Kamis, 20 Oktober 2011

Frederick Delius (1862-1934)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2010/03/frederick-delius-1862-1934/

Fritz Albert Theodor Delius lahir di Bradford, Yorkshire, Inggris 29 Januari 1862, orang tuanya dari Bielefeld, Jerman. Belajar biola dan piano hingga mahir sebelum remaja. Menghadiri Bradford Grammar School (1874-1878), dua tahun di International College London, magang di bisnis ayahnya. Maret 1884, membujuk ayahnya untuk dirinya budidaya jeruk di Florida, Amerika. Di sana memainkan piano menemukan sumber lokal pelajaran teori, sebuah organ Jacksonville bernama Thomas Ward mempengaruhi. Menyerap nyanyian negro pekerja, didokumentasi dalam Florida Suite (1886-1887).
Tinggal satu setengah tahun sebelum ke Danville, Virginia dengan percaya diri mengajar musik. Menuruti anaknya untuk pendidikan musik, mendaftarkannya di Leipzig Conservatorium, di mana Delius belajar (1886-1888). Ke Paris hampir satu dekade, beranjak dari menulis lagu skala kecil instrumental, orkestra potongan opera Irmelin (1890-1892), The Magic Fountain (1894-1895), Koanga (1895-1897). Orkestra lebih besar suara solo, Paa Viderne (1888), Sakuntala (1889) Maud (1891) dan tahun 1889 menyelesaian puisi simfoni Life’s Dance (versi pertama). The eklektisisme dalam karya-karya terbukti inspirasinya dari sastra Inggris, Norwegia, Denmark, Jerman, Perancis, Abad Pertengahan, Indian Amerika Utara dan Negros, Florida lansekap dan mountainscape Skandinavia. Dengan semua karya luar biasanya selesai, Frederick Delius meninggal di Grez-sur-Loing 10 Juni 1934. Istrinya hidup lebih lama satu tahun, keduanya dimakamkan di Limpsfield, Surrey, Inggris. {ringkasan terjemahan dari http://www.delius.org.uk/g_biography.htm}

Orang mengatakan irama musiknya lamban, tapi harmoninya halus memikat. Musik Delius membawa kita ke tempat-tempat yang sepi sunyi, di mana manusia seperti pada Debussy tenggelam ke dalamnya. Selamanya Delius seakan-akan terbalut kabut atmosferis, udaranya dalam alam. Penyair musik hidup bertahun-tahun dalam segala kesepian di Florida, tempat puitis yang dipuja-puja Chateaubriand dan Longfellow. Berhari-hari tak melihat orang; lebih menjadi mendekati suara-suara alam padanya. Walaupun menulis sebuah kwartet gesek, bentuk istimewa demi musik absolut, Delius tak bisa melepaskan dirinya dari pelukisan alam, dan menamakan bagiannya yang lambat dengan Late Swallows. Musik Delius terutama berbicara pada pancaindra kita, mempunyai sesuatu yang mengusap seperti puisi Keats. Orkes padanya bisa menghidupkan warna pula bau-bauan maupun bunyi-bunyi. Tak ada penyair musik lain yang bisa seperti Delius, menyalin dari alat-alat kayu warna-warni hijau serta merah tua panas, yang kita jumpai kembali dalam pemandangan alam Turner dan Constable. Pun bisa menghidupkan suasana seperti Shelley. Delius dalam tahun-tahun terakhirnya menyendiri di sebuah desa kecil di Long (Seine) Prancis. Menjadi buta seperti Bach, namun dalam musiknya melihat pemandangan indah penuh warna pula tiada lain yang mampu menyulap warna-warna dari bunyi musiknya. {J. Van Ackere, buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***

I
Lambannya irama Delius, merambati kulit-kulit tubuh sampai dasar perasaan.

Kesadaran halus memikat, dengan harmoni dipenuhi warna kembang kekaguman.

Menjelajahi sunyi tanpa terasa, mengajak pancaindra khusyuk dalam jiwa.

Segalanya tampak meruang, namun tiada tersentuh, serupa rahim malam tak bertepian.

Bayang-bayang jelas bermakna, melewati jari-jemari manusiawi paling santun dapat ditelusuri.

Menerbitkan pemahaman, kala larut dalam pelukan hening; kesungguhan tak disertai harapan lain.

Diri yang hendak menjangkau jiwa, memohon seluas cakrawala membukakan cadar semesta.

Atau rongga lautan menjelma persetubuhan musik, suara-suara pribadi terbuka katubnya.

Di puncak gemintang terang sulit terjangkau, namun telah melekat bersama kalbu kembara.

Jiwa larut ke persinggahan damai, kerasan berlama-lama, betah di singasana asmara.

Saat iramanya berangkulan, terhempas niatan jahat, tinggal hanya kerelaan.

Kepasrahan menggayuh rupa, tertanda di bathin sukma menjelajahi suka duka.

Kesunyian merapat, tegaslah percampuran jasad melembur ke alam tak dikenali.

Tapi sungguh, mimpi-mimpi hadir sangat nyata, terbangun pelahan;

darah, daging, tulang, nafas-nafas purba membuncah mensyiarkan dahaga.

Delius dibalut aroma udara paling lembut, yang dilahirkan ruh cahaya sejuk menyinarkan ketentraman.

Merawat nyanyian jiwanya diperoleh nilai-nilai puitik, atas pantulan warna alam beribu jumlah.

Menghisap seluruh dinaya, melayarkan tanya melaju sumringah.

Ricikan suara ombak di bibir berdecak, gairah gelombang terhanyut ke segenap kepemilikan.

Oh penyair musik, yang dikaruniahi kejelasan pandang, cahaya warna mampu dipilah-pilah.

Serpihannya diterbangkan langgam agung. Tiada nafasan sampai, kecuali tenggelam di kedalaman.

Alam menghantarkan puja-puji, mengangkat derajat penciuman melebihi tatapan.

Kerelaan asyik-masyuk dalam gelinjang badani, nikmatnya tergila-gila kepastian.

Betapa sahaja jiwanya, mampu bedakan harum bunga-bunga, dalam hampir setarikan nyawa.

Menjelma jutaan penjelasan, yang hadir kesungguhan dari sesuatu kerahasiaan.

Seperti para penyimak merinding, pada tarian sulit diletakkan.

Senantiasa menggetarkan sekian pandangan. Kepurnaan hayati, maknai hidup takkan selesai.

Meski bersab-sab reingkarnasi pengetahuan, selalu tak mampu dipergamblang, tapi musik Delius menyuguhkan jiwa lapang para pencari.

Para penyimaknya seakan tak rela keluarkan nafasan suara, selama bergumul keintiman.

Lelap pun tak direla disengaja, kecuali memasuki ruapan halus, alam lembut menggoda relung jiwa.

Atau tatkala menenggak irama cemerlang, sudah tak sadar mengolah nafas.

Kesatuan kesadaran, rintikan gerimis meremaja, detik usia mencapai kematangan tiada kesulitan.

Berhari-hari dalam keintiman, tiada rongga nafas mengeluarkan kesia-siaan. Tapak-tapak lembut mendaki pegunungan musik keabadian.

Kepada dirinya, alam maha cantik berduyun-duyun berpakaian sutra berselentang pelangi;
fajar ranum siang larut di rendaman air gunung.

Sore hari purnakan senja dengan sayap-sayap merentang, menuju ufuk dunia di balik kabut masih terpendam.

Jiwa Delius memasuki gelembung air atas nafas telah diperhitungkan, terangkat pelan menyamai purnama, kala surya menyinarkan pemahaman.

Nafasan fitri memendarkan cahaya ke dasar malam, oleh siang membutakan.

Ada lingkaran musik terapung; hampa udara dalam kehampaan hayat.

Sapuan kuas bulu kuda di belahan alam tropis perawan; tiada musik selain keadiluhungan diambil pelahan.

Bulir-bulir embun bersedia mencipta kapan saja, tidak harus menanti kematangan masa-masa.

Pada kulit perasaan penyair musik, segenap waktu menjelma nyanyian.

Bersimpuh alam melimpahi kecerdasan, tidak ternodai dengki maupun pamrih kedirian.

Kalau saja gedung pertunjukan terbakar dilahap api menjalar. Para penyimak takkan sadar, larut dalam keriangan kepasrahan.

Totalitas jiwa musiknya melantunkan tembang memenuhi rasa, seolah jemaat di dapan mimbar tuhan.

Di sini keangkuhan runtuh, serupa ujaran R. Ng. Ronggowarsito;

Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (keangkaraan akan lebur dengan sikap lemah lembut).

II
Jikalau novel kamus hidup atas pengarangnya, dan teruntuk pembaca menelusuri lekuk leliku penceritaan.

Musik perbendaharaan jiwa, demi menemukan makna perasaan, yang diterbitkan sedih, sunyi pun gembira.

Delius menghadirkan warna mengusap bathin, menggelombang lembut hanyutkan pendengar.

Menemui pancaindra jauh ke dalam, bulir-bulir dijatuhkan irama yang beterbangan.

Melayang-layang mengapung, tiada lelah bertenggelam, meski sudah dihentikan.

Suara kenangan abadi, kesaksian lahirnya penciptaan dari masa-masa kekekalan.

Kesahajaan menuruti lakon hidup yang digayuh, melapangkan kepastian. Merentangi kesadaran, sejauh cakrawala pandangan.

Begitulah Delius membangkitkan alam bunyi, bau-bau kembang memantul ke dasar hati.

Kumandang kemegahan teks yang sanggup melukis, musik mementaskan orkestra atas panggung keindahan.

Peristiwa demi peristiwa dilalui tidak hendak pergi, dorongan bathinnya selalu menjelajah.

Mengarungi kuntum-kuntum puitik, menjamah setiap perasaan, terkabullah harmoni memikat.

Dan tahap tingkatan usia sejenis ondak-ondakan rumput pepadian.

Pada nafasan gunung pencapaian, musik klasik menyembulkan citra lukisan.

Tekstur kayu yang tumbuh serupa pohon memberi nafas-nafas sekitar.

Dedahan patah kering disulanya dalam alunan menghijau.

Ada kematangan mental, tatkala jiwa bersedia menggumuli keteguhan belajar digenapi indra.

Di layarkan imaji menyeruak bathin bermusik, menghantar pada alam yang pernah dijumpai.

Menyusuri kemungkinan terjadi, drama getarkan detak nadi, memuntahkan ganjalan sehari-hari.

Jauh kepada lahan-lahan tak terbilang, wilayah belum tertandakan. Tapi sudah mendapati ruang kalbu keniscayaan.

Terkadang membentuk titian menyeberangi sungai-sungai berarus menderas dan ganjil.

III
Meski Delius bukan sosok pelukis, tapi telah mampu membangun ingatan purba.

Ketika mengalami kebutaan, rekaman warna kian kentara;

kerinduan cahaya memantul dalam, alunannya meresap ke relung insan yang mendamba ketenangan.

Ada yang didapati lebihi sebelumnya, hitam nasib menekan-menyudutkan pendengaran jauh.

Melampaui suara-suara jaman lampau ke pementasan dunia.

Ini tak dapat dicapai dalam kepasrahan mereka, mengangkat warna jiwa dari dengungan nikmat.

Musiknya menggambar panorama kejayaan, ke setiap penglihatan.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito