resmi.
Tradisi kompetitif dengan memberi penghargaan pada karya siswa, baik resensi sastra maupun karya kreatif (cerpen dan puisi), dapat juga dipilih untuk merangsang budaya baca dan tulis siswa. Dalam hal ini, kreativitas guru dalam mengajarkan sastra menjadi tumpuan utama. Hanya dengan kesungguhan, kecintaan, dan kreativitas guru, kualitas pengajaran sastra di sekolah dapat didongkrak secepatnya, agar apresiasi sastra kaum terpelajar kita bisa ditingkatkan lagi.
*) Sastrawan dan wartawan Republika.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito