Senin, 04 Agustus 2008

MAY

Eny Rose*

Prolog:
(Jiwa tersandung kabut raga tak henti merintih, malam terbelenggu cinta nan ayu. mozaikmozaik rindu menggertak sunyi. Namun, bintang thariq masih bernafas di sela cakrawala, sang mega kelana. Rerintik hujan pun turut mengiang di kahyangan percintaan sembari temani liku anggara nan merunduk sayu bagai sang khafadha setia menjaga adam dan hawa.)

Aku sedih. Kadangkala aku juga merasa stress dengan problem-problem yang kuhadapi selama ini. Sesekali aku sempat bertanya pada diriku sendiri. Apakah Allah sungguh benar-benar menyayangiku sehingga selalu memberi cobaan berat seperti ini? Aku harap semua ini dapat menjadikan aku sabar dan dekat dengan-Nya. Namun, kalaupun ini adalah kemarahan-Nya, aku memang pantas mendapatkannya. Karena selama ini mungkin aku memang BANGSAT pada kekasih yang menyayangiku.
* * *

Sejak berusia dua belas tahun, ibu dan bapak cerai, lantaran gaji bapak sebagai pembuat sekaligus penjual sandal dan sepatu relatif kecil. Kadang menerima pesanan dan kadangkala satupun tidak ada pemesan sekaligus pembeli. Bapak bekerja ekstra. Meskipun gajinya pas-pasan, bapak juga salah seorang guru ngaji TPA. Ya, mungkin karena ibu matre, dia tega meninggalkan kami semua.

Ibu meninggalkan kami sejak adikku baru berusia lima tahun. Saat itu adikku masih tinggal di bangku TK. Dan aku masih kelas dua SMP. Sejak kepergian ibu, kehidupan keluargaku sungguh dramatis. Apalagi jika melihat bapak. Bapak menjadi tidak karuan. Kalau boleh dibilang, sejak itu bapak menjadi orang super sibuk. Di samping mengajar TPA, membuat sekaligus menjual sepatu dan sandal, bapak masih juga memasak, mencuci, merawat adik, antar-jemput adik ke sekolah, beres-beres rumah, dan masih banyak lagi yang dikerjakan bapakku saat itu. Tapi, sebagai anak perempuan, aku juga kerap membantunya. Ya, sekedar nyapu lantai sih bisa. Sesudahnya aku terus belajar.

Aku tinggal di rumah kontrakan yang cukup sederhana. Bukan sekedar nyapu lantai saja, aku juga mencuci baju, menyetrika, dan sebagainya. Itung-itung meringankan beban bapakku di rumah. Aku juga sedikit-sedikit bisa masak. Aku bisa masak karena belajar dari tetangga sebelahku, namanya budhe Tum. Budhe Tum sudah aku anggap sebagai saudara sejak dulu. Dia kerap membantu aku dan bapakku setiap kali dibutuhkan.

Di tengah problem keluarga yang cukup komplek, bapakku tidak menyurutkan rasa kasih sayangnya kepada aku dan adikku. Bapak sungguh pria yang sabar. Dan yang paling aku kagumi adalah ketakwaannya. Kadang aku sempat terenyuh melihat bapakku saat dia sedang mengerjakan pesanan, ditemani adik yang bermain-main di dekatnya. Bapak kerap meneteskan air mata saat adik bertanya masalah ibu. Apalagi saat adik bercerita tentang ibu teman-teman sebayanya. Tidak hanya itu, permintaan-permintaannya untuk dibelikan mainan bagus juga sempat merepotkan bapak. Bapak kerap pergi sambil menangis saat dijejali pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kadangkala bapak hanya menjawabnya dengan lirih dan berat hati. “Sabar, nak. Allah selalu menyayangi dan mengasihi kita semua. Sabar ya…”

Untuk sedikit meringankan beban hidup keluargaku, budhe Tum sempat menasehati bapakku agar segera menikah. Tapi bapak selalu menolaknya. Bapak takut kalau istri barunya tidak menyanyangi aku dan adik. Barangkali bapak juga masih trauma atas pernikahannya dengan ibu. Ia masih takut akan kegagalan dalam berumah tangga.

Pernah suatu ketika ibuku meneleponku di rumah budhe Tum. Dia bermaksud mengajakku dan adikku, Haris untuk tinggal di rumahnya. Katanya sih, ibu sudah hidup enak. Dia hidup serba kecukupan dalam rumah yang mewah. Ibu saat itu sempat memberiku nomor rumah dan juga nomor telepon.

Ibuku tinggal di Yogyakarta. Lantaran aku tidak berminat dengan tawarannya, aku pun eggan pergi ke rumahnya. Aku tidak berminat tinggal bersama ibuku. Semuanya itu lantaran aku tidak sudi tinggal serumah dengan seorang pelacur. Ya, ibu melacurkan diri sejak dia meninggalkan kami. Bahkan menurut sebagian teman-teman bapak yang kerap tugas ke luar kota, ibu malah mendirikan tempat pelacuran di dalam rumahnya itu.

Aku kerap menangis, saat aku merenungkan realitas kehidupan bapak dan ibu. Aku kasihan dengan bapak yang telah lama ikhlas dan sabar mengurusku sendirian. Jika aku ingat ibu, aku merasa benci banget sama dia. Kadangkala aku ingin mendatanginya dan mencaci-makinya biar dia malu atas kebejatannya. Tapi aku selalu ingat nasehat bapak. “Sabar anakku. Jadi orang itu harus sabar ya!” Mungkin kata-kata itu yang selalu mencegahku untuk berbuat brutal kepada ibuku. Ya, kata-kata itulah yang terus memberkas dalam jiwa dan perasaanku.

Suatu pagi bapak dan adik pergi entah kemana. Pamitnya sih mau membelikan adik mobil-mobilan. Aku sempat melarangnya. Alasanku melarangnya karena beberapa hari ini aku mimpi buruk. Dalam mimpiku ibu datang dengan tawanya yang gak karu-karuan. Saat itu terjadi di depan toko sepatu milik bapakku. Tampaknya ibu menertawakan bapak yang hidup dalam kekurangan. Tapi, bapak tidak memperdulikan himbauanku. Bapak dengan bahagia meninggalkan rumah untuk membelikan mobil-mobilan adikku.

Rasanya baru kali ini aku menemukan senyum kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah bapakku. Bapakku sejak kepergian ibu tidak pernah terlihat sebahagia seperti saat itu. Bapak bahagia karena saat itu dapat membelikan adik mobil-mobilan. Ya, kebahagiaan yang jarang aku temukan pada bapak selepas kepergian ibu.

Pernah sih aku melihat bapak tersenyum. Tapi, ya hanya sekedar senyum-senyum biasa. Dalam senyumnya itu bapak kerap berkata lirih sambil memaknai realitas kehidupan yang dijalaninya. “Aku hanya bisa ibadah dengan ini, lantaran aku tak punya harta yang bisa aku sedekahkan. Ibadahku hanyalah memberi kasih sayang kepada sesamaku. Begitu juga kepadamu dan adikmu, nak. Ingatlah nak, biarpun kita miskin harta tapi sungguh jangan sampai miskin iman.”

Begitulah nasehat yang sering aku dengar dari bibir bapakku untuk aku dan juga adikku.
Suatu peristiwa naas terjadi menimpa bapak dan adikku. Peristiwa naas itu terjadi ketika bapak mengantarkan pesanan sepatu kepada pelanggan sepulangnya dari toko mainan. Biasanya pemesan mengambilnya sendiri ke toko. Entah mengapa saat itu bapak sendiri yang mengantarkannya. Mungkin sudah cukup lama pesanan itu tidak diambil orangnya. Memang, bapakku termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang baik hati terhadap sesamanya. Tapi baru setengah perjalanan, bapak dan adik yang saat itu bersepeda kumbang disapa seseorang. Dan bapak menolehnya. Tiba-iba tanpa sadar ada mobil yang dengan kecepatan tinggi memakannya dari depan. “Ya, Allah. Sungguh apa yang kaulakukan pada bapak dan adikku? Kau telah mengambilnya dariku! Sungguh tidak pantaskah kami hidup bahagia? Harus hidup dengan siapakah aku, sementara ibu saja bersikap begitu? Itulah ungkapan keluhku saat mendengar kabar bahwa ayah dan adikku meninggal dunia dalam kecelakaan itu.

Tapi berulangkali aku teringat dengan ucapan bapak yang sempat terngiang-ngiang di telingaku. “Sabar, nak! Jika Allah menciptakan makhluknya, maka sudah pasti Dia selalu menyayangi, menjaga, dan juga memberinya rezeki.”
Setelah tujuh hari dari kematian bapak, budhe Tum mengajakku tinggal bersamanya. Budhe Tum juga menyekolahkanku sampai lulus SMA. Ia merawat dan membiayaiku sekolah dikarenakan sejak dulu dia telah menganggapku sebagai keluarga sendiri. Selain itu, anak-anaknya juga sudah besar dan bekerja. Bahkan ada juga yang telah berkeluarga serta hidup enak.

Dalam kehidupanku yang baru, tiba-tiba ibuku kembali datang padaku. Entah, angin apa yang membawanya hinggap dalam kehidupanku saat itu. Ibu tiba-tiba menelepon aku. Saat itu, aku ceritakan semua kepahitan hidup yang telah terjadi. Setelah kuberitahukan semuanya, ibu menangis dan esok harinya aku langsung dijemputnya dengan mobil mewahnya.

Sebenarnya aku menolak untuk ikut. Tapi ibu memohon-mohon kepada budhe Tum layaknya pengemis jalanan yang meminta sepeser uang kepada seorang majikan. Budhe Tum pun tak bisa berbuat apa-apa lagi lantaran dia tidak punya hak atas diriku. Dia akhirnya merelakan aku pergi bersama ibuku. Walaupun dengan berat hati ia harus melepasku. Dengan berat hati pula aku meninggalkan budhe Tum. Dan aku pun hidup bersama ibuku di rumahnya. Meskipun demikian, budhe Tum masih kerap meneleponku. Dan tidak jarang juga dia menasehatiku.

Sebulan sudah aku berada di rumah ibu. Tapi sekali pun, aku tak boleh keluar rumah. Ibu begitu senang keluar rumah. Dalam kepergiannya itulah ia membelikan segala keperluan yang aku butuhkan. Dan saat dia di rumah, telepon tak henti-hentinya berdering memanggil ibu. Anehnya, saat ibu tak ada, tak ada satu pun telepon untuknya. Aku juga heran. Di rumah itu aku tak pernah melihat satu pun alat kontrasepsi atau sejenisnya, minuman-minuman keras atau barang-barang yang mencurigakan seperti apa yang terlukis dalam benakku selama ini. Dan saat aku tanya kenapa aku tak boleh keluar rumah, dengan tegas ibu menjawab: ia takut kalau aku terpengaruh pergaulan di sekitar yang begitu bebas.

Bullshit!!! Dasar orang-orang semuanya pada brengsek! Ternyata berita yang aku dengar tentang ibuku semuanya cuma fitnah. Mereka bilang ibu pelacur-lah, mendirikan germo-lah, ujung-ujungnya cuma apa?! Nol banget! Aku menyesal sudah mengata-ngatai, mencurigai, bahkan dalam hati pun aku menyumpahinya. “Ibu, maafkan aku!” Rasanya aku tak pantas jika disebut sebagai putrinya. “Ya, Allah. Sungguh ampuni aku yang telah lama mendurhakai ibuku!”

Ibu sempat mencarikan aku jodoh dengan seorang pria tampan, gagah, dan pengusaha besar. Dia berusia kira-kira tiga puluhan tahun. Tapi itu hanya sekedar perasaan dan sepintas penglihatanku saja. Aku pun dengan senang hati menerimanya. Aku percaya seratus persen pada ibu. “Terima kasih, ibu. Terima kasih atas ketulusanmu!”

Suatu malam aku diajak tunanganku kencan. Tapi tiba-tiba hujan menggagalkan rencana kami. Bahkan tunanganku, mas Fadhli, tak dapat pulang. Ia akhirnya terpaksa tidur di sofa di ruangan keluarga dekat kamar ibuku. Sementara aku masih seperti biasa, tidur di kamarku di lantai atas.

Sudah hampir dua bulan aku tinggal bersama ibu. Dan sepertinya aku mulai melupakan kenangan-kenangan bersama bapak, adik, dan budhe Tum. Tapi, aku masih senantiasa mendoakannya. Aku juga tak lupa menelepon budhe Tum. Kadang-kadang ia sendiri yang menelepon aku. Tapi, tiba-tiba saja malam itu aku bermimpi tentang bapak, seperti peristiwa delapan tahun lalu. Ya, waktu itu bapak berkata pada ibu:

“Bu, kalau kamu mau pergi, silahkan! Tapi jangan bawa anak-anak. Karena ibu hanya akan menyakiti mereka.”
Begitulah ujar bapakku kapada ibu waktu itu. Sungguh kata-kata itu kembali menyelinap dalam mimpiku. Kata-kata itu sama persis dan bahkan dalam situasi yang sama. Lantas aku terbangun dengan irama jantung terengah-engah. Melodi pikiran morat-marit. “Ya, Allah. Ternyata cuma mimpi!” sebutku.

Tak tau kenapa, tiba-tiba pikiranku gak enak banget. Pikiranku selalu diburu kecemasan. Padahal aku juga sudah mendoakan bapak sehabis bangun dari mimpiku. Sebentar kupandangi langit-langit kamarku. Dan sesekali kuarahkan kelopak mataku yang masih sayu ke sudut-sudut ruangan. Pun kudapati jam dinding yang tergantung di sisi kiri tempat tidurku. Ternyata waktu masih menunjukan pukul tiga pagi. Akupun keluar kamar dengan maksud mengambil segelas air minum.

Aku berjalan mengendap-endap layaknya seorang maling. Aku takut suara langkah kakiku terdengar dan membangunkan ibu, pembantu, dan juga mas Fadhli. Tapi baru dapat setengah tangga langkahku terhenti.
“Apa yang terjadi di mataku? Ya, Allah. Apa ini?” kataku dalam hati.
Hatiku tersentak dan tercabik-cabik saat melihat kejadian itu. Kudapati ibu dan mas Fadhli berciuman di sofa. Lantas mereka berdua masuk ke kamar ibu.
“Apa yang mereka lakukan, ya Allah?” begitu sebutku.

Ibu memang masih muda. Kira-kira tiga puluh lima sampai tiga puluh delapan tahun. Ia juga suka berdandan. Bahkan jika disandingkan denganku, aku sudah pasti kalah cantik denganya. Maklum, aku jarang sekali berdandan. Boleh dikatakan tidak pernah sama sekali. Tidak hanya itu, mungkin saja karena aku yang selalu diselimuti derita dan airmata serta kesusahan hidup yang membuatku kalah cantik dengannya. Ya, mungkin karena kecantikan ibu melebihi kecantikanku sehingga malam itu mas Fadhil tergoda dengannya. Tapi aku sungguh tak menyangka, kalau ibu tega menyakiti putrinya sendiri.

Kuteruskan saja langkah kakiku yang beriring kehancuran hati yang begitu pilu. Aku berdiri tepat di depan kamar ibu. Kuteteskan pula linangan air mata kesedihan dan juga hati yang terbanting atas peristiwa malam itu. Lirih kudengarkan suara ibu.
“Sayang, sudah lama kita tidak…”

Suara itu kemudian hilang, berganti canda-gurau mereka. Sungguh aku tak tahan lagi. Akhirnya terselip dalam anganku untuk segera membuka pintu kamar itu. Aku benar-benar muak dengan mereka.
“Ups!!! Tidak. Aku mesti mikir ribuan kali untuk membuka pintu kamar itu. Ya, bagaimana jika aku benar-bemar membukanya?! Apa aku tidak malu melihat mereka?”

Saat pikiranku terhempas gelombang tanya seperti itu, tiba-tiba tubuhku lemas. Aku terduduk di bawah pintu. Pikiranku pun kosong. Aku hanya diam terpaku.
Beberapa waktu kemudian, mas Fadhli membuka pintu. Dia langsung duduk sembari memegang kedua pundakku. Dia pun diam sambil menatap kedua mataku yang basah dengan linangan air mata. Entah dia kaget, merasa bersalah, malu?! Atau bahkan dia malah menertawakanku?! Entahlah?!

“Wahai anakku, sabarlah! Ingatlah Tuhanmu! Kembalilah kepada-Nya karena kemarin dan hari ini kau telah lupa.”
Tiba-tiba suara itu terbesit di telingaku. Suara itu berasal dari arah tangga. Ya, aku ingat suara itu. Itu suara bapakku. Akupun menolehkan kepalaku dan kutemukan bapak duduk tersenyum di sana.

Aku tersentak. Aku melepas genggaman tangan mas Fadhli yang merekat erat di pundakku. Aku berlari menghampiri bapak. Tapi baru setengah langkah, bayangan itu hilang. Aku kembali roboh. Sedang ibu dengan sehelai selimut penutup tubuh, datang menghampiriku.

“May, anakku, maafkan ibu! Fadhil memang pelangganku. Dan aku merindukannya. Maafkan ibu, nak!” begitu tutur keluhnya padaku.
“Bu, kalau aku marah pada kalian, berarti aku sama jahatnya dengan kalian. Aku tak mau menjadi pemisah sepasang kekasih. Ibu tidak salah. Hanya saja akulah yang bodoh. Yang terlalu percaya kepada kalian berdua,” lirih ucapku.

Ya, setelah semuanya kupikir-pikir, ternyata aku lupa pada-Nya. Mengapa aku waktu itu langsung bersedia menerimanya? Aku memang bodoh dan lalai akan diri-Mu, ya Allah. Mengapa aku tak beristikharah dulu, sebelum memutuskan segala sesuatu? Ya Allah, ampunilah aku! Ampuni segala kekhilafanku!

Setelah seribu sesal bersemayam dalam diriku, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke budhe Tum. Kurasa dialah satu-satunya orang yang menyayangiku dengan sepenuh hati. Sungguh, kasih sayangnya melebihi kasih sayang ibu kandungku.

Lamongan, 2007

* Penulis adalah Pelajar MA. Matholi’ul Anwar
Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito