M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
PENGANTAR
Cinta sebagai sesuatu yang lumrah dalam kehidupan manusia, yang di dalamnya dipenuhi dengan puja-puji atas sesuatu yang dicintai. Hidup yang dipenuhi dengan rasa cinta, membuat kehidupan menjadi lebih indah dan bermakna. Cinta yang menjadikan hidup indah, dan indah di sini tidak mengacu pada keindahan materi, melainkan lebih pada pengaruh dari keindahan rasa yang menentukan eksistensi dari dunia materi. Menurut saya, cinta itu jauh dari apa yang namanya nilai badaniah, karena cinta bersifat ruh yang suci dan membawa manusia pada jalan terang yang memabukkan.
Ibnu Al-Arabi (Shah, 1985: 95) mengungkapkan suatu “Cinta Istimewa” yang mana mampu memilih dalam pengungkapan yang lebih, “keindahan-keindahan semata terdiamkan: sifat kesederhanaan melimpah”. Bahwa cinta itu tidak hanya mengacu pada sesuatu yang indah secara bentuk, namun memberikan nilai yang lebih dari itu. keberadaannya terkadang tersembunyi, karena bersifat ruh dan berada di dalam jiwa manusia.
Perjalanan manusia, hakekatnya dimulai dari rasa cinta akan sesuatu. Cinta juga dapat dikatakan sebagai rangsangan dari dalam diri yang menggerakkan manusia untuk berbuat sesuatu demi mencapai sesuatu yang dicintai. Cinta sebagai rasa yang sejati dan mampu menjauhkan manusia dari kejahatan, walau terkadang, ketika cinta memiliki cabang, cinta bisa menghadirkan berhala baru yang akhirnya menyekutukan Hidup (Tuhan). Cinta itu, menurut Jalaluddin Rumi (Schimmel, 2002: 213) sebagai kehidupan yang abadi, dan melipat-gandakan kehidupan yang menyenangkan.
Karena keberadaan cinta sebagai kehidupan yang abadi dan melipat-gandakan kesenangan, yang tentu saja untuk manusia, maka seringkali seorang pecinta mengalami keterlupaan pada dunia realitas. Hal ini yang dinamakan sebagai ekstase karena cinta, yang menyenangkan dalam keberlimpahan dapat membuat mabuk. Walau tanpa candu dan minuman berakhohol, manusia dapat mabuk karena cinta. Lebih hebat dari benda-benda yang memabukkan semisal candu dan anggur, cinta bisa membuat manusia seperti manusia gila yang tidak tersembuhkan kecuali oleh sesuatu yang dicintai.
Tulisan ini merupakan hasil dari pembacaan dan pemahaman, kemudian saya berusaha menafsirkan dari karya Nurel Javissyarqi berjudul “Musik-Tarian Keabadian, V : I – LXXIV” dalam antologi puisi “Kitab Para Malaikat” yang diterbitkan Pustaka Pujangga tahun 2007. Saya mencoba menguraikan bagaimana pengalaman Nurel Javissyarqi dalam perjalanan pengelanaannya untuk menuliskan energi-energi cinta yang ditemui.
JALAN KE-WIKU-AN
Tidak bermaksud menisbatkan sesuatu, namun menurut saya pribadi, seseorang yang berjalan menuruti rasa cinta, seseorang tersebut mencoba jalan yang dilakukan para Wiku. Hal ini disadari argumen, bahwa para Wiku itu sudah berusaha untuk melepaskan kepentingan-kepentingan duniawi yang tidak memiliki manfaat untuk perjalanan manusia yang lebih panjang di alam akhirat. Atau, para Wiku menjalani kehidupan di jalan tertentu yang mereka percayai untuk mencapai tarf hidup yang lebih tinggi, misalnya moksa dalam ajaran Hindu-Budha ataupun Penyatuan (mahrifat) dalam tasawuf Islam.
Saya memiliki alasan khusus dengan menggunakan istilah Wiku, bukan rahib atau Biksu walau dari keseluruhan istilah yang ada merujuk pada satu makna, yaitu para pemeluk teguh dari suatu agama atau keyakinan. Hanya saja, istilah Wiku lebih umum untuk semua kalangan, sebagai manusia bijak (manusia Jawa yang bijak) dan memiliki kedekatan dengan manusia, alam, dan tatanan kosmos lain yang lebih tinggi, serta Hidup (Tuhan).
Hal mendasar ketika saya menuliskan ini, bahwa dalam pemahaman saya ketika manusia berusaha berjalan di perjalanan cinta dia seperti seorang Wiku, yang berusaha sebijak mungkin. Karena bagaimana pun juga, jalan hidup seorang Wiku digerakkan oleh cinta, yang entah karena cinta pada diri sendiri karena ingin mencari keselamatan, cinta pada manusia yang berusaha memberikan pencerahan hidup, dan cinta pada Hidup (Hyang atau Tuhan) demi mendapatkan cinta kasih-Nya.
Jalan seorang Wiku dapat saya temukan di dalam puisi Musik-Tarian Keabadian karya Nurel Javissyarqi pada ayat:
Di atas ketinggian dahan, ruh para malaikat penunggu bukit datang berseru,
bergelombang siur bayu berkilau membusa liar di pantai pada kulit luka menerawan,
ia menghisap arus keringat perjuangan, haus akan madu kepujanggaan (V : IV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Ketika kita berusaha untuk memahami sebuah langkah awal yang dimiliki oleh seorang Wiku dalam memulai perjalanannnya, dapat dikatakan sebagai pengetahuan mengenai sesuatu hal. Perjalanan di dasari oleh pengetahuan, sebab pengetahuan membawa pada kesadaran seseorang untuk menjalani sesuatu yang di dalamnya jauh sekali dari apa yang namanya paksaan. Cinta adalah gerakan hati, karena itu keberadaannya di dasari oleh kesadaran yang tanpa paksaan. Tidak ada cinta yang memaksa, baik untuk mencintai atau cintai.
Seperti halnya, sebagai contoh cinta manusia kepada Tuhan, dimana seorang hamba memiliki pengetahuan akan keesaan Tuhan. Pengetahuan dapat didapat dari lima indera manusia, yang akan membawa suatu rasa nikmat ketika manusia dekat pada apa yang diketahui dan dicintai. Dan apabila cinta mengikuti pada apa yang diketahui dan dikenal, maka cinta akan terbagi menurut pengenalannya yang melalui panca indera (Al-Ghazali, 1994: 511). Akantetapi, cinta berangkat dari pengetahuan itu, yang melalui panca indera manusia bisa mengenal, sehingga menurut saya ini yang mendasari Nurel Javissyarqi mengatakan: “di atas ketinggian dahan”.
“Di atas ketinggian dahan” sebagai langkah awal mengenai suatu perjalanan. Pengetahuan dari indera hanya sebagai langkah awal bagi sang Wiku sampai dalam babak perjalanannya mendengarkan “ruh para malaikat penunggu bukit datang berseru”. Seruan di sini dapat kita pandang sebagai buah dari pengetahuan indera mengenai sesuatu. Karena ini dalam konteks Jalan Ke-Wiku-an, maka saya langsung merujukkan pada aspek spiritualitas. Seruan malaikat yang menunggu bukit (baca: tempat tinggi dalam aspek spiritual) agar sang Wiku tidak berhenti dalam menimba ilmu. Hal ini bisa ditilik, antara dahan dan bukit lebih tinggi bukit sehingga, sang Wiku yang memiliki pengetahuan mengenai sesuatu hal diseru dari atas, dari keilmuan yang lebih tinggi.
Seruan ini merupakan panggilan bagi orang yang memahami karena memiliki pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan serta kesadaran yang akhirnya menumbuhkan cinta membuat sang Wiku untuk mau meniti jalan demi mencapai pengetahun yang lebih tinggi. Tentu saja, pengetahuan yang tidak dapat diraih dengan kemampuan panca indera. Cinta yang merupakan kehidupan serta cahaya (Al-Jauziyah, 2009: 421) akan membawa manusia untuk memahami lebih jauh melalui indera keenam yang bertempat di hati (Al-Ghazali, 1994: 512).
Seruan malaikat itu, tentu saja musti di dengar dengan indera keenam, melalui rasa sejati (sanubari manusia). Ketika manusia hendak menjalani seruan itu, dia pun akan merasakan hidup yang dipenuhi penderitaan, yang “membusa liar di pantai pada kulit luka” yang mana menyatakan penderitaan ini hanya sebatas pada resiko yang sungguh tidak sebanding dengan kenikmatan cinta. Hal ini, ketika kita menempuh jalan cinta seorang Wiku pada Tuhan untuk mencapai kebijaksanaan maka seperti sabda Rasulullah SAW ketika seorang sahabat mengatakan, “aku mencintai Allah Ta’ala” maka Rasulullah SAW bersabda: bersedialah untuk menghadapi bala’ (cobaan)” (HR. At Tirmidzi dalam Al-Ghazali, 1994: 505).
Karena itu, untuk siap menghadapi cobaan dari Allah, manusia yang menempuh jalan ke-Wiku-an mesti mampu untuk “menghisap arus keringat perjuangan” yang Nurel Javissyarqi ungkapkan. Dan menurut saya, “menghisap arus keringat perjuangan” sebagai tapak jalan dalam memperoleh ilmu pengetahuan mengenai agama, pun mengenai kehidupan serta tingkatan-tingkatan cinta. Lalu, Nurel Javissyarqi pun mengatakan: “haus akan madu kepujanggaan” yang menyatakan nilai dari keluhuran karya seorang pujangga. Bukan pada seorang pujangganya, namun lebih pada karya yang dihasilkan.
Hal ini dapat ditilik dari pandangan Aristoteles (dalam Ratna, 2007: 70) yang mengungkapkan berfungsi karya seni untuk mensucikan jiwa manusia (Aristoteles dalam Ratna, 2007: 70), maupun pendapat dari Imam Al-Ghazali (Abdul Hadi W.M., 2004: 34) yang menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan karya seni terhadap jiwa manusia sangat besar, dan karenanya menentukan pembentukan moral dan penghayatan keagamaannya. “Madu kepujanggaan” mengarahkan manusia untuk belajar kebijaksanaan dari seni.
“Madu kepujanggaan” karena itu, Nurel Javissyarqi melanjutkan puisinya dengan:
Sesobek-sobek kenangan ganjil dalam puisi,
kau pegang bagi teori atas hukum-hukummu (V : IX) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31).
Rangkaian kata yang tadinya mengandung kemajemukan makna, Nurel Javissyarqi sederhanakan menjadi “sesobek-sobek kenangan ganjil dalam puisi” yang lebih memberikan pengertian secara sederhana. “Sesobek-sobek kenangan” dapat kita pahami sebagai penggalan dari sebuah pengetahuan mengenai hal yang “ganjil”. Kita perlu mengingat kalau istilah “ganjil” lebih merujuk pada keanehan atau keindahan yang ada di luar batas manusia, sehingga dengan ini saya pun menyimpulkan istilah “ganjil” bermakna pada keesaan dan kekuatan Tuhan. Seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari (Al-Qasimi, 2010; 293), Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara syair itu ada hikmah”.
Hikmah atau patahan-patahan ilmu kebijaksanaan yang membawa manusia pada jalan cinta ini lah yang layak untuk pahami. Bahkan, secara radikal kita bisa saja mengatakan Quran sebagai serangkaian puisi yang Tuhan Semesta Alam turunkan ke bumi untuk menjadi pegangan Kitab Islam sehingga agama tersebut menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin. Sehingga puisi yang Nurel Javissyarqi maksudkan adalah Quran itu sendiri, yang akhirnya bagi seorang pejalan yang menempuh jalan ke-Wiku-an, akan menggunakan Quran (baca juga: kitab suci) sebagai penunjuk jalan. Itu yang mungkin saja dimaksudkan Nurel Javissyarqi dengan: “kau pegang bagi teori atas hukum-hukummu”, yaitu adalah puisi sebagai simbolisme dari kitab suci. Untuk mencapai tingkatan tinggi, jalan kebatinan (tasawuf Jawa) mengenal tingkatan-tingkatan, yaitu sarengat, tarekat, hakekat, mahrifat (Mulder, 1984: 24-25).
Menjadi seorang pejalan yang menempuh untuk mencapai taraf yang lebih tinggi, menjadi seorang Wiku atau seorang pecinta yang mencapai ma’rifat, maka manusia hendaknya menjadikan Quran (kitab suci) sebagai pegangan hidup dan hukum. Selain itu, ada aspek lain yang berada di luar diri manusia yaitu alam semesta yang mana, dalam Quran surat Adz-Dzariyat ayat 20, yaitu: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yaqin” dan melalui tanda-tanda itu, manusia bisa belajar mengenai hakekat kehidupan.
Dari alam itu, kita bisa belajar mengenai hakekat dalam perjalanan ke-Wiku-an ini:
Menimbang tidak lebih berat,
bayangkan ia awan, kau pelajar di matanya (V : XXIX) (Kitab Para Malaikat, 2007: 32)
Belajar dari alam mengenai kehidupan, hakekat hidup dan bagaimana menjalani kehidupan agar menjadi bijaksana. Sebab, seorang Wiku adalah sosok yang dekat dengan alam yang merupakan tempat dimana Tuhan memanifestasikan kekuatannya. Untuk itu, dalam tradisi Jawa mengenal adanya “memayu-hayuning bawana” yang oleh Sosrosudigdo diterjemahkan sebagai menguasakan keselamatan dunia pada umumnya (Mulder, 1984: 39-40). Istilah menjaga keselamatan adalah dengan membaca tanda-tanda alam, yang secara tidak langsung menjadikan alam sebagai guru bagi kehidupan manusia. Seperti para petani yang menggunakan tanda-tanda alam dalam kerja pertanian mereka.
Bersinggungan dengan kondisi ini, saya teringat dengan lagu yang dinyanyikan Ebit G. Ade, berjudul “Bahasa Matahari”, dimana mempelajari alam dengan kalimat rahasia karena Tuhan menghendaki manusia memelihara bumi dan isinya. Alam menjadi suatu medan pembelajaran bagi manusia yang menempuh jalan ini. Di dalam alam itu, terkadang Tuhan memberikan pertanda mengenai sesuatu, sehingga manusia Jawa memiliki ilmu titen atau menandai dengan skema gathak-gathuk yang dilandasi dengan rasa sejati.
Belajar dari alam ini, Nurel Javissyarqi tegaskan kembali dalam ayat:
Usah menyebut di masa kapan ialah sudut menjangkau kepenuhan,
mengkristal embun daun jati di hutan pelajaran, ambil perekat mahabbah itu
demi untaian rambutmu menghitam panjang sepenantian ganjil abadi (V : LIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Dengan mempelajari alam ini, bisa membuat manusia mengenal hakekat Hidup (Tuhan) secara lebih dalam untuk mencapai tahapan cinta seorang Wiku pada Tuhan (Hyang). Dengan melihat alam, “mempersaksikan kebaikan, kemurahan, karunia dan nikmat Allah yang zhahir maupun yang batin” (Al-Jauziyah, 2009: 427) yang mana dapat menambah rasa cinta tersebut.
Karena itu, “mengkristal embun daun jati di hutan pelajaran” berarti memahami kehidupan, mengenai kebaikan, kemurahan, karunia serta nikmat Allah tersebut, sehingga manusia akan menemukan “perekat mahabbah” pada apa “ganjil abadi”. Sudah saya sebutkan di atas, bahwa istilah “ganjil” bermakna pada keesaan dan kekuatan Tuhan, sehingga perjalanan seorang Wiku adalah perjalanan di jalan cinta menuju Tuhan Yang Maha Abadi.
Dan ketika seorang manusia menempuh jalan ke-Wiku-an ini, tidak perduli seberapa mudanya ia, namun ketika kesadaran dan pengetahuan menuntun untuk melangkah, maka:
Hilang kepemudaan atas kehendak berkepompong, benang-benang
sutramu balutan penari ulat, akan menjelma kekupu di panggung bayangan,
nantinya bakal berkabarkan cahaya kepenuhan (V : XLII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Sehingga, di sana kita menemui bagaimana manfaat dan kelebihan ketika manusia menyadari atas jati-diri seorang Wiku, yang hidup dalam kesederhanaan, kerasnya perjalanan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk umat manusia yang berada di sekitarnya. Dan mungkin saja lebih jauh, karena Wiku adalah pertapa hari dalam penjagaan malam.
MANUSIA CINTA
Manusia cinta, yang saya maksudkan adalah manusia yang mengisi hidupnya dengan cinta. Saya sengaja membedakannya dengan perjalanan ke-Wiku-an, sebab manusia cinta ini keberadaannya kadang tersembunyi dari orang lain, dan terkadang tidak mengindahkan orang lain. Hanya ada dirinya sendiri dan objek yang dicintai. Mungkin saja ini, yang diungkapkan Maman S. Mahayana (2007: vii) dalam mengantari “Kitab Para Malaikat” dengan mengatakan, serangkaian keasyikmasyukan, keterlenaan dan ekstase yang memabukkan dirinya sendiri.
Manusia cinta berusaha keras dengan semua kekurangan, dan mungkin saja keterbatasan pengetahuan. Akantetapi, manusia cinta ini memiliki kadar cinta yang banyak, yang membuatnya berusaha keras menuju yang dia cintai. Perjuangan manusia cinta dapat kita lihat di:
Anak-anak menarik tali pedati seberat beban hidupnya,
Ia terlunta mengamati bening-hening-cermin berserak duka (V : XII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Seperti inilah penggambaran manusia cinta itu. Dia seperti “anak-anak” kecil yang menjadi simbol atas keterbatasan pengetahuan hidup. Pengetahuan di sini merujuk kepada pengetahuan agama dan kebijaksanaan. Jadi, manusia cinta berbekal keinginan untuk membawa kehidupannya pada jalan cinta. Seperti yang Nurel Javissyarqi ungkapkan: “menarik tali pedati seberat beban hidupnya” yang menggambarkan mengenai usaha manusia cinta untuk membawa diri menemui sang tercinta.
Tapi, sebentar, saya masih ragu, apakah ini sebagai penggambaran kehidupan manusia yang memiliki pengetahun sedikit namun menuju pada jalan cinta, atau justru rasa cinta yang besar membuat manusia cinta menjadi seperti anak kecil. Manusia yang berubah kanak karena perasaan cinta terus mendesak, membuat ilmu tidak berjalan selain kekuatan keinginan itu sendiri. Menjadi sesuatu yang cukup logis, ketika manusia cinta dibutakan dan dibodohkan oleh cinta. Sebab, seperti bagi manusia cinta, perbuatan dan ilmu bercampur menjadi satu. Bahkan, manusia itu sendiri sudah tenggelam di dalam cinta.
Keadaan ini dapat kita temukan dalam tulisan Rauf Mazari, Niazi (Shah, 1985: 327) yang mengatakan bahwa: “Cinta adalah Perbuatan, Perbuatan adalah Pengetahuan, Pengetahuan adalah Kebenaran, Kebenaran adalah Cinta”. Dari ungkapan ini, kita bisa menilik kembali mengenai aspek dari perbuatan dan pengetahuan sang manusia cinta. Ia, manusia cinta adalah manusia yang menuruti kehendak hati (cinta) yang terus mendesaknya untuk melakukan gerakan. Di dalam gerakannya, ada pengetahuan dan di dalam pengetahuannya ada kebenaran, setelah itu keseluruhannya bernama cinta.
Sudah tidak ada lagi objek dan subjek, bersatu lebur menjadi satu yaitu cinta. Karena itu, manusia cinta menjadi anak kecil, bahkan Syibli dan Junaid (Shah, 1985: 207) menyatakan kalau kekuatan cinta mampu membuat manusia menjadi gila. Karena kondisi ini, cukup wajar jiwa Nurel Javissyarqi menyatakan: “terlunta mengamati beling-hening-cermin berserak luka” yang mana mereka (manusia cinta) mampu melihat diri dengan jernih. Manusia cinta mampu mengenal dirinya sendiri, sehingga merasa sakit dengan kehidupan manusia yang fana.
Ketika manusia telah mampu melihat dirinya sendiri, tentang bagaimana keadaan hidupnya, maka Nurel Javissyarqi lalu berucap:
Di dasar kesunyian, temukan tangisan tinta hitam di waktu lambat membisu,
berharum kembang khusyuk sesalan kalbu (V : LVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 33)
Diri yang sejati, yang berada di dalam sanubari, kebenaran manusia nampak dengan jelas oleh manusia cinta. Ungkapan “kesunyian” dapat dimaknai sebagai hati manusia, karena sunyi dipandang mengandung nilai keheningan dan tentu saja, adalah kesucian. Hati manusia hakekatnya sunyi, tidak bising dengan keinginan. Gerakan dari hati itu pun pasti, merujuk pada kebaikan yang didasari oleh hakekat dan ruh kehidupan, yaitu cinta dan Tuhan.
Ketika manusia mengedepankan hati, dan dengannya melihat realitas dirinya yang dikejar oleh hawa nafsu, maka hati itu sedikit banyak akan merasakan prihatin. Apalagi kalau itu adalah “tinta hitam” kehidupannya sendiri, maka manusia pecinta akan lebih merasakan sakit, merasa kalau dirinya begitu hina di depan Kekasihnya. “Dasar kesunyian” merujuk pada perenungan manusia atas jalan hidup manusia. Ketika di sana menemukan berbagai “tinta hitam” sebagai perjalanan (baca: takdir) yang sudah terlaksana dan tidak sesuai dengan sanubari, maka manusia cinta pun merasakan kesedihannya.
Kesedihan di sini bukan karena dosa-dosa yang mengancam yang membuatnya masuk ke neraka. Akantetapi lebih pada perasaan tidak pantas untuk bersanding dengan sang Kekasih. Sampai, “berharum kembang khusyuk sesalan kalbu” atas kehidupan yang sudah dijalani. Inilah, hakekat dari hati yang sudah pernah saya bahas dalam uraian “Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyari untuk Diri” bahwa hati manusia adalah pemangku otoritas kehidupan. Dan manusia cinta, meletakkan seluruh perjalanan hidupnya pada hati, arah mana yang musti ditempuh dan bagaimana.
PERTEMUAN RINDU
Bagaimana perasaan kita kalau sedang menanggung perasaan rindu, kemudian disuatu ketika yang sangat kita nantikan, kita bisa bertemu dalam pertemuan rindu untuk melepaskan semua rasa yang ada? Tidak bisa terbayangkan indahnya, menghadapi perjamuan yang membayangi hidup kita setiap tarikan napas. Ini keajaiban rindu, yang tidak hanya sekedar dari rangsangan hebat pada seseorang untuk melakukan sesuatu, yang tentu saja demi tersalurkan hasrat kerinduan tersebut.
Bayu meniup api melambai, bara bergolak ke uluh hati dan prasangka
tumpah merajah prahara, menelusup ke dada, meruh ke dalam sukma (V : II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 31)
Perasaan rindu pada sesuatu yang dicintai selayaknya kejadian angin yang meniup api: “bayu meniup api melambai” yang dapat membuat kerinduan semakin besar. Kerinduan yang semisalnya saja kita umpamakan dengan percikan api kecil di tumpukan daunan kering, maka api itu dapat membesar dan menghanguskan keseluruhan daunan tersebut. Kita lihat saja, berbagai kasus kebakaran hutan yang justru semakin meluas ketika ada angin bertiup. Aspek rindu digantikan oleh aspek “api melambai” sedangkan aspek “bayu” dapat disebut dengan perasaan sendiri yang membawa pada suatu ketergantungan atau perasaan membutuhkan.
Rasa membutuhkan yang tentu saja membuat seseorang untuk bertemu dengan sesuatu yang dicinta menuntunnya untuk melakukan suatu gerakan (entah itu perjalanan atau sekedar menjalankan aktivitas) dalam rangka memuaskan rindu. Al-Jauziyah (2009: 444) memandang rindu sebagai salah satu pengaruh dan hukum cinta, yang sekaligus merupakan perjalanan hati menuju kekasih (suatu yang dicintai) dalam keadaan bagaimana pun. Perjalanan menuju kekasih ini tidak semerta-merta tindakan untuk bertemu, dia dapat berwujud apa saja yang mesti dilakukan dalam usaha mengobati rindu.
Kalau Nurel Javissyarqi mengumpakan rindu sebagai jilatan api, hal ini dapat dipahami, seperti yang juga diungkapkan Al-Jauziyah (2009: 444) bahwa rindu dapat membakar hati dan menghentakkan jantung. Hal ini dapat kita pahami dari berbagai kasus, yang tentu saja merupakan pengalaman pribadi setiap manusia. Bahwa rindu, membuat hati manusia tidak tenang, tidak jenak dalam melakukan berbagai aktivitas, yang ada di dalam benak manusia perindu hanya bagaimana caranya untuk bertemu dengan yang dirindui.
Rindu yang memuncak dan tidak tertahan, kemudian juga tidak tersalurkan akan membawa keresahan yang sangat. Tidak sedikit yang sampai terbawa ke alam mimpi. Resahnya hati dalam merindukan yang dicintai tersebut, oleh Nurel Javissyarqi dikatakan mampu: “bara bergolak ke ulu hati dan prasangka tumpah merajah prahara” yang mengungkapkan mengenai keresahan dimaksud. Resah yang tidak segera terobati akan mendatangkan kekalutan yang membuat seseorang berada dalam keraguan-keraguannya sendiri.
Kita juga bisa melihat mengenai suatu nilai dari sembahyangnya manusia atau pemujaan manusia pada sesuatu. Manusia yang bersembahyang (yang tulus) karena di dorong oleh aspek rindu ini. Keinginan untuk bertemu dan perasaan membutuhkan. Memang kita tidak bisa memukul rata dalam pendapat ini, bahwa tidak setiap orang yang bersembahyang karena rindu, lebih banyak yang karena faktor membutuhkan pertolongan. Akantetapi, ini sebagai penggambaran saja, bahwa dalam konteks religius seorang pecinta yang merasakan rindu pada Tuhannya akan menjadikan sembahyang sebagai media bertemu.
Sampai ketika kerinduan terus ada, kerinduan yang “meruh dalam sukma” seorang pecinta terkadang tidak bisa lepas dari yang dicintai. Ia kemudian melakukan suatu aktivitas yang bisa membuat si pecinta senantiasa bersama dengan yang dicintai. Ketika kita merujukkan khasanah ini pada kecintaan manusia pada Tuhan, maka seperti yang dilakukan para Wiku, maka mereka akan senantiasa meluangkan keseluruhan dari kehidupan mereka untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara bersemedi atau menyepi. Semedi di sini bukan hanya masalah mengenai pemusatan pemikiran, namun di dalamnya terdapat doa, pemujaan, dan tentu saja kontemplasi.
Kerangka bersemadi adalah sebagai perwujudan dari penggunaan keseluruhan waktu (seluruh hidup) untuk berada lebih dengan dengan Tuhan, sehingga di dalam semedi yang terpenting adalah pertemuan itu sendiri. Keadaan diri, saat itu tidak dihiraukan apakah mengalami penderitaan atau berada di ujung kehidupan, sebab pertemuan dengan sang Kekasih (Tuhan) sebagai hal yang paling utama dan menepis semua penderitaan manusia.
Keadaan ini seperti dalam penggambaran Ansari dari Herat (Huxley, 2001: 418) yang menyatakan bahwa: “Ketahuilah bahwa ketika kamu belajar untuk mengabaikan dirimu, kamu akan mencapai yang kamu kasihi.” Perihal yang mana, seseorang tidak lagi memperdulikan diri, hanya mengenai pertemuan dirinya dengan kekasih. Semadi sebagai bagian dari ritual doa yang merupakan aspek dari usaha untuk memenuhi kerinduan kodrati dari hati manusia untuk mencurahkan cinta dan rasa syukur kepada sang Pencipta (Davamony, 1985: 265).
Semadi juga sebagai jalan bagi manusia, dalam literatur Jawa, untuk memusatkan kesaktian, kekuatan kosmis yang ada di dalam dirinya sendiri (Magnis-Suseno SJ, 1985: 104). Semadi, jalan mendekatkan diri pada kehidupan semesta serta Tuhan untuk mencapai kekuatan ketuhanan (atau magis) yang mana sebagai hasil dari kedekatan manusia dengan Tuhan. Pertemuan yang berlangsung lama menjadikan manusia yang bersemadi memiliki keistimewaan yang oleh masyarakat Jawa disebut dengan kasekten atau kesaktian.
Pelaksanaan dari semadi sebagai pelaksanaan dari laku spiritual, yang dapat juga dikatakan sebagai suatu perjalanan menuju kesejatian hidup atau Tuhan. Jalan yang ditempuh dalam perjalanan ini adalah dengan lebih membersihkan hati untuk mencapai kesucian rasa sejati atau aspek ilahi dalam diri manusia. Jadi, perjalanan seorang pecinta dalam mencapai tingkatan religius adalah perjalanan hati, seperti dengan berpuasa, bersemadi, beribadah yang di dalamnya menyangkut shalat dan pujian lainnya.
DI GERBANG CINTA
Manusia yang mencintai, kemudian merasakan gejolak rindu, setelah itu melakukan perjalanan untuk bertemu dengan yang tercinta, dia mengalami keterlupaan pada dunianya. Keterlupaan yang saya maksudkan lebih pada kepasrahan hidup, yang dilakukan secara totalitas. Apalabila dalam khasanah manusia Jawa, totalitas di sini tercermin dalam pandangan nrima ing pandhum, menerima semua hal (nasib) yang sudah digariskan oleh Tuhan. Sifat pasrah dalam konteks ini bukan pasrah pasif, melainkan pasrah yang aktif dimana manusia berusaha keras dan meletakkan semua keputusan di tangan Tuhan.
Sikap nrima manusia Jawa sebagai sikap untuk mau menerima nasib, dan sikap bersabar, yang berarti sikap menerima nasib dengan rela (Koentjaraningrat, 1994: 404). Sabar dan rela, yang menuntun manusia untuk menerima apa pun yang sudah Tuhan berikan dalam jalan cinta. Kepasrahan juga disertai dengan rasa yaqin, dimana nasib yang diterima adalah yang terbaik dari Tuhan. Yaqin mampu memberikan kekuatan dalam melakukan kepasrahan total, sebab “di dalam yaqin tidak ada keraguan sama sekali” (Al-jauziyah, 2009: 352).
Manusia yang pasrah secara total, seperti yang diungkapkan Nurel Javissyarqi dalam ayat berikut:
Kau pena tergolek tidak menghiraukan lelembaran kertas,
membiarkan diri terlelap sampai hilang rasa berkata (V : LXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 34).
“Pena yang tergolek” menjabarkan mengenai pertautan bangunan simbol kepasrahan manusia. Pena, seperti manusia yang dalam gerakan dibutuhkan adanya kekuasaan. Akantetapi, pena di sini membiarkan dirinya tergeletak kalau tidak ada tangan yang menggunakannya untuk membuat suatu garis atau kata. Lalu, tangan siapa yang menggerakkan pena? Itu adalah kekuasaan Tuhan, dimana manusia yang yaqin tidak akan bergerak sama sekali, tidak akan meronta kalau nanti tiba waktunya Tuhan mencelupkannya di dalam cawan tinta atau membiarkan tergeletak begitu saja.
Nuansa yang tergambar di sini, hanya untuk menggambarkan mengenai kematian hawa nafsu manusia. Yang dalam pandangan hidup manusia Jawa, dikatakan sebagai mati sajroning urip lan urip sajroning mati. Orang yang pasrah dalam ketotalitasan, akan nampak seperti orang mati, akantetapi jiwanya terus bergerak menuju yang tercinta. Sebab, ketika Tuhan yang menjadi sang Kekasih, maka hanya dengan kematian itu manusia bisa bertemu Tuhan untuk lebih lama.
Terkuaklah kerahasiaan sedari menampar kekangan,
rindu lebur lenyap sudah dan kematian membangkitkan rasa
dan perasaan menjelma pengetahuan pertama (V : LXXIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 34)
Kepercayaan para pecinta, ketika mereka mencapai kematian mereka mampu untuk mencapai Tuhan, sebab tubuh mereka bersifat duniawi dan tidak mampu menggapai dunia ruh. Sa’di (dalam Seyyed Hossein Nasr et al, 2003: 343) mengatakan bahwa: “Para pecinta terbunuh oleh sang Kekasih [Tetapi] mereka yang terbunuh tidak dapat berbicara”. Terbunuh di sini untuk mencapai aspek penyatuan. Kematian seorang pecinta berarti memasuki kehidupan yang sebenarnya, karena “Orang yang mengetahui kekuatan rahasia perputaran cepat itu, hidup di dalam Tuhan: Cinta sedang membunuh dan menghidupkan mereka – mengetahuinya…” (Rumi dalam Schimmel, 2002: 238).
Lantas, apakah mereka yang terbunuh itu mati? Untuk menjawab dan mengakhiri kajian ini, saya mengutip langsung syair Jalaluddin Rumi (Schimmel, 2002: 238): “Para pecinta aneh – semakin mereka dibunuh, semakin mereka hidup”.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 01 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito
Tidak ada komentar:
Posting Komentar