Sabtu, 07 Juni 2014

Beban Berat Kritikus Sastra

Heru Joni Putra
www.harianhaluan.com, 13 Maret 2011

Setiap ada tulisan perihal kritik sastra, tak jarang muncul polemik, baik itu yang mem­permasalahkan langkanya kritikus sastra, karya kritik yang tidak layak, ataupun yang mempertanyakan peran akade­misi sastra sebagai kritikus sastra.


Setidaknya hal tersebut selalu menjadi bahan pembi­caraan yang tak dapat dihin­darkan. Tetapi tetap saja tak ada muncul kritikus yang diha­rapkan—(sebenarnya peng­gunaan kata “diharapkan” di sini pun agak meragukan bagi saya, karena harapan sastrawan sebagai produsen karya sering tak sesuai dengan harapan kritikus), sehingga polemik-polemik mengenai kritik sastra terus berlanjut sampai sekarang dan bahkan merembes ke masalah lain.

Saya sebagai mahasiswa sastra, tentu saja secara tidak langsung ikut disebut dalam polemik itu. Ditambah lagi dengan komentar asal-asalan yang disebutkan oleh seorang teman saya mengenai mengapa di Fakultas Sastra Universitas Andalas lebih banyak melahir­kan penyair atau cerpenis. Menurut teman saya itu, sejati­nya Fakultas Sastra melahirkan kritikus sastra. Sejenak saya setuju dengan komentar teman saya itu, karena memang begitu sejatinya. Tetapi bagi saya alangkah baiknya bila komentar itu ia tujukan kepada dosen-dosen sastra, yang mana mereka lebih banyak ilmu dan penge­tahuan sastra dibanding maha­sis­wa. Sementara mahasiswanya be­lum apa-apa dibanding dosen­nya. Meskipun pada beberapa kasus, yang terjadi malah sebaliknya, tetapi hal ini hanya sebagian kecil. Hanya sebagian kecil.

Dengan tampang prihatin yang dibuat-dibuat, teman saya itu mengakhiri komentarnya dengan senyuman sinis, sambil menatap tajam ke mata saya. Saya berani mengatakan bahwa komentar teman saya itu sangat asal-asalan karena, pertama, ia sepertinya menganggap bahwa yang pantas menjadi kritikus sastra itu harus berasal dari Fakultas Sastra. Kedua, ia menitikberatkan komentarnya itu pada mahasiswa sastra, yang mana tidak semua mahasiswa sastra mempunyai ilmu dan pengetahuan yang luas mengenai kesastraan. Ketiga, ia sendiri hanya sanggup bicara saja.

Maka, oleh karena itu, bagi saya sebaiknya lepaskan saja ikatan antara Fakultas Sastra dan kritikus sastra, karena ikatan ini setidaknya akan memunculkan dua anggapan—yang sering menimbulkan masalah. Pertama, akademisi sastra adalah kritikus sastra, dan kedua, yang bisa menulis kritik sastra itu cuma yang berasal dari Fakultas Sastra. Oleh karena itu, di tengah iklim kesastraan yang tidak kondusif ini, yang paling pantas menjadi kritikus sastra adalah siapapun yang memiliki kepedulian yang berkelanjutan terhadap kritik sastra! Tak peduli apakah dia seorang mahasiswa/dosen sastra, sastrawan, tukang fotokopi di Fakultas Sastra, guru mate­matika, filsuf, ataupun pacar sastrawan sekalipun.

Meskipun demikian, bukan berarti yang tidak menulis kritik berarti tidak peduli pada kesastraan, tetapi di sini lebih ditekankan pada kritik sastra—baik kritik sebagai jembatan antara pengarang dan pembaca, kritik sebagai karya baru setelah karya asli (criticism as a secondary art), atau pencam­puran keduanya.

Dengan melepaskan ikatan ini, barangkali bisa membuat kita tak perlu lagi memper­tanyakan kehadiran Fakultas Sastra di dunia sastra kita ini, karena belum tentu mahasiswa/dosen sastra punya perhatian terhadap kritik sastra, manatahu keberadaan mereka di Fakultas Sastra di luar kepentingan sastra. Kita pun harus meng­akui bahwa tidak semua benih yang ditaburkan yang akan tumbuh jadi kecambah. Barang­kali ada yang ditakdirkan sebegai pelengkap, bahkan perusak. Dan bila kehadiran Fakultas Sastra mana pun tetap tak mampu memberikan apa-apa terhadap kritik sastra yang memadai—meski kata “mema­dai” sering bergeser-geser kepentingan, pun tak ada masalahnya, karena memang belum ada jaminan yang berani untuk itu.

Dan satu hal lagi, bila kita kembali lagi pada salah satu masalah yang sering dipo­lemikkan tadi, kelangkaan kritikus sastra. Saya merasa satu hal yang menjadi penye­babnya adalah masih banyak penulis muda yang mengkritik karya sastra kemampuan lisan­nya lebih fasih daripada ke­mam­puan tulisannya. Akibat­nya, kritik yang dihasilkan hanya bisa didengar orang-orang yang dekat dengannya. Alangkah baiknya bila ia menuliskannya dan dibaca bagi semua orang, sehingga bisa dibicarakan dalam konteks yang lebih luas. Tetapi biarpun begitu, dalam hal mengkritik, mengomentari, harus ada alasan yang mendukung, bukan seka­dar argumen-argumen yang tak bertanggung jawab atau puji-pujian yang tak berkeruncingan seperti yang sering terlihat di jejaring sosial, facebook.

Belajar dari Darman Moenir

Untuk hal ini, kita—teru­tama saya dan teman saya para penulis muda—harus belajar dari tulisan seorang penulis novel, Darman Moenir (Haluan, Minggu 23/1).

Satu hal yang harus dicon­toh dari tulisan Darman itu adalah kehebatannya menang­kap dan memuncul isu-isu yang sangat berguna bagi perkem­bangan kesastraan, khususnya di Sumatra Barat. Darman berani mengatakan bahwa dalam 30 tahun belakangan ini tak ada novel bermutu dari Sumatra Barat. Bagi saya, isu ini sangat menggairahkan. Tetapi sayang sekali, isu tersebut tidak dibarengi dengan alasan-alasan yang kuat dan jelas. Ia hanya bilang sampai di situ saja. Dalam hal ini, tentu saja, sangat tidak baik bagi kelang­sungan kritik sastra kita. Darman tak berani (atau tak mampu?) mempertang­gungja­wabkan komentar yang dibuat­nya itu.

Tetapi lagi-lagi, tulisan ke-dua Darman Moenir (Haluan, Minggu 27/3) yang berjudul Menulis Novel adalah “Kerja” Kreatif! tidak memuncul pemikiran Darman sedikitpun. Dalam tulisannya itu, ia hanya sibuk menyebutkan daftar nama karya dan pengarang terkenal, baik dari Indonesia ataupun luar negeri, yang untuk zaman kini, sangat mudah ditemukan di internet. Di paragraf akhir tulisannya, Darman mengucapkan terimakasih atas banyaknya tanggapan atas tulisannya yang pertama. Lagi-lagi harapan saya agar Darman menuliskan pemikirannya tentang mengapa 30 tahun terakhir tak ada novel bermutu di Sumatra Barat dan bagaimana kehebatan novel Persiden tersebut tidak saya temukan. Tetapi tentu saja saya masih berharap ia akan melakukan itu dengan baik.

Sepertinya menjadi orang-orang yang memiliki kepedulian yang berkelanjutan terhadap telaah sastra yang saya sebut tadi sebagai pihak yang pantas menjadi kritikus sastra, memang tidak semudah membalik telapak tangan. Sejenak kita lepaskan tanggung jawab tersebut kepada generasi yang lebih dulu bergelimang di dunia sastra. Kita coba bergerak ke generasi yang lebih muda, yang rata-rata seumuran dengan saya.

Di tengah tingginya minat menjadi penulis saat ini—terutama di Sumbar, hampir seluruhnya memilih menjadi penulis cerpen atau puisi. Meski tak salah, tetapi sayangnya, pada beberapa orang yang kerap saya perhatikan, kemampuan menulis mereka bercampur dengan niat untuk gagah-gagahan. Tak ada usaha untuk memperlebar diri setidaknya untuk menulis esai sastra, agar pikiran-pikiran mereka pun bisa dibaca orang banyak dan bukan sekadar celotehan ataupun status fesbuk belaka.

Meski hanya beberapa orang saja yang saya perhatikan, tidak tertutup kemungkinan juga terjadi pada penulis (muda) lainnya. Kalau hanya untuk menulis puisi, atau cerpen saja, saya rasa banyak orang yang hebat. Betapa indahnya bila penyair dan cerpenis tak hanya menulis puisi. Bilamana pun ada yang berniat meniru Socrates, filsuf yang tak menulis sepatah kata pun itu, tetapi saya pikir sudah kedaluwarsa, karena toh Socrates lebih dahulu, lagi pula dia punya murid cerdas yang mencatat pemikirannya, Plato.

Tantangan

Dari tulisan saya di atas tadi saya simpulkan sendiri, ternyata menulis kritik sastra itu sangat sulit. Masalah-masalah yang menjadi beban berat bagi kritik(us) sastra, setidaknya bisa kita lihat bersama, terutama pada kasus-kasus yang saya sebutkan di atas.

Untuk menulis kritik sastra ternyata pertama kali harus mempunyai kepedulian yang berkelanjutan terhadap sastra dan kritik sastra, mesti mempunyai keluasan ilmu pengetahuan, harus berani memunculkan gagasan baru, harus mampu memper­tanggung­jawabkan argumen, harus ini harus itu, dan masih banyak lagi. Tetapi tentu saja tidak harus dari Fakultas Sastra. Dan pertanyaan yang paling penting, siapa yang berani seperti itu? Apakah ada yang berani membalas tulisan saya ini dengan tidak memperumit masalah, melainkan langsung menulis ulasan sastra? Kita lihat saja minggu depan.
***

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito