Sabtu, 27 Agustus 2011

Subakir Mati Metingkrang

Fahrudin Nasrulloh*
http://www.radarmojokerto.co.id/

Obrolan di cafe ”Sidade” itu makin menghangat. Kopi disuguhkan. Bila mau pilih teh boleh juga. Yang wasgitel atau sariwangi. Bisa pesan jika minat teh rosella Malang yang berdaun gelap kecoklat-coklatan. Rokok Jisamsoe disesap, seperti menghirup seisi cafe dari ingatan yang pudar. Ia berjalan mondar-mandir melayani pembeli. Pangsit dan Mie ayam Jakarta, pun es campur tersedia di sini: Jl. Manukan Tama 10 A, Tandes, Surabaya. Dulu, lelaki berkumis tebal dan bertubuh gempal ini pemain bass di grup pertunjukan Gambus Misri. Ia termasuk penonton ludruk yang setia.

”Saya itu hampir tidak ingat sama sekali Gambus Misri. Apalagi tentang ludruk Jombang ataupun yang di Surabaya. Ingat sedikit-sedikit, dan kayaknya kalau dipancing tanya sana-sini, tak banyak yang bisa keluar,” ia melirik garing. Lalu omongannya mblakrak ngalor-ngidul. Teringat tiba-tiba ia akan masa kecilnya di Desa Nglele, Sumobito, Jombang, saat karibnya Jazuli bercerita, seperti kadal kalap dilempar sandal, tentang orang-orang yang dikepung ketakutan di masa Gestok. Masa silam itu seperti mengeprukkan ganden ke dengkul hingga remuk. ”Pokoke sing gak sembahyang diarani PKI,” begitu patahan kalimatnya, yang diulang 3 kali. Lalu saya teringat cerita orang-orang tua di kampung tentang hubungan ludruk dan PKI. Ada memang beberapa grup ludruk yang digandeng PKI untuk ikut memuluskan program-program pemberdayaan kaum petani, pemuda-pemuda rakyat, dan para buruh. Mereka kadang menyelingi cerita soal lakon yang dipentaskan. Misalnya ”Gusti Allah Sunat”, atau ”Gusti Allah Mantu”, atau ”Tujuh Setan Desa”. Lakon-lakon itu kini tenggelam, lamat-lamat, tapi tetap terdengar angker. Seperti darah yang merembes dari mata dan telinga. ”Wah, kalau cerita itu saya nggak menangi (tidak di masanya) Mas. Tapi, ketika ramai-ramainya ludruk di Surabaya, tahun 1980-an, yang masih teringat kuat ya lakon ’Subakir Mati Metingkrang’ itu. Ceritanya lupa bagaimana. Para pemainnya sudah lupa. Ludruknya apa juga lupa,” sela Cak Memet. Tampaknya, orang-orang agak lawas kayak Cak Memet, sebagai bagian kecil dari apresian ludruk, satu potong dua potong, masih mengingat ludruk sebagai kepingan dari kenangan hidupnya.

Cak Memet tak tahu persis kapan ia lahir. Ingatannya sudah ”butek”, kacau dan kotor. Barangkali sekitar tahun 1956. Tak terlalu tua. Ia pendek dan tegap. Sorot matanya teduh tapi menembus. Rambutnya cepak berombak. Namun ingatannya kerap dihajar bayang-bayang kematian di rimba Timor-Timur pada 1976-1979. Ia bercerita dengan bangganya saat membunuhi tentara pemberontak di sana. Dibunuh atau membunuh. Terbayanglah film Platoon garapan Oliver Stone itu. Tahun 1980-an ia keluar dari dinas ketentaraan. Karena sering bikin kisruh dan pernah sekali menghajar komandannya. Ia lantas merantau ke Surabaya. Menggelandang dan jadi preman. Kini, hampir seluruh orang pasar dan warga sekitar Manukan mengenalnya sebagai orang baik dan telah meninggalkan pekerjaan lamanya itu.

Pada seseorang lain. Di malam 23 April 2011 sehabis hujan di sore hari yang deras. Si penjual kacang godok, Mbah Munawi (65 tahun), asal Gayungsari, dengan sepeda onthelnya, rutin berjualan di sekitar Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), di Jl. Genteng Kali 85 Surabaya. Sejak awal Februari 2011, ia sudah mencatat dari brosur agenda pertunjukan kesenian yang secara periodik digelar di pendopo Jayengrono TBJT itu. Di situ sepanjang 2011 diadakan banyak pertunjukan kesenian. Ada wayang kulit, ludruk, pakeliran, festival balet, tayuban, seminar seni budaya, pertunjukan musik, festival dalang, revitalisasi budaya daerah, dan lain-lain. Yang paling digemarinya adalah pertunjukan ludruk. Ia sangat terkenang lakon ”Subakir Mati Metingkrang” yang pernah ditontonnya di daerah Krian di awal 1980-an yang dipentaskan ludruk Begidhak Massa pimpinan Saji Wibowo dari Jombang. Saya jadi teringat sejenak cerita Cak Memet dan kembali saya bertanya-tanya, pernahkah ada lakon itu atau semata halusinasi belaka? Biarlah saja dulu. Pak tua ini mungkin keliru atau lupa-lupa ingat.

Di balik kertas pembungkus kacang, Mbah Munawi, menunjukkan kepada saya agenda ludruk periodik itu: Ludruk Budhi Wijaya Jombang, lakon ”Babat Tunggorono” (di pendopo TBJT, 26 Februari 2011); ludruk Warna Jaya Sidoarjo, lakon Kabut di ”Lereng Gunung Pananjakan” (di Taman Krida Budaya Malang, 25 Maret 2011); ludruk RRI Surabaya, lakon ”Tragedi Bumi Rungkut” (di pendopo TBJT, 26 Maret 2011); ludruk Suromenggolo Ponorogo, lakon ”Asal-usul Reog Ponorogo” (di pendopo TBJT, 23 April 2011); ludruk Wahyu Budaya Lamongan, lakon ”Bandit Blandong Selo Guno” (di pendopo TBJT, 28 Mei 2011); ludruk Merdeka Jember, lakon ”Maryati Gila” (di pendopo TBJT, 25 Juni 2011); ludruk Bintang Baru Jombang, lakon ”Dendam Membara” (di Taman Krida Budaya Malang, 23 Juli 2011); ludruk Subur Budaya Malang, lakon ”Selor Pancuran Mergosono” (di pendopo TBJT, 24 September 2011); ludruk Armada Malang, lakon ”Putri Guwo Buring” (di Taman Krida Budaya Malang, 22 Oktober 2011); ludruk Timbul Jaya Probolinggo, lakon ”Brandal Gunung Anyar” (di pendopo TBJT, 26 November 2011); ludruk Karya Budaya Mojokerto, lakon ”Pasir Kali Brantas” (di Taman Krida Budaya Malang, 23 Desember 2011).

Wah, lengkap betul catatannya. Lalu saya membayar satu contong kacang seharga 2000 rupiah. ”Gimana Mbah, pertunjukan ludruknya yang kemarin, menarik?” tanya saya. ”Podo wae ambek sing saiki Mas, kurang nyes dirasakno. Lakone kok model iku-iku terus,” timpalnya. Lantas ia bercerita agak panjang dan putus-putus tentang lakon ”Subakir Mati Metingkrang”. Kisahnya, Subakir itu juragan becak yang sombong, keminter, gatal menggoda perempuan, penjudi, suka adu jago, tapi baik hati dan royal mentraktir makan siapapun terutama terhadap penggenjot becaknya. Ia juga tukang pukul semasa mudanya. Musuh-musuhnya banyak. Bla-bla-bla. Di akhir cerita, saat ia duduk di kursi pentil sambil cedat-cedut merokok, di sebuah warung kopi, bersama puluhan tukang becaknya, tiba-tiba ia meninggal dalam posisi metingkrang. Semua orang di situ kaget. Bingung. Histeris. ”Wak Bakir mati metingkrang, Wak Bakir mati metingkrang!!” teriak seorang dari mereka.

Mbah Munawi sempat terhenti sejenak. Memungkasi cerita. Saya menoleh ke panggung. Tampak 2 personil ludruk Suromenggolo sedang mendagel, setelah mengidung soal susahnya jadi petani dan mirisnya jadi seniman ludruk di jaman ini. Terasa garing. Kira-kira 25-an menit penonton membisu. Tak ada ledakan tawa. Lakonnya malam itu ”Asal-usul Reog Ponorogo”. Lalu saya bergeser lima langkah ke warung kopi sebelah. Ada Cak Imam CB, seniman teater, di situ bersama 2 temannya. Kami saling menyapa. ”Jaman wis majune koyok ngene, kenapa nggak ngangkat lakon misale ’Cuci Otak’? Ini kan lagi rame-ramenya NII. Atau tentang terorisme. Dulu orang nonton ludruk itu seperti menyerap energi jaman. Sekarang nggak tahu apa yang mereka serap,” komentarnya. ”Bisa juga seperti itu Cak. Ludruk seperti ’mati metingkrang’: ditinggalkan jaman sekaligus kehilangan spirit masa silamnya. Yang kita tonton seolah hanya panggung kosong. Cuma hawa dingin sepi yang kita bawa pulang,” sambung saya. ”Bukan, Mas. Tapi orang-orang ludruk sendiri yang tak mau atau tak mampu mengikuti perubahan jaman yang terus berderap. Jadi yang ’mati metingkrang’ itu utopianya. Sebab urusan perut yang jadi pokoknya. Tak menggerakkan jiwa dinamisnya.”

Dan, sejenis cerita apakah yang seakan-akan fiksi itu tiba-tiba menyembul dari Cak Memet, lalu secara kebetulan juga keluar dari Mbah Munawi? Sosok Subakir yang mati unik itu bisa saja sebagai cermin persoalan keseharian kaum kelas bawah. Tak begitu penting apakah itu pernah sebagai lakon ludruk ataukah semata halusinasi dari dunia klangenan publik ludruk.


Fahrudin Nasrulloh, bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito