Minggu, 24 Mei 2020

KAMPUNG SEBAGAI BASIS PERLAWANAN SIMBOLIK

Djoko Saryono *

Apakah yang ada di kepala, ingatan, dan bayangan sebagian besar di antara kita (baca: sebagian besar masyarakat Indonesia atau warga Indonesia pada umumnya) ketika disebut kata/istilah: kampung? Yang terbit di kepala, teringat, dan terbayang niscaya gambar(an) serba negatif, suram dan kelam, serta sumber segenap persoalan.
Memang, tampaknya alam pikiran atau cara pandang sebagian besar di antara kita, yang sudah dirasuki oleh cara berpikir kolonialistik yang dilanjutian oleh modernisme klasik-baku terutama pembangunan-isme (developmentalism) terkesan jumawa-congkak (arogan) terhadap kampung. Pandangan serba negatif dilekatkan pada kampung, nyaris tak tampak dimensi, aspek, dan spektrum keberadaan dan sosok kampung yang bisa disebut positif.

Bukan hanya dalam ingatan-bayangan, hal tersebut juga tampak tegas pada bahasa, wacana, makna, dan realitas kehidupan sehari-hari. Dalam simbol, semantik, dan realitas sosiologis, kampung mengalami stigmatisasi dan itu dibekukan oleh pelbagai kalangan. Betapa tidak! Perhatikan saja, secara semantis atau bahasawi, istilah kampung senantiasa dimaknai negatif, malah destruktif. Sebagai contoh, buka saja Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah kampung dimaknai sebagai berikut: /kam·pung/1 n kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah); 2 n desa; dusun; 3 n kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu, terletak di bawah kecamatan; 4 a terkebelakang (belum modern); berkaitan dengan kebiasaan di kampung; kolot; — halaman daerah atau desa tempat kelahiran. Sementara itu, kata kampungan dimaknai sebagai: /kam·pung·an/ a 1 ki berkaitan dengan kebiasaan di kampung; terbelakang (belum modern); kolot; 2 ki tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar. Pengertian kampung dan kampung amat negatif dan destruktif, bukan?!

Demikian juga dalam wacana publik dan akademik, istilah kampung senantiasa dihubungkan, dikonotasikan, diasosiasikan, bahkan diidentikkan dengan kemiskinan, kebodohan, kekotoran, kekumuhan, kriminalitas, bahkan tak jarang sumber dan sarang gangguan-persoalan sosial. Lebih-lebih dalam realitas kehidupan sehari-hari, kampung dilekatkan dan dicitrakan dengan ketertinggalan, kerendahan, dan kejorokan. Dalam realitas kehidupan sehari-hari betapa sering kita mendengar ucapan atau umpatan berbunyi: Dasar anak kampung!; Benar-benar kampungan perilakunya!; Kampungan benar tindakannya!; Berperilakulah yang tertib, jangan kampungan; Jangan bermental kampung! Pendek kata, kampung serasa dan serupa daerah, wilayah, dan atau permukiman serba remang, bahkan gelap nyaris dalam segenap hal.

Hal tersebut mengisyaratkan tiga hal penting. Pertama, imajinasi, konstruksi, dan signifikasi kampung serba negatif, bahkan destruktif dalam leksikon-semantik, diskursus, dan praksis hidup sehari-hari. Kedua, dalam kungkungan alam pikiran dan perspektif seperti tersebut, pemerintah, akademisi (terutama yang bergerak di sektor keruangan), pengusaha (terutama yang berkutat di sektor properti), bahkan politisi (terutama yang punya kewenenangan merencanakan tata ruang dan wilayah), dan pihak-pihak lain cenderung atau kerap melakukan labelisasi negatif, stigmatisasi, marginalisasi, dan atau eksklusi-isolasi terhadap (yang dinamai) kampung.

Di situlah kita melihat kampung cenderung dilekatkan pada daerah atau permukiman udik-jauh, terisolasi-terkurung, dan sejenisnya. Kampung adat dan Kampung Naga, misalnya, pasti dipersepsi udik-jauh, tradisional, kolot, dan berbeda dengan pusat kota. Andai ada di kota (seperti kampung saya), kampung niscaya dihubungkan dengan kantong permukiman yang terkurung oleh ruang-ruang modern yang megah-mewah-bersih, misalnya pertokoan dan mall. Bahkan akhir-akhir ini kampung juga dioposisikan dengan perumahan: di sini perumahan dianggap beda dengan kampung kendati sama-sama permukiman yang lekat dan lengket dengan kampung.

Karena itu, ketiga, tak jarang kampung mengalami diskriminasi dan segregasi keruangan (spasial-fisikal) dan sosial. Di sinilah kita lihat kampung tak terintegrasi dengan ruang-ruang lain di dalam kota sehingga akses fisikal dan sosial kehidupan kampung sering sulit. Bahkan di pinggiran kota atau jauh dari kota, kampung juga kerap dipisahkan dengan permukiman baru yang dinamai perumahan. Sering kita saksikan yang disebut perumahan benar-benar terpisah secara spasial-fisikal dengan kampung (yang kerap dibatasi oleh tembok kokoh-tebal-menjulang yang menandakan batas kampung dengan perumahan!). Tak heran, kita kerap menemukan keterbelahan dan keterpisahan ruang dan sosial di dalam sebuah tata ruang dan wilayah: ruang kampung versus ruang non-kampung (baca: perumahan, kantor, mall, dan sejenisnya) dan tata-kampung versus tata non-kampung.

Keterbelahan dan keterpisahan kampung versus non-kampung makin tegas, tajam, dan mengeras ketika pembangunan berlangsung timpang atau tak konektif, kebijakan pemerintah kurang terpadu, dan perubahan kultural tak terkendali. Dalam hubungan ini kita menyaksikan ruang dan wilayah non-kampung mengalami pembangunan ekonomi-kapitalistik dan modernistik-material, sedangkan ruang-wilayah kampung kerap tak mengalami pembangunan secara berarti.

Tak heran, tumbuh ruang-ruang ekonomi, bisnis, perkantoran, ruko, rekreatif-modern, jalan hotmix, dan sejenisnya di ruang-wilayah non-kampung pada satu sisi dan pada sisi lain nyaris tak tumbuah apa-apa di kampung, malah kadang perlindungan pasar, tanah, dan fasilitas umum pun tidak. Bahkan yang disebut kampung adat dan kampung tradisi, misalnya Kampung Naga, Kampung Way Rebo, dan Kampung Osing tak mendapat sentuhan apa-apa, tak jarang malah kena eksploitasi atas nama konservasi budaya dan turisme.

Itu sebabnya, wajarlah ruang-wilayah kampung tumbuh tak seimbang dibandingkan dengan ruang-wilayah non-kampung. Perbedaan pertumbuhan dan perubahan ruang-wilayah kampung versus non-kampung tersebut lama-kelamaan tak hanya pada lapisan material, tatapi merasuk ke lapisan sosial dan simbolik pula. Kita seperti menyaksikan dikotomi kebudayaan-peradaban kampung versus non-kampung dengan catatan: kebudayaan kampung dimaknai secara peyoratif (merendahkan-kecil) dan kebudayaan non-kampung dimaknai secara amelioratif (meninggih-megah).

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.
http://sastra-indonesia.com/2020/05/kampung-sebagai-basis-perlawanan-simbolik/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito