[Pengarah gaya: Freddy Martin, Fotografer: Iyok Manggabarani]
Linda Christanty
Rubrik "Dunia Pria", Majalah Dewi, Mei 2015
Ia tak kenal lelah memperjuangkan demokrasi hingga kebebasan pers dan kini ikut memimpin CNN Indonesia.
UCAPAN CARL SAGAN DALAM PALE BLUE DOT, buku yang ditulis kosmolog Amerika itu, membuatnya terkesan. “Bumi kita kalau ditatap dari luar angkasa hanya titik biru pucat di tengah alam semesta, tapi di sana segala dendam, cemburu, dengki, sakit hati, perang, dusta berlangsung dengan gilanya." Nezar Patria, wakil pemimpin redaksi CNN Indonesia, mengulangi kembali ucapan tersebut dalam perbincangan kami akhir tahun lalu di kantornya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Penampilannya rapi, meski santai. Kemeja hitam, celana jins, sepatu kulit. Selain gemar membaca buku-buku sejarah, politik, dan sastra, ia peduli terhadap hal-ikhwal alam semesta dan masa depan ras manusia. Kehidupannya di bumi telah membuktikan kata-kata Sagan. Beberapa kali ia berada di tengah pusaran konflik atau kegilaan perang.
Sebelas tahun lalu, ia dan empat rekan wartawan terperangkap perseteruan dua institusi bersenjata,Tentara Nasional Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, di kala Aceh berstatus darurat militer. Demi kelancaran proses pembebasan seorang juru kamera televisi nasional yang disandera GAM, mereka rela menjadi jaminan untuk dibawa ke markas para gerilyawan. Di puncak bukit Peudawa, Aceh Timur, ia baru menyadari betapa besar risiko dari keputusan mereka saat menyaksikan ribuan prajurit TNI bergerak melingkari lereng bukit, berlapis-lapis, membentuk formasi pengepungan. Sementara kekuatan GAM hampir setara. Namun, para wartawan 75 media tidak putus asa mendesak militer memperpanjang gencatan senjata. Solidaritas ini berpengaruh. Pertempuran tidak terjadi. Kesepakatan pun tercapai. Trauma? “Tidak. Tapi khawatir terjadi apa- apa, karena istri waktu itu sedang mengandung anak kedua kami,” katanya. Putri sulungnya baru berusia tiga tahun.
Peristiwa Peudawa bukan pengalaman pertama Nezar dengan bahaya. Pada 13 Maret 1998 ia ditangkap melalui sebuah operasi Komando Pasukan Khusus dan disekap dalam penjara rahasia sebagai musuh Orde Baru. Suatu hari ia mendengar suara pistol dikokang. Waktunya sudah dekat. Tapi keadaan tiba-tiba berubah. Para penculik memperoleh instruksi lain. Soeharto ternyata mengundurkan diri sebagai presiden di bulan Mei 1998. Sebulan kemudian ia dibebaskan.
Pasca Soeharto, ia menekuni jurnalisme, mewujudkan cita-citanya waktu kecil. Ayahnya juga wartawan, sehingga dunia itu terasa akrab. Salah satu elemen jurnalisme bahkan sejalan dengan praktik para aktivis, yaitu memantau kekuasaan dan menjadi penyambung lidah mereka yang tertindas.
Kehadirannya di bumi 44 tahun silam sebuah karunia. Ia menikmati masa kecil di antara keriuhan pasar dan ketenangan kampung dalam kota Banda Aceh. Ia hanya menyendiri untuk membaca buku. Perpustakaan adalah tempat yang paling diingatnya. Rasa ingin tahu telah menggiring Nezar pada sejarah untuk pertama kali saat ia membuka sebuah lemari besar di sekolah. Kertas-kertas kuning bertuliskan aksara kanji ada di lemari itu. “Guruku akhirnya bercerita dulu SMP kami milik perkumpulan Tionghoa. Mereka terlibat partai komunis, sehingga pemerintah mengambil alih sekolah,” kisahnya.
Pada pertengahan 1980-an, ladang gas ditemukan di Lhokseumawe, Aceh Utara. Perusahaan multinasional gencar mengeksplorasi, tapi hasil dari gas tidak memperbaiki taraf hidup mayoritas orang Aceh. Konflik GAM, kelompok perlawanan bersenjata, dan pemerintah Indonesia mulai memanas. Ia mengenang, “Waktu SD aku melihat poster orang-orang yang dicari, dipasang di balai desa, kantor-kantor, dan dinding sekolah. Tapi membicarakannya tabu."
Kegemarannya membaca seiring dengan kesenangan menulis. Ketika SMA, ia meraih juara pertama lomba menulis tingkat nasional yang diselenggarakan suratkabar Suara Karya. Tulisannya Tapak Tuan Padamu Negeri menyisihkan 3.200-an tulisan lain. Ia bangga, "Hadiahnya dari tiga menteri. Menteri pendidikan, menteri pemuda dan olah raga, dan menteri pariwisata. Fuad Hassan, Akbar Tanjung dan Joop Ave. Aku bertemu mereka." Kemenangan itu menerbangkannya ke Jakarta untuk pertama kali. SMA seluruh Aceh gempar.
Novel-novel Iwan Simatupang telah mempertemukan Nezar dengan filsafat, “Ceritanya membuat kita berpikir. Ada yang bilang dia tertarik pada eksistensialisme. Ternyata itu filsafat. Aku jadi ingin tahu apa itu filsafat." Dari ujung barat Sumatra, ia hijrah ke Pulau Jawa untuk kuliah di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia lantas aktif dalam pers mahasiswa dan kelompok diskusi, yang memberi akses untuk mengetahui fakta di balik bermacam peristiwa sejarah yang tabu dibicarakan.
Pemerintah di masa itu menghalangi kebebasan berpendapat. Media disensor. Demonstrasi massa dihadapi dengan senjata. Orang-orang kritis ditahan. Awalnya ia ikut aksi-aksi kampus, seperti memprotes kenaikan uang kuliah. Lama-kelamaan, ia berjuang untuk rakyat. Pada 1993, mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Indonesia melakukan aksi bersama petani di Blangguan, Jawa Timur. Marinir menembak ladang-ladang jagung dengan mortir, karena menganggap itu lahan mereka. Banyak temannya tertangkap pasca aksi tersebut, tapi ia lolos dan mengirim kronologi peristiwa itu ke media massa. Suratkabar Kompas berani memuat. “Dampaknya besar. IGGI langsung menangguhkan dana untuk militer Indonesia,” kenangnya. IGGI (Intergovernmental Group on Indonesia) digagas Amerika Serikat dan berdiri pada 1967 untuk mengatur dana multilateral kepada Indonesia.
Menyadari fungsi organisasi sebagai wadah pendidikan serta penggalangan solidaritas, ia turut mendirikan Persatuan Rakyat Demokratik pada 2 Mei 1994. Dua tahun kemudian, pada 15 April 1996, organisasi ini berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik, oposisi terpenting dan radikal di masa puncak Orde Baru. Baginya, masa itu tak kunjung pergi, tapi menghantui. Empat temannya masih hilang. Padahal Tim Mawar yang dulu menculiknya sudah dihukum. Lima tahun setelah reformasi, ia bahkan mewawancarai Prabowo Subianto, bekas komandan jenderal Kopassus, tentang peristiwa Mei 1998, "Tapi tentang penculikan, dia tidak mau bicara dan katanya, dia tidak boleh lagi bicara."
Setelah bekerja setahun di majalah DR, Nezar direkrut majalah Tempo. Pada 2003 ia menerima Journalism for Tolerance Prize dari International Federation of Journalist di Manila, Filipina, untuk liputan investigasi kerusuhan Mei 1998 yang dimuat Tempo. Tujuh tahun ia bekerja di situ, lalu cuti untuk menyelesaikan master di bidang sejarah internasional di London School of Economics and Political Science. Selama kuliah di London, ia takjub menyaksikan kemajuan media digital, "Indonesia jauh tertinggal." Bersama beberapa teman, Nezar meninggalkan Tempo pada 2008. Mereka mendirikan Vivanews, sebuah portal berita. Ia menjabat redaktur pelaksana. Dalam empat tahun, Vivanews menjadi tiga portal berita terbesar di Indonesia. Ia malah hengkang dari media tersebut, "Pemiliknya ingin mengarahkan berita untuk kepentingan salah satu kandidat presiden tahun lalu." Tak berapa lama ia bergabung dengan CNN Indonesia, juga portal berita. “Internet merupakan basis dari revolusi teknologi dan komunikasi, membuat peradaban bergerak lebih cepat. Interaksi antar individu, warga, dan bangsa, kian luas, tanpa batas,” kata lelaki, yang pernah menjabat ketua umum Aliansi Jurnalis Independen dan sekarang anggota Dewan Pers. Bagaimana nasib media cetak? Jawabannya realistis, “Berita koran akan makin indepth, majalah akan menukik lebih dalam untuk memberikan latar belakang satu peristiwa. Sirkulasinya akan terus turun, tapi tetap beredar di lingkaran pembaca yang menginginkan informasi khas.”
Media sangat memengaruhi pendapat umum dan kebijakan, sehingga tanggung jawab jurnalisme tidak ringan. Kebebasan berekspresi harus dibedakan dari provokasi. Ia mengkritik tabloid Charlie Hebdo yang memuat kartun Nabi Muhammad, meski mengutuk penembakan brutal di kantor tabloid itu di Paris awal Januari lalu, “Charlie Hebdo mencampur fakta dengan opini. Ini kebebasan yang keji, yang merendahkan kaum minoritas dengan mengolok-olok kepercayaan dan simbol agama mereka, bahkan bisa tergelincir ke arah rasisme, karena memproyeksikan Islam sebagai stereotip agama teroris.“ Dua belas orang meninggal dunia dalam insiden itu, termasuk dua penembaknya, yaitu orang- orang Perancis keturunan Aljazair.
Meski ancaman asteroid terhadap bumi meresahkannya bila teringat masa dinosaurus punah, ia menyaksikan kebanyakan nasib manusia justru ditentukan ulah mereka sendiri. Ia telah membuktikan bahwa tiap upaya mengatasi masalah dan bahaya adalah karena hidup ini berharga.
(LINDA CHRISTANTY)
https://www.facebook.com/notes/linda-christanty/menjelajah-alam-semesta-nezar-patria-oleh-linda-christanty/10152727380096496/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito

Tidak ada komentar:
Posting Komentar