Jumat, 14 Februari 2020

DUNIA YANG LAPAR

[Pelabuhan Kampung Ujung, foto oleh Aditya Prayuga]
Taufiq Wr. Hidayat *

Stanley Kubrick membuat "The Shining". Film yang diadaptasi secara bebas dari novel Stephen King. Dalam genre film horor, "The Shining" yang dibangun Kubrick pada tahun 1980, seakan tak tergantikan. Absurd. Mencekam. Dan ambigu. Tetapi puitis. Meski telah dibuat remake dari film tersebut berjudul “Doctor Sleep” (2019), garapan Mike Flanagan, tetap saja tak sanggup menggantikan kejeniusan senematis Kubrick yang menakjubkan dalam “The Shining”. Namun setidaknya memperpanjang deretan narasi kelam dan rawan yang tak mudah terpecahkan dalam kehidupan manusia.

Di akhir film, Kubrick menampilkan foto lama di dinding Overlook, hotel megah yang diam dan sepi di tengah pegunungan bersalju. Salah satu wajah dalam foto lama itu tak lain adalah wajah Jack Torrence. Ia hendak menyampaikan pesan, bahwa Jack pernah ada sebelumnya. Jack sendiri. Atau yang mirip dengannya. Yang kini hadir kembali sebagai orang lain, atau barangkali memang dirinya sendiri. Ia begitu karib tokoh dengan Lloyd, seorang bartender hotel yang telah meninggal. Jack sangat ringan melintas di antara perbedaan zaman atau peristiwa dalam bangunan megah tersebut. Dalam Film ini dikisahkan, jauh sebelum Jack, ada Charles Grady yang telah membantai anak dan istrinya di hotel itu pada 1970, ia merupakan perwujudan reinkarnatif dari Delbert Grady jauh sebelum 1970. Memang antara novel Stephen King dan film garapan Kubrick terdapat perbedaan. Dengan jenius, Kubrick membuat tafsir lain dari novel Stephen King dalam filmnya. Bisakah manusia terbebas dari siklus kejahatan, memutuskan keberulang-ulangan kekejian dalam sejarah yang menciptakan candu bagai alkohol atau norkoba? Mampukah ia terlepas dari dunia---sebagai ruang “hotel sejarah”, yang menyimpan peristiwa keji yang dilakukan secara brutal oleh tokoh-tokohnya? Terbebas dari labirin kekejaman sebagaimana Danny yang meloloskan diri, mengacaukan keberulang-ulangan yang terjadi dalam Hotel Overlook itu?

Horor dan teror tak pernah punya alasan yang kuat selain kesepian dan rasa takut yang menghinggapi jiwa manusia dengan kenangan-kenangannya yang kelam. Ia boleh jadi hanya peristiwa sederhana, tak heboh, dan lokalistik. Namun ia tak lain adalah hantu sejati manusia yang dibawa ke mana pun dalam hidupnya. Menggoda untuk selalu dipuaskan. Dilangsungkan. Diselenggarakan. Dengan segala kecemasan dan kesepian yang tak menemukan jalan keluar.

Ketakutan dan kejahatan bagai api dan asap. Nyaris tak ada api tanpa asap, setipis apa pun. Ketakutan akan hancurnya agama atau eksistensi kekuasaan, akan membuat orang melakukan kekejian, kejahatan atasnama agama atau kekuasaan. Tapi memang tak sesederhana itu. Seringkali keruntuhan akal sehat dalam jurang ketakutan yang curam dan gelap, menciptakan brutalitas. Ketakutan tak selalu diperhadapkan adegan darah. Sejatinya yang ia takutkan adalah dirinya sendiri yang dicekam hidup berulang-ulang tak bermakna. Rutinitas yang mengurung dalam kesepian, tanpa orang lain. "The Shining" menampakkan teror tatkala seorang istri melihat rangkaian kata kebencian suaminya yang ditulis dengan mesin ketik berulang-ulang pada ribuan helai kertas. Acapkali kejahatan dimulai dengan ujaran kebencian, caci maki, dan olok-olok gelap. Kekejian bukan horor itu sendiri, ia hanya upaya praktis dan pintas dari kehendak gila berkuasa dengan cara menakut-nakuti, mengancam, membenci, menghabisi. “Hidup tanpa konsekuensi,” ujar manusia setengah iblis dalam “Doctor Sleep” garapan Mike Flanagan.

Tapi barangkali bagi Kubrick, horor terletak dalam dada manusia. Jiwa yang kelam. Misteri dan teka-teki. Sesungguhnya penjahat yang amat sadis dan brutal, tak lain diri sendiri. Manusia harus mewaspadai diri yang lain dalam dirinya sendiri itu. Lantaran dalam dirinya, ada sosok asing yang sepenuhnya sukar dikenali dan sukar ditundukkan, namun karib, ujar Freud. Dan tak bisa dihindari. Sosok asing dan sukar dikenali itu dekat sekali bagi diri melebihi siapa pun, ke mana pun sosok itu ikut, bahkan dalam aktivitas yang sangat privat. Dalam tidur ia menjelma mimpi. Dalam sadar ia menjadi pengandaian-pengandaian atau pikiran ganjil yang tak lazim, menyimpang, liar, menakutkan. Bernyanyi riang dalam ramai. Berbisik pelan, merayu seksi di dalam sepi.

Dalam "The Shining", Shelly Duval yang berperan sebagai istri tokoh Jack (Jack Nicholson), berwajah biasa, dengan kedua mata yang besar, tubuh ramping. Kesan seorang perempuan modern yang polos, ibu rumah tangga biasa. Ia mempunyai seorang putra (Danny Lloyd) yang berkawan dengan sosok khayalan bernama Tony. Siapakah Tony? Ia adalah sosok lain yang hidup dalam mulut seorang Danny. Tony memberitahu Danny perihal peristiwa sadis masa lalu. Dan kesadisan itu akan terulang di masa depan. Film horor tanpa "adegan horor" keji ini, tetap membuat bergidik. Terkenanglah peristiwa tak terlupakan, menghantui ingatan bagai kenangan yang selalu gagal disingkirkan. Menjadi trauma yang tak mudah diputuskan. Di situ kiranya horor terjadi, dijalin dalam rangkaian sinematografi dengan kecerdikan Kubrick yang mumpuni. “The Shining” menyadarkan, keniscayaan dari trauma akan berlanjut dan terus berlangsung meski sesudah peristiwanya usai. Karakter dan peristiwa dalam film itu, foto lama mirip Jack di akhir film, Danny dan Tony sebagai kawan imajinernya, juga kekerasan yang sama antara Grady di masa lalu dan Jack di masa kini pada anak-istrinya, menggambarkan secara tegas pengulangan dan kembalinya karakter jahat dari masa lalu yang terjadi dalam hotel megah di tengah pegunungan bersalju tersebut. Ia menyampaikan sesuatu supaya menjadi pertimbangan dan permenungan; mungkinkah manusia melepaskan diri dari warisan kejahatan? Mungkinkah pula ia menghadapi kejahatan yang terulang atau kembali dengan bentuk yang berbeda? Dalam “The Shining”, tokoh Jack mati sebelum menuntaskan kesintingan membunuh keluarganya sendiri. Lalu apakah karakter jahatnnya---orang lazim menyebut ruh atau jiwa, akan menjelma kembali di masa mendatang? Dan di tangan Kubrick, kejahatan bukan tak mungkin dienyahkan. Tokoh Jack tak bisa membunuh anak-istrinya. Sehingga siklus kekejian Hotel Overlook telah diretas. Bagaimana itu terjadi? Jawabnya: perlawanan. Istri dan anak si Jack melakukan perlawanan. Sang ibu melawan karena dimotivasi secara alamiah melindungi anaknya. Dan sang anak harus berlari dari kekejaman ayahnya yang kalap. Keduanya bertahan hidup. Danny, anak si Jack, tak mewarisi karakter jahat ayahnya. Namun trauma psikologis telah merusak sebagian besar hidupnya di masa mendatang, ini terjawab dalam film “Doctor Sleep” garapan Mike Flanagan yang dibuat juga dari novel horor Stephen King.

Dalam film “Doctor Sleep”, karakter yang dibangun Flanagan pada sosok Danny, membuatnya bertemu gadis kecil bernama Abra (Kyliegh Curran), dan dedengkot manusia setengah iblis “True Knot Rose The Hat” yang diperankan Rebecca Ferguson. Danny telah berusaha sekuat tenaga mengurung rapat atau memendam jauh trauma dan ketakutan dalam kotak-kotak imajiner dalam dirinya. Kenangan pada “The Shining” Kubrick, dibangun secara suara dan beberapa potongan peristiwa masa lalu dalam ingatan Danny. Namun paradoks, absurditas, dan kedalaman “Doctor Sleep”nya Mike Flanagan (2019), saya rasa masih belum mampu menyetarai “The Shining”nya Kubrick (1980), kecuali kualitas gambar.

Ketakterdugaan yang melahirkan horor atau kekejaman---dalam Kubrick, terjadi akibat pengaruh ingatan perihal kekejaman masa lalu, pengaruh ruang dan waktu yang membangkitkan kenangan kekejian, sebentuk siklus atau reinkarnasi kejahatan. Ada motivasi aneh dari sebuah peristiwa, mendorong keinginan liar seseorang melakukan kejahatan. Ia dirangsang suatu keadaan dari masa lalu tersebut, mengendalikan kesadaran dalam depresi. Menjelma neorotik, arogan, tak berperasaan, insting kerakusan yang menggerakkan kepintaran. Sebagaimana dunia. Penghisapan, penguasaan, pengerukan. Apa yang dicemaskan Marx dalam "Capital" yang menjadi tesis Lenin dalam "Imperialism, Higest Stage of Capitalism", mentahbiskan bahwa perkembangan politik kapitalisme sejak seabad lampau---hingga kini, tak terlepas dari kerangka dasar yang diniscayakan: penguasaan tanpa batas.

Namun benarkah manusia mengerti; bahwa dirinya tak lain adalah sosok asing di tengah realitas hidupnya? Ia tak sepenuhnya memahami, apa sesungguhnya yang terjadi pada tempatnya berdiri. Dalam “Doctor Sleep”, Danny menegaskan hal itu pada sosok manusia setengah iblis betina yang hendak menghisap jiwanya: “kau tidak mengerti di mana kau tengah berdiri”. Akhirnya ia harus kembali hadir dalam wujud hantu, atau sosok imajiner dalam diri gadis kecil itu, dan mengatakan untuk yang kesekian kalinya: “dunia adalah tempat yang lapar”, seperti hotel megah di masa lalunya yang menelan manusia dalam kegelapan. Sehingga setitik cahaya yang menyala di dalam kegelapan itu, harus dibunuh dan dimusnahkan. Dalam gelap, hidup tak butuh konsekuensi, hanya makan teratur, katanya. Dan hidup sepanjang-panjangnya.

Tembokrejo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.
http://sastra-indonesia.com/2020/02/dunia-yang-lapar/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito