Dwi Pranoto *
Dengarlah dia menyanyikan gendingnya, “Cengkir Gading” dan menggerakan kipasnya, lalu rakyat Blambangan yang dewasa dan masih anak-anak mengalir ke suatu tempat dan di luar kesadaran mereka riwayat yang telah lampau diproyeksikan kembali, irama yang gembira dari tarian Ciwa di Chidambaram, tariannya si Gandri di Cungking, pusat dari segala-galanya, yakni dalam hati manusia. (Gandroeng Van Banjoewangi, John Scholte, 1927)
Sejak jaman Blambangan kuno hingga Banyuwangi modern masyarakat Using tak kehabisan gending-gending untuk didendangkan; dari gending-gending Gandrung yang diwarisi dari Seblang ke gending-gending Angklung Paglak yang disenandungkan di ketinggian pondok pengusir burung di persawahan lantas turun ke Angklung Caruk yang penuh tempik lantas ke piringan hitam sampai kaset dan vcd. Namun tentu saja gending-gending Banyuwangian memiliki karakteristik berbeda ditiap zamannya. Gending-gending Seblang yang berfungsi sebagai elemen ritual memiliki irama berulang yang ritmis. Syair-syairnya dibangun dari pasemon dengan kiasan berlapis-lapis serta menggambarkan kehidupan masyarakat, seringkali erotik, yang dinafasi oleh tanah persawahan. Sementara Gandrung, yang sejak masa Gandrung pria telah berfungsi sebagai hiburan atau seni tari pergaulan, menyanyikan gending-gending sembarang – kecuali di babak awal dan akhir pagelaran – oleh karena melayani permintaan gending-gending dari pemaju (pengibing). Karena tidak ada gending yang diciptakan khusus untuk pagelaran Gandrung, pada dasarnya gending-gending Gandrung tak memiliki ciri khas tertentu. Musik Angklung Banyuwangi barangkali bisa dikatakan sebagai seni musik peralihan dari gending-gending klasik Seblang yang ritmis,magis dan erotis ke lagu-lagu banyuwangian modern.
Musik angklung Banyuwangi berawal dari angklung paglak yang dimainkan di ketinggian bangunan pondok pengusir burung saat padi di persawahan mulai menguning. Angklung paglak terdiri dari dua ancak yang masing-masing terdiri dari tiga belas potong bambu tersusun berjajar dari nada rendah ke tinggi; satu ancak pembawa gending dan satu ancak lainnya ngeleboni gending. Angklung paglak juga dimainkan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, pada tanggal 14, 15, 16, di tiap bulan pada penanggalan lunar atau pada saat bulan purnama. Gending-gending yang dimainkan dengan angklung paglak adalah gending-gending Gandrung.
Pada perkembangan berikutnya, karena pengaruh Bali, perangkat angklung paglak mengalami penambahan instrumen yakni, slenthem, saron, peking, kendang dan gong yang semua terbuat dari besi. Angklung paglak yang mengalami penambahan sejumlah instrumen ini kemudian disebut tabuhan bali-balian. Angklung kemudian tak hanya dimainkan di atas pondok pengusir burung atau pada saat bulan purnama, tapi juga dimainkan untuk hiburan pada saat hajatan, sunatan atau perkawinan. Pada saat hajatan biasanya ditanggap dua kelompok angklung dimana dua kelompok angklung tersebut saling beradu ketangkasan, kecermatan, dan kejelian dalam menebak lagu. Permainan saling menebak gending dalam partunjukan angklung ini disebut angklung caruk. Di masa pertunjukan angklung, terutama setelah jaman Jepang, banyak digubah gending-gending baru yang diciptakan oleh Mohamad Arief, Endro Wilis dan Mahfud. Mulailah babak baru musik “modern” Banyuwangi, pertanda paling kentaranya adalah gending-gending tak lagi diciptakan secara anonim seperti di masa Seblang tapi lagu-lagu telah dikenali siapa penciptanya. Lagu-lagu angklung tak lagi bersifat lisan namun dituliskan dengan syair dan notasi lagu; Mohamad Arief menuliskan dengan notasi ji, ro, lu, pat, mo, nem, sedang Mahfud dianggap paling mula menggunakan notasi pentatonis.
Mohamad Arief & Endro Wilis Sang Perintis
Telah sejak masa penjajahan Belanda M. Arief memiliki perangkat angklung dan sekaligus menjadi pemimpin kelompok angklung. Pada masa itu kelompok angklungnya selain main di panggung-panggung hajatan juga sering diundang main di serambi depan gedung bioskop. Kelompok angklung M. Arief menjadi penanda jika bioskop sedang memutar film Jawa (istilah untuk film yang menceritakan kisah Indonesia dan diperankan oleh orang Indonesia di masa itu). Namun, bersama dengan kedatangan balatentara Jepang di tahun 1942 yang bersama itu pula Jepang menguasai dan mengendalikan sarana-sarana umum maka kelompok angklung M. Arief mulai sepi undangan. Akan tetapi, di masa sepi tanggapan itulah M. Arief mempunyai lebih banyak waktu luang untuk sendiri dan mengarang lagu-lagu.
Lagu-lagu yang dikarang oleh M. Arief untuk dimainkan kelompok angklungnya berbeda dengan gending-gending Gandrung dan Seblang. Walaupun pada bentuk dasarnya syair-syair lagu karangan M. Arief masih mempunyai pertalian dengan gending-gending Gandrung dan Seblang, yakni berbentuk pengulangan seperti wangsalan (istilah Banyuwangi untuk pantun), namun syair lagu-lagu M. Arief telah meninggalkan gaya pasemon dengan kiasan yang berlapis-lapis. Syair lagu-lagu karangan M. Arief lebih sering lugas, jenaka dan kadangkala ironis dengan irama lagu yang girang seperti irama gending-gending dolanan. Gaya khas M. Arief ini bisa disimak dalam lagu-lagu karangannya seperti Genjer-genjer, Don-adone Sumping, Sekolah, atau Lurkung. Tema syair lagu-lagu M. Arief mengungkap kehidupan masyarakat jelata, kesulitan dan kepahitan hidup yang dialami akibat relasi produksi yang timpang atau praktik penghisapan penguasa tanpa jatuh pada keputusasaan. Seringkali kritik dilancarkan dengan cara jenaka, seperti pengungkapan kesulitan pangan di jaman pendudukan Jepang dalam lagu Lurkung yang tajam kritiknya bisa disebandingkan dengan kidungan Cak Durasim walaupun disampaikan dengan jenaka. Simaklah dua baris syair lagu Lurkung berikut:
Kung golet lurkung / Kung cari lurkung
Jaman Jepang boyok melengkung / Jaman Jepang punggung melengkung
Sebagaimana M. Arief, lagu-lagu Endro Wilis juga mengungkapkan kepahitan hidup rakyat jelata akibat ketakadilan dalam relasi produksi. Namun kritik dalam syair lagu-lagu Endro Wilis dilancarkan dengan lebih tandas dan meradang, seringkali diekspresikan dengan irama mars yang menggebu seperti dalam lagu Podho Nginang dan Nelayan. Namun sesudah tahun 1965, setelah peristiwa politik yang merenggut banyak hal dari kehidupan pribadi dan sosialnya, syair lagu-lagu Endro Wilis menjadi lebih biografis-kontemplatif, sarat dengan pertimbangan-pertimbangan filosofis dalam bahasa kias yang agak pekat seperti dalam lagu Dhonge Mekar dan Jaran Ucul. Namun, jika M. Arief tak punya kesempatan untuk mengungkapakan kesaksiannya dalam lagu mengenai kemelut politik ’65 karena ia sendiri menjadi salah satu korban hilang. Endro Wilis yang pada saat kemelut ’65 berada di Kalimantan dalam tugas ketentaraan saat konfrontasi Indonesia-Malaysia sempat menumpahkan kegirisannya dari kejauhan dalam lagu Mbok Irat . Situasi teror yang dipenuhi dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan itu ia ungkapkan dengan dua kata: dinone gemigil (hari yang menggigil).
Setelah Kemelut ’65
Banyuwangi mengalami masa “sunyi” pada tahun 1966 sampai 1970-an. Seniman-seniman dan kelompok-kelompok kesenian yang pada masa jaya “ideologi” banyak bergabung dalam lembaga-lembaga kebudayaan milik partai politik, terutama Lekra, menanggung dampak berat dari kemelut politik ’65 yang bahkan banyak diantara mereka yang tak memahaminya. Anggota masyarakatpun mengunci mulutnya, menahan dorongan gairah bernyanyi dalam tubuh yang diwarisi dari kakek buyut semenjak masa Blambangan kuno.
Baru pada tahun 1980-an muncul pencipta lagu-lagu seperti Hawadin, Sutrisno dan Andi Suroso dari Banyuwangi Selatan, Genteng. Namun tema-tema lagu-lagunya telah bergeser jauh dari angkatan pengarang lagu sebelumnya. Dengan irama yang lebih dekat dengan musik pop-dangdut dan pop-mandarin, para pencipta lagu dari Genteng lebih banyak menyuguhkan tema-tema asmara antara pria dan wanita, terutama remaja. Pada masa inilah dikenal istilah kendang kempul. Jenis kendang kempul sarat dengan syair yang cenderung hendak memikat khalayak dengan bahasa yang gampang dan bahkan terkadang vulgar ini menandai suatu kemunculan industri rekaman lokal pada masa itu. Salah satu lagu populer pada tahun 80-an adalah Rehana. Lagu-lagu yang diciptakan pada tahun 80-an ini juga seringkali menjadi corong kampanye pembangunan pemerintah.
Tema-tema asmara remaja yang mendominasi lagu-lagu ciptaan para pengarang lagu dari Genteng ini berlanjut dalam lagu-lagu ciptaan Catur Arum, Yons D.D dan Adistya Mayasari yang merupakan angkatan penggubah lagu banyuwangian masa kini, angkatan 2000. Namun, irama lagu-lagu masa kini lebih menyerap pengaruh irama yang beragam; dari langgam Jawa, bossas, blues sampai dangdut koplo. Hal yang patut dicatat pada angkatan terbaru ini adalah tumbuhnya “kesadaran” akan nilai komoditas dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan. Oleh karenanya mereka lebih rapi dalam urusan manajerial dari angkatan pendahulunya. Bahkan diantara para pencipta lagu, seperti Adistya Mayasari, memilih memproduseri sendiri produksi rekaman lagu-lagu ciptaannya. Angkatan terbaru ini juga dikenal dengan jenis musik patrol orchestra. Pelopornya grup Patrol Orkestra Banyuwangi yang digawangi oleh Catur Arum dan Yons D.D dengan lagu hitsnya Layangan dan Semebyar.
Hari ini produksi rekaman lagu-lagu Banyuwangian dengan berbagai format rekam mengalami kemajuan kuantitatif yang luar biasa. Distribusi produksi rekaman dan popularitas lagu-lagu Banyuwangian makin luas hingga ke luar dari wilayah Banyuwangi. Bahkan Namun persoalan sama yang tetap merundung para penggubah lagu Banyuwangian dari semua angakatan adalah sebagian besar dari karya kreatif mereka tak mendapatkan perlindungan hukum yang layak. Sebagian besar dari mereka pun sering tidak mendapatkan apa-apa dari berbagai kegiatan ekonomis yang melibatkan lagu-lagu mereka.
***
*) Dwi Pranoto adalah penggiat sastra dan pemerhati budaya yang concern dengan pemikiran-pemikiran kritis.
http://lepasparagraf1.blogspot.com/2012/04/dari-gending-seblang-yang-magis-sampai.html
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito

Tidak ada komentar:
Posting Komentar