Judul Buku: Bunga Rampai PMK: Bergerak dengan
Nurani
Penulis: Laskar PMK 1-3
Penerbit: Forum Sastra Surakarta
Cetakan: I, 2017
Peresensi: Ahmad Muhli Junaidi *
Boleh jadi, fenomena korupsi yang
semakin merebak dengan bukti semakin banyaknya pejabat negara, baik di
tingkat pusat maupun daerah yang ditangkap OTT oleh KPK, disebabkan betapa
kotornya hati nurani pejabat publik itu. Nurani yang kotor akan menyebabkan
tindakan mereka jauh dari nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Nurani yang
kotor, menyebabkan hati menjadi culas dan serakah. Gaji berapa pun
besarnya yang diterima para pejabat itu, tidak akan mencukupi di hadapan nurani
yang kotor.
Kini
saatnya, penyair Indonesia dari berbagai daerah merespons secara nyata
dengan bergabung dalam gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK). Gerakan ini mau tak
mau harus dilakukan di tengah kian sistemik dan canggihnya laku korupsi.
Gerakan yang mendesak digulirkan sebagai sarana mempresentasikan seruan moral
kepada masyarakat, agar secara filosofis dan praktis turut mewaspadai munculnya
nurani kotor yang bermental korupsi sejak dini, serta mencegah perilaku korup
yang lebih lanjut.
Sebagaimana
dicatat Sosiawan Leak dalam halaman cover belakang Bunga Rampai PMK;
Bergerak dengan Nurani ini. Gerakan Puisi Menolak Korupsi mengambil posisi
sebagai gerakan kultural. Melengkapi gerakan lain yang dilakukan sejumlah unsur
dari berbagai lapisan masyarakat.
Gerakan
ini pada hakikatnya menyatu dan padu dengan semua kekuatan yang beriktikad
mengawal proses ”perjalanan” pejabat negara dalam membangun bangsa ini
yang berkeadilan dan bermartabat, terhindar dari rasuah. Gerakan ini juga
menjadi sarana bagi penyair menyatakan sikap tegas, mendedah untuk menolak
perilaku hidup korup. Di samping itu, PMK didirikan sebagai usaha minimal para
sastrawan melalui sajak-sajaknya guna selalu membersihkan nurani dari tindakan
korupsi.
Konten
buku ini adalah catatan-catatan sastrawan nasional Indonesia berbentuk esai.
Semuanya berisi informasi mendalam perihal PMK dalam kaitannya dengan road show
penyair untuk memperjuangkan sikap antikoruptif melalui hati nurani yang bersih,
terhindar dari tindakan culas dan serakah.
Terhimpun 79
esai dibagi pada lima tema. Yaitu, pertama, Episode
Gerakan yang menghimpun 37 esai. Tema kedua Episode
KONNAS terdiri dari 12 esai. Tema ketiga Episode Road Show yang
berisi 24 laporan laskar PMK di berbagai kota seluruh Indonesia. Dan tema
Episode Langgam berisi 1 esai khusus dari koordinator PMK Sosiawan Leak.
Kemudian ditutup oleh Episode Khazanah yang menampilkan laporan-laporan
kegiatan PMK pada road show di atas. Keseluruhan materi dalam buku ini disusun
secara sistematis dan jelas.
Esai
yang terhimpun bukan esai picisan. Sejumlah nama besar ada dalam buku ini.
Misalnya Bambang Widiatmoko menulis esai berjudul Ketika Korupsi Menjadi
Puisi (hlm. 31). Beni Setia menulis Melawan Korupsi Sampai Akhirat (hlm.
37). Ahmadun Yosi Herfanda menulis Arti Puisi di Tengah Zaman Korup (hlm.
217). Lathifah Edib menulis Puisi, Korupsi, dan Makna
Perjuangan (hlm. 235), dan sebagainya. Berbagai penulis andal terhimpun
dengan apik dan menarik.
Di
bagian Episode Langgam, dengan esai berjudul Puisi Menolak Korupsi; Bergerak
dengan Nurani yang ditulis koordinator PMK, benar-benar membetot
perhatian peresensi. Dalam esai inilah gerakan PMK dijabarkan dengan luar biasa
hebat dari; dasar pemikiran didirikannya PMK, keuangan PMK, gerak PMK,
kemandirian ideologi dan ekonomi PMK, sampai diadakannya Konferensi Nasional
(Konnas) PMK pertama pada 2016 di Semarang (hlm. 381-391).
Sosiawan
Leak mengungkap dengan baik alasan PMK berdiri. Adalah ide dari Heru Mugiarso
(penyair ’priayi’ Semarang) itu yang mula-mula disampaikan kepada Bung Leak,
demikian ia biasa dipanggil, untuk menjadi koordinator penyair nasional demi
bergerak melawan korupsi. Secara spontan ide itu ditanggapi dengan kalimat
tanya, ”Dari mana duitnya?”
Pertanyaan
itu ia kemukakan ke Heru. Sebab selama ini ada kecenderungan bahwa jika tema
koruptif menjadi inti dari puitik jalur ini akan dituduh pendangkalan atas
puisi-puisi. Sebab di dalamnya akan timbul kata-kata banal, profan,
pamfletis, dan propagandis. Bung Leak memprediksi cara berpuisi seperti itu
tidak akan digemari oleh ”pasar” yang selama ini lebih percaya kepada
teknik berpuisi lewat simbolisme mendayu, buaian metafora, serta pengucapan
makna puitik dari wilayah buram dan kegelapan (hlm. 382).
Kekhawatiran
itu menjadi sirna setelah ditawarkan kepada para penyair nasional, bahkan
internasional. Akhirnya, dukungan terus bergelora dari penyair semisal Acep
Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmadun Yosi Herfanda, Aming Aminuddin, Arsyad
Indradi, Badaruddin Amin, Darman Moenir, Dimas Arika Mihardja, Gola Gong,
Sutardji Chalzum Bahri, Yanusa Nugroho, dan lain-lain. Dengan begitu banyaknya
dukungan, baik dana maupun karya dari penyair-penyair di atas, PMK mempunyai
kedudukan strategis dan mulai diperhitungkan berbagai kalangan.
Secara
keseluruhan buku yang lumayan tebal ini sangat baik untuk dimiliki sebagai
awalan mengetahui apa dan mengapa PMK itu. Bagi pembaca yang mempunyai
keseriusan mendukung pemberantasan korupsi, peresensi sarankan agar membaca
tuntas buku ini. Selanjutnya, pembaca bolehlah bergabung dengan Bung Leak
untuk bersama-sama berkontribusi pada dunia sastra dengan cara mengirimkan
karya-karya terbaiknya dalam PMK-PMK.
Mari
kita dukung KPK dengan cara bergabung kepada PMK ini. Yaitu cara penyair
Indonesia yang bergerak dengan nurani yang bersih. Insya Allah, jika kita
sama-sama berkomitmen dalam menolak korupsi, pada suatu saat negara ini akan
terbebas dari perilaku kotor dan penghancur sendi-sendi negara tersebut. Mari
”satu hati tolak korupsi!”
_________
*)
Laskar PMK 6 yang berprofesi sebagai guru sejarah di SMA 3 Annuqayah dan SMA
Assalam, Cenlecen, Pakong, Pamekasan. https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/09/03/11459/melindungi-nurani-dari-tindakan-koruptif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar