Tampilkan postingan dengan label Heri Listianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heri Listianto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2011

Apresiasi Teater “Jeritan Tengah Malam”

Heri Listianto *

ANALISIS ISI

Mempelajari teater bagi orang awam akan lebih mudah apabila diperoleh dengan pendidikan non formal. apresiasi teater bagi orang banyak sangat asing, apalagi bagi mereka yang tidak menempuh pendidikan formal/sekolah.

Proses ini memerlukan waktu dan berbagai siasat agar berjalan mulus tanpa mengganggu pendeskripsian secara langsung. Kehidupan mereka yang penuh dengan warna. harus pandai-pandai menemukannya, apabila teater mampu beradaptasi maka proses tersebut akan menjadi ritme yang menarik tentunya dan dapat menjadikan kehidupan lebih serontak.

Sesungguhnya kalau kita memasuki kehidupan pemandangan dalam teater Jeritan Tengah Malam sudah sangat Nampak beberapa kelebihan dari beberapa segi, untuk menjadikan kehidupan teater merekam Penciptakan suasana dengan konflik yang berjalan dengan bertubi-tubi yang sesungguhnya itu dapat dipolakan dalam panggung dan menjadi pertunjukan yang seolah-lah merepresentasikan masalah kehidupan kampung.

Sesuai dengan latar belakang kehidupan kampung yang berpadu dengan gaya kota maka nuansa yang diciptakan dalam drama yang disutradarai oleh Meilia ini merupakan pola yang tepat untuk memulai proses mencapai suatu realita di kehidupan nyata.

Drama seharusnya melahirkan kehendak dan action (Ferdinan Brunetierre). Gaya dalam pementasan ini adalah gaya hidup yang sedikit dipaksakan, namun demikian dapat ditata secara bertahap. Belajar secara non formal tidak menjadikan orang kampung jauh dari kebiasaan mereka yang serba improve sehingga gaya aktor/aktris kampung yang telah diperankan oleh Friska sebagai seorang ibu sudah menunjukkan kesempurnaan peran sehingga pementasan terlihat sangat bagus dengan suasana yang seakan-akan keberhasilan mutlak telah tercapai.

Namun banyak juga yang tidak tahu sama sekali apa itu nilai teater. Hal ini menyangkut amanat yang ingin disampaikan dalam pementasan.

MAKE UP

Pada segi make up, pementasan Jeritan Tengah Malam ini sangat bagus sehingga gambaran watak yang diinginkan sangat benar-benar tampak. Sehingga perwujudan gambaran watak dari tiap-tiap tokoh yersebut benar-benar terlihat nyata dan sudah mewakili factor-faktor perwujudan gambaran watak yang salah satunya adalah dalam hal usia, kepribadian dan sebagainya.

ANALISIS PERAN

Bunahri: ekspresinya dalam peran sudah memiliki focus yang sangat kuat, dia bermain sebagai seorang penjaga daerah perkantoran yang sigap dengan adanya pelanggaran-pelanggaran (sempurna).

Friska: gaya aktor/aktris seorang pemulung kampung yang telah diperankan oleh Friska sebagai seorang ibu sudah menunjukkan kesempurnaan peran sehingga pementasan terlihat sangat bagus dengan suasana yang seakan-akan keberhasilan mutlak telah tercapai.

Era dan Ratna: Ritme permainan dan mimik sebagai orang kota yang bergelimang harta sealalu mengikuti di setiap jalan permainan yang diperankan oleh kedua tokoh ini. Sehingga suasana kota tumpah ke dalam panggung.

Viani: ketabuhan yang ditampilkan dengan gaya sedikit tidak berpola membuat penonton sangat tegang denngan perannya sebagai anak durhaka yang sudah masuk dalam liang dunia perkotaan sampai-sampai penonton menghilangkan semua konsentrasi tentang hal lain di luar peran yang dibawakannya.

Meilia: suasana melas yang sangat melekat pada dialok yang diutarakannya menimbulkan suasana yang haru dan seakan mengintai dunia-dunia gelamor kota yang tidak mengetahui keadaannya.

Dari keseluruhan peran yang dibawakan tokoh. Rata-rata memiliki jiwa yang ramai dengan berbagai gaya tapi masuk dalam satu tujuan utama yang disajikan dengan pemunculan konflik bertubi-tubi.

____________________
*) Heri Listianto lahir 9 November 1989 di Surabaya, pendidikan: MI Islam Pucangro, MTs "Putra-Putri" Simo, MA Negeri Lamongan, kuliah di Unitomo Surabaya. Karya-karyanya pernah termuat di AKAR, Tabloit Telunjuk, Radar Bojonegoro, dst. Kumpulan puisi bersamanya: Mozaik Pinggir Jalan, Absurditas Rindu, Khianat Waktu (antologi penyair Jawa Timur), Jual Beli Bibir, Enjelai. Antologi Puisi tunggalnya Embun Pesisir Laut Utara. Anggota Forum Sastra Lamongan [FSL], Komunitas Mahasiswa Bahasa Unitomo [Komba Unitomo], dan Coretan Pena.

Minggu, 12 Juni 2011

Mengenal Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri

Judul: Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Penulis: Nurel Javissyarqi
Penerbit: Pustaka Pujangga
Terbit: Mei 2011
Tebal: 100 halaman
Harga: Rp. 19.000,-
Peresensi: Heri Listianto
http://tunaspustaka.blogspot.com/

Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisinya. “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri”.

Kemunculan tekat sebagai pengamat, penikmat, pengkritik, dan juga sebagai pelaku sastra terus bermunculan dan benar-benar ditunjukkan Nurel Javissyarqi dalam web http://sastra-indonesia.com/ salah satunya adalah tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri berjudul Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007.

Dalam tulisan itu Sutardji Calzoum Bachri menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: “Peran penyair menjadi unik, karena sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”

Dilanjutkan dengan keberanian Nurel Javissyarqi dalam mengamati eksistensi puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang lain dan kaitannya dengan beberapa ayat di dalam surat Asy Syu’ara. Nurel Javissyarqi berbicara panjang lebar mengamati mulai dari putih, hitam, coklat, riang ke remang.

Kemudian Nurel Javissyarqi mengungkap dengan dua esai Sutardji Calzoum Bachri sebagai lampiran yang menurutnya sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” sebagai tradisi.

Kelebihan Sutardji Calzoum Bachri dalam buku ini dijelaskan bahwa, dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa ada istilah ajian panglimunan, berguna tidak untuk menyerang pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru seakan-akan di sinilah letak tanggung jawab Sutardji Calzoum Bachri.

Meskipun buku ini memiliki sub judul Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, tetapi tidak seluruh bagian dalam buku ini mengulas tentang gugatan-gugatan terhadap Sutardji Calzoum Bachri. Sebagian besar isi buku ini adalah pengalaman Nurel Javissyarqi dalam memahami dan mengamati kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri baik secara kultural maupun filosofis. Dari sinilah ia mengenal kekayaan ciri kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.

Semua itu diungkapkan Nurel Javissyarqi secara objektif, lugas, bahkan dengan sangat rinci. Inilah yang membuat buku ini tidak membosankan dan bahkan penting untuk dibaca.

_________________
*) Heri Listianto lahir 9 November 1989 di Surabaya, pendidikan: MI Islam Pucangro, MTs "Putra-Putri" Simo, MA Negeri Lamongan, kuliah di Unitomo Surabaya. Karya-karyanya pernah termuat di AKAR, Tabloit Telunjuk, Radar Bojonegoro, dst. Kumpulan puisi bersamanya: Mozaik Pinggir Jalan, Absurditas Rindu, Khianat Waktu (antologi penyair Jawa Timur), Jual Beli Bibir, Enjelai. Antologi Puisi tunggalnya Embun Pesisir Laut Utara. Anggota Forum Sastra Lamongan [FSL], Komunitas Mahasiswa Bahasa Unitomo [Komba Unitomo], dan Coretan Pena.

Sabtu, 18 Desember 2010

Sajak-Sajak Heri Listianto

PERTEMUAN

Bertahun-tahun
Menanti atas pucuk kabar keremajaan
Dikaulah sebuah cinta
Saat jiwa berharap

Waktu telah memberi impian
Pada malam yang telah kuagungkan ini.
Engkaulah itu kasih

Bersanding kerisauan
Yang mengiringi jiwa saat kau kutemukan
Dan kudapatkan

Lamongan, 28 Maret 2005



ANGIN HAMPA

Aku diam
Berderu dengan angina malam
Diselimuti ketakutan

Saat berpikir dalam
Bersama baying kecil
Pohon impian

Aku berkaca
Menyimak, menulis imbuh upaya
Bertaburkan angina hampa

Menyebar dengan
Liku kasih kebisuan
Menghapus kerinduan.

Lamongan, 040505



RUMAH KALENGKU

Dikau menabur sepi
Dalam selaput kecil
Rumah kalengku

Membelit keberanian
Menguji akan kasih kedukaan

Biar aku menjilat sedikit kegelapan
Menjadi keceriaan
Saat masa menanti ribuan benih kasih

Lamongan, 12 mei 2005



PUTIK BUNGA HAYALAN

Cobalah katakana padaku
Wahai kasih…

Dibalik putik wajahmu
Yang kau suguhkan
Pada pria-pria

Tersimpan runtutan sikap
Akan keanggunan

Sikapmu kau selipkan dalam kelopak pujaan
Berada dalam gudang
semerbak wangimu

yang kau simpan
kau jajar dalam baris tulisan.

Lamongan, 18 juli 2005

Sajak-Sajak Heri Listianto

DERMAGA KAPAL KEMAYORAN

Sorot matamu yang indah
Terbayang asekilas,
Seakan tertanam kenang cinta.

Gemuruh suara hati bersemayam
Lelehkan dinding kejantanan
Pertemuan indah

Tentang kisah cinta
“Dermaga kapal kemayoran”

dalam inti sunyi
keharuan malam
saat bulan semanding gemintang.

Lamongan, 20 April 2005



KU MAU MELEWATI DETIK-DETIK

Ku mau melewati detik-detik
Mengujar kata-kata
Bersama tulisan rumi yang bermuara

Pada lentera malam di alun daun-daun.
Bertulis sajak pemukau nyawa
Tumbuh dikaki burung – burung
Pemahat pintu surga

Sejak itu
Pangeran mulai jujur terhadap sikap.

18 Agustus 2005



PASIR KEPOMPONG ENJELAI

Dinding tebal disekitar padang
Merajut pola disepi sahara

Suara – suara gerimis
Memuai pada telinga-telinga
Diatas sanggahan Alang sang pujangga

Bersama turunan nilai
Pasir-pasir berlari dalam buku Enjelai.

Mungkin…
Renungan mereka berkiprah
Dirupa keletihan.

Dengan sikap lembut menggunung zarah
Yang berubah
Menggungkap luruh, kain penutup canda.

Kupupun menurunkan langkah
Diatas surat kumuh
Yang tercecer gelisah.

20 September 2005



DUA WARNA

Ratusan jemari pemikat
Merambat dikulit-kulit tipis
Pada ruangan kecil

Antara warna – warna indah
Dipelipis pemuka mata
Mereka bermunculan

o…h
Engkau yang berkacamata ,
Pendiam kata, pemurah senyum
Kenali aku
Lihat tulisan – tulisan ini dalam puri.

Manela, 080805

Sajak-Sajak Heri Listianto

DALAM BALUTAN PERTIWI

Suara angin malam ini,
mengeja langkah mereka
yang berjalan tanpa kawan

sudah lama jiwa menanti semangat kalian

baju merah darah
dengan tali Negara,
kusam berbau nyawa.

Oh bumi
sampaikan salamku
pada ratu-ratu Negara
yang kau kandung selama ini

sebagai salam rindu perjuangan.

Surabaya , 10 Nov 2009



LIMPANG-LIMPUNG

Melandai diatas lantai
Badan kurus bergelimpungan lapar

Duri – duri semu berkata tak jelas
Menggulung pendapat-pendapat bodoh

Diam…! (katanya )
“kalian hanya meringis tak hajat “

ia berkepala tenang
menyelubungi kosa-kosa kata
yang hamper hilang

mereka terdiam kaku ditempat terpaku
sampai asap hutan
berontak menghadap kiblat.

28 Nov 2005



TINGKAI-TINGKAI TIKAR

Pada benih-benih malam yang diam
Menepuk tikar senja
Mataku berkedip melamun lelah

Kunci –kunci anehpun
Menggulung baja subuh yang tidur angkuh

Luntur…!
Hancur….!
Puncak merapi yang tidur disebelah tangan

Karena tahun malaikat
Berubah lelah

21 Okt 2005



KELANA HARI ASMARA

Dari ribuan debu asing
Yang berlari sepi
Membuat pijaran kataku
Menyapa sedikit luapan harum wajah cantik.

Entah rasa apa yang lewat
Berkata pelan
Kala tahun ini muncul,
Datang menyapa kita untuk berkenalan

Lautan angkuhpun
Kusiram dengan seteguk air telaga cinta
Untuk dikau kasih

Karena tahun telah berganti

17 Okt 2005

Sajak-Sajak Heri Listianto

GEMPA DENGAN SUARA GAIB

Dari depan lorong hati
alun suara tanpa kata
menyanyikan lelagu duka

Mungkin bumi telah marah!

Melihat tingkah tikus berkemeja
dengan dasi hitamnya.

Gempa berjalan dengan roda gaib
menyapu Padang pulau Sumatra

Bagai abu tanpa nyawa.

Hanya sekedip tiupan lentera
nyawa terbang
mengitari Sumatra
yang penuh dengan darah.

Unitomo, 14-Oktober-2009



SURAT BUAT ATASAN II

Suara ini suara hati!

Dari surat dedaun kering
Kami baca gumpalan rasa tak tertata
: kayangan sudah berubah warna.

Bagaimana kalian melihat rakyat
semakin mlarat ?
Perut kosong ketiban bohong
Bahkan mati memikir janji

: adakah jawab dari kayangan ?
Janji hanya sekedar bayang
tertelan uang miliyaran.

Lihat dasi kalian !
Mobil dengan kaki roda
Tertutup rapat dengan kaca – kaca

Sudah bertahun – tahun
kami terluka
karena tingkah polah mereka .

2009



LAGU DI MALAM HARU

Alun malam ……
yang menyapu ramai kota , malam ini .
menyimak rontok daun jambu diufuk barat.

Pucangro, 12 Agustus 2007



KAMPUNG HARI INI

Seperti persamuan dalam mimpi
tepat di ujung perkampungan

Hatiku berdetak tak henti.

Surabaya , 26 Juli 2009

Sajak-Sajak Heri Listianto

TINGKAH DUNIA SAAT INI

Gemetar ubunku
melihat tingkah dunia saat ini
gemetar ubunku
menyimak berita mlam ini.

Gemetar ubunku
Ketika Indonesia sudah sepi hilang hikmat,
hanya canda tak berisi

Indonesia …
Indonesia …
Seperti kapas terbang dari tangkai
Terombang-ambing angin barat
dengan belenggu
temali uang berdebu.

Indonesia…
Seperti itu kini aku melihatmu.

Perlis, 15 juni 2010



SEPERTI BENIH KAPAS

Seperti ribuan benih kapas
di atas altar peribadatan
aku melihat doa’- do’a dari kitab suci
yang melantun pada malam keagungan.

Riak kemricik air kali,
mengantar bisik kecil
untuk perenungan kisahmu
Rosul…

Sebagai perjamuan embun
mengalir ke sungai jasad ini
sampai akhir hayat ini.

Surabaya , 23 Juni 2010



MUNGKIN SUDAH TAKDIR

Mungkin sudah takdir.
Tuhan…
di setiap rongga-rongga tulang
kau alirkan rasa seribu tanya
tentang bumi dan langit

tentang perjalanan planet
tentang aliran meteor di sungai-sungai angkasa

sejengkal detik di kehidupan ini
menyusun hembus nafas
lembut…
selaksa air telaga kencana
dari kayangan suralaya.

Mungkinkah kabarmu
Datang dari lentera kecil
Di hati ini robbi…?

Tunjukkan jawaban mutiara
Yang datang dari candela hati.

Surabaya, 09 Nov 2009



1000 Mata dunia

Satu!
dua!
tiga!
Sedikit kaki melangkah dari tangga perpisahan
hati kalian teman.

Aku membaca dunia
Lewat seribu busana keanggunan

Ada jas dengan dasinya,
Ada seragam kuning dengan sapu lidinya,
Ada rompi dengan peluit parkirnya,
Wajah merah dengan kayu ditangannya,
Ada peluk penuh akan cinta.

Bahkan,
Ada …
Ada …
Ada …!

Ada-ada saja.

Surabaya , 24 Nov 2009

Sajak-Sajak Heri Listianto

JALAN HATI

Baru saja ku tutup
Satu jalan dari selatan desa kenangan

bumbu rindu pada keagungan nama Negara

dan seratus teriakan masa
melihat gumpal tanpa isi
terkupas siulan raja.

ku lihat tetes air mata
menelusur sungai abadi dari dalam qolbunya
menangisi Surabaya.

Perlis Selatan, 31 Mei 2010



KETIKA TANAH MASIH UTUH

Satu butir debu tampak depan muka ini
Pada siang gersang
yang mengelucut rumput kota.

Dulu…
ketika tanah masih utuh,
dan kaki berjalan tanpa alas

Masihkah ingat?
burung berjinjing selaksa putri
dari danau utara
dengan sepatu kacanya.

adakah bunga merekah di dataran sejuk?
seperti rumput memanjang
ke sungai bengawan solo

Hingga ujung-ujungnya
Hilang dalam semak.

Perlis, 31 Mei 2010



DAUN TANPA NAMA

Seperti musim lalu
Engkau membius sukma
dengan sehelai kain suci saat itu.

Lagu indah yang bertasbih
menemani setiap jengkal langkah
rasaku kepadamu

dari ujung rumputan sawah ujung desa
hingga pohon kering di pinggir jalan kota
satu asma berjalan
lewat hati kecil ini.

tapi sayang,
tak ada jejak kaki kambing
dan embun pagi saat itu.

Hanya angin dan sehelai daun tanpa nama
Ada dalam kantongku.

Surabaya , 13 juni 2010



Andai dulu …

Sungguh tak tertulis pada takdir ini,
Sebuah pertemuan
dalam tragedi maya
yang selalu ada dalam benak ini

engkau bersiul memanggil angin
sebagai sajak rindu
dari kedalaman samudera tanya

adakah lembut benih tumbuhan
senja saat ini
seperti benih kapas yang lembut
selembut namamu.

Surabaya , 22 Juni 2010



HEMBUS ANGIN DAUN SEROJA

Adalah seputih buga seroja
Lembut kebatinan mu
Pada sungai kasih ini dinda.

Walau …
Aku bagai terkurung
Dalam samudera ranjau
dan kuncup duri di padang rumput

Semoga bertahan dalam jiwa.
Dlikir perenunganku pada bumi
dan pertemuanku padamu
dalam dunia mimpi

Surabaya , 23 Juni 2010

Sajak-Sajak Heri Listianto

Alam Berburu

benar atau tidak
sebauh butir tetes dan mengalir
meminjamkan suara dan dentuman jantung
malam itu.
gunung gemuruh,
banjir berburu sinyal putih dan hitam
menyibak melewati bumiku.

sudah lebih dari lima tahun
alam berburu dengan bencana
menggubah wajah bumi ini.
bumi yang sudah kehilangan kesejatian merah putih.

biarkan alam melukis bumi
biar alam menuliskan sajak merah putih
biarkan alam mencari bibit-bibit suci
biarkan gelisah terendam jiwa
melihat alam berburu nyawa.

lima arah angin bertiup seketika
menutup perburuan saat itu. sampai,
bumi terlihat gersang tak berpenghuni.

Surabaya, 28 Oktober 2010



WASIOR - PAPUA BARAT

Sebagai do’a sahabat…
siraman air suci berisi do’a
Terhantar lewat bumi pertiwi ini.
Gempa, ombak, angin, dan panas tak menentu.

Sajakku merangkai luh pada malam ini

Air naik ke bukitan
Tanah meleleh kepanasan
Aliran menggulung nyawa dan pemukiman

Sebuah tragedi

Banjir bandang bercapur batuan.

Surabaya, 4 oktober 2010



RAP

Dan… tubuhmu
Menghias setiap pandang persimpangan
jalan–jalan kampus ini
;sebuah Rap

Alas kaki menggesek setiap menelapak.

Gaduh meredah
senyap membanjiri suasana
Hati melebur menjadi darah
ubun gemetar tak berirama,
menyimak suara itu.

Benar ataupun tidak?

Sebuah suara datang dari sepasang sepatu.

Surabaya, 12 oktober 2010



BUNDA

Menyebut namamu ibu …
Teringat buih di laut biru
Menyebut namamu ibu …
Bagai lentera di malam haru
Ibu …

Seikat permata
Tidak bisa mengganti jasamu

Jasa ketika aku kau pangku.
Ibu…
Dengan hati aku kau asuh
dengan rasa aku kau sentuh
ibu…
Tersimpan namamu dalam kalbu.

Surabaya , 20 – April – 2010



Trauma Mak...

Seamakin mlang nasibku mak...
terlihat kepulan asap jatuh dari gunung itu
getaran datang terburu
mengguncang bumi dan lautan biru

semakin sedih aku mak...
bulan menampakkan raut cemberut
menggundang gerhana
sebagai tanda masa itu
masa di beberapa tahun lalu
saat kita mengungsi kebanjiran ke lamongan

semakin gembira mukaku mak...
melihat kampung cerah
setelah semua bencana aredah.

tapi...

aku takut mak...
trauma!
jika melihat bumi, air, dan angin marah.

Surabaya, 29 Agustus 2010

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito