Kamis, 18 Juni 2020

Perempuan Bermata Biru di Belantara Hutan Halmahera

Bido, Seorang Gadis Suku Lingon Bermata Biru
Mahamuda *

“Saya menjelajah kawasan Halmahera Timur bertemu dengan suku primitif. Saya melihat sendiri gadis peranakan hasil kawin silang laki-laki suku Togutil dengan perempuan suku Lingon. Kulit mereka putih, tinggi langsing, hidung mancung, rambut pirang, dan bermata biru...” John Halmahera (1947-2020) telah mengakui bertemu suku terpencil, Lingon. Maka, pengakuannya itu sekaligus meluruskan pendapat Paul Spencer Sochaczewski mengenai suku Lingon, yang bertahan hidup di hutan Halmahera adalah pemakan manusia?

Buku-buku berkisah pulau-pulau Maluku dan Halmahera sudah cukup banyak diterbitkan. Mulai dari buku sejarah, kumpulan puisi, cerita pendek, esai, dan novel. Pembaca bergiat mengumpulkan juga membaca buku-buku perihal Maluku, serta Halmahera. Pada suatu hari, mengetahui ada seorang penulis bernama John Halmahera menulis sebuah novel tentang suku Lingon di belantara hutan Halmahera. Pembaca tertarik membacanya sekaligus menduga, kalau penulisnya pasti berasal Halmahera. Namun dugaan itu melenceng jauh setelah berusaha menemukan buku garapan John, kemudian membaca riwayatnya di halaman terakhir.

John, memiliki nama lengkap Alwi Bin Muhammad Alhaddar, lahir di Ternate 1947. Ia pernah menjadi wartawan olahraga di harian Sinar Harapan. Di tahun 1986, koran Sinar Harapan dibredel, berganti nama jadi Suara Pembaruan (SP). Tidak lama kemudian, John keluar dari SP, dan sebagai pemimpin redaksi majalah Popular. Buku pertama karyanya, cerita silat Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan, 2 Jilid. John tutup usianya di Bekasi, tanggal 4 Maret 2020.

Sebelumnya, pembaca sudah mendengar cerita suku Lingon yang dituturkan di pulau besar Halmahera. Ada yang menganggap hanya mitos belaka atau konon di masa lampau, suku ini berasal dari para pendatang, serdadu Skandinavia yang terdampar di Kao dan beranak pinak. Lantas ada yang membuktikan bahwa suku Lingon memang benar ada. John, salah satunya yang mengambil peran penting hal ini. Tahun 2012, penerbit Zaytuna meluncurkan novel karangan John Halmahera berjudul “Lingon, Perempuan Bermata Biru di Belantara Hutan Indonesia.” Novelnya lumayan tebal 395 hlm, ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana.

John memulai cerita dari kampung Gurua, salah satu perkampungan di selatan pesisir timur Teluk Kao. Masinga, seorang Sousoulol dari Gunung Maspopa, memasuki kampung Gurua. Masinga memiliki ilmu kesaktian pampelemtou dan boyemekgiyon. Daya ilmu pampelemtou sanggup menghilangkan wujud, sedang ilmu boyemekgiyon, mampu menebak nasib dan masa depan. Selain itu, pandai berkelahi. Di Gurua, Masinga bertemu Barbakam, kepala kampung Gurua. Barbakam dan Masinga pernah berjumpa di kampung Subaim. Barbakam membawa Masinga ke rumah untuk mengobati mertuanya, dan warga kampung Gurua yang menderita penyakit seperti dialami mertua Barbakam. Masinga meracik ramuan dari akar-akar, kulit-kulit pohon, dan dedaunan, kemudian direbus. Airnya diminum mertua Barbakam, dan orang-orang Gurua yang sakit. Setelah mengobati, Masinga kembali ke kampungnya di Waijoi. Di sanalah, istri dan anak-anaknya hidup bahagia. Masinga meminta ijin kepada Barbakam membawa Tutu (Tutumole), pemuda Gurua yang gila sebab ditinggal pergi istrinya. Ia berjanji menyembuhkan sakit jiwa Tutu, dan menjadikan sebagai muridnya.

Pada suatu hari, Tutu dapat sembuh dari sakit gila. Masinga, mengajari Tutu sampai menjadi sousou. Seorang sousou mampu mengobati penyakit apa saja, tapi seorang sousou bukanlah sousoulol. Syarat pertama untuk jadi sousoulol, seseorang harus menjadi sousou terlebih dulu dan memeluk agama Islam. Syarat kedua menjadi sousoulol sangat berat, harus mempertaruhkan nyawanya di tanjung Lelai. Demikian kata Masinga pada Tutumole, ketika menghadapi ujian terakhir di tanjung Lelai demi menjadi seorang sousoulol:

“Sousoulol, wajib menolong orang tanpa pamrih. Orang yang ditolong, bisa mati, bisa juga hidup. Dalam tugas kewajibannya, terkadang sousoulol mempertaruhkan nyawanya. Itulah sebabnya, harus pahami makna kematian. Makin memahami kematian, kian tinggi ilmunya. Dan jalan memahami kematian adalah mendatangi, mendekati, juga merangkul kematian itu sendiri. Itulah tradisi turun-temurun para sousou, yang merintis jalan jadi seorang sousoulol.”

Masinga tidak pernah memaksa mewajibkan Tutu memeluk ajaran Islam. Namun Tutumole sendiri yang memutuskan, memilih menganut agama Islam, karena ingin menjadi sousoulol. Setelah berhasil melewati tantangan terakhir yang mematikan untuk menjadi sang sousoulol, Tutu dan Masinga berpisah. “Kamu bisa mencapai Gurua ke arah selatan, pergilah ke selatan, Tutu.” Begitulah kata-kata Masinga sebelum berpisah arah. Masinga menuju barat kembali ke Waijoi, sedangkan lelangkah Tutu berjalan terus ke selatan menuju Gurua.

Konon, hutan Halmahera tidak hanya dihuni suku Lingon dan Togutil. Tapi ada juga satu kelompok mahkluk hidup yang disebut Berebere. Makhluk tersebut memiliki tubuh kebal, tinggi besar, kulit hitam, dekil, seram, ganas, dan pemakan manusia. Berebere, berkeliaran di sekitar gunung Isalai. Mungkin yang dimaksud Paul Spencer, Berebere-lah pemakan daging manusia, dan bukan suku Lingon maupun Togutil.

Ada benarnya pendapat soal suku Lingon hanya mitos belaka, dengan alasan sulit dijumpai. Lewat novel ini, John berusaha menyakinkan pembaca, bahwa suku Lingon memanglah ada. Namun tersembunyi atau bersembunyi, menghindari perburuan, sehingga tidak mudah orang suku Lingon di hutan Halmahera dijumpai. Perempuan dari suku Lingon senantiasa diburu, seperti berburu binatang-binatang buas. Mereka para pemburu perempuan-perempuan Lingon, bukan hanya dari suku Togutil dan Berebere saja, tetapi para lelaki yang tinggal di pesisir, ikut memburunya. Ada yang memburu untuk dijadikan isteri, ada juga yang dijual kepada Walanda (Belanda), ada pula yang hanya mencicipi perawannya, lantas dibunuh. Karena sering diburu, diperkosa, dijual dan dihabisi dengan membuang kasih, Suku Lingon memilih bertahan hidup di belantara hutan angker Halmahera dengan selalu bersembunyi terus menghilang dari perburuan.

Di tengah perjalanan menuju kampung Gurua, Tutumole bermalam di tepi sungai Ake Onat. Ia menguasai separuh jalanan di gunung Kokonora, Gogolomo, Isalai dan Watowato, serta sungai-suangi di kawasan Kao Barat. Karena bertahun-tahun bersama Masinga menjelajahi sebagian daerah itu. Tutumole melanjutkan langkah ke selatan, arah gunung Isalai. Di pertigaan cabang sungai Ake Onat, Tutu berjumpa Bido dan rombongannya dari suku Lingon. Mereka sedang dalam bahaya besar, dikepung orang-orang suku Togutil, dan Tutumole menjadi penyelamat.

Beberapa rombongan Lingon mati dihabisi nyawanya oleh suku Togutil ketika melawan. Bido, Katina, dan Mikala, selamat dari serangan. Bido, gadis Lingon yang aduhai cantikanya, anak sulung Tamako, seorang kepala suku Lingon. Bido tak hanya memiliki paras kecantikan yang berlebihan, juga pemberani, serta pandai berkelahi. Gadis polos, tapi sesekali memperlihatkan mata jiwanya penuh berontak! Bido dan rombongannya meninggalkan perkampungan Lingon, ingin masuk hutan Atego di lereng selatan gunung Isalai, mencari akar yaiwo untuk mengobati Tamako, ayahnya, sang kepala suku Lingon.

John, membumbui cerita novelnya menjelma sedikit birahi, ketika Bido dan Tutumole saling memiliki rasa yang sama, mencintai. Dimulai dari perjalanan ke gunung Isalai sampai pulang ke perkampungan Lingon. John menyinggung sepintas mengenai pernikahan suku Lingon. Bahwa perempuan dan laki-laki, jika ingin bersuami-istri, keduanya langsung saja berhubungan badan. Namun dilakukan atas dasar suka sama suka, tanpa paksaan. Setelah itu, keduanya sah menjadi pasangan suami-istri. Apabila gadis Lingon menikah dengan lelaki yang bukan dari sukunya, sang gadis Lingon diwajibkan angkat kaki menjauh dari tempat persembunyian suku Lingon.

Dalam perjalanan mencari akar-akar yaiwo, Tutumole bersama Bido, mendapati serangan dari makhluk Berebere. Mikala dan Katina, tidak ikut. Mikala menemani Katina beristirahat, karena terluka parah saat melawan suku Togutil. Tutumole, yang menguasi ilmu sakti, dapat mengatasi serang-serang mematikan dari Berebere. Setelah berhasil mendapatkan akar yaiwo, Tutu, Bido, Mikala dan Katina meninggalkan gunung Isalai. Jalan pulang melewati arah kampung Dodaga, membutuhkan waktu berhari-hari. Dan singgah di sungai Ake Dodaga untuk beristirahat barang sejenak, nasib malang tak bisa dicegah, Bido secara tidak sengaja menghilangkan akar yaiwo. Bido bersedih hati kecewa berat, karena tidak menjaga dengan baik obat ayahnya. Perjalanan diteruskan memasuki kampung, istirahat di rumah kosong Salomon, kepala kampung Dodaga, sebelum melanjutkan perjalanan menaiki perahu ke Wasilesi, lalu melewati gunung Watowato.

Perjalanan pulang sering tidak sesuai rencana. Di Dodaga, Bido diculik orang pesisir. Pembaca beranggapan buruk kepada John, terlihat seperti menghindari berkisah lebih jauh tentang suku Lingon. Pembaca tidak mengenal betul serupa apa dan bagaimana, suku Lingon sesungguhnya berkehidupan, bersuku, dan berkebudayaan, di hutan Halmahera. John terlalu asik menuturkan kisah cinta Bido dan Tutu yang penuh birahi, juga sibuk berkelahi. Terlihat juga saat Tutu memutuskan arah jalan pulang dari lereng gunung Isalai melewati Dodaga. Ceritanya lebih banyak dibangun di pesisir.

Tiga lelaki bernama Pedamati, Tabacampaka, dan Todojaha, membawa Bido dengan perahu ke Akelamokao, terus ke pelabuhan Jailolo. Bido akan dijual ke Walanda. Selama berada di tangan pencuri, Bido tidak melawan sedikit pun, lebih banyak diam berdoa, dan selalu menyebut nama Tutu. Tutumole di Dodaga terluka, oleh serangan seseorang saat sedang mencari perahu untuk dipakai ke Wasilesi. Tutumole lagi tidak siap ketika ada serangan, yang membuatnya terluka. Dalam keadaan luka, Tutu mengejar Bido, dan dalam perjalanan ke Akelamokao berperahu, Kalawako, Rodo, dan Sulo ikut. Tiga orang Dodaga ini yang membantu Katina, dan Mikala mendayung. Belum sampai di Akelamokao, Tutumole menurunkan Kalawako, Rodo dan Sulo di Minaimin. Kemudian memotong teluk Kao. Sampailah juga di Akelamokao, Tutu turun dari perahu. Mikala dan Katina terus berperahu ke utara lewati Gamsungi, berteduh di hutan Duma, dekat tepian sungai Ake Mataki. Di hutan Duma, Mikala dan Katina menunggu Tutu dan Bido.

Pedamati, Tabacampaka, dan Todojaha telah membawa Bido ke pos Walanda di pelabuhan Jailolo. Bido dijual ke seorang letnan Walanda dengan harga tiga kalung emas, dan duapuluh keping emas. Bido akan dibawa ke Tobelo, diserahkan kepada seorang kapten yang baru saja kehilangan isterinya. Di Akelamokao, Tutumole singgah di kediaman nenek Salero, seorang dukun beranak, yang bercerita tentang Bido yang dibawa pergi pencuri. Mereka para pencuri Bido, sebelumnya juga beristirahat di rumah Salero, untuk memastikan kegadisan Bido masih perawan atau tak. Tutumole kemudian melanjutkan perjalanannya ke pelabuhan Jailolo. Kapal membawa Bido telah lepas tali dari pelabuhan akan menuju Tobelo. Tutu dengan kesaktiannya dapat naik ke atas kapal membawa Bido, dan berhasil membebaskan Bido dari tangan Walanda. Tutu dan Bido tiada jalan lain kecuali terjun bebas ke laut lepas di malam hari. Di tengah laut itu, ketika berenang menuju tepian, tiba-tiba datang daya menakjubkan, ikan dolfin (lumba-lumba) menghampiri. Ikan dolfin menyelamatkan Tutu dan Bido dari tengah laut sampai ke tepi pesisir, kemudian mereka meninggalkan pantai, tiba di sungai Lamo, berjalan ke sungai Mataki.

Kapten Walanda mengutus Pedamati, Tabacampaka dan Todojaha untuk menangkap Bido dan membunuh Tutu. Utusan kapten semakin mendekati tempat Tutumole dan Bido, yang sedang berteduh. Ketika para utusan telah mengetahui keberadaan Tutu, terjadilah perkelahian sampai ketiga utusan tersebut mati. Tutu dan Bido bergegas pergi melanjutkan perjalanan ke Dumdum. Sampailah di sungai Ake Mataki, di mana Milaka dan Katina menunggu. Perjalanan diteruskan berperahu ke kampung Minamin, dengan patokan bintang-gemintang di langit malam. Singgah beristirah di pantai Minamin, mereka berlanjut ke Gurua ziarah kubur ibunya Tutumole, lalu ke Waijoi, tempat sang guru Masinga tinggal. Sampai di tujuan, ternyata hanya menemukan batu nisan Masinga. Kemudian Bido menganut Islam dan menikah dengan Tutumole.

Selesai menikah, Tutu, Bido, Mikala dan Katina, menempuh perjalanan terakhir ke arah timur menyusuri lereng gunung Watowato bertemu Jakudu, kepala suku tertua Lingon. Jakudu ialah kakek Bido. Samo, adik bungsu laki-laki Bido yang tinggal bersama Jakudu. Bido, memohon restu atas pernikahannya dengan Tutumole kepada Jakudu dan juga adiknya. Awalnya Jakudu berat, lama-lama memberi restui juga. Perjalanan ke tempat persembunyian suku Lingon semakin dekat, jalannya sangat berbahaya, mereka sampai di air terjun Naonao, lalu lewati pinggiran air terjun yang di sebelah kiri terdapat tebing cadas berdiri bagai dinding raksasa, sedang di sebelah kanan jurang tanpa dasar, menganga. Setelah melewati sebuah lorong dan terowongan di dalam tebing bagian tersulit, tibalah meraka di perkampungan suku Lingon.

Orang-orang Lingon terheran-heran, terkejut sekaligus bertanya-tanya, sewaktu melihat dalam rombongan Bido terdapat Tutu, seorang pesisir. Tutumole memberanikan diri masuk kampung suku Lingon, banyaklah warga yang tak terima baik, lalu menggugat. Semua warga berkumpul di depan kediaman Tamako, kepala suku Lingon. Mereka memprotes, karena ada orang pesisir masuk kampungnya. Tutumole ke rumah Bido langsung menemui Tamako, dan mencari tahu penyakit yang diderita kepala suku tersebut. Kepala suku menderita sakit selama ini lantaran keracunan. Setelah berhasil menyembuhkan kepala suku, Tutumole menyampaikan maksud baiknya ke Tamako, kalau anaknya telah sah jadi isterinya. Kepala suku Lingon tak berpikir panjang merestui hubungan mereka. Karas beserta warga Lingon yang lain, tak menerima hal keputusan itu. Karas merasa paling berhak memiliki Bido, lantaran hanya dirinya yang sangat mencintai, tetapi Bido tidak menyukainya sejak pencarian akar yaiwo, atau jauh sebelum bumi dan langit Lingon dihamparkan Sang Maha Pencipta Alam.

Karas menantang Tutu bertarung sampai mati. Siapa yang menang, dia berhak menjadi suami Bido. Karas sangat kuat dan berilmu kekebalan, tetapi kekuatannya tak sebanding daya-dinaya dipunyai seorang sousoulol. Pertarungan dimenangkan Tutumole, lalu esok harinya, Tutu, Bido, Mikala, dan Katina, meninggalkan perkampungan suku Lingon. Mereka pulang, dan hidup menetap di Waijoi, akhirnya Mikala dan Katina memutuskan memeluk ajaran agama Islam.

Sebelum membaca novel Lingon, pembaca telah hatam novel karangan Mangunwijaya, Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa. Mangunwijaya berhasil membangun semangat kedaerahan pembaca dan menambah kecintaan kepada bahasa daerah di pulau Halmahera. Namun pada novel Lingon, tidak menemukan itu. Kecintaan bahasa daerah sepertinya tak begitu penting bagi John, yang juga tidak menyelipkan sedikit pun dialog bahasa daerah. Dari awal pembaca melihat seperti berdakwah, misal ketika Tutu ingin menjadi Sousoulol, syaratnya beragama Islam. Demikian juga terjadi pada Bido, Mikala, Katina, atau Bido lebih dahulu menerima agama Islam sebelum menikah dengan Tutu dan hidup di pesisir sesuai aturan berlaku di perkampungan Lingon. John juga tidak menyebut nama akar kayu, kulit pohon, dan dedaunan yang dijadikan ramuan obat sakit, keracunan, atau terluka, nama ramuannya pun tidak disebutkan. Padahal hampir semua tumbuhan yang berkembang di belantara hutan Halmahera memiliki namanya masing-masing.

Setidaknya, novel ini telah mengambil peran baik mengisi khazanah kesusastraan Indonesia khususnya kekayaan alam Maluku dan Halmahera. Pembaca tidak berlebihan, beranggapan buku ini penting dibaca para generasi Maluku dan Halmahera, guna menambah pengetahuan mengenai suku Lingon, yang selama ini hanya lewat tradisi tutur. Dan John Halmahera, satu-satunya pengarang novel mengenai suku Lingon pun kekisah indah yang terbentang di pulau-pulau Maluku dan Halmahera.
***
18/ 06 / 2020
_____________
*) Mahamuda adalah nama pena dari Mahyuddin M. Dahlan. Anak bungsu dari lima bersaudara, lahir di Wayaua, Bacan Timur Selatan, Halmahera Selatan, 3 Juli 1994, dari pasangan Mahmud Dahlan dan Srida Midjan. Penulis menyelesaikan pendidikan Madrasah Ibtidaiyah al-Khairaat Wayaua, dan SD Wayaua di tahun 2006. Merantau ke Sulawesi Tengah, dan belajar di MTs al-Khairaat Pusat Palu, tamatan tahun 2009, masuk Madrasah Aliyah al-Khairaat Pusat Palu, lulus 2012, kemudian merantau ke Tanah Jawa. Tahun 2013 menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Yogyakarta. Pada semester V, memilih meninggalkan kampus, sibuk mencari uang untuk membeli buku-buku sambil menghibur diri belajar mengarang cerita dan lagu, disamping senang berpergian naik kapal.
http://sastra-indonesia.com/2020/06/lingon-perempuan-bermata-biru-di-belantara-hutan-indonesia-novel-john-halmahera/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito