Senin, 30 April 2018

Bangkitlah Manusia si Pemikir dari Aceh (homo sapiens dari Aceh)!

Tu-ngang Iskandar
Menceritakan tentang Aceh di hadapan kawan-kawan mahasiswa Aceh di Yogyakarta adalah suatu malu tersendiri bagi saya. Karena saya yakin bahwa pemuda-pemudi yang belajar ke luar Aceh telah membekali dirinya dengan identitas yang mapan tentang keAcehan, setidaknya pengetahuan yang cukup tentang realitas yang terjadi di Aceh saat ini, sebelum kemudian menunjukkan diri di hadapan oran-orang dari berbagai penjuru lain dan menyampaikan sesuatu tentang Aceh.

Walau sejujurnya saya juga ikut khawatir dalam berpikiran seperti di atas, karena sangat mungkin juga bahwa yang hadir di sini adalah kepala-kepala boh leupieng (kelapa yang dilobangi tupai atau yang labil berpegang pada tangkainya), yang hanya melakukan prosesi belajar karena di dorong oleh gaya-gayaan semata, agar dianggap keren dari kampung halamannya, agar dilihat sebagai orang yang memiliki pikiran atau otak. Namun pada kenyataannya hanyalah tengkorak tanpa isi, yang sangat mudah dimasuki oleh berbagai angin jahat dan liar dari tempat-tempat sampah, hingga tidak mampu mendeteksi dirinya sendiri sebagai manusia si pemikir (homo sapiens), dan lebih layak ditendang ke sana ke mari seperti halnya bolaboh leupieng.

Manusia si pemikir dari Aceh (homo sapiens Aceh), menjadi harapan terakhir masyarakat Aceh atas berbagai kehancuran di Aceh, baik yang telah terjadi maupun yang sedang berlangsusng. Bahwa tiada jalan lain yang harus ditempuh untuk mengangkat orang Aceh ke tempat yang lebih menjanjikan, kecuali dengan sebuah kecerdasan dan kebijaksanaan (hasil berfikir) yang mapan. Apalagi kaum berpendidikan, yang jelas harus menggunakan otaknya itu untuk mengubah keadaan buruk menjadi baik, dan bukankah otak kita itu tidak sekedar untuk mengisi ruang kosong dalam tempurung kepala kita? Maka gunakanlah.

Pengembangan berfikir tentu bisa diukur dari cara kita bersikap terhadap lingkungan atau reaksi untuk berbagai ilmu pengetahuan yang terdapat di sekitar kita. Kepekaan terhadap sumber-sumber ilmu yang bergerak seperti dari pergaulan sosial ataupun dari sumber-sumber tetap lain seperti buku-buku sangat berpengaruh dalam mengasah berfikir dan membentuk karakter diri. Seseorang yang hanya menghabiskan waktu dengan bermain game di tempat tidur sehabis pulang kuliah tentu akan berbeda tingkat intelektualnya dibandingkan dengan orang yang memilih bergaul sambil berdiskusi tentang berbagai hal. Begitupun dengan orang-orang yang hanya sibuk bergaul, tanpa menyempatkan diri membaca buku-buku penting. Kenyataan bahwa orang-orang terbaik selalu muncul dibalik meja-meja diskusi dan rak buku.

Melakukan proses berfikir adalah juga suatu cara dalam membersihkan kabut tebal yang ada dalam kepala kita sendiri. Belajar adalah tentang suatu jalan yang kita tempuh dalam rangka menggapai pikiran kita yang utuh. Berbagai motivasi belajar jangan sampai menghapus berbagai hal penting yang ingin kita gapai di dunia ini. Karena seringkali kesia-siaan dalam berjuang itu muncul ketika dalam melakukan proses, motivasinya adalah bersifat badani dan personal semata. Makanan yang enak, pakaian mahal lagi bermerk, perempuan yang banyak, mobil dan rumah mewah, hiburan yang gemerlap, ketenaran,kekuasanan, atau uang yang melimpah, merupakan orientasi dari proses belajar yang kita tempuh ini. Orientasi yang menganggap bahwa kesempurnaan hidup atau kemerdekaan terletak pada kenikmatan badani itu telah berlaku pada pendahulu kita, dan sangat mungkin itu pun bisa terjadi pada kita, ketika kita dibutakan dengan kabut di dalam hati dan pikiran.

Merefleksikan itu semua, mari kita mundur sejenak menuju 1000 Tahun Sebelum Masehi (SM), di mana kesadaran besar telah muncul setelah kenikmatan yang sifatnya badani itu tidak mampu membuktikan apa-apa tentang kesempurnaan atau kemerdekaan hidup. Kesadaran itu terjadi pada orang Yunani, sebuah bangsa yang pada awalnya hanya menghabiskan hidup dengan meminum anggur, bermain perempuan, menikmati tarian perangsang birahi, menyanyi lagu-lagu yang dapat menyenangkan, dan berolahraga untuk tetap bisa menikmati kelezatan yang ternyata semu itu. Beruntunglah mereka, fajar kemudian menjemput, untuk beranjak dari kebodohan itu semua. Lalu ahli-ahli filsafat dan sejarah Yunani pun menulis buku-buku, menggubah seni-seni menjadi mencerahkan, dan muncul di mimbar-mimbar untuk berpidato. Di mana menjadi guru bagi sesamanya adalah jalan awal yang mereka tempuh, seperti halnya Jepang setelah bom Hiroshima. Sekarang, bukankah kita pun telah mengenal nama-nama besar yang mendunia dari Yunani, lewat pemikirannya yang mencerahkan, seperti Plato, Aristoteles, Socrates, Homerus, Aristophanes, Aeschylus, Thucydides, dan masih banyak lainnya.

Kesadaran puncak dalam menuju kesempurnaan hidup seperti yang ditunjukkan bangsa Yunani bukankah pernah juga dibuktikan oleh bangsa Aceh di masa lalu? Itu bisa kita lihat dari hadirnya kitab-kitab buatan ulama Aceh sampai ke pelosok-pelosok di Asia Tenggara, melalui hikayat-hikayat yang bisa membangunkan lelaki-lelaki Aceh dari empuknya kasur dan hangatnya pelukan istri untuk menuju medan tempur penuh sakit dan darah, lewat hadihmaja-hadihmaja yang sampai sekarang masih relevan diikuti, dan berbagai jenis ukiran-ukiran indah yang dapat mencerahkan seperti yang terdapat di batu-batu nisan Aceh.

Betapa besarnya pengaruh berfikir, hingga mampu merubah sebuah tatanan dunia. Lalu apakah selama ini kita membudayakan berfikir? atau setidaknya belajar cara berfikir? itu semua adalah pertanyaan yang seharusnya muncul pada diri yang mengaku sebagai kaum intelektual seperti mahasiswa. Berfikir memang selalu muncul ketika kita sedang menghadapi masalah. Tapi apakah otak kita terlalu kecil untuk menampung berbagai persoalan yang menyelimuti masyarakat banyak, hingga hanya mampu mendeteksi persoalan kita sendiri untuk dipikirkan dan diselesaikan sendiri. Ini terletak pada sejauhmana kebinatangan personal itu mampu kita taklukkan sendiri, lalu maju lebih jauh ke dalam sisi kemanusiaan.

Aceh Butuh Dipikirkan
Sebagaimana bangsa lainnya yang kita akui keberadaannya karena berfikir, bangsa Aceh juga harus mampu bangkit untuk menunjukkan bahwa Aceh itu masih “ada” dan bukan hanya sebagai nama dari salah satu provinsi di Indonesia, bukan juga karena di sana dengan mudahnya tumbuh ganja, bukan pula karena orang Aceh mampu berperang puluhan tahun lamanya, dan bukan juga karena tsunami pernah menghantam negeri paling barat Pulau Sumatra itu, melainkan “adanya” karena “Aceh itu berfikir”, seperti kata-kata yang dilontarkan oleh Rene Descartes, seorang filsuf ternama dari Perancis, yang berbunyi; “aku berfikir maka aku ada” (Latin: cogito ergo sum).

Memikirkan Aceh tentunya bisa dari manapun, termasuk dari balik Gunung Merapi ini sekalipun. Aceh layaklah kita pikirkan atau jika lebih hinanya kita dikasihani, sebagaimana seorang tua renta yang sedang mengemis untuk menunggu dipulihkan rasa sakitnya. Bukankah tidak ada tangan, hati, dan pikiran yang lebih dekat dengan Aceh selain anaknya sendiri? Itu adalah kita, “anak Aceh”. Sebagai anak Aceh, kita tidak sekedar dituntut untuk punya rasa tanggungjawab yang lebih, namun juga harus memiliki “rohnya Aceh”, sebagai identitas; seperti ketangguhan dalam mental, keteguhan dalam mempertahankan kebenaran, dan kesetiaan pada perintah Tuhan. Dan selama kita mempunyai ilmu, ditambah dengan iman, tidak mungkin kebodohan yang bersenjata dan kelaliman yang kuat itu menang. Yang dibutuhkan adalah saling mendukung dan bukan melakukan pembunuhan karakter atau saling menekan kemajuan sesama. Orang-orang terdekat harus menjadi pendorong dan guru yang baik dalam proses belajar atau untuk menuju kesuksesan di berbagai bidang. Bukankah kehebatan orang Aceh sedemikian dikenal ketika menjadi guru bagi orang-orang di Nusantara ini tempo waktu? yaitu dengan mendidik orang-orang yang kelak sebagai cikal bakal hadirnya Wali Songo di Pulau Jawa.

Berfikir Lewat Organisasi Nyata
Khususnya di Yogyakarta, ratusan mahasiswa dari berbagai penjuru Aceh berdatangan ke sini tiap tahunnya. Memang, menuntut ilmu di perguruan tinggi adalah salah satu tujuan utama. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki kesadaran dalam mengembangkan diri lewat berorganisasi dan bergaul dengan orang-orang berfikiran lain dari berbagai tempat. Organisasi adalah salah satu ruang terpenting dalam membangun mental kepemimpinan. Sesuatu yang tanpaknya semakin tidak perlu untuk dijalani bagi mahasiswa yang berduniakan layar gesek seperti sekarang ini. Di mana bagi mereka, berorganisasi mungkin cukup dengan membuat grup pada media sosial, dengan program membagi-bagikan tautan semacam “apam keubeue” tiap semenit sekali.

Ya, kita memang tidak butuh orang-orang yang pikirannya sekaku itu, yang mengagungkan teknologi, namun merendahkan pikiran, hati, dan segenap tubuh, yang telah sejak sekian lama menjadi ibu dari segala kelahiran benda-benda canggih di muka bumi. Kita harus bergerak lebih jauh untuk mengalaminya sendiri, dengan segenap jiwa-raga, dalam membangun diri ini senyata mungkin, yang bisa ditempuh lewat berorganisasi atau bersosialisasi dengan orang-orang cerdas dan bijak. Karena tidak mungkin juga merasakan atmosfir kota pendidikan ini hanya lewat jendela kampus, tempat tidur dan kamar mandi. Semuanya harus dialami, dirasakan, atau dinikmati. Itu sebelum waktu menjemput kita pulang dan kemudian mempertanggungjawabkan segala yang pernah kita dapatkan di sini.

Belajar berorganisasi atau bersosialisasi tidak juga dengan mendirikan berbagai macam perkumpulan baru tanpa aktifitas seperti yang banyak terjadi belakangan ini. Kita bisa belajar dari organisasi nyata yang telah lebih dulu mumpuni, dan tidak bisa lewat organisasi kampung yang kita bangun tadi sore. Karena bukankah tujuan kita berorganisasi itu untuk mengenal orang lain yang belum kita kenal dan belajar banyak dari mereka?

Di Yogyakarta, terdapat satu organisasi besar yang menaungi berbagai perkumpulan lain, baik yang berasal dari kabupaten maupun kampus-kampus. Ia adalah Taman Pelajar Aceh (TPA), organisasi yang telah lama menjadi saksi dan berperan penting atas lahirnya intelektual-intelektual di Aceh. Di sinilah kawan-kawan bisa saling mengasah kemampuan diri, berorganisasi untuk menyatukan Aceh yang tanpa sekat suku-suku, dan belajar lebih jauh untuk memahami dunia dengan identitas yang mumpuni. Akhirnya, semua hanya bisa ditempuh dengan berfikir dan melakukan apapun senyata mungkin. Selamat mengalami.

[Tulisan ini adalah materi yang dikeluarkan Tu-ngang Institut pada tanggal 19 Desember 2015, dalam acara Malam Keakraban mahasiswa Aceh di Yogyakarta, yang diadakan Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta]

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito