Senin, 20 Mei 2013

Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia

Gde Artawan *
Bali Post, 17 Maret 2013

KEANEKARAGAMAN bahasa di Indonesia menyebabkan munculnya keanekaragaman sastra lokal/daerah. Dikenalnya pemakaian bahasa Jawa di kalangan pemakai bahasa Jawa membawa implikasi dikenalnya sastra Jawa. Demikian juga dikenal ada sastra Bali, sastra Sunda, sastra Minangkabau dan lain-lain. Tiap sastra daerah tentu mencerminkan warna tersendiri.
Secara umum dikenal istilah warna lokal atau sastra lokal dalam sastra Indonesia. Ada yang menyebut bahwa sastra lokal atau warna lokal merupakan terjemahan dari local color. Karya sastra warna lokal adalah karya-karya yang melukiskan ciri khas suatu wilayah tertentu. Shipley dan Holman, mengemukakan dua istlah warna lokal dan regionalisme. Sastra warna lokal ditandai oleh pemanfaatan setting, pengarang berfungsi sebagai wisatawan. Sebaliknya sastra regionalisme didasarkan atas pemahaman yang lebih mendalam mengenai kehidupan manusianya yang pada gilirannya akan membedakan pola-pola perilaku dari kebudayaannya.

Sebagai dokumen sastra warna lokal, dan dengan demikian juga karya sastra pada umumnya, berfungsi untuk memperkenalkan tema, pandangan dunia, kecenderungan-kecenderungan masyarakat kontemporer, aliran, paham dan ideologi dominan dalam suatu kolektivitas. Warna lokal menyarankan kecenderungan untuk kembali ke wilayah tertentu, kesemestaan sebagai asal-usul di tempat pernah terjadi pertemuan antara pengarang sebagai subjek dengan kesemestaan sebagai objek.

Pada prinsipnya sastra warna lokal melukiskan permukaan untuk melihat lebih jauh struktur dalamnya, sedangkan sastra regionalisme lebih banyak melukiskan struktur dalam yang dengan sendirinya akan tampak pada struktur luarnya. Pemahaman terhadap objek sebagai bagian dari muatan isi karya sastra yang ditengarai oleh Ratna sebagai warna lokal yang memosisikan pengarang sebagai wisatawan, membuat presentasi setting tidak memiliki kedalaman dalam konstruksi teks sastra. Diperlukan upaya lebih tajam merepresentasikan objek ke dalam sastra berupa kemampuan sensitivitas, kepekaan yang mendalam pada pengarang terhadap objek berdasarkan intensitas komprehensibilitas terhadap objek. Inilah kemudian dikenal adanya istilah sensibilitas dalam karya sastra.

Sensibilitas Lokal

Sensibilitas lebih ditekankan pada kualitas pergulatan terhadap setting yang menjadi objek karya sastra. Gambaran pengarang tentang setting tidak saja berupa hasil pengamatan sekilas sebagaimana dilakukan wisatawan, tetapi lebih pada komprehensibilitas yang mendalam terhadap substansi objek. Ketika pengarang memasukkan unsur Bali ke dalam karya sastra, presentasinya tidak saja berupa gambaran tentang Bali secara permukaan, tetapi lebih pada kepekaan dan kedalaman substansional tentang Bali.

Adanya sensibilitas bukan jaminan atas asal daerah pengarangnya. Bisa jadi pengarang yang lahir di Jawa memiliki sensibilitas yang memadai untuk sastra Madura atau sastra Bali. Sebaliknya seorang pengarang jawa yang hidup di luar Jawa ada kemungkinan telah “kehilangan” sensibilitasnya Jawanya. Yang lebih tragis, seseorang telah “kehilangan” sensibilitasnya tanpa pernah melakukan mobilitas berupa perpindahan tempat tinggal. Misalnya, seseorang yang tidak pernah berpindah tempat dan sejak awal hidup sebagai orang Bali bisa jadi “kehilangan” sensibilitas Balinya. Dalam pertemuan budaya tahun 1988 yang diprakarsai sebuah harian lokal Bali (Bali Post) diangkat sebuah tema sentral mengenai ke-Bali-an orang Bali. Muncul statemen tentang “hilang”-nya sensibilitas kultural pada sejumlah besar orang Bali. Statemen ini bernada ekstrem, namun sebagai sebuah fenomena yang disadari akan mengintip dan mengancam eksistensi manusia Bali, tentu statemen ini merupakan peringatan sekaligus ruang untuk introspeksi diri. Ada pakar antropologi menengarai sebagian orang Bali bukannya “kehilangan” ke-Bali-annya, tetapi unsur ke-Bali-annya sudah agak “tumpul”.

Terlepas dari kondisi yang ditengarai ’hilang’ atau ’tumpul’ memang harus diakui bahwa hal seperti itu telah melanda umat manusia hampir di seluruh pelosok dunia. Derasnya arus modernisasi, derasnya arus ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan terjadinya arus pergeseran pola-pola hidup, pola pikir, termasuk ke pola perilaku real di masyarakat.

Pengarang

Berinterelasinya pengarang dengan wilayah atau ‘kantung-kantung’ budaya lokal menyebabkan terjadinya alih kecenderungan, khususnya dalam penggarapan tema pada dunia kesusastraan Indonesia. Kemampuan pengarang untuk melihat dengan ‘kaca mata’ yang jernih mengenai persoalan lokal (Jawa, Sunda, Madura, Batak, Bali, dan lain-lain) membawa konsekuensi pada kehidupan tematik karya sastra Indonesia.

Sensibilitas dapat dilepaskan dari akar lingkungan fisik dan sosiokultural pengarang. Sensibilitas adalah kualitas yang terbuka. Bertolak dari pandangan ini dapat digarisbawahi bahwa sensibilitas bukanlah patokan mati, tetapi sesuatu yang dapat dipelajari. Sekalipun yang pantas untuk memiliki sensibilitas suatu etnis adalah masayarakat pendukung dalam etnis tersebut, tidak menutup kemungkinan orang di luar etnis tersebut dapat menyelami dan akhirnya memiliki sensibilitas etnis tersebut.

Sapardi Djoko Damono dalam beberapa karyanya, salah satunya “Sihir Hujan”, menurut Kuntowijoyo terasa seperti tembang-tembang yang ditulis rapi dengan estetika klasik persamaan bunyi, sekalipun tanpa guru lagu dan guru wilangan. Tampak Sapardi Djoko Damono mewakili tradisi kehalusan sastra Jawa Klasik. Sebaliknya Darmanto Jatman, lebih mewakili ledakan kejujuran dan spontanitas tradisi kecil dari kehidupan sehari-hari di Jogya dengan sifat-sifat yang lugu dan spontan. Menurut Kuntowijoyo kita dapat menemukan jejak ajaran Ki Ageng Suryometaram dalam karya-karya Darmanto Jatman. Di samping Darmanto Jatman, Linus Suryadi AG melalui karya “Pengakuan Pariyem” menunjukkan idealisasi dari tradisi Jawa bagi orang-orang kecil dan bagi orang-orang ‘dalam benteng’. Linus Suryadi sudah berhasil menggambarkan ideal tipe perilaku orang Jogya dengan kebijaksanaan sehari-hari seperti pasrah dan bersikap lila pada kehidupan, tetapi tanpa sofistikasi transedental. .

Ada sejumlah pengarang Bali selain Panji Tisna yang karyanya menunjukkan adanya sensibilitas lokal. Membicarakan sastra dan sensibiitas lokal dimaksudkan untuk mempertajam bahwa sosiokultural Bali menjadi bagian menarik dari beberapa pengarang Bali. Membicarakan pengarang Bali – dalam konteks membicarakan sensibilitas lokal Bali – nama Nyoman Rasta Sindhu tidak bisa diabaikan. Keberhasilan Nyoman Rasta Sindhu melalui cerita pendeknya yang dimuat dalam majalah Horison No. 1 Januari 1969 berjudul “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” untuk dinobatkan sebagai cerita pendek asli terbaik Hadiah Horison 1968, memicu pengarang Bali lainnya untuk bangkit seakan memberi jawaban bahwa Bali tidak hanya sanggup berbicara hanya seni tradisi, tetapi juga seni sastra modern. Munculnya beberapa nama prosais lainnya seperti Putu Wijaya, Ngurah Parsua, Nyoman Tusthi Edi, Gde Aryantha Soethama, Oka Rusmini, Wayan Sunarta dan lain-lainnya menambah perbendaharaan penulis Bali di ajang belantara sastra Indonesia.

*) Gde Artawan, Pengamat Seni dan Budaya
Dijumput dari: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=18&id=74647

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito