Minggu, 16 Oktober 2011

Nenek, Oh, Nenek

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Di depan beranda rumah, nenek duduk santai sembari mengelus rambutmemutih yang disimpul menjadi sanggul. Sambil memandang suasana sore iamengecapi sirih yang sudah hampir lembut. Ludah yang bercampur dengan sirih, neneksemprotkan ke tanah. Warna merah seperti darah menodai tanah di sekitar tempat duduknya.

“Ayo, Nek masuk ke rumah! Hari sudah senja,” seruku padanya.

“Nanti dulu. Saya masihmenikmati suasana senja,” jawabnya sambil tiada henti menyirih. Aku membiarkandia yang sedang asyik menyirih di tengah terpaan angin senja.

Usia selanjut dia memang tidakbaik berlama-lama duduk di beranda rumah. Daya tahan fisiknya yang menurun akan memudahkanangin malam menggerogoti tubuhnya. Dan biasanya akan masuk angin. Nah, jika sudah masuk angin maka yangmuda-muda akan kerepotan. Tapi itulah sifat orang yang sudah tua. Ia akankembali seperti anak kecil. Cengeng dan keras kepala.

“Nek, besok sudah memasukibulan puasa. Jika nanti nenek masuk angin, nenek tidak bisa melaksanakan ibadahpuasa. Mari masuk!” ajakku.

Kali ini permintaanku diadengarkan. Ia berdiri lantas meninggalkan tempat duduknya sambil berpeganganpada dinding rumah. Tubuhnya yang sudah reot tertatih-tatih merayap masuk kerumah. Aku bermaksud membantu dengan memapahnya berjalan. Kedua tangankeriputnya menolak uluran tanganku. Ia bersikeras berjalan sendiri masuk kedalam rumah.

“Eit, aku masih kuat,”katanya.

Menjelang bulan puasa, kitamengadakan selamatan. Kita memohon kepada Allah mudah-mudahan kita diberikesehatan jasmani dan rohani sehingga dapat melaksanakan ibadah puasa dengansempurna. Nenek malam itu duduk di ranjang tidurnya. Dari dalam kamar iamemanggilku. Segera aku masuk ke dalam kamarnya.

“Aku mau ikut selamatan,”katanya.

“Apa, ikut selamatan? Nenek,yang ikut selamatan itu laki-laki. Perempuan seperti nenek ini cukup berdoa dari dalam kamar saja. Nenek tidurlagi biar besok badannya segar dan bisa berpuasa.”

“Eit, tidak mau! Aku akan ikutselamatan!” sanggahnya dengan keras kepala.

Hati kecilku tertawa melihattingkah nenek yang seperti anak kecil. Maka aku biarkan dia berjalansempoyongan keluar kamar mengikuti selamatan.

“Begini saja, Nek! Selamatanini keliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Nenek ikut selamatan kalaugiliran di rumah kita, Nek!”

Dia diam tak meresponkata-kataku. Nenek lantasduduk sambil memandangi serangga malam yang menari-nari mengitari lampu diruang tamu.

“Nek, usia seperti nenek initidak wajib berpuasa. Maka nenek besok tidak usah puasa, ya!” saranku kepadanenek.

“Eit, jangan menganggap sayatidak kuat puasa! Walaupun usiaku sudah tua tetapi saya tidak kalah dengan yangmuda-muda,” katanya dengan nada tinggi.

“Ya, sudahlah kalau begitu! Akantetapi, kalau nenek tidak kuat, ya, jangan memaksakan diri!”

Para warga yang akan selamatansudah berada di depan pintu. Kedatangan mereka menghentikan pembicaraankudengan nenek. Anakku yang mengikuti selamatan langsung menghampiriku sambilmenyodorkan jajan pasar ke pangkuanku. Nenek yang asalnya diam tiba-tiba menggerakkantangannya menyambar jajan yang baru kuterima dari anakku. Anakku tertawaterpingkal-pingkal melihat kelucuan sikap buyutnya.

“Ayo, mari masuk semua!” akumempersilakan para tetangga.

Mereka kemudian masuk danduduk bersila membentuk lingkaran. Nenek yang semula duduk manis sambilmenikmati jajan dari anakku langsung turun. Ia ikut duduk berbaur dengan paratetangga yang sedang melantunkan doa-doa. Perilakunya yang seperti anak kecilmembuat para tetangga terusik kekhusukan doanya. Mereka menahan tawa ketikamelihat nenek yang menggeleng-nggelengkan kepalanya ketika berdoa. Mereka ingatsikap anak-anaknya di rumah ketika mendengar bacaan tahlil.

Usai doa-doa dilantunkan,sebagai tuan rumah saya memberi shadaqah kepada tetangga yang mengikuti acaraselamatan. Sebungkus jajan pasar kubagikan satu persatu. Ketika giliran nenek,jajannya sudah habis. Nenek pun memperlihatkan sikap kekanak-kanakannya. Iamerengek meminta jatah jajan kepadaku. Sontak para tetangga yang ada puntertawa semua. Anak semata wayangku yang kebetulan berada di dekat buyutnya puntak ketinggalan ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat sikap buyutnya. Ia punmengambilkan sebungkus jajan yang ia dapatkan dari rumah tetangga yang lain.

“Ini, Yut!” kata anakku denganmenyodorkan sebungkus jajan.

Nenek langsung berdirisempoyongan. Melihat buyutnya yang hampir jatuh, anakku meraih tangan kanannenek hendak membantunya berdiri.

“Eit, jangan memegangtanganku! Aku masih mampu berdiri,” tolak nenek yang disambut tawa olehtetangga. Dan nenek pun menjauh dari tempat tersebut untuk menikmati jajan yangdiberi oleh anakku.

Malam semakin larut. Riuhrendah suara orang tadarrus telah sepi. saya dan anakku pun lelap dalam tidurpulas. Menjelang makan sahur aku bangun terlebih dahulu untuk mempersiapkanmakan sahur bagi anak dan nenekku. Ketika aku menyalakan saklar lampu,tiba-tiba aku dikejutkan oleh wanita tua renta yang sudah duduk di meja makan.

“Masya Allah, Nek! Sudah bangun?” tanyaku terkejut.

“Iya. Saya kuatir bangun kesiangan dan tidak sempat makan sahur,”jawabnya dengan rada-rada mengantuk.

Aku tertawa geli melihat nenekyang keras kepala seperti itu. Ia tidak percaya kepadaku karena kuatir akutidak membangunkannya untuk makan sahur. Sampai-sampai dia harus bangun lebihdahulu menunggu waktu makan sahur di kursi ruang makan. Lalu aku memasak danmengahangatkan sayur yang sudah kubuat sewaktu hari masih sore. Tak lupa anaksemata wayangku- yang sudah dua tahun tidak bisa menjalankan ibadah puasabersama ayahnya yang pergi merantau ke negeri jiran- aku bangunkan.

“Buyut sudah dibangunkan?”tanya anakku.

“Lha, itu siapa?” jawabkusambil menunjuk ke arah nenek.

Anakku pun tersenyum simpulmenahan gelak tawa.

Seruan makan sahur yangbersahut-sahutan di penghujung malam membuat suasana makan sahur menjadimengasyikkan. Belum lagi tetabuhan anak-anak yang berkeliling kampungmembangunkan warga untuk makan sahur. Mendengar tetabuhan anak-anak yangmelintas di depan rumah, nenek pun langsung berdiri dan memanggut-manggutkankepalanya mengikuti irama yang ia dengar. Aku dan anakku tertawaterpingkal-pingkal.

“Sudah, Nek, sudah! Ayo berdoadan makan sahur bersama-sama!” ajakku.

Dengan lahap nenek menyantapmenu makan sahur pertama di bulan puasa tahun ini. Sayur yang masih mengepulkanasap tak ia hiraukan suhu panasnya.

“Dibiarkan dulu, Nek biartidak panas!”

“Eit, nenek ini jago makanmasakan panas!”

Ketika sesendok nasi dan sayuryang masih mengepulkan asap dimasukkan ke dalam mulut, nenek merasa kepanasan.Mulutnya dibuka lebar-lebar sambil mendesis kepanasan.

“Apa kata saya? Makanya yangsabar!”

Nenek diam tak beranimenunjukkan sikap keras kepalanya.

Fajar telah tiba. Makan danminum sudah diharamkan bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa. Saat siangsudah mencapai puncaknya, aku tidak tega melihat kondisi nenek yang lemah. Akuberusaha membujuknya agar membatalkan puasanya.

“Eit, saya masih kuat!”tolaknya.

Akhirnya aku hanya diammemandangi nenek yang terkulai lemas di kursi depan rumah.

Menjelang berbuka menu bukapuasa sudah kusiapkan di meja makan. Waktu berbuka puasa masih lima belasmenit. Kami sudah berkumpul di ruang makan. Tiba-tiba tangan nenek meraih semangkokkolak kacang hijau yang sudah kuhidangkan di meja makan.

“Eit, belum waktunya!”larangku yang ditertawakan oleh anakku.

Dia spontan menghentikanniatnya yang akan menyeruput kolak kacang hijau. Nenek pun duduk lagi sambilmemandangi menu yang sudah siap makan.

Ketika hari sudah petang danwaktu buka puasa telah tiba, kami pun berbuka puasa dengan menu yang telah akusiapkan. Minum-minuman manis kami dahulukan kemudian memakan nasi secukupnya.Usai berbuka kami pun bersiap-siap menunaikan shalat maghrib di mushallaterdekat.

“Lho, buyutmu mana?” tanyakupada anakku.

Saat kucari kesana kemariternyata dia masih berada di meja makan menghabiskan kolak kacang hijau yangmasih tersisa. Kami pun tertawa terpingkal-pingkal melihat sikap nenekku yanglucu.

Wanar, 1 Ramadlan1431 H
*) Cerpenis lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak seperti Tabloid Telunjuk, Majalah MPA dan Radar Bojonegoro. Beberapa puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (DKL, 2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Absurditas Rindu (SastraNesia Lamongan, 2006), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006). Selain menulis, juga sebagai tanaga edukatif di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat Lamongan. Sekarang beralamat di Sanggar Sastra ”Telaga Biru”, Wanar, Pucuk, Lamongan. e-mail: ilazen@yahoo.co.id.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito