Heri Listianto *
ANALISIS ISI
Mempelajari teater bagi orang awam akan lebih mudah apabila diperoleh dengan pendidikan non formal. apresiasi teater bagi orang banyak sangat asing, apalagi bagi mereka yang tidak menempuh pendidikan formal/sekolah.
Proses ini memerlukan waktu dan berbagai siasat agar berjalan mulus tanpa mengganggu pendeskripsian secara langsung. Kehidupan mereka yang penuh dengan warna. harus pandai-pandai menemukannya, apabila teater mampu beradaptasi maka proses tersebut akan menjadi ritme yang menarik tentunya dan dapat menjadikan kehidupan lebih serontak.
Sesungguhnya kalau kita memasuki kehidupan pemandangan dalam teater Jeritan Tengah Malam sudah sangat Nampak beberapa kelebihan dari beberapa segi, untuk menjadikan kehidupan teater merekam Penciptakan suasana dengan konflik yang berjalan dengan bertubi-tubi yang sesungguhnya itu dapat dipolakan dalam panggung dan menjadi pertunjukan yang seolah-lah merepresentasikan masalah kehidupan kampung.
Sesuai dengan latar belakang kehidupan kampung yang berpadu dengan gaya kota maka nuansa yang diciptakan dalam drama yang disutradarai oleh Meilia ini merupakan pola yang tepat untuk memulai proses mencapai suatu realita di kehidupan nyata.
Drama seharusnya melahirkan kehendak dan action (Ferdinan Brunetierre). Gaya dalam pementasan ini adalah gaya hidup yang sedikit dipaksakan, namun demikian dapat ditata secara bertahap. Belajar secara non formal tidak menjadikan orang kampung jauh dari kebiasaan mereka yang serba improve sehingga gaya aktor/aktris kampung yang telah diperankan oleh Friska sebagai seorang ibu sudah menunjukkan kesempurnaan peran sehingga pementasan terlihat sangat bagus dengan suasana yang seakan-akan keberhasilan mutlak telah tercapai.
Namun banyak juga yang tidak tahu sama sekali apa itu nilai teater. Hal ini menyangkut amanat yang ingin disampaikan dalam pementasan.
MAKE UP
Pada segi make up, pementasan Jeritan Tengah Malam ini sangat bagus sehingga gambaran watak yang diinginkan sangat benar-benar tampak. Sehingga perwujudan gambaran watak dari tiap-tiap tokoh yersebut benar-benar terlihat nyata dan sudah mewakili factor-faktor perwujudan gambaran watak yang salah satunya adalah dalam hal usia, kepribadian dan sebagainya.
ANALISIS PERAN
Bunahri: ekspresinya dalam peran sudah memiliki focus yang sangat kuat, dia bermain sebagai seorang penjaga daerah perkantoran yang sigap dengan adanya pelanggaran-pelanggaran (sempurna).
Friska: gaya aktor/aktris seorang pemulung kampung yang telah diperankan oleh Friska sebagai seorang ibu sudah menunjukkan kesempurnaan peran sehingga pementasan terlihat sangat bagus dengan suasana yang seakan-akan keberhasilan mutlak telah tercapai.
Era dan Ratna: Ritme permainan dan mimik sebagai orang kota yang bergelimang harta sealalu mengikuti di setiap jalan permainan yang diperankan oleh kedua tokoh ini. Sehingga suasana kota tumpah ke dalam panggung.
Viani: ketabuhan yang ditampilkan dengan gaya sedikit tidak berpola membuat penonton sangat tegang denngan perannya sebagai anak durhaka yang sudah masuk dalam liang dunia perkotaan sampai-sampai penonton menghilangkan semua konsentrasi tentang hal lain di luar peran yang dibawakannya.
Meilia: suasana melas yang sangat melekat pada dialok yang diutarakannya menimbulkan suasana yang haru dan seakan mengintai dunia-dunia gelamor kota yang tidak mengetahui keadaannya.
Dari keseluruhan peran yang dibawakan tokoh. Rata-rata memiliki jiwa yang ramai dengan berbagai gaya tapi masuk dalam satu tujuan utama yang disajikan dengan pemunculan konflik bertubi-tubi.
____________________
*) Heri Listianto lahir 9 November 1989 di Surabaya, pendidikan: MI Islam Pucangro, MTs "Putra-Putri" Simo, MA Negeri Lamongan, kuliah di Unitomo Surabaya. Karya-karyanya pernah termuat di AKAR, Tabloit Telunjuk, Radar Bojonegoro, dst. Kumpulan puisi bersamanya: Mozaik Pinggir Jalan, Absurditas Rindu, Khianat Waktu (antologi penyair Jawa Timur), Jual Beli Bibir, Enjelai. Antologi Puisi tunggalnya Embun Pesisir Laut Utara. Anggota Forum Sastra Lamongan [FSL], Komunitas Mahasiswa Bahasa Unitomo [Komba Unitomo], dan Coretan Pena.
Tampilkan postingan dengan label Heri Listianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heri Listianto. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Agustus 2011
Minggu, 12 Juni 2011
Mengenal Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Judul: Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Penulis: Nurel Javissyarqi
Penerbit: Pustaka Pujangga
Terbit: Mei 2011
Tebal: 100 halaman
Harga: Rp. 19.000,-
Peresensi: Heri Listianto
http://tunaspustaka.blogspot.com/
Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisinya. “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri”.
Kemunculan tekat sebagai pengamat, penikmat, pengkritik, dan juga sebagai pelaku sastra terus bermunculan dan benar-benar ditunjukkan Nurel Javissyarqi dalam web http://sastra-indonesia.com/ salah satunya adalah tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri berjudul Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007.
Dalam tulisan itu Sutardji Calzoum Bachri menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: “Peran penyair menjadi unik, karena sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”
Dilanjutkan dengan keberanian Nurel Javissyarqi dalam mengamati eksistensi puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang lain dan kaitannya dengan beberapa ayat di dalam surat Asy Syu’ara. Nurel Javissyarqi berbicara panjang lebar mengamati mulai dari putih, hitam, coklat, riang ke remang.
Kemudian Nurel Javissyarqi mengungkap dengan dua esai Sutardji Calzoum Bachri sebagai lampiran yang menurutnya sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” sebagai tradisi.
Kelebihan Sutardji Calzoum Bachri dalam buku ini dijelaskan bahwa, dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa ada istilah ajian panglimunan, berguna tidak untuk menyerang pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru seakan-akan di sinilah letak tanggung jawab Sutardji Calzoum Bachri.
Meskipun buku ini memiliki sub judul Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, tetapi tidak seluruh bagian dalam buku ini mengulas tentang gugatan-gugatan terhadap Sutardji Calzoum Bachri. Sebagian besar isi buku ini adalah pengalaman Nurel Javissyarqi dalam memahami dan mengamati kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri baik secara kultural maupun filosofis. Dari sinilah ia mengenal kekayaan ciri kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.
Semua itu diungkapkan Nurel Javissyarqi secara objektif, lugas, bahkan dengan sangat rinci. Inilah yang membuat buku ini tidak membosankan dan bahkan penting untuk dibaca.
_________________
*) Heri Listianto lahir 9 November 1989 di Surabaya, pendidikan: MI Islam Pucangro, MTs "Putra-Putri" Simo, MA Negeri Lamongan, kuliah di Unitomo Surabaya. Karya-karyanya pernah termuat di AKAR, Tabloit Telunjuk, Radar Bojonegoro, dst. Kumpulan puisi bersamanya: Mozaik Pinggir Jalan, Absurditas Rindu, Khianat Waktu (antologi penyair Jawa Timur), Jual Beli Bibir, Enjelai. Antologi Puisi tunggalnya Embun Pesisir Laut Utara. Anggota Forum Sastra Lamongan [FSL], Komunitas Mahasiswa Bahasa Unitomo [Komba Unitomo], dan Coretan Pena.
Penulis: Nurel Javissyarqi
Penerbit: Pustaka Pujangga
Terbit: Mei 2011
Tebal: 100 halaman
Harga: Rp. 19.000,-
Peresensi: Heri Listianto
http://tunaspustaka.blogspot.com/
Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisinya. “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri”.
Kemunculan tekat sebagai pengamat, penikmat, pengkritik, dan juga sebagai pelaku sastra terus bermunculan dan benar-benar ditunjukkan Nurel Javissyarqi dalam web http://sastra-indonesia.com/ salah satunya adalah tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri berjudul Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007.
Dalam tulisan itu Sutardji Calzoum Bachri menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: “Peran penyair menjadi unik, karena sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”
Dilanjutkan dengan keberanian Nurel Javissyarqi dalam mengamati eksistensi puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang lain dan kaitannya dengan beberapa ayat di dalam surat Asy Syu’ara. Nurel Javissyarqi berbicara panjang lebar mengamati mulai dari putih, hitam, coklat, riang ke remang.
Kemudian Nurel Javissyarqi mengungkap dengan dua esai Sutardji Calzoum Bachri sebagai lampiran yang menurutnya sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” sebagai tradisi.
Kelebihan Sutardji Calzoum Bachri dalam buku ini dijelaskan bahwa, dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa ada istilah ajian panglimunan, berguna tidak untuk menyerang pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru seakan-akan di sinilah letak tanggung jawab Sutardji Calzoum Bachri.
Meskipun buku ini memiliki sub judul Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, tetapi tidak seluruh bagian dalam buku ini mengulas tentang gugatan-gugatan terhadap Sutardji Calzoum Bachri. Sebagian besar isi buku ini adalah pengalaman Nurel Javissyarqi dalam memahami dan mengamati kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri baik secara kultural maupun filosofis. Dari sinilah ia mengenal kekayaan ciri kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.
Semua itu diungkapkan Nurel Javissyarqi secara objektif, lugas, bahkan dengan sangat rinci. Inilah yang membuat buku ini tidak membosankan dan bahkan penting untuk dibaca.
_________________
*) Heri Listianto lahir 9 November 1989 di Surabaya, pendidikan: MI Islam Pucangro, MTs "Putra-Putri" Simo, MA Negeri Lamongan, kuliah di Unitomo Surabaya. Karya-karyanya pernah termuat di AKAR, Tabloit Telunjuk, Radar Bojonegoro, dst. Kumpulan puisi bersamanya: Mozaik Pinggir Jalan, Absurditas Rindu, Khianat Waktu (antologi penyair Jawa Timur), Jual Beli Bibir, Enjelai. Antologi Puisi tunggalnya Embun Pesisir Laut Utara. Anggota Forum Sastra Lamongan [FSL], Komunitas Mahasiswa Bahasa Unitomo [Komba Unitomo], dan Coretan Pena.
Sabtu, 18 Desember 2010
Sajak-Sajak Heri Listianto
PERTEMUAN
Bertahun-tahun
Menanti atas pucuk kabar keremajaan
Dikaulah sebuah cinta
Saat jiwa berharap
Waktu telah memberi impian
Pada malam yang telah kuagungkan ini.
Engkaulah itu kasih
Bersanding kerisauan
Yang mengiringi jiwa saat kau kutemukan
Dan kudapatkan
Lamongan, 28 Maret 2005
ANGIN HAMPA
Aku diam
Berderu dengan angina malam
Diselimuti ketakutan
Saat berpikir dalam
Bersama baying kecil
Pohon impian
Aku berkaca
Menyimak, menulis imbuh upaya
Bertaburkan angina hampa
Menyebar dengan
Liku kasih kebisuan
Menghapus kerinduan.
Lamongan, 040505
RUMAH KALENGKU
Dikau menabur sepi
Dalam selaput kecil
Rumah kalengku
Membelit keberanian
Menguji akan kasih kedukaan
Biar aku menjilat sedikit kegelapan
Menjadi keceriaan
Saat masa menanti ribuan benih kasih
Lamongan, 12 mei 2005
PUTIK BUNGA HAYALAN
Cobalah katakana padaku
Wahai kasih…
Dibalik putik wajahmu
Yang kau suguhkan
Pada pria-pria
Tersimpan runtutan sikap
Akan keanggunan
Sikapmu kau selipkan dalam kelopak pujaan
Berada dalam gudang
semerbak wangimu
yang kau simpan
kau jajar dalam baris tulisan.
Lamongan, 18 juli 2005
Bertahun-tahun
Menanti atas pucuk kabar keremajaan
Dikaulah sebuah cinta
Saat jiwa berharap
Waktu telah memberi impian
Pada malam yang telah kuagungkan ini.
Engkaulah itu kasih
Bersanding kerisauan
Yang mengiringi jiwa saat kau kutemukan
Dan kudapatkan
Lamongan, 28 Maret 2005
ANGIN HAMPA
Aku diam
Berderu dengan angina malam
Diselimuti ketakutan
Saat berpikir dalam
Bersama baying kecil
Pohon impian
Aku berkaca
Menyimak, menulis imbuh upaya
Bertaburkan angina hampa
Menyebar dengan
Liku kasih kebisuan
Menghapus kerinduan.
Lamongan, 040505
RUMAH KALENGKU
Dikau menabur sepi
Dalam selaput kecil
Rumah kalengku
Membelit keberanian
Menguji akan kasih kedukaan
Biar aku menjilat sedikit kegelapan
Menjadi keceriaan
Saat masa menanti ribuan benih kasih
Lamongan, 12 mei 2005
PUTIK BUNGA HAYALAN
Cobalah katakana padaku
Wahai kasih…
Dibalik putik wajahmu
Yang kau suguhkan
Pada pria-pria
Tersimpan runtutan sikap
Akan keanggunan
Sikapmu kau selipkan dalam kelopak pujaan
Berada dalam gudang
semerbak wangimu
yang kau simpan
kau jajar dalam baris tulisan.
Lamongan, 18 juli 2005
Sajak-Sajak Heri Listianto
DERMAGA KAPAL KEMAYORAN
Sorot matamu yang indah
Terbayang asekilas,
Seakan tertanam kenang cinta.
Gemuruh suara hati bersemayam
Lelehkan dinding kejantanan
Pertemuan indah
Tentang kisah cinta
“Dermaga kapal kemayoran”
dalam inti sunyi
keharuan malam
saat bulan semanding gemintang.
Lamongan, 20 April 2005
KU MAU MELEWATI DETIK-DETIK
Ku mau melewati detik-detik
Mengujar kata-kata
Bersama tulisan rumi yang bermuara
Pada lentera malam di alun daun-daun.
Bertulis sajak pemukau nyawa
Tumbuh dikaki burung – burung
Pemahat pintu surga
Sejak itu
Pangeran mulai jujur terhadap sikap.
18 Agustus 2005
PASIR KEPOMPONG ENJELAI
Dinding tebal disekitar padang
Merajut pola disepi sahara
Suara – suara gerimis
Memuai pada telinga-telinga
Diatas sanggahan Alang sang pujangga
Bersama turunan nilai
Pasir-pasir berlari dalam buku Enjelai.
Mungkin…
Renungan mereka berkiprah
Dirupa keletihan.
Dengan sikap lembut menggunung zarah
Yang berubah
Menggungkap luruh, kain penutup canda.
Kupupun menurunkan langkah
Diatas surat kumuh
Yang tercecer gelisah.
20 September 2005
DUA WARNA
Ratusan jemari pemikat
Merambat dikulit-kulit tipis
Pada ruangan kecil
Antara warna – warna indah
Dipelipis pemuka mata
Mereka bermunculan
o…h
Engkau yang berkacamata ,
Pendiam kata, pemurah senyum
Kenali aku
Lihat tulisan – tulisan ini dalam puri.
Manela, 080805
Sorot matamu yang indah
Terbayang asekilas,
Seakan tertanam kenang cinta.
Gemuruh suara hati bersemayam
Lelehkan dinding kejantanan
Pertemuan indah
Tentang kisah cinta
“Dermaga kapal kemayoran”
dalam inti sunyi
keharuan malam
saat bulan semanding gemintang.
Lamongan, 20 April 2005
KU MAU MELEWATI DETIK-DETIK
Ku mau melewati detik-detik
Mengujar kata-kata
Bersama tulisan rumi yang bermuara
Pada lentera malam di alun daun-daun.
Bertulis sajak pemukau nyawa
Tumbuh dikaki burung – burung
Pemahat pintu surga
Sejak itu
Pangeran mulai jujur terhadap sikap.
18 Agustus 2005
PASIR KEPOMPONG ENJELAI
Dinding tebal disekitar padang
Merajut pola disepi sahara
Suara – suara gerimis
Memuai pada telinga-telinga
Diatas sanggahan Alang sang pujangga
Bersama turunan nilai
Pasir-pasir berlari dalam buku Enjelai.
Mungkin…
Renungan mereka berkiprah
Dirupa keletihan.
Dengan sikap lembut menggunung zarah
Yang berubah
Menggungkap luruh, kain penutup canda.
Kupupun menurunkan langkah
Diatas surat kumuh
Yang tercecer gelisah.
20 September 2005
DUA WARNA
Ratusan jemari pemikat
Merambat dikulit-kulit tipis
Pada ruangan kecil
Antara warna – warna indah
Dipelipis pemuka mata
Mereka bermunculan
o…h
Engkau yang berkacamata ,
Pendiam kata, pemurah senyum
Kenali aku
Lihat tulisan – tulisan ini dalam puri.
Manela, 080805
Sajak-Sajak Heri Listianto
DALAM BALUTAN PERTIWI
Suara angin malam ini,
mengeja langkah mereka
yang berjalan tanpa kawan
sudah lama jiwa menanti semangat kalian
baju merah darah
dengan tali Negara,
kusam berbau nyawa.
Oh bumi
sampaikan salamku
pada ratu-ratu Negara
yang kau kandung selama ini
sebagai salam rindu perjuangan.
Surabaya , 10 Nov 2009
LIMPANG-LIMPUNG
Melandai diatas lantai
Badan kurus bergelimpungan lapar
Duri – duri semu berkata tak jelas
Menggulung pendapat-pendapat bodoh
Diam…! (katanya )
“kalian hanya meringis tak hajat “
ia berkepala tenang
menyelubungi kosa-kosa kata
yang hamper hilang
mereka terdiam kaku ditempat terpaku
sampai asap hutan
berontak menghadap kiblat.
28 Nov 2005
TINGKAI-TINGKAI TIKAR
Pada benih-benih malam yang diam
Menepuk tikar senja
Mataku berkedip melamun lelah
Kunci –kunci anehpun
Menggulung baja subuh yang tidur angkuh
Luntur…!
Hancur….!
Puncak merapi yang tidur disebelah tangan
Karena tahun malaikat
Berubah lelah
21 Okt 2005
KELANA HARI ASMARA
Dari ribuan debu asing
Yang berlari sepi
Membuat pijaran kataku
Menyapa sedikit luapan harum wajah cantik.
Entah rasa apa yang lewat
Berkata pelan
Kala tahun ini muncul,
Datang menyapa kita untuk berkenalan
Lautan angkuhpun
Kusiram dengan seteguk air telaga cinta
Untuk dikau kasih
Karena tahun telah berganti
17 Okt 2005
Suara angin malam ini,
mengeja langkah mereka
yang berjalan tanpa kawan
sudah lama jiwa menanti semangat kalian
baju merah darah
dengan tali Negara,
kusam berbau nyawa.
Oh bumi
sampaikan salamku
pada ratu-ratu Negara
yang kau kandung selama ini
sebagai salam rindu perjuangan.
Surabaya , 10 Nov 2009
LIMPANG-LIMPUNG
Melandai diatas lantai
Badan kurus bergelimpungan lapar
Duri – duri semu berkata tak jelas
Menggulung pendapat-pendapat bodoh
Diam…! (katanya )
“kalian hanya meringis tak hajat “
ia berkepala tenang
menyelubungi kosa-kosa kata
yang hamper hilang
mereka terdiam kaku ditempat terpaku
sampai asap hutan
berontak menghadap kiblat.
28 Nov 2005
TINGKAI-TINGKAI TIKAR
Pada benih-benih malam yang diam
Menepuk tikar senja
Mataku berkedip melamun lelah
Kunci –kunci anehpun
Menggulung baja subuh yang tidur angkuh
Luntur…!
Hancur….!
Puncak merapi yang tidur disebelah tangan
Karena tahun malaikat
Berubah lelah
21 Okt 2005
KELANA HARI ASMARA
Dari ribuan debu asing
Yang berlari sepi
Membuat pijaran kataku
Menyapa sedikit luapan harum wajah cantik.
Entah rasa apa yang lewat
Berkata pelan
Kala tahun ini muncul,
Datang menyapa kita untuk berkenalan
Lautan angkuhpun
Kusiram dengan seteguk air telaga cinta
Untuk dikau kasih
Karena tahun telah berganti
17 Okt 2005
Sajak-Sajak Heri Listianto
GEMPA DENGAN SUARA GAIB
Dari depan lorong hati
alun suara tanpa kata
menyanyikan lelagu duka
Mungkin bumi telah marah!
Melihat tingkah tikus berkemeja
dengan dasi hitamnya.
Gempa berjalan dengan roda gaib
menyapu Padang pulau Sumatra
Bagai abu tanpa nyawa.
Hanya sekedip tiupan lentera
nyawa terbang
mengitari Sumatra
yang penuh dengan darah.
Unitomo, 14-Oktober-2009
SURAT BUAT ATASAN II
Suara ini suara hati!
Dari surat dedaun kering
Kami baca gumpalan rasa tak tertata
: kayangan sudah berubah warna.
Bagaimana kalian melihat rakyat
semakin mlarat ?
Perut kosong ketiban bohong
Bahkan mati memikir janji
: adakah jawab dari kayangan ?
Janji hanya sekedar bayang
tertelan uang miliyaran.
Lihat dasi kalian !
Mobil dengan kaki roda
Tertutup rapat dengan kaca – kaca
Sudah bertahun – tahun
kami terluka
karena tingkah polah mereka .
2009
LAGU DI MALAM HARU
Alun malam ……
yang menyapu ramai kota , malam ini .
menyimak rontok daun jambu diufuk barat.
Pucangro, 12 Agustus 2007
KAMPUNG HARI INI
Seperti persamuan dalam mimpi
tepat di ujung perkampungan
Hatiku berdetak tak henti.
Surabaya , 26 Juli 2009
Dari depan lorong hati
alun suara tanpa kata
menyanyikan lelagu duka
Mungkin bumi telah marah!
Melihat tingkah tikus berkemeja
dengan dasi hitamnya.
Gempa berjalan dengan roda gaib
menyapu Padang pulau Sumatra
Bagai abu tanpa nyawa.
Hanya sekedip tiupan lentera
nyawa terbang
mengitari Sumatra
yang penuh dengan darah.
Unitomo, 14-Oktober-2009
SURAT BUAT ATASAN II
Suara ini suara hati!
Dari surat dedaun kering
Kami baca gumpalan rasa tak tertata
: kayangan sudah berubah warna.
Bagaimana kalian melihat rakyat
semakin mlarat ?
Perut kosong ketiban bohong
Bahkan mati memikir janji
: adakah jawab dari kayangan ?
Janji hanya sekedar bayang
tertelan uang miliyaran.
Lihat dasi kalian !
Mobil dengan kaki roda
Tertutup rapat dengan kaca – kaca
Sudah bertahun – tahun
kami terluka
karena tingkah polah mereka .
2009
LAGU DI MALAM HARU
Alun malam ……
yang menyapu ramai kota , malam ini .
menyimak rontok daun jambu diufuk barat.
Pucangro, 12 Agustus 2007
KAMPUNG HARI INI
Seperti persamuan dalam mimpi
tepat di ujung perkampungan
Hatiku berdetak tak henti.
Surabaya , 26 Juli 2009
Sajak-Sajak Heri Listianto
TINGKAH DUNIA SAAT INI
Gemetar ubunku
melihat tingkah dunia saat ini
gemetar ubunku
menyimak berita mlam ini.
Gemetar ubunku
Ketika Indonesia sudah sepi hilang hikmat,
hanya canda tak berisi
Indonesia …
Indonesia …
Seperti kapas terbang dari tangkai
Terombang-ambing angin barat
dengan belenggu
temali uang berdebu.
Indonesia…
Seperti itu kini aku melihatmu.
Perlis, 15 juni 2010
SEPERTI BENIH KAPAS
Seperti ribuan benih kapas
di atas altar peribadatan
aku melihat doa’- do’a dari kitab suci
yang melantun pada malam keagungan.
Riak kemricik air kali,
mengantar bisik kecil
untuk perenungan kisahmu
Rosul…
Sebagai perjamuan embun
mengalir ke sungai jasad ini
sampai akhir hayat ini.
Surabaya , 23 Juni 2010
MUNGKIN SUDAH TAKDIR
Mungkin sudah takdir.
Tuhan…
di setiap rongga-rongga tulang
kau alirkan rasa seribu tanya
tentang bumi dan langit
tentang perjalanan planet
tentang aliran meteor di sungai-sungai angkasa
sejengkal detik di kehidupan ini
menyusun hembus nafas
lembut…
selaksa air telaga kencana
dari kayangan suralaya.
Mungkinkah kabarmu
Datang dari lentera kecil
Di hati ini robbi…?
Tunjukkan jawaban mutiara
Yang datang dari candela hati.
Surabaya, 09 Nov 2009
1000 Mata dunia
Satu!
dua!
tiga!
Sedikit kaki melangkah dari tangga perpisahan
hati kalian teman.
Aku membaca dunia
Lewat seribu busana keanggunan
Ada jas dengan dasinya,
Ada seragam kuning dengan sapu lidinya,
Ada rompi dengan peluit parkirnya,
Wajah merah dengan kayu ditangannya,
Ada peluk penuh akan cinta.
Bahkan,
Ada …
Ada …
Ada …!
Ada-ada saja.
Surabaya , 24 Nov 2009
Gemetar ubunku
melihat tingkah dunia saat ini
gemetar ubunku
menyimak berita mlam ini.
Gemetar ubunku
Ketika Indonesia sudah sepi hilang hikmat,
hanya canda tak berisi
Indonesia …
Indonesia …
Seperti kapas terbang dari tangkai
Terombang-ambing angin barat
dengan belenggu
temali uang berdebu.
Indonesia…
Seperti itu kini aku melihatmu.
Perlis, 15 juni 2010
SEPERTI BENIH KAPAS
Seperti ribuan benih kapas
di atas altar peribadatan
aku melihat doa’- do’a dari kitab suci
yang melantun pada malam keagungan.
Riak kemricik air kali,
mengantar bisik kecil
untuk perenungan kisahmu
Rosul…
Sebagai perjamuan embun
mengalir ke sungai jasad ini
sampai akhir hayat ini.
Surabaya , 23 Juni 2010
MUNGKIN SUDAH TAKDIR
Mungkin sudah takdir.
Tuhan…
di setiap rongga-rongga tulang
kau alirkan rasa seribu tanya
tentang bumi dan langit
tentang perjalanan planet
tentang aliran meteor di sungai-sungai angkasa
sejengkal detik di kehidupan ini
menyusun hembus nafas
lembut…
selaksa air telaga kencana
dari kayangan suralaya.
Mungkinkah kabarmu
Datang dari lentera kecil
Di hati ini robbi…?
Tunjukkan jawaban mutiara
Yang datang dari candela hati.
Surabaya, 09 Nov 2009
1000 Mata dunia
Satu!
dua!
tiga!
Sedikit kaki melangkah dari tangga perpisahan
hati kalian teman.
Aku membaca dunia
Lewat seribu busana keanggunan
Ada jas dengan dasinya,
Ada seragam kuning dengan sapu lidinya,
Ada rompi dengan peluit parkirnya,
Wajah merah dengan kayu ditangannya,
Ada peluk penuh akan cinta.
Bahkan,
Ada …
Ada …
Ada …!
Ada-ada saja.
Surabaya , 24 Nov 2009
Sajak-Sajak Heri Listianto
JALAN HATI
Baru saja ku tutup
Satu jalan dari selatan desa kenangan
bumbu rindu pada keagungan nama Negara
dan seratus teriakan masa
melihat gumpal tanpa isi
terkupas siulan raja.
ku lihat tetes air mata
menelusur sungai abadi dari dalam qolbunya
menangisi Surabaya.
Perlis Selatan, 31 Mei 2010
KETIKA TANAH MASIH UTUH
Satu butir debu tampak depan muka ini
Pada siang gersang
yang mengelucut rumput kota.
Dulu…
ketika tanah masih utuh,
dan kaki berjalan tanpa alas
Masihkah ingat?
burung berjinjing selaksa putri
dari danau utara
dengan sepatu kacanya.
adakah bunga merekah di dataran sejuk?
seperti rumput memanjang
ke sungai bengawan solo
Hingga ujung-ujungnya
Hilang dalam semak.
Perlis, 31 Mei 2010
DAUN TANPA NAMA
Seperti musim lalu
Engkau membius sukma
dengan sehelai kain suci saat itu.
Lagu indah yang bertasbih
menemani setiap jengkal langkah
rasaku kepadamu
dari ujung rumputan sawah ujung desa
hingga pohon kering di pinggir jalan kota
satu asma berjalan
lewat hati kecil ini.
tapi sayang,
tak ada jejak kaki kambing
dan embun pagi saat itu.
Hanya angin dan sehelai daun tanpa nama
Ada dalam kantongku.
Surabaya , 13 juni 2010
Andai dulu …
Sungguh tak tertulis pada takdir ini,
Sebuah pertemuan
dalam tragedi maya
yang selalu ada dalam benak ini
engkau bersiul memanggil angin
sebagai sajak rindu
dari kedalaman samudera tanya
adakah lembut benih tumbuhan
senja saat ini
seperti benih kapas yang lembut
selembut namamu.
Surabaya , 22 Juni 2010
HEMBUS ANGIN DAUN SEROJA
Adalah seputih buga seroja
Lembut kebatinan mu
Pada sungai kasih ini dinda.
Walau …
Aku bagai terkurung
Dalam samudera ranjau
dan kuncup duri di padang rumput
Semoga bertahan dalam jiwa.
Dlikir perenunganku pada bumi
dan pertemuanku padamu
dalam dunia mimpi
Surabaya , 23 Juni 2010
Baru saja ku tutup
Satu jalan dari selatan desa kenangan
bumbu rindu pada keagungan nama Negara
dan seratus teriakan masa
melihat gumpal tanpa isi
terkupas siulan raja.
ku lihat tetes air mata
menelusur sungai abadi dari dalam qolbunya
menangisi Surabaya.
Perlis Selatan, 31 Mei 2010
KETIKA TANAH MASIH UTUH
Satu butir debu tampak depan muka ini
Pada siang gersang
yang mengelucut rumput kota.
Dulu…
ketika tanah masih utuh,
dan kaki berjalan tanpa alas
Masihkah ingat?
burung berjinjing selaksa putri
dari danau utara
dengan sepatu kacanya.
adakah bunga merekah di dataran sejuk?
seperti rumput memanjang
ke sungai bengawan solo
Hingga ujung-ujungnya
Hilang dalam semak.
Perlis, 31 Mei 2010
DAUN TANPA NAMA
Seperti musim lalu
Engkau membius sukma
dengan sehelai kain suci saat itu.
Lagu indah yang bertasbih
menemani setiap jengkal langkah
rasaku kepadamu
dari ujung rumputan sawah ujung desa
hingga pohon kering di pinggir jalan kota
satu asma berjalan
lewat hati kecil ini.
tapi sayang,
tak ada jejak kaki kambing
dan embun pagi saat itu.
Hanya angin dan sehelai daun tanpa nama
Ada dalam kantongku.
Surabaya , 13 juni 2010
Andai dulu …
Sungguh tak tertulis pada takdir ini,
Sebuah pertemuan
dalam tragedi maya
yang selalu ada dalam benak ini
engkau bersiul memanggil angin
sebagai sajak rindu
dari kedalaman samudera tanya
adakah lembut benih tumbuhan
senja saat ini
seperti benih kapas yang lembut
selembut namamu.
Surabaya , 22 Juni 2010
HEMBUS ANGIN DAUN SEROJA
Adalah seputih buga seroja
Lembut kebatinan mu
Pada sungai kasih ini dinda.
Walau …
Aku bagai terkurung
Dalam samudera ranjau
dan kuncup duri di padang rumput
Semoga bertahan dalam jiwa.
Dlikir perenunganku pada bumi
dan pertemuanku padamu
dalam dunia mimpi
Surabaya , 23 Juni 2010
Sajak-Sajak Heri Listianto
Alam Berburu
benar atau tidak
sebauh butir tetes dan mengalir
meminjamkan suara dan dentuman jantung
malam itu.
gunung gemuruh,
banjir berburu sinyal putih dan hitam
menyibak melewati bumiku.
sudah lebih dari lima tahun
alam berburu dengan bencana
menggubah wajah bumi ini.
bumi yang sudah kehilangan kesejatian merah putih.
biarkan alam melukis bumi
biar alam menuliskan sajak merah putih
biarkan alam mencari bibit-bibit suci
biarkan gelisah terendam jiwa
melihat alam berburu nyawa.
lima arah angin bertiup seketika
menutup perburuan saat itu. sampai,
bumi terlihat gersang tak berpenghuni.
Surabaya, 28 Oktober 2010
WASIOR - PAPUA BARAT
Sebagai do’a sahabat…
siraman air suci berisi do’a
Terhantar lewat bumi pertiwi ini.
Gempa, ombak, angin, dan panas tak menentu.
Sajakku merangkai luh pada malam ini
Air naik ke bukitan
Tanah meleleh kepanasan
Aliran menggulung nyawa dan pemukiman
Sebuah tragedi
Banjir bandang bercapur batuan.
Surabaya, 4 oktober 2010
RAP
Dan… tubuhmu
Menghias setiap pandang persimpangan
jalan–jalan kampus ini
;sebuah Rap
Alas kaki menggesek setiap menelapak.
Gaduh meredah
senyap membanjiri suasana
Hati melebur menjadi darah
ubun gemetar tak berirama,
menyimak suara itu.
Benar ataupun tidak?
Sebuah suara datang dari sepasang sepatu.
Surabaya, 12 oktober 2010
BUNDA
Menyebut namamu ibu …
Teringat buih di laut biru
Menyebut namamu ibu …
Bagai lentera di malam haru
Ibu …
Seikat permata
Tidak bisa mengganti jasamu
Jasa ketika aku kau pangku.
Ibu…
Dengan hati aku kau asuh
dengan rasa aku kau sentuh
ibu…
Tersimpan namamu dalam kalbu.
Surabaya , 20 – April – 2010
Trauma Mak...
Seamakin mlang nasibku mak...
terlihat kepulan asap jatuh dari gunung itu
getaran datang terburu
mengguncang bumi dan lautan biru
semakin sedih aku mak...
bulan menampakkan raut cemberut
menggundang gerhana
sebagai tanda masa itu
masa di beberapa tahun lalu
saat kita mengungsi kebanjiran ke lamongan
semakin gembira mukaku mak...
melihat kampung cerah
setelah semua bencana aredah.
tapi...
aku takut mak...
trauma!
jika melihat bumi, air, dan angin marah.
Surabaya, 29 Agustus 2010
benar atau tidak
sebauh butir tetes dan mengalir
meminjamkan suara dan dentuman jantung
malam itu.
gunung gemuruh,
banjir berburu sinyal putih dan hitam
menyibak melewati bumiku.
sudah lebih dari lima tahun
alam berburu dengan bencana
menggubah wajah bumi ini.
bumi yang sudah kehilangan kesejatian merah putih.
biarkan alam melukis bumi
biar alam menuliskan sajak merah putih
biarkan alam mencari bibit-bibit suci
biarkan gelisah terendam jiwa
melihat alam berburu nyawa.
lima arah angin bertiup seketika
menutup perburuan saat itu. sampai,
bumi terlihat gersang tak berpenghuni.
Surabaya, 28 Oktober 2010
WASIOR - PAPUA BARAT
Sebagai do’a sahabat…
siraman air suci berisi do’a
Terhantar lewat bumi pertiwi ini.
Gempa, ombak, angin, dan panas tak menentu.
Sajakku merangkai luh pada malam ini
Air naik ke bukitan
Tanah meleleh kepanasan
Aliran menggulung nyawa dan pemukiman
Sebuah tragedi
Banjir bandang bercapur batuan.
Surabaya, 4 oktober 2010
RAP
Dan… tubuhmu
Menghias setiap pandang persimpangan
jalan–jalan kampus ini
;sebuah Rap
Alas kaki menggesek setiap menelapak.
Gaduh meredah
senyap membanjiri suasana
Hati melebur menjadi darah
ubun gemetar tak berirama,
menyimak suara itu.
Benar ataupun tidak?
Sebuah suara datang dari sepasang sepatu.
Surabaya, 12 oktober 2010
BUNDA
Menyebut namamu ibu …
Teringat buih di laut biru
Menyebut namamu ibu …
Bagai lentera di malam haru
Ibu …
Seikat permata
Tidak bisa mengganti jasamu
Jasa ketika aku kau pangku.
Ibu…
Dengan hati aku kau asuh
dengan rasa aku kau sentuh
ibu…
Tersimpan namamu dalam kalbu.
Surabaya , 20 – April – 2010
Trauma Mak...
Seamakin mlang nasibku mak...
terlihat kepulan asap jatuh dari gunung itu
getaran datang terburu
mengguncang bumi dan lautan biru
semakin sedih aku mak...
bulan menampakkan raut cemberut
menggundang gerhana
sebagai tanda masa itu
masa di beberapa tahun lalu
saat kita mengungsi kebanjiran ke lamongan
semakin gembira mukaku mak...
melihat kampung cerah
setelah semua bencana aredah.
tapi...
aku takut mak...
trauma!
jika melihat bumi, air, dan angin marah.
Surabaya, 29 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito