Senin, 16 September 2013

Novel dan Nostalgia Asmara

Bandung Mawardi *
Lampung Post, 1 Sep 2013

KESUSASTRAAN modern di Indonesia bertumbuh bersama novel moncer, Sitti Nurbaya (1922). Marah Rusli (1889?1968) menulis novel itu merujuk ke biografi, nasib sebagai lelaki dalam belitan asmara dan adat istiadat. Marah Rusli hidup di zaman modern, menghirup modernitas dan memiliki jejak adat Minangkabau. Persoalan-persoalan pelik sulit ditanggulangi secara lugas, rawan menimbulkan polemik dan pertikaian.
Marah Rusli memilih novel, bentuk pengungkapan untuk kritik dan refleksi asmara berlatar adat istiadat, kolonialisme, modernitas, keindonesiaan.

Marah Rusli telah menjadi nama legendaris, tercatat di sejarah sastra Indonesia. Murid-murid di sekolah dan para pengarang selalu mengenal dan mengingat Marah Rusli, bermula dari sajian materi di buku pelajaran sampai ke soal-soal ujian. Marah Rusli memang pengarang kondang, mengajukan bacaan-bacaan mengesankan bagi publik sastra: Sitti Nurbaya (1922), La Hami (1952), Anak dan Kemenakan (1956). Pamusuk Eneste dalam buku Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1990) mencatat tentang judul novel garapan Marah Rusli meski diberi keterangan belum diterbitkan: Memang Jodoh.

Keterangan mengejutkan kita dapati saat penerbitan novel berjudul Memang Jodoh (2013) oleh Qanita. Di sampul buku, penerbit memberi imbuhan keterangan: Novel terakhir dari penulis Sitti Nurbaya. Penerbitan novel ini mesti menunggu puluhan tahun untuk terbit menjadi buku. Marah Rusli merampungkan penulisan Memang Jodoh pada 1961. Penantian panjang, mengandung alasan-alasan pribadi. Rully Roesli, cucu Marah Rusli, menerangkan: ?Buku Memang Jodoh adalah cara beliau untuk memprotes anjuran poligami dari keluarga di Padang.? Buku ini bisa terbit bergantung wasiat Marah Rusli. Novel Memang Jodoh boleh diterbitkan setelah orang-orang di penceritaan dalam novel meninggal dunia. Marah Rusli tak ingin memberi sakit dan luka bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Wasiat itu dipenuhi. Novel Memang Jodoh pun terbit, menjadi bacaan publik, mengingatkan nostalgia asmaranisme dan sentimentalitas mengacu ke novel Sitti Nurbaya.

Tokoh utama dalam novel bernama Marah Hamli. Pengarang sengaja menggunakan nama samaran, menghindari ketersinggungan atau konflik. Marah Rusli mengisahkan episode kehidupan di Padang, perantauan ke Jawa, asmara berbeda suku, pandangan politik, lakon pekerjaan, dunia keluarga. Penceritaan disajikan runtut, dari masa bocah sampai usia tua. Marah Hamli mengalami pelbagai cobaan dalam ikhtiar menggapai idealitas. Percampuran konflik keluarga, ketidakberesan studi, keterlenaan asmara diolah secara impresif, memunculkan renungan-renungan pelik.

Kehidupan di lingkungan adat sering menguak pertentangan diri dengan anutan publik. Resistensi bakal mendapati konsekuensi kebencian, pengasingan, permusuhan. Marah Hamli mafhum tentang biografi keluarga pecah akibat pelaksanaan adat istiadat, represi berdalih kesemuan harga diri. Perceraian ibu dan bapak mengakibatkan trauma, luka sulit tersembuhkan. Mereka dipisahkan oleh imperatif adat istiadat.

Marah Hamli tak ingin mengulangi, melawan poligami dengan pengharapan dan lara. Adegan-adegan kehidupan saat di Padang berlanjut ke Jawa untuk melanjutkan sekolah sering mengundang keharuan. Kita diajak menghampiri dunia batin para tokoh, merasakan gejolak emosionalitas.

Pengarang memberi keterangan: ??kutuliskan cerita Memang Jodoh ini, sebagai tanda mata bagi istriku terkasih, pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-50. Semoga menjadi kenang-kenangan bagi anak cucuku; karena cerita ini berisi seluruh kejadian kejadian dan peristiwa yang telah kami alami dan kami rasakan, selama setengah abad itu.? Pesan ini membuktikan keinginan Marah Rusli memberi warisan cerita, menurunkan hikmah hidup berbingkai asmara. Pernikahan dengan istri asal Sunda hendak dijadikan keteladanan agar anak dan cucu tak terkungkung adat di Minangkabau, menentang poligami meski menanggung derita dan lara. Pamrih mewariskan cerita mengesankan kejujuran bergelimang nasihat. Marah Rusli adalah penentang poligami berdalih adat, membahasakan perlawanan dengan menulis novel sebagai rujukan refleksi.

Perlawanan itu terjadi saat di Minangkabau masih menjalankan adat kuno. Marah Rusli mafhum perubahan zaman bakal turut mengubah anutan adat istiadat, memunculkan pengertian dan tindakan berbeda. Novel-novel Marah Rusli memang reaksi dari pemberlakuan adat, selama masa kolonial. Pengarang selalu berharapan poligami tak lagi diberlakukan, berbarengan perubahan situasi zaman. Novel-novel jadi dokumentasi masa lalu, bacaan untuk mengenang represi adat dan poligami. Penerbitan novel Sitti Nurbaya (1922) sampai perampungan penulisan novel Memang Jodoh (1961) tak dimaksudkan Marah Rusli untuk ?mencela, menghina, menempelak, atau menyesali kaumku sendiri.? Niat tulus Marah Rusli adalah mengingatkan tentang kepincangan-kepincangan pelaksanaan adat istiadat di masa silam.

Kita mendapati novel Memang Jodoh di abad XXI. Zaman berubah! Pembacaan novel hampir biografis tentang adat istiadat Minangkau tentu menjadi refleksi historis-kultural. Kita bisa menilik masa silam, mengerti kejiwaan manusia saat meladeni dilema adat dan modernisasi. Novel ini tersajikan dengan nuansa bahasa lawas dan dramatisasi merujuk ke romantisme Balai Pustaka. Kita sulit memberi tuntutan berlebihan untuk kebermaknaan Memang Jodoh berlatar situasi sastra di Indonesia abad XXI.

Novel ini mengajak kita kembali ke masa lalu, membaca cerita berhikmah meski sulit mengelak dari klise dan repetisi. Warisan Marah Rusli ini menggenapi nostalgia kolektif kita, sejak mengenal dan mengenang novel Sitti Nurbaya. Marah Rusli tak enggan memberi cerita meski kita mesti menunggu kehadiran Memang Jodoh selama puluhan tahun. Begitu.

*) Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/09/buku-novel-dan-nostalgia-asmara.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito