Rabu, 07 Maret 2018

RE-DEFINISI JAWA TIMUR, PUISI BISA APA?

Khoshshol Fairuz

DKJT melalui komite sastranya mengadakan sayembara dengan tema karya “Re-definisi Jawa Timur”. Memang secara histori dalam perkembangan sastra Indonesia di Jawa Timur masih didominasi puisi. Jawa Timur masih merupakan provinsi penghasil puisi ketimbang provinsi penghasil prosa. Apakah dengan demikian puisi berhak memiliki porsi untuk me-re-definisi-kan Jawa Timur. Ini pula yang menggugah hati CEO Boenga Ketjil, Andhi Setyo Wibowo, lewat kajian SelaSastra mengundang para pegiat sastra Jatim untuk merumuskan atau lebih tepatnya berdiskusi soal lokalitas, dan tentu saja puisi.

Penyair Binhad Nurrohmat berpendapat jika lokalitas hanya dilihat dari aspek batas atau yang membatasi, tentu kita telah melupakan sesuatu yang justru adalah pusat masalah. Menurutnya lokalitas yang harus dipahami adalah ketika itu diposisikan sebagai perspektif, sebuah cara pandang untuk menemukan nilai. Misalnya Aditya Ardi atau Dadang Ari M yang tidak hanya berbicara idiom dan semangat kultur saja, akan tetapi lebih kepada mengangkat khazanah lokal yang berlatar kebudayaan. Orang Madura berbicara kemaduraannya, orang arek berbicara warna urban, Mojokerto berbicara soal lokalnya yang kental, dan pembaca berhak menafsirkan kelokalan itu.Seperti sebuah narasi yang mempengaruhi kehidupan saat ini, lokalitas menurutnya adalah sesuatu yang dinamis, tidak melulu didominasi pada masa lampau.

Masih menurut Binhad, lokalitas selain bisa dipahami secara sosiologis, juga dapat didekati dengan cara normatif. Sosiologis lokal Jatim hari ini tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Kondisi sosio-kultural pegiat sastra sekarang tidak bisa menjadikan Surabaya sebagai pusat, daerah-daerah lain hari ini bisa eksis berkarya dan tidak lagi terkungkung kepada birokrasi. Singgungan langsung yang sedemikian hebat itu membawa kita ke tahap normative, bagaimana lokalitas tidak hanya berbicara budaya, akan tetapi memiliki khazanah ekspresi ucap. Menurutnya Jatim tidak memiliki sikap tegas untuk membangun cara pandang tertentu yang jika orang melihat, ia akan mengatakan Jatim. Cara pandang yang dimaksud adalah tentang keberbedaan Jatim sebagai ciri khas, identitasnya kabur seiring jarangnya penyair yang mengangkat khazanah tersebut. Sebagai referensi yang ditunjuk, “Kitab Syair Jancuk Jaran” memiliki potensi untuk itu, akan tetapi Binhad kembali menanyakan apakah jancuk itu benar-benar Jawa Timur dan representasi dari keseluruhan Jawa Timur?

Berbicara lokalitas, Yusri Fajar ( penyair dan dosen ) memiliki pendapat sendiri. Menurutnya lokalitas itu sebagian termaktub dalam buku “Kartograf” kumpulan puisi penyair Jawa Timur. Kontribusi penyair muda  di dalamnya memang bertujuan untuk melihat potensi lokalitas yang belum tergali secara komprehensif, mereka dalam fase pencarian jati diri. Menurutnya itu penting, sebab pasca 28 Oktober 1928 atau jauh setelah Indonesia selesai diproklamirkan, para penyair kita khususnya berlomba-lomba untuk menampilkan kekayaan local. Ini mungkin bisa dianggap sebagai penguatan identitas bangsa, akan tetapi tanpa disadari justru Barat melihat itu sebuah hal yang eksotis, indah dan memiliki daya tarik yang tinggi. Sikap Barat ini diartikan Yusri bermuatan politis seperti apa yang Belanda lakukan selama lebih dari tiga abad.

Hadir juga dan memberikan kuliah malam adalah Tengsoe Tjahjono. Dia secara personal menarik tema diskusi menjadi lebih intern lagi. Menggali nalar kritis dengan mengawali pendapatnya melalui pertanyaan: sebenarnya Indonesia itu apa? Dia berharap sebagai bangsa yang memproklamirkan diri memiliki nama, juga harus mengerti apa itu Indonesia. Baginya Indonesia bukan benar-benar Indonesia yang dikenal dari pengertian di buku-buku sejarah. Orang asing yang tertarik tarian misalnya, mereka datang ke Indonesia namun justru yang ditemukan adalah tari kecak di Bali. Mereka ingin mempelajari gamelan atau wayang, yang mereka temui ya Jawa, bukan Indonesia. Pertanyaan ini kemudian mendapatkan anggukan kepala dari Yusri Fajar yang mendeskripsikan Indonesia sebagai “sesuatu” saja. Bukan bangsa, bukan kebudayaan, bukan nama.

Pertanyaan berikutnya yang dihadirkan oleh Tengsoe Tjahjono, dan tak kalah dalam, adalah apakah kita benar-benar Jawa Timur ? Dia juga menaruh rasa curiga bahwa kasus Jawa Timur senada dengan diskursus nasional tersebut.Yakni bahwa jangan-jangan Jawa Timur juga tidak ada dan hanya diposisikan sebagai “sesuatu”. Memang secara administratif ada, akan tetapi tinjauan yang diangkat adalah local sosio-kultural, lalu term apa yang bisa menjadi jawaban dari itu semua. Tengsoe membuat analogi sederhana dari negeri ginseng Korea Selatan. Dia menyampaikan  bahwa Korea sebagai satu identitas yang dilatarbelakangi oleh agama Budha, saat ini secara fisik sudah kabur. Pakaiannya, operasi plastiknya, gaya hidup dan budaya hedonisnya tidak mencerminkan ajaran leluhur. Budha tidak hadir dari sisi fisik akan tetapi di atas itu semua Tengsoe berpendapat bahwa lokalitas adalah berbicara spirit, bukan tampilan empiriknya. Sekali lagi, perubahan adalah keniscayaan.

Ketika terjadi kebimbangan suatu masyarakat dengan identitas dirinya, Tengsoe melakukan pendekatan intropeksi dengan istilah bahwa manusia selalu berada dalam ‘Ruang Antara’. Jika mendefinisikan diri saja sudah tidak bisa, maka akan sulit untuk mendebatkan siapa yang akan bertanggungjawab membuat suatu identitas. Dia menambahkan sedikit tentang Jawa dan pakaiannya yang tidak akan pernah sinkron dan akan terus berubah. Menurutnya identitas itu bukan pertanyaan “Siapa kamu ?”, akan tetapi identitas adalah pernyataan “Bagaimana kamu menjadi kamu”.   

Berkaitan dengan “rasa Jawa” ini,  Yusri Fajar menceritakan tentang sepasang bule yang naik kereta api uap. Di depan sepasang bule itu duduk sepasang orang Jawa. Saat si wanita bule merasa kepanasan, buru-buru lelakinya mengambil kipas untuk kemudian ngipasi supaya tidak gerah. Melihat adegan itu, selanjutnya salah satu dari orang Jawa itu berkomentar,  “Mas, Mas … sampean kok njawani”. Istilah perhatian kepada pasangannya, bisa disebut njawani . Seolah-olah menjadi atau melakukan sesuatu dipandang sebagai, meskipun orang yang mengatakan njawani adalah orang Jawa, dan orang yang diberi label njawani adalah seorang bule.Yusri seperti ingin menunjukkan bahwa ada semacam teori rekonstruksi lokalitas pada setiap era dimana perubahan dianggap wajar.

Robin Al-Kautsar, seorang pengamat dan kritikus sastra turut menyuguhkan pendapatnya tentang re-definisi . Ia juga mempertanyakan tujuan dari perumusan re-definisi itu apa dan bagaimana. Menurutnya dalam diskursus sastra akan selalu menemui disiplin ilmu lain seperti terminology, universalitas, dan globalisasi yang justru subur di dunia prosa, bukan di dalam puisi. Karena dalam perkembangannya,  dunia sastra pasti memiliki dua sayap, yakni substansi dan sayap label. Aspek label ini lebih bersifat arbitrer tanpa sedikitpun menyentuh ranah substansi. Menurutnya jika hanya label, siapa saja bisa melabeli hal ini, terutama otoritas tertinggi yang berpengaruh. Dan jika ini terus dipertahankan maka kemungkinan besar akan mengalami pengaburan makna.Dia menambahkan mesti ada asumsi yang diandaikan dengan garis tegas; mau dibawa kemana.

Di bagian lain Binhad Nurrohmat mengatakan bahwa sebuah lokalitas akan dikenali ketika dia berada bukan dalam lingkungannya. Seperti orang Jombang yang merantau ke Jakarta memakai sarung, ciri kota santri menjadi trade mark tersendiri. Namun juga definisi wilayah masih rancu ketika dihadapkan dengan budaya. Menurutnya ini menjadi pekerjaan rumah bagi pegiat literasi dan para kaum un-literasi. Baginya meski dengan berbagai macam metode yang akan digunakan tetapi kalau tidak bisa memberi rumusan pasti, hanya akan membuang waktu sia-sia. Dalam keyakinannya, Binhad mengatakan definisi yang berhasil dirumuskan oleh kaum un-literasi adalah definisi yang dilakukan oleh para antropolog . Definisi inilah yang ,mungkin, memiliki porsi lebih untuk me-re-definisi Jatim. Dirinya berasumsi jika definisi diibaratkan sebagai kerangkeng, sementara Jatim adalah sesuatu yang dinamis dan terus berubah-ubah, maka Jatim tidak akan menemukan ciri awal yang mengindikasikan bahwa itu adalah Jawa Timur dalam pengertian yang sebenarnya.

Tanggapan dan perhatian yang demikian besar dari komite sastra DKJT kepada para penyair menggelitik Tengsoe Tjahjono. Dirinya kembali mempertanyakan mengapa puisi ? Padahal untuk menciptakan identitas, sastra semestinya berperan menjadi data sekunder. Bisa apa puisi ? Puisi yang kita kenal sekarang adalah puisi dengan muatan local yang sulit dimengerti. Puisi juga adalah sebuah karya sastra dengan nilai subyektivitas yang sangat tinggi. Sementara penerimaan public terhadap karya semodel puisi sangat rendah karena karakteristiknya tadi.
***

https://selasastrain.blogspot.co.id/2018/03/re-definisi-jawa-timur-puisi-bisa-apa.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito