Kamis, 03 Maret 2011

Sastra Etnis Tionghoa Pengaruhi Sastra Indonesia Modern?

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

Masyarakat etnis Tionghoa yang kini sedang merayakan Imlek (1 Februari 2003), ternyata memiliki tradisi besar dalam bidang kesusastraan, Tidak saja populernya cerita Sam Pek Ing Tay dan cerita silat Ko Ping Ho, namun juga keberadaan sastra Melayu Tionghoa disebut-sebut sebagai cikal bakal lahirnya kesusastraan Indonesia Modern. Mengapa demikian?

SASTRA Melayu Tionghoa yang tumbuh dan berkembang di Indonesia sebenarnya digolongkan dalam kesusastraan etnis. Sastra Melayu Tionghoa muncul dan hidup berdampingan dengan sastra etnis Jawa dan sastra etnis Sunda. Kasus sastra Jawa waktu itu sekitar tahun 1850 sampai 1900 menggunakan media bahasa daerah dan cerita yang dilukiskan berlatar budaya Jawa. Demikian juga kesusastraan Sunda dengan latar sosial budaya Sunda yang sangat kental.

Dari tiga sastra etnis itu -- Jawa, Sunda dan Tionghoa -- yang paling cepat dan pesat mencapai bentuk sastra modern adalah Sastra Melayu Tionghoa (Sumardjo, 1992:6). Hal ini disebabkan kesusastraan Jawa dan Sunda berakar pada kebudayaannya masing-masing dan sulit dipahami oleh masyarakat di daerah lain. Berbeda dengan sastra Melayu Tionghoa yang menggunakan bahasa Melayu rendah, penyebarannya sangat luas di masyarakat, sebab waktu itu bahasa Melayu telah menjadi bahasa pergaulan.

Masyarakat Tionghoa di Indonesia tidak memiliki tradisi kebudayaan yang kuat. Masyarakat Tionghoa ini adalah kaum imigran yang datang dari Cina. Keturunan mereka yang lahir dan besar di Indonesia makin lama makin tidak menguasai bahasa Cina dan kebudayaan nenek moyangnya. Warga etnis Tionghoa ini tinggal di kota-kota sehingga pengaruh kebudayaan modern semakin dirasakan. Pengaruh inilah yang kemudian melahirkan karya-karya sastra yang berkisah seputar pengaruh Barat, sebagai cermin masyarakat waktu itu.

Masuknya kebudayaan Barat berpengaruh banyak pada warga Tionghoa waktu itu, sebab mereka sendiri tidak menguasai budaya Jawa dan seni. Di samping itu, sistem pemerintahan kolonialisme Belanda turut mempercepat pembauran budaya itu. Pemerintah kolonial zaman itu membagi penduduk Indonesia atas tiga golongan. Golongan pertama adalah masyarakat Eropa (Belanda) yang ada di Indonesia. Golongan kedua, masyarakat Tionghoa dan Timur Asing lainnya. Masyarakat pribumi ditempatkan sebagai golongan ketiga atau masyarakat terendah.

Pembagian seperti itu memberi peluang lebih besar bagi masyarakat Tionghoa untuk lebih dekat dengan kekuasaan kolonial. Di samping itu, kehadiran warga ini sangat diharapkan karena pintar dalam soal berdagang. Sedangkan masyarakat pribumi menjadi semakin tertindas, terlebih lagi sebagai masyarakat jajahan. Penataan sistem politik dan ekonomi itu juga berimbas pada kebudayaan.

Memiliki Kemiripan

Sastra Indonesia Modern yang dimulai tahun 1920-an memiliki kemiripan dengan tema-teman dalam sastra Melayu Tionghoa. Sastra etnis Tionghoa ini yang lebih awal menerima pengaruh kebudayaan Eropa, akhirnya dijumpai juga pada kesusastraan Indonesia modern. Bahkan beberapa sarjana menilai, sastra Melayu Tionghoa banyak memberikan pengaruh kepada sastra Indonesia Modern.

Sarjana John B. Kwee dalam disertasinya yang berjudul "Chinesse Malay Literature of The Peranakan Chinese in Indonesia 1880-1942" seperti dikutip (Faruk dkk, 200:40-42), menyebutkan banyak pengaruh sastra peranakan Tionghoa dijumpai dalam sastra Indonesia, seperti tampak dalam cerita penyerahan penebusan "Sitti Nurbaya" atas utang ayahnya dipengaruhi oleh "Allah yang Toelen" karya Om Kim Tat. Roman "Percobaan Setia" sama dengan "Saltima" karya Tio Ie Soei. Roman "Salah Asuhan" sama dengan karya Vjoo Cheong Seng yang berjudul "Nona Olanda sebagai Istri Tionghoa". "Salah Pilih" sama dengan karya Tan Boen Kim yang berjudul "Nona Iam Im". Dalam cerita ini terdapat tokoh wanita yang bepekerti buruk karena telah mengecap pendidikan Belanda.

Karya lainnya dalah "Gadis Modern" sama dengan novel Chang Mung Tse yang juga mempunyai judul yang sama. Karya "Tak Disangka" sama dengan "Apa Mesti Bikin" karya Aster yang terbit pertama kali tahun 1930. Novel "Manusia Baru" sama dengan "Merah" karya Liem King Ho. John Be Kwee menemukan sekitar 14 karya sastra peranakan Tionghoa yang memiliki andil dalam proses penciptaan karya-karya sastra Indonesia modern termasuk yang telah disebutkan tadi.

Pengaruh yang tampak dalam karya-karya itu, kalau dilihat dari latar biografis pengarang Indonesia waktu itu, memang memiliki kesamaan dengan pengarang Tionghoa. Pengarang "Salah Asuhan" Abdul Muis dan "Salah Pilih" oleh Nur Sutan Iskandar serta pengarang lainnya mengenyam pendidikan Belanda. Akibatnya, mereka sering bergaul dengan orang-orang Belanda dan pejabat Belanda. Bahkan pengarang Indonesia banyak yang menajdi pegawai pemerintah Belanda. Dengan demikian, pengaruh itu bukanlah semata-mata dari pengaruh sastra peranakan Tionghoa, tetapi juga melalui proses dan pergulatan batin pengarang melihat kondisi sosial masyarakat masa itu.

Tema-tema yang digarap oleh pengarang Indonesia awal 1920-an adalah masalah-amsalah yang aktual dan ramai dibicarakan oleh masyarakat seperti soal adat, kawin paksa, budaya tradisi dan modernisasi. Pengarang Tionghoa juga melihat permasalahan serupa, akibat pengaruh kebudayaan Barat yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Kekayaan dan khazanah kesusastraan etnis Tionghoa ini perlu digali lagi sebagai keanekaragaman kebudayaan Indonesia. Memang, pemerintahan orde baru sempat membelenggu kebudayaan Tionghoa di Indonesia, baik dalam masalah agama, budaya dan sastra. Seiring dengan alam demokrasi, diskriminasi rasial etnik itu harus dihapus, termasuk perkembangan sastra Tionghoa itu perlu diajarkan di bangku sekolah SMU dan perguruan tinggi yang membuka jurusan sastra Indonesia.

* IKIP Saraswati Tabanan

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito