Jumat, 23 Februari 2018

Damiri Mahmud Tak Pernah Kehabisan Kata

Nevatuhella
Harian Analisadaily 2 Agu 2014

Di usia 69 tahun, Damiri Mahmud masih cukup aktif menulis. Minggu, 4 Mei 2014 yang lalu, catatan budayanya muncul di Harian Analisa Medan. Sore harinya pada hari yang sama, dia memberi ceramah sastra di stasiun RRI Medan bersama sastrawan Medan, Sulaiman Sambas (sastrawan asal kota Tanjungbalai, Asahan, teman kecil Martin Alaida), Mihar Harahap (mantan dekan FKIP-UISU Medan), dan penyair Wirja Taufan.

Setahun lalu, tepatnya 5 Mei 2013, dia dengan bersemangat mengisi Dialog Sastra Tanjungbalai yang diprakarsai oleh Himpunan Sastrawan Kembang Karang Tanjungbalai. Bulan lalu, seminggu sebelum bulan Ramadhan, dia menjadi penilai mata kuliah Sastra Perbandingan, Kritik Sastra dan Gelar Sastra di sebuah Universitas swasta, di Medan.

Hampir setiap minggu dia menulis esai sastra, catatan budaya, kritik sastra dan artikel agama. Artikel agama yang ditulisnya sangat menarik.

Sebagai sastrawan dia menilik fenomena agama dari sisi budaya. Artikel agama dulu-dulu sering dimuat di Koran Republika.

Berbekal dasar pengetahuan Islam yang cukup-cukup memadai, yang dia peroleh dari ayahnya, H. Mahmud Isa, seorang Kiyai di Hamparan Perak. Dia tidak pernah melenceng dari ajaran-ajaran Islam.

Baik dalam karyanya ,dan kehidupan sehari-hari. Pengakuannya pada beberapa kesempatan berbincang-bincang, dikatakan dia selalu terhindar dari hal-hal yang negatif.

Pernah suatu kali, di masa dia masih lajang, dengan seorang temannya mereka ingin menikmati kehidupan malam di sebuah tempat hiburan di Belawan.

Apa yang terjadi? Ternyata semua bangku pengunjung penuh, sehingga mereka tak jadi mampir di tempat hiburan yang menjual minuman keras dan menyediakan perempuan-perempuan penghibur.

Terhadap perempuan, Damiri memang selalu bersimpati dan menarik perhatiannya.

Waktu kecil, dia suka mencolek gadis-gadis Tionghoa yang sama kecilnya dengan dirinya di Medan.

Keluarga Damiri Mahmud memang lama tinggal disekitar jalan Puri, Medan. Tempat bermainnya, selain sekitar Mesjid Raya, juga di sekitar Kesawan yang banyak tinggal orang Tionghoa.

Kalaupun Damiri jatuh hati pada seorang perempuan, dia pun menggoda dengan pantun, sajak dan surat-surat cinta yang dia sampaikan dengan kehalusan kata.

Damiri mengakui memang tak punya sajak-sajak cinta, karena malu dan merasa tak pantas disebarluaskan. Cerita pahitnya jatuh cinta pernah dituturkannya, karena ia diludahi oleh seorang perempuan, yang menyebabkan ia demam selama dua hari dua malam.

 Damai di Bumi, kumpulan sajak-sajaknya yang terbit tiga tahun lalu, merupakan sajak-sajak yang bernuansa religius.

Bahkan bertendens kedalaman hakikat manusia yang naif, serba kurang, jauh dari sempurna.

Dia tak pernah menghadirkan ketidakseriusan dalam karya-karyanya. Bernas, ibarat cermin, yang semua orang bisa berkaca melihat wajah aslinya di depan cermin.

Membaca cerpen-cerpen dan sajak-sajak Damiri Mahmud, bisa bermakna membaca sebagian sejarah masyarakat suku Melayu.

Baik pada masa penjajahan Belanda di Sumatera Utara, sampai masa kini. Awal-awal menulis cerpen, thema-thema yang diangkatnya adalah kehidupan keluarganya.

Cerpennya, mewakili keberadaan masyarakat Melayu di bawah kekuasaan Belanda, Masa Datuk-datuk dan Sultan-sultan setempat.

Beberapa cerpen yang saya sebutkan, Jaman Pakuasi, Kupon Getah, Lelang, Tok, Buku, sarat berisikan resam-resam dalam keluarga dan kehidupan masyarakat Melayu.

Peran nenek, peran ibu, wibawa ayah, pelaksana amanah, ketaatan pada agama, catatan yang monumental dikerjakan Damiri.

Begitu juga dengan sajak yang digoreskannya. Tiga buah kumpulan sajak tunggalnya telah dibukukan di Malaysia.

Puluhan bahkan ratusan pula sajak-sajaknya termuat bersama beberapa pengarang lainnya. Salah seorang penggagas berdirinya Kelompok Sastrawan Antar Negara Dialog Utara, ini tampaknya setara dengan sastrawan sumut lainnya seperti Herman Ks, B. Y. Tand, Aldian Arifin, penulis cerpen dan novel Bokor Hutasuhut, dalam menghasilkan karya tulisan yang bermutu.

Ada saja artikel atau esai budaya yang menarik dan baru yang ditulisnya. Damiri umpama air jatuh dari tebing yang tak habis-habisnya mencurah ke tanah.

Saat ini masyarakat Sumatera Utara, sedang menunggu kehadiran Puisi-Esai-nya yang berjudul, Akulah Melayu Itu, Kau Halau Itu.

Puisi-Esai ini merupakan salah satu pemenang Puisi-Esai Terbaik yang telah di bukukan. (pada 24 Juni 2014 lalu. Damiri menerima penghargaan atas karyanya tersebut dan diluncurkan di Jakarta).

Apa yang Diperjuangkan Damiri?

Sejak kecil, Damiri, anak keempat dari puluhan bersaudara ini (dari tiga ibu) punya kesukaan membeli pulpen.

Dia berani berkorban tidak membeli jajan, demi membeli sebuah pulpen yang menarik hatinya.

Sampai sekarang pun tetap selalu ada dua buah pulpen yang tersangkut di saku bajunya.

Pulpen lambang atau sekaligus alat untuk menulis, yang disukainya perlambang suatu hari  rupanya Damiri memang dipilih menjadi seorang penulis. Damiri mengakui untunglah dirinya masih diberi Tuhan keterampilan menulis, kalau seandainya tidak, susah membayangkan apa jadinya saya yang berkarakter introvet ini.

“Saya bersyukur Puisi-Esai “Akulah Melayu Itu, Kau Halau Itu” telah dibukukan”, aku Damiri, yang saat ini memang selalu risau karena karya-karyanya cukup banyak belum dibukukan. Kumpulan cerpennya memang telah mulai di edit sastrawan muda Raudal T. Banua di Yogyakarta untuk diterbitkan. Kini, buku Rumah Tersembunyi Chairil Anwar, sedang mencari-cari penerbit.

Mudah-mudahan ada kalangan dermawan Sumut yang mau perduli dengan sastrawan kenamaan kita asal Sumut, Chairil Anwar ini.

Apa yang diperjuangkan Damiri sampai kini adalah memperjuangkan Melayu yang terpinggirkan.

Di tanah peninggalan ayahnya dipinggiran sungai Belawan, disitulah Damiri kini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menanam pepaya dan pisang.

“Dulu tanah peninggalan ayah ambe ini hektaran!” akunya.

Sebagaimana terpinggirnya Melayu secara Nasional, begitu juga nasib Damiri dan keluarganya.

Mengajar Cucu Bersajak

Bulan puasa lalu, Damiri serius mengajari cucunya membaca sajak untuk mengikuti sayembara. Cucu tertuanya baru saja duduk di bangku SMP.

Damiri memang tak mengharapkan cucunya, bahkan anak sendiri mengikuti jejaknya menjadi penyair.

Heran akunya, karena anak sulungnya, Fahmi punya kepintaran dalam matematika dan bergelar Insinyur Teknik Elektro.

”Heran saya anak saya Fahmi, pintar matematika”.

Pernah suatu kali Damiri satu angkutan kota dengan guru Matematika Fahmi, waktu itu yang masih SMP.

Guru mengatakan kalau-kalau Fahmi paling jago Matematika di kelasnya. Damiri hampir tak mempercayainya.

Kini anak sulungnya ini masih setia membawa kemana Damiri pergi berceramah dan menghadiri diskusi. Orang tua, yang tak pernah kehabisan kata untuk menulis ini, begitu selalu diharapkan kehadirannya dalam diskusi-diskusi sastra.

Dia selalu istiqomah dalam bersastra, tidak menyimpang dari sastra yang Islami.

Puasa Senin-Kamis sudah hampir sepuluh tahun dilaksanakannya, termasuk menghindari makanan makruh dan yang tak jelas asal-usulnya. Damiri memang tak pernah kehabisan kata dalam menulis!
*

Damiri Mahmud dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 1945. Karya-karyanya: Tiga Muda (1980), Aku Senantiasa Mencari (1982), Sajak-sajak Kamar (1983), Kuala (1975), Puisi (1977), Rantau (1984). Puisi-puisinya dimuat pula di Horison, Basis, Republika, dan lain-lain.
**
http://harian.analisadaily.com/rebana/news/damiri-mahmud-tak-pernah-kehabisan-kata/51434/2014/08/03

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito