Kamis, 10 Maret 2011

Jejak Cinta Guru Sekumpul

(In Memoriam KH Muhammad Zaini Abdul Ghani)
Sainul Hermawan
http://www.oocities.org/

Ketika saya masih menempuh pendidikan sarjana di sebuah uni versitas di Malang, sekitar 1992, saya punya teman dari Pasuruan, Jawa Timur, yang selalu antusias menceritakan kharisma KH Muhammad Zaini Abdul Ghani yang akrab dipanggil Tuan Guru Sekumpul. Waktu itu saya tak begitu tertarik pada ceritanya karena apa yang diceritakannya belum menjadi bagian dari pengalaman historis saya. Namun, dari cara dia bercerita, saya bisa menyimpulkan betapa emosinya intim dengan beliau. Pendek kata, dia begitu terpesona dan selalu terinspirasi untuk meneladani perilaku, sikap, cara pandang, dan tutur katanya.

Ketika ada kontroversi goyang ngebor Inul Daratista, saya nun jauh di Jawa membaca nama beliau di majalah nasional dan saya semakin menyadari betapa sempit pengetahuan saya tentang figur ini. Figur yang menggemparkan Kalsel bahkan Indonesia dengan caranya sendiri. Cara yang sama sekali tak populer.

Di tengah rencana penampilan goyang ngebor Inul di empat kota di Kalsel yang sempat dikritik sebagian ulama, bahkan kemudian diharamkan oleh MUI Kalsel, MUI Kabupaten Tanah Laut dan Kotabaru, artis asal Pasuruan, Jatim, itu justru mendapat simpati dari Guru Sekumpul. Inul mendapat kehormatan menjadi anak angkatnya. Saat turut hadir pada pengajian rutin ibu-ibu di Kompleks Sekumpul, Martapura, Sabtu (1/3/2003), setelah menginap di kediaman keluarga beliau, jamaah terperanjat melihat Inul hadir dan duduk berdampingan dengan keluarga Tuan Guru, bahkan didoakan agar tetap tabah dan introspeksi (Gatra, 4 Maret 2003). Sikapnya yang tak populer ini, setidaknya mau berseberangan dengan sikap MUI setempat, semakin membuat saya penasaran pada beliau.

Apalagi ketika studi ke Banjarmasin, saya punya kawan dari Sumenep, Madura. Kawan waktu kuliah di pascasarjana sastra UGM, yang rajin kirim SMS dan titip salam takzim kepada Guru Sekumpul. Kini tak ada lagi kesempatan untuk menyampaikannya. Semoga lewat tulisan ini salam murid beliau yang berada nun jauh di seberang lautan dapat diterima dengan baik oleh keluarga. Ketakziman orang kepada beliau mulai dari tempat terdekat sampai terjauh, mulai dari rakyat melarat sampat pejabat tinggi, mulai dari orang rasional sampai emosional, mulai dari lokal sampai nasional, adalah fakta betapa beliau mampu menembus batas geografis, psikologis, dan sosiologis manusia.

Saya baru benar-benar mengenal kharisma Guru Ijai di sini (sekitar delapan bulan) melalui foto-foto beliau yang dipajang banyak orang di tempat usaha mereka: wartel, layanan fotokopi, warung makan, salon, toko kecil dan besar. Dengan melihat bagaimana foto beliau disikapi sebagian masyarakat Banjar, saya dapat merasakan betapa kharismatiknya beliau. Konon dari balik foto-foto itu, ada banyak kisah kehidupan yang dapat dipelajari. Sampai sejauh ini saya belum tahu pasti, apakah pernah ada studi antropologi yang komprohensif mengenai hal ini.

Bukan hanya lewat gambar, tetapi juga lewat kabar yang saya dengar, betapa merasuk dan meresapnya petuah beliau sehingga pendengar setia dakwahnya tak kuasa untuk tak menyitir nasihat tatkala mereka memperbincangkan dan mencari solusi bagi persoalan hidup. Meski tak dapat menjadi inspirator semua orang, beliau telah menunjukkan kapasitasnya sebagai dinamisator masyarakatnya dengan cara yang penuh kelembutan berperilaku, kesantunan berbahasa, menjauhi ambisi sesaat dan sesat, dan selalu menebarkan senyum kedamaian. Kata kabar yang saya dengar, beliau selalu menegaskan pentingnya penegakan praktik akhlak yang konkret mulai dari akhlak makan, berbicara, tidur, berkeluarga, menyikapi hiburan, dan sebagainya.

Cerita orang tentang beliau dan bagaimana mereka memperlakukan foto beliau membuat saya semakin penasaran dan ingin hadir sekali saja dalam pengajiannya yang konon tidak pernah sepi bahkan selalu kolosal. Sayang, keinginan itu mustahil, sebab pada 10 Agustus 2005 beliau bukan hanya kembali dari Singapura ke Martapura. Tetapi sekaligus kembali ke pangkuan Sang Maha Memiliki hidup ini. Beliau meninggalkan kita selamanya. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Saya dapat merasakan duka lara murid setia dan keluarganya. Semoga semuanya diberi kekuatan, ketabahan, kesabaran, ketajaman pikiran untuk menempatkan suasana duka ini. Sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar meratapi kepergian beliau, adalah kembali tegar dan berusaha untuk melanjutkan visi dan misi perjuangan beliau yang belum selesai.

Salah satu sikap tubuh beliau yang perlu kita, sebagai murid beliau, teladani adalah cara mengelola urat raut wajah. Dari banyak foto beliau yang saya lihat di banua ini, meskipun beliau adalah laki-laki, kesan maskulin yang keras, sangar, dan bengis, sama sekali tak akan kita temukan pada paras beliau yang teduh, sejuk, dan menenteramkan hati.

Saya yakin, meski saya belum pernah bertemu beliau, beliau berdakwah dengan sikap wajah yang pasti didasarkan pada keyakinan bahwa wajah yang teduh dan penuh senyum adalah sarana ibadah yang sangat sederhana, berharga, penuh pahala, tetapi masih jarang dilakukan orang.

Cara beliau menyikapi kontroversi Inul menyiratkan keteladanan untuk mengingatkan dua kubu yang berseberangan, yaitu antara Front Pecinta Inul dan Front Pembela Iman. Sama-sama FPI-nya tetapi beda kepentinganya. Sama-sama Islamnya tetapi beda sikap religiusnya. Dengan caranya sendiri, Guru Sekumpul mendakwahkan cara menyikapi kesesatan. Sikap Guru Sekumpul menyiratkan pesan bahwa orang sesat itu jangan dimarahi, dibenci, dikucilkan, diintimidasi, ditakut-takuti, didiskriminasi, apalagai dikriminalisasi, jika si sesat itu memang ingin dibantu keluar dari kesesatannya. Bukankah orang sesat itu juga manusia? Orang yang tersesat harus disentuh sisi batinnya yang paling lembut agar mau mengubah diri dan kembali ke jalan yang benar.

Beliau mampu menempatkan dengan baik bahwa kebencian pada kesesatan bukan berarti juga membenci manusia yang sesat itu. Kita harus benci judi, tetapi penjudi sebagai manusia harus tetap digauli secara wajar dan kalau bisa kita ajak kembali ke perilaku hidup yang lebih baik. Kalau tidak bisa, tugas manusia hanya menyampaikan dan hidayah keimanan itu adalah hak prerogatif Allah SWT.

Demikian pula ketika Guru Sekumpul menyikapi kontroversi Aruh Ganal. Dalam makalah Ninuk Kleden-Probonegoro yang berjudul The Mamanda Theater and the Redefinition of the Banjar Identity (2002), dia menulis begini: Guru Ijai advised the Governor and the organizing committee on the convention: Aruh Ganal Positif Asalkan Jangan Bahiri-hirian. Guru Ijai blessed the grand convention as long as there was no jealousy among the people. Bahiri-hirian means jealousy among various groups. For example, between Banjar people living outside Kalimantan (who were being asked for their contribution of ideas) and those living in Banjarmasin; between those sitting and not sitting in the organizing committee; between those who consider themselves as indigenous Banjar people and those who are not indigenous Banjar people.

Dari kutipan tersebut, kita bisa menangkap sikap hidup beliau yang selalu menekankan pentingnya silaturahim, kesatuan, persatuan, kerukunan, perdamaian, keadilan, keseimbangan dengan cara menghindari sifat iri dan dengki.

Kisah keteladanan beliau yang juga sempat saya dengar dan saya ingat terus adalah sikap hidupnya yang sederhana dan tidak berkenan berlebihan. Bahkan beliau tidak ragu minta maaf kepada muridnya, tatkala beliau merasa ada keinginan tulus mereka tak dapat beliau penuhi. Misalnya, dalam peristiwa menjelang haulan ke-230 Almarhum Assyekh Assayid Muhammad bin Abdul Karim Al Qadiry Al Hasani Assamman Al Madany atau Syekk Samman. Konon, Guru Ijai mendapat tawaran sumbangan dari umatnya baik berupa uang, beras, sapi maupun lauk-pauk untuk haulan itu. Tetapi beliau menolak dengan cara yang cukup santun, dengan mengatakan: "Saya minta maaf, banyak yang ingin menyumbang untuk haulan Syekh Samman ini, tetapi semuanya sudah mencukupi." (BPost, 30/03/1998).

Dengan cara meneladani yang diajarkan beliau baik lisan maupun tindakan, adalah alternatif untuk memposisikan kharisma dan kenangan tentang beliau secara proporsinal, tidak emosional, dan terhindar dari pengkultusan. Upaya beliau mencari pengobatan sampai ke luar negeri, secara tak langsung menyiratkan pesan bahwa beliau juga bisa berada pada posisi serupa dengan mereka yang telah merasa menemukan penyembuhan Allah SWT melalui perantaraan beliau.

Warisan beliau yang sangat berharga bagi kita, murid setianya, adalah keteladanan sikap beliau yang sabar, terbuka, inklusif, simpatik, sederhana, menyenangkan, menjaga tutur katanya, dan selalu ringan tangan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi muridnya. Meski beliau bukan inspirasi bagi seluruh orang Kalimantan ataupun Indonesia, beliau telah menunjukkan bagaimana cara go regional dan go national dengan cara akhlakul karimah, bukan dengan cara yang penuh muslihat. Sikap ini yang harus selalu kita kenang dan lakukan. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Dosen PBSID FKIP Unlam, Tinggal di Banjarmasin
e-mail: sainulh@yahoo.com
Sumber: http://www.oocities.org/ejabudaya/jejak_cinta.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito