Sabtu, 10 September 2011

KRETEK SEBAGAI KRITIK KEBUDAYAAN

Waskiti G Sasongko
http://senimana.com/

3 Juni 1953, Agus Salim dan Sri Paku Alam beserta rombongan duta besar Indonesia mendapat tugas dari Soekarno untuk menghadiri upacara penobatan Ratu Elizabeth II. Di tengah-tengah jamuan serimoni agung tersebut Agus Salim menyalakan sebatang kreteknya, menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskan keluar kuat-kuat. Pangeran Duke of Endiburgh, sang suami Ratu Elizabeth itu, tampak tidak senang menoleh ke kiri dan ke kanan sembari bertanya-tanya pada hadirin, dari mana bau tidak sedap itu datang? Maka Agus Salim menjawab, “Yang Mulia, bau yang tidak sedap itu adalah bau rokok kretek yang sedang saya hisap yang dibuat dari tembakau dan cengkih. Boleh saja yang mulia tidak menyukainya. Tapi justru bau inilah yang menarik minat pelaut-pelaut Eropa datang ke negeri kami tiga abad yang lalu”. Duke of Edinburg pun terdiam beku oleh sindiran Agus Salim itu.

Inilah sepenggal kisah, bagaimana kretek, atau lebih tepatnya produk olahan hasil bumi Indonesia, tembakau dan cengkih, merefleksikan kekuatan produksi masyarakat nusantara sejak dulu. Kita memang tidak pernah tahu pasti sejak kapan kretek telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, jika kita menoleh ke belakang kita dapat melihat bagaimana kisah Roro Mendut yang sukses menjajakan rokok di zaman kekuasaan raja Amangkurat I, sebagaimana kisah ini ditulis ulang oleh Romo Mangun, setidaknya secara literal menandai bahwa produk rokok telah dikenal oleh masyarakat nusantara sejak lama. Bahwa, kemudian dalam kesejarahan modern produk kretek lebih kita kenal sejak Haji Djamari yang asli Kudus ini meramu tembakau dan cengkih sebagai ramuan obat batuk, pada abad ke 18an, ini tentu sebuah tafsiran historis tersendiri.

Namun, apa yang menarik kita catat di sini adalah bahwa, kretek adalah produk khas bangsa kita, eksistensinya adalah satu-satunya di dunia. Sebagaimana keris pamor yang adalah warisan budaya bangsa yang telah beroleh pengakuan dunia internasional, Unesco, produk kretek pun sebenarnya muncul tercipta dari kecerdasan lokal bangsa ini. Bahkan, dapat kita katakan bahwa kretek — meminjam istilah Denys Lombard — adalah suatu hasil dari kerja “osmosis kebudayaan” bangsa kita. Saya katakan osmosis kebudayaan karena kretek sendiri adalah sebuah difusi kebudayaan yang datang dari luar dan bersimbiosis dengan kekayaan lokal bangsa kita. Konon, tanaman tembakau masuk menjadi kekayaan nabati bangsa kita sejak memasuki abad ke 17.

Di sini kita mungkin akan sedikit berjalan memutar. Seperti kita tahu, istilah osmosis digunakan oleh Denys Lombard dalam karya monumentalnya, ”Nusa Jawa: Silang Budaya.” Untuk kasus di Indonesia, demikian Lombard, kita tak bisa memakai perspektif dialektika dalam pengertian Hegelian. Karena di situ pasti ada unsur aufgehebung, kebudayaan pemenangnya. Yang terjadi dalam sejarah seni atau kebudayaan di sini adalah suatu proses perembesan kultural, dan bukanlah dialektika. Suatu kegiatan saling serap antara warisan-warisan budaya lokal dan pengaruh ideologi-ideologi yang datang dari ‘negeri atas angin’, yang membuat terjadi mutasi budaya terus-menerus, baik saat Indonesia masa kuno maupun modern. Apa yang khusus dari bangsa kita bukanlah sejarahnya yang khusus, melainkan, masih merujuk Lombard, ialah posisi geokulturalnya yang khusus, di mana kita berada pada lokus persimpangan budaya dunia, kita berada pada jalur perdagangan besar dunia yang mau-tidak-mau senantiasa membawa pengaruh dari luar.

Apa yang menarik ialah, jika pada masa kuno katakanlah kita sanggup membangun sebuah sinergi pluralitas ideologi yang datang dari luar menjadi suatu kebudayaan yang baru dan besar, di mana budaya kemaritiman masyarakat nusantara akhirnya bertumbuh menjadi dua kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit.

Andai kita jeli dalam menelisihnya Indianisasi yang terjadi bukanlah sesuatu pengambil alihan secara mutlak unsur-unsur budaya India, tapi lebih bersifat paduan dengan budaya lokal. Bahkan, banyak antropolog Barat yang mengatakan bahwa yang sesungguhnya terjadi ialah Jawanisasi India. Karena bukan rahasia jika paham-paham keagamaan Hindu dan Buddha yang di negeri sononya India bertikai, ternyata di sini dapat bersanding selaras, rukun satu sama lain. Ahli-ahli dari India datang ke Indonesia untuk melihat peninggalan candi-candi Hindu dan Budha berpendapat bahwa, memang ada kemiripan dengan apa yang ada di India tapi samasekali bukan budaya India. Di India secara tegas dipisahkan antara Hindu dan Budha. Borobudur disamping ada unsur Budha terdapat relief yang berisi kisah Mahabarata yang Hindu, bahkan ada relief yang notabene bukan Budha dan sekaligus bukan Hindu tapi kisah-kisah dari budaya lokal.

Namun, pada masa modern ini , proses mutasi fase ketiga kebudayaan lokal kita melalu difusi sejarah pembaratan ternyata tidak sanggup memunculkan sebuah sinergi kebudayaan yang baru dan besar, sebagaimana kisah masa lalu itu. Masih saja kita lihat, sampai saat ini, ada retakan-retakan yang cukup menganga antara pandangan dunia tradisionalisme dan modernism. Dualisme dua kebudayaan ini terjadi karena di dalam masyarakat Indonesia sendiri kita lihat adanya dua arus besar paradigma yang berbeda, yaitu golongan-golongan masyarakat Indonesia yang mendorong pembaratan lebih lanjut di satu sisi, dan golongan-golongan yang menolak tegas determinasi serta merta pengaruh budaya Barat dan mencari sumber Timur atau lokal dalam membentuk masyarakat Indonesia di sisi lain. Kebangkitan budaya lokal ini juga diperkuat dengan pengaruh Islam di pesantren-pesantren, yang pada zaman Belanda tetap mengajarkan agama Islam beserta budaya lokalnya yang mengacu pada ajaran “wali sanga”. Bahkan pada saat itu sesuatu yang berbau Barat ditabukan di pesantren-pesantren. Kedua pandangan ini, yang pro Barat dan pro Timur, jelas tercermin dalam Polemik Kebudayaan tahun 1930 dan silang sengkarut polemik Lekra-Manikebu di tahun 1960an.

Nah, ideologi Pancasila itu sendiri adalah suatu upaya merekatkan retakan-retakan pandangan dunia Timur dan Barat itu, tradisional dan modernisme, ideologi kapitalisme dan komunisme, namun lebih jauh sebenarnya juga membawa spirit untuk membendung pengaruh berkembangnya ideologi yang bersumber dari Barat (Nekolim). Pemimpin masa lalu yang lebih kita kenal sebagai “founding father” selalu mengatakan bahwa Pancasila adalah ideologi yang lebih unggul dari ideologi apapun yang berasal dari Barat.

Dengan begitu masyarakat Indonesia sebenarnya mempunyai kecenderungan sinkretik, atau heterodok, atau osmosis, yaitu dalam pengertian bahwa sejak dulu selalu bersikap terbuka terhadap pengaruh budaya-budaya yang datang dari ‘negeri atas angin’, namun secara bersamaan memiliki spirit hendak tetap menjaga nilai-nilai lokal yang berakar sangat dalam itu. Dalam perspektif inilah konsep politik “berdikari” yang dicanangkan Bung Karno adalah suatu usaha penolakan hegemoni budaya Barat melalui kemandirian ekonomi. Dengan kemandirian dibidang ekonomi, Indonesia punya kebebasan menentukan nasib budaya Indonesia ditangan bangsa Indonesia sendiri. Sungguh suatu pemikiran yang jauh ke depan, namun ironisnya proyek pemikiran besar ini saat ini jelas boleh kita katakan telah gagal total.

Nah, pada titik inilah sebenarnya kretek sebagai warisan tradisi bangsa ini dapat kita dudukan sebagai kritik atas kebudayaan globalisme. Pada titik ini, kretek sebagai warisan budaya tentu saja tidak sekadar kita lihat sebagaimana keris dan candi, atau barang-barang artefak yang sekadar diuri-uri, melainkan harus kita dudukkan dalam kerangka perspektif gerakan sebagai bagian dari kerja politik kebudayaan kita. Kretek sebagai salah satu soko guru kemandirian ekonomi dan industri nasional haruslah kita desain sebagai pemantik tumbuh mekarnya ‘politik identitas’ kebangsaan (nasionalisme). Sebab, di tengah-tengah gerusan perang dagang dan ekspansi pasar neoliberal yang berjubah paradigma kesehatan “satu dimensional” ini, sebenarnya eksistensi kretek memenuhi syarat-syarat multi-spektrum dimensional untuk menjadi kekuatan kritik ideologi atas muslihat dari apa yang menyebut dirinya sebagai kebudayaan globalisme ini. Kretek dapat menjadi kekuatan politik yang mendudukkan “kebudayaan sebagai sebuah panglima”.

Apa yang kita butuhkan di sini adalah menggeser perspektif “osmosis kebudayaan” menjadi suatu kerja “dialektika kebudayaan”. Dengan mendudukkan kretek sebagai bagian gerakan tradisi lokalisme yang poskolonial, yakni suatu gerakan politik kebudayaan yang berpamrih membangun kekuatan lokalisme sebagai counter hegemoni terhadap upaya-upaya penyeragaman “budaya putih”, barangkali saja ke depan kita dapat merengkuh kembali cita-cita besar akan Indonesia Berdikari itu.

Nah, pada titik inilah, hari ini kita sharing dan berdiskusi.
Salam Hangat.
Sumber: http://senimana.com/berita-154-kretek-sebagai-kritik-kebudayaan.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito