Selasa, 06 September 2011

Pengembangan Sastra di Jawa Timur

Tengsoe Tjahjono*
http://www.surabayapost.co.id/

(1)
Sastra Jawa Timur tentu tidak dapat dipandang sebelah mata dalam konstelasi sastra Indonesia. Banyak pengarang besar seperti Budi Darma, Zawawi Imron, Nirwan Dewanto, Ratna Indraswari Ibrahim, dan sebagainya berkarya dan berkembang dari wilayah ini. Belum lagi para pengarang dan kritikus muda seperti Shoim Anwar, Mashuri, W. Hariyanto, dan sebagainya yang tulisan-tulisannya mampu membangun daya gugah. Serta secara kultural Jawa Timur merupakan rajutan banyak budaya lokal yang unik.

Berdasarkan kenyataan itu banyak agenda yang bisa digarap oleh kita semua dalam rangka mengembangkan dan menghidupkan sastra di Jawa Timur.. Hal-hal itu ialah: (1) Posisi Sastrawan Jawa Timur dalam Konstelasi Sastra Nasional, (2) Peta Cerpenis/Novelis Jawa Timur, (3) Peta Penyair Jawa Timur, (4) Peta Penulis Naskah Drama Jawa Timur, (5) Perkembangan Sastra Etnis Di Jawa Timur, (6) Warna Lokal dalam Sastra Jawa Timur, (7) Peran Kritikus Sastra bagi Perkembangan Sastra Jawa Timur, (8) Peran Media Massa terhadap Perkembangan Sastra di Jawa Timur, (9) Pendidikan Apresiasi Sastra di Sekolah dengan Muatan Lokal, dan (10) Peran Komunitas Sastra dan Jaringan.

Posisi Sastrawan Jawa Timur

Membaca karya-karya sastrawan Jawa Timur, baik itu berupa puisi, cerpen, novel, maupun teks drama sesungguhnya tidak kalah menariknya dengan para pengarang yang selama ini diberi label ‘nasional’ oleh Jakarta. Membaca puisi Herry Lamongan, Hidayat Raharja, atau Rusdi Zaki misalnya akan kita temukan getaran puitika. Membaca cerpen-cerpen Leres Budi Santosa atau R. Giryadi misalnya akan kita jumpai keunikan-keunikan ekspresi. Demikian pula saat kita membaca naskah drama Meimura dan Anas Yusuf.

Hegemoni Jakarta itu membuat buku teks pelajaran sastra di sekolah pun dipenuhi oleh penggalan puisi, cerpen, dan drama dari pengarang yang memiliki dominasi. Jadilah pengarang Jawa Timur subordinasi dari sebuah sistem besar yang bernama Sastra (Nasional) Indonesia itu. Kebakuan dan kebekuan semacam itu mestinya harus didekonstruksi. Sastra adi bisa saja lahir dari para kreator Jawa Timur.

Peta Sastrawan

Di Jawa Timur ini ditemukan kantong-kantong sastra. Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Malang. Batu, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Madiun, Ngawi, Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Bangkalan dan Sumenep merupakan wilayah yang memiliki denyut sastra. Denyut sastra muncul karena konteks beragam. Pemicu denyut itu bisa berupa: (1) komunitas sastra, (2) ketokohan seseorang, (3) sekolah, (4) pesantren, (5) dewan kesenian, dan (6) perguruan tinggi. Enam hal itulah yang selama ini terlihat mampu membangun denyut nadi sastra. Oleh karena tidak terlampau salah bila kita berharap pula kepada mereka untuk selalu berupaya membangun terus kondisi posisif kesastraan demi perkembangan sastra.

Dengan melihat kantong-kantong sastra itu kita bisa melihat peta sebaran sastrawan Jawa Timur. Inventarisasi dan dokumentasi terhadap kiprah dan karya sastrawan Jawa Timur dan komunitasnya tersebut dapat kita pakai untuk menyusun sejarah sastra Jawa Timur yang secara sepenggal-penggal telah dimulai oleh almarhum Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo.

Sastra Etnis di Jawa Timur

Jawa Timur merupakan wilayah multietnis dan multibudaya. Ada tiga tradisi sastra etnis yang berkembang secara baik di Jawa Timur ini yaitu sastra Jawa, sastra Madura, dan sastra Osing. Sastra etnis merupakan kekayaan tak terhingga bagi Jawa Timur karena justru sastra etnis yang sungguh-sungguh memancarkan perilaku keseharian, bahkan ideologi masyarakat. Mungkin saja orang akan lebih mudah berpikir dan memutuskan masalah dengan bahasa ibunya daripada dengan bahasa Indonesia. Lebih mudah mendidik moral anak-anak bangsa dengan bahasa etnisnya daripada dengan bahasa Indonesia.

Kosa kata, idiom, dan tradisi etnis ini bisa saja mempengaruhi sastra Indonesia di Jawa Timur. Dampak pengaruh itu salah satunya memberi warna lokal dalam sastra Indonesia. Begitu besar sumbangsih sastra etnis demi pendidikan anak bangsa dan pemberian warna lokal, maka sudah sewajarnya harus tetap dipelihara, bahkan dikembangkan.

Peran Kritikus

Dalam sistem kemasyarakatan sastra antara sastrawan dan teks sastra, kritikus dan analisisnya, pembaca dan resepsinya, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Kehadiran mereka secara laras dan imbang akan mewarnai denyut dan nafas sastra. Kritikus itu hendaknya dipandang sebagai kreator lain di samping sastrawan itu sendiri. Jika sastrawan menulis berdasarkan kepekaan kritis dan estetik dalam menangkap gejala sosial dan fenomena di lingkungan hidupnya, kritikus menulis berdasarkan teks-teks sastra yang berserakan di sekitarnya. Kehadiran kritikus akan menciptakan kegairahan kreatif karena adanya gelombang kritik (yang mestinya selalu membangun) dari para kritikus tersebut.

Bahkan, kritikus bisa didudukkan sebagai komunikator dan provokator. Sebagai komunikator ia bisa menjadi jembatan antara kesenjangan pembaca dengan teks sastra. Tugas kritikus bukanlah menghilangkan kesenjangan tetapi menemani pembaca dalam meniti jembatan untuk sampai pada kekayaan penafsiran. Sedangkan sebagai provokator kritikus diharapkan bisa mempengaruhi pembaca agar mau membaca sastra. Dari aktivitas semacam itulah sistem sosial kesastraan bisa hidup dan terus hidup.

Siapakah kritikus sastra Jawa Timur? Inilah persoalannya. Orang lebih senang menjadi penyair atau cerpenis daripada menjadi penulis kritik.

(2)
Sastra ditulis untuk dikomunikasikan. Oleh karena itu sastra amat memerlukan media. Media massalah sebenarnya yang amat efektif sebagai media komunikasi sastra karena media massa selalu memiliki publik. Hanya saja sastra selalu kalah dengan ruang iklan. Tampaknya sastra dianggap tidak memiliki kontribusi ekonomi bagi media massa itu. Banyak koran yang terbit di Surabaya dan di Malang, tetapi hanya sedikit yang memberikan ruang terhadap sastra.

Koran semestinya tidak sekadar berpikir aspek bisnis semata, tetapi juga aspek kultural. Berita-berita kesenian yang terbatas pada entertainment semata hanya membuat orang hidup dalam dunia mimpi, dunia kaum selebritis, yang sebenarnya jauh dari kenyataan dunia pembaca apalagi Indonesia. Berita semacam itu hendaknya diimbangi dengan tulisan-tulisan yang lebih menukik kedalaman kesadaran, misalnya melalui cerpen, puisi, maupun kritik. Ada dua hal yang dapat dipetik: (1) sastra berkembang, dan (2) pembaca diajak untuk menambah wawasan lain melalui karya sastra.

Pendidikan Apresiasi Sastra

Kurikulum kita sekarang ini berbasis kompetensi. Dalam pendidikan sastra arah pembelajarannya ialah kemampuan siswa bersastra. Oleh karena itu orientasi teoretik hendaknya dikurangi dan diarahkan justru pada kegiatan apresiasi yang meliputi kegiatan resepsi, produksi, performansi dan dokumentasi. Untuk menunjang kegiatan itu bisa saja secara periodik sekolah mengundang para sastrawan ke sekolah. Hal itu bisa dilakukan dengan melakukan kerja sama dengan dewan kesenian di diaerah masing-masing.

Selain itu materi pembelajaran hendaknya juga diisi karya-karya para pengarang Jawa Timur, tidak semata-mata para sastrawan yang selama ini diberi label nasional itu. Karya-karya Anas Yusuf, Rahmad Giryadi, Zoya Herawati, Setiawan, dan sebagainya dapat dipakai sebagai sumber atau materi pembahasan karya sastra. Dengan demikian siswa tidak hanya mengenal Amir Hamzah, Chairil Anwar, STA, Sapardi Djoko Damono, dan sebagainya.

Peran Komunitas Sastra dan Jaringan

Sastrawan merupakan profesi yang sebenarnya bisa dijalankan secara sunyi. Artinya, tidak perlu melibatkan orang lain. Tetapi, dalam hal tertentu motivasi eksternal pun diperlukan. Melalui komunitas, formal maupun insidental, mereka saling mendiskusikan karya mereka, bahkan mendiskusikan kecenderungan perkembangan estetika mutakhir. Dari situlah mereka bisa membangun warna dan kegairahan berkarya. W. Haryanto, Indra Tjahyadi, dan kawan-kawan mampu membangun komunitas yang melahirkan warna surealisme dalam karya-karya mereka. Hal semacam itu tentu sangat positif. Sanggar Triwida Trenggalek, Barisan Seniman Muda Blitar yang diprakarsai Bagus Putu Parto, Forum Bias Sumenep yang dipimpin Syaf Anton, Komunitas Rabu Sore Surabaya, dan sebagainya merupakan komunitas-komunitas yang berhasil di masanya.

Di samping itu juga perlu dibangun jaringan antarsastrawan, antarkomunitas, antarwilayah, dan antarnegara. Jaringan ini sangat diperlukan agar kita bisa mengkaji perkembangan sastra di tempat lain demi perkembangan sastra di Jawa Timur.

Agenda-agenda

Apa yang saya tulis di atas merupakan lemparan gagasan, atau mungkin obsesi saya demi perkembangan sastra di Jawa Timur ini. Agenda-agenda yang saya tawarkan tersebut saya pandang memiliki nilai strategis bila kita benar-benar ingin membangun jati diri sastra Jawa Timur dan mengembangkannya..

*) Penyair tinggal di Malang

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito