(In Memoriam KH Muhammad Zaini Abdul Ghani)
Sainul Hermawan
http://www.oocities.org/
Ketika saya masih menempuh pendidikan sarjana di sebuah uni versitas di Malang, sekitar 1992, saya punya teman dari Pasuruan, Jawa Timur, yang selalu antusias menceritakan kharisma KH Muhammad Zaini Abdul Ghani yang akrab dipanggil Tuan Guru Sekumpul. Waktu itu saya tak begitu tertarik pada ceritanya karena apa yang diceritakannya belum menjadi bagian dari pengalaman historis saya. Namun, dari cara dia bercerita, saya bisa menyimpulkan betapa emosinya intim dengan beliau. Pendek kata, dia begitu terpesona dan selalu terinspirasi untuk meneladani perilaku, sikap, cara pandang, dan tutur katanya.
Ketika ada kontroversi goyang ngebor Inul Daratista, saya nun jauh di Jawa membaca nama beliau di majalah nasional dan saya semakin menyadari betapa sempit pengetahuan saya tentang figur ini. Figur yang menggemparkan Kalsel bahkan Indonesia dengan caranya sendiri. Cara yang sama sekali tak populer.
Di tengah rencana penampilan goyang ngebor Inul di empat kota di Kalsel yang sempat dikritik sebagian ulama, bahkan kemudian diharamkan oleh MUI Kalsel, MUI Kabupaten Tanah Laut dan Kotabaru, artis asal Pasuruan, Jatim, itu justru mendapat simpati dari Guru Sekumpul. Inul mendapat kehormatan menjadi anak angkatnya. Saat turut hadir pada pengajian rutin ibu-ibu di Kompleks Sekumpul, Martapura, Sabtu (1/3/2003), setelah menginap di kediaman keluarga beliau, jamaah terperanjat melihat Inul hadir dan duduk berdampingan dengan keluarga Tuan Guru, bahkan didoakan agar tetap tabah dan introspeksi (Gatra, 4 Maret 2003). Sikapnya yang tak populer ini, setidaknya mau berseberangan dengan sikap MUI setempat, semakin membuat saya penasaran pada beliau.
Apalagi ketika studi ke Banjarmasin, saya punya kawan dari Sumenep, Madura. Kawan waktu kuliah di pascasarjana sastra UGM, yang rajin kirim SMS dan titip salam takzim kepada Guru Sekumpul. Kini tak ada lagi kesempatan untuk menyampaikannya. Semoga lewat tulisan ini salam murid beliau yang berada nun jauh di seberang lautan dapat diterima dengan baik oleh keluarga. Ketakziman orang kepada beliau mulai dari tempat terdekat sampai terjauh, mulai dari rakyat melarat sampat pejabat tinggi, mulai dari orang rasional sampai emosional, mulai dari lokal sampai nasional, adalah fakta betapa beliau mampu menembus batas geografis, psikologis, dan sosiologis manusia.
Saya baru benar-benar mengenal kharisma Guru Ijai di sini (sekitar delapan bulan) melalui foto-foto beliau yang dipajang banyak orang di tempat usaha mereka: wartel, layanan fotokopi, warung makan, salon, toko kecil dan besar. Dengan melihat bagaimana foto beliau disikapi sebagian masyarakat Banjar, saya dapat merasakan betapa kharismatiknya beliau. Konon dari balik foto-foto itu, ada banyak kisah kehidupan yang dapat dipelajari. Sampai sejauh ini saya belum tahu pasti, apakah pernah ada studi antropologi yang komprohensif mengenai hal ini.
Bukan hanya lewat gambar, tetapi juga lewat kabar yang saya dengar, betapa merasuk dan meresapnya petuah beliau sehingga pendengar setia dakwahnya tak kuasa untuk tak menyitir nasihat tatkala mereka memperbincangkan dan mencari solusi bagi persoalan hidup. Meski tak dapat menjadi inspirator semua orang, beliau telah menunjukkan kapasitasnya sebagai dinamisator masyarakatnya dengan cara yang penuh kelembutan berperilaku, kesantunan berbahasa, menjauhi ambisi sesaat dan sesat, dan selalu menebarkan senyum kedamaian. Kata kabar yang saya dengar, beliau selalu menegaskan pentingnya penegakan praktik akhlak yang konkret mulai dari akhlak makan, berbicara, tidur, berkeluarga, menyikapi hiburan, dan sebagainya.
Cerita orang tentang beliau dan bagaimana mereka memperlakukan foto beliau membuat saya semakin penasaran dan ingin hadir sekali saja dalam pengajiannya yang konon tidak pernah sepi bahkan selalu kolosal. Sayang, keinginan itu mustahil, sebab pada 10 Agustus 2005 beliau bukan hanya kembali dari Singapura ke Martapura. Tetapi sekaligus kembali ke pangkuan Sang Maha Memiliki hidup ini. Beliau meninggalkan kita selamanya. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Saya dapat merasakan duka lara murid setia dan keluarganya. Semoga semuanya diberi kekuatan, ketabahan, kesabaran, ketajaman pikiran untuk menempatkan suasana duka ini. Sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar meratapi kepergian beliau, adalah kembali tegar dan berusaha untuk melanjutkan visi dan misi perjuangan beliau yang belum selesai.
Salah satu sikap tubuh beliau yang perlu kita, sebagai murid beliau, teladani adalah cara mengelola urat raut wajah. Dari banyak foto beliau yang saya lihat di banua ini, meskipun beliau adalah laki-laki, kesan maskulin yang keras, sangar, dan bengis, sama sekali tak akan kita temukan pada paras beliau yang teduh, sejuk, dan menenteramkan hati.
Saya yakin, meski saya belum pernah bertemu beliau, beliau berdakwah dengan sikap wajah yang pasti didasarkan pada keyakinan bahwa wajah yang teduh dan penuh senyum adalah sarana ibadah yang sangat sederhana, berharga, penuh pahala, tetapi masih jarang dilakukan orang.
Cara beliau menyikapi kontroversi Inul menyiratkan keteladanan untuk mengingatkan dua kubu yang berseberangan, yaitu antara Front Pecinta Inul dan Front Pembela Iman. Sama-sama FPI-nya tetapi beda kepentinganya. Sama-sama Islamnya tetapi beda sikap religiusnya. Dengan caranya sendiri, Guru Sekumpul mendakwahkan cara menyikapi kesesatan. Sikap Guru Sekumpul menyiratkan pesan bahwa orang sesat itu jangan dimarahi, dibenci, dikucilkan, diintimidasi, ditakut-takuti, didiskriminasi, apalagai dikriminalisasi, jika si sesat itu memang ingin dibantu keluar dari kesesatannya. Bukankah orang sesat itu juga manusia? Orang yang tersesat harus disentuh sisi batinnya yang paling lembut agar mau mengubah diri dan kembali ke jalan yang benar.
Beliau mampu menempatkan dengan baik bahwa kebencian pada kesesatan bukan berarti juga membenci manusia yang sesat itu. Kita harus benci judi, tetapi penjudi sebagai manusia harus tetap digauli secara wajar dan kalau bisa kita ajak kembali ke perilaku hidup yang lebih baik. Kalau tidak bisa, tugas manusia hanya menyampaikan dan hidayah keimanan itu adalah hak prerogatif Allah SWT.
Demikian pula ketika Guru Sekumpul menyikapi kontroversi Aruh Ganal. Dalam makalah Ninuk Kleden-Probonegoro yang berjudul The Mamanda Theater and the Redefinition of the Banjar Identity (2002), dia menulis begini: Guru Ijai advised the Governor and the organizing committee on the convention: Aruh Ganal Positif Asalkan Jangan Bahiri-hirian. Guru Ijai blessed the grand convention as long as there was no jealousy among the people. Bahiri-hirian means jealousy among various groups. For example, between Banjar people living outside Kalimantan (who were being asked for their contribution of ideas) and those living in Banjarmasin; between those sitting and not sitting in the organizing committee; between those who consider themselves as indigenous Banjar people and those who are not indigenous Banjar people.
Dari kutipan tersebut, kita bisa menangkap sikap hidup beliau yang selalu menekankan pentingnya silaturahim, kesatuan, persatuan, kerukunan, perdamaian, keadilan, keseimbangan dengan cara menghindari sifat iri dan dengki.
Kisah keteladanan beliau yang juga sempat saya dengar dan saya ingat terus adalah sikap hidupnya yang sederhana dan tidak berkenan berlebihan. Bahkan beliau tidak ragu minta maaf kepada muridnya, tatkala beliau merasa ada keinginan tulus mereka tak dapat beliau penuhi. Misalnya, dalam peristiwa menjelang haulan ke-230 Almarhum Assyekh Assayid Muhammad bin Abdul Karim Al Qadiry Al Hasani Assamman Al Madany atau Syekk Samman. Konon, Guru Ijai mendapat tawaran sumbangan dari umatnya baik berupa uang, beras, sapi maupun lauk-pauk untuk haulan itu. Tetapi beliau menolak dengan cara yang cukup santun, dengan mengatakan: "Saya minta maaf, banyak yang ingin menyumbang untuk haulan Syekh Samman ini, tetapi semuanya sudah mencukupi." (BPost, 30/03/1998).
Dengan cara meneladani yang diajarkan beliau baik lisan maupun tindakan, adalah alternatif untuk memposisikan kharisma dan kenangan tentang beliau secara proporsinal, tidak emosional, dan terhindar dari pengkultusan. Upaya beliau mencari pengobatan sampai ke luar negeri, secara tak langsung menyiratkan pesan bahwa beliau juga bisa berada pada posisi serupa dengan mereka yang telah merasa menemukan penyembuhan Allah SWT melalui perantaraan beliau.
Warisan beliau yang sangat berharga bagi kita, murid setianya, adalah keteladanan sikap beliau yang sabar, terbuka, inklusif, simpatik, sederhana, menyenangkan, menjaga tutur katanya, dan selalu ringan tangan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi muridnya. Meski beliau bukan inspirasi bagi seluruh orang Kalimantan ataupun Indonesia, beliau telah menunjukkan bagaimana cara go regional dan go national dengan cara akhlakul karimah, bukan dengan cara yang penuh muslihat. Sikap ini yang harus selalu kita kenang dan lakukan. Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Dosen PBSID FKIP Unlam, Tinggal di Banjarmasin
e-mail: sainulh@yahoo.com
Sumber: http://www.oocities.org/ejabudaya/jejak_cinta.html
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito
Tidak ada komentar:
Posting Komentar