Share |
Memuat...

Rabu, 29 Februari 2012

Menyegarkan Kembali Sikap Islam

* Beberapa Kesalahan Ulil Abshar Abdalla
A. Mustofa Bisri
Kompas, 04 Des 2002

KETIKA harian Kompas (18/11/2002) menurunkan tulisan Ulil Abshar Abdalla, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, saya menduga bakal muncul banyak reaksi. Benar. HP saya dibanjiri komentar reaktif beberapa orang atas artikel itu. Semuanya bernada “mempertanyakan”.

Agama Islam Beku, Akal Terus Berkembang

Fauzan Al-Anzhari
Kompas, 04 Des 2002

DALAM seminar di Riyadh (22 Maret 1972, yang diselenggarakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS), hadir sejumlah cendekiawan dan ahli hukum Barat yang tertarik menyelidiki pelaksanaan syariat Islam hak asasi manusia dari tangan pertama.

Pertemuan ilmiah pertama dilakukan di Riyadh, lalu di Vatikan, terakhir di Strassbourg. Seminar diikuti delegasi KAS, dan ahli-ahli hukum beberapa negara Eropa.

Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam

Ulil Abshar-Abdalla *
Kompas, 18 Nov 2002

SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.

Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.

Patah Tumbuh Generasi Teater Magnit

Dwidjo U. Maksum
http://www.tempo.co/

Menjelang pementasan “Mega-Mega” karya dramawan Arifin C. Noer oleh Teater Magnit, Sabtu (2/4) pukul 13.00 – 21.00 WIB di Aula Kementerian Agama Ngawi, Jalan Kartini 15 Ngawi, latihan dan persiapan terus digenjot. “Perlu konsentrasi dan penjiwaan penuh karena ini potret kemiskinan yang dengan sangat bagus diangkat Arifin C. Noer menjadi naskah lakon,” kata Kusprihyanto Namma, sang sutradara, Selasa (22/3).

Menenun yang Baru: Suatu Upaya Produksi Teks yang Tidak Selesai

Hasnan Bachtiar *
http://sastra-indonesia.com/

KALAU mengingat Derrida, tentu tidak sukar menemukan maksud dari judul di atas. Bagi dekonstruksi Derridian, seluruh kehidupan, bergantung kepada teks. Bahkan kredo yang masyhur di belantika filsafat adalah, tidak ada sesuatu pun di luar teks.

Misalnya kita yang menikmati “bunga mawar” yang sebenarnya, lalu hendak menuliskannya karena ada kesan padanya, maka kita menulisnya, “bunga mawar” sebagai tenunan teks. Sepintas, kita berpikir bahwa bunga asli telah diwakilkan kehadirannya oleh tulisan.