Sabtu, 24 Juli 2010

Pemartabatan Sastra dan Ironi Hadiah Mastera

Wowok Hesti Prabowo
http://www.infoanda.com/Republika

Dalam seminar Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Indonesia dan Malaysia) dan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) di Jakarta, 7-8 April 2008, diberikan penghargaan kepada dua ‘penulis muda’ Indonesia. Yang pertama, Penghargaan Pusat Bahasa diberikan kepada Habiburrahman El-Shirazy, dan yang kedua Penghargaan Mastera diberikan kepada Ayu Utami.

Penghargaan yang diberikan kepada Ayu Utami sempat mengundang tanda tanya banyak pihak, termasuk para peserta seminar. Mereka terkejut, di tengah semangat untuk menegakkan moralitas bangsa-bangsa serumpun Melayu melalui sastra, justru Mastera memberikan penghargaan kepada seorang penulis perempuan yang mendukung GSM (gerakan seks merdeka pinjam istilah Taufiq Ismail), menolak lembaga perkawinan, dan menganggap penegakan moral sebagai penindasan.

Pada banyak tulisan dan kiprahnya, Ayu Utami berpihak pada pornografi dan kebebasan seks, sementara para anggota Mabbim dan Mastera sedang memerangi pornografi dan kebebasan seks. Ayu Utami, selain menulis novel Saman yang kontroversial, misalnya, juga pernah menjadi redaktur pelaksana majalah X-Magazine — majalah softporn yang lebih porno dibanding Playboy Indonesia.

Di majalah itulah Ayu menulis kolom-kolom yang sangat vulgar sambil mempromosikan kebebasn seks. Dalam salah satu esei yang menceritakan pengalamannya berselingkuh dengan banyak lelaki, dia bahkan terkesan melecehkan kaum santri dengan mangatakan salah satu pasangan selingkuhnya yang santri selalu shalat dulu sebelum naik ranjang untuk bersetubuh dengannya.

Karena itu, wajar kalau banyak pihak merasa heran Penghargaan Mastera dapat jatuh ke Ayu Utami, sebab itu berarti Mastera mengingkari perjuangannya sendiri untuk melawan pornografi dan kebebasan seks melalui kegiatan sastra. Dipilihnya Ayu Utami menjadikan upaya Mabbim dan Mastera untuk menegakkan moral bangsa menjadi semacam ‘dagelan’ semata.

Bagi alumni

Hadiah Mastera adalah salah satu penghargaan yang diberikan Mastera kepada penulis muda dari tiga negara pendiri Mastera, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia. Selain hadiah Mastera yang diberikan oleh Indonesia, ada pula Anugerah Mastera (diberikan kepada Tokoh Sastra dari tiga negara, oleh Brunei Darussalam) dan Penghargaan Mastera (untuk karya-karya fiksi dan non fiksi terbaik, diberikan oleh Malaysia).

Hadiah Mastera mulai diberikan tiga tahun lalu, setiap Indonesia menjadi tuan rumah bagi pelaksanaan sidang dan seminar Mastera. Berdasarkan keputusan dari tiga negara pendiri Mastera, hadiah tersebut ditujukan bagi alumni peserta program penulisan Mastera. Program ini sudah melahirkan banyak penulis/sastrawan yang bermutu, dan untuk mengapresiasinya, Mastera memberi seacam hadiah khusus bagi alumnus yang dinilai sangat pesat perkembangan kepenulisannya dari segi kualitas maupun produktivitas.

Program penulisan Mastera, dimulai tahun 1997, dengan program penulisan puisi, kemudian setiap tahun berturut-turut program penulisan cerpen, novel, esai dan drama. Para pesertanya dipilih berdasarkan rekomendasi sastrawan senior, pantauan terhadap karya mereka di media, dan pengajuan diri. Program tersebut diperuntukkan bagi sastrawan di bawah 35 tahun (untuk Indonesia Timur di bawah 40 tahun), sudah menerbitkan minimal satu buku dan atau lima karyanya pernah dimuat di media nasioanal.

Saat ini ada sekitar 70 orang alumni program penulisan Mastera. Di antara mereka adalah Oka Rusmini, Jamal D Rahman, Agus Noor, Joni Ariadinata, Hudan Hidayat, Arief B Prasetyo, Asma Nadia, Ode Barta Ananda, Nenden Lilis A, Wowok Hesti Prabowo, Iyut Fitra, Ahmad Syubbanudin Alwi, Cecep Syamsul Hari, dan Dindon WS.

Para penerima penghargaan dipilih oleh juri independen, 3 dari luar anggota Mastera, dan 2 orang pakar Mastera negara masing-masing. Jadi pemenangnya bukanlah pilihan Mastera di tingkat internasional, melainkan pilihan Mastera di negara masing-masing. Brunei Darussalam dan Malaysia atau Singapura sebagai negara pemerhati Mastera, tidak memilih peraih penghargaan dari Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Tiap negara memilih pemenang dari negara mereka sendiri.

Ketika 7 April lalu Ayu Utami menerima Hadiah Mastera untuk penulis muda, mewakili Indonesia, banyak yang terkejut. Bukan hanya Indonesia, Malaysia dan Brunei malah nyaris tak percaya. Hadiah Mastera buat Ayu Utami memunculkan banyak pertanyaan. Pertanyaan yang juga mungkin harus bisa dijawab dan dipertanggunngjawabkan oleh para juri.

Pertama, Ayu bukan alumnus program Mastera. Jelas ada kesalahan prosedur di sini, karena penghargaan ini diberikan hanya bagi alumni peserta program Mastera. Nurfiks Brunei dan Siti Jasmina, pengarang muda penerima penghargaan dari Brunei dan Malaysia, adalah peserta program Mastera dari negara masing-masing.

Kedua, selama lima tahun terakhir, Ayu tidak melahirkan karya yang mencuri perhatian para kritikus sastra maupun publik sastra. Karya sastranya yang terakhir, Larung (Gramedia), terbit tahun 2001. Buku berikutnya, Si Parasit Lajang; Seks, Sketsa dan Cerita (Gagas Media), yang terbit tahun 2003, adalah sekumpulan tulisan unek-unek belaka, yang mengajak orang untuk tidak menikah.

Naskah drama yang disebut-sebut sebagai karyanya, Sidang Susila, yang baru-baru ini dipentaskan, adalah karya bersama Agus Noor. Lalu bagaimana mungkin, pengarang dengan karya sastra yang nyaris mandul selama lima tahun terakhir diberikan penghargaan level internasional seperti Mastera, yang salah satu kriterianya melihat karya dalam tiga tahun terakhir?

Pelecehan

Terpilihnya Ayu juga merupakan pelecehan terhdap sekitar 70 alumnus peserta program Mastera lainnya, karena mereka tidak ada yang dianggap layak untuk menerima hadiah tersebut. Padahal Oka Rusmini, Agus Noor, Helvy Tiana Rosa, Joni Ariadinata, dan Jamal D Rahman, sekadar menyebut beberapa nama, sungguh sangat layak menerima penghargaan tersebut. Mereka bukan hanya bagus dari segi karya dan produktif, tetapi juga intens terlibat dalam berbagai kegiatan bimbingan bagi munculnya penulis-penulis baru di nusantara.

Dengan tidak terpilihnya alumni program Mastera untuk mendapatkan hadiah Mastera yang ditujukan bagi mereka, berarti program penulisan Mastera yang sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun, telah gagal, karena alumninya dianggap tidak cukup berkualitas, sehingga penulis di luar program tersebut yang mendapatkannya.

Kalaupun memang penghargaan tersebut harus jatuh ke tangan penulis luar program, rasanya tak ada yang paling pantas mendapatkannya selain salah satu dari dua pengarang yang menghasilkan karya fenomenal luar biasa, yaitu Habiburrahman el Shirazi (Ayat-Ayat Cinta) dan Andrea Hirata (Laskar Pelangi). Namun juri ‘independen’ yang diketuai Sapardi Djoko Damono kabarnya tetap ngotot untuk memenangkan Ayu Utami.

Itu pula hal yang mungkin membuat Pusat Bahasa sebagai panitia Mastera Indonesia tak bisa berbuat apapun dan akhirnya memberikan penghargaan ‘mendadak’ bagi Habiburrahman el Shirazy (Hadiah Khusus Pusat Bahasa), untuk mengalihkann perhatian kita dari persoalan hadiah Mastera tahun ini.

Kemenangan Ayu Utami merupakan keanehan dan preseden buruk bagi sastra Indonesia hari ini. Publik sastra dan masyarakat kita lagi-lagi ‘dibodohi’ oleh konspirasi yang tak sehat para ‘mafia’ sastra. Karena itu, ketua Mastera perlu untuk meninjau kembali, bahkan membatalkan hadiah Mastera yang diterima Ayu Utami itu.

*) Alumnus Progam Penulisan Mastera

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito