Nurel Javissyarqi*
Jalanan pekabutan menidurkan daun-daun, burung terbang tertutup gelap,
isyarat cerecahnya mengikuti musim, di mana bebijian berkembang-biak (XIV: I).
Barisan mega putih di langit ungu tempaan tua,
semua di bumi terlelap oleh ayunan gelombang, dan ia di jarak terdekat (XIV: II).
Berguru kepada abad musim silam, setangkup rindu mekarkan kenangan,
sayap-sayap mentari waktu meninggalkan bayangan
bagai setepuk penunggang kuda segera terbang (XIV: III).
Tempat memanggil berharap ia bersinggah
lantas koakan gagak, secepat maut memberi kabar berita (XIV: IV).
Kala awan menajamkan angkasa, gerak nasib berputar di poros setia,
mulanya debu, gas, air dalam kebekuan renungan, hukum ditandakan (XIV: V).
Kupu-kupu dalam dadanya menjelma bunga,
menawanmu serupa sangkar tanpa pepintu (XIV: VI).
Putri raja menjadi pelayan sejak ia merentangkan dahaga
oleh tiupan angin kekasihnya yang sungguh berpengaruh (XIV: VII).
Lambung yang lapar mereguk sangsi meneguk keyakinan, lihatlah
kayu-kayu kering berguna unggun dalam tungku pematang air (XIV: VIII).
Penghuni bumi semakin rapuh, sepeluk telaga membasuh jiwamu ia impi
berkepompong senyawa pucuk daun manunggaling bayu semesta bathin (XIV: IX).
Sebelum bulu-bulu tumbuh menemui mata angin gantungan waktu,
ia merasaikan sakit ketidakadilan diri, rongga pernafasan kering kerontang,
gunung-gemunung tanpa pohon, sungai mengalir limbah fikiran (XIV: X).
Satu buah jatuh lainnya was-was, ini gambaran cinta kau rasakan
kematian datang manakala teringat gemuruh prahara asmara (XIV: XI).
Memasuki ragu keterbatasan angan menghembuskan ombakmu
di setiap pantai, walau punggung renungan tak sama menunggu (XIV: XII)
; kepakan sayapmu menembusi wewarna lentera,
menaiki lengkungan pelangi pada mega-mega (XIV: XIII).
Datang berkelenengan, lincah memahat setelah berperang (XIV: XIV).
Ikut nikmat terburuk dicukupkan, tinggal menghiasi malam berbintang,
gerbang kerajaan langit terbuka lebar, oleh siang terang-menerawang,
awan-gemawan menggelepar kabarkan musim pergantian (XIV: XV).
Kapal menghadap samudra seakan berucap;
aku kan menemuimu hingga pucuk dunia (XIV: XVI).
Marilah melambaikan tangan sebenang-benang layang terpanjang,
senyum akhir berjumpa hukum tangis pertama bertemu pula (XIV: XVII).
Kapal sebesar bukit membelah gelombang menyibak ombak,
rambutmu terurai bayu lautan, burung-burung camar melepaskan salam,
maka kembalilah kepada pantai kekasihmu sayang (XIV: XVIII).
Memandang tepian cukup hawatir mendung berpendar senja,
mentari mengajak kidungkan kisah digubah rentangan masa (XIV: XIX).
Senjakala di hadapan akan tenggelam ke dasar lautan
melepas kebijakan malam menaburkan senyuman (XIV: XX).
Magrib memasukkan kapal ke selat lepas, gulungan ombak mengganas,
mengoyak kangen merindu-rindu rupa di perbatasan kaweruh (XIV: XXI)
; setinggi lembing pecah di tubuh jiwa gemetar, mula sayang kejujuran
dan nasib setia pada diri sejati (XIV: XXII).
Bunga bulan tanpa hawatir tidak purnama,
saling menatap tiada sunyi curiga (XIV: XXIII).
Diam terbuai belumlah usai, dingin menelusup sepelan langgam;
nahkoda tentukan keselamatan, menuntun ilmu mencari jalan pulang (XIV: XXIV).
Fajar datang kapal masih berayun, kau was-was menanti dimulainya pagi
tampak wajah keperakan bersenandung ombak memecah hawa purba (XIV: XXV).
Langit siang mendung layar terhuyung, curiga degup langkah mega-mega,
bukankah dirinya masih setia, dan tuhan senantiasa menjaga jiwanya (XIV: XXVI).
Semilir bayu meluas ke mana muara angan berlalu, ia di kepulauan bersyair
ini balada kasih tiada pernah berjumpa, hilang terasa menggali nyata (XIV: XXVII)
; menguras lautan rasa melepaskan rantai ia malu,
mengaduk-aduk di dasar relung hatimu (XIV: XXVIII).
Dari balik awan ia mengintip, sungkan berbalas pantun
padahal ruang-waktu memberikanmu segunung senyum (XIV: XXIX).
Kertas tersimpan dalam botol, hanyut mengapung di laut terkuak pula,
hati diguyur gembira, dan pelamun dihunus keris berkelok setia (XIV: XXX).
Awan berteman mengarungi, waktu berjalan di langit kamarnya,
seharian tanpa nilon hujan, sebatas senja menyandarkan kisah (XIV: XXXI).
Waktu magrib di atas kapal, dua keping hari dipertaruhkan,
hamparan langit-lautan, ombak-awan, bintang berseri malam itu bertulis kelegaan,
secepat hitungan tubuh lelap, kala tidurmu di atas pebukitan (XIV: XXXII).
Berselimut kabut, kembara menuntun mimpi kepada tanah kelahiran baru,
pelabuhan mulai tampak disambut camar berlarian dunia kecilmu (XIV: XXXIII).
Siang terik memaksa keringat dewasa, anak bermain dalam rahim nurani,
ucapkan salam kepada leluhur yang hampir tanahnya tersentuh (XXXIV).
Menaiki tangga ke anjungan, terbayang wajah saudara-saudara,
kapal menyisiri puluhan sampan, selat berkelok terlewati (XIV: XXXV).
Terpampang tirai kalbu awan rindu dan segera
segala kangen bertemu hujan bagimu (XIV: XXXVI).
Berkuda melalui pepohonan karet, semak belukar di bibir jalan membukit,
sulur pandangan menyanyikan jiwa memasuki ketenangan badan (XIV: XXXVII).
Di gerbang kota kau berbisik sesayap awan merunduk mencurahkan hujan,
pebukitan kapur menceritakan rantaumu sedari balik kerudung (XIV: XXXVIII).
Kau tersenyum kecil mengambili bebunga harum terjatuh,
tiada ingin layu, larut dalam waktu membisu (XIV: XXXIX).
Sepenggal syair di negeri lain, tujuh pulau cantik tengahnya berdanau,
tempat bidadari bermandi sendawa, di jalur pelangi saat kembali, bagi yang setia
tak kurang ragu, manakala dewa-dewi merayu pribadi di kala kau pergi (XIV: XL).
Seperti surat yang lalu penyambung guratan ruh,
ini dentingan menggenta dari degupan dada terbakar tungku jaman (XIV: XLI).
Kidung berseratkan makna dari akar-akaran nyata,
kadang sebatang pohon hangus, tumbuh di antara mega (XIV: XLII).
Keterjagaan nyala api, sumbu lilin menarikan cahaya,
membumikan hening (XIV: XLIII).
Yang hilang kembalikan gumpalan wangi, kembang kumuda bermekaran,
lainnya gugur keemasan, ini putaran musim menyabdakan pergantian (XIV: XLIV).
Wengi menguasai siang, batasnya terselimuti kabut
dari mana muasal gelisa, sedari bersin pengantar persidangan usia (XIV: XLV).
Di antara malam tiada siang hadir,
bergumam memendam waktu penantian (XIV: XLVI).
Yang menyingkap jubah berbilang,
batu melayang saat kata perjalanan di jemari tangan (XIV: XLVII)
; menulis di lembaran hidupmu akan puncak gunung bersalju
lelehan bersungai, reranting kayu menyamudra rindu (XIV: XLVIII).
Bukankah gelombang tak pernah berhenti memanjatkan doa?
Kau pantas bidadari, hendak ke manakah di waktu serupa? (XIV: XLIX).
Reinkarnasi pengetahuan dalam taman impian, sedari putik-putik
endapan benang sutra tersulam, kalbumu mencari corak penentu (XIV: L).
Sejarah terulang, dada anak berdegup di jantung jaman,
menembangkan malam mengobarkan perjuangan (XIV: LI)
; nyanyian serangga dalam redupnya cahaya bulan,
menangis kesalahan, seutuh darah lelaki mempersembahkan (XIV: LII).
Coretan bergolak pada tarian membuncak,
segaris lapar agung meluruhkan hasrat (XIV: LIII).
Mendaki puncak kabut setipis keganjilan sekuntum kembang
di pinggir jurang ombak memukul batu, melebur berpasir (XIV: LIV).
Ia hentakkan perburuan busur panah,
melengking cakram tak mempat dingin penjara,
tubuh pengab terkulai dicabik burung bangkai, tapi
segenggaman tanah menguatkan tekad (XIV: LV).
Garis pemberhentian itu meringankan,
seperti tiupan lilin perginya lewat jendela ke ruang cakrawala
puasnya menikmati wengi, sesejuk telaga dipayungi pohon (XIV: LVI)
; akar-akar menjalar, ikan-ikan berenangan menghiasi batuan putih,
air bening memantulkan hati penanti kedamaian (XIV: LVII).
Berkali-kali sungsang itu tapakan menghimpit di gelap terpencil,
kau seekor burung mengapung membisu; bagaimana kau sebut hilang
padahal jauh masih setia? (XIV: LVIII).
Merawat kemolekan bayi membaca wajah renungan
kepada jantung hidupmu mempersembahkan (XIV: LIX).
Tak bisa bahagiakan lewat bisikan, baiknya hempaskan tubuh di ranjang
dan sembuh oleh tidur panjang (XIV: LX).
Begitu melupakan keringat berlangsung,
tenggelam dalam dahaga waktu (XIV: LXI).
Meriap ruh kesungguhan mencipta,
menguliti nasib berkepompong, dengan sederhana tujuan (XIV: LXII)
; malam membukakan cahayanya, menerima warna pelitamu,
awan berbondong seharum melati menempati
bermukimnya kisah-kisah perjodohan (XIV: LXIII).
Keheningan kenangan mengembalikan niat suci, anak-anak bermain
kala hijau pesawahan menggapai pegunungan, menilik lewat kaca kereta
sewaktu kebercahayaan menghuni rumah, ruh bergetaran (XIV: LXIV).
Kau tersadar petikan dawai kacau sehembusan taupan melabrak
pepintu-jendela, tubuh-tubuh kaku terlentang kepayahan (XIV: LXV).
Daun kering kemarau melanda, sukma berperluk isak tangis
penuh sesalan, menyentilkan bara jiwa (XIV: LXVI).
Oh penggelandang menjungkir-balik kebodohan,
kadang rengekan kecil membesar, penentu petapa purna
atau gagal oleh denyutan sungai asmara (XIV: LXVII).
Pastikan menyebut deretan nama kekasih, jagad seisinya kepadamu
akan langgeng dari kebinasaan (XIV: LXVIII).
Habiskan keraguanmu menyusuri jalan pulang,
membimbing iman laksana bara di genggaman (XIV: LXIX).
Ia menulis kehadiran tidak tampak memutiara waktu,
sehelai rambut tercerabut tiada kehendak berkuasa (XIV: LXX).
Kata-kata tidak lagi memuaskan mereka, kau tahu ruang kejujuran,
keheningan suci tiada bercak keangkuhan (XIV: LXXI).
Waktu tertinggal mengekalkan kebaikan,
tertulis hasrat suci mendekatkan diri (XIV: LXXII).
Sebelum sayap-sayap kaku, ujung-ujung tenggorokan hampa,
izinkan mengucap kalimah sakti, teguh menguliti nasib mengisi
demi membuka kilauan tabir penciptaan (XIV: LXXIII).
Di sini penanti menerima ucapan akhir,
kali terberi tiada takut ketentuan (XIV: LXXIV).
Kucuran keringat berdaya jelajah, lelangkah purnama di petang hari
bersambut rintik hujan ke kediaman, sabdanya sesempal iga (XIV: LXXV).
Merpati menghela nafas lalu melompat, runduk mentitili makna
digubah alunan gerimis membasahi pelataran rumah (XIV: LXXVI).
Teringat hamba sungai mengaliri pesawahan,
tanaman padi menyerahkan kuntum kesucian hati (XIV: LXXVII).
Berarak burung malam terbang dari timur, kepakan sayapnya melestarikan
gelap tanpa celah, lenyapnya penglihatan tertelan kabut lembah (XIV: LXXVIII).
Bukankah marmer langit siang menyilaukan pandang,
sedang dedahan mengusik mencari tahu getar kicauan (XIV: LXXIX).
Olehnya burung dalam sangkar siulannya sarat resah,
dipaksa mempercayai, lainnya bebas tanpa rantai kaki (XIV: LXXX).
Dunia embun di daunan pantai, berkilau mentari suburkan awan
pada petamanan tercipta tembang puja-puji kesemestaan (XIV: LXXXI).
Dalam pedusunan semut, dahaga keagungan bersatu serengkuh kasih,
dikecup danau hatinya sesejuk bersentuh kabut keindahan (XIV: LXXXII).
Burung kehausan menuruni tangga awan menuju pinggiran,
ringan melompati bebatuan anak sungai, tenggelamkan kepalanya
berteguk kecipak membasahi kesejukan jiwa lara (XIV: LXXXIII)
; kesegaran kembara setelah merentangkan dahaga,
ini budi pekerti setaburan benih pepadi (XIV: LXXXIV).
Dada berdegup bergetaran dalam palung kenangan,
lama pandangannya untuk dikisahkan (XIV: LXXXV)
; burung-burung musim semi di bara asmara menggugah terbenam,
sekuat memejamkan mata memanggil jiwa-jiwa sekecup berpisah,
ini gubahan manunggaling cinta digayuh sukma (XIV: LXXXVI).
Kepekatan memanas di ubun-ubun padat menaikkan suhu tubuh
menuju kutub, itulah sentuhan nafas-nafas atas bentuk (XIV: LXXXVII).
Udara bersalju mengganggu pemahat kata bersayap,
menembusi air menjelajahi wewarna bayangan cahaya,
menyelimuti wengi hingga fajar menampakkan bulu emasnya (XIV: LXXXVIII).
Diamnya tersimpan alam, tampak dirinya menghafalkan butiran renungan,
membahana ruh-ruh senyawa (XIV: LXXXIX).
Awan bersambut biru langit, kawanan bangau menanti ciuman gerimis,
sayapnya bersisir serbuk kilauan cahaya mentari (XIV: XC).
Ada meruh di kesunyian tanpa ucapan, bebiji besi ditimpa baja malam,
bayu purba menemani pesawahan padi menguning (XIV: XCI).
Ombak mencipta lenggokan layang perbatasan, siulannya anak
memberi kencang angin mengangkat pedut tanpa hitungan (XIV: XCII).
Inilah terwakili lelembaran, kala kau tidak faham permainan,
yang kantuk istirahlah, terbangun segairah bunga dipelihara (XIV: XCIII).
Di sepertiga malam, daun-daun membisu berpandangan jauh
menggeliat tubuh hangat atas rambatan cahaya mentari menyengat,
hasrat nalar gundah mencuat, cambukan petir hanguskan firasat (XIV: XCIV).
Gubahan kejernihan dentingan air di bingkai lukisan matamu
atau relief-relief di kedalaman gua-gua kesunyian mewaktu (XIV: XCV).
Kala gerbang langit terbuka, awan mengarungi lembah ciumi bunga,
matanya tak kalah gemerlap malam, terlewati lidah pahit pecinta (XIV: XCVI).
Inilah surat menguasai jiwa, bagaikan gemuruh ombak memecah masa,
terminum ramuan kembang bagi si sakit menyusuri pesisir utara (XIV: XCVII).
Kuasamu mencengkeram kalbu atas pusaran bayu mewujud percandian,
waktu berpatung paras bidadari, serupa sajak menggejala abadi (XIV: XCVIII).
Persemakmuran hatinya, gemerincing kesejukan sejarah mendapatimu
miliki cahaya, hukum arif ini mahar kasih sayang atom pencarian (XIV: XCIX).
Setelah terhafal, nafas-nafas membakar kertas mengisi penghuni rumah
serupa ikan hidup di dasar hatinya, penyebaran ini pada rakyat jelata (XIV: C).
Cinta buta merambah pada kerahasiaan dunia,
inilah rindu langit menemui bumi (XIV: CI).
Seumpama kangen malam di dada perawan, jaman nan padang njinglang,
karya agung merindu-rindu abadi, seumur memerdekakan cinta lautan (XIV: CII).
Inilah surat pengisi nyawa di dada insan bergetaran mengintip tirai kasih,
kala hikmah ditenggelamkan sesama (XIV: CIII)
; segala pengetahuan menguap ke langitan berawan,
lalu ruh malaikat menangkap bagi sandaran (XIV: CIV).
Hati bimbang gelombang menggoyang tubuh kapal ke pantai pengertian,
cinta kiblat di hatimu seyakin syair takkan runtuh (XIV: CV).
Ruh setia bergelegak, balada hidupmu bagai bebatu
menggelinding ajal menjemput terbang berkuda,
bersaksi awan memayungi perjalanan kembara (XIV: CVI).
Datang kepadamu keabadian, serupa betis sang ratu tersingkap lugu
dalam kerajaanmu, bukankah aktor terbaik mengikuti naskah? (XIV: CVII).
Nyanyian menembusi luar batas, anak turun purnama di jalan-jalan,
menguasai mimpi-mimpi buruk tidur panjang para penguasa (XIV: CVIII).
Dia tegakkan kesucian rumput patah, menyerahkan untukmu gersang
sejauh awan menggapai bukit, rintik hujan membangkitkan pandangan (XIV: CIX).
----
*) Pengelana dari Lamongan, JaTim, yang ingin jadi penyair sungguhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito
Tidak ada komentar:
Posting Komentar