Rabu, 15 Oktober 2008

MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I - CIX

Nurel Javissyarqi*

Jalanan pekabutan menidurkan daun-daun, burung terbang tertutup gelap,
isyarat cerecahnya mengikuti musim, di mana bebijian berkembang-biak (XIV: I).

Barisan mega putih di langit ungu tempaan tua,
semua di bumi terlelap oleh ayunan gelombang, dan ia di jarak terdekat (XIV: II).

Berguru kepada abad musim silam, setangkup rindu mekarkan kenangan,
sayap-sayap mentari waktu meninggalkan bayangan
bagai setepuk penunggang kuda segera terbang (XIV: III).

Tempat memanggil berharap ia bersinggah
lantas koakan gagak, secepat maut memberi kabar berita (XIV: IV).

Kala awan menajamkan angkasa, gerak nasib berputar di poros setia,
mulanya debu, gas, air dalam kebekuan renungan, hukum ditandakan (XIV: V).

Kupu-kupu dalam dadanya menjelma bunga,
menawanmu serupa sangkar tanpa pepintu (XIV: VI).

Putri raja menjadi pelayan sejak ia merentangkan dahaga
oleh tiupan angin kekasihnya yang sungguh berpengaruh (XIV: VII).

Lambung yang lapar mereguk sangsi meneguk keyakinan, lihatlah
kayu-kayu kering berguna unggun dalam tungku pematang air (XIV: VIII).

Penghuni bumi semakin rapuh, sepeluk telaga membasuh jiwamu ia impi
berkepompong senyawa pucuk daun manunggaling bayu semesta bathin (XIV: IX).

Sebelum bulu-bulu tumbuh menemui mata angin gantungan waktu,
ia merasaikan sakit ketidakadilan diri, rongga pernafasan kering kerontang,
gunung-gemunung tanpa pohon, sungai mengalir limbah fikiran (XIV: X).

Satu buah jatuh lainnya was-was, ini gambaran cinta kau rasakan
kematian datang manakala teringat gemuruh prahara asmara (XIV: XI).

Memasuki ragu keterbatasan angan menghembuskan ombakmu
di setiap pantai, walau punggung renungan tak sama menunggu (XIV: XII)

; kepakan sayapmu menembusi wewarna lentera,
menaiki lengkungan pelangi pada mega-mega (XIV: XIII).

Datang berkelenengan, lincah memahat setelah berperang (XIV: XIV).

Ikut nikmat terburuk dicukupkan, tinggal menghiasi malam berbintang,
gerbang kerajaan langit terbuka lebar, oleh siang terang-menerawang,
awan-gemawan menggelepar kabarkan musim pergantian (XIV: XV).

Kapal menghadap samudra seakan berucap;
aku kan menemuimu hingga pucuk dunia (XIV: XVI).

Marilah melambaikan tangan sebenang-benang layang terpanjang,
senyum akhir berjumpa hukum tangis pertama bertemu pula (XIV: XVII).

Kapal sebesar bukit membelah gelombang menyibak ombak,
rambutmu terurai bayu lautan, burung-burung camar melepaskan salam,
maka kembalilah kepada pantai kekasihmu sayang (XIV: XVIII).

Memandang tepian cukup hawatir mendung berpendar senja,
mentari mengajak kidungkan kisah digubah rentangan masa (XIV: XIX).

Senjakala di hadapan akan tenggelam ke dasar lautan
melepas kebijakan malam menaburkan senyuman (XIV: XX).

Magrib memasukkan kapal ke selat lepas, gulungan ombak mengganas,
mengoyak kangen merindu-rindu rupa di perbatasan kaweruh (XIV: XXI)

; setinggi lembing pecah di tubuh jiwa gemetar, mula sayang kejujuran
dan nasib setia pada diri sejati (XIV: XXII).

Bunga bulan tanpa hawatir tidak purnama,
saling menatap tiada sunyi curiga (XIV: XXIII).

Diam terbuai belumlah usai, dingin menelusup sepelan langgam;
nahkoda tentukan keselamatan, menuntun ilmu mencari jalan pulang (XIV: XXIV).

Fajar datang kapal masih berayun, kau was-was menanti dimulainya pagi
tampak wajah keperakan bersenandung ombak memecah hawa purba (XIV: XXV).

Langit siang mendung layar terhuyung, curiga degup langkah mega-mega,
bukankah dirinya masih setia, dan tuhan senantiasa menjaga jiwanya (XIV: XXVI).

Semilir bayu meluas ke mana muara angan berlalu, ia di kepulauan bersyair
ini balada kasih tiada pernah berjumpa, hilang terasa menggali nyata (XIV: XXVII)

; menguras lautan rasa melepaskan rantai ia malu,
mengaduk-aduk di dasar relung hatimu (XIV: XXVIII).

Dari balik awan ia mengintip, sungkan berbalas pantun
padahal ruang-waktu memberikanmu segunung senyum (XIV: XXIX).

Kertas tersimpan dalam botol, hanyut mengapung di laut terkuak pula,
hati diguyur gembira, dan pelamun dihunus keris berkelok setia (XIV: XXX).

Awan berteman mengarungi, waktu berjalan di langit kamarnya,
seharian tanpa nilon hujan, sebatas senja menyandarkan kisah (XIV: XXXI).

Waktu magrib di atas kapal, dua keping hari dipertaruhkan,
hamparan langit-lautan, ombak-awan, bintang berseri malam itu bertulis kelegaan,
secepat hitungan tubuh lelap, kala tidurmu di atas pebukitan (XIV: XXXII).

Berselimut kabut, kembara menuntun mimpi kepada tanah kelahiran baru,
pelabuhan mulai tampak disambut camar berlarian dunia kecilmu (XIV: XXXIII).

Siang terik memaksa keringat dewasa, anak bermain dalam rahim nurani,
ucapkan salam kepada leluhur yang hampir tanahnya tersentuh (XXXIV).

Menaiki tangga ke anjungan, terbayang wajah saudara-saudara,
kapal menyisiri puluhan sampan, selat berkelok terlewati (XIV: XXXV).

Terpampang tirai kalbu awan rindu dan segera
segala kangen bertemu hujan bagimu (XIV: XXXVI).

Berkuda melalui pepohonan karet, semak belukar di bibir jalan membukit,
sulur pandangan menyanyikan jiwa memasuki ketenangan badan (XIV: XXXVII).

Di gerbang kota kau berbisik sesayap awan merunduk mencurahkan hujan,
pebukitan kapur menceritakan rantaumu sedari balik kerudung (XIV: XXXVIII).

Kau tersenyum kecil mengambili bebunga harum terjatuh,
tiada ingin layu, larut dalam waktu membisu (XIV: XXXIX).

Sepenggal syair di negeri lain, tujuh pulau cantik tengahnya berdanau,
tempat bidadari bermandi sendawa, di jalur pelangi saat kembali, bagi yang setia
tak kurang ragu, manakala dewa-dewi merayu pribadi di kala kau pergi (XIV: XL).

Seperti surat yang lalu penyambung guratan ruh,
ini dentingan menggenta dari degupan dada terbakar tungku jaman (XIV: XLI).

Kidung berseratkan makna dari akar-akaran nyata,
kadang sebatang pohon hangus, tumbuh di antara mega (XIV: XLII).

Keterjagaan nyala api, sumbu lilin menarikan cahaya,
membumikan hening (XIV: XLIII).

Yang hilang kembalikan gumpalan wangi, kembang kumuda bermekaran,
lainnya gugur keemasan, ini putaran musim menyabdakan pergantian (XIV: XLIV).

Wengi menguasai siang, batasnya terselimuti kabut
dari mana muasal gelisa, sedari bersin pengantar persidangan usia (XIV: XLV).

Di antara malam tiada siang hadir,
bergumam memendam waktu penantian (XIV: XLVI).

Yang menyingkap jubah berbilang,
batu melayang saat kata perjalanan di jemari tangan (XIV: XLVII)

; menulis di lembaran hidupmu akan puncak gunung bersalju
lelehan bersungai, reranting kayu menyamudra rindu (XIV: XLVIII).

Bukankah gelombang tak pernah berhenti memanjatkan doa?
Kau pantas bidadari, hendak ke manakah di waktu serupa? (XIV: XLIX).

Reinkarnasi pengetahuan dalam taman impian, sedari putik-putik
endapan benang sutra tersulam, kalbumu mencari corak penentu (XIV: L).

Sejarah terulang, dada anak berdegup di jantung jaman,
menembangkan malam mengobarkan perjuangan (XIV: LI)

; nyanyian serangga dalam redupnya cahaya bulan,
menangis kesalahan, seutuh darah lelaki mempersembahkan (XIV: LII).

Coretan bergolak pada tarian membuncak,
segaris lapar agung meluruhkan hasrat (XIV: LIII).

Mendaki puncak kabut setipis keganjilan sekuntum kembang
di pinggir jurang ombak memukul batu, melebur berpasir (XIV: LIV).

Ia hentakkan perburuan busur panah,
melengking cakram tak mempat dingin penjara,
tubuh pengab terkulai dicabik burung bangkai, tapi
segenggaman tanah menguatkan tekad (XIV: LV).

Garis pemberhentian itu meringankan,
seperti tiupan lilin perginya lewat jendela ke ruang cakrawala
puasnya menikmati wengi, sesejuk telaga dipayungi pohon (XIV: LVI)

; akar-akar menjalar, ikan-ikan berenangan menghiasi batuan putih,
air bening memantulkan hati penanti kedamaian (XIV: LVII).

Berkali-kali sungsang itu tapakan menghimpit di gelap terpencil,
kau seekor burung mengapung membisu; bagaimana kau sebut hilang
padahal jauh masih setia? (XIV: LVIII).

Merawat kemolekan bayi membaca wajah renungan
kepada jantung hidupmu mempersembahkan (XIV: LIX).

Tak bisa bahagiakan lewat bisikan, baiknya hempaskan tubuh di ranjang
dan sembuh oleh tidur panjang (XIV: LX).

Begitu melupakan keringat berlangsung,
tenggelam dalam dahaga waktu (XIV: LXI).

Meriap ruh kesungguhan mencipta,
menguliti nasib berkepompong, dengan sederhana tujuan (XIV: LXII)

; malam membukakan cahayanya, menerima warna pelitamu,
awan berbondong seharum melati menempati
bermukimnya kisah-kisah perjodohan (XIV: LXIII).

Keheningan kenangan mengembalikan niat suci, anak-anak bermain
kala hijau pesawahan menggapai pegunungan, menilik lewat kaca kereta
sewaktu kebercahayaan menghuni rumah, ruh bergetaran (XIV: LXIV).

Kau tersadar petikan dawai kacau sehembusan taupan melabrak
pepintu-jendela, tubuh-tubuh kaku terlentang kepayahan (XIV: LXV).

Daun kering kemarau melanda, sukma berperluk isak tangis
penuh sesalan, menyentilkan bara jiwa (XIV: LXVI).

Oh penggelandang menjungkir-balik kebodohan,
kadang rengekan kecil membesar, penentu petapa purna
atau gagal oleh denyutan sungai asmara (XIV: LXVII).

Pastikan menyebut deretan nama kekasih, jagad seisinya kepadamu
akan langgeng dari kebinasaan (XIV: LXVIII).

Habiskan keraguanmu menyusuri jalan pulang,
membimbing iman laksana bara di genggaman (XIV: LXIX).

Ia menulis kehadiran tidak tampak memutiara waktu,
sehelai rambut tercerabut tiada kehendak berkuasa (XIV: LXX).

Kata-kata tidak lagi memuaskan mereka, kau tahu ruang kejujuran,
keheningan suci tiada bercak keangkuhan (XIV: LXXI).

Waktu tertinggal mengekalkan kebaikan,
tertulis hasrat suci mendekatkan diri (XIV: LXXII).

Sebelum sayap-sayap kaku, ujung-ujung tenggorokan hampa,
izinkan mengucap kalimah sakti, teguh menguliti nasib mengisi
demi membuka kilauan tabir penciptaan (XIV: LXXIII).

Di sini penanti menerima ucapan akhir,
kali terberi tiada takut ketentuan (XIV: LXXIV).

Kucuran keringat berdaya jelajah, lelangkah purnama di petang hari
bersambut rintik hujan ke kediaman, sabdanya sesempal iga (XIV: LXXV).

Merpati menghela nafas lalu melompat, runduk mentitili makna
digubah alunan gerimis membasahi pelataran rumah (XIV: LXXVI).

Teringat hamba sungai mengaliri pesawahan,
tanaman padi menyerahkan kuntum kesucian hati (XIV: LXXVII).

Berarak burung malam terbang dari timur, kepakan sayapnya melestarikan
gelap tanpa celah, lenyapnya penglihatan tertelan kabut lembah (XIV: LXXVIII).

Bukankah marmer langit siang menyilaukan pandang,
sedang dedahan mengusik mencari tahu getar kicauan (XIV: LXXIX).

Olehnya burung dalam sangkar siulannya sarat resah,
dipaksa mempercayai, lainnya bebas tanpa rantai kaki (XIV: LXXX).

Dunia embun di daunan pantai, berkilau mentari suburkan awan
pada petamanan tercipta tembang puja-puji kesemestaan (XIV: LXXXI).

Dalam pedusunan semut, dahaga keagungan bersatu serengkuh kasih,
dikecup danau hatinya sesejuk bersentuh kabut keindahan (XIV: LXXXII).

Burung kehausan menuruni tangga awan menuju pinggiran,
ringan melompati bebatuan anak sungai, tenggelamkan kepalanya
berteguk kecipak membasahi kesejukan jiwa lara (XIV: LXXXIII)

; kesegaran kembara setelah merentangkan dahaga,
ini budi pekerti setaburan benih pepadi (XIV: LXXXIV).

Dada berdegup bergetaran dalam palung kenangan,
lama pandangannya untuk dikisahkan (XIV: LXXXV)

; burung-burung musim semi di bara asmara menggugah terbenam,
sekuat memejamkan mata memanggil jiwa-jiwa sekecup berpisah,
ini gubahan manunggaling cinta digayuh sukma (XIV: LXXXVI).

Kepekatan memanas di ubun-ubun padat menaikkan suhu tubuh
menuju kutub, itulah sentuhan nafas-nafas atas bentuk (XIV: LXXXVII).

Udara bersalju mengganggu pemahat kata bersayap,
menembusi air menjelajahi wewarna bayangan cahaya,
menyelimuti wengi hingga fajar menampakkan bulu emasnya (XIV: LXXXVIII).

Diamnya tersimpan alam, tampak dirinya menghafalkan butiran renungan,
membahana ruh-ruh senyawa (XIV: LXXXIX).

Awan bersambut biru langit, kawanan bangau menanti ciuman gerimis,
sayapnya bersisir serbuk kilauan cahaya mentari (XIV: XC).

Ada meruh di kesunyian tanpa ucapan, bebiji besi ditimpa baja malam,
bayu purba menemani pesawahan padi menguning (XIV: XCI).

Ombak mencipta lenggokan layang perbatasan, siulannya anak
memberi kencang angin mengangkat pedut tanpa hitungan (XIV: XCII).

Inilah terwakili lelembaran, kala kau tidak faham permainan,
yang kantuk istirahlah, terbangun segairah bunga dipelihara (XIV: XCIII).

Di sepertiga malam, daun-daun membisu berpandangan jauh
menggeliat tubuh hangat atas rambatan cahaya mentari menyengat,
hasrat nalar gundah mencuat, cambukan petir hanguskan firasat (XIV: XCIV).

Gubahan kejernihan dentingan air di bingkai lukisan matamu
atau relief-relief di kedalaman gua-gua kesunyian mewaktu (XIV: XCV).

Kala gerbang langit terbuka, awan mengarungi lembah ciumi bunga,
matanya tak kalah gemerlap malam, terlewati lidah pahit pecinta (XIV: XCVI).

Inilah surat menguasai jiwa, bagaikan gemuruh ombak memecah masa,
terminum ramuan kembang bagi si sakit menyusuri pesisir utara (XIV: XCVII).

Kuasamu mencengkeram kalbu atas pusaran bayu mewujud percandian,
waktu berpatung paras bidadari, serupa sajak menggejala abadi (XIV: XCVIII).

Persemakmuran hatinya, gemerincing kesejukan sejarah mendapatimu
miliki cahaya, hukum arif ini mahar kasih sayang atom pencarian (XIV: XCIX).

Setelah terhafal, nafas-nafas membakar kertas mengisi penghuni rumah
serupa ikan hidup di dasar hatinya, penyebaran ini pada rakyat jelata (XIV: C).

Cinta buta merambah pada kerahasiaan dunia,
inilah rindu langit menemui bumi (XIV: CI).

Seumpama kangen malam di dada perawan, jaman nan padang njinglang,
karya agung merindu-rindu abadi, seumur memerdekakan cinta lautan (XIV: CII).

Inilah surat pengisi nyawa di dada insan bergetaran mengintip tirai kasih,
kala hikmah ditenggelamkan sesama (XIV: CIII)

; segala pengetahuan menguap ke langitan berawan,
lalu ruh malaikat menangkap bagi sandaran (XIV: CIV).

Hati bimbang gelombang menggoyang tubuh kapal ke pantai pengertian,
cinta kiblat di hatimu seyakin syair takkan runtuh (XIV: CV).

Ruh setia bergelegak, balada hidupmu bagai bebatu
menggelinding ajal menjemput terbang berkuda,
bersaksi awan memayungi perjalanan kembara (XIV: CVI).

Datang kepadamu keabadian, serupa betis sang ratu tersingkap lugu
dalam kerajaanmu, bukankah aktor terbaik mengikuti naskah? (XIV: CVII).

Nyanyian menembusi luar batas, anak turun purnama di jalan-jalan,
menguasai mimpi-mimpi buruk tidur panjang para penguasa (XIV: CVIII).

Dia tegakkan kesucian rumput patah, menyerahkan untukmu gersang
sejauh awan menggapai bukit, rintik hujan membangkitkan pandangan (XIV: CIX).
----

*) Pengelana dari Lamongan, JaTim, yang ingin jadi penyair sungguhan.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito