Khoshshol Fairuz
DKJT melalui komite sastranya mengadakan sayembara dengan tema karya “Re-definisi Jawa Timur”. Memang secara histori dalam perkembangan sastra Indonesia di Jawa Timur masih didominasi puisi. Jawa Timur masih merupakan provinsi penghasil puisi ketimbang provinsi penghasil prosa. Apakah dengan demikian puisi berhak memiliki porsi untuk me-re-definisi-kan Jawa Timur. Ini pula yang menggugah hati CEO Boenga Ketjil, Andhi Setyo Wibowo, lewat kajian SelaSastra mengundang para pegiat sastra Jatim untuk merumuskan atau lebih tepatnya berdiskusi soal lokalitas, dan tentu saja puisi.
Penyair Binhad Nurrohmat berpendapat jika lokalitas hanya dilihat dari aspek batas atau yang membatasi, tentu kita telah melupakan sesuatu yang justru adalah pusat masalah. Menurutnya lokalitas yang harus dipahami adalah ketika itu diposisikan sebagai perspektif, sebuah cara pandang untuk menemukan nilai. Misalnya Aditya Ardi atau Dadang Ari M yang tidak hanya berbicara idiom dan semangat kultur saja, akan tetapi lebih kepada mengangkat khazanah lokal yang berlatar kebudayaan. Orang Madura berbicara kemaduraannya, orang arek berbicara warna urban, Mojokerto berbicara soal lokalnya yang kental, dan pembaca berhak menafsirkan kelokalan itu.Seperti sebuah narasi yang mempengaruhi kehidupan saat ini, lokalitas menurutnya adalah sesuatu yang dinamis, tidak melulu didominasi pada masa lampau.
Masih menurut Binhad, lokalitas selain bisa dipahami secara sosiologis, juga dapat didekati dengan cara normatif. Sosiologis lokal Jatim hari ini tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Kondisi sosio-kultural pegiat sastra sekarang tidak bisa menjadikan Surabaya sebagai pusat, daerah-daerah lain hari ini bisa eksis berkarya dan tidak lagi terkungkung kepada birokrasi. Singgungan langsung yang sedemikian hebat itu membawa kita ke tahap normative, bagaimana lokalitas tidak hanya berbicara budaya, akan tetapi memiliki khazanah ekspresi ucap. Menurutnya Jatim tidak memiliki sikap tegas untuk membangun cara pandang tertentu yang jika orang melihat, ia akan mengatakan Jatim. Cara pandang yang dimaksud adalah tentang keberbedaan Jatim sebagai ciri khas, identitasnya kabur seiring jarangnya penyair yang mengangkat khazanah tersebut. Sebagai referensi yang ditunjuk, “Kitab Syair Jancuk Jaran” memiliki potensi untuk itu, akan tetapi Binhad kembali menanyakan apakah jancuk itu benar-benar Jawa Timur dan representasi dari keseluruhan Jawa Timur?
Berbicara lokalitas, Yusri Fajar ( penyair dan dosen ) memiliki pendapat sendiri. Menurutnya lokalitas itu sebagian termaktub dalam buku “Kartograf” kumpulan puisi penyair Jawa Timur. Kontribusi penyair muda di dalamnya memang bertujuan untuk melihat potensi lokalitas yang belum tergali secara komprehensif, mereka dalam fase pencarian jati diri. Menurutnya itu penting, sebab pasca 28 Oktober 1928 atau jauh setelah Indonesia selesai diproklamirkan, para penyair kita khususnya berlomba-lomba untuk menampilkan kekayaan local. Ini mungkin bisa dianggap sebagai penguatan identitas bangsa, akan tetapi tanpa disadari justru Barat melihat itu sebuah hal yang eksotis, indah dan memiliki daya tarik yang tinggi. Sikap Barat ini diartikan Yusri bermuatan politis seperti apa yang Belanda lakukan selama lebih dari tiga abad.
Hadir juga dan memberikan kuliah malam adalah Tengsoe Tjahjono. Dia secara personal menarik tema diskusi menjadi lebih intern lagi. Menggali nalar kritis dengan mengawali pendapatnya melalui pertanyaan: sebenarnya Indonesia itu apa? Dia berharap sebagai bangsa yang memproklamirkan diri memiliki nama, juga harus mengerti apa itu Indonesia. Baginya Indonesia bukan benar-benar Indonesia yang dikenal dari pengertian di buku-buku sejarah. Orang asing yang tertarik tarian misalnya, mereka datang ke Indonesia namun justru yang ditemukan adalah tari kecak di Bali. Mereka ingin mempelajari gamelan atau wayang, yang mereka temui ya Jawa, bukan Indonesia. Pertanyaan ini kemudian mendapatkan anggukan kepala dari Yusri Fajar yang mendeskripsikan Indonesia sebagai “sesuatu” saja. Bukan bangsa, bukan kebudayaan, bukan nama.
Pertanyaan berikutnya yang dihadirkan oleh Tengsoe Tjahjono, dan tak kalah dalam, adalah apakah kita benar-benar Jawa Timur ? Dia juga menaruh rasa curiga bahwa kasus Jawa Timur senada dengan diskursus nasional tersebut.Yakni bahwa jangan-jangan Jawa Timur juga tidak ada dan hanya diposisikan sebagai “sesuatu”. Memang secara administratif ada, akan tetapi tinjauan yang diangkat adalah local sosio-kultural, lalu term apa yang bisa menjadi jawaban dari itu semua. Tengsoe membuat analogi sederhana dari negeri ginseng Korea Selatan. Dia menyampaikan bahwa Korea sebagai satu identitas yang dilatarbelakangi oleh agama Budha, saat ini secara fisik sudah kabur. Pakaiannya, operasi plastiknya, gaya hidup dan budaya hedonisnya tidak mencerminkan ajaran leluhur. Budha tidak hadir dari sisi fisik akan tetapi di atas itu semua Tengsoe berpendapat bahwa lokalitas adalah berbicara spirit, bukan tampilan empiriknya. Sekali lagi, perubahan adalah keniscayaan.
Ketika terjadi kebimbangan suatu masyarakat dengan identitas dirinya, Tengsoe melakukan pendekatan intropeksi dengan istilah bahwa manusia selalu berada dalam ‘Ruang Antara’. Jika mendefinisikan diri saja sudah tidak bisa, maka akan sulit untuk mendebatkan siapa yang akan bertanggungjawab membuat suatu identitas. Dia menambahkan sedikit tentang Jawa dan pakaiannya yang tidak akan pernah sinkron dan akan terus berubah. Menurutnya identitas itu bukan pertanyaan “Siapa kamu ?”, akan tetapi identitas adalah pernyataan “Bagaimana kamu menjadi kamu”.
Berkaitan dengan “rasa Jawa” ini, Yusri Fajar menceritakan tentang sepasang bule yang naik kereta api uap. Di depan sepasang bule itu duduk sepasang orang Jawa. Saat si wanita bule merasa kepanasan, buru-buru lelakinya mengambil kipas untuk kemudian ngipasi supaya tidak gerah. Melihat adegan itu, selanjutnya salah satu dari orang Jawa itu berkomentar, “Mas, Mas … sampean kok njawani”. Istilah perhatian kepada pasangannya, bisa disebut njawani . Seolah-olah menjadi atau melakukan sesuatu dipandang sebagai, meskipun orang yang mengatakan njawani adalah orang Jawa, dan orang yang diberi label njawani adalah seorang bule.Yusri seperti ingin menunjukkan bahwa ada semacam teori rekonstruksi lokalitas pada setiap era dimana perubahan dianggap wajar.
Robin Al-Kautsar, seorang pengamat dan kritikus sastra turut menyuguhkan pendapatnya tentang re-definisi . Ia juga mempertanyakan tujuan dari perumusan re-definisi itu apa dan bagaimana. Menurutnya dalam diskursus sastra akan selalu menemui disiplin ilmu lain seperti terminology, universalitas, dan globalisasi yang justru subur di dunia prosa, bukan di dalam puisi. Karena dalam perkembangannya, dunia sastra pasti memiliki dua sayap, yakni substansi dan sayap label. Aspek label ini lebih bersifat arbitrer tanpa sedikitpun menyentuh ranah substansi. Menurutnya jika hanya label, siapa saja bisa melabeli hal ini, terutama otoritas tertinggi yang berpengaruh. Dan jika ini terus dipertahankan maka kemungkinan besar akan mengalami pengaburan makna.Dia menambahkan mesti ada asumsi yang diandaikan dengan garis tegas; mau dibawa kemana.
Di bagian lain Binhad Nurrohmat mengatakan bahwa sebuah lokalitas akan dikenali ketika dia berada bukan dalam lingkungannya. Seperti orang Jombang yang merantau ke Jakarta memakai sarung, ciri kota santri menjadi trade mark tersendiri. Namun juga definisi wilayah masih rancu ketika dihadapkan dengan budaya. Menurutnya ini menjadi pekerjaan rumah bagi pegiat literasi dan para kaum un-literasi. Baginya meski dengan berbagai macam metode yang akan digunakan tetapi kalau tidak bisa memberi rumusan pasti, hanya akan membuang waktu sia-sia. Dalam keyakinannya, Binhad mengatakan definisi yang berhasil dirumuskan oleh kaum un-literasi adalah definisi yang dilakukan oleh para antropolog . Definisi inilah yang ,mungkin, memiliki porsi lebih untuk me-re-definisi Jatim. Dirinya berasumsi jika definisi diibaratkan sebagai kerangkeng, sementara Jatim adalah sesuatu yang dinamis dan terus berubah-ubah, maka Jatim tidak akan menemukan ciri awal yang mengindikasikan bahwa itu adalah Jawa Timur dalam pengertian yang sebenarnya.
Tanggapan dan perhatian yang demikian besar dari komite sastra DKJT kepada para penyair menggelitik Tengsoe Tjahjono. Dirinya kembali mempertanyakan mengapa puisi ? Padahal untuk menciptakan identitas, sastra semestinya berperan menjadi data sekunder. Bisa apa puisi ? Puisi yang kita kenal sekarang adalah puisi dengan muatan local yang sulit dimengerti. Puisi juga adalah sebuah karya sastra dengan nilai subyektivitas yang sangat tinggi. Sementara penerimaan public terhadap karya semodel puisi sangat rendah karena karakteristiknya tadi.
***
https://selasastrain.blogspot.co.id/2018/03/re-definisi-jawa-timur-puisi-bisa-apa.html
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Azis Masyhuri
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Riyadi Amar
A. Yusrianto Elga
A.H. J Khuzaini
A.J. Susmana
A.S Laksana
Abd. Basid
Abdul Azis Sukarno
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abimardha Kurniawan
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adi Faridh
Adian Husaini
Adreas Anggit W.
Adrizas
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agni Rahadyanti
Aguk Irawan M.N.
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Hartanto
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Naufel
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Airlangga Pribadi
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Aldila Avrikartika
Alfred Tuname
Ali Audah
Ali Soekardi
Amien Wangsitalaja
Andhi Setyo Wibowo
Andi Andrianto
Andong Buku #3
Andry Deblenk
Angela
Anggota FSL
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Kurniawan
Anton Septian
Anwar Nuris
Any Rufaidah
APSAS (Apresiasi Sastra)
Arafat Nur
Ari Saputra
Ariany Isnamurti
Arie Yani
Arief Junianto
Arifin Hakim
Arim Kamandaka
Arina Habaidillah
Armada Riyanto CM
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan
Arysio Santos
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atafras
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Babad Nuca Nepa
Babe Derwan
Badrut Tamam
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bambang Kuncoro
Bambang Satriya
Bambang Sugiharto
Bandung Mawardi
Banyuwangi
Bengawan Solo di Karanggeneng
Beni Setia
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Blambangan kuno
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bujang Tan Domang
Bung Tomo
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cerbung
Cerkak
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
CNN Indonesia
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dahlan Kong
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Daniel Paranamesa
Danilo Kis
Danuji Ahmad
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
David ZA
Dea Anugrah
Dedi Pramono
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dian
Diana A.V. Sasa
Didin Tulus
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djibril Muhammad
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Yan Masfa
Dom Dinis
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo U. Maksum
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Purwanto
Edith Koesoemawiria
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Endarmoko
Eko Nuryono
Elin Yunita Kristanti
Ellyn Novellin
Elnisya Mahendra
Em Syuhada’
Emha Ainun Nadjib
Eny Rose
Eriyanti
Esai
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fakhrudin Aris
Fanani Rahman
Fariz al-Nizar
Faruk
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fauzan Al-Anzhari
Fazabinal Alim
Felix K Nesi
Ferdiansyah Thajib
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Forum Sastra Lamongan
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawan
Gede Mugi Raharja
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Haaretz
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamzah Fansuri
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Harry Susilo
Hartono Harimurti
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hawe Setiawan
Henri Nurcahyo
Hepi Andi Bastoni
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Santoso
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Joni Putra
Hikmat Gumelar
Hilmi Abedillah
Hudan Hidayat
I Made Prabaswara
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IGK Tribana
Ignas Kleden
Ignatius Yunanto
Imam Muhayat
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra J. Piliang
Indra Tjahjadi
Indra Tranggono
IPNU Kabupaten Lamongan 1955
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iwan Kurniawan
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D Rahman
Jamaluddin Mohammad
Jamrin Abubakar
Jauhari Zailani
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Joao Ruiz De Castelo Branco
Johan Khoirul Zaman
John Halmahera
John Sinartha Wolo
Joko Budhiarto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K.H. Anwar Manshur
K.H. Ma'ruf Amin
Karanggeneng
Kasnadi
Katrin Bandel
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoshshol Fairuz
Ki Ompong Sudarsono
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
KOSTELA
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kukuh Yudha Karnanta
Kurnia EF
L. Ridwan Muljosudarmo
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lamongan 1916
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Loe Lan Ing
Lukisan Rengga AP
Lukman Santoso Az
Lutfi Rakhmawati
Lynglieastrid Isabellita
Lysander Kemp
M Anta Kusuma
M. Aan Mansyur
M. Harir Muzakki
M. Latief
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Majelis Sastra Asia Tenggara
Makalah Tinjauan Ilmiah
Mala M.S
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marsi Ragaleka
Martin Aleida
Martin Lings
Masdharmadji
Mashuri
Mathori A Elwa
Matroni Muserang
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Misbahus Surur
Mochtar Lubis
Mohammad Eri Irawan
Muafiqul Khalid MD
Mudjia Rahardjo
Muh Syaifullah
Muhajir Arifin
Muhamad Rifai
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Alimudin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yamin
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
Nadhi Kiara Zifen
Nafi’ah Al-Ma’rab
Nailunni’am
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Thaleb
Nawa Tunggal
Nevatuhella
Nezar Patria
Nina Mussolini-Hansson
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nitis Sahpeni
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Nunung Nurdiah
Nurel Javissyarqi
Nurjanah
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Octavio Paz
Olivia Kristina Sinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pagelaran Musim Tandur
Pawang Surya Kencana
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
PDS HB Jassin
Pesantren Tebuireng
Petrus Nandi
Philipus Parera
Pipiet Senja
Plato
Pramoedya Ananta Toer
Pratono
Pringadi AS
Priyatna Abdurrasyid
Prof Dr Faisal Ismail MA
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Wijaya
R Toto Sugiharto
Radhar Panca Dahana
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Raja Ali Haji
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Ranang Aji SP
Ratnaning Asih
Ratno Fadillah
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992
Rheza Ardiansyah
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Riyadhus Shalihin
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rojiful Mamduh
Romi Zarman
Rosihan Anwar
Roso Titi Sarkoro
Rudy Polycarpus
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Mueller
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifur Rohman
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Samin
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Saparinah Sadli
Sartika Dian Nuraini
Sarworo Sp
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Satriwan
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Siwi Tri Puji B
Sjifa Amori
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Solo Exhibition Rengga AP
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
St Sularto
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudartomo Macaryus
Sugiarta Sriwibawa
Sugiarto
Sujatmiko
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutamat Arybowo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syamsudin Walad
Syi'ir
Sylvianita Widyawati
Syu'bah Asa
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Th Sumartana
Thales
Theo Uheng Koban Uer
Timur Budi Raja
Titik Alva-Alvi Choiriyah
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
To Take Delight
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tomas Transtroemer
Tosa Poetra
Toto Gutomo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Awaludin
Warih Wisatsana
Waskiti G Sasongko
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wemmy Alfadhli
Wicaksono
Widya Oktaviani
Wina Bojonegoro
Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan
Wisnu T Hanggoro
Wowok Hesti Prabowo
Y Alprianti
Y. Wibowo
Yani Arifin Sholikin
Yanto Musthofa
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yoram Kaniuk
Yunit Permadi
Yusi A. Pareanom
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Rachmat Sugito
Tidak ada komentar:
Posting Komentar