http://www.jawapos.co.id/radar/
JOMBANG - ''Istirahatlah perempuan agung, sambut mentari esok lewat sedenyar fajar. Dan tunjukkan wajah berserimu di hadapan cahaya. Bila berjaga dekaplah kantuk dan berselimutkan mesra. Akan tetapi, lebih terpuji mengupas berbathin ketenangan.''
Itulah sepenggal puisi indah bertajuk ''Bait-Bait Indah'' karya sastrawan muda, Nurel Javissyarqi yang dibedah di kantor PCNU Jombang, Sabtu (7/11) malam.
Buku yang berjudul Kitab Para Malaikat itu merupakan kumpulan puisi panjang yang diadaptasi dari berbagai unsur religi dari berbagai jaman dan teritorial kehidupan manusia.
''Indah. Mungkin baru kali ini saya membaca tulisan yang mengkolaborasikan antara seni pada zaman yang berbeda-beda,'' tutur Robin Al-Kautsar, penyair Jombang yang menjadi salah satu pembedah.
Ia mengatakan bahwa buku setebal 130 halaman itu merupakan karya sastra beraliran sufistik. Betapa tidak, dari setiap bait puisi yang ditulis, terdapat bongkahan-bongkahan kalimat indah yang penuh dengan harapan suci.
Selain Robin, pembedah novel yang ditulis selama 9 tahun itu adalah Khamim Tohari penyair asal Mojokerto dan Hilmi As'ad novelis asal Jombang. Mereka semua sepakat jika karya sastra pria kelahiran Lamongan 33 tahun silam ini berbeda dengan tulisan karya sastra yang lain.
''Mulai dari karya Ratu Bilqis hingga Ratu Sima, ada semua di sini. Ini kan sangat istimewa,'' tuturnya.
Sementara itu, kepada Radar Mojokerto, Nurel mengatakan bahwa buku yang diluncurkan kali ini merupakan rangkaian pengalaman pribadi dan doa yang ada di dalam dadanya. ''Selama ini, saya belum mampu melaksanakan isi buku itu. Saya hanya bisa selalu berharap, bisa seperti itu,'' kata Nurel.
Dikatakannya, selama 9 tahun ia menghabiskan waktunya untuk menyempurnakan buku tersebut. Dari pesantren ke pesantren, ia rajin menyelesaikan dan merevisi tulisannya. Mulai dari pesantren-pesantren di kawasan Jawa sendiri, hingga pesantren di luar pulau. ''Mulai dari Jogja, Banten, hingga Sumatera. Semua itu, untuk merevisi dan merevisi lagi,'' imbuhnya.
Pada tahun 2003 lalu, ia menceritakan, pernah berkeinginan untuk meluncurkan karyanya itu. Namun ia urungkan lantaran belum puas dengan hasil tulisannya. Setelah ia bolak-balik lagi, tulisannya masih ada yang salah. ''Saya menyebutnya, ada penggoda. Sehingga saya selalu ragu untuk meluncurkannya,'' kata pemilik nama Nur Laili Rohmad tersebut.
Jika diamati, karya Nurel memang berbeda dengan karya penulis yang lain. Secara kasat mata, kode penomoran pun masih menggunakan angka romawi bukan angka yang kini wajar digunakan. (mg2/nk)
Forum Sastra Lamongan
FSL: BUKAN ANAK TURUN DEWAN KESENIAN LAMONGAN, namun kumpulan anak muda Lamongan -JaTim, yang guyub bekerja di bidang sastra, sebagai pribadi mandiri.
Senin, 09 November 2009
Inspirasi dari Pesantren
Selasa, 08 September 2009
Sang Pelacak
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.jawapos.com/
Sebuah tlatah mulanya adalah sebentang nubuat, situs yang terus bergerak, dan perang yang bergolak panjang. Tragedi dan cerita manusia di dalamnya bagai layang-layang putus di angkasa. Begitulah kiranya apa yang tersirat di batin De Jonge (1828-1879), si tukang arsip kolonial yang disegani itu. Ia merupakan generasi setelah Valentijn (1666-1727), Peiter Van Dam, dan J. Hageman (1817-1872). Selain itu, sosok P.J. Veth (1814-1896), Van Deventer (1832-1892), dan De Haan (1863-1936) merupakan mata rantai para peneliti di mana kesejarahan kolonial lebih banyak dipandang dari mata dan data yang mereka susun di ”kamar gading”-nya sendiri, yang kerap dicibir tak menyentuh realitas pribumi Jawa. Sehingga, dampak otoritas yang ”kaku dan tunggal” menjadi problem serius bagi keberlanjutan studi ini. Mereka tak melongok periode Hindu-Jawa sebelum 1600, yang selanjutnya digarap oleh T.S. Raffles (1781-1826), Pater Brumund dan Hoepermans, lalu diteruskan oleh para ahli bahasa Sanskerta, seperti Kern, Brandes, dan Krom.
Tampaknya, ambisi akademis dari riwayat kolonial tersebut menggulirkan bejibun riset yang tiada surut. Kini, suatu studi intensif berupa pelacakan penulisan sejarah kota atau kabupaten beserta dinamika yang melingkupinya menjadi sangatlah berharga. ”Kepustakaan” terpenting bagi kaum pengkaji sejarah kota tentulah tidak akan mengabaikan literatur semisal dari J.J. Meinsma, Serat Babad Tanah Jawi: Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647 (S’Gravenhage, 1903), di samping Babad Tanah Jawi versi lain, seperti Babad Kraton (sejarah Keraton Jawa sejak Nabi Adam sampai runtuhnya Mataram) karya R.Tumenggung Jayengrat. Teks ini bisa disejajarkan dengan Babad Besar Surakarta karya Pakubuwana VII. Kendati babad yang terakhir itu sebetulnya serapan dari Babad Kartasura yang oleh C.F. Winter ditengarai sebagai seratan Carik Bajra alias Tumenggung Tirtawiguna. Di antara sekian babad sejenis ini, penelusuran sebuah tlatah dan kroniknya dapat dijadikan ”lanskap banding” dan diskursus yang eksploratif.
Sekarang penerbit Henk Publica Surabaya sedang menggodok penerbitan serial sejarah kota atau kabupaten yang terdiri atas 31 kabupaten di Jawa Timur. Misalnya, Babad Surabaya: Sejarah dan Perkembangan Kota Surabaya. Serial babon itu ditulis oleh Dr Purwadi MHum, dosen dan peneliti UGM.
Catatan urgen dari penerbitan babad-babad kota ini diikhtiarkan untuk mengetahui, menilik, menyusuri, dan melakukan pembacaan sejauh mana peran dan eksistensi wilayah-wilayah tersebut dalam kancah kesejarahannya dari masa ke masa. Meski, tidak semua tersajikan dengan sempurna. Realitas itu jamak dialami oleh beberapa kabupaten, seperti Kabupaten Jombang. Wilayah ini hingga sekarang masih belum disepakati tentang kapan ”hari jadi”-nya atau kelahirannya ditetapkan. Padahal, kabupaten tersebut telah sekian kali mengundang tim kesejarahan dari pelbagai kalangan akademisi, terutama dari UGM.
Diskursus klasik dan debatable sering mentok terkait dengan minimnya data berupa naskah kuno, data prasasti, etnografi, cerita tutur, data artefaktual, dan arsitektural masa Jawa kuno yang masih kabur dan bias, juga data arsitektural dan arsip masa kolonial. Sedangkan, daerah lain, seperti Surabaya, Mojokerto, Malang, Tulungagung, Trenggalek, dan Kediri, telah menemukan hari ulang tahunnya. Identitas kesejarahan semacam ini menjadi tolok ukur untuk meneropong pasang surutnya ”kembara” sebuah kota.
Maka, Purwadi -yang memiliki kapasitas penguasaan kepustakaan Jawa yang lumayan luas- mencoba membeber dan mengidentifikasi keberjalanan dan kontribusi sebuah kota dalam perspektif lampau (baca: Nusantara) dan yang kini (baca: NKRI). Lacakan-lacakan Purwadi akan naskah-naskah kuno sebenarnya tergolong jlimet dan dilematis. Tidak semua daerah memiliki riwayat kesejarahan yang representatif dan termaktub dalam sejumlah babad. Misalnya, Kota Magetan, yang tampaknya menjadi bagian besar dari riwayat Kasultanan Surakarta yang selanjutnya dibayang-bayangi pemerintahan Hindia Belanda, selain Ngawi dan Madiun.
Ketika Purwadi menggulirkan Babad Malang, ia menyebut bahwa riwayat utama kota ini bisa ditelusuri lewat cerita Singosarian ken Arok, Ken Dedes, Kebo Ijo, Tunggul Ametung, hingga Kertanegara. Maka, sebagai rujukan untuk mengeksplorasinya, ia menggunakan Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Sorandaka, Serat Blambangan, Serat Murwakala, dan Serat Pustaka Raja.
Babad Gresik mengacu dan mengeksplorasi dari bahan: Babad Gresik, Nagara Kertagama, Serat Centhini, Suluk Wujil, Serat Kandha, Sujarah Dalem dengan tokoh-tokoh historisnya, seperti Sunan Giri, Sunan Dalem, Sunan Prapen, dan Sunan Seda Ing Margi, di mana kota ini dahulu kala merupakan salah satu pusat pelabuhan yang menjadi barometer interaksi sosial, politik, penyebaran agama Islam, dan perdagangan dengan pelbagai wilayah negeri manca.
Kemudian Babad Madiun (Serat Dewaraja Serat Mahadewa, Serat Sabaloka); Babad Nganjuk (Serat Kalatida, Serat Tripama, Serat Wicara Keras); Babad Sampang (Sujarah Dalem); Babad Sumenep (Negara Kertagama, Serat Kekancingan); Babad Lamongan (Nagara Kertagama, Sujarah Dalem, Sujarah Lamongan, Suluk Kumandhang, Suluk Sujinah, Suluk Tiyang Tilar Salat, Suluk Wujil); Babad Pasuruan (Babad Tanah Jawi) dan laporan-laporan tentang sosok bandit Untung Suropati yang ditulis De Graaf dalam bukunya, De Moord op Kapitein Francois Tack, 8 Februari 1686, dan lain-lain.
Satu hal yang mencuatkan percincongan krusial bagi kaum sejarawan adalah seberapa orisinal dan akurat sebuah naskah kuno dijadikan patokan dalam membabad sebentang sejarah kota? Sementara komposisi dari babad –yang sebagian besar bermetrum puspa-tembang, juga simbolisme dan kelimunan mitos-klenik yang menyelimutinya– sejatinya dihadapkan pada dialektika faktual dan riset ilmiah yang mesti dipertanggungjawabkan. Perkara demikian juga menjadi sorotan tajam bagi H.J. de Graaf saat mengulas sepak terjang akademisi kolonial atas orang-orang pribumi-Jawa. Lebih-lebih, pada riwayat mahapanjang VOC hingga pemerintahan Hindia Belanda. Dalam bukunya Historiografi Hindia Belanda (Bhratara, Djakarta. 1971), De Graaf menohok dengan pedas atas sovinisme-banal sederet pengkaji seperti P.J. Veth yang tidak menguasai bahasa-bahasa pribumi. Ia sekadar menggunakan segepok data arsip Hageman, meski ia menggarapnya dengan agak kritis. Memang, Veth tidak jauh amat dengan si romantikus Raffles. Kerja riset mereka, tilik De Graaf, menabalkan tesis bahwa mereka menulis sejarah Pulau Jawa bukan sebagai kaum penguasa asing, melainkan sebagai sejarah orang-orang pribumi yang terbelakang dan dijajah.
Barangkali yang diikhtiarkan Purwadi dengan serial babad se-Jawa Timur ini terlalu remeh pada sekian sisi pandang metode riset, jika dibandingkan dengan kaum kolonial di atas. Namun, dialah pribumi yang melihat langsung Jawa beserta penguasaan bahasa Jawa kuno atas seabrek babad yang ada, lalu mengembangluaskannya. Lemahnya penguasaan sumber-sumber pribumi bagi peneliti asing di Jawa telah memancing Pigeaud, terkhusus Brandes yang mendukung W.L. Olthof, untuk menerjemahkan secara prosais Babad Tanah Jawi ke dalam bahasa Belanda yang diterbitkan KITLV pada 1941.
Kiranya, arkeologi Jawa tak bakal pernah selesai dan etnologi terus mengulurkan kegelisahan dan antusiasme bagi sejarawan. Dan, Purwadi, dengan atmosfer ensiklopedia Jawa di lidah dan batinnya, akan terus bergerak menembus geriap peristiwa di pedalaman masa. (*)
*) Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang.
Membaca Kelembutan Sajak-Sajak Ai Ali
Nurel Javissyarqi*
http://www.sastra-indonesia.com/
Saya menemukan sajak-sajaknya semacam perasan getah nalar yang terejawantah naluri sanubari. Kejernihan cermin memantulkan wajah-wajah para penyimaknya, suatu tuntunan dari belahan kaidah-kaidah agama yang sudah diperas saripatinya. Dan menjelma syair-syair perjuangan yang tampak lebih indah dari norma-norma kehidupan.
Saya yakin, semuanya berasal dari jerih payah yang sungguh luar biasa menjaga keuletan, ketulusan yang ditempa hikayat hayatnya. Sehingga ketabahannya menjadikan maklumat begitu sungguh luar biasa, yang sanggup dipetik anak-anak muda, dapat diambil para pujangga.
Ada lantunan suara gaib melebihi mantra dalam menelusupi sukma pembaca, demikian perasaan pertama saya pada gugusan kelebutan bathin manusia dari negeri Brunei itu, yang saya sendiri tiada mengetahui kesehariannya. Saya hanya membayangkan Ai Ali senantiasa memakai pakaian lembut yang menghantarkan jiwanya pada kebeningan pencarian. Atau ia menutup segala keindahan itu dengan lelaku biasa-biasa saja, maka marilah kita simak sajak-sajaknya:
ADUH
aduh kaucantik
ada anjing di rinduku
aduh kauseksi
ada babi di birahiku
aduh kucinta
adakah basah di anumu?
Kalau boleh memaknai Ai Ali, ia sekelok keris Jawa Tengah dengan pamornya yang lembut seolah tumpul namun berbisa. Jika ia seorang penyair, jiwanya begitu kejam terhadap kesucian samadi. Jika ia seorang pujangga, bathinnya telah menyerap ribuan cahaya kapujanggaan. Lebih lembut dari tetes-tetes embun, lebih santun dari angin sepoi.
Ada percik-percik api yang selalu siap membakar keyakinannya. Sungguh dibuat gemetar berkali-kali membaca sajaknya yang aduhai. Antara kesantunan, kesahajaan, kepanditaan, suara-suara agung dititiskan tengah malam, dan perasaan siang keberjamanan.
Ada melodi yang kelembutannya melebihi jalannya putri-putri keraton atau para bidadari. Serupa itulah maut kehendak sajak-sajaknya menikam urat syaraf para penikmatnya. Seolah dirinya tak menyia-nyiakan waktu meski pun sedetik saja dalam lalu. Sebab timbangannya menyerupai sayap-sayap Malaikat Ruhaniyyun mengepakkan cahaya.
SADAR
hidup ini punya makna
untuk disempurna
padaNya
cahaya
makna
padaku
takwa
percaya
alpa
ternoda
lupa
binasa
Tuhanku,
padaMu
aku
tanpaMu
apa dayaku
kuasa di Mu
tak di ku
Saya teringat makolah hadits qudsi akan dunia kewalian. Kehendak suci ibarat mayat tiada memiliki dinaya, semuanya atas fitroh-Nya, kefitriannya melebihi kelahiran anak-anak manusia. Ada yang tak dapat diraih namun tergapai dalam hati muklisun. Ada yang tak terucap, tapi kedipan mata sanggup meruntuhkan daun-daun selisih pendapat.
Di mana keseluruhan hak-Nya tiada sebanding debu-debu keabadian purna. Kejahiliaan sunggulah tampak oleh Cahaya, ketika manusia mampu bersuci sepenuh pasrah. Bukan maut ia takuti, tetapi perpisahan dengan Kekasih.
Ada yang tak boleh diraba di saat ketentuan telah menujah hikayat-hikayat kenabian, dan kesilapan itu hanya pada insan-insan terlena. Ada bertumpuk-tumpuk hasrat suci melebihi keindahan candi Borobudur, ilmu manfaat bukan berhala manusia di alam dunia.
GADIS DI JENDELA
duhai gadis yang di jendela
apa sedang rindu?
aku yang lalu di depan jendelamu
tak tampankah untuk rindumu itu?
duhai gadis yang di jendela
siapa kautunggu?
aku yang ada di depan jendelamu
juga pandai mencumbu
mensyahdu rindumu itu
dengan ayu
duhai gadis yang di jendela
apa kaubuta tak melihatku?
duhai gadis yang di jendela
apa kautuli tak mendengarku?
aduh hampa
betapa cinta
perlu mata tak buta
perlu telinga tak tuli
aduh kecewanya
tak terkata
Aduh Ai Ali, kau lantarkan rayuan muda-mudi untuk mencintai Kekasih Abadi. Kau lontarkan bentuk fisikal demi penghampiran makna lebih terbuka, jasad sebagai kendaraan sukma merajalelanya cinta. Tubuh yang tak berkata-kata pun merasakan juga, betapa dalamnya siksa kerinduan purna, ketika Sang Kekasih tak merelakan pandangan-Nya.
Kau hantarkan kami dari kefahaman insan menuju drajad paling tinggi melebihi para malaikat, lantas sebagai rahmatan lil alamain. Dan penolakan itu pandangan terpisah dari cahaya-Cahaya.
*) Surabaya 23 Juni 2009. Pengelana asal Lamongan, Jawa Timur.
Krisis Kepenyairan Kita
Ribut Wijoto
http://www.sastra-indonesia.com/
Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, telah terjadi krisis kepenyairan di tanah air kita. Banyak sekali bentuk-bentuk puisi yang sebelumnya pernah berkembang, kini, mengalami kemacetan. Padahal bila dikembangkan, bentuk-bentuk puisi itu akan menemukan kemantangannya yang baru.
Pertama, bentuk puisi balada seperti yang dikembangkan WS Rendra. Kedua, bentuk puisi mantra seperti yang dikembangkan Sutardji Calzoum Bachri. Ketiga, bentuk puisi lugas tetapi mengandung filosofi mendalam seperti yang dikembangkan Subagio Sastrowardoyo. Keempat, bentuk puisi kosmopolitan seperti yang dikembangkan Afrizal Malna. Kelima, bentuk sufi seperti yang dikembangkan Abdul Hadi WM. Keenam, bentuk puisi protes sosial seperti yang dikembangkan Wiji Thukul.
Ketujuh, bentuk puisi mbeling seperti yang dikembangkan Remy Sylado. Sungguh disayangkan, tidak ada penyair tanah air kita yang secara intens mengembangkan ketujuh bentuk puisi itu.
Kita semua tahu, bentuk puisi bukanlah sekadar permainan wujud puisi alias otak-atik bahasa. Bentuk puisi juga merepresentasikan penilaian atas realitas dan sikap kepenyairan. Lebih jelas lagi, bentuk puisi mengemban adanya tradisi. Masing-masing bentuk puisi memiliki kesejaharannya tersendiri. Memiliki kewenangan dan tugas yang tidak terakomodasi oleh bentuk puisi lain. Lebih jauh lagi, masing-masing bentuk puisi memiliki “kitab-kitab” yang berseberangan.
Penyair WS Rendra ketika mengungkapkan greget kepenyairannya melalui bentuk puisi balada, dia belajar pada penyair Spanyol Federico Garcia Lorca (1898-1936). Upaya ini sangat rasional, bentuk puisi balada memang pernah memuncak pada puisi Lorca. Justru tanpa belajar pada Lorca, Rendra bisa dituduh tidak berpijak pada tradisi puisi balada. Atas proses kreatif ini, Subagio Sasrowardoyo secara apik menuliskannya dalam esai “Kerancuan Pribadi Rendra-Lorca” (1974).
Rendra tidak hanya meniru puisi, dia sampai menapak-tilasi gaya hidup bohemian Lorca. Tradisi dari Lorca ini dipadukan dengan kepiawaian Rendra mengolah kisah-kisah tokoh fenomenal dari babad maupun serat Jawa. Kadang-kadang dipadukan pula dengan tokoh dalam foklor atau cerita rakyat. Hasilnya sangat mengagumkan. Kepada masyarakat Indonesia, Rendra mampu mempersembahkan puisi-puisi yang tersaji dalam kumpulan Ballada Orang-Orang Tertjinta (1957), Blues untuk Bonnie (1971), dan Sadjak-sadjak Sepatu Tua (1972).
Berpijak pada ranah yang berbeda, Sutardi Calzoum Bachri mengusung bentuk puisi mantra. Untuk kematangan bentuk puisinya, Sutardji mengaku belajar tradisi puisi Arthur Rimbaud dari Prancis. Lebih dari itu, tokoh yang kerap menyebut dirinya “presiden penyair Indonesia” ini juga meneguk daya magis mantra-mantra kuno yang melimpah ruah di bumi Nusantara.
Pilihan bentuk puisi penyair berdarah Melayu Riau ini ditegaskan melalui kredo, “Menulis puisi bagi saya ialah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata. Dan Kata Pertama adalah Mantra. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra”. Kredo ini mengalir deras melalui puisi-puisi yang terkumpul dalam O (1973) dan Amuk (1977).
Sutardji tidak hanya mengusung mantra dalam puisi. Dia juga belajar membaca puisi dengan gaya pawang. Hasilnya Sutardji mampu memukau penonton melalui pembacaan yang penuh daya magis. Begitulah, Sutadji secara total memperjuangkan bentuk mantra dalam kazanah kepenyairan di tanah air. Sebuah perjuangan yang terancam sia-sia karena tidak dikembangkan para penyair terkini.
Eksplorasi pola sintaktik puisi tidak “aneh-aneh” dikembangkan oleh penyair Subagio Sastrowardoyo. Bentuk puisinya sangat lugas. Di balik kelugasannya, ada kedalaman muatan filosofi. Subagio seperti menunjukkan kepada khalayak riuh, menulis puisi tidak harus dengan jungkir-balik bahasa. Puisi justru berharga dengan kesederhaannya. Penyair kelahiran 1924 ini memang berhasil menurunkan beragam kerumitan pemikiran filsafat ke dalam ilustrasi keseharian. Sekali lagi, puisi dengan memakai bahasa keseharian.
Subagio secara sabar memungut tema-tema, pralambang, motif-motif, maupun ajaran filosofi Jawa. Memadukannya dengan beragam wacana lain. Semisal wacana Islam, Kristen, Hindu, Budha, sampai pada filsafat Barat. Kesemuanya diperas dan disaring untuk membicarakan kesepian, cinta jasmaniah, teka-teki kematian, nasib yang tidak menentu.
Bentuk puisi lugas dengan filosofi mendalam, sekarang ini, tampaknya benar-benar kesepian di tengah gegap gempita puisi yang mengedepankan kerumitan metafor. Padahal, kebersahajaan puisilah yang merawat harmonisasi antara bahasa puisi dengan bahasa masyarakat. Artinya, penyair mengkerutkan dahi dan menguras keringat dingin agar mampu mencipta bahasa sederhana.
Tapi memang, pengungkapan sederhana bukan satu-satunya kebenaran dalam puisi. Awal tahun 1980-an, tradisi puisi Indonesia seperti mendapat “tabrakan” keras dari Afrizal Malna. Secara total, penyair yang juga menulis naskah untuk pementasan Teater SAE ini mengabarkan wacara antroposentrisme berbelah. Sebuah penilaian bahwa modernisasi telah melontarkan manusia dalam krisis identitas. Manusia tidak lagi mampu menguasai jati dirinya. Identitas manusia tergantikan dengan jati diri benda-benda hasil ciptaannya sendiri. Afizal berhasil mengadopsi beragam pemikiran postmoderisme ke dalam puisi Indonesia.
Kontribusi Afrizal sangat kentara. Berbagai diksi (pilihan kata) yang semula “seakan” haram masuk puisi Indonesia tiba-tiba bebas “bersliweran”. Misalnya diksi semacam radio, televisi, supermarket, Mc Donald, kolonialisme, dan lain-lain. Kesemuanya memuncak dalam kumpulan puisinya Arsitektur Hujan (1995). Sebuah gerakan puisi yang menghasilkan bejibun “Afrizalian”. Tapi sayang, Afrizal kini kesepian dengan bentuk puisi kosmopolitannya. Sekian banyak penyair yang meniru bentuk puisinya sedikit demi sedikit berguguran. Afrizal memang masih meneruskan tradisi puisinya, hanya saja, pencapaiannya pun menunjukkan grafik menurun. Bandingkan saja pencapaian puisi-puisi Arsitektur Hujan dengan kumpulan puisi Kalung dari Teman (1998), Dalam Rahim Ibu Tak Ada Anjing (2003), dan Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2008).
Tradisi puisi sufi Indonesia berutang jasa kepada penyair Abdul Hadi WM. Dialah gambaran penyair yang memiliki ketekunan luar biasa untuk menjabarkan pemikiran teologi para penyair sufi. Baik dari penyair tanah air maupun penyair luar negeri. Melalui seruan “kembali ke akar”, penyair berdarah Cina-Madura kelahiran Sumenep 1946 ini mengajak penyair terkini untuk mengaji lagi warisan dan spirit sastra lama di Nusantara. Khususnya yang bermuatan teologi. Tidak hanya mendedahkan wacana, Abdul Hadi juga menghasilan ribuan karya puisi bertema kesufian.
Saat ini, masih banyak penyair yang menulis puisi bertema sufi. Utamanya penyair berlatarbelakang sekolah agama atau pesantren. Sayangnya, perkembangan puisi sufi tidak memperlihatkan gejala yang menggembirakan. Puisi sufi seperti menghuni wilayah pinggiran. Tidak berani menunjukkan diri sebagai satu entitas penting dalam kazanah kepenyairan di tanah air. Sebetulnya, ada dua penyair yang berpotensi menghasilkan kematangan eksplorasi puisi sufi, yakni Jamad D Rahman dan Acep Zamzam Noor. Keduanya lahir dan besar dengan latarbelakang pesantren. Awal-awal puisinya pun berwatak kesufian. Hanya saja, lama kelamaan, puisi kedua penyair ini lebih mengarah pada pemikiran humanisme daripada pemikiran teologi.
Kalaulah ada penyair yang tewas (tidak diketahui rimbanya) karena menulis puisi, kasus ini menimpa Wiji Thukul. Dia adalah bekas buruh pabrik yang memperjuangkan ketimpangan sosial dan skandal politik melalui puisi. Satu penggalan puisi Wiji Tukul, “satu kata lawan” diteriakkan ribuan mahasiswa dalam unjukrasa menggulingkan rezim Soeharto. Sampai kini, penggalan itu masih kerap menggema dalam aksi-aksi massa.
Wiji Thukul menyadari betul lingkungan puitik puisi protes sosial. Puisi protes sosial tidak bisa sekadar ditulis lantas dikirimkan ke media massa. Puisi protes sosial harus diperjuangkan secara verbal. Memperjuangkan puisi protes sosial sama artinya memperjuangkan kandungan isinya. Bersama Arief Budiman, dia mendatangi para buruh pabrik, berdiskusi dengan mahasiswa, turun ke jalan, mengepung kantor pemerintahan, dan merangsek pertahanan polisi. Memang seperti itulah tuntutan puisi protes. Tanpa aktivitas sosial politik, makna puisi protes bakal kurang greget.
Beberapa penyair sekarang memang masih menulis bentuk puisi protes sosial. Tapi sayangnya, mereka lebih banyak mengurung diri di kamar. Padahal, saat menggulirkan kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam Puisi, Rendra pun dulu membacakannya di depan forum mahasiswa.
Nasib sedikit beruntung dialami bentuk puisi mbeling. Beberapa tahun lalu, bentuk ini dikembangkan oleh Joko Pinurbo. Melalui empat kumpulan puisinya, Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), dan Telepon Genggam (2003), Joko Pinurbo meneruskan “keusilan-keusilan kecil” seperti yang pernah digulirkan oleh Remy Sylado dan kawan-kawan pada tahun 1970-an. Kontribusi Joko Pinurbo terletak pada gaya bahasa yang lebih santun dan filosofi pemikiran yang lebih terjaga.
Sayangnya, stamina Joko Pinurbo sepertinya mulai pudar. Usai penerbitan Telepon Genggam, dia kembali lagi pada bentuk-bentuk puisi yang konvensional. Sementara di luar Joko Pinurbo, tidak ada penyair yang secara intens mengembangkan bentuk puisi mbeling.
Penulis menilai, surutnya pengembangan ketujuh bentuk puisi ini sebagai tanda krisis kepenyairan di tanah air. Padahal bila masing-masing bentuk puisi itu dikembangkan, niscaya akan menemukan kematangannya tersendiri. Kematangan bentuk puisi mantra yang berpijak dari Sutardji. Balada yang lebih matang dari puisi karya Rendra. Syaratnya hanya satu, tekun. Penyair harus tekun belajar pada tradisi. Misalkan mengembangkan puisi sufi, seperti yang dilakukan Abdul Hadi WM, penyair harus tekun mempelajari beragam pemikiran melalui bermacam kitab para sufi. Melacak pencapaian puisi sufi mulai dari zaman Raja Ali Haji, suluk para Sunan, sampai puisi hasil karya penyair luar semacam Jalaluddin Rumi.
Mengapa krisis ini sampai terjadi? Ada banyak sebab yang bisa dijadikan alasan. Tetapi jawaban utama hanya dua. Pertama, penyair tanah air telah mulai kehilangan personalitasnya. Penyair ideal adalah sosok yang memiliki personalitas tinggi, kadang justru egois. Penyair ini tidak mau menulis puisi yang sama dengan penyair lain. Dia bersikukuh menciptakan bahasa tersendiri. Sayangnya, personalitas itu kian tipis. Akibatnya, penyair tanah air terpengaruh kode bahasa estetik yang dominan. Kedua, penyair tanah air malas belajar pada sejarah puisi. Mereka merasa bahwa puisi baru saja lahir sejarah sepuluh tahun terakhir. Tidak memahami fakta sejarah; puisi juga telah ditulis sejak 30 tahun lalu, 40 tahun lalu, bahkan ribuan tahun lalu. Akibat dari kemalasan ini, penyair tanah air tidak mengetahui adanya berbagai bentuk puisi yang telah pernah ada. Pengetahuan mereka hanya sebatas puisi-puisi yang ditulis dalam 10 tahun terakhir.
_____Surabaya, 2009
ALUSI; Asap, Waktu, dan Kupu-Kupu
Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Ungkapan Chairil Anwar itu terasa lantang disuarakan kembali dalam dewasa ini. Kata-kata itu seolah menjiwai setiap pribadi anak bangsa. Sungguh betapa dahsyat aura perjuangan yang tecermin di dalamnya.
Dan hal itu melingkupi segala sektor kehidupan yang ada di bangsa ini. Tengok saja dari sektor ekonomi; anak bangsa kita saling berlomba memperjuangkan nasibnya demi suatu pekerjaan dan kesejahteraan hidup yang mapan. Sektor sosial kemasyarakatan lagi gencar-gencarnya menggalang kerukunan antarkelompok masyarakat. Dari sektor pendidikan, generasi muda kita tengah berjuang untuk meraih masa depannya. Mencoba berusaha mendiami lembaga pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya. Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang digencarkan anak bangsa kita demi terciptanya suatu keharmonisan hidup yang sejahtera.
Ada lagi jika dihubungkan dengan aksi teror bom belakangan ini. Pasalnya, pelaku aksi bom bunuh diri kali ini adalah seorang remaja yang berusia belasan tahun. Jangankan peluru, bom saja tengah diterjangnya. Alih-alih ia pasti berdalih berjuang demi menegakkan kebenaran. Tentunya kebenaran yang berdasar pada sudut pandang pribadi dan kelompoknya. Dari kacamatanya, mereka yang melakukan aksi itu pasti melihat banyaknya ketimpangan-ketimpangan sosial atau praktik-praktik tertentu yang dirasa kurang cocok dengan kepribadian dan ideologi meraka. Dan entah, kebenaran mana dan bagaimana yang dalam realitas fisikal ini dapat dikatakan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang muncul hanya bersifat relatif. Yang benar dan menang hanyalah yang mayoritas. Sebab segelintir kebenaran yang hadir di tengah-tengah kesungsangan akan menjadikannya berada dalam posisi yang salah dan terlihat konyol. Dan hanya butuh keajaiban saja, kebenaran itu dapat diakui realitas yang ada. Itu tampak dari tayangan film yang ada di negara kita. Kebanyakan akhir-akhir ini tayangan televisi menayangkan film-film yang berbau magic (keajaiban). Hampir seluruh film populer jebolan Indonesia berbau seperti itu. Ini sebenarnya citra kita dan bangsa kita sendiri yang menjadi pembeda dengan bangsa lain, khususnya bangsa Barat. Lihat saja, setiap film yang diproduksi bangsa Barat, mayoritas yang ditonjolkan adalah heroik logistik. Jadi, dapat diasumsikan bahwa kehidupan mereka membutuhkan pejuang kebenaran yang sesuai dengan kebenaran logika. Selama tindakan yang dilakukan itu dapat diterima akal dan berdalih kuat, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengakui bahwa itu benar. Dan ini tidak harus menunggu keajaiban datang layaknya realitas di negara kita.
Sebenarnya semua usaha yang mereka lakukan di atas itu tidak lain hanyalah agar hidupnya bermanfaat dan berkenang bagi orang lain. Bahkan akan melampaui usianya. Namanya tetap hidup walaupun jasad telah tiada. Tujuan itulah yang menjadi tonggak eksistensialisme perjuangan mereka. “Mereka ingin hidup seribu tahun lagi”.
Tidak kalah menariknya dengan aksi teror bom beberapa saat yang lalu. Tepatnya pada bulan Juni 2009 kemarin, dunia kesusastraan juga terjangkit serangan bom. Tapi amunisinya bukan mesiu atau yang lain, melainkan karya. Pelakunya adalah Pringadi AS. Pemuda kelahiran Palembang 18 Agustus 1988. Pringadi membombastis dunia kesusastraan dengan meluncurkan antoligi puisi tunggalnya yang berjudul Alusi, yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga 2009. Semangat perjuangan untuk memberi kenangan manis pada kehidupan sesemangat hari kelahiranya, di mana tanggal tersebut adalah masih berbau momen sejarah semangat perjuangan kemerdekaan negara kita. Ia ingin menjadi Chairil muda yang bisa hidup seribu tahun lagi dengan kehadiran karyanya. Semangat perjuangan yang bersifat positif seperti Pringadi inilah yang kiranya patut ditanamkan jauh lebih dalam pada jiwa-jiwa anak bangsa kita. Bukan doktrin-doktrin perjuangan negatiflah yang semestinya ditanamkan. Dan inilah jalur perjuangan hidup yang tampaknya tengah ditempuh oleh Pringadi untuk mengubah tatanan baru kepribadian manusia serta bangsa. Esensial makna sajak yang digurat Pringadi diharapkan mampu menjadi mercusuar bagi seseorang dalam setiap langkahnya.
Ini tampaknya pilihan yang tepat bagi Pringadi untuk berjuang dan menorehkan kenangan manis hidupnya. Dalam ilmu sastra ada istilah majas atau bahasa kiasan. Fungsinya cukup variatif. Dan yang paling menonjol adalah memberikan suasana yang indah bagi jiwa seseorang, meski menggigit hati. Istilahnya memukul dengan perasaan, sehingga orang yang terpukul tidak merasakan sakit, namun justru mampu membuat perubahan yang berarti dalam hidup dan kehidupannya.
Dari sisi judul antologi yang digurat, tujuan Pringadi sudah terlihat jelas. Alusi secara leksikal bermakna sindiran halus. Dengan ini ia ingin berusaha membuat perubahan dalam pribadi seseorang secara halus tanpa menyakiti perasaannya. Setiap orang yang membaca karya ini diharapkan akan tergugah hatinya dan berkenan membuat perubahan dalam hidup dan kehidupannya tanpa sakit hati, meski sedang tersindir oleh kata-kata dan maknanya. Itulah tujuan Pringadi.
Esensial makna sajak yang dibangun Pringadi cukup baik. Ia membangun jiwa manusia ke arah yang lebih positif, baik dari sisi eksistensialisme, religius, sosial, maupun politik. Hanya saja secara struktural, bangun sajak yang diguratnya terasa lemah. Mungkin ini faktor dari usia kepenyairannya. Ia baru mengawali karir kepenyairannya tahun 2007, sebelumnya ia adalah cerpenis. Ada beberapa hal yang patut dijadikan sebagai pusat perhatian dalam sajak-sajak Pringadi. Hal itu di antaranya adalah masalah enjambemen, penulisan huruf kapital, diksi, style, karakter, dan konjungsi.
Enjambemen dalam pengguratan sebuah sajak sangatlah penting. Sebab dengan penyematan enjambemen, seorang penyair akan mampu menciptakan konstruksi makna yang baru atau ambiguitas makna dalam karyanya. Pringadi dalam menggurat sajaknya masih kurang memperhatikan adanya enjambemen sehingga tafsiran sajaknya terasa datar dan kentara.
Penulisan huruf kapital dalam sebuah karya puisi Indonesia lama biasanya dilakukan dalam setiap kata pertama dalam setiap baris sajak. Itu merupakan ciri khasnya. Perkembangan puisi Indonesia baru, penulisan huruf kapital tersebut mengalami sedikit perubahan. Dalam sajak-sajak puisi Indonesia baru kebanyakan huruf kapital hanya disematkan pada awal kata dalam setiap bait serta hanya disematkan pada penulisan kata yang merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan nilai ketuhanan. Dalam puisi Indonesia kontemporer, penulisan huruf kapital sudah jarang ditemukan dalam karya-karya penyair. Kebanyakan mereka menuliskannya dengan huruf kecil semua kecuali judul puisinya. Untuk membiaskan makna dan penafsiran, mereka juga menanggalkan penulisan huruf kapital pada hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan. Alasan lain meniadakan penulisan huruf kapital adalah agar tidak mengganggu fokus dan konsentrasi pembaca saat melakukan proses penikmatan karya.
Karya-karya Pringadi sangat variatif. Dalam sajaknya, ia menggunakan gaya puisi Indonesia lama, baru, serta kontemporer. Namun kadang kala dalam penulisan sajaknya sebagian kata ada yang ditulis dengan huruf kapital semua. Ia tampaknya kurang memperhitungkan efek penulisan tersebut. Padahal dengan tindakan itu, suasana pikiran pembaca akan terusik sehingga mampu memecah konsentrasi penikmatan karya. Andaikan penulisan tersebut dilakukan pada kata-kata yang berkekuatan, ini bisa jadi berfungsi sebagai penajaman makna. Namun ini beda, Pringadi melakukannya pada kata-kata biasa yang tidak memiliki daya magis tertentu. Dan inilah yang saya kira mengganggu dalam kadar mengganggu yang bersifat negatif.
Dari sisi diksi, sajak-sajak Pringadi kurang menunjukkan kepadatan. Ia kerap melakukan pemborosan kata. Hadirnya konstruksi konjungsi juga menjadikan sajak-sajak Pringadi terasa encer. Sajaknya juga kerap terlihat menggurui pembaca. Ia seolah-olah menganggap bahwa pembaca adalah orang yang tidak mengerti akan esensial makna sajaknya. Hal itu terlihat dari penyematan dan penegasan kata-kata yang ditandai dengan tanda kurung dalam sajaknya. Tindakan ini justru malah melemahkan dan mengencerkan eksistensi sajak yang telah diguratnya.
Karakter cerpenis masih begitu mendominasi puisi-puisi Pringadi. Hal itu menyebabkan style bahasa yang dipergunakan dalam setiap puisi Pringadi terlihat dan terasa seperti style cerpen. Namun ini dapat dimaklumi sebab basik dasar Pringadi adalah seorang cerpenis. Ini terbukti dari prestasi yang tengah dirainya, yaitu sebagai juara lomba 1 Cerpen Hoki Literary Award 2008, juara harapan lomba menulis cerpen 2008 di kolomkita.com. Selanjutnya perhatikan sajak-sajak Pringadi berikut ini.
SPRINTER
BARU saja dipecahkan rekor lari seratus
meter atas namannya sendiri yang dibuatnya
tahun lalu (dalam debutnya)
dari eSDe, sehingga eSeMA, dia selalu
menjadi yang tercepat, pernah sampai
empat koma dua dalam empatpuluh yard
(dunia kecepatan cahaya yang sulit
dan langkah ditempuh manusia)
BESAR kepalanya akhirnya dengan medali
emas digantung di leher yang semakin
jenjang dan panjang dengan nama yang
semakin sering dicetak di media mana-mana
dia tak lagi shalat dan bayar zakat, dia
lupa ceramah masa kecil tentang akhirat
dan pertimbangan segala manfaat
“Orang yang paling baik adalah orang yang
paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”
DIPIKIRNYA dia sudah bermanfaat bagi negara,
Berarti seluruh rakyat yang duaratus juta jiwa itu
Harus berterimakasih kepadanya karena telah dia
Membuat negara bangga dan berjaya
TOH jikapun dia masuk neraka, dia bisa lari
kapan saja sebab tak ada yang lebih cepat
darinya – dari kakinya yang sudah sudah itu.
(Alusi, hal 51)
PEMILU
tak usah pilih kaus mana yang hendak kupakai
di masa kampanye damai. mana saja kuterima
apalagi jika disertai berlembar rupiah entah itu
bitu atau merah atau hijau pun bolehlah. asal
tak kurang itu.
kau ajak aku konvoi ke senayan pun tak masalah
asal tak lupa kau gantikan bensin yang biasa habis
untuk narik ojek sampai petang sebab tlah dipecat
aku dari kerjaku akibat krisis ekonomi kemarin.
dan tak usah kau paksa aku jadi tim sukses yang
mempromosikan dirimu sebagai caleg, entah itu
apa kepanjangannya: calon budeg kah? ah tak
masalah asal rupiah kau titipkan di kupiahku
yang sudah kumal dan bulukan.
tapi untuk hak pilih tak bisa kaupaksa. atau terima
apa saja tapi hak pilih adalah privasi seperti hak
opsi yang kautawarkan dalam perjanjian. asasi
yang dilindungi peraturan dan undang-undang
bisa kutuntut di mahkamah jika kau paksa.
(Alusi, hal 36)
Terjun Bebas
Ini areal bebas terjun kan? kita
tak perlu takut pada ketinggian
yang sering membuat kita gemetar
menyebut “akbar, akbar” padahal
sebelumnya TAK PERNAH.
TANYA dulu, berapa meter kita dari
permukaan laut? berapa cadangan
oksigen yang mampu mengembungkan
parasut yang dua dan dijamin akan
mampu membuka dalam keadaan
apapun itu?
kompensasi surga tak cukup meski
segala dosa tak digubris, lesat
saja seperti kereta tak tua di
gerbang pertimbangan kelak
TIDAK. TIDAK. kami ingin terjun
-terjunan saja, dari atas atap
rumah kami yang bocor, dari ayunan
tua kami yang ringkuh tak mau
dibohongi waktu
pun KAU!
(Alusi, hal 88)
Puisi-puisi panjang Pringadi di atas terasa begitu lemah berdasarkan kriteria yang telah saya ungkapkan sebelumnya. Justru bagi saya, puisi-puisi Pringadi yang berhasil adalah puisi-puisi pendeknya. Pringadi dengan puisi pendeknya mampu menawarkan kealaman makna yang begitu wah kepada pembaca. Pembaca seolah diberi keleluasaan dalam menafsirkan serta mengambil kandungan makna yang ada di dalamya. Namun yang begitu menarik bagi pribadi saya pada Pringadi adalah semangat bekaryanya. Ini yang tidak dimiliki dari kebanyakan orang. Pringadi begitu subur dan eksis dalam menggurat puisi sehingga dengan waktu yang terbilang relatif singkat ini, ia mampu menyuguhkan antologi puisi tunggalnya di hadapan kita semua. Sejenak marilah kita perhatikan sajak-sajak pendek Pringadi berikut.
Halaman Ini
Kau seolah paham: tak ada gerbang
di halaman ini
serumpun babmbu di sudut pertama,
ayunan dari besi tua, dan sebuah kolam yang
tak sempat kau beri nama
Kau cari jejak-jejak itu, sia-sia
(Alusi, hal 75)
Le Mois
Pada secangkir kopi,
tertinggal jejak
bulan malam tadi
(Alusi, hal 76)
Potongan Wajah
Di bibir bulan kutemukan
Sepotong wajahmu yang sempat
Kau lupakan.
(Alusi, hal 85)
Berkacamata pada beberapa puisi di atas, saya kira Pringadi butuh pengenalan karakter puisi yang diguratnya, sehingga ia mampu menentukan bentuk puisi yang bagaimana yang pas baginya. Dan ia pun pada akhirnya akan mampu menggalang kekuatan eksistensialisnya melalui kekuatan sajak-sajaknya. Hal itu tampaknya tengah terlukis dalam cover antologi puisinya ini; Alusi. Antologi ini bercover lonceng yang dikaitkan dengan kupu-kupu. Ini mengisyarahkan bahwa untuk menemukan keindahan sajak yang sesungguhnya, Pringadi masih butuh proses metamorfosa lebih jauh lagi. Ia masih butuh waktu pengenalan karakter pribadinya dan mengenal lebih jauh lagi tentang puisi. Selain itu, ilustrasi covernya yang lain adalah seolah-olah ada kepulan asap yang memerah. Ini menunjukkan bahwa Pringadi butuh semangat yang lebih gigih dan bergairah lagi dalam proses kreatifnya. Ia butuh kedekatan emosional dengan penyair-penyair yang lebih tua usia kepenyairannya untuk memberi dorongan psikologi serta motivasi fisik kepadanya. Selanjutnya, selamat berproses. Selamat bekarya. Dan jika ingin hidup anda menjadi cerita yang luar biasa, mulailah dengan menyadari bahwa anda adalah penulisnya dan setiap hari anda punya peluang untuk menulis satu halaman baru darinya (Mark Houlahan).
Pencarian Kesejatian Adlawi
Mohammad Eri Irawan*
http://www.jawapos.com/
Judul Buku : Jaran Goyang
Penulis : Samsudin Adlawi
Penerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : I, 2009
Tebal : 103 halaman
Puisi, pada mulanya, adalah ikhtiar penyair menyampaikan ide (dan nubuat) lewat imaji-imaji yang ia representasikan dalam huruf-huruf di puisinya. Imaji itu ada berserakan di mana-mana lalu ditangkap oleh indra penyair. Tantangan utama sang penyair adalah mengolah imaji itu untuk dikonkretkan menjadi ide (dan nubuat) ke dalam puisi, terkadang lewat hal-hal yang simbolik.
Persoalan menghadirkan kekuatan ide yang implisit dalam kata-kata di puisi yang sesungguhnya eksplisit setidaknya menjadi salah satu parameter keberhasilan rekam jejak kepenyairan seseorang.
Samsudin Adlawi hadir lewat buku sajaknya, Jaran Goyang. Sebelum ini, jejak kepenyairan Adlawi (khalayak memanggilnya Sam atau Udi) sudah lumayan panjang. Sejumlah sajaknya hadir di beberapa antologi, seperti Interupsi (1994), Cadik (1998), Wirid Muharram (2001), dan Dzikir (2001). Dari jejak kepenyairan itu, buku ini tetaplah menjadi milestone bagi Adlawi dalam menghidupi dunia sastra tanah air.
Tak cukup mudah menelaah sajak-sajak penyair kelahiran Banyuwangi ini. Sajak-sajaknya berpretensi melampaui makna harfiah hal-hal fisikal -kendati dalam beberapa sajak hal tersebut kurang bisa digapai. Di tangan Adlawi, bahasa menjadi teramat problematis (di sampul buku Arif Bagus Prasetyo menyebutnya sebagai ”problematisasi bahasa”), rentan, namun sekaligus mencerahkan atau setidaknya menghadirkan kesegaran baru dalam jagat perpuisian kontemporer di tanah air; seperti bisa kita simak dalam sajak Ci Pinang Ta, Am dan I Mengapit Bis, Mata Mati Mati Mata, Na Belahan Jiwa Nak, Petualangan Se, Sus Mencari U, Sel Imut, Esa, atau Angin Angan Angan Angin.
Mayoritas sajak Adlawi di antologi ini ditatah dengan semangat religiusitas yang menggebu. Adlawi mencoba mendedah sebuah pencarian makhluk yang tak pernah usai terhadap ”Kesejatian”, karena hidup memang sesak dengan hal aksiden-superfisial: lapar-dahaga hanyalah permainan (sajak Menggapai Akhir).
Kendati hadir dengan semangat spiritualitas yang tinggi, sajak-sajak Adlawi bukanlah traktat yang final. Ia tidak secara diametral mempertentangkan antara sakral dan profan. Artinya, ”Kesejatian” di sini menjadi sesuatu yang tak selesai digamit, selalu urung direngkuh, melulu sesak dengan berbagai kemungkinan. ”Kesejatian” menjadi sesuatu yang remang: ia diafirmasi oleh Adlawi tapi anehnya kemudian dinegasi, begitu seterusnya.
Di sajak Mencari Arah, misalnya, aku-lirik seolah berada di gurun luas yang tak jelas mana pangkalnya. Aku-lirik terus berjalan menuju pangkal, menuju ”Kesejatian”. Ia temui banyak kesejatian (”k” kecil) dalam setiap depa perjalanannya, siang dan malam. Tapi belum pernah dijumpainya ”Kesejatian” (”K” besar): kerna tanpa bulan kau hanyalah kelam, duhai malamku…//kerna tanpa matahari kau hanyalah senja, duhai siangku.
Aku-lirik di sini tampil gahar, keras kepala, dan tak kenal surut melangkah. Ia terus laju melawan badai, sebab hidup memang sebentuk ikhtiar yang tak pernah sudah mendekap yang hakiki, yang kudus, yang sejati. Aku-lirik seolah menjadi majnun: di malam tanpa bulan di bulan tanpa malam/di siang tanpa matahari di matahari tanpa siang/aku terus berjalan mencari arah bertuhan.
Dalam pencarian yang sarat nafas religi semacam itu, agaknya Adlawi teramat larut menggemakan kesunyian. Hampir terasa klise, sebenarnya, jika pencarian ”Kesejatian” melulu diasosiasikan dengan suasana yang hening, seperti dalam sajak Istana Bunyi, Rumah Sepi, dan Kesaksian Malam I.
Namun, tangan dingin Adlawi membuat sajaknya terasa lebih kukuh dan tegar, sehingga kesunyian makin asyik digumuli: jalan ini setapak berundak/menuju gunung sepi/tak eloklah kau menapak/jika karib kau bukan sunyi (sajak Istana Bunyi).
Dalam pencarian panjang menuju yang hakiki, bagi Adlawi, jika kelak sudah menemukan ”Jalan”, maka pertautan manusia dengan yang hakiki bukan bermakna fisikal, melainkan lebih merupakan pengalaman spiritual yang teramat individual: …kali ini aku datang/ke surau hanya membawa jiwa/kerna badanku dipakai sajadah/musafir yang baru kembali menemukan arah menuju (sajak Sajadah).
Sajak-sajak Adlawi secara umum berfokus pada kegelisahan eksistensial, sehingga puisi dibawa pada situasi yang cenderung senyap. Tak heran, kebanyakan puisi Adlawi serupa dialog-dalam-diri: menggumam meski terkadang disampaikan dengan ungkapan yang lantang.
Namun, bukan berarti sajak-sajak Adlawi melulu berisi tema tersebut. Ada kalanya Adlawi, seperti kebanyakan manusia kini, merasa gelisah dengan zaman yang kian centang-perenang. Mata batin Adlawi sebagai penyair mencoba menanggapi dunia yang berderak dengan kebopengannya. Maka, penyair ingin dunia tak merupa conveyor yang melaju cepat tanpa henti mengagungkan progress sebagai mantra andalan manusia modern.
Kendati demikian, sajak-sajak Adlawi secara umum tetap segar dan kuat. Metafora yang tak klise membuat pembaca benar-benar dimanjakan untuk mencapai ekstase ketika membacanya -sekaligus membikin pembaca bekerja keras untuk meraba dan menelaah sajak-sajaknya. (*)
*) Peresensi :Penikmat sastra, alumnus Unej.
Pengantar dalam Menjelajahi Kitab Para Malaikat
Hasnan Bachtiar
http://www.sastra-indonesia.com/
Pengantar dalam menjelajahi Kitab Para Malaikat sebagai suatu karya sastra pada umumnya, adalah hendak mengurai apakah suatu teks berpotensi sebagai kebenaran, kendati bukan merupakan teks keagamaan?
Teks merupakan fenomena yang sedemikian kaya dengan ketakterbatasan makna. Hal ini berlaku bagi teks apapun termasuk teks keagamaan yang berdimensi sakralitas (Northrop Frye, The Great Code: the Bible and Literature). Tetapi pada intinya, teks-teks bahasa sebenarnya adalah sarana untuk mengungkapkan realitas dengan cara tertentu. Kendati demikian, bahasa – termasuk teks bahasa - memiliki fungsi lain selain fungsi umum tersebut, yaitu fungsi komunikatif, yang mengasumsikan adanya hubungan antara pembicara dengan sasaran bicara, dan antara pengirim dan penerima (Roman Jakobson, Linguistics and Poetics: 350).
Menanggapi pengertian tersebut, pada hakikatnya penulis tidak terlalu tergesa dalam menjelajahi ketakterbatasan makna-makna dari ritus-ritus, jejak-jejak, simbol-simbol dan pelbagai penampakan lain yang berserakan dalam ruang kosmos. Belum lagi adanya ceceran-ceceran kebenaran yang tak terjangkau oleh kekuatan intelegensia (Mohammed Arkoun, Islam: to Reform or to Subvert?: 15), sekaligus watak gradualisme interpretasi tanpa batas (Paul Ricoer, The Conflict of Interpretation: 289). Karena itu, kecenderungan penulis lebih kepada, apa yang menjadi persoalan utama dalam bahasa dan teks?
Sejak semula, Aristoteles menungkapkan ketidakmungkinan untuk membawa ide-ide nalar ke dalam keberadaan benda yang nyata. Alih-alih perlambang ontologis suatu benda, namun harus menggunakan namanya sebagai simbol. Konsekuensinya adalah tampil suatu anggapan bahwa apa yang terjadi dalam nama-nama terjadi pula dalam benda.
“It is impossible in a discussion to bring in the actual things discussed: we use their names as symbols instead of them; and therefore we suppose that what follows in the names, follows in the things as well, just as people who calculate suppose in regard to their counters. But the two cases (names and things) are not alike. For names are finite and so is the sum-total of formulae, while things are infinite in number” (Aristoteles, On Sophistical Refutations).
Inilah problem bahasa di satu sisi dan aktualisasi pengertian di sisi lain. Problematika semakin meningkat ketika Heidegger menulis bahwa, para pemikir sejak dahulu selalu memikirkan dan membicarakan suatu hal dan benda yang ada, namun di sisi lain melupakan ”ada” itu sendiri sebagai landasan dan merangkum segalanya (Martin Heidegger, Being and Times). Dari sini Derrida mengungkap kenyataan bahwa manusia tidak mengungkapkan diri dan malah tidak dapat bernalar kecuali melalui bahasa, tradisi kebahasaan dan tradisi teks tertentu. Dengan kata lain, manusia tidak dapat berpikir atau menulis apapun, kecuali merujuk pada tradisi pemikiran tertentu yang mengendap dan dilestarikan dalam sekian banyak teks yang saling berkaitan (Jacques Derrida, Dissemination). Karena itu, berangkat dari pembedaan antara pikiran (noesis) dengan yang dipikirkan (noema) oleh Hegel dan Husserl, suatu struktur interpretasi bukan lagi berpijak pada logos-ucapan-penulisan, tetapi pada logos-penulisan-ucapan (Gayatri Chakravorty Spivak, An Introduction to Jacques Derrida of Gramatology: 133-173).
Menarik mengamati Kitab Para Malaikat sebagai suatu karya monumental Nurel Javissyarqi, ketika dibenturkan dengan pelbagai problematika kebahasaan. Sebagai suatu teks yang otonom, kitab ini mengandung pelbagai nilai kosmos maupun representasi kosmos yang bisa dibaca oleh siapapun. Kondisi teks sebagai sebagai teks beserta kematian pengarangnya merupakan suatu syarat untuk lepas dari segala determinasi ide dan penjara struktur ide pengarangnya, termasuk pasungan pilihan-pilihan teori nalarnya. Pembacaan yang demikian diharapkan mampu menemukan suatu kondisi di mana kemurnian gagasan ditemukan tanpa terjebak dalam ideologi atau mitis yang hadir baik dengan kesengajaan ataupun semena-mena.
Berpijak pada postulat awal bahwa teks merupakan pintu logos dan kosmos sekaligus atau logos dan kosmos merupakan teks atau simbol sekaligus, melampaui dekonstruksi Derrida yang membongkar logosentrisme, bahwa teks-teks atau ayat-ayat dari Kitab Para Malaikat berpretensi memberi petanda terakhir (le signifie dernier). Sesungguhnya suatu petanda transendental, tidak hanya terbatas pada teks-teks keagamaan seperti pada asumsi Arkoun (Arkoun, ’Lecture de la Fatihah), namun juga terdapat pada teks apapun, walau tanpa berjubah sakralitas. Konsekuensinya, Hermes dan Avatar hanyalah seperangkat penunjang kebenaran, demi hakikat kebenaran itu sendiri sebagai ”ada”. Atau analoginya dalam Islam adalah, tinggal mengganti Hermes dengan Jibril dan Avatar dengan Muhammad. Jadi, petanda terakhir niscaya hadir dengan ataupun tanpa teks dan kosmos itulah teks yang sesungguhnya.
Demikianlah pengantar dalam menjelajahi Kitab Para Malaikat, diharapkan adanya ide-ide fenomenologis yang melampaui sekedar ide-ide kritis ini mampu meraup makna-makna yang bergentayangan dalam semesta, yang terungkap dari jejak-jejak yang berlari-lari tanpa henti, tak beraturan dan seringkali tak tertangkap oleh kekuatan intelegensia.
*) Koordinator Studi Linguistik dan Semiotika di Center for Religious and Social Studies (RëSIST) Malang.