Sabtu, 21 September 2019

Dari Gending Seblang yang Magis sampai Dangdut Koplo

Dwi Pranoto *

Dengarlah dia menyanyikan gendingnya, “Cengkir Gading” dan menggerakan kipasnya, lalu rakyat Blambangan yang dewasa dan masih anak-anak mengalir ke suatu tempat dan di luar kesadaran mereka riwayat yang telah lampau diproyeksikan kembali, irama yang gembira dari tarian Ciwa di Chidambaram, tariannya si Gandri di Cungking, pusat dari segala-galanya, yakni dalam hati manusia. (Gandroeng Van Banjoewangi, John Scholte, 1927)

Sejak jaman Blambangan kuno hingga Banyuwangi modern masyarakat Using tak kehabisan gending-gending untuk didendangkan; dari gending-gending Gandrung yang diwarisi dari Seblang ke gending-gending Angklung Paglak yang disenandungkan di ketinggian pondok pengusir burung di persawahan lantas turun ke Angklung Caruk yang penuh tempik lantas ke piringan hitam sampai kaset dan vcd. Namun tentu saja gending-gending Banyuwangian memiliki karakteristik berbeda ditiap zamannya. Gending-gending Seblang yang berfungsi sebagai elemen ritual memiliki irama berulang yang ritmis. Syair-syairnya dibangun dari pasemon dengan kiasan berlapis-lapis serta menggambarkan kehidupan masyarakat, seringkali erotik, yang dinafasi oleh tanah persawahan. Sementara Gandrung, yang sejak masa Gandrung pria telah berfungsi sebagai hiburan atau seni tari pergaulan, menyanyikan gending-gending sembarang – kecuali di babak awal dan akhir pagelaran – oleh karena melayani permintaan gending-gending dari pemaju (pengibing). Karena tidak ada gending yang diciptakan khusus untuk pagelaran Gandrung, pada dasarnya gending-gending Gandrung tak memiliki ciri khas tertentu. Musik Angklung Banyuwangi barangkali bisa dikatakan sebagai seni musik peralihan dari gending-gending klasik Seblang yang ritmis,magis dan erotis ke lagu-lagu banyuwangian modern.

Musik angklung Banyuwangi berawal dari angklung paglak yang dimainkan di ketinggian bangunan pondok pengusir burung saat padi di persawahan mulai menguning. Angklung paglak terdiri dari dua ancak yang masing-masing terdiri dari tiga belas potong bambu tersusun berjajar dari nada rendah ke tinggi; satu ancak pembawa gending dan satu ancak lainnya ngeleboni gending. Angklung paglak juga dimainkan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, pada tanggal 14, 15, 16, di tiap bulan pada penanggalan lunar atau pada saat bulan purnama. Gending-gending yang dimainkan dengan angklung paglak adalah gending-gending Gandrung.

Pada perkembangan berikutnya, karena pengaruh Bali, perangkat angklung paglak mengalami penambahan instrumen yakni, slenthem, saron, peking, kendang dan gong yang semua terbuat dari besi. Angklung paglak yang mengalami penambahan sejumlah instrumen ini kemudian disebut tabuhan bali-balian. Angklung kemudian tak hanya dimainkan di atas pondok pengusir burung atau pada saat bulan purnama, tapi juga dimainkan untuk hiburan pada saat hajatan, sunatan atau perkawinan. Pada saat hajatan  biasanya ditanggap dua kelompok angklung dimana dua kelompok angklung tersebut saling beradu ketangkasan, kecermatan, dan kejelian dalam menebak lagu. Permainan saling menebak gending dalam partunjukan angklung ini disebut angklung caruk. Di masa pertunjukan angklung, terutama setelah jaman Jepang, banyak digubah gending-gending baru yang diciptakan oleh Mohamad Arief, Endro Wilis dan Mahfud. Mulailah babak baru musik “modern” Banyuwangi, pertanda paling kentaranya adalah gending-gending tak lagi diciptakan secara anonim seperti di masa Seblang tapi lagu-lagu telah dikenali siapa penciptanya. Lagu-lagu angklung tak lagi bersifat lisan namun dituliskan dengan syair dan notasi lagu; Mohamad Arief menuliskan dengan notasi ji, ro, lu, pat, mo, nem, sedang Mahfud dianggap paling mula menggunakan notasi pentatonis.

Mohamad Arief & Endro Wilis Sang Perintis

Telah sejak masa penjajahan Belanda M. Arief memiliki perangkat angklung dan sekaligus menjadi pemimpin kelompok angklung. Pada masa itu kelompok angklungnya selain main di panggung-panggung hajatan juga sering diundang main di serambi depan gedung bioskop. Kelompok angklung M. Arief menjadi penanda jika bioskop sedang memutar film Jawa (istilah untuk film yang menceritakan kisah Indonesia dan diperankan oleh orang Indonesia di masa itu). Namun, bersama dengan kedatangan balatentara Jepang di tahun 1942 yang bersama itu pula Jepang menguasai dan mengendalikan sarana-sarana umum maka kelompok angklung M. Arief mulai sepi undangan. Akan tetapi, di masa sepi tanggapan itulah M. Arief mempunyai lebih banyak waktu luang untuk sendiri dan mengarang lagu-lagu.

Lagu-lagu yang dikarang oleh M. Arief untuk dimainkan kelompok angklungnya berbeda dengan gending-gending Gandrung dan Seblang. Walaupun pada bentuk dasarnya syair-syair lagu karangan M. Arief masih mempunyai pertalian dengan gending-gending Gandrung dan Seblang, yakni berbentuk pengulangan seperti wangsalan (istilah Banyuwangi untuk pantun), namun syair lagu-lagu M. Arief telah meninggalkan gaya pasemon dengan kiasan yang berlapis-lapis. Syair lagu-lagu karangan M. Arief lebih sering lugas, jenaka dan kadangkala ironis dengan irama lagu yang girang seperti irama gending-gending dolanan. Gaya khas M. Arief ini bisa disimak dalam lagu-lagu karangannya seperti Genjer-genjer, Don-adone Sumping, Sekolah, atau Lurkung. Tema syair lagu-lagu M. Arief mengungkap kehidupan masyarakat jelata, kesulitan dan kepahitan hidup yang dialami akibat relasi produksi yang timpang atau praktik penghisapan penguasa tanpa jatuh pada keputusasaan. Seringkali kritik dilancarkan dengan cara jenaka, seperti pengungkapan kesulitan pangan di jaman pendudukan Jepang dalam lagu Lurkung yang tajam kritiknya bisa disebandingkan dengan kidungan Cak Durasim walaupun disampaikan dengan jenaka. Simaklah dua baris syair lagu Lurkung berikut:

Kung golet lurkung / Kung cari lurkung
Jaman Jepang boyok melengkung / Jaman Jepang punggung melengkung

Sebagaimana M. Arief, lagu-lagu Endro Wilis juga mengungkapkan kepahitan hidup rakyat jelata akibat ketakadilan dalam relasi produksi. Namun kritik dalam syair lagu-lagu Endro Wilis dilancarkan dengan lebih tandas dan meradang, seringkali diekspresikan dengan irama mars yang menggebu seperti dalam lagu Podho Nginang dan Nelayan. Namun sesudah tahun 1965, setelah peristiwa politik yang merenggut banyak hal dari kehidupan pribadi dan sosialnya, syair lagu-lagu Endro Wilis menjadi lebih biografis-kontemplatif, sarat dengan pertimbangan-pertimbangan filosofis dalam bahasa kias yang agak pekat seperti dalam lagu Dhonge Mekar dan Jaran Ucul. Namun, jika M. Arief tak punya kesempatan untuk mengungkapakan kesaksiannya dalam lagu mengenai kemelut politik ’65 karena ia sendiri menjadi salah satu korban hilang. Endro Wilis yang pada saat kemelut ’65 berada di Kalimantan dalam tugas ketentaraan saat konfrontasi Indonesia-Malaysia sempat menumpahkan kegirisannya dari kejauhan dalam lagu Mbok Irat . Situasi teror yang dipenuhi dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan itu ia ungkapkan dengan dua kata: dinone gemigil (hari yang menggigil).

Setelah Kemelut ’65

Banyuwangi mengalami masa “sunyi” pada tahun 1966 sampai 1970-an. Seniman-seniman dan kelompok-kelompok kesenian yang pada masa jaya “ideologi” banyak bergabung dalam lembaga-lembaga kebudayaan milik  partai politik, terutama Lekra, menanggung dampak berat dari kemelut politik ’65 yang bahkan banyak diantara mereka yang tak memahaminya. Anggota masyarakatpun mengunci mulutnya, menahan dorongan gairah bernyanyi dalam tubuh yang diwarisi dari kakek buyut semenjak masa Blambangan kuno.

Baru pada tahun 1980-an muncul pencipta lagu-lagu seperti Hawadin, Sutrisno dan Andi Suroso dari Banyuwangi Selatan, Genteng. Namun tema-tema lagu-lagunya telah bergeser jauh dari angkatan pengarang lagu sebelumnya. Dengan irama yang lebih dekat dengan musik pop-dangdut dan pop-mandarin, para pencipta lagu dari Genteng lebih banyak menyuguhkan tema-tema asmara antara pria dan wanita, terutama remaja. Pada masa inilah dikenal istilah kendang kempul. Jenis kendang kempul sarat dengan syair yang cenderung hendak memikat khalayak dengan bahasa yang gampang dan bahkan terkadang vulgar ini menandai suatu kemunculan industri rekaman lokal pada masa itu. Salah satu lagu populer pada tahun 80-an adalah Rehana. Lagu-lagu yang diciptakan pada tahun 80-an ini juga seringkali menjadi corong kampanye pembangunan pemerintah.

Tema-tema asmara remaja yang mendominasi lagu-lagu ciptaan para pengarang lagu dari Genteng ini berlanjut dalam lagu-lagu ciptaan Catur Arum, Yons D.D dan Adistya Mayasari yang merupakan angkatan penggubah lagu banyuwangian masa kini, angkatan 2000. Namun, irama lagu-lagu masa kini lebih menyerap pengaruh irama yang beragam; dari langgam Jawa, bossas, blues sampai dangdut koplo. Hal yang patut dicatat pada angkatan terbaru ini adalah tumbuhnya “kesadaran” akan nilai komoditas dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan. Oleh karenanya mereka lebih rapi dalam urusan manajerial dari angkatan pendahulunya. Bahkan diantara para pencipta lagu, seperti Adistya Mayasari, memilih memproduseri sendiri produksi rekaman lagu-lagu ciptaannya. Angkatan terbaru ini juga dikenal dengan jenis musik patrol orchestra. Pelopornya grup Patrol Orkestra Banyuwangi yang digawangi oleh Catur Arum dan Yons D.D dengan lagu hitsnya Layangan dan Semebyar.

Hari ini produksi rekaman lagu-lagu Banyuwangian dengan berbagai format rekam mengalami kemajuan kuantitatif yang luar biasa. Distribusi produksi rekaman dan popularitas lagu-lagu Banyuwangian makin luas hingga ke luar dari wilayah Banyuwangi. Bahkan  Namun persoalan sama yang tetap merundung para penggubah lagu Banyuwangian dari semua angakatan adalah sebagian besar dari karya kreatif mereka tak mendapatkan perlindungan hukum yang layak. Sebagian besar dari mereka pun sering tidak mendapatkan apa-apa dari berbagai kegiatan ekonomis yang melibatkan lagu-lagu mereka.           
***

*) Dwi Pranoto adalah penggiat sastra dan pemerhati budaya yang concern dengan pemikiran-pemikiran kritis.
http://lepasparagraf1.blogspot.com/2012/04/dari-gending-seblang-yang-magis-sampai.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito