Minggu, 26 September 2010

Sebuah Esei Kenangan Seorang Sastrawan (1)

Dari Era Soekarno ke Soeharto (1)
Gerson Poyk
suarakarya-online.com

Di tahun 1963 aku terdampar di sebuah rumah petak berjendela lebar kawat kandang ayam di Jakarta. Rumah ini terkenal sebagai sebuah sanggar beberapa pelukis, Sanggar Bambu namanya. Ketuanya Sunarto Pr. Di sanggar itu tinggal pelukis Mulyadi, Danarto dan lain-lain. Di ujung bangunan berpetak-petak itu ada petak yang ditinggali seorang ibu yang baik hati yang membuka sebuah warung yang laris. Ibu itu sangat baik hati.
Dengan menyediakan sebuah buku tulis langsing sepanjang dua kali buku tulis biasa dia menyuruh para pelukis dan tamu mereka menulis apa yang dimakan. Beberapa kali menulis di buku itu (berarti berutang beberapa piring) aku memandang mata sang ibu. Celakanya, ibu yang baik hati itu hanya memiliki satu mata sehingga walaupun ia tidak menagih utang, aku merasa ada sinar laser yang datang dari matanya menembus dadaku dan dalam imajinasiku aku terlontar keluar lalu berkata dalam hati, sebaiknya lekas cari kerja untuk membayar utang. Begitulah, dengan menjuual tas kecilku ke tukang loak aku memperoleh seidikit uang untuk ongkos ke harian Sinar Harapan yang terletak di Pintu besar Selatan.

Singkat cerita, gajiku sebagai guru SMP Negeri di Bima, walaupun kecil sudah bisa dianggap berkecukupan kalau datangnya teratur dari Ternate, apalagi kami sekeluarga mendapat rumah dinas dari pemerintah kabupaten. Aku lari dari Ternate ketikat imbul kerusuhan di kota itu sebelum peristiwa Permesta. Gajiku masih harus dikirim dari Ternate tetapi sampai tiga tahun aku menunggu dan menunggu dan untunglah aku bisa mengajar sore dan sekali-=sekali datang honor karangan dari Majalan mimbar Indonesia di Jakarta, majalah Budaya dan Minggu Pagi di Yogyakarta. Dalam keterlambatan gaji dari Ternate, kadang-kadang para petani Bima memberi ubi dan beras. Tiba-tiba anak balitaku menderita kekurangan gizi sehingga kurus kering bagaikan bayi Afrika yang diserang kelaparan. Ketika itu aku berkata, tiga hari lagi bayi afrikaku akan berpulang. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang Pak Usmani, mantri tiga jaman mengatakan bahwa obat dokter perlu diganti dengan minyak ikan. Anakku kekurangan vitamin A dan D. Setelah tiga hari minum balitaku sembuh, tidak mencret-mencret ingus lagi. Sekarang bayi afrikaku yang pernah tinggal tulang mata tenggelam itu menjadi dosen matematika dan ilmu komputer di Universitas Indonesia, sedangkan beberapamuridku di SMP Negeri dan SGA Negeri Bima tempat aku mengajar menjadi pejabat di DKI bahkan ada yang menjadi gubernur. Maaf ini bukan menonjolkan kemiskinan diritetapi mohon pembaca yang budiman merenungkan nasib gerjuta guru di negeri ini yang nasibnya mungkin lebih sengsara dariku.

Gaji sebagai wartawan 30 kali gaji pegawai negeri. Ditambah lagi dengan obat gratis untuk anak isteri dan sepeda motor, maka aku tak perlu kuatir akan kelaparan dan penyakit. Aku tidak lagi jalan kaki-jalan kaki dengan sepatu usang yang ditambal dijahit dan dipaku sehingga pakunya selalu menusuk telapakku ketika pulang balik sekolah.

Aku mendapat pos Hankam. Setiap hari aku meluncur ke Markas Besar Kepolisian diKebayoran, mampi ke Polda, meluncur ke markas Hankam di Merdeka Barat dan ruang Penerangan Angkatan Darat, kemudian keKodam, singgah di Pusat Penerangan Angkatan Laut dan Pusat Penerangan Angkatan Udara diTanah Abang.

Minggu pertama aku harus mengikat perut. Di pagi hari hanya mendapat kopi di meja kantor dengan kopi segelas aku bertahan hidup sampai makan siang di kantor. Tidak ada makan malam karena belum terima gaji. Malamnya aku sering nongkrong di paviliunnya Wiratmo Sukito bersama Gunawan Muhamad dan beruntunglah kalau mereka traktir aku minum kopi atau air jeruk dan ketan panggang. Sudah itu ke kantor majalah si Kuncung yang terletak di ujung jalan Madura, ngobrol bersesak-sesak di kamar sempit penyair Hartoyo Andangjaya bersama teman-teman lain kalau kebetulan mereka ada di sana, antara lain Kirmanto, Salim Said adn Gunawan Muhamad, pelukis Syahwil almarhum lalu meluncur ke tempat Bokor Hutasuhur di Jalan Raden Saleh dan mengeletakkan tubuh di dipan yang terletak di kamar tamu sambil dininabobok oleh mesin tiknya yang tak putus-putusnya menulis sebuah novel. Bokor orang yang disiplin. Sebelum nyenyak aku berkata dalam diri,s ekarang aku menulis di atas roda jurnalistik, demi perut anak isteriku tapi nanti aku harus menulis novel, belajar (membaca), menulis dan menulis. Yang membuat aku penasaran adalah kamar Wiratmo Sukito. Ada beberapa rak yang penuh dengan buku-buku. Tampaknya ia lebih mengutamakanperpustakaan pribadinya itu daripada temapt tidurnya, sebuah dipandengan kasur tanpasprei. Setiap bangun tidur kapuk mengelilingi tubuhnya sehingga ada yang nyeletuk, putri salju bangun.

Buku-buku itu walaupun penuh dengan kepinding, diam-diam merayu aku untuk menjadi kutu buku.

Paviliun dan kantor Si Kuncung berseberangan. Ketua tempat itu merupakan tmepat pertemuan kami, tempat diskusi ngalor-ngidul dan serius, bercanda dan berusil ria. Di masa DS Mulyanto jadi redaktur mejalan Si Kuncung para sastrawan yang sering berkumpul di sana antara lain Ayip Rosidi, Trisniyuwono, Nugroho Notosusanto dan lain-lain. Aku hanya ke sana karena kekagumanku. Ketika aku masih tinggal di Maumere, Flores, sebuah malah angkatan muda yang penuh dengan prosa dan puisi datang dari tempatini. Aku minta ayahku berlangganan majalah itu.Ketikabersekolah di Surabaya, majalan KISAH dan TJERPEN datang adri sini. Aku pernah mengirim cerpenku ke majalah KISAH teatpi majalah itu mati dan cerpenku lalu dimuat di majalah TJERPEN yang dipimpin oleh Nugroho Notosusanto.

Penyair Hartoyo Andangjaya menggantikan DS Mulyanti (Dari Solo). Sangat sunyi di malamhari tetapi ketika aku mendapat sepeda motor dari Sinar Harapan, Hartoyo belajar naik motor di lapangan kecildi samping Si Kuncung. Ketika dia sudah agak bisa aku tinggalkan dia dan aku membuntuti Satyagraha Hoerip yang kegiatannya lain sekali, yaitu jalan bergandengan dengan seorang gadis kulit putih (yang kemudian menjadi isterinya). Ketika aku kembali, Hartoyo berdiri sendiri di lapangan kecil itu. Aku pikir sepeda motorku dirampok tetapi Hartoyo mengatakan dipinja babu Menteng. Waduh, tinggal dipecat dari SInar Harapan kalau motor itu dibawa kabur oleh si babu Menteng. Untung sang babu kembali tanpa mengucap terimakasih.

Suatu malam aku menemui Hartoyo di jalanan. Hartoyo mengatakan listrik mati sehingga kami membeli lilin. Begitu kami masuk Gunawan sedang tidur nyenyak di atas meja pimping. Aku membayangkan ada malaikat cantik yang menyelimuti dia dengan sayap-sayapnya dari gigitan nyamuk lalu aku pun usil mengusir malaikat cantik itu dengan membangunkan Gunawan. Dia terbangun lalu roboh bersama meja pimpongnya. Aku tertawa-tawa. Mungkin ia marah tetapi saat itu ia diam meninggalkan kami. Begitu ia pergi aku menyesal atas keusilanku.

Di masakecil aku memang sangat usil dan nakal. Ketika Yayasan Lontar meminta aku ke kota kecil Rateng di Flores untuk divideokan (atas biaya Ford Foudation), terbayanglah masa kecilku di kota itu. Terbayanglah seorang anak yang selalu berkelahi, meninju anak-anak desa yang tangsi polisi yang lebih dulu menyakitiku. Mereka pulang berdarah-darah. Akan tetapi hukuman yang diberikan oleh guruku Pak Wowor (ayah pematung Michael Wowor) sangatefektif. Ketika aku dipamerkan kepada massa murid SD sebagai seorang pembunuh berdarah dingin, aku berdoa, aku berjani kepada Tuhan untuk tidak lagi menggebuk orang walaupun aku lebih dulu digebuk. ***

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito