Jumat, 13 Januari 2012

Manusia diberkahi untuk bebas? Keliru!

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XI kupasan keempat dari paragraf keduanya)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Mengenai Sartre bisa dilihat tulisan saya diterjemahkan Agus B. Harianto di http://pustakapujangga.com/2010/11/why-does-jean-paul-sartre-stay-exist/ Kini mengudar pahamnya “Man is condemned to be free” (Manusia dikutuk untuk bebas) yang saya benturkan “Man is blessed to be free” (Manusia diberkahi untuk bebas)?

Ini bukan mensejajarkan SCB! Hanya pengertian “puisi adalah alibi kata-kata” memang empuk disadap, selembek gudir tak banyak keluarkan tenaga, bisa dicuik pakai sendok atau langsung jemari. Sosok Sartre terpaksa menyadari ‘diri’ dilahirkan sebagai manusia sekondisional keterpaksaan Adam as. diturunkan ke bumi bersama Siti Hawa. Kutukan tersebut dipahami seinsan menjelajah mencari obat, dengan menyusuri semak berduri pertaubatan yang selalu diuji di segenap tingkap situasi nan melingkupi.

Orang-orang terkutuk sadar kedudukannya dalam menapaskan aura kesejatian, sedari lawatannya pada tangga keinsafan. Mereka paham ujung perjalanan, sebabnya mencari pelbagai kemungkinan dicoba di tingkatan tertentu dipegang kuat / dilepas demi rahmat memurnikan eksistensinya. Kegelisahannya liar menjajaki kasus menghadang, apakah absurditas Camus? Sehingga tercapilah sepakat mengeruk perolehan hayat, ‘imajinasi merupakan kesadaran’ dengan bukti kitab tebalnya “The Psychology of Imagination.” Yang menampilkan pencapaiannya membumi se-makluk terkutuk kudu disyukuri, menggapai yang menjadi takdirnya di muka bumi. Bukan ‘merayakan kutukan,’ mengumbar senang tanpa perolehan wajar; insan dikebebasan menentukan tafsiran di lembar kehidupan.

Ini (dapat dibilang) perekat paragraf IK yang pertama dan kedua. IK mengganti kata ‘bebasnya’ SCB dengan ‘terobos’, dapat diwakilkan sekutukan wajib dipelajari. Jauh dari perayaan atau bukan parade ugal-ugalan sampai bebas dari beban makna. Tapi mencanangkan terobosan, serupa kekaryaan Sartre menjlentrekkan imaji ke ambang batas. Keuletannya identivikasi imaji demi kesadaran hidup terikat realitas / tradisi, bukan asal bunyi yang kengawurannya dimaknai pencapaian? Sementara daya tarik kritikus dengan karya tak sudi dimaknai ialah fenomena lucu. Mana kala tafsiran karyanya (-SCB) dianggap kurang tepat, dibilang kritikus asal nyanyi? Ini aneh, jika tidak dibilang mau menangnya sendiri atas ajimat kata ‘bebas.’

Kutukan terus menggali tanah pekuburan warisan moyang, tidak menerbangkan bakat bersuka ria lepas kecurigaan diri lingkungan, namun juga memaklumatkan tekat menghabisi bentukan dangkal / pendangkalan dari fitroh. Belajar pahami tiap tapak bukan sekesan warna, tetapi mengudar gagasan ke tahap akli, tak hanya menafsir lokalitas, juga kembangkan daya pencapaian kala meleburkan jiwa-raga semateri penganalisaan menuju jenjang nyata. Pribadinya tidak berleha menikmati topangan pelabelan perkuat langkah. Tapi memaksimalkan indra penyerap serta menampung seluruh kemungkinan, pada gilirannya melahirkan wacana lebih menantang, bukan kesan di sebuah alam puitik. Dan penghargaan dihayati, tak mengalami kemerosotan dari hari lalu. Di lihat pamornya kepurnaan ataukah mengamini yang ada pengadaan semu!

Perolehan dari isyarat tak menghadiahi kesegaran, meski berharap gumpalan kegembiraan. Adalah patut disuarakan, “Tanpa usaha keras, kebahagiaan tidak akan meningkatkan drajad seperti perasaan puas memandulkan realitas.” Kala ‘diberkahi’ bebas, memanfaatkan jalan warisan, meski tampilkan ‘sidik jari’ lain yang hakikatnya beraneh-aneh demi membebaskan hasrat beralibi. Walau tampilannya beda sejatinya pengulangan, lebih parah ketumpulan tidak menguraikan gagasannya. Maka bukanlah konsep, tapi kesan dibalut kalimat mengkilat, yang terpesona lantaran tidak mencurigai suara-suara pendukungnya, seperti orang takjub patung besar di tengah kota yang melupa orang-orangan sawah.

Yang merasa ‘diberkahi’ mengira dinaungi keberuntungan dari coba-coba, mematenkan kesan, tiada keberanian menerobos sebentuk sungai kearifan demi sesama, tidak meningkatkan jenjang pemikiran. Ini bertolak dari gerak hayat yang selalu perbaharui cakrawala kesadaran berbudaya. Parahnya, kesan ditancapkan kuat generasi setelahnya berpesona tidak kalah ampuh, tapi tetap dari jiwa keragu-raguan tak mengaduk masa silam. Ditutupi, sebab pendahulunya juga mengaburkan jejak lewat keniscayaan semu (baca “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair” SCB, lalu simak esainya Sihar Ramses Simatupang di Sinar Harapan, “Indonesia, Puisi, dan Teks Sejarah” 20 Agustus 2011 atau ini http://sastra-indonesia.com/2011/08/indonesia-puisi-dan-teks-sejarah/

Betapa menyebut kejadian Sumpah Pemuda, lagu Indonesia Raya, Pancasila, UUD 45, dengan menghapus nama-nama besar di sekitar peristiwanya; M. Yamin, Bung Karno, Bung Hatta, W.R. Supratman serta para insan benar-benar andil dalam pergolakan. Mereka juga pengarang yang suara gagasannya membumi, daripada ungkapan menyepadani jejaknya terbaca untuk kemauan sempit agar dunia sastra bermartabat di hadapan masyarakat luas, namun mencabut batang pohon tanpa akarnya.

Melupa orang-orang penting sebab merasa profesi melekati dirinya lebih penting, terus terjun bebas sepulung ‘berkah’ yang sejatinya bukan apa-apa. Karena tidak menginsafi kejatuhannya se“manusia dikutuk untuk bebas;” mematangkan sekeliling realitas. Maka jadilah sulapan seakrobatik mencopet sejenis keahlian jemari. Padahal mereka juga saksi sejarah, tapi begitu rupa jadi meloloskan dirinya paling berjasa. Baca Bung Tomo membaca sajak di TIM yang direkam jejaknya oleh tempointeraktif, 03 September 1977 atau klik http://sastra-indonesia.com/2011/08/bung-tomo-bersajak/ Seyogyanya generasi setelah benih itu, akar kebangsaan disebar-dirawat, tidak dihapus meski berbalutan pesona. Senada unen-unen; “bangsa yang besar mampu menghargai jasa para pahlawannya,” tidak malah menjadi pahlawan kesiangan, lewat alibi-alibi memukau mereka yang terkena imbas media massa.
***

Sebagai penutup saya urai sedikit alibinya SCB dari Kredo Puisi-nya, bertautan “antara gerak dan pengertian.” Gerak ialah perpindahan tempat pergeseran letak, pun mengalami getaran melahirkan nafas pengertian. Pada benda mati sebatu beserta namanya, tiada peroleh sebutan, kalau tiada yang menyatakan. Pemberian titel merupakan gerak dari luar, pemikiran seorang / kelompok masyarakat. Batu dan namanya tak berpengertian, jika yang menyebut tidak meresapi manfaat menyatakan. Batu, pisau, tidak bermakna kalau sebelumnya tak memberi / mengetahui fungsinya. Hadirnya pengertian sebab telah tertanam kenangan pada benda dan namanya. Sebutan batu, pisau dan barangnya, tidak punya arti, kala tak mendapati gerakan / sebutan dari luar (insan menyatakan bersimpan kenangan).

Benda ditambahkan namanya tiada pengertian, tidak berfungsi di wilayah kebebasan kecuali ngawur. Bagaimana berpengertian, jikalau yang menyebut tak punya kenangan / pengalaman darinya? Seperti kata dan benda tidak / belum berfungsi, dia hadir dalam bentuk tak (belum) berpengertian. Seperti itu kosong serta bebas dimasuki juga dapat menghadirkan pengertian anyar. Saat balik maksud benda dan namanya berpengertian, maka keliru, tersebab makna hadir lantaran danau kenangan insan pada yang dinyatakan. Mari amati ungkapan SCB:

“Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.” 

“Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.”

“Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.”

Kata (sebutan, titel, namanya) beserta bendanya; apakah pisau, kursi, batu, tidak berpengertian, jika tidak punya kenangan pada benda serta namanya. Ini lumpah, hukum saklek menimpai benda juga namanya. Pengertian ada, kala menggapai fungsi nama dan barangnya, pula mengalami pergeseran yang menimbulkan makna. Sejauhnya SCB membebaskan kata dari makna, tetaplah terkenang hal sebelumnya yang tetap menghadirkan kata ‘memotong / menikam’ pada kata ‘pisau.’ Sekurangnya mendekatkan pengertian asal sedari fungsi barang yang dikatakan. Meski sebilah sabit dipajang di dinding ruang tamu yang keluar dari fungsinya, tetap sabit punya pengertian selain alat memenggal dahan. Pengertian hadir, dibarengi rekaman sedurungnya, meski berpindah fungsi hiasan, tetap arit (sabit) hadir berpengertian, dikarena insan (bersimpan kenangan) menyebut benda dengan namanya. Intinya tidak akan lahir pengertian, jikalau tidak memiliki kenangan atau sejarah. Tanpa kenangan, hanyalah sulapan!

Sebagai jawaban lain alibinya SCB, bisa simak ulang bagian III, dan penutup di buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri” halaman 79 berlabel “Akhirnya.”

Dijumput dari: http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito