Agus Buchori *
Bukit
itu bagi warga desa kami adalah tempat terangker di desa kami. Di sekelilingnya
dipenuhi pohon kajaran dan pohon mimba. Dan di tengah-tengah kerimbunan itulah
terdapat satu buah kuburan yang sangat panjang. Kuburan itu tidak bernama hanya
mempunyai sebuah penanda atau nisan.
Desaku
adalah kampung nelayan di pesisir utara Lamongan. Sebuah wilayah yang
kebanyakan warga kampungya lebih banyak mendengar kisah kisah zaman penyebaran
Islam oleh wali songo.
Aku
dan teman-temanku sering kali dilarang oleh orang tua kami supaya jangan
dekat-dekat dengan bukit itu yang oleh orang tua kami disebut punden. Tempat
kuburan itu memang seperti gundukan piramid maka disebut punden. “Jangan kau
masuk ke punden kalau tidak ingin kau jadi santapan banaspati!” hardik orang
tuaku ketika mengetahui aku dan teman teman punya rencana mengejar
layang-layang di sekitar punden.
Karena
letak punden itu di barat daya desa kami, maka seringkali ia menjadi tempat
berlabuhnya layang-layang putus ketika angin sedang mengarah ke barat daya.
Biasanya, sehabis zuhur, angin di desaku akan berubah arah menuju barat daya
setelah sebelumnya pada waktu pagi hari menuju ke laut. Pada saat itulah
keramaian berebut layang layang putus terjadi sering kali sampai lupa waktu.
Pernah
suatu kali aku tanyakan kepada kakekku perihal kuburan yang ada di punden
tersebut.
“Mbah
kenapa kuburan itu kok disebut punden,” tanyaku.
“Kuburan
itu ada sejak mbah masih kecil. Dan sejak dulu pun tidak ada yang tahu. Hanya
ada sebagian yang meyakini kuburan tersebut adalah kuburan Ki Darsono. Tokoh
yang dianggap sakti laksana wali di desa kami walaupun keberadaan kuburannya
tidak ada yang mengetahui. Namun ada juga yang menganggap itu adalah kuburan
Cina karena dulu sebelah utara desa kami adalah tempat berlabuh pasukan tartar
ketika hendak menyerang singasari,“ jelasnya.
Sebelum
kiai Hambal mendirikan pondok pesantren di desa kami, bukit sentono, sering
dijadikan tempat pemberian sesaji bagi warga sekitar desa kami. Ayahku sering
mengatakan bahwa ketika masih muda dulu ia sering berebut sesaji yang berupa
nasi tumpeng bersama teman-temannya ketika sedang istirahat mengejar
layang-layang dan kebetulan ada tetangga desa kami yang kirim sesaji ke punden.
Namun
kegiatan mengirim sesaji itu telah hilang semenjak kiai Hambal mengatakan itu
sirik dan dilarang oleh agama Islam.
Mengenai
Ki Darsono ini sebenarnya ada cerita yang cukup membuatku bangga sebagai warga
desaku, bahwa sebenarnya Ki Darsono yang dianggap sebagai sesepuh pendiri
desaku adalah murid Syeh Siti Jenar yang mengasingkan diri dari kekuasaan Demak
yang penuh intrik kekuasaan. Ki Darsono adalah orang yang telah menyebarkan
agama islam di desaku.
Menurut
sebagian cerita orang orang tua di desaku sebenarnya Ki Darsono adalah seorang
penggembala sapi yang alim. Caranya menggembala sapi pun unik, yaitu di mana ia
singgah ia akan membuatkan sumur untuk minum sapinya. Cerita tentang dan sumur
itu selalu menarik ketika aku didongengi kakek maupun nenekku. Sumur itu masih
bisa dijumpai sampai sekarang dan jumlahnya sebanyak tujuh buah.
Namun,
yang lebih meyakinkanku bahwa sumur itu adalah buatan orang alim adalah setiap
kali sumur itu ditembok atau direhab maka temboknya pasti runtuh. Seolah-olah
sumur itu tidak boleh dikuasai secara pribadi oleh warga desa kami. Airnya pun
tidak pernah kering walaupun di musim kemarau.
Kalau
muridnya seperti ini bagaimana dengan kemampuan gurunya? tanyaku seringkali
ketika habis mandi di salah satu sumur peninggalan Ki Darsono. Kadang-kadang
aku ragu apa benar Ki Darsono murid Syeh Siti Djenar yang katanya kafir oleh
para Wali Songo tersebut. Mengapa warga desaku malah membabat habis setiap
kepercayaan magis yang cenderung syirik kalau memang mereka merupakan keturunan
murid Syeh Siti Jenar yaitu Ki Darsono.
Aku
sendiri sering takjub dengan kondisi keagamaan warga desaku terutama mengenai
jumlah masjid yang berada di desaku yang jumlahnya ada sembilan. Dalam hati aku
sering membayangkan betapa besar jasa Ki Darsono dalam menyemaikan benih-benih
keislaman di desaku. Dan aku rasa sebesar lautan di sebelah utara desaku.
*) Cerpenis adalah Arsiparis Lamongan, Jawa
Timur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar