Rabu, 05 Januari 2011

Soal Nama Pengarang; Imamuddin SA, Pringadi AS, M.D. Atmaja

Nurel Javissyarqi*

Dulu, semasa merasakan atmosfir dunia kepenulisan di Jogja, sebuah nama kepengarangan seseorang kerap membentuk diskusi tersendiri di sela-sela proses kreatif. Kadang menjadi ajang olok-olokan sampai tataran realitas nasib hingga ke alam klenik di balik sebutan tersebut. Seminimal kami lakukan bersama pengarang Iman Budhi Santosa, K.R.T. Suryanto Sastroatmodjo, Hamdy Salad, Mathori A Elwa, Joni Ariadinata, Abdul Wachid B.S., Amien Wangsitalaja, Teguh Winarsho AS, Binhad Nurrohmat, Satmoko Budi Santoso, Sri Wintala Achmad, Marhalim Zaini, Raudal Tanjung Banua, Y. Wibowo, Akhmad Muhaimin Azzet, Abdul Azis Sukarno, Sriyono Daningrono, di waktu berbeda-beda saat menanti baca puisi, acara bedah buku pun sekadar begadang di sanggar.

Sebagian darinya ada nama-nama dibikinkan temannya. Setidaknya didiskusikan pada kawan-kawannya, sebelum dipublikasikan beserta karya di lembar surat kabar, selain disematkan seniornya, semisal Raudal Tanjung Banua oleh Umbu Landu Paranggi, pun ada yang yakin atas pilihan sendiri. Paling tidak aku pernah menggunakan identitas pemberian cerpenis Joni Ariadinata, berinisial Nurla Gautama, dalam hatiku masa itu merasai harus ada penghianatan dikemudian hari, tentu dengan energi lebih besar dibanding proses kreatif sebelumnya.

Nama ibarat doa, plakat, stempel, judul tercetak tebal, baju kebesaran &sb. Di kedalamannya ada ruh menaungi auranya, meruapi air memberkah pesona melanggengkan pemakainya. Seperti pujangga R. Ng. Ronggowarsito di bawah karya-karyanya tertera tanda tangannya serupa ular naga. Jika diselidik ke dalam bahasa Sansekerta, ular naga bermakna pujangga. Demikian nama-nama di samping tanda tangan pemiliknya mempunyai kandungan ruhani yang tak bisa dianggap sepeleh. Darinya cahaya takdir dapat dikenali lekuk lelikunya, sekelokan sampur penari jiwa-raga, dan luk (kelukan) keris bersetia menempa nasib empunya dalam melakoni hayat atas penghayatan diembannya.

Sastrawan William Shakespeare mengatakan dalam dialog Romeo-Juliet: “Apalah arti sebuah nama? Meski pun kita menyebut bunga mawar dengan nama lain, wanginya tetap harum.” Cukup tinggi tingkat resiko melencengnya makna yang diharap, dan dirinya tidak hanya mengguratkan beberapa karya, tidakkah karya-karyanya melimpah? Puisi-puisi panjangnya luar biasa, serta naskah-naskah dramanya, untuk melunasi kata-kata tersebut atau mengukuhkan jalan hidupnya, agar perselisihan yang hadir menemukan harmoni sahaja. Suatu alur panjang mematenkan sebutan pengarangnya.

Nama itu cermin diri sebatu-batu berbentuk mutiara yang dipahat, sudut-susut tempaanya memantulkan cahaya, sejumlah ketentuan sudah ditakar sebelumnya, dihitung sesuai kodrat-iradatnya, ikhtiar ialah olah raga bathin, peleburan pribadi ke dalam karya. Atau kaca benggala bersimpan perbendaharaan tersembunyi, sekandungan pengetahuan bagi menelusuri dan mendenyutkan nafas kasih sayang-Nya. Nama sebagai panggilan, Kahlil Gibran berujar: “Kata paling indah di bibir umat manusia ialah Ibu, dan panggilan terindah Ibuku". Demikian nama serta kata menyeruak wewujud lelapisan tak terkira, memberi informasi kediaman cangkang telur berisi nilai-nilai manfaat yang ada di dalamnya.

Perubahan nama paling revolusioner menurutku serupa sastrawan filsuf Perancis, François-Marie Arouet menjelma Voltaire, penyair Guillaume Apollinaire, nama aslinya Wilhelm Albert Vladimir Apollinaris Kostrowitzky, dan awal gelar Caesar sebab nasib kelahirannya melalui bedah caesar atau sebaliknya. Yang tak puas mengikuti nama nabi, diangkutnya ketiga nama disatukan sekaligus seperti penulis Muhammad Isa Dawud. Nama-nama memiliki keunikan sendiri, punya wibawa masing-masing, menggembol kharisma berbeda-beda, pula jatuh kepada bayang-bayang yang lekat kepadanya.

Di Indonesia menggejala penyingkatan nama, malah ada beserta titel hajinya, misalkan pengarang filsuf Haji Abdul Malik Karim Amrullah, terkenal sebutan Hamka, Abdurrahman Wahid dapat dipanggil Gus Dur, Hans Bague Jassin menjadi H.B. Jassin, sastrawan Willibrordus Surendra Broto Rendra menjelma W.S. Rendra, budayawan Halim H.D., Maman Soetarman Mahayana, dikenal Maman S. Mahayana, Suminto A. Sayuti, pula kritikus Faruk H.T., penulis Teguh Winarsho AS, Muammar Emka, belakangnya dari singkatan nama orang tuanya, atau menjumput sebutan marganya; Bahrum Rangkuti, Hamsad Rangkuti, Sitor Situmorang, Saut Situmorang, Bokor Hutasuhut, Budi Hutasuhut, Iwan Simatupang, Sihar Ramses Simatupang &ll.

Nama-nama yang identik dengan penelitiannya; Koentjaraningrat, Kuntowidjojo, Suwardi Suryaningrat yang sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, Suryanto Sastroatmodjo, tetapi Budi Darma kukira kurang pas atas hasil-hasil karyanya jikalau ditengok sedari nama, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Hudan Hidayat, sama pada beberapa karyanya, Wiji Thukul kurasa sesuai atas perjuangan kaum proletarnya. Mochtar Lubis tampak sepadan, Fahrudin Nasrulloh seimbang, Chairil Anwar ngepop, nama Ahmad Tohari, Taufiq Ismail cocoknya penceramah. Nama-nama keren seperti Diponegoro, Muhammad Yamin, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Nicolaus Driyarkara, Sam Ratulangi, Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Katrin Bandel, Bre Redana, Gerson Poyk, Tan Lio Ie, Lan Fang, Oka Rusmini, dan Putri Sarinande, sedangkan Soekarno terdengar ndeso, kecuali bersebutan Bung Karno.

Nama membentuk watak-perilaku orang-orangnya; Pramoedya Ananta Toer, Remy Sylado, Abdul Hadi W.M., Zainal Arifin Thoha, Acep Zamzam Noor, Putu Wijaya, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman, Abidah El Khalieqy, Hadjid Hamzah dengan nama samaran Hendrasmara. Nama yang aneh seperti AS Laksana, Nu'man 'Zeus' Anggara, Ribut Wijoto, S. Jai, S. Yoga, Sutardji Calzoum Bachri, Udo Z. Karzi, Afrizal Malna, Herry Lamongan, Bambang Kempling, Wa Ode Wulan Ratna &st. Nama-nama pada judul catatan ini, bisa dibilang aku yang menawarkan kepada pemiliknya. Imamuddin SA aslinya Imam Saiful Aziz, saat awal kepengarangan ia menyepakati perubahan tersebut. Selanjutnya melalui telepon, Pringadi AS mulanya Pringadi Abdi Surya, kala mendekati cetak antologi puisinya "Alusi" dan menyetujui. Malah M.D. Atmaja sudah menerbitkan novelnya "Pembunuh di Istana Negara" bernama Dhian Hari M.D. Atmaja, tidak keberatan kuubah diawal posting karya-karyanya di webset sastra-indonesia.com yang terus dipakainya.

Nama yang kemunculannya memboyong dinaya tertentu serta berhasil menggulirkan perkaranya; Tao Te Ching membentuk Taoisme, Karl Marx menjelma Marxisme, Niccolò Machiavelli mewujud Machiavellisme, Samin menjadi Saminisme &ll, dengan rentang umur nafas cadangannya di atas kelenturan jemari tangan para pengikutnya. Sampai di sini, sebuah nama ternyata sanggup menghantui, rupa-rupa terus bergentayangan menjamah jaman-jaman setelahnya, kelayapan mengunjungi abad-abad sesudahnya, sanggup mencipta pilar-pilar peradaban. Antara kisaran itu banyak pula yang tumbang tak bernafas sumringah, tak memekarkan sekuntum bunga harum memesona, ludes ditinggal masa, tertimbun abu sejarah, terkubur kekayaan keduniawiannya, yang nanggung laksana kelebaran tidak jelas, pun ada senantiasa memancar sebintang terang dan sebagainya.

Nama sangat lekat dengan peristiwa-peristiwa yang menancapkan ruh daripada simbol keberadaannya, makin besar konflik yang ada di dalamnya, kian kuat terekam sejarah. Dan para pemiliknya orang-orang bersungguh menempa kebodohan diri, merangkaki perbukitan terjal cibiran, fitnah, warna kemayu tipu daya, dengan perluasan makna menyeluruh para kaumnya. Atau mereka hidup tak sekadar bagi kepentingan pribadi, keluarganya, tetapi demi kemakmuran bangsanya, minimal golongannya, partainya. Tentu terketahui, sekokoh apapun benteng pertahanan, jikalau tidak diniatkan untuk seluruh umat, mudah tercium derajat capaiannya, dan para penemu bisa dikelompokkan yang bersih dalam penyelidikannya.

Dalam tradisi Jawa ada unen-unen, kabotan jengen atau keberatan nama. Istilah itu muncul kala pembuatannya diikuti tidak sehatnya anak manusia sewaktu disematkan namanya, maka dirubah dengan anggapan setelah diganti tidak sakit-sakitan. Pun penggantian nama di tanah suci, demi sekembali haji, tingkah-lakunya baik dikemudian hari. Seakan nama membentuk takdir sendiri, mencetak tekstur sesuai dinamai, ini pulalah menempel pada nama negara atau kecondongan watak bangsa menjelma pengistilahan. Nama bersama empunya terikat atau jua sebutan jaman menandai corak tertentu, yang menonjol diketengahkan untuk suatu penamaan.

Lebih jauh di tanah Jawa ada upacara ngeruwat semacam ritual selamatan yang penetapannya mencari bulan, minggu, hari sampai masa terbaik di dalam setahun berdasarkan hitungan hari pasaran, di dalamnya tak lebih menancapkan aura nama pemiliknya agar tidak lepas segenap takdirnya, dengan permohonan dianugerahkan kemudahan menapaki tangga kehidupan atau tanda syukur kehadirat Sang Asih. Di balik huruf suatu nama ada kandungan makna, punya alur filosofi, bagi terbiasa menyelidiki perihalnya, seperti hukum Tuhan bisa ditilik sifat-sifatnya, kecondongannya membentuk aturan yang dapat dikaji, digali mendalam demi perolehan dikedepankan ke jenjang pengetahuan dicapainya. Sebab itu, nama punya ruang sendiri segurat-tangan menandati pribadi pengguratnya.

Tapi semua itu tak lebih berfaedah sekadar hiasan jikalau empunya nama tak bersungguh menempuh jalan takdir dipangkunya, hanya menyerupai baju yang mencipta pembodohan misal paribasan Jawa: "Ajine rogo songko busono atau bernilainya badan sebab pakaiannya." Ini kerap dipolitisir orang-orang berpangkat yang hendak menduduki jabatan pun melanggengkan kekuasaan di pemerintahan pula dunia perdagangan. Pergantiannya dihasratkan memengaruhi orang lain, aman dari tangan tak dikehendaki, golongan berseberangan, manakala konflik etnis sejenis membahayakan pemilik nama.

Nama menandai prestasi tertentu moyangnya, ini yang mencantelkan marga kesukuannya, pun dari orang tuanya tokoh disegani dalam lingkungannya, namun lagi-lagi hanya pengabdian terhitung di hadapan masyarakat, ketulusan berjuang demi umatnya menjelma rantai gaib menyambungkan tali silaturrahmi, wujudnya macam-macam sesuai yang diwariskannya. Dan nama sebutan itu, kalau terucap akan liar menjelajah sejauh pengembaran padanya, sekuat rekaman terkandung kepadanya, setangguh karakter telah dilakoni. Lantas bagaimana bergerak? Berkehendak? Berbicara serta dipanggil? Kalau tidak memiliki nama... Akhirnya nama-nama kembali pada sang empunya.

6 Januari 2011
*) Pengelana asal desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

sastra lamongan itu sejauh mana sih perkembangannya???
apakah ada suatu sanggar atau forum yang terdiri dari kumpulan penulis - penulis muda dan juga apakah forum - forum ini tidak mengadakan pelatihan menulis??

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito