Sabtu, 31 Maret 2012

Krisis Sastra “Tanpa Pembaca” dan Lubang Perangkap

Dorothea Rosa Herliany
Sinar Harapan 1992

Limabelas tahun lalu tepatnya pada tahun 1977 terjadi peristiwa sastra yang kontroversial. Pada saat itu Dewan Kesenian Jakarta (dewan tertinggi dalam kelembagaan sastra Indonesia), menjatuhkan pilihan pada kumpulan sajak Yudhistira ANM Sajak Sikat Gigi sebagai salah satu peraih penghargaan karya kepenyairan terbaik sejajar dengan karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang dan Abdul Hadi WM.

Seusai keputusan itu, tiga penyair senior yang disebut belakangan menyatakan menolak terhadap penghargaan itu dengan alasan bahwa penilaian dewan juri tidak meyakinkan. Pada dasarnya, mereka tidak ingin disejajarkan dengan Yudhistira ANM yang dianggap masih muda.

Tetapi peristiwa itu menandai suatu gejala menarik dalam sastra Indonesia ketika apa yang disebut beberapa pengamat sebagai sastra kitszc telah diterima sebagai karya sastra “mapan”.

Main-main

Kumpulan sajak Yudhistira ANM Sajak Sikat Gigi merupakan salah satu contoh puisi “lugu” yang kemudian populer dengan nama “puisi mbeling”. sebagaimana yang dicetuskan Remy Sylado dalam lembaran puisi “main-main”-nya di majalah Aktual (yang sekarang telah lama almarhum).

Pada waktu lembaran “Puisi Lugu” yang kemudian berubah nama menjadi “Puisi Mbeling” di majalah Aktual muncul secara teratur, ternyata puisi jenis itu termasuk paling banyak disukai – salah satunya karena nilai menghiburnya -. Saat itu, hadirnya trend puisi humor ini ternyata banyak mendapatkan tanggapan dari kalangan pengamat sastra, antara lain Sapardi Djoko Damono, Dami N Toda, dan lain-lain.

Sialnya, kehadiran puisi mbeling hanya disebut sekadar sebagai “suatu fenomena”. Para kritisi sastra “mapan” menilai hampir tak ada “unsur sastra”-nya dalam karya puisi “mbeling” itu kecuali hanya “keinginan untuk menghibur”, keinginan untuk melucu. Benarkah begitu? Para penyair mbeling ternyata tak peduli apa tanggapan para “dewa sastra” itu.

Puisi jenis inilah yang agaknya sesuai dan tepat bagi para “apresian” sastra muda. Karena aspek menghiburnya, maka akan menimbulkan daya tarik yang lebih besar di tengah miskinnya tingkat ketertarikan apresiatif generasi muda terhadap karya sastra. Hanya saja, apakah puisi humor sesuai dengan nilai-nilai edukatif yang mereka butuhkan?

Senior

Tidak hanya para penyair pemula yang terlibat dalam penulisan puisi humor, beberapa penyair senior ternyata tak sedikit yang juga punya kecenderungan “mbeling” dalam penulisan puisi. Selain Yudhistira ANM, sebut saja nama-nama seperti Sutardji Calzoum Bachri, Darmanto Yaman, Eka Budianta, F. Rahardi, Taufik Ismail, Emha Ainun Najib, hingga Remy Sylado.

Barangkali karena hanya “akibat sampingan”, dari nama-nama itu puisi humor yang mereka ciptakan merupakan puisi “lepas” dalam arti tak utuh dalam satu kumpulan. Terdapat beberapa puisi baru Taufik Ismail yang memiliki kecenderungan “humor”, namun belum ada buku Taufik Ismail yang secara khusus menghimpun puisi humornya ini.

Penyair yang khusuk dengan nilai-nilai humor ini antara lain Yudhistira ANM dengan kumpulan puisinya Rudi Jalak Gugat dan Sajak Sikat Gigi yang menghimpun tiga kumpulan sajak terdahulunya Hari-hariku, Piala, Biarin!, dan Omong Kosong. Selain itu juga penyair F. Rahardi dengan kumpulan puisinya Soempah WTS, Catatan Harian Sang Koruptor, Silsilah Garong dan Tuyul.

Kecenderungan “dasar” yang tampak dalam puisi-puisi “humor” kontemporer Indonesia ini adalah “protes sosial” dan “percabulan” pada batas-batas “estetik” tertentu. Misalnya, dalam konotasi tertentu penyair bicara tentang kondom (F. Rahardi), pakaian dalam (Seminar Sehari Celana Dalam, Taufik Ismail), pelacur (F. Rahardi, Rendra), berak (Jose Rizal Manua), perilaku seks keras majikan pada pembantunya (Rendra).

Bahkan puisi-puisi tanpa nuansa-nuansa percabulan, karena efek pencarian humor, justru menimbulkan konotasi percabulan. Lihatlah puisi Yudhistira ANM (sajak Mencakar Dada Meremas Bukit); sambil cengar-cengir Bu Pun Su mengajar silat pada Ang Niocu murid perempuannya/lamanya sekian bulan/sesudah mahir Ang Niocu ujiannya menggeletak kena pukulan ciamik suhunya/dadanya jadi bengkak perutnya jadi kembung/itulah ajaran locianpwe budiman (1974).

Apakah efek humor senantiasa hanya berkisar pada sudut-sudut sensitif “badan sensor” seperti ini?

Sialnya, puisi-puisi demikian sadar akan karakternya yang harus bisa dikomunikasikan dengan mudah, oleh karena bahasa ucapnya terasa sangat komunikatif dan punya “irama” yang enak didengarkan meskipun tanpa mempedulikan tatanan-tatanan persajakan yang baku. Ini semua dikarenakan oleh situasi yang mengharuskan puisi-puisi demikian untuk “dikomunikasikan” langsung dengan apresiatornya.

Memadaikah?

Dilihat dari keterlibatan beberapa penyair senior, semestinya materi apresiasi puisi untuk menjawab aspek “menyenangkan” sebagai motivasi awal tahap apresiasi bisa memadai. Tetapi dalam kenyataan, karena kecenderungan “dasar” yang telah disebut di muka, maka tidak banyak puisi demikian yang sesuai untuk apresian remaja.

Dalam proses kreatifnya, para penyair ini memang tidak membatasi diri pada golongan apresiannya. Oleh karenanya mereka tidak terikat pada “pagar-pagar” yang mempersempit kebebasan kreatifnya. Jika terjadi pembentukan golongan apresian, itu adalah akibat yang terjadi di luar skenario.

Yudhistira ketika menyelesaikan buku puisi Rudi Jalak Gugat sesungguhnya pasti sadar akan publik sastra yang akan mereka hadapi. Itulah sebabnya ia memilih idiom-idiom yang sesuai dengan latar kultural masyarakat sastranya yang merupakan kelompok kaum muda. Ia pun mengumpamakan mengenal “dunia batin” masyarakat sastranya itu – sehingga ia merasa menjadi “pembela”nya.

Akan tetapi, apakah sastra tanpa memilah-milah golongan apresiannya – harus selalu membangun nuansa-nuansa untuk membangkit-bangkitkan “semangat” untuk “lantang” tanpa memberi alternatif? Karya sastra memang multi interpretasi, tetapi ketajaman interpretasi ternyata memerlukan proses panjang yang mengujinya. Apresian muda yang belum akrab dengan sastra, sudahkah mereka melewati proses panjang itu?

Puisi humor, sesungguhnya fenomena lama. Tetapi kadang “nafasnya” terlalu panjang pada saat sastra Indonesia mengalami krisis apresian. Dan generasi muda pembaca karya sastra bebas memilih materinya sendiri. ***

Penulis adalah penyair
Dijumput dari: http://frahardi.wordpress.com/2011/06/24/krisis-sastra-tanpa-pembaca-dan-lubang-perangkap/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito