Senin, 23 Februari 2009

Kisah Pertemuan Dua Naskah

Judul Novel : Pucuk Cinta Bougenville
Penulis : Sitta Wulandari
Penerbit : Akoer, Jakarta
Cetakan : I Oktober 2008
Tebal : 202 Halaman
Peresensi : MG. Sungatno *
cawanaksara.blogspot.com

Bersama besutan cerita Wulandari ini, pembaca akan menemukan oase emajinasi yang menakjubkan. Dengan sebuah cerita berbingkai yang dicampurkan olehnya, menjadikan novel ini lebih berwarna dan membuai pembaca. Kita akan diajak memasuki dimensi-dimensi kehidupan waktu dan tempat yang berbeda. Namun, belum sampai kita terlalu tenggelam, dengan gesit Wulandari segera menggulung emajinasi pembaca dan mengembalikannya dalam cerita pertama.

Selanjutnya, cerita diarahkan kembali pada kelanjutan cerita yang berbeda dan digulung hingga kesekian kalinya untuk menjemput cerita yang pertama. Lebih asyik, fluktuasi cerita diiringi bahasa yang renyah, unik dan kocak serta dipadu dengan diskripsi khazanah budaya masyarakat desa pegunungan hingga muncul suatu kesan yang mengharukan.

Adalah Aura Meydiana Supit, sebuah nama yang dijadikan pemeran utama dalam novel ini. Semenjak kecil, Aura hanya sempat bertemu satu kali dengan kakek-neneknya. Ketika hendak berangkat ke Bali bersama beberapa rekannya untuk mengikuti suatu acara, ibunya mengingatkan bahwa Aura memiliki kakek- nenek yang tinggal disebuah pegunungan Trenggalek.

Dalam perjalanan, Aura berada dalam satu mobil bersama Mike. Memasuki kota Solo, mereka terjebak dalam kemacetan lalulintas yang cukup panjang. Akhirnya mereka mengambil jalur jurusan Madiun. Sialnya, macet terulang kembali. Mengetahui hal itu, Mike mengajak rekan-rekannya melalui jalan alternatif yang menyusuri jalan-ajalan pegunungan. Namun, belum sampai keluar dari kawasan pegunungan, perjalanan mereka kembali terganggu. Ban mobil yang ditumpangi Mike dan Aura tiba-tiba bocor. Dari sinilah Wulandari mengajak pembaca untuk mengalihkan perhatian pada tujuan Aura dan rekan-rekannya menuju Pulau Dewata.

Dengan segera, Mike yang dibantu Tristan dan rekan yang lain mengganti ban dengan ban cadangan. Aura yang sejak memasuki perjalanan di pegunungan terbuai dengan keindahan panorama alam yang ada, tanpa sepengetahuan rekan yang lain, berjalan-jalan sendirian. Langkahnya pun terhenti didepan rumah tua yang dihalaman depannya dipenuhi dengan indahnya bougenville. Tanpa sadar, Aura mendekati banyaknya bougenville yang mengayomi rumah itu. Sedangkan rekan-rekannya, baru sadar kalau Aura tidak bersama mereka setelah mobil siap untuk digunakan kembali. Mike dan rekan yang lain pun menjadi kebingungan dan mencari-cari Aura.

Sementara, Aura yang sedang terpesona dengan bougenville yang rindang dan mengayomi rumah, akhirnya dipergoki oleh sang pembantu. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya, Aura diizinkan untuk menikmati keinginannya. Sambil bercakap-cakap dan mengitari taman, Aura pun mengenalkan diri. Sungguh terkejut, setelah kenal, ternyata rumah itu adalah rumah kakek neneknya yang pernah diceritakan sang ibunya. Aura pun dipertemukan dengan neneknya, Catherine, oleh si pembantu.

Sungguh bahagia ketika Catherine dipertemukan dengan Aura yang telah sekian lama tidak dipeluk oleh sang nenek. Tidak hanya menikmati keindahan bougenville yang ada, Aura juga dijamu dengan jajanan khas desa serta dipersilahkan melihat-lihat koleksi almarhum kakeknya, Nugroho Sastrodarsono. Sastrodarsono adalah seorang sastrawan yang lumayan terkenal di masanya. Anehnya, diantara barang-barang kenangan yang ada, hanya naskah sastra yang berjudul Bougenville karya kakeknya yang menjadikan Aura terpesona. Mengingat bahwa kedatangannya bersama rekan yang lain, Aura segera menghubungi salah satu rekannya dan mengajak mereka untuk mampir ke rumah nenek Catherine.

Sayang, setelah bertemu dengan rekan-rekannya, Aura menjadi berubah pikiran. Ia hendak menunda keberangkatanya ke Bali bersama rekannya. Aura lebih memilih untuk bertempat di rumah Catherine dan menikmati kerinduan sekaligus peninggalan-peninggalan Sastrodarsono. Meski dengan berat hati, akhirnya rekan-rekan Aura mengabulkan permintaannya.

Aura semakin terpukau dengan cerita Catherine bahwa naskah itulah yang mempertemukan cinta antara Catherine dengan Sastrodarsono. Dikisahkan, sewaktu membuat naskah Bougenville, Sastrodarsono bertabrakan dengan Catherine yang kebetulan sama-sama membuat cerita yang judulnya sama. Sejak peristiwa itulah yang kemudian menjadikan keduanya berkenalan hingga menjalin hubungan cinta. Uniknya, sejak itu juga keduanya sepakat sama-sama tidak melanjutkan cerita yang diangkat dalam naskah itu.

Sembari memegang dua naskah Bougenville karya Sastrodarsono dan Catherine, Aura mengungkapkan rasa tertarik pada naskah yang belum selesai itu. Ketika ditawari Catherine untuk melanjutkan perjalanan kisah Bougenville, ia pun dengan cepat menyetujuinya. Dengan rasa gembira, Aura segera memilih salah satu Bougenville itu. Akhirnya, pilihan Aura jatuh pada Bougenville karya kakeknya.

Dengan imajinasi yang cukup tajam dan berliku, Aura menulis Bougenville yang diadaptasi dari Bougenville Sastrodarsono. Untuk menambah keleluasaannya dalam mengumbar emajinasi, Aura menulis disetiap tempat yang menurutnya mendukung kepenulisan, termasuk dipuncak bukit yang tidak jauh dari rumah kakek neneknya itu.

Selama empat hari berturut-turut, Aura selalu mendatangi tempat duduk diatas bukit yang tidak jauh dari rumah neneknya. Namun, pada hari keempat, disaat asyik menulis, tiba-tiba Aura teringat dengan keluarga di Yogyakarta. Ia pun memutuskan untuk turun bukit dan segera pamitan kepada neneknya untuk diberi izin pulang ke Yogyakarta untuk sementara. Dengan jalan tergesa-gesa, disaat mendekati jalan yang dilalui kendaraan umum, tiba-tiba selembar tulisan terakhir yang dipegangnya terlepas dan terbang menghampiri seorang pemuda, Briant. Tanpa tahu bahwa secarik kertas itu dikejar-kejar oleh Aura, pemuda yang sedang kehabisan ongkos untuk pulang ke Yogyakarta itu memungutnya. Melihat hal itu, dengan basa-basi dan memberanikan diri, akhirnya Aura meminta kertas itu.

Sejak saat itulah Aura mulai kenal dan tahu tentang masalah yang sedang menimpa Briant. Akhirnya, Aura mengajak Briant untuk mampir ke rumah Catherine dan berharap ada bantuan untuknya. Sesampai dirumah, tiba-tiba rekan-rekan Aura berdatangan untuk mengajak Aura pulang. Selain itu, Briant juga diajak Aura dan rekan-rekan untuk pulang bersama-sama.

Setelah berpisah dan sampai dirumah masing-masing, Aura kebingungan mencari naskah bougenville-nya yang berada dalam map merah. Setelah beberapa hari, Aura menemukan naskah Bougenville yang ditulis Briant dalam map merah sama dengan milik Aura. Naskah yang juga belum selesai itu ternyata hasil tulisan Briant sewaktu masih melanjutkan studi di Australia. Aura pun tersadar bahwa sewaktu bertemu dengan Briant, Aura melihat map merah yang sama dengan map naskah Bougenville-nya Aura. Map itu tertukar sewaktu Briant pindah dari mobil yang ditumpangi Aura dan Mike menuju mobil yang lain.

Cerita dalam novel ini belum selesai, bahkan ending dari cerita Wulandari ini seakan diserahkan sepenuhnya kepada pembaca. Tentang akhir dari naskah Bougenville itulah yang kemudian menyiksa pembaca dalam indahnya penasaran. Meski begitu novel ini cukup asyik untuk dinikmati sembari mengumbar imajinasi yang romantis.***

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito