[Pelabuhan Kampung Ujung, foto oleh Aditya Prayuga]
Taufiq Wr. Hidayat *
Stanley Kubrick membuat "The Shining". Film yang diadaptasi secara bebas dari novel Stephen King. Dalam genre film horor, "The Shining" yang dibangun Kubrick pada tahun 1980, seakan tak tergantikan. Absurd. Mencekam. Dan ambigu. Tetapi puitis. Meski telah dibuat remake dari film tersebut berjudul “Doctor Sleep” (2019), garapan Mike Flanagan, tetap saja tak sanggup menggantikan kejeniusan senematis Kubrick yang menakjubkan dalam “The Shining”. Namun setidaknya memperpanjang deretan narasi kelam dan rawan yang tak mudah terpecahkan dalam kehidupan manusia.
Di akhir film, Kubrick menampilkan foto lama di dinding Overlook, hotel megah yang diam dan sepi di tengah pegunungan bersalju. Salah satu wajah dalam foto lama itu tak lain adalah wajah Jack Torrence. Ia hendak menyampaikan pesan, bahwa Jack pernah ada sebelumnya. Jack sendiri. Atau yang mirip dengannya. Yang kini hadir kembali sebagai orang lain, atau barangkali memang dirinya sendiri. Ia begitu karib tokoh dengan Lloyd, seorang bartender hotel yang telah meninggal. Jack sangat ringan melintas di antara perbedaan zaman atau peristiwa dalam bangunan megah tersebut. Dalam Film ini dikisahkan, jauh sebelum Jack, ada Charles Grady yang telah membantai anak dan istrinya di hotel itu pada 1970, ia merupakan perwujudan reinkarnatif dari Delbert Grady jauh sebelum 1970. Memang antara novel Stephen King dan film garapan Kubrick terdapat perbedaan. Dengan jenius, Kubrick membuat tafsir lain dari novel Stephen King dalam filmnya. Bisakah manusia terbebas dari siklus kejahatan, memutuskan keberulang-ulangan kekejian dalam sejarah yang menciptakan candu bagai alkohol atau norkoba? Mampukah ia terlepas dari dunia---sebagai ruang “hotel sejarah”, yang menyimpan peristiwa keji yang dilakukan secara brutal oleh tokoh-tokohnya? Terbebas dari labirin kekejaman sebagaimana Danny yang meloloskan diri, mengacaukan keberulang-ulangan yang terjadi dalam Hotel Overlook itu?
Horor dan teror tak pernah punya alasan yang kuat selain kesepian dan rasa takut yang menghinggapi jiwa manusia dengan kenangan-kenangannya yang kelam. Ia boleh jadi hanya peristiwa sederhana, tak heboh, dan lokalistik. Namun ia tak lain adalah hantu sejati manusia yang dibawa ke mana pun dalam hidupnya. Menggoda untuk selalu dipuaskan. Dilangsungkan. Diselenggarakan. Dengan segala kecemasan dan kesepian yang tak menemukan jalan keluar.
Ketakutan dan kejahatan bagai api dan asap. Nyaris tak ada api tanpa asap, setipis apa pun. Ketakutan akan hancurnya agama atau eksistensi kekuasaan, akan membuat orang melakukan kekejian, kejahatan atasnama agama atau kekuasaan. Tapi memang tak sesederhana itu. Seringkali keruntuhan akal sehat dalam jurang ketakutan yang curam dan gelap, menciptakan brutalitas. Ketakutan tak selalu diperhadapkan adegan darah. Sejatinya yang ia takutkan adalah dirinya sendiri yang dicekam hidup berulang-ulang tak bermakna. Rutinitas yang mengurung dalam kesepian, tanpa orang lain. "The Shining" menampakkan teror tatkala seorang istri melihat rangkaian kata kebencian suaminya yang ditulis dengan mesin ketik berulang-ulang pada ribuan helai kertas. Acapkali kejahatan dimulai dengan ujaran kebencian, caci maki, dan olok-olok gelap. Kekejian bukan horor itu sendiri, ia hanya upaya praktis dan pintas dari kehendak gila berkuasa dengan cara menakut-nakuti, mengancam, membenci, menghabisi. “Hidup tanpa konsekuensi,” ujar manusia setengah iblis dalam “Doctor Sleep” garapan Mike Flanagan.
Tapi barangkali bagi Kubrick, horor terletak dalam dada manusia. Jiwa yang kelam. Misteri dan teka-teki. Sesungguhnya penjahat yang amat sadis dan brutal, tak lain diri sendiri. Manusia harus mewaspadai diri yang lain dalam dirinya sendiri itu. Lantaran dalam dirinya, ada sosok asing yang sepenuhnya sukar dikenali dan sukar ditundukkan, namun karib, ujar Freud. Dan tak bisa dihindari. Sosok asing dan sukar dikenali itu dekat sekali bagi diri melebihi siapa pun, ke mana pun sosok itu ikut, bahkan dalam aktivitas yang sangat privat. Dalam tidur ia menjelma mimpi. Dalam sadar ia menjadi pengandaian-pengandaian atau pikiran ganjil yang tak lazim, menyimpang, liar, menakutkan. Bernyanyi riang dalam ramai. Berbisik pelan, merayu seksi di dalam sepi.
Dalam "The Shining", Shelly Duval yang berperan sebagai istri tokoh Jack (Jack Nicholson), berwajah biasa, dengan kedua mata yang besar, tubuh ramping. Kesan seorang perempuan modern yang polos, ibu rumah tangga biasa. Ia mempunyai seorang putra (Danny Lloyd) yang berkawan dengan sosok khayalan bernama Tony. Siapakah Tony? Ia adalah sosok lain yang hidup dalam mulut seorang Danny. Tony memberitahu Danny perihal peristiwa sadis masa lalu. Dan kesadisan itu akan terulang di masa depan. Film horor tanpa "adegan horor" keji ini, tetap membuat bergidik. Terkenanglah peristiwa tak terlupakan, menghantui ingatan bagai kenangan yang selalu gagal disingkirkan. Menjadi trauma yang tak mudah diputuskan. Di situ kiranya horor terjadi, dijalin dalam rangkaian sinematografi dengan kecerdikan Kubrick yang mumpuni. “The Shining” menyadarkan, keniscayaan dari trauma akan berlanjut dan terus berlangsung meski sesudah peristiwanya usai. Karakter dan peristiwa dalam film itu, foto lama mirip Jack di akhir film, Danny dan Tony sebagai kawan imajinernya, juga kekerasan yang sama antara Grady di masa lalu dan Jack di masa kini pada anak-istrinya, menggambarkan secara tegas pengulangan dan kembalinya karakter jahat dari masa lalu yang terjadi dalam hotel megah di tengah pegunungan bersalju tersebut. Ia menyampaikan sesuatu supaya menjadi pertimbangan dan permenungan; mungkinkah manusia melepaskan diri dari warisan kejahatan? Mungkinkah pula ia menghadapi kejahatan yang terulang atau kembali dengan bentuk yang berbeda? Dalam “The Shining”, tokoh Jack mati sebelum menuntaskan kesintingan membunuh keluarganya sendiri. Lalu apakah karakter jahatnnya---orang lazim menyebut ruh atau jiwa, akan menjelma kembali di masa mendatang? Dan di tangan Kubrick, kejahatan bukan tak mungkin dienyahkan. Tokoh Jack tak bisa membunuh anak-istrinya. Sehingga siklus kekejian Hotel Overlook telah diretas. Bagaimana itu terjadi? Jawabnya: perlawanan. Istri dan anak si Jack melakukan perlawanan. Sang ibu melawan karena dimotivasi secara alamiah melindungi anaknya. Dan sang anak harus berlari dari kekejaman ayahnya yang kalap. Keduanya bertahan hidup. Danny, anak si Jack, tak mewarisi karakter jahat ayahnya. Namun trauma psikologis telah merusak sebagian besar hidupnya di masa mendatang, ini terjawab dalam film “Doctor Sleep” garapan Mike Flanagan yang dibuat juga dari novel horor Stephen King.
Dalam film “Doctor Sleep”, karakter yang dibangun Flanagan pada sosok Danny, membuatnya bertemu gadis kecil bernama Abra (Kyliegh Curran), dan dedengkot manusia setengah iblis “True Knot Rose The Hat” yang diperankan Rebecca Ferguson. Danny telah berusaha sekuat tenaga mengurung rapat atau memendam jauh trauma dan ketakutan dalam kotak-kotak imajiner dalam dirinya. Kenangan pada “The Shining” Kubrick, dibangun secara suara dan beberapa potongan peristiwa masa lalu dalam ingatan Danny. Namun paradoks, absurditas, dan kedalaman “Doctor Sleep”nya Mike Flanagan (2019), saya rasa masih belum mampu menyetarai “The Shining”nya Kubrick (1980), kecuali kualitas gambar.
Ketakterdugaan yang melahirkan horor atau kekejaman---dalam Kubrick, terjadi akibat pengaruh ingatan perihal kekejaman masa lalu, pengaruh ruang dan waktu yang membangkitkan kenangan kekejian, sebentuk siklus atau reinkarnasi kejahatan. Ada motivasi aneh dari sebuah peristiwa, mendorong keinginan liar seseorang melakukan kejahatan. Ia dirangsang suatu keadaan dari masa lalu tersebut, mengendalikan kesadaran dalam depresi. Menjelma neorotik, arogan, tak berperasaan, insting kerakusan yang menggerakkan kepintaran. Sebagaimana dunia. Penghisapan, penguasaan, pengerukan. Apa yang dicemaskan Marx dalam "Capital" yang menjadi tesis Lenin dalam "Imperialism, Higest Stage of Capitalism", mentahbiskan bahwa perkembangan politik kapitalisme sejak seabad lampau---hingga kini, tak terlepas dari kerangka dasar yang diniscayakan: penguasaan tanpa batas.
Namun benarkah manusia mengerti; bahwa dirinya tak lain adalah sosok asing di tengah realitas hidupnya? Ia tak sepenuhnya memahami, apa sesungguhnya yang terjadi pada tempatnya berdiri. Dalam “Doctor Sleep”, Danny menegaskan hal itu pada sosok manusia setengah iblis betina yang hendak menghisap jiwanya: “kau tidak mengerti di mana kau tengah berdiri”. Akhirnya ia harus kembali hadir dalam wujud hantu, atau sosok imajiner dalam diri gadis kecil itu, dan mengatakan untuk yang kesekian kalinya: “dunia adalah tempat yang lapar”, seperti hotel megah di masa lalunya yang menelan manusia dalam kegelapan. Sehingga setitik cahaya yang menyala di dalam kegelapan itu, harus dibunuh dan dimusnahkan. Dalam gelap, hidup tak butuh konsekuensi, hanya makan teratur, katanya. Dan hidup sepanjang-panjangnya.
Tembokrejo, 2020
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.
http://sastra-indonesia.com/2020/02/dunia-yang-lapar/
Jumat, 14 Februari 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito

Tidak ada komentar:
Posting Komentar