Jumat, 26 Oktober 2018

Catatan dari sebuah novel karya AH J Khuzaini

Jalan Lain  dari Kenyataan Genre Dramatik  Gerak-Gerik
Rodli TL

Pada dasarnya novel  itu menghibur, bahasanya mengimplisit persuasip. Ia hadir untuk merayu pembaca berempati, merasakan apa yang dirasakan para tokoh, bahkan menawarkan ruang-ruang imajinasi yang kemudian memporak-porandakan emosi para pembacanya. Sungguh tidak realis, membaca novel saja menangis, kata si hidung mancung sambil mentertawakan pembaca novel yang sesenggukan.

Teori sastra dan apologetics (pembelaan terhadap sastra) menekankan sifat tipikal sastra atau kekhususannya. Sastra dianggap lebih umum dari sejarah dan biografi, tapi lebih khusus dari psikologi dan sosiologi. Artinya karya sastra diantaranya novel tak sekedar menyanjikan hiburan yang menwararkan kesenangan secara fisik saja, namun juga kesenangan yang lebih tinggi, kesenangan kontemplatif. Maka novel seringkali hadir dengan atmosphere peristiwa-peristiwa sejarah yang masih hidup atau juga menawrkan keterlibatanya pada dialektika kejiwaan dan masyarakat sosialnya sebagaimana yang dibahas dalam ilmu psikologi dan sosiologi.

Secara dramatik akan kita temukan berbagai genre novel yang membuat kita kasmaran, takut, penasaran, menangis, bahkan tertawa berguling-guling. Masuk akal? Kenyataannya semacam itu yang kemudian para kritikus menamainya dengan genre komedi, romantic, horror, tragedy, detektif dan lain sebagainya. Hal inilah yang sering dikatakan bahwa novel itu mampu masuk alam bawah sadar pembaca yang akhirnya membentuk karakter pembaca. Namun AH J Khuzaini memilih jalan lain dari kenyataan dramatik.

Kesustraan secara teoritis Rene Wellek dan Austin Werren membaginya menjadi dua kajian pendekatan yaitu instrinsik dan ekstrinsik. Dalam kajian instrinsik mencakup Modus Keberadan Karya Sastra, Efoni, Gaya, Citra, Sifat dan Ragam Fiksi Naratif, Genre Sastra, Penilaian Dan Sejarah Sastra. Sedangkan Studi Pendekatan Ekstrinsik Meliputi Sastra Biografi, Sastra Dan Psikologi, Sastra Dan Masyarakat, Sastra Dan Pemikiran Dan Yang Terakhir Sastra Dan Seni.

Sebelum melakukan kajian anaysis content atau analisa isi novel yang menjadi bagian dari perkembangan penulis novel Lamongan, perlu diutarakan sedikit keberadaan penulis novel Lamongan lainnya, diantaranya adalah Viddy A.D. yang terkenal dengan novel kependekaran, diantaranya yang berjudul  Pendekar Sendhang Dhuwur. Ahmad Syauqy Sumbawi dengan novel  Dunia Kecil Panggung dan Omong Kosong, Maulana Alfarisi, Rodhi Murtadho, Ahmad Zaeni, Imamudin SA, Zehan Zarees, dan masih ada penulis lainya. Walau sebenarnya kering dengan diskusi sastra. Lamongan sebenarnya punya puluhan penulis novel dan ratusan karya sastra. Dan kali ini kita kedatangan penulis novel asal Gresik yang kini tinggal di Lamongan, yaitu Ah J Khuzaini yang telah menulis novel dengan judul Gerak Gerik.

Novel Gerak-Gerik yang setebal 360 halaman ini disajikan layaknya obrolan di warung kopi.  Topiknya perlompatan kesana kemari. Mulai dari persoalan power syndrome, perubahan, restorasi, rekonsiliasi yang dilatari persoalan kaderisasi organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, bahkan pernyatan filsafat dan tasawufpun menjadi bagian dari rasa nikmatnya paitnya kopi. Bukan hanya lompatan topik, juga kehadiran tokoh-tokoh pun tipis identitasnya, sebagaimana warga warung kopi, hadir mengalir yang tidak akan mempersoalkan status sosialnya, tidak ada istilah pelanggan lama dan baru.

Pilihan-pilihan unsur dramatik dan karakteristik tokoh-tokoh sebuah novel yang begitu tipis tersebut memancing keterbukaan para kritikus menemukan banyak kemungkinan-kemungkinan studi pendekatan dalam kajian teori sastra walau sebenarnya penulis sudah mengklaim dirinya dalam novelnya adalah komedi realis yang memberikan penekanan obrolan dialektis beralur maju dengan sedikit kilas balik.(Pengantar:xi)

Percayalah, bahwa seringkali kehendak karya sastra itu tak sejalan dengan apa yang jadi kemauan penulis. Ia semacam makhluk yang diluar kendali penciptanya. Ia lebih memilih nasibnya sendiri, maka klaim penulis tidak akan pernah bisa menutup rapat kemungkinan-kemungkinan genre lain dalam pikiran pembaca. Sebab resepsi pembaca hadir secara bersama-sama antara hayal dan pengalamannya.

Ya, warung kopi, tanpa ada dramatik  yang berlebihan, tanpa ada alur yang direkayasa, mengalir seperti usia manusia yang pasrah akan takdirnya.  Dalam novel ini tiada tokoh siapa yang sebenarnya sungguh-sungguh antagonis dan sungguh-sungguh protagonis. Sang tokoh orang pertama AKUpun lebih banyak sebagai penyimak obrolan para kakek di warung kopi. Peran lebihnya sebagai penyambung cerita pertemuan para kakek dengan neneknya. Sang tokoh orang pertama AKU identitasnya begitu terbuka pada bagian akhir novel ini. Ia putus dari sekolah bukan lantaran kemiskinan atau keterbatasan intelektual  mengikuti mata pelajaran, bukan, tapi persoalan lain yang dalam dunia pergerakan disebut idealis. Tersesatlah ia pada situasi horror dalam gudang sekolah yang secara misterius bertemu dengan yang sebenarnya bukan seorang tukang kebun dan perempuan cantik penjaga perpustakaan.

AH J Khuzaini dalam novel gerak-geriknya memilih tidak setiap karya sastra itu harus imaji indrawi sebagaimana yang diunggkap Renne Wellek dan Austin Warrren dalam bukunya The Theory of Literature yang diindonesiakan oleh Melani Budianta.

“Banyak karya sastra tidak membagkitkan imaji indrawi, kalaupun ada imaji itu muncul secara kebetulan dan kadang-kadang. Bahkan dalam menampilkan tokoh, seorang pengarang tidak selalu perlu memakai citra klasik. Tokoh-tokoh yang diciptakan pengarang Rusia, Dotoevsky, dan vovelis besar inggris, Henry James misalnya, sukar dibayangkan sosok fisiknya, tetapi kita mengenal segala sesuatu tentang pikiran, motivasi, penilaian dan keinginan-keinginan mereka. Juga penulis membuat suatu gambaran umum yang skematis yang dibangun atas satu kecendrungan fisik tertentu. hal ini sering dilakukan oleh Tolstoy pengarang Rusia dan Thomas Mann pengarang Jerman (2016:19)

Sebagaimana catatan di atas, kebanyakan pengarang bertipologi tersebut menganggap terlalu banyaknya ilustrasi menjelaskan karakteristik tokoh-tokoh justru sangat mengganggu. Pengarang cukup memberikan gambaran umum dan tidak diceritakan secara detail.

Novel ini dibuka dengan perjalanan panjang dengan naik kereta api menuju arah barat dengan diceritakan tokoh gadis yang duduk di bangku depanya, namun sayang, hanyalah satu senyum lalu gadis tersebut mengilang bersama tidurnya. Andai tokoh itu hadir dalam novel popular ia akan menjadi tokoh utama yang dijelaskan secara detail fisik dan sifatnya, ia akan hadir dari bagian satu ke bagian yang lain, bahkan mungkin sekali menjadi pengakhir dari cerita. Namun tidak, sebab penulis memilih jalan lain.

Sebagaimana tokoh-tokoh Gerak Gerik Pak Setu, Duki, Tirto, Endang, Panca,  nenek dari AKU adalah tokoh-tokoh yang mempertebal halaman novel ini dengan dialog-dialognya yang nyocos layaknya para mantan aktifis yang mengalami power syndrome sedang diskusi di warung kopi. Secara fisik tidak diceritakan secara detail, hanyalah gambaran umum usianya yang tua dengan pilihan diksi kakek dan nenek yang pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Dianalisa dari dialog-dilaog yang diungkapkan bertubi-tubi itu akhirnya pembaca akan bisa mengenal tentang pikiran, motivasi dan keinginan-keinginan tokoh-tokoh dalam novel tersebut, pikiran dan keinginan tentang perubahan, restorasi, rekonsiliasi terkait persoalan-persoalan kaderisasi dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Walau ada pandangan yang meragukan kandungan filsafat pada karya sastra sebagaimana yang pernah diungkapkan Goerge Boas dalam ceramahnya. Namun secara umum ada berbagai cara untuk menjabarkan hubungan sastra dan pemikiran. Sastra sering dilihat sebagai suatu bentu filsafat atau sebagai bentuk pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Dalam perkembangannya banyak karya-karya sastra yang seringkali dihubungkan dengan kajian filsafat, terutama yang ada kaitannya dengan Eksistensialime. Diantaranya Leo Tolstoy, Albert Camus dengan Caligulanya, Samuel Becket dengan menunggu Godotnya.

Sebagaimana setiap dalam membuka bagian-bagian cerita, AH J Khuzaini selalu menghadirkan filosofi kalimat dari beberapa filsuf. Diantaranya adalah Dengan humor kita dapat sejenak melupakan kesulitan hidup Gus Dur. Keadilan yang terlalu mendalam dapat membuat seseorang menjadi gila Aokiji. Dulu aku ada di sini, dan kata-kata ini telah membimbingku sampai akhir Gol D. Roger.

Nampaklah kesadaran penulis bahwa novel Gerak Gerik ini berusaha menggandeng perkembangan pemikiran filsuf. Ada jalan lain dalam sebuah novel selain menghibur, ia menawarkan pemikiran-pemikiran yang kontemplatif yang sesungguhnya lebih asyik didiskusikan sebagaimana pada peristiwa yang terjadi pada sebuah novel, pada sebuah cangkrukan warung kopi.

Pada simpulan akhir, AH J Khuzaini dengan novel pertama Gerak-Geriknya ini ingin menyampaikan pemikiran-pemikiran yang seringkali tereksplorasi dalam dunia pergerakan, bahwa sesungguhnya aktifis itu adalah kaum akademik, layaknya para filsuf Yunani yang seringkali bertemu pada sebua taman acadomus, mendiskusikan pemikiran-pemikiran yang akhirnya menjadi teori baru tentang hakekat manusia dan kesemestaan alam. Gerak Gerik menghadirkan ruang diskusi pemikiran warung kopi yang sering diabaikan para akademisi. Diakui atau tidak, dari sanahlah dunia pemikiran, pergerakan dan kekaryaan seringkali hadir. AH J Khuzaini telah merefleksikannya dalam novel pertamanya.

Selamat mendiskusikannya.

UNS Solo, 26 Oktober 2018

*) Untuk didiskusikan di Aula kampus STITAF, tanggal 27 Oktober 2018, Jam 13.00 Wib sampai selesai.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito