Minggu, 26 Februari 2012

Perempuan di Jendela

Jusuf AN
http://www.hariansumutpos.com/

Kita pernah menyimpan mimpi, atau lebih tepatnya angan-angan kosong tentang rumah itu. Rumah yang sekarang kau huni itu. Dulu, ketika kau masih sering bertandang ke kamar kos yang terletak di lantai dua yang sampai sekarang masih aku tempati ini, kerap kau membuka jendela, lalu menatap rumah itu lama-lama. Kau mengetahui kalau rumah bergenting biru itu tak ada penghuninya, menunggu ada yang mau menyewa. Dan kau mengungkapkan keinginanmu: ingin menikah denganku lalu tinggal di rumah itu. Rumah mungil sederhana yang dikelilingi sawah, “Berdua tinggal di sana, pastilah nyaman dan indah,” katamu.

Sekarang, apakah kau benar merasa nyaman dan indah? Hanya sebatas itu aku berani bertanya, dan itu semua aku tanyakan lewat tatapan mata. Sudah seminggu ini, setiap pagi mata kita selalu berjumpa di udara. Kau dari jendela rumahmu, aku dari jendela kamarku. Apakah kau pandai menerjemahkan bahasa mataku, Hany?

Kita memang pernah melewati waktu bersama selama lebih dari dua tahun lamanya. Aku tahu banyak hal tentangmu; apa yang biasa kau lakukan sejak bangun tidur hingga tidur lagi semuanya sudah kau ceritakan. Aku tahu kau tidak suka belanja, alergi dengan mall dan supermarket, tidak senang menonton televisi, penggemar novel petualangan dan senang makan ikan segar. Seperti aku, kau juga senang bersepeda santai, dan seringkali mengutuki asap knalpot ketika sedang berjalan. Tapi tetap, akan sulit rasanya bagi kita untuk bercakap-cakap dengan bahasa mata dengan jarak kurang lebih dari tiga puluh meter. Tak ada gerak bibir, lambaian, senyuman, atau cibiran. Tak ada yang bisa aku tangkap dari matamu kecuali keasingan.

Dan kini, pada pagi yang mendung ini, aku kembali menemukanmu. Aku kembali menjumpai keasingan dalam tatapan matamu. Aku tidak membuka gorden dan hanya mengintipmu. Kulihat kau bersandar pada kayu jendela yang memiliki engsel di bagian samping. Kau telah buka lebar-lebar daun jendela itu hingga kesiur angin mengibarkan rambut pirangmu. Hei, setahuku kau tak pernah memakai anting, tapi benda apakah yang mengerlip di dua cuping kupingmu itu. Ah, mungkin kau tidak lagi seperti kau yang dulu. Mungkin kini kau telah senang berdandan dan memakai perhiasan. Ya, bukankah itu wajar bagi seorang perempuan? Bukankah kau telah menempuh hidup yang baru. Aduh, kenapa aku seperti tidak rela dengan takdir yang membelitku? Kenapa kau mendadak penting untuk aku pikirkan, penting untuk kukenangkan?

“Aku tahu kau masih jauh untuk memikirkan pernikahan. Dan aku tak akan lagi mempermasalahkan itu,” katamu, ketika suatu hari kita tengah bersama menikmati udara senja di alun-alun kota.
“Aku rasa akan lebih menyenangkan jika kita tidak setiap hari berjumpa.”

Kenapa kini aku begitu menyesali kalimat itu? Kalimat yang entah kenapa membuatmu tak lagi berkunjung ke kamar kosku selama seminggu. Sungguh, Hany, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Dugaanku kalau kau benar-benar siap menunda atau membuang pikiran untuk menikah sementara waktu, ternyata keliru. Segera setelah menyadari kesalahan kalimat itu aku berkunjung ke kamar kosmu, tapi kata kawan-kawanmu kau sedang pulang ke Magelang. Dan aku hanya meninggalkan pesan pada kawan-kawanmu, jika kau kembali ke Jogja suruhlah datang ke tempatku. Dan seminggu kemudian, pagi-pagi sekali kau mengetuk pintu kamarku, membawakanku sebungkus nasi gudeg yang masih panas.

“Orang tuaku menyuruhku pulang,” terangmu, setelah terlebih dulu menyuruhku sarapan. “Aku kira kau sedang sibuk garap proyek penghijauan, jadi aku tidak memberitahukanmu.”

Tidak biasanya, pikirku. Tidak biasanya kau merasa takut untuk menggangu kesibukanku. Tidak biasanya pula kau sanggup menahan diam selema lebih dari sepuluh menit. Biasanya kau akan bercerita banyak hal, tentang kawan-kawan satu kos denganmu yang senang menghambur-hamburkan listrik dan kosmetik, atau tentang pembimbing skripsimu yang selalu menyalahkan kerja-kerjamu, juga ayahmu yang tidak bisa berhenti merokok. Tapi waktu itu, kau terdiam lama, duduk selonjor dengan kepala menunduk. Ketika aku sebut namamu, kau geragapan, seakan pikiranmu baru saja terseret arus yang kencang.
“Kau kenapa, Hany?”

“Mhh, baru saja aku mau bertanya begitu, eh kau sudah tanya duluan. Kau yang kenapa? Kenapa kau tidak menanyakan tentang orangtuaku yang menyuruhku pulang?”
“Jadi, kenapa orang tuamu menyuruhmu pulang?”
“Sangat berat untuk menjawabnya.”
“Orang tuamu sehat-sehat saja, kan?”
Kau mengangguk.
“Apa mereka tidak berbicara tentangku?”
“Mhh…”

“Sebenarnya aku ingin main ke rumahmu lagi, tapi aku tidak enak dengan ayahmu. Kelihatannya ayahmu tidak senang denganku.”
“Itulah, kenapa aku berat menerangkan padamu tentang kenapa orang tuaku menyuruhku pulang.”
“Benar kan, ayahmu tidak suka denganku, dengan penampilanku, juga pekerjaku yang tidak jelas? Aktivis LSM. Ha..ha..ha.. Pasti orang tuamu menertawakan pekerjaan macam itu.”
“Bukan itu.”
“Lalu?”

Kau kembali menunduk. Di kepalamu aku menebak ada sesuatu yang berkecamuk.
“Oran gtua jaman dulu, tentu kau tahu seperti apa.”
Aku belum dapat menebak arah pembicaraanmu.
“Sejak dalam kandungan, mereka telah menentukan hidup takdirku.”

Suaramu terdengar sumbang. Dan ketika kulihat matamu berkaca-kaca, aku segera merangkulmu, menyandarkan kepalamu di dadaku. Saat itulah, dengan suara isak, kau mulai membuka semuanya.

Bahwa kau sudah dijodohkan sejak dalam kandungan dengan seorang putra dari kawan dekat ayahmu. Kau mengaku baru tahu akan hal itu. Kau yang sadar benar seberapa besar pengorbanan orangtua merasa tak sanggup untuk membantah mereka. Lalu kau meminta maaf padaku seperti merasa sangat berdosa.

“Akan lebih berdosa jika kau tidak menuruti orang tuamu,” kataku. “Sudahlah, hidup ini terlampau singkat untuk bersedih. Jalani dan nikmatilah.

”Meski aku bersikap setegar pohon beringin tertua di alun-alun kota, tetapi kau seakan dapat membaca air mukaku yang mungkin merah padam. Kau memelukku kian erat. Lama dan semakin erat. Dan aku tidak menyadari, bagaimana kemudian diriku menjelma menjadi seekor kumbang yang kehausan, sementara bunga-bunga penuh madu bermekaran di atas tubuhmu.Bau keringatmu masih tertinggal di kamarku, Hany. Baju yang kau tumpahi dengan air matamu juga belum aku cuci ketika aku dengar kabar dari kawanmu bahwa kau telah benar-benar melangsungkan pernikahan. Segera setelah mendengar itu, aku membersihkan kamarku, sesuatu yang jarang aku lakukan.Tembok yang dulunya aku cat dengan warna hijau kesukaanmu kini aku ganti warna hitam legam. Aku semprot parfum autotheraphy yang sebenarnya tidak aku sukai. Aku buang semua fotomu dari dompet dan di komputerku. Aku cuci karpet dan semua pakaianku dengan deterjen yang berlimpah-limpah. Beraharap aku dapat melupakanmu.

Aku juga banyak menghabiskan waktu bersama kawan-kawan di kedai kopi, naik gunung, dan mulai kembali konsentrasi dengan buku-buku dan kerja-kerjaku. Beberapa nomor telepon perempuan juga sudah aku dapat, dan aku mulai rajin menulis SMS. Hampir saja, ya hampir saja aku dapat melupakanmu jika aku tidak pernah membuka jendela kamarku kemudian melayangkan mata ke jendela yang lain.

Kau masih di sana sekarang. Bersandar di jendela yang memiliki engsel di bagian samping dan telah kau buka lebar-lebar itu. Kau tetap tak berpaling dari menatap jendela kamarku. Sementara aku masih mengintipmu dari balik gorden dengan kepala yang berat, sesak oleh tanya.

Kenapa kau memilih tinggal di rumah itu bersama suamimu? Aku tahu, kau memang harus merampungkan skripsimu baru setelah itu pulang ke Magelang, tetapi bukankah kampusmu jauh di jalan Solo, dan banyak rumah kontrakan di sekitar sana? Mengapa kau memilih kontrakan di jalan daerah Kasongan?

Mungkin saat ini kau sedang berusaha keras untuk menerangkan pertanyaan-pertanyaanku itu lewat tatapan matamu. Tapi, bagaimana caraku menerjemahkan bahasa matamu, kecuali jika aku langsung berkunjung ke rumahmu dan menanyakan langsung.

Berkunjung? Bukan suamimu aku takuti, Hany. Aku hanya takut apabila setelah kunjunganku ke rumahmu, perahu keluargamu goyah, lalu pecah terbelah. Ah, apakah aku harus menyamar sebagai pencatat rekening listrik seperti di film-film komedi hanya untuk melihatmu dari dekat kemudian diam-diam menanyakan alasanmu tinggal di rumah itu? Konyol sekali!

Kau masih di sana sekarang. Tidak seperti biasanya, tak aku lihat suamimu merangkulmu dari belakang sebelum kemudian kau menutup jendela dan melangkah entah kemana. Cukup lama kau berdiri di sana. Sampai kemudian, aku melihat punggungmu terguncang-guncang, mulutmu terbuka mengeluarkan cairan. Kau muntah?

Mendadak aku jadi teringat saat terakhir kali kau bertandang ke kamarku pagi-pagi sekali dengan membawa nasi gudeg kesukaanku. Aku seperti dihentakkan dari peristiwa yang tidak pernah sebelumnya aku sadari akan terjadi. Peristiwa di mana diriku menjelma kumbang yang kehausan sementara di tubuhmu bermekaran bunga-bunga penuh madu. Mendadak aku bertanya-tanya, apakah kau sedang masuk angin, sampai muntah-muntah begitu? Atau kau, hamil? Mendadak aku sangat mencemaskanmu, Hany. Apakah suamimu tahu bahwa kau tak suci lagi saat dinikahi lalu mencampakkanmu yang kini hamil? Ah, mudah-mudahan kau hanya masuk angin.***

Wonosobo, 2008

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito