Sigit Susanto
Aku coba mengingat-ingat, kapan tepatnya telingaku pertama kali mendengar nama Umbu. Kalau tak salah sekitar tahun 2002, ketika aku mengikuti berbagai mailing list sastra di internet. Nama itu buatku saat itu termasuk unik, pasti bukan orang Jawa, karena di Jawa lebih populer Bumbu atau Bambu.
Nama Umbu semakin santer kudengar, ketika tahun 2004, Wayan Jengki Sunarta dan Riki Dhamparan Putra menginap di rumahku di Batubulan, Bali. Kebetulan aku datang dari Jawa dengan Puthut EA dan Nurul Khawari. Jengki banyak cerita seputar komunitas Kedai Kopi di Denpasar yang sering didatangi Umbu. Jengki cerita, cara Umbu memotivasi asuhannya. Salah satunya menimpa diri Jengki sendiri. Suatu hari Umbu datang memberi nasi bungkus kepada Jengki. “Ini nasi bungkus Republika,“ katanya singkat. Jengki masih belum paham, beberapa saat kemudian ia sadari, ternyata puisi Jengki baru saja dimuat koran Republika. Mendengar kisah unik Umbu mengapresiasi karya anak muda, sungguh sederhana, namun membekas.
Cerita Jengki tak sampai di situ, ia masih menebar kisah kemisteriusan Umbu. Menurut kawan-kawan memang Umbu sulit ditemui, termasuk Emha Ainun Nadjib mengalaminya. Kata Jengki, pernah kawannya di Denpasar ingin tahu di mana sebetulnya domisili Umbu? Kawan itu menguntit gerak-gerik Umbu yang paling sering membawa tas plastik kresek warna hitam. Kawan yang menguntit Umbu itu kehilangan jejak, entah bagaimana di pertigaan jalan Umbu sudah menghilang.
Murid-murid Umbu di Denpasar tahu, kalau sang begawan puisi itu hanya sekali setiap Sabtu malam ke dapur Bali Post, untuk menetaskan puisi-puisi pada edisi Minggu koran Bali Post. Setelah ritual yang sudah dilakukan lebih dari 30 tahun itu usai, maka ia kembali ke persembunyiannya lagi. Buat penggemar puisi yang hendak bertemu dengan Umbu, sering harus sabar menunggu di kedai remang Bali Post Jalan Kepundung No: 67-A, Denpasar, sambil rela dikeroyok nyamuk ganas. Itu pun belum tentu bisa bertemu.
Masih menurut kawan-kawan di Bali, Umbu tak pernah mendatangi acara keramaian sastra. Jika ia datang pun cukup dari kejauhan, tak mau ia muncul secara visual kepada khalayak. Jengki meyakinkan, saat kawan-kawan mengadakan acara yang khusus dikemas untuk Umbu, awalnya Umbu bersedia hadir, namun kenyataannya ia tak muncul juga.
Mendengarkan cerita-cerita unik tentang sosok Umbu, semakin menebalkan keyakinanku, manusia ini sungguh langka. Di zaman setiap orang ingin mengaktualisasikan diri agar dikenal, Umbu rupanya memilih jalan sepi dan tak populer. Meskipun begitu, namanya sudah terlanjur melegenda dalam dunia perpuisian Indonesia. Sosok Umbu untukku masih tetap abstrak. Aku belum pernah bertemu dengannya. Inginnya sih bertemu, namun mendengar barier-barier yang ada, niat itu menjadi tumbang.
Suatu sore aku berkunjung ke teman perempuan Jerman, Ibu Gita Tumbelaka di daerah Sidakarya, Denpasar. Seorang pemuda jangkung berkulit gelap asal Sumba mengeluarkan teh panas. Lelaki itu aku tanya, sekiranya tahu Umbu? Ia duduk dan bercerita, Umbu di Sumba sangat dihormati, selain termasuk dari keluarga bangsawan. Bahkan menurutnya, pernah anak lelaki Umbu menyusulnya ke Denpasar, namun Umbu hanya menemui sebentar.
Setahun berlalu, pada tahun 2005, aku punya buku catatan perjalanan Menyusuri Lorong-Lorong Dunia. Bukuku itu aku titipkan ke satpam Bali Post, untuk diberikan kepada Umbu. Tradisi itu beruntun, hingga tahun 2008 terbit bukuku jilid 2, tahun 2012 terbit lagi jilid 3 juga selalu kutitipkan satpam Bali Post, untuk sang guru Umbu.
Suatu malam, aku sedang di sebuah kafe di Denpasar dengan dua rekan, Puthut EA dan Eko Suwardono. Telepon genggamku bertalu, ternyata Jengki menelepon, mengajak bergabung, karena ia dan kawan-kawan lain sedang ngobrol dengan Umbu. Ajakan Jengki tak bisa kupenuhi, kami juga sedang merayakan kenangan kecil di tengah malam.
Waktu terus bergulir, senapas dengan minatku belajar sastra, nama Umbu sering terdengar lagi. Kadang muncul deras, kadang enyah terkubur kehidupan yang rakus. Lagi-lagi lewat Jengki, aku dikenalkan dengan Rara Gendis. Rara bilang kepadaku, saat bertemu Umbu di kantor redaktur Bali Post, Umbu sempat menanyakan kabarnya Tardji. Seketika itu, Rara langsung menelepon Tardji. Setelah telepon genggam bersambung, ia operkan ke Umbu, maka terjadilah percakapan antara Umbu dan Tardji. Rara tidak memerinci tema apa yang dibicarakan dua pendekar puisi itu.
Pada tahun 2009 aku kedatangan Shiho Sawai, mahasiswi Jepang yang sedang kuliah S3 di UGM. Kawan-kawan di Yogya tahu, Shiho ini suka mendatangi sastrawan-sastrawan yang terpencil. Kedatangan Shiho di rumahku Batubulan itu juga salah satunya punya agenda menemui Umbu. Atas bantuan Warih Wisatsana, ia berhasil bertemu Umbu. Shiho melaporkan dengan memulai bahasa simbol, mengacungkan jempol kanan, “Hebat, hebat sekali Umbu, lho, Kang Sigit.“ Aku larut dalam kisahnya.
Pada tahun 2010 kawan-kawan di Komunitas Lereng Medini (KLM) di Boja, Kendal tempat aku berasal mengundang sastrawan F. Rahardi dalam sebuah acara Parade Obrolan Sastra (POS). Buat Mas Rahardi sebenarnya bisa dibilang pulang kampung, karena ia pernah menjadi guru SD di Limbangan, Boja. Lewat Mas Rahardi diberitahu, bahwa di kebun teh Medini yang letaknya di atapnya kota Boja, dulu ada penyair yang bekerja sebagai ketua afdeling, namanya Iman Budhi Santosa. Tahun berikutnya, 2011 kawan-kawan berhasil memboyong Mas Iman dari persembunyiannya di Yogya untuk dibawa napak tilas jejaknya di kebun teh Medini. Dari Mas Iman lah kami mulai banyak lagi dengar cerita tentang Umbu dan Persada Studi Klub (PSK). Jejak Mas Iman ke gunung teh Medini itu menjadi buku berjudul Merajut Sunyi, Membaca Nurani.
Pada hari Sabtu, 6 April 2013 aku berada di Bali dengan dipandu Jengki menuju kedai Bali Post pada pukul 22.00. Jengki ditemani Helmi, aku ditemani Bob Martokoesoemo. Harap-harap cemas, apakah Umbu bersedia menemui kami? Lewat bantuan satpam, Umbu ternyata turun tangga dari gedung dan bergabung dengan kami dan duduk di bangku kayu. Tak lama lagi Jengki seperti sudah tahu ritualnya, ia keluar mencari bir bintang. Malam merambat dari waktu ke waktu, Umbu benar-benar berada di depanku. Sosok yang berwibawa dan karismatik. Rambutnya panjang dengan topi dan syal melilit leher. Baju panjangnya biru. Penampilan sang empu sangat bersahaja. Ia merokok dan minum bir yang dituangkan pada gelas plastik kecil.
Entah bagaimana, aku tak memanggil Bang Umbu seperti Jengki atau kawan-kawan lain sebut, aku langsung panggil Umbu saja. Entah, apa karena aku baru tiba dari Swiss dua hari lalu, sehingga biasa sebut orang tua dengan panggilan langsung, tapi aku tidak merasa sungkan sebut Umbu saja. Aku yakin, Umbu bukan pendamba adat hirarki.
Ternyata Umbu tidak hanya bicara tentang puisi, ia bisa dengan nyaman bicara tentang Pilkada Bali, waktu itu, tentang Jokowi, tentang tema apa saja yang saat itu terlempar di tengah obrolan. Umbu saat itu menganjurkan menulis puisi yang prosais atau prosa yang puitis. Ia sedikit berkisah tentang perantauannya di Yogya. Ia akui beruntung menemukan surganya Yogya di tahun 70 -75-an. Kisah lain, selama dua kali ia indekos di Yogya pada keluarga yang menganut kepercayaan kejawen. Sampai di sini aku sangat tertarik, meskipun Umbu hidup di alam kejawen di Jawa dan Hinduistik di Bali, tetap saja puisi tegak berdiri.
Menurutnya sejak dari Sumba, memang Yogya dielu-elukan sebagai tempat yang banyak berkumpul orang pintar. Kenyataannya benar. Sejak di SMA Bobkri Yogya, ia sudah gemar membaca buku sastra di perpustakaan, berkat saran dari kawan seindekos asal Riau. Ia sedikit saja menyinggung komunitas PSK. Ia memuji kecerdasan Emha Ainun Nadjib, dan puisi Mas Iman Budhi Santosa yang bagus. Ia kisahkan, kawannya di PSK, Pragola yang pemberani mengkritik pemerintah dan lantang, akhirnya dia hilang. Pada tema ini kawan-kawan yang sedang asyik makan cemilan kacang goreng dan minum bir, mengaitkan dengan hilangnya Widji Thukul.
Waktu tak terasa berjalan begitu cepat, sudah pukul 02.00, maka rombongan obrolan dengam Umbu beralih tempat untuk mengisi perut di warung padang, di jalan Hayam Wuruk. Di warung ini obrolan diperpanjang sampai pukul 04.00 dan usai mengantar Umbu ke Bali Post, kami pulang ke tempat masing-masing.
Kesempatan kedua bertemu Umbu pada Sabtu malam, 4 Mei 2013. Lagi-lagi Jengki berperan seperti Beatrice, sang pemandu dalam puisi Dante The Divine Comedy. Kali ini sebelum aku datang di kedai Bali Post, sudah menunggu pemuda asal Medan berperawakan India bernama Selwa Kumar. Ia mengaku sudah tiga kali ke situ ingin bertemu Umbu, tapi tak berhasil. Jengki datang mengajak Helmi lagi, aku datang dengan Latto Moga Uchikawa, kawan asal Ambarawa. Tak berapa lama ada beberapa orang bergabung, seorang dari balai bahasa Denpasar dan dua muda-mudi dari SMA.
Umbu turun dari tangga gedung Bali Post, kami saling bersalaman. Ia cerita banyak hal, antara lain pernah mengaku main drama Hamlet, bersama ayah Rendra. Umbu menjadi Polonius. Rendra kala itu baru datang dari Amerika, menatap Umbu dari jarak dekat. Terkait Rendra yang sering mengirim puisi ke koran yang redakturnya Umbu di Yogya kala itu, Rendra tidak dapat honor. Umbu menirukan ucapan Rendra, “Mana honorku….Umbu?” Ia jawab, “Tidak ada uang, Mas.” Rendra, “Harus ada, masak tidak ada.” Umbu, “Benar, Mas sedang tidak ada uang.” Rendra, “Pokoknya nanti diantar, ya, harus ada itu honor.” Pada kesempatan lain Umbu ke rumah Rendra, tapi ia tidak membawa uang, melainkan membawa beberapa rokok, “Ini, Mas honornya,” kata Umbu. Rendra jawab, “Nah, begitu, nulis puisi harus dapat honor.” Kesan Umbu, bahwa sebenarnya Rendra itu sangat Jawani. Perilaku dan sifat Rendra Jawa sekali.
Umbu bilang kepada seorang dari balai bahasa, bahwa tulisannya masih ia simpan. Kemudian Umbu berbalik mengatakan kepadaku, “Kafka bagus sekali, tulisan Sigit yang difotokopi dulu juga masih aku simpan.“ Aku agak kaget, ternyata tulisanku tentang Kafka yang kuberikan Jengki dulu, sampai di tangan Umbu.
Menjelang pukul 02.00 lapar membakar perut, kami semua hengkang mencari warung padang yang menjadi langganan. Di warung itu obrolan dilanjutkan. Umbu akui sebenarnya ia suka di tiga tempat, Yogya, Bandung dan Bali. Sayang ia tak sempat mampir ke Bandung, walau ia akui dulu di Bandung banyak sastrawannya. Mendekati pukul 04.00 Jengki menyuruhku mengantar Umbu ke kedai Bali Post, “Sana Umbu kamu antar, biar merasakan memboncengkan empu.“
Dari pertemuan dengan Umbu selama dua kali berturut-turut, masing-masing selama enam jam itu, aku merasa mendapat tambahan amunisi bagaimana bersetia dengan puisi. Ada pesan yang tak terucap dari Umbu, ada dorongan yang tak menggebu, mengendap dalam ketenangan batin lewat sandi-sandi yang diwakili oleh mata, rambut, dan wajah. Saat dua kali bertemu itu aku tak menyerahkan puisi satu pun, memang aku jarang menulis puisi. Namun kawanku Bob dan Uchikawa menyerahkan dua lembar kertas puisi. Pada kesempatan sebelumnya penyair Tan Lioe Le di Denpasar, membocorkan kalau kirim puisi ke Umbu jangan sedikit, yang banyak sekalian. Pertimbangan Tan, jika orang nulis puisi beberapa buah langsung dimuat, kelak penulisnya akan cepat puas, tapi setelah itu malas, tidak berlatih lagi. Namun jika menulis dalam jumlah banyak, pasti ada proses panjang yang telah dilewati.
Nah, sejak aku bertemu Umbu itu, aku merasa semakin berani untuk mencoba menuliskan puisi, sambil mengingat-ingat wangsit Tan. Maka aku tulis puisi hampir setiap hari, semacam buku harian puisi. Tak terasa setiap bulan aku bisa mengumpulkan sekitar 20 puisi. Puisi-puisi itu aku kirim semua ke Umbu lewat pos. Beberapa bulan kemudian, di luar dugaanku, Jengki lewat chating di facebook mengabarkan,“Puisimu dimuat Umbu di Bali Post.“ Aku kaget bercampur haru, karena selama ini aku tidak pernah punya puisi yang dimuat media, ya selain jarang menulis puisi. Akhirnya aku tahu puisiku pertama yang dimuat oleh Umbu berjudul Pohon Bambu di Kamarku.
Kubayangkan ulang bagaimana caraku menulis puisi panjang yang tergolong prosa liris itu. Ah, aku hanya menuliskan angan-angan yang semi abstrak dan riil. Aku sengaja tidak memakai tanda baca koma ataupun titik. Aku nekat saja ingin mencoba mengusung cara James Joyce menutup novelnya Ulysses dengan monolog interior. Hitung-hitung aku sudah ketiga kalinya khatam baca Ulysses dalam kurun waktu 8 tahun.
Biasanya aku menulis puisi pada setiap bangun pagi menjelang berangkat kerja. Jika waktu itu tidak cukup, malamnya aku lanjutkan lagi. Entah, minat menulis puisi itu tak redup dalam berbagai jeda kehidupan. Beberapa kawan dekat yang aku beritahu dengan kegiatan baruku itu, mereka menyangka pasti perlu perenungan yang mendalam, tak mungkin bisa seproduktif itu. Aku kira biasa saja menulis, toh memori itu sudah bertumpuk bertahun-tahun. Kadang aku menulis puisi dari peristiwa yang terjadi kemarin sore, tadi malam bahkan yang sudah 30-40 tahun silam di belakangku. Biasanya makin jauh jaraknya makin abstrak dan remang pada isi maupun bahasanya. Beruntung, Jengki dan kawan-kawanku di Bali kadang mengabarkan, jika ada puisiku dimuat di Bali Post edisi Minggu. Sampai saat aku menulis puisi, sekitar 17 puisiku dimuat oleh Umbu dalam setahun.
Pada akhirnya aku percaya wangsit Pablo Neruda menjelang kematiannya, “Aku selalu mengerjakan hal yang sama. Aku tak pernah akan berhenti melakukan hal itu, menulis puisi. Menulis bagiku seperti pekerjaan tukang sepatu, yang tidak makin baik atau makin buruk.”
Zug: April 2014.
(Kediaman Sigit Susanto di Bebengan, Boja, Kendal, Jawa Tengah).
Dua Foto Persada Studi Klub (PSK) Yogyakarta (dari fb Nurel Javissyarqi).
http://sastra-indonesia.com/2020/04/umbu-landu-paranggi-di-depanku/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito






Tidak ada komentar:
Posting Komentar