Rabu, 30 Maret 2011

Irshad Manji: Idola Kaum Liberal!

Adian Husaini
http://pemikiranislam.multiply.com/

assalaamu’alaikum wr. wb.

Sejumlah orang yang akan berdialog dengan kaum liberal saya beri saran agar jangan pakai dalil ayat-ayat Al-Qur’an. Sebab, banyak kaum liberal yang sudah tidak percaya lagi pada keotentikan Al-Qur’an, sehingga tidak ada gunanya dalil Al-Qur’an untuk mereka. Memang ada diantara mereka yang masih percaya Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, tetapi banyak pula diantara mereka yang memiliki pandangan dan penafsiran yang berbeda.

Jika tafsirnya kita kritik, mereka pun tak segan-segan menyatakan, ”Itu kan penafsiran anda! Penafsiran saya tidak begitu!” Mereka banyak yang sudah berpandangan bahwa hanya Tuhan saja yang tahu penafsiran yang sebenarnya. Manusia boleh menafsirkan Al-Qur’an semaunya, dan semuanya tidak dapat disalahkan. Karena itu, ada yang menyatakan, bahwa perbedaan antara Islam dan Ahmadiyah, hanyalah soal perbedaan tafsir saja, karena itu jangan saling menyalahkan, karena semua penafsiran adalah relatif. Yang tahu kebenaran yang mutlak, hanya Allah saja.

Memang, soal utama antara Islam dan Ahmadiyah, adalah masalah tafsir. Tapi, ada tafsir yang salah dan ada tafsir yang benar. Semua manusia yang masih berakal (tidak gila), bisa saja menafsiran Al-Qur’an. Tapi, tidak semua tafsir itu benar, sebagaimana klaim kaum liberal. Ada tafsir yang salah. Misalnya, kalau ada yang menafsirkan ayat ”Wa-aqimish shalaata lidzikri”, bahwa tujuan salat adalah mengingat Allah. Maka, jika sudah ingat Allah, berarti tujuan sudah tercapai, dan tidak perlu salat lagi. Tafsir semacam ini tentu saja tafsir yang salah.

Contoh lain, dalam buku Eik Ghalthi ka Izalah (Memperbaiki Suatu Kesalahan) karya Mirza Ghulam Ahmad (terbitan Ahmadiyah Cabang Bandung tahun 1993), hal. 5, tertulis pengakuan Ghulam Ahmad yang mendapat wahyu berbunyi: ”Muhammadur Rasulullah wal-ladziina ma’ahu asyiddaa’u ’alal kuffaari ruhamaa’u baynahum.” Lalu, dia komentari ayat tersebut: ”Dalam wahyu ini Allah swt menyebutkan namaku ”Muhammad” dan ”Rasul”.”

Ayat tersebut jelas terdapat dalam Al-Qur’an (QS 48:29). Kaum Muslim yakin seyakin-yakinnya, bahwa ”Muhammadur Rasulullah” di situ menunjuk kepada Nabi Muhammad saw yang lahir di Mekah; bukan merujuk kepada Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India. Jika Ghulam Ahmad membuat tafsir bahwa dia adalah juga Muhammad sebagaimana ditunjuk dalam ayat tersebut, maka tafsir Ghulam Ahmad semacam itu jelas tafsir yang salah.

Akan tetapi, kaum liberal akan menyatakan, bahwa Ghulam Ahmad juga berhak membuat tafsir sendiri, dan tidak boleh disalahkan atau disesatkan. Anehnya, kalau umat Islam punya pandangan dan sikap yang berbeda dengan kaum liberal, maka akan disalah-salahkan, dicap fundamentalis, radikal, tidak toleran, dan sebagainya. Jadi, kita dilarang menyalahkan yang salah, tetapi kaum liberal boleh menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan mereka.

Sebagaimana pernah kita bahas dalam beberapa CAP, aksi kaum liberal dalam menyerang Al-Qur’an dari waktu ke waktu semakin brutal. Berlindung di balik wacana kebebasan, mereka tidak segan-segan lagi menyerang dan menistakan Al-Qur’an secara terbuka. Apa yang pernah terjadi di IAIN Surabaya tahun 2006, ketika seorang dosen menginjak-injak lafadz Allah yang ditulisnya sendiri, tampaknya hanyalah fenomena gunung es belaka. Sejumlah buku, jurnal, dan artikel terbitan kaum liberal di Indonesia sudah secara terbuka menyerang Al-Qur’an. Kita masih ingat, bagaimana jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang secara semena-mena menyerang Al-Qur’an, dengan menyatakan:

”Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam]. Hegemoni itu tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”

Yang kita heran, orang-orang ini adalah bagian dari kalangan akademisi yang seharusnya menjunjung tinggi tradisi intelektual yang sehat. Tapi, faktanya, mereka sering mengungkapkan pendapat tanpa didukung oleh data-data yang memadai. Belakangan ini, kaum liberal di Indonesia sedang gandrung-gandrungnya pada seorang wanita lesbian bernama Irshad Manji. Kedatangannya di Indonesia pada bulan April 2008 disambut meriah. Dia dipuji-puji sebagai wanita Miuslimah yang hebat. Seorang wanita alumnus UIN Jakarta bernama Nong Darol Mahmada menulis sebuah artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Kata si Nong: ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”

Hari Kamis (14/8/2008), saya diundang untuk menghadiri satu acara bedah buku tentang FPI di kantor Majalah Gatra. Tanpa saya tahu, penerbit buku tentang FPI tersebut (Nun Publisher) adalah juga penerbit buku Irshad Manji yang edisi Indonesianya diberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Di sampul depan buku ini, Manji ditulis sebagai ”Satu dari Tiga Miuslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam.” Disebutlah buku ini sebagai ”International Best Seller, New York Times Bestseller, dan telah diterbitkan di 30 negara.” Pokoknya, membaca promosi di sampulnya, sepertinya, buku ini sangat hebat.

Tapi, sebenarnya, isinya kurang memenuhi standar ilmiah. Banyak celotehan Irshad Manji, ke sana kemari, hantam sana, hantam sini, tanpa ada rujukan yang bisa dilacak kebenarannya. Maka, saya heran, bagaimana kaum liberal sampai membangga-banggakan buku karya Irshad Manji ini? Seperti inikah sosok idola kaum liberal, sampai dijuluki ”lesbian mujtahidah”? Apa karena Manji sangat liberal dan secara terbuka menyatakan diri sebagai lesbi, maka sosok ini dijadikan idola?

Buku Manji ini menggugat sejumlah ajaran pokok dalam Islam, termasuk keimanan kepada keotentikan Al-Qur’an dan kema’shuman Nabi Muhammad saw. Manji secara terbuka menggugat ini. Ia katakan:

”Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk Al-Qur’an. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof Muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan Al-Qur’an.” (hal. 96-97).

Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk menyerang Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah dan palsu. Haekal, dalam buku biografi Nabi Muhammad saw, menyebut cerita tersebut tidak punya dasar, dan merupakan bikinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam. Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga membahas masalah ini dalam satu bab khusus.

Kisah ”ayat-ayat setan” itu kemudian diangkat juga oleh Salman Rushdie menjadi judul novelnya: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama tahun 1988 ini memang sangat biadab dalam menghina Nabi Muhammad saw., para sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita dalam novel Salman Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw. sebagai sosok penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan sebanyak-banyak perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan dalam novel ini sebagai manusia-manusia tidak berguna dan tidak manusiawi. Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi melecehkan Al-Qur’an.

Karen Armstrong mencatat: “It repeats all the old Western myths about the Prophet and makes him out to be an impostor, with purely political ambitions, a lecher who used his revelations as a lisence to take as many women as he wanted, and indicates that his first companions were worthless, inhuman people.”

Armstrong tidaklah keliru! Dan Umat Islam yang sangat menghormati Nabi Muhammad saw., tentu saja sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang sangat tidak beradab ini. Novel ini pun – dalam edisi bahasa Inggrisnya – sudah dijual di Jakarta. Rushdie diantaranya menggambarkan istri-istri Nabi Muhammad saw. sebagai penghuni rumah pelacuran bernama ”Hijab”. Rushdie juga menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya ”Mahound” – sebagai “the most pragmatic of prophets.”

Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw. seperti Salman Rushdie inilah yang dijadikan rujukan oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang “ayat-ayat setan”. Memang, dalam bukunya ini pun Manji mengungkapkan, bahwa Salman Rushdie-lah yang mendorongnya untuk menulis buku ini. Manji menceritakan hal ini:

“Apa yang dikatakan Salman Rushdie padaku ketika aku mulai menulis buku ini teringat lagi saat aku berefleksi terhadap hidupku sejak penerbitan buku ini. Aku ingat ketika bertanya kepadanya kenapa dia memberikan semangat kepada seorang Muslim muda sepertiku, untuk menulis sesuatu yang bisa mengundang malapetaka ke dalam kehidupannya, seperti yang telah menimpa dirinya. Tanpa ragu sedikit pun, dia menjawab, “Karena sebuah buku lebih penting ketimbang hidup.” (hal. 322).

Dalam bukunya ini pun Irshad Manji menjadikan pendapat Christoph Luxenberg sebagai rujukan untuk menyatakan bahwa selama ini umat Islam salah memahami Al-Qur’an, yang seharusnya dipahami dalam bahasa Syriac. Tentang surga, dengan nada sinis ia menyatakan, bahwa ada human error yang masuk ke dalam Al-Qur’an. Menurut riset yang baru, tulis Manji, yang diperoleh para martir atas pengorbanan mereka adalah kismis, dan bukan perawan. “Nah, bagaimana bisa Al-Qur’an begitu tidak akurat?” tulisnya.

Pendapat Luxenberg bahwa bahasa Al-Qur’an harus dipahami dalam bahasa Aramaik ditulisnya dalam buku “Die syro-aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschluesselung der Koransprache”. Pendapat ini pun sangat lemah dan sudah banyak artikel ilmiah yang menanggapinya. Dr. Syamsuddin Arif telah mengupas masalah ini secara tajam dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Intelektual.

Menurut Syamsuddin, Professor Hans Daiber, misalnya, memberikan seminar terbuka tentang karya polemis itu selama satu semester penuh di departemen Orientalistik Universitas Frankfurt, dimana ia ungkapkan sejumlah kelemahan-kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi. Salah satu kelemahan Luxenberg, misalnya, untuk mendukung analisis dan argumen-argumennya, mestinya Luxenberg merujuk pada kamus bahasa Syriac atau Aramaic yang ditulis pada abad ke-7 atau 8 Masehi (zaman Islam), dan bukan menggunakan kamus bahasa Chaldean abad ke-20 karangan Jacques E. Manna terbitan tahun 1.900!

Namun, meskipun sudah dijelaskan secara ilmiah, orang-orang yang memang berniat jahat terhadap Islam, tetap tidak mau tahu dan mendengar semua argumentasi ilmiah tersebut. Irshad Manji, dalam bukunya ini, malah menyandarkan keraguannya terhadap Al-Qur’an pada pendapat Luxenberg (seorang pendeta Kristen asal Lebanon yang menyembunyikan nama aslinya). Kata Manji:

”Jika Al-Qur’an dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen – yang sejalan dengan klaim bahwa Al-Qur’an meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya – maka bahasa Aramaik mungkin telah diterjemahkan oleh manusia ke dalam bahasa Arab. Atau, salah diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu berapa banyak lagi kata yang diterjemahkan secara kurang tepat. Bagaimana jika semua ayat salah dipahami?” (hal. 96).

Tampaknya, penerbit buku Irshad Manji dan kaum liberal di Indonesia pun sudah tidak peduli dengan perasaan umat Islam dan kehormatan Nabi Muhammad saw. Mereka begitu mudahnya menokohkan wanita lesbian seperti Irshad Manji, yang dengan entengnya melecehkan Nabi Muhammad saw. dan Al-Qur’an. Mereka mungkin sudah tahu bahwa umat Islam akan marah jika Nabi Muhammad saw. dihina. Mereka akan senang melihat umat Islam bangkit rasa marahnya. Jika umat Islam marah, mereka akan tertawa sambil menuding, bahwa umat Islam belum dewasa; umat Islam emosional, dan sebagainya!

Kasus Irshad Manji ini semakin memahamkan kita siapa sebenarnya kaum liberal dan apa maunya mereka. Kita kasihan sekali pada manusia-manusia seperti ini. Apa mereka tidak khawatir, jika anak-anak mereka nanti ditanya oleh gurunya, siapa wanita idola mereka? Maka anak-anak mereka tidak menjawab lagi, ”Idola kami adalah Khadijah, Aisyah, Kartini, Cut Nya Dien, dan sebagainya” tetapi akan menjawab: ”Idola kami Irsyad Manji, sang Miuslimah Lesbian teman baik Salman Rushdie sang penghujat Nabi.” Na’udzubillahi min dzalika.

wassalaamu’alaikum wr. wb.
Sumber: http://pemikiranislam.multiply.com/journal/item/38/Irshad_Manji_Idola_Kaum_Liberal_

Selasa, 29 Maret 2011

Naskah Teater Anak: Mata Kucing

Mata Kucing
Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Sinopsis
Adalah tentang permainan tardisi yang sering kali dimainkan anak-anak di pelataran pada malam bulan purnama. Awalnya mereka bermain dengan suka ria, namun kemudian salah satu dari mereka ada yang tidak sportif dalam permainan. Sasa lebih memilih tidur daripada mencari teman-temanya yang sedang bersembunyi ketika bermain petak umpet.

Mega, anak perempuan yang paling besar kemudian marah-marah dan mengajak meninggalkan Sasa yang tidur sendirian di pelataran.

Sasa mengigau, dan teman-temanya menganggap ia kesurupan karena ketakutan. Kemudian Uzan, dan Rio menyalahkan Mega. Uzan dan Rio tidak mau bertanggungjawab pada apa yang sedang terjadi pada Sasa. Mereka pun mulai bertengkar saling menyalahkan, lempar batu sembunyi tangan.

Sedang Kiki anak terkecil lebih suka bermain dari pada mempedulikan pertengkaran teman-temanya.

Setting:
Di pelataran rumah kampung pada malam bulan purnama

Tokoh:
1. Mega, anak perempuan yang paling besar. Sedikit terlihat jiwa kepemimpinannya. Pemikiranya agak mulai dewasa.
2. Sasa, anak perempuan yang suka membuat masalah. Seringkali tidak mau sportif dalam permainan.
3. Uzan, anak laki-laki yang sifatnya kadang egois. Ia tidak mau dipersalahkan.
4. Rio, anak laki-laki yang tidak punya pendirian. Selalu ikut apa kata Uzan.
5. Kiki, anak perempuan terkecil yang masih lugu.
***

Anak-anak bermain di pelataran. Mereka bermain “Pung-Pung Balung” kemudian menyusun semua telapak tangan. Masing-masing menggengem tiap jari jempol milik temannya dengan bernyanyi “Pung-Pung Balung”

pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar

Telapak tangan yang paling bawah terbuka di setiap akhir nyanyian. Kemudian mereka melanjutkan nyanyiannya dengan nyanyian “Yek Uyek Ranti”, sambil mengunyek punggung tangan, mereka bernyanyi

Yek-uyek ranti
Ono bebek pinggir kali
Nothol pari sak uli
Ditangisi mrebes mili
Serontang seranting
Ono bajing nyolong gunting
Guntinge mbok petoro
Uleno nang ngabean
Golekno payung abang
Abang-bang seronce
Sedelek ceplis

Pada setiap akhir lagu, salah satu anak mengangkat setiap telapak tangan ke kepala pemiliknya. Dan pada akhirnya masing-masing mengangkat kedua tangan, seakan memanggul keranjang di atas kepala. Salah satu diantara mereka kemudian menanyakan isi keranjang tersebut.

1. Mega: Kalian semua sedang membawa apa?
2. Anak-Anak: Membawa keranjang berisi hewan
3. Mega: Coba turunkan, saya ingin tahu

Anak-anak menurunkan isi keranjang sambil bersuara seakan suara hewan yang ada dalam keranjang. Lalu mereka memainkan menjadi hewan. Kemudian mereka adu kekuatan dengan suara-suara.

4. Uzan : (bersuara menjadi kambing)
5. Kiki : (bersuara menjadi burung)
6. Sasa : (bersuara menjadi kucing)
7. Rio : (bersuara menjadi ayam)
8. Mega : (bersuara menjadi tikus)

Suara hewan-hewan bersahutan seakan di margasatwa. Suaranya menjadi nyanyian. Kadang-kadang merdu. Kadang-kadang menakutkan.

“embek-embek cicit-cuit cicit-cuit meong-meong pethok-pethok cit-cit uwiing”

9. Uzan: Aku berbadan besar. Akulah kambing, merumput pada pematang sawah

10. Kiki : Aku si kecil tapi cantik. Aku terbang, dan hinggap pada pepohonan

11. Sasa : Akulah si manis. namun bertaring. Aku suka makan daging

12. Rio : Akulah si ayam. Suka memakan biji-bijian
13. Mega : Aku si tikus. tapi aku adalah si tikus putih yang cantik dan tidak menjijikkan
14. Heni : Akulah si nyamuk, centil, dan suka menggigit mereka yang malas bersih-bersih
Mereka berlari sambil meneriakkan tentang binatang yang dianggap mengganggu hidupnya.
Burung hinggap dan mematuk-matuk tubuh kambing

15. Fauzan : Aduh, tubuhku sakit. Tubuhku dipathok burung
Tikus mengejar burung

16. Kiki : Takut, aku dikejar-kejar tikus
Kambing menyeruduk kucing

17. Sasa : Waduh bahaya, ada si kambing bertanduk. Ia suka Menyeruduk
Tikus merebut makanan ayam

18. Rio : Dasar si tikus. Selalu saja menggangguku. Ia merebut Makananku
Nyamuk merasa aman. Ia leluasa terbang kesana-kemari

19. Heni : Uwiing, nyamuk tidak takut apapun, karena hidupnya nyamuk pada malam gelap-gulita, nyamuk juga tidak takut pada hantu, uwiiing…

Anak-anak berlarian, mereka seakan dikejar puluhan nyamuk

20. Anak-anak : (bernyanyi)

Banyak nyamuk digigit sakit
Aduh aduh, nyamuknya nakal

Anak-anak berlarian sambil mengibas tangannya, mereka terus bernyanyi sambil melakukan gerakan tari. Lama-lama mereka kelihatan lelah. Pelan-pelan tertidur.

21. Heni : Wah, mereka kok tidur semua ya, kalau begitu nyamuk juga mau tidur. Nyamuknya ngantuk. Nyamuknya tidur, uwiiiing…

Semua tertidur pulas, dengkuran mereka bersahut-sahutan.
Tak lama kemudian Sasa yang memerankan sebagai kucing bangun. Bergerak mengaum.

22. Sasa : Meong, meooong…..

Mega yang menjadi tikus itu bangun dengan ketakutan. Layaknya seekor tikus yang mau diterkam oleh seekor kucing

23. Mega : Mata kucing, mata kucing itu seakan mau menerkamku.

Satu persatu anak-anak terjaga dari tidurnya dengan rasa takut. Pelan-pelan mereka berkumpul bergerak menjauhi si kucing. Mereka bergerak dengan nyanyian.

“mata kucing, mata kucing, seakan menerkamku”

24. Mega : Ayo kita bersembunyi!
25. Anak-anak : Ayo….

Sambil menyuarakan suara binatang, anak-anak bersembunyi, sedang Sasa harus menutup matannya sambil bernyanyi meminta bantuan setan gundul untuk menemukan persembunyian teman-temannya.

26. Sasa : (bernyanyi)

Setan gundul temokno koncoku,
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu

27. Kiki : Belum (belum menemukan tempat persembunyian)
28. Rio : Aku juga belum, aku masih mencari tempat persembunyian

29. Mega : Cuit
30. Uzan : Cuit

Sasa terus bernyanyi sedang teman-teman lain bercicit-cuit, seperti memainkan musik iringi nyanyian Sasa.

Anak-anak yang bersembunyi terus bercicit-cuit untuk mengeco Sasa. Sedang Sasa bergerak kebingungan sampai ia ketiduran. Suara cicit-cuit terus mencericit. Lama kemudian Sasa berhenti mencari dan kembali tidur.

31. Mega : Sssst, sepertinya ada yang tidak beres.
32. Uzan : Kenapa Mega?
33. Mega : Coba kamu lihat Sasa, si anak kentongan itu. Dia pura-pura tidur, dia tidak mau mencari kita.

34. Kiki : Hi Sasa, tidak boleh nakalan begitu!
35. Rio : Iya, tidak boleh cepat menyerah. kalau nakalan seperti itu permaianan kita tidak seru.

36. Mega : Aku punya ide.
37. Heni : Ide apa itu?
38. Mega : Anak yang nakal, yang tidak sportif dalam permainan kita nakali juga.

39. Uzan : Maksud Mega?
40. Mega : Kita tinggal saja dia, biar dia tidur di sini sendirian, biar digondol setan gundul.

41. Rio : Ya, aku setuju.

Anak-anak mulai meninggalkan arena permainan dengan melantunkan tembang dolanannya.

Setan gundul gondolen Sasa
Setan gundul gondolen Sasa

42. Uzan : Stop, sepertinya kali ini Sasa tidak pura-pura tidur. ia benar-benar tertidur.

43. Kiki : Ya, Sasa kan biasanya penakut. Tapi hari ini dia tidak takut.

44. Rio : Pasti dia tidur sungguhan. Andaikata ia tidur-tiduran, ia pasti bangun dan mengejar kita. Ia pasti takut sendirian.

45. Kiki : Kita klitiki aja dia, pasti ketahuan, apakah dia benar-benar tidur Atau pura-pura!

Mereka berempat jalan mengendap-endap sambil membawa setangkai sapu lidi. Mereka gunakan untuk mengkelitiki telingah Sasa. Sasa terbangun, tapi ia seperti orang yang sedang ngigau. Ia duduk, berdiri dan berjalan sambil mulutnya nggedumbel.

Setan gundul, temokno koncoku
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu.

Sasa terus berjalan dengan mengucapkan beberapa kalimat setan gundul tersebut.

46. Rio : Wah bahaya, dia kerasukan setan
47. Mega : Maksud kamu keserupan?
48. Kiki : (Menangis karena ketakutan) Sasa kesurupan ya? Mae, mae, aku takut…

Sasa kemudian kembali lagi ke tempat semula dan terus bergumam memanggil-manggil setan gundul.

49. Uzan : Mega, bagaimana ini semua tejadi? Ini semua gara-gara kamu.

50. Rio : Ya, ini gara-gara kamu. Sasa kesurupan dan kiki menangis ketakutan

51. Mega : Apa, gara-gara aku. ini salah Sasa sendiri. Enak-enak main kok dia malah tidur.

52. Uzan : Tapi kenapa kamu ajak kita untuk meninggalkan dia tidur sendiri di sini?

53. Mega : Biar dia kapok. Lagian dia gak sportif. Waktunya jadi dia malah tiduran. Tidak mau mencari. Apa kemudian kita biarkan saja dia, sambil kita menunggu digigiti nyamuk.

54. Rio : Pokoknya, kamu harus bertanggungjawab. Kalau ayahnya marah, aku tidak ikut-ikut

55. Uzan : Ya, kamu sendiri yang salah. Bukan kita.
56. Mega : Hai, kalian nyrocos saja, chicken you are! Pengecut kau!

Mereka terus berdebat. Sedang Kiki terus menangis dan Sasa sudah tidak ngomel lagi. Ia kembali tidur sambil mendengkur.

Uzan dan Rio terus tidak mau kalah. Ia terus menyalahkan Mega. Mereka mengolok-olok mega dengan nyanyian.

57. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
58. Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai…
59. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
60. Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau!

Don”t be chicken, jangan jadi pengecut kau!

61. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa”
62. Mega : Stop

Dengan terlihat marah, mega membentak mereka. Spontan nyanyiannya berhenti

63. Mega : Teman, jangan lempar batu sembunyi tangan, ini masalah kita bersama, seharusnya kita hadapi dengan kesatria.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

64. Uzan : Ayahnya datang!

Mereka berlarian mengisis ruang kosong dan saling bertabrakan. Mereka mengadu kesakitan

65. Mega : Rasakan kalian pengecut. Itu adalah batunya orang yang lempar sembunyi tangan.
Sasa tiba-tiba terbangun dan menceritakan mimpinya.

66. Sasa : Aku tadi tidur ya? Aku bermimpi bertemu dengan setan gundul. Setan gundul itu lucu sekali. (mengamati temannya yang kesakitan) Kenapa kalian mengerang kesakitan? Jatuh karena lari ya. Kenapa, takut sama setan gundul. Setan gundul alias tuyul itu imut, lucu.

67. Uzan : Hai, kucing, ini semua gara-gara kamu. Kamu merasa bersalah tidak ?

68. Sasa : Apa salah saya?
69. Rio : Hai, kamu tadi tidur apa kesurupan?
70. Sasa : Yang jalas aku bermimpi bertemu dengan setan gundul yang imut.

71. Uzan : Kamu sekarang sudah sadar belum? Jangan-jangan masih mengigau

72. Mega : Ayo kita jiwiti dia
Mereka bersama-sama menjiwit Sasa. Sasa mengerang kesakitan

73. Mega : Ternyata dia sudah sadar. Tidak ngigau lagi
74. Rio : Jangan-jangan dia masih kesurupan

Tiba-tiba Sasa menangis karena kesakitan

75. Kiki : Hayo hayo si Sasa menangis

Sasa mengerang menangis kesakitan. Mereka berdebat saling menyalahkan lagi.

76. Uzan dan Rio : Aduh, Mega lagi Mega lagi
77. Rio : Mega, kenapa kau selalu membuat ulah.
78. Uzan : Ya, tangan kamu banyak setannya. Selalu membuat masalah.

79. Mega : Hai, dasar kalian otak keyong, kenapa kalian selalu menyalahkan aku?

80. Rio : Siapa lagi kalau bukan kamu
81. Mega : Apa yang mencubit sasa tadi tangan saya sendiri?
82. Ucan : Tapi, kamu yang mengajak kan?
83. Mega : Dan kalian ikut kan?

Mereka kaembali berdebat sambil bernyanyi

84. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
85. Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai……
86. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
87. Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau

Don”t be chicken, jangan pengecut kau

88. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
89. Mega : Stop, berhentiii! Aku muak dengan kepengecutan kalian!
90. Kiki : (berdiri) Kenapa orang besar sukanya bertengkar. Selalu

saja beranggapan dia yang paling benar. Kapan waktunya untuk bermain, bersendah-gurau

91. Uzan : Kiki, diam sebentar!
92. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
93. Uzan : Hai hai hai, sekali lagi diam!
94. Kiki : Apa semua masalah harus diselesaikan dengan pertengkaran?
95. Rio : Kiki, diam, jangan banyak bicara!
96. Mega : Hai teman, dia punya hak untuk bicara
97. Uzan : Tapi dia masih kecil
98. Mega : Apa kalian sudah besar?
99. Rio : Tapi paling tidak kita lebih besar darinya.
100. Mega : Tetapi bisa jadi dia lebih pantas bicara dari pada kalian.

Kiki bergerak menjauh dari perdebatan. Ia mencari tempat untuk menyendiri. Dan bernyanyi sendiri.

101. Kiki : (bernyanyi)
pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar

Sasa kemudian datang menghampirinya.

102. Sasa : Kiki, kenapa kamu bermain sendirian?
103. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
104. Sasa : Oh, jadi kamu bermain sendiri, karena yang lain pada suka
bertengkar. Kenapa mereka bertengkar?
105. Kiki : Ini gara-gara kamu.
106. Sasa : Ha, gara-gara aku, apa ya salah aku?(bingung) mereka
bertengkar gara-gara aku. Kiki, aku jadi bingung. Kiki,
apa salah aku?
107. Kiki : Cari sendiri!
108. Sasa : Ayo dong kiki, apa salah aku?
109. Kiki : Orang baik itu tahu kesalahan dan kekurangannya sendiri.
Lalu ia berusaha memperbaikinya.

Bertemu kembali dan meneruskan perdebatan

110. Mega : Sekarang ayo kita akhiri perdebatan kita.
111. Uzan : Tidak mau sebelum kamu mengaku bersalah
112. Mega : Apa, aku yang salah. Justru kalian yang bersalah
113. Rio : Hai hai hai… yang tadi mengajak untuk meninggalkan
Sasa itu siapa?
114. Mega : Kalian juga mendukung kan?
115. Uzan : Yang tadi mengajak untuk menjiwit Sasa siapa?
116. Mega : Kalian juga mendukung kan, ayo, masih menyalahkan
orang lain, masih tidak merasa bersalah, tetap lempar batu
sembunyi tangan!?
Mereka terus berdebat. Saling menyalahkan dan tidak mau saling mengakui kesalahannya.

117. Sasa : Oh oh oh… sekarang aku tahu kesalahanku. Ini semua gara-gara aku. aku tidak sportif dalam permainan. Satu keselahan kecil, akan menciptakan kesalahan-kesalahan yang lebih besar. Aku baru sadar, perbuatan yang tidak baik itu pasti membuat orang lain menjadi menderita.

Sasa kemudian berlarian meminta maaf pada teman-temannya.

118. Sasa : Minta maaf, minta maaf, minta maaf ya, aku minta
maaf….
119. Uzan : Hai diam. Kenapa kau berteriak-teriak?
120. Sasa : Minta maaf!
121. Rio : Kenapa meminta maaf?
122. Sasa : Aku bersalah
123. Uzan : Lihat Mega, Sasa saja mau minta maaf, lalu kamu
bagaimana? Kamu mau meminta maaf tidak?
124. Mega : Kamu sendiri bagaimana?
125. Uzan : Aku tidak bersalah, kenapa harus minta maaf
126. Rio : Ya, kita tidak bersalah, kita tidak perlu minta maaf
127. Mega : Dasar kepala batu, maunya yang paling benar.
128. Sasa : Orang-orang yang merasa dirinya sudah besar, mereka
selalu dirinya yang paling benar, padahal padahal mereka
adalah…… (berlari menggandeng tangan Kiki) Kiki Kiki
ayo kita bermain…

Sasa dan Kiki kembali bermain pung-pung balung. Sedang yang lain masih bertengkar, tidak mau damai. Kiki dan Sasa terus asyik bernyanyi. Mereka melanjutkan dengan nyanyian yek-uyrk ranti. Bergerak megal-megol seperti bebek.

TAMAT
Lamongan, Januari 2008
Sumber: http://sangbala01.blogspot.com/2010/11/naskah-teater-anak-mata-kucing_28.html

Kabar di Hari Minggu

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Hari minggu kali ini, menjadi hari yang tidak biasa bagi keluarga Arman. Kalau hari minggu biasanya mereka sekeluarga nyantai di rumah sambil nonton tv bersama-sama. Sulastri sebagai istri bekerja sebagai guru SD swasta di desa tempatnya tinggal juga libur. Dengan hari minggu mereka bisa berkumpul. Arman sebagai suami juga menghentikan semua pekerjaanya di sawah yang dipunya, walau cuma sepetak. Minggu yang tidak biasa, karena mereka di kagetkan surat yang datang dari anaknya. Surat tersebut dibawa oleh seorang laki-laki berbadan tinggi dan tegar. Tak sempat mengenalkan namanya. Ia bercerita. Sebelum bercerita tentang anak mereka, laki-laki itu membuka tasnya dan memberikan surat dari anak mereka.

Laras anak pertamanya, sejak lima tahun lalu tak pernah pulang. Ia pergi meninggalkan keluarganya. Waktu itu Lastri belum menjadi guru di SD yang terletak di kampungnya. Kepergian Laras memang berat buat keluarga yang ditinggalkannya. Laras punya adik dua, satu masih umur 4 tahun waktu itu, sedang adik ke duanya duduk di kelas satu sekolah menengah pertama. Kepergian laras adalah keterpaksaan yang harus dilakukannya karena ia beranggapan anak pertama punya tangung jawab pada keluarga. Keluarga pun harus merelakan demi hidup keluarganya. Pada masa-masa menjelang kepergian Laras, sawah yang dimiliki Arman terserang hama. Kenekatan Laras adalah jalan satu-satunya.

Lewat agen yang ada di kota dengan jarak tempuh kira-kira satu jam. Laras harus mengikuti pelatihan dahulu. Pelatihan ketrampilan bekerja: merawat anak, memasak, dan segala yang berkait dengan pekerjaannya. Laras dengan cepat bisa menguasai. Laras bisa pergi, karena agen yang mengurus segala administrasi buatnya segera membrangkatkan. Keinginan Laras bekerja dengan gaji yang banyak adalah harapannya. Laras pun pergi dengan pesawat dari agen tempatnya mendaftar menjadi pekerja. Sampai di tempat kerjanya, Laras dikenalkan dengan majikan yang telah memesan lewat agennya. Laras senang. Laras memang memiliki kebiasaan yang grapyak sama orang yang baru dia kenal. Begitu pula majikan yang baru dikenalnya. Majikannya punya seorang bayi sama persis seperti adiknya umur dari anak majikan barunya. Gaji Rp. 125.00 perhari, tapi gaji tersebut harus dipotong oleh agen yang memberikan pelatihan, menguruskan administrasinya hingga dia dapat bertemu dengan majikannya. Awal yang indah hingga tiga bulan berlangsung. Laras dapat mengirimkan uang gajinya pada ibunya ketika bulan pertama hingga ke tiga dilaluinya. Bulan-bulan selanjutnya, tak ada kabar lagi mengenai Laras. Sempat Arman menanyakan pada agen yang memberikan pelatihan dan mengurus administrasinya. Pengurus agen tersebut tak menjawab, bahkan tak tahu menahu. Saat itu satu tahun kepergian Laras. Agen tersebut mengatakan bahwa Laras sudah putus hubungan kemitraan sejak enam bulan yang lalu. Arman tak bisa berbuat sesuatu, harus meminta bantuan siapa dan di mana.

***

Anak muda yang tak sempat mengenalkan nama bercerita tentang Laras. Minggu menjadi duka bagi keluarga Arman dan Lastri. Berkali-kali mengucapkan penyesalan kenapa harus mengijinkan Laras pergi waktu itu. Di kampungnya baru pertama kali ada yang berangkat ke Malaysia, yakni Laras. Baru bulan ketiga laras di Malaysia banyak yang berangkat dari mulai anak-anak muda hingga orang-orang tua yang rela meninggalkan anak dan istrinya. Hal tersebut dilakukan karena melihat keberhasilan Laras mengirim uang pada keluarganya. Hampir sama yang dialami oleh tetangga Laras yang berangkat ke Malaysia. Datang-datang ada yang tak mebawa uang malahan membawa istri muda, begitupun anak-anak muda kampungnya Laras, ada yang berhasil dan kabar terus mengalir ke kampung. Ada juga yang bernasib sama seperti Laras, hanya sebulan, dua bulan memberi kabar lalu tak ada kabar.

Kesedian yang dirasakan oleh Arman berbuah senang walapun harus mengeluarkan air mata. Laras masih hidup.

“Lalu, laras sekarang di mana?”

“Ibu coba baca surat yang dari tadi Ibu pegang”

“Apa kabar Emak, Bapak, dan adek-adek. Laras harap sehat-sehat saja. Juga laras sekarang sehat. Ma’afkan Laras, tidak pernah memberi kabar. Laras sekarang sedang bekerja sebentar untuk cari uang buat pulang. Ma’af mak, nanti kalau Laras pulang tak membawa apa-apa. Hanya sesuatu yang berharga buat Laras. Semoga Mak juga senang. Bila ingin tahu kondisi Laras secara detail. Tanyalah pada yang membawa surat ini. Tahun depan mungkin Laras pulang. Sudah ya Emak, Bapak dan adik-adik. Laras mau bekerja dahulu. Bekerja seadanya untuk mencari uang saku. Semoga Tuhan masih mempertemukan kita.”

Singkat sekali surat yang ditulis Laras. Hingga keluarganya masih menyimpan tanya.

“Dik, ceritakan. Ada apa dengan Laras”

“Bu Lastri dan Pak Arman, harus tabah. Sejak empat bulan awal, Laras sudah tidak bisa berkirim surat dan mengirim uang lagi. Laras tidak digaji. Laras diawasi oleh majikannya. Jangn kaget ya, Bu. Laras diperkosa oleh anak majikannya. Lalu laras melambaikan tangan dari cendela. Jika ada isyarat begitu, maka itu adalah seseorang minta bantuan. Lalu kami mencari akal, bagaimana menyelamatkan Laras. Sebelum itu, Laras menjatuhkan kertas ke bawah lewat cenjela yang terbuka. Dari situ kami tahu, ada saudara sebangsa minta tolong. Kami masih berunding dengan teman-teman. Tapi ketika akan melaksanakan rencana kami. Laras sudah di bawa oleh polisi Malaysia. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mau melapor juga sudah jerah. Tak pernah mendapat perhatian dari petugas negara kita yang ada di sana”

Tangis Lastri semakin menjadi-jadi, Arman menenangkan bersama adik-adik Laras.

“Lalu, apa yang kalian lakukan”

“Kami tak berani mengunjungi Laras di penjarah. Kami juga takut sebab paspor kami mati. Kalau paspor mati, kami juga bisa masuk penjara”

“Apa, Adik, dan teman-teman adik tak mengurusnya”

“Kami sempat hendak mengurusnya. Ketika itu KBRI yang ada di Malaysia berjubel orang-orang sebangsa mengurus administrasi di sana. Tapi perlakuan petugas KBRI pada kami tidak membuat kami senang. Terutama saya. Bahkan saya hampir saja berkelahi karena harus menangkis pukulan tongkat yang hendak dijatuhkan di kepala saya. Hambir semua kena pukul. Karena saya merasa manusia yang harus diperlakukan layaknya manusia dan kecewa dengan perlakuan petugas KBRI yang ada di Malaysia. Saya pun balik tak mengurus paspor saya. Keberadaan saya pun ilegal. Saya merasa tidak aman diterotorial harusnya melindungi kami tapi malahan membuat kami menderita”

“Oh, ya dik. Saya lupa menanyakan nama njenengan”

“Nama saya Ahmad Pak. Tolong Pak, beritahukan pada tetangga bapak. Lebih baik bekerja di kampung sebagai petani dari pada harus pergi ke negeri orang yang tidak aman buat keselamatan. Tapi kalaupun harus bekerja di Malaysia lebih baik diperjelas agen yang akan membawanya. Kerja yang lumayan aman adalah bekerja di pabrik yang ada di sana. Keterjaminan tersebut karena ada undang-undang yang mengaturnya. Tapi lebih baik tidak Pak”

Pak Arman dan Bu Lastri senang tetapi juga resah. Apa yang dibawa anaknya. Kenapa harus terjadi begitu.

***

Minggu di tiga bulan sesudah Ahmad ke rumah mereka. Seorang anak kecil mengetuk pintu rumah mereka. Semua yang ada di dalam terheran. Siapa anak itu. Mereka bertanya-tanya. Dari belakang Laras dengan mententeng tas. Seketika air matanya keluar.Bedungan ketabahannya tak menahan. Mereka saling rangkul dan peluk.

“Itu yang Laras bilang di surat, Mak. Laras hanya bisa membawa itu. Mak dan Bapak pasti sudah dapat cerita dari Ahmad. Mak, ma’afkan Laras Mak. Laras tidak bisa berbuat sesuatu. Laras sedang berfikir. Bagaimana Fatoni kalau sudah besar nanti menanyakan bapaknya. Laras tidak tahu Mak”

Sulastri mengusap air matanya.

“Sudalah, nduk. Sekarang kamu istirahat dulu. Tenangkan dirimu. Ketika kondisi sudah membaik. Kita fikirkan nasib Fatoni. Emak dan Bapak telah menerima kamu dengan segala hal yang terjadi. Terpenting bagi Emak adalah kamu selamat”.

Fatoni berlarian di halaman rumah. Laras duduk menunguinya. Sambil menerawang matanya. Membayangkan nasib Fatoni di masa akan datang.

Lamongan-Malang, November-Desember 2010
(Terinspirasi dari cerita teman, mantan TKI di Malaysia)

Zadig, suratan takdir Voltaire (1694-1778) menjajal Leibniz (1646–1716)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Pengarang ini mungkin awalkali pembentuk alam cerita di kepalaku. Sastrawan produktif berkualitas filosof atas pilihan kata tepat di antara rerongga ruang-waktu takdir telah ditentukan, dalam setiap karyanya.

Tulisan ini, bentuk kegembiraan setelah berpisah sepuluh tahun lebih dengan bukunya “Zadig ou la Destinée.” Diterjemahkan dipengantari Ida Sundari Husen, terbitan Pustaka Jaya, cetakan pertama 1989 bertitel “Suratan Takdir.”

Mulanya kuperoleh di toko buku loakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), tetapi lenyap saat ngontrak di daerah Gedong Kuning Jogjakarta 2001. Kini kubaca ulang, selepas mendapatkan dari kritikus Maman S. Mahayana. Di sini kuucapkan terimakasih, pula pada buku-buku Voltaire yang lain atasnya.

Nama aslinya François-Marie Arouet. Adalah dunia bawah sadar, di tengah pula di atas, ia bangun hikayat Zadig berkesungguhan filsuf, tak lupa menghibur jejiwa haus hikmah. Telusurannya menembusi segala sekat hampir menaburkan seluruh ladang penalaran pembaca, tanpa menunjukkan sikap menggurui, kecuali mengolok-olok pribadi timpang dalam hayat.

Bangunan tokoh Zadig menempatkan pemikir asal Prancis itu sampai akhir jaman, dongengan dibalut atmosfir meyakinkan, antropologi, sosiologi, sejarah pun hayalan melambung perasaan. Selidiknya tak kurang sastrawan mempuni, unggul serayuan hisap seluruh sendi hayati, dijadikan bulir-bulir bermakna mahkota ilmu, demi sosok para pencari tak kenyang satu pengertian.

Sederhana bertutur kalimah, arif menyelesaikan soal, bentuk tidak terkira atas jangkauan harap ke masa depan kemanusiaan. Adanya pendapat dialah bara api dalam sekam revolusi Prancis, yang terus ditulis para sejarawan. Diselidiki puncak kemerdekaan berfikir, tak memihak kecuali untuk nasib baik umat seluruh jagad, serangga kecil (manusia) di antara triliyunan benda angkasa, hitungan sistematis kebenarannya.

Ia menaik-turunkan drajad nalarnya se-tukang kayu membuat kursi-meja, sengajakan ciptaannya mendiami ruang berdimensi kelayakan kajian wewaktu setelahnya. Karya-karyanya kekayaan terselimuti uap kesahajaan cerdas, kecerdikan muslihat mengolah cerita jadi mutiara tak habis dipunggah, terus menjelma patokan nasib para peneguknya.

Aku ingat betul saat jumpa bukunya, kubaca sangat girang di TIM sambil membawa nasib berkelana, dan terasa sontak melihatnya kedua. Tak lebih ingin mereguk ulang sampai hafal di luar kepala, demi perjelas sketsa pernah tegas, namun pudar diterpa terik bacaan. Ya siapa tahu jejakan nanti menembusi kabul pelbagai bidang terlayari sampan fikir pelita hati, di tengah malam atas ombak setiai kodratnya menari-nari pada muka angkasa.

Kepadanya kupanggil bapak, novelis filsuf Jostein Gaarder dapatlah kusapa paman, aku di sisi mereka jauh, dekat gunung Krakatau kini, saksikan jutaan tahun gelombang pemikiran bermain, dipermainkan tekanan angin, hawa musim tarikan jaman. Sebutir pasir tak berarti antara jemari raksasa sejarah; keganasan perang, musik halus kasih sayang, kebencian, rindu dendam, senyuman sinis ataukah menawan, aku di antara mereka.

Kisah Zadig dipahat bergurat-gemurai mengagumkan, setiap sudut memantulkan hikmah tersendiri. Cemooh cermin konyol membuka kelambu kemungkinan, sepanjang pembaca miliki daya duga keliaran merambahi daratan wangi, di sekitar nasib ditata purna, sejenis kitab panduan dalam menyikapi carut marut kehidupan.

Sosok-sosok wagu ditimpakan nasib mujur malang melintang bertimbangan sejumlah ilmu pengetahuan. Hukum-hukum dibentur lawan demi kemauan meloloskan gagasan gemilang, uap hasil suling dari macam-macam air perikehidupan;

Bau hianat, kelicikan, ditelanjangi demi keseimbangan logis, atur cerita dipertanggungjawabkan di meja penelitian. Benang jahit paduan-padan runtutan peristiwa, memperkuat bentuk diingini, mendapati perolehan lebih; kamus besar peradaban insan.

Kausalitas naik-turun ditimbang berat-ringan kasus diketengahkan, menyuguhkan masakan lezat, harum kembang terkenang di sudut terpencil kesunyian fikir. Kilau kebeningan kalbu menterjemah cecabang menggayuh gelombang bayu tarikan nafas. Dan para pemeriksa menemukan kemewahan selalu memantulkan kesadaran setubuh takdir mewaktu, meruang mekarkan abadi.

Walau novelnya terbentuk potongan kekisah pendek berbingkai judul perkuat isi dikandung, tiada satu kalimah tidak berjalin antara jalan-jalan dilalui. Semua mengerucut bebayang watak, katakter dihasrati pencerita. Tiada sosok kemayu berindah-indah kecuali pamrih patuhi sketsa dicanangkan, demi perekat keilmuan menempeli setiap tokoh dilakonkan.

Voltaire di jarak ditentukan, ibarat dalang kadang lebur sepermainan jemari, menunjuk ketajaman penanya pantas mendiami abad-abad di depan. Beginilah ruang-waktu dipelajari, peristiwa dimengerti sepundi-pundi kesantausaan umat mau menggali tanah usia, juga setiap misteri menunggui. Umpama punggung tak terjangkau mata, keberadaannya menutupi kekurangan yang ada.

Kepenuhan membuka kelambu kemungkinan melagukan keselarasan irama; hidup patut difikir ulang, seturun menemui kodrat semestinya. Gesekan masa mematangkan aura menafaskan kata menjelma laguan merdu nyawa di atas kemakmuran hikmah.

Jika kulukiskan, perjalanan Zadig mengalami kemalangan-kemalangan terpelajar, kesenangan-kesenangan hidup mendidik. Inilah kumandang merdu hayati di batok kepala, mengisi kalbu usaha musik diri, dengan alam seperistiwa makna puitika.

Ia pun suguhkan alur di balik pandang, berangkat ketabahan menguliti perjalanan Zadig. Kesabaran dituntun berjumpa pendeta, yang hampir menyamai pelajaran Nabi Musa di hadapan Khidir. Keserampangan itu kekonyolan sikap sepintas tak terdukung kebijakan, diperlihatkan sang guru, selalu diperdebatkan dalam perjalanan mencari keweruh agung.

Kedetailan tanda, wewarna kilatan sepintas tetapi tegas, menentukan esok jawaban purna, serupa tersingkapnya alam mulia sebelum dapati temuan-temuan dilakoni. Ini hadirkan corak bahwa ilmu pengetahuan sebatas pandang dan selidikan jauh kembangkan reribuan rahmat. Selaksa taburkan benih di ladang pengalaman berarti, hukum pasti yang sudah ditamankan Tuhan di bumi pekerti.

Yang mengejutkan, Voltaire menyebut asal rempah-rempah, bebumbu mahal dari dataran Tidore dan Ternate, daerah negeri kita Indonesia. Tak diragukan betapa luas wawasannya, pengendapan sejarah bentukan dongeng, tampak sekilas namun cerdas, berkehendak meraup seluruh isi dunia lewat sekali tarikan novelnya;

tak terbahtah, hampir sejauh karyanya bersimpan sumber mata air seirama gerak jaman demi kemajuan. Di sini keunggulan sastrawan selalu membuka lelembaran sejarah, wewatak manusianya tanpa memberi kecondongan kecuali berhak disandarkan ke alamnya; pengertian melimpah, tanpa ditutupi kepicikan faham yang dipastikan blunder kebingungan.

Sang pencerita mengemban ketahanan mempuni, keuletan dipadukan getah minyak memancar ke segenap penjuru malam gulita cemerlang, walau tanpa dinyalakan. Keberadaannya teduhkan fikir, tentramkan bathin, barangsiapa meneguk peroleh kehangatan purna, dan senantiasa diserang haus, sebab manisnya gugusan persembahan nan sederhana.

Suatukali pujangga Jerman Johann Wolfgang von Goethe berpendapat; “Dengan Voltaire terlihat dunia yang berakhir, dengan Rousseau dunia yang baru mulai.”

Ini terpantul kidungan kekaryaan menempuh jurang pesimis, persis lakon hidupnya banyak mengalami kemalangan, kegagalan tak henti, meski ditopang kemampuan intelektual. Zadig mewakili nasib pahit disamping kekokohan tajamkan pena, demi martabat ilmu di atas darah bagsawan. Dendamnya bertuah menancap kuat keyakinan, berujung runcung pena menggetarkan dinding-dinding salju Eropa.

Aku kira sulit dicari tandingan, sepak terjangnya mengancam menara-menara penguasa, kepandaian martabat budhi oleh pekerti kedekatan semua kawan. Juga menjadikan para pencemburu hadir membuatnya dijebloskan ke penjara, dibuang ke Inggris dan nasib buruk bertubi-tubi mendera mematangkannya. Demikian mental tangguh, selayar pancang tulisan mampu dikagumi semua jaman, di segala lapisan.

Ketika memasukinya dalam, aku mulai meragukan batas optimis atas seluruh kemampuan dikeluarkan, batasan pesimis oleh segala nikmat tercecap. Atau apa semestinya? Ketika kesengsaraan mendatangkan senang bertabah, sebaliknya kelezatan menggiring terlena?

Kiranya kesadaran baling-baling fikiran, keinsyafan permainan bumi dicetuskan Tuhan telah Voltaire pegang. Pengamat melihat gemawan kadang ragu bergelayut hendak hujan, tapi penggalian terdalam, tiada kemurungan bayang. Semua terpastikan gerak menentukan takdir lain; yang tertulis, begitu terlaksanakan, di langit tertinggi sekalipun demikian.

Itulah jumlah alur penalarannya, kala menakar daya kemampuaan berhadapan filsafat optimis Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), dongengan Zadig dibangun memangfaatkan tarian kisah menentukan. Seminimal mengadu kekuatan, sebelum benar-benar bertarung faham tak disukai, olok-olok semacam cara canda mematikan kaum pemikir;

menganggap enteng hal berat itu ringan, entah melalu pengulangan kalimah membentuk pengertian lain. Atau ditaruh di tempat-tempat tak semestinya berakibat njomplang, hingga tertolak gagasan musuh-musuhnya di depan hayalak.

Jiwa pengelanaannya tak luput ke Jerman, sebelum singgah di Jenewa mematangkan gagasan, dikala bertumbuk langsung bermusuhan dalam perang filosofis atas Rousseau, berpolemik melalu surat, serta karya tulis diterbitkan. Seperti mendapati lapangan sejuk, berderap kuda hasrat beringas, sisi berbeda sewaktu dahulu di samping kekasihnya, Madame du Châtelet.

Ataukah satu-satunya ambisi meneruskan pengarang Racine, terkenal hanya mengandalkan pena berbakat menulis. Ia telah buktikan, sudah melampaui orang-orang sejaman lebih, pun dunia tak segan memberi titel; abad XVIII Prancis bersebutlah abadnya Voltaire.

Sebagai penutup, aku membayangkan ramainya perkampungan yang dibabat alas semangatnya, mungkin masih bernama Ferney-Voltaire.

Bandar Lampung – Lamongan, Februari – Maret 2011.

Jumat, 18 Maret 2011

Kepriyayian Humanis

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Dunia Priyayi Jawa sempat dijadikan bidikan empuk ketika berhadapan dengan dua ideologi yang dilahirkan pergolakan manusia di Barat. Yaitu Komunisme yang seperti hantu dan kapitalisme, si musuh bebuyutan yang belum sempat dikalahkan. Dua ideologi politik yang ternyata ideologi manusia yang memiliki kesamaan, membidik sistem kepriyayian (feodalisme) untuk diruntuhkan. Mungkin saja, feodal selalu dipandang buruk, sebagai segolongan penguasa (tuan tanah) yang memerintah rakyatnya (buruhnya) dengan sewenang-wenang, bertindak zalim, tidak adil dan tidak berperikemanusiaan. Seperti itu, pandangan kita secara umum mengenai feodal. Kedua ideologi ini secara tidak langsung menyerangi kepriyayian dikarenakan dalam kepriyayian tersebut mengandung semangat feodal. Entah bagaimana, seluruh priyayi dinisbatkan memiliki sifat feodal yang secara terang-terangan dan sembunyi terus dimusuhi dua ideologi modern. Baik komunis dan kapitalis terus menggerus sistem pemerintahan lama dengan cukup pengecut, membungkus diri dalam indahnya mitos demokrasi.

Sistem kehidupan kita sekarang, sebagaian besar dan nyaris seluruh umat manusia tergila-gila dengan kehidupan demokrasi. Sistem hidup yang menawarkan kesetaraan manusia dengan manusia lainnya. Setara dalam hal apa pun, bahkan mengindahkan norma budaya lokal (kepriyayian, maksud saya) yang sedari awal sudah diperhitungkan nilainya. Demokrasi memikat mata manusia yang menawarkan juga kebebasan. Hidup dengan cara sendiri, jalan sendiri, atau berbuat dengan sekehendak sendiri tanpa perlu menunggu perintah dari orang lain. Hidup merdeka tanpa harus merasa sebagai abdi bagi orang lain.

Memang, manusia yang merdeka terlepas dari perbudakan manusia satu atas manusia lainnya. Seperti pepatah, lepas dari mulut Harimau, akhirnya jatuh juga ke mulut Serigala. Karena menurut saya, manusia terlepas dari orang lain akan menjadi budak bagi dirinya sendiri. Tapi, kebanyakan dari kita memilih, lebih baik diperbudak diri sendiri ketimbang diperbudak oleh orang lain. Saya sengaja mengungkapkannya sebagai budak diri sendiri, sebab melalui diri manusia itu sendiri manusia menginginkan kemerdekaan dari orang lain, setelah itu akan masuk ke dalam lubang gelap keinginan (dirinya sendiri).

Bebas semau-maunya sendiri untuk mengikuti keinginan (nafsu) yang terkadang menipu kita terang-terangkan dan hebatnya lagi, kita (manusia) tidak mampu berbuat apa-apa. Teramat sulit untuk merdeka dari diri sendiri.

Demokrasi menawarkan mitos mengenai indahnya kemerdekaan. Karena menulis ini, saya langsung teringat dengan film Amerika berjudul The Patriot. Dalam film itu,tokoh Benjamin yang diperankan Mel Gibson sempat berujar, saya kutib bebas: Untuk apa kita menukar tirani yang keberadaannya sangat jauh di seberang lautan dengan tirani baru yang lebih dekat? Film The Patriot mengkisahkan kerasnya perjuangan manusia Amerika dalam mencapai kemerdekaan serta mendirikan sistem politik baru berlandaskan demokrasi.

Impian tentang kehidupan yang demokratis seperti mimpi indah, tentang malaikat penyelamat yang wajah aslinya belum kita ketahui. Ucapan Benjamin itu, baru-baru ini saya cermati ulang. Lalu saya membuat simbolisme, tirani yang jauh adalah orang lain sedangkan tirani yang dekat adalah diri manusia itu sendiri. Tirani yang jauh, semisalnya saja pemerintahan diktator Bapak kita H.M. Soeharto swargi, pernah mengekang kebebasan manusia, memenjarakan tubuh dan gerakan namun toh, nyatanya manusia masih bisa berbebas ria. Seperti Penyair Wiji Thukul atau W.S. Rendra yang tetap merdeka. Akantetapi, setelah kebebasan didapatkan dengan lengsernya Pak Harto, kemerdekaan yang tercermin dalam semangat itu seolah memudar. Manusia bertemu dengan penguasa dirinya yang baru, yaitu keinginan yang lebih kejam menindas jiwa.

Sebagaian besar manusia terpenjara dan diperbudak oleh dirinya sendiri. Kemerdekaan sebagai manusia tersamarkan oleh kemerdekaan keinginan (nafsu). Atau, barangkali kemerdekaan yang ditawarkan oleh mimpi indah itu hanya sebatas ilmu (sistem) pelembagaan atas keinginan-keinginan manusia? Jikalau kita menilik lebih jauh lagi mengenai permasalahan sosial di negara kita, kesemua itu tidak terlepas dari hasrat manusia dalam usaha memenuhi keinginan. Hasrat membawa pada kegelisahan yang menuntut untuk dipenuhi, kegelisahan membawa pada gerakan-gerakan.

Keadaan seperti ini sebagai penggambaran dari demokrasi yang, saya kira, memiliki lebih dari seribu wajah. Suatu kondisi hidup yang tidak menguntungkan rakyat kecil sebenarnya tidak dipengaruhi oleh sistem politik yang hanya sebatas teks. Entah itu masyarakat madani, demokrasi, monarki, feodal, sosialisnya komunis yang dengan masyarakat komunalnya, tetap tidak akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan manusia jikalau hanya sebatas ideologi teks. Semua memiliki keunggulannya masing-masing sebagai harapan indah, namun hanya menjadi pesan yang tidak tersampaikan apabila ideologi tidak dijalankan sebagai perilaku.

Idelogi yang baik untuk manusia adalah ideologi yang dalam wacana dan pelaksanaannya harus dilandasi dengan nilai ketuhanan dan kemanusiaan, serta mutlak diperlukan adanya gerakan manifestasi ke dalam perilaku manusia. Ideologi yang baik merupakan ideologi yang tidak hanya sebatas wacana. Dunia jauh dari teks. Ideologi harus sebagai perilaku manusia yang murni.

Dunia kepriyayian dapat dipandang sebagai ideologi kemasyarakatan yang mana pola pemikirannya tidak terwacanakan. Kepriyayian sebagai ideologi yang langsung berada dalam dataran perilaku. Segolongan manusia yang dalam kehidupan manusia Jawa berada di tempat teratas. Akantetapi, priyayi itu sendiri merupakan jalan hidup manusia yang di dalamnya mencerminkan kehalusan laku serta penguasaan akan ilmu. Kehalusan laku dan penguasaan akan ilmu merupakan pandangan hidup masyarakat Jawa yang membawa pada kehidupan yang selaras.

Dunia priyayi sebagai ideologi yang humanis dapat kita saksikan dalam kehidupan priyayi yang dibangun (dipotret) oleh Almarhum Umar Kayam (30 April 1932 s.d. 16 Maret 2002) di dalam novel “Para Priyayi” (1992). Penggambaran yang simbolis namun membaca dalam cerita realis yang mengagumkan. Kehidupan manusia berstatus sosial nomor pertama di kehidupan masyarakat Jawa mencirikan mengenai kehalusan sikap, kepemimpinan, serta penjagaan atas kehormatan manusia terpejalar.

Sosok priyayi yang dihadirkan UK, menurut saya adalah sosok priyayi yang humanis. Status sosial nomor satu yang diduduki tidak lantas membuat priyayinya UK berpura buta dengan permasalahan orang lain yang ada di sekitarnya. Ciri dari humanisme seorang pemimpin yang jarang sekali kita temukan di dalam kehidupan realitas saat ini.

Semangat humanisme yang indah, walau hanya di dalam tingkatan keluarga. Humanisme kepriyayian yang UK hidangkan pada kita dapat ditelusur dari alur cerita. Misalnya saja, keterangan mengenai kepedulian yang dinasehatkan untuk kita: “Rezeki dan pangkat itu jangan dimakan dan dikangkangi sendiri” (Para Priyayi, 2001: 15). Nasehat ini memberikan wejangan indah yang menenangkan. Apabila kita mengaitkan priyayi dengan seorang pejabat pemerintah, kalau semua pejabat kita memahami ini maka, tidak akan ada rakyat yang kelaparan. Akantetapi, perlu kita menggaris-bawahi bahwa kepriyayian tidak hanya berurusan soal status sosial, dia sebagai pegawai pemerintah atau bukan. Lebih dari pengertian itu, kepriyayian yang UK ketengahkan di sini adalah sosok yang memiliki ilmu pengetahuan.

Menjadi priyayi berarti menjadi individu yang pandai, yaitu memiliki ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk kebaikan bersama. Bersebab, orang yang berilmu dapat membawa jalan hidupnya yang tidak merugikan orang lain, bahkan dapat membawa keuntungan bagi masyarakatnya. Langkah gerak seorang priyayi tidak melulu memikirkan keuntungan diri sendiri, yang dengan kata lain, menggunakan kepriyayiannya untuk menindas orang lain demi keuntungan diri. Namun sebaliknya, kepriyayian itu dapat memberikan manusia pertolongan dari kesulitan.

Melalui “Para Priyayi” dapat kita temukan kehidupan sosok priyayi humanis yang berusaha sekuat tenaga menjalankan peran kepriyayiannya. Tugas dan wewenang yang berat, seperti tergambar dari kehalusan laku untuk “sepi ing pamrih, rame ing gawe, serta memayu hayuning bawana” atau “tidak mementingkan diri sendiri, menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya, serta memperindah dunia”. Dalam novelnya, UK mengetengahkan berbagai ajaran kehidupan yang indah. Bahwa hidup tidak sekedar mengejar gemerlap materi (kekayaan), akantetapi dengan kepriyayian itu UK mengajarkan mengenai tujuan akan adanya keselamatan bersama.

Menjadi seorang priyayi, bagi UK tidak berorientasi pada jabatan dan kekayaan, namun lebih pada nilai cendekiawannya (menjadi seperti Lantip) yang dapat memainkan peran dengan sebaik-baiknya. Bahwa priyayi itu terpandang karena kepandaiannya, kalau hanya sekedar menginginkan kehidupan yang kaya, lebih baik menjadi saudagar (Para Priyayi, 2001: 48). Kepriyayian Jawa yang disodorkan UK adalah kepriyayian yang menghiasi dunia, menjaga, serta mewujudkan keselamatan semua manusia.

Pertemuan saya dengan UK terjadi setelah meninggalnya beliau. Tentu saja, sebuah pertemuan spesial melalui buah tangan, pikir, dan rasa yang sampai hari ini masih sering saya tengok. Pertemuan itu menjadi awal pertemuan saya (yang hanya seorang petani berdarah hitam; hitam sebab lebih banyak lumpurnya ketimbang darahnya) dengan priyayi humanis. Momentum yang membanggakan ketika saya menemukan pemahaman akan arti dari humanisme. Humanismenya kepriyayian UK tidak hanya mengajak berontak pada kesewenangan atau memihak pada mereka yang ditindas.

Sosok priyayi humanis ini menuntun saya untuk lebih jauh lagi mengoreksi diri. Menelusur sampai jauh hingga saya menemukan suatu cara: “memukul tanpa memukul”. Sudah sepuluh tahun beliau wafat, dan baru hari ini juga terpikir untuk menulis sesuatu.

Mumpung masih bisa menulis untuk sekedar bertanya, saya ingin memastikan apakah benar UK menolak sebagai priyayi “rural-agraris” seperti yang diungkapkan Darmanto Jatman dan lebih memilih menjadi priyayi “urban-industrial”? Sedari dahulu, saya mengira UK adalah sosok yang terus berada di ranah agraris itu, seperti nasehat Atmokasan pada Sastrodarsono: “Meski sudah jadi priyayi, jangan lupa akan asal-usulmu. Kacang masa akan lupa dengan lanjaran-nya.” (Para Priyayi, 2001: 48).

Jikalau saya, petani yang berdarah lumpur ini, tetap berusaha untuk menjadi manusia agraris. Bersebab, masih juga yang seperti Darmanto Jatman bilang bahwa Stephen Covey yang berangkat dari masyarakat urban industrial masih menggunakan hukum tabur-tuai (agraris), yaitu: Siapa yang menabur gagasan akan menuai perbuatan/ Siapa yang menabur perbuatan akan menuai kebiasaan/ Siapa yang menabur kebiasaan akan menuai karakter/ Siapa yang menabur karakter akan menuai nasib. Destiny!

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Selasa Pahing 15 Maret 2010

Gambaran Kelas Masyarakat Inggris

Olivia Kristina Sinaga
http://www.ruangbaca.com/

Ada begitu banyak kisah fabel. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia mungkin lebih mengenal si beruang kuning penyuka madu, Winnie the Pooh. Beruang yang memiliki ‘otak sangat sedikit’ ini menjalani hari-hari di A Hundred Acre Woods bersama teman-temannya, Piglet, Eeyore, Tigger, Rabbit, Owl, Kanga, Roo, dan seorang anak laki-laki kecil, Christopher Robin.

Fabel lain yang menyajikan petualangan dan hiruk-pikuk kehidupan para karakter binatang adalah The Wind in the Willows. Karya Kenneth Grahame yang terbit pertama kali pada 1908 ini tergolong karya klasik dalam sastra anak-anak. Karakter- karakter utama berpusat pada Mole (tikus tanah), Ratty (tikus air), dan Mr. Toad (katak).

Ada beberapa persamaan antara The Wind in the Willows dengan Winnie the Pooh karya A.A. Milne. The Wind in the Willows awalnya digunakan sebagai serial cerita sebelum tidur untuk anak tunggal Grahame, Alastair, dan ketika ia dikirim bersekolah, cerita berlanjut dalam bentuk surat. Milne menulis Winnie the Pooh dan temantemannya di A Hundred Acre Woods untuk anaknya, Christopher Robin, yang menjadi satu- satunya tokoh manusia dalam cerita tersebut.

Karakter-karakter dalam kedua cerita adalah binatang, keduanya telah diadaptasi ke layar kaca maupun perak, dan mengilhami musisi (ingat lagu Return to Pooh Corner yang dinyanyikan Kenny Loggins?), dan sama-sama berasal dari Inggris. Untuk ilustrasi yang memperindah buku masingmasing, Grahame dan Milne sepakat memanfaatkan talenta seni E. H. Shepard.

Tempo bertutur Grahame dalam buku ini kadang bergerak lambat dan cepat bergantian, seperti sungai Thames yang menjadi latar belakang cerita. Ritme cerita berpacu lekas jika Mr. Toad—pemilik Toad Hall— yang arogan, kaya, gampang tertarik pada satu hal secepat ia bosan dan berpindah pada hal lain, muncul di antara Mole yang lembut dan Ratty yangs antai, ramah, mencintai sungai dan melindungi Mole di bawah sayapnya. Di samping ketiga karakter tersebut ada teman mereka, yakni Badger (berangberang) yang tinggal di Wild Wood, figur penyendiri yang baik hati dan ‘membenci masyarakat’.

Kegilaan Mr. Toad akan petualangan seringkali menjeratnya dalam kesulitan. Untungnya, ia mempunyai teman-teman yang sabar dan baik hati serta siap menolongnya. Mole yang awalnya kagum (bisa dikatakan cenderung kaget) pada kehidupan di tepi sungai bisa beradaptasi setelah terus-menerus menghadapi Mr. Toad yang impulsif dan cepat puas akan dirinya sendiri. Ia berpindah dari satu obsesi ke obsesi lain, seperti rumah perahu dan kereta kuda.

Petualangan terpanjang karena kegilaannya itu terjadi saat ia menemukan mobil. Sederet kecelakaan menggiringnya ke penjara atas tuduhan pencurian, cara mengemudinya yang membahayakan nyawa binatang lain, dan sikapnya yang tidak menghargai polisi daerah setempat. Beberapa bab paling seru dalam buku ini merupakan rangkaian pelariannya. Untunglah Mr. Toad mempunyai teman-teman setia yang mengubahnya dan memenangkan kembali Toad Hall, yang telah dikuasai oleh para musang saat ia tidak ada.

Personifikasi karakter-karakter dalam The Wind in the Willows mewakili beragam kehidupan kelas dalam masyarakat Inggris. The Wind in the Willows seringkali dibandingkan dengan Animal Farm karya George Orwell karena di satu sisi merupakan komentar mengenai dinamika kelas dalam kehidupan negara asal grup musik The Beatles ini. Secara kasar ‘River Bankers’ (penghuni tepi sungai) merepresentasi kelas atas, sementara ‘Wild Wooders’ (penghuni hutan) merepresentasi kelas bawah.

Walau pada awalnya terbit tanpa ilustrasi, bertahun-tahun kemudian banyak versi dengan ilustrasi muncul. Mungkin karya E. H. Shepard, diterbitkan pada 1931, adalah yang paling populer. Grahame memang tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil akhirnya. Namun, versi ini dipercaya sebagai karya yang ditandatangani Grahame karena ia senang dengan sketsa Shepard.

The Wind in the Willows banyak mengilhami lahirnya berbagai versi, bahkan sekuel dirinya. Edisi The Folio Society terbit tahun 2006 menyajikan fitur 85 ilustrasi, 35 di antaranya berwarna, oleh Charles van Sandwyk. William Horwood menciptakan sekuel The Wind in the Willows: The Willows in Winter, Toad Triumphant, The Willows and Beyond, The Willows at Christmas. Wild Wood oleh Jan Needle, terbit tahun 1981, dengan ilustrasi oleh William Rushton.

Buku ini merupakan penuturan kembali cerita The Wind in the Willows dari sudut pandang penghuni kelas pekerja Wild Wood. Mereka mengalami keterbatasan uang. Pekerjaan pun sulit diperoleh. Perspektif mereka sangat berbeda atas gaya hidup mudah Toad dan temantemannya yang kaya dan tidak pedulian. Beberapa insiden terkecil dari cerita aslinya diperjelas dalam buku ini—narator Wild Wood kehilangan pekerjaan yang sangat dibutuhkannya sebagai sopir Toad ketika Badger, Mole, dan Rat memutuskan untuk menghentikan kegilaan Toad menyetir. Klimaks buku ini datang saat Toad masuk penjara: para musang mengambil alih Toad Hall dan mengubahnya menjadi perkumpulan sosialis bernama Brotherhood Hall.

Beberapa film dan versi televisi The Wind in the Willows termasuk versi animasi Walt Disney tahun 1949, The Adventures of Ichabod and Mr. Toad. Tahun 1983 muncul animasi menggunakan boneka stop-motion, bukan gambar, oleh Cosgrove Hall, diikuti oleh serial televisi dan dibuat dengan gaya yang sama—versi ini dikatakan sebagai adaptasi yang paling setia. Lalu muncul animasi pada 1996 dengan bintang utama Michael Palin dan Alan Bennett sebagai Ratty dan Mole; mengikuti adaptasi The Willows in Winter. Di tahun yang sama muncul versi live-action yang ditulis dan disutradarai oleh Terry Jones.

Panggung teater tidak mau ketinggalan dalam mengadaptasi fabel ini. Milne memproduksi Toad of Toad Hall pada 1929. Alan Bennett, sebelum berperan sebagai Mole dalam film (1996) telah menulis adaptasi panggung The Wind in the Willows dan berperan sebagai karakter yang sama pada 1991. Mr. Toad’s Mad Adventures dihasilkan oleh Vera Morris. Tak ketinggalan untuk radio, Kenneth Williams membuat sebuah versi dari buku tersebut.

Para musisi pun terkena imbas lekatnya pengaruh buku anak-anak ini. The Piper at the Gates of Dawn, tajuk album pertama Pink Floyd dicomot dari judul bab 7 dalam buku The Wind in the Willows. Walau demikian, lagu-lagu dalam album tersebut, yang sebagian besar ditulis oleh Syd Barrett, tidak berhubungan langsung dengan isi buku. Album The Healing Game karya penyanyi-penulis lagu Van Morrison di tahun 1997 memuat lagu Piper at the Gates of Dawn. The Wind in the Willows juga merupakan judul lagu yang ditulis Alan Bell dan dinyanyikan oleh banyak artis, termasuk Blackmore’s Night.

Kenneth Grahame (1859- 1932) lahir di Edinburgh dan menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Berkshire, di mana ia dikirim pergi ke luar rumah saat berusia lima tahun setelah kematian ibunya. Ayah Grahame, yang tidak mampu mengurus keempat anaknya, menyerahkan mereka dalam pengawasan sang nenek. Walaupun diperlakukan dengan baik, anak-anak Grahame saling bergantung dalam penghiburan dan dukungan emosional. Kenangan masa kecil dan jam-jam yang dihabiskan di sisi atas sungai Thames itulah yang mengisi Grahame dengan materi untuk The Golden Age, Dream Days dan kemudian karyanya yang paling dikenal, The Wind in the Willows.

Grahame dikirim ke St Edward’s School pada usia sembilan tahun, yang menggiringnya lebih dekat pada hari-hari sederhana dan menyenangkan di tepi sungai. Rencananya untuk belajar di Oxford University terhempas karena kekurangan dana. Keluarganya pun berkeras menyuruh ia bekerja di Bank of England. Pada tahuntahun kerjanya di bank Grahame mulai menulis esai dan cerita. Ia sering menulis di The Yellow Book, media periodik yang mengkhususkan diri pada sastra dan seni, dan pada St James’s Gazette.

Ia bertemu Dr Frederick Furnivall pada 1886 yang mengenalkannya pada penulis-penulis lain: Tennyson, Browning, Ruskin, dan William Morris. Furnivall jugalah yang menyemangatinya dalam menulis. Pada 1893 Grahame menerbitkan koleksi esai berjudul Pagan Papers yang diterima dengan sangat baik. The Golden Age (1895) dan Dream Days (1898) memantapkan reputasinya lebih jauh dan membuatnya diingat lantaran pengertian yang luar biasa tentang pikiran anak-anak.

Pada 1898 ia menikahi Elspeth Thomson, yang melahirkan anak tunggal mereka, Alastair, pada tahun berikutnya. Setelah The Wind in the Willows terbit pada 1908, kesehatan Grahame memburuk dan memaksanya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan perbankannya. The Wind in the Willows memberikan keuntungan besar untuk Grahame, sehingga ia bisa berhenti dari pekerjaannya di bank (yang ia benci walaupun tergolong pekerjaan terhormat dan berpenghasilan besar). Ia lalu pindah ke daerah pedesaan, seperti yang dilakukan tokoh-tokoh dalam ceritanya.

Grahame terus menulis artikel dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Setelah kematian tragis putranya, saat menjadi mahasiswa di Oxford University, Grahame mengucilkan diri di rumahnya dekat sungai Thames. Di rumah itu ia hidup hampir sebagai seorang pertapa hingga kematiannya, 1932.

Grahame melabuhkan karakterisasi para binatang yang sederhana dan riil dengan latar sisi sungai yang bersahaja tanpa menghilangkan kesenangan yang dihasilkannya. The Wind in the Willows merupakan ramuan petualangan dan moralitas yang sangat disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa, dan tidak diragukan akan terus disukai oleh generasi mendatang. Bukankah selalu ada anak yang haus akan kisah dan petualangan dalam dirinya, iya kan?

Matahari

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Matahari terdiri dari terik yang panjang, biasanya memancar di saat siang. Sementara fajar hanya menyimpan terik yang sebentar untuk kemudian menghilang digantikan matahari yang garang. Lalu senja datang sesaat untuk digantikan malam yang juga terasa panjang.

Meraih Sukses dari Karya-karya Thriller

Angela
http://www.ruangbaca.com/

Awalnya adalah sebuah email tanda simpati. Tersentuh oleh penderitaan dan perjuangan Kapten James Yee, Prayudi—Chief Editor Pustaka Zahra—mengirim surat pada ulama militer yang dizalimi pemerintahnya itu.

“Saya sampaikan padanya bahwa saya dan teman-teman bersimpati atas perjuangannya dan berdoa untuk keberhasilannya,” kenang Yudi.

Siapa nyana, surat tanda simpati yang dikirim pertengahan tahun silam itu menjadi pembuka jalan kerjasama antara Pustaka Zahra dan Yee. Kebetulan saat itu Yee baru saja meluncurkan memoar tentang perjuangannya menghadapi fitnah dan perlawanan hukumnya terhadap negaranya sendiri. Buku berjudul For God and Country itu meledak di pasaran dan dipuji banyak media besar.

“Kami saling berkorespondensi sekitar September, dan Januari keluar izin dari agen Yee untuk menerbitkan bukunya,” kata Yudi.

Sepanjang masa penantian itu, Yudi mengakui, pihaknya terus berdebar-debar, khawatir izin tidak keluar. “Pesaing kami adalah penerbit-penerbit besar, mungkin saja izin penerbitan jatuh ke tangan mereka,” katanya.

Secara pribadi, Kapten Yee memberi izin pada Yudi dan teman- temannya untuk menerbitkan edisi bahasa Indonesia memoarnya. Rupanya surat simpati itu membuat Yee terkesan pada Penerbit Zahra. Padahal, mereka terhitung baru menerbitkan lini fiksi dan non fiksi umum.

“Setelah mengurus proses sana- sini, termasuk terjemahannya,

buku Yee kami luncurkan Maret silam,” kata Yudi. Proses ini terhitung cepat jika mengingat buku dalam versi bahasa Inggrisnya terbit hanya selang setengah tahun lebih. Buku Yee yang menelanjangi sikap paranoid Amerika pada umat Islam ini diterbitkan di bawah lini Dastan Books. Lini ini khusus menerbitkan buku fiksi dan non fiksi umum. Sebelumnya, saat pertama kali didirikan pada Juni 2002, Zahra lebih berkonsentrasi menerbitkan buku-buku Islam. Buku zikir dan doa menjadi fokus penerbit yang berlokasi di Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur, ini.

“Karena saat itu lingkup penerbitan buku Islam sudah mulai jenuh, kami berpikir untuk membuat lini buku-buku umum,” kata Yudi.

Setelah dua lini terdahulu yang membawahkan komik dan fiksi Islami, Dastan Books kemudian lahir pada Juni 2003. Lini baru ini rupanya membawa berkah tersendiri bagi Zahra. Saat lini lain di penerbitan ini mulai layu, Dastan justru melaju dengan buku-buku fiksinya. Mulanya, Yudi dan teman- temannya menerbitkan The Blind Owl sebagai proyek pertama. Fiksi karya sastrawan Iran fenomenal Sadeq Hedayat ini mendapat sambutan baik di pasar.

Terpacu oleh kesuksesan The Blind Owl, Yudi dan teman-temannya kemudian menerbitkan Perfume, fiksi thriller karya Patrick Suskind. Fiksi yang bercerita tentang seorang jenius kriminal yang menguliti kepala dan rambut 25 korbannya ini juga sama suksesnya. Bahkan sudah mengalami lima kali cetak ulang. Memoar James Yee juga laris manis. Bulan ini, buku setebal 300-an halaman itu sudah cetak ulang ketiga kalinya. “Cetak terakhir itu sekitar 20 ribu eksemplar,” katanya.

“Kami kemudian memutuskan untuk lebih serius menggarap buku fiksi umum,” kata Yudi.

Kesuksesan buku-buku Dastan memacu Yudi dan temantemannya makin rajin berburu naskah-naskah bagus untuk diterbitkan. Bahkan tidak jarang lulusan Fakultas Ekonomi tahun 1992 ini sudah “menunggui” naskah yang belum dicetak dalam versi aslinya. “Kami pasang mata dan telinga untuk bisa tahu naskah mana saja yang akan dicetak,” katanya.

Yudi, yang bertugas menilai buku yang layak terbit, terpaksa harus rajin membaca. “Saya menamatkan satu buku dalam tiga-empat hari,” katanya. Itu artinya sebulan ia bisa membaca sekurangnya 12 buku.

Untuk menerjemahkan karya- karya itu, Zahra yang dipimpin Muhammad Andy ini mempekerjakan ratusan penerjemah lepasan. Dari jumlah itu, penerjemah tetap biasanya hanya berkisar antara 10-15 orang. “Itu yang bisa bekerja cepat dan hasil terjemahannya sangat bagus,” kata Yudi. Untuk penerjemah berkualitas itu, pihaknya rela membayar Rp 15- 20 ribu per lembar.

Pekerjaan berburu buku diakui Yudi bukan pekerjaan mudah mengingat banyaknya penerbit besar yang juga melakukan hal serupa. Modal dan jaringan tentu saja mereka lebih jago. Tapi, namanya nasib, Dastan Books tidak jarang lebih dulu dihubungi agen buku di luar negeri. Mungkin karena kami selalu berkomitmen serius dalam menerbitkan buku-buku bermutu,” katanya.

Kalau pun tidak bisa membidik naskah yang belum diterbitkan, Yudi selalu memfokuskan buruan mereka pada buku-buku bagus dan pemenang penghargaan. “Kami utamakan jarak waktu penerbitan aslinya dengan terjemahan terbitan kami tidak lebih dari setahun,” katanya. Untuk satu naskah yang mendapat izin penerbitan, Zahra merogoh kocek setidaknya US$500.

Meski demikian, ada juga tawaran penerbit yang terpaksa ditolak oleh Dastan Books. “Kami pernah ditawari hak terjemahan pemenang Pulitzer,” kata penyuka fiksi thriller ini. Namun karena fiksi pemenang berkisah tentang perang saudara di Amerika, Yudi khawatir daya tarik fiksi berkurang. “Temanya tidak terlalu akrab dengan kebanyakan pembaca kita.”

Kini, dengan nama yang mulai dikenal orang, setidaknya sudah 10 fiksi yang mereka luncurkan. Buku-buku baru yang segera terbit di antaranya Cinderella Man, kisah hidup petinju legendaris Jim Braddock yang sudah diangkat ke layar perak. Lalu ada novel suspense Red Leaves karya Thomas H. Cook. Novel dengan gaya bahasa berputar-putar mirip jigsaw puzzle ini dinobatkan sebagai pemenang Edgar Award, penghargaan terkemuka untuk novel thriller, kriminal, dan pembunuhan.

Di kantornya yang terletak menjorok ke dalam di kompleks yayasan Fatimah—yang meliputi panti asuhan, koperasi, dan kedai buku, Yudi dan teman- temannya menyimpan impian yang tidak kecil. “Kami ingin menerbitkan setidaknya empat buku setiap bulan,” katanya. Dengan buku-buku bagus yang ia baca, buru, dan terbitkan, bukan mustahil impian itu tergenggam tangan.

Minggu, 13 Maret 2011

PLAGIATOR VS PENGARANG

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Pengarang yang mentalnya teriming-imingi keinginan menjiplak pesona karya para pendahulunya, ialah pengkarya yang tak memiliki keberanian mengeruk kesejatian di tengah peredaran sejarah. Terpedaya laluan kecil, lalu berhamburan bersuka ria, layaknya si bocah menyenangi permainan, tiada keinginan belajar lebih atas realitas. Sebayang-bayang terhapus, kala pamor yang dijiplak meningkatkan sorot cahaya, di siang hari jaman yang didengungkan.

Pilar-pilar keadaban insan tercipta oleh mereka yang sungguh menempuh nasib, bergulat pemahaman masa lalu ke jenjang dimungkinkan. Temuan dari kesadaran waktu dikumandangkan, bersegenap bacaan menguliti jatidiri, sebelum membangun segugus gagasan murni, sepantulan daya hidup menyerap-menggetarkan.

Tak terpungkiri, pergerakan hayat saling belajar, tentu tidak asal caplok menelan mentah sandaran yang ada. Harus menggapai bersemangat kuat, di sini fitroh mengangkat sumber mata air pribadi; tradisi juga wewarna menaungi. Ialah bebatuan berkarakter tinggi ditempa musim silih berganti soal membentuknya. Ikhtiar pengarang menuju alam-sesama dan saluran informasi yang menggerayangi.

Dalam pada itu, siapa pun pembawa hawa mentalitas menjiplak, menempati kesenangan rendah, surga terdangkal keramaian, manipulasi tak menghantar pencerah. Langkah tanggung, jauh dari tanggung jawab; keberanian palsu, tiada kemerdekaan, dan akrab siksaan. Bagaimana sanggup meloloskan seluruh hasrat kepengarangan, jika kaki-kaki lincahnya terjerat bebenang halus rayuan rendah?

Suatu bangsa mengalami tingkatan mutunya, jika penghuninya peduli-mampu mengudar karya pengarangnya. Yang siapkan diri menyunggi jaman dikandung gairah tertinggi; mendendungkan kebebasan tanpa dekte memincangkan ayunan, tak memicingkan pandangan yang ada.

Aku sebut satu saja, anak manusia benar-benar pengaruhi rentetan sejarah ke belakangnya; Voltaire, sastrawan Prancis berjasa besar untuk bangsanya juga bebangsa lain. Dia abdikan hidup demi prinsipnya, birahinya menanjak tak peduli laguan lama, terpesona sendiri dimasa-masa menempa, tiada waktu mencari-cari sewatak penjiplak.

Manusia-manusia unggul belajar kepada jiwa-jiwa paripurna, mematangkan nasib demi mentakdirkan nafas-nafasnya bersatu alam raya. Menyimak silang pendapat abad-abad lampau, maka telisiknya tidak terbodohi tak membodohi. Tapakan teliti mengudar kalbu fikiran, secahaya menerobosi lubang kunci pada pintu di malam gulita. Yang tersaksikan lorong cahaya tegas, andai menembus bidang air-sungai, meski terbengkokkan, nyata bergerak lurus.

Faham-faham abad lampau dipelajari ulang demi ketepatan berpijak, menyinauhi derajat maknawi realitas berhembusan. Politik siasat penguasa juga masa percobaan menjegal gagasan disimaknya dalam kurungan pelita. Renungan panjang kausalitas terpaparkan tanak hujatan keragu-raguan, dan was-was di sekitar meloloskan sikap kukuh disetiap lekukan kalimah.

Dalam kesusastraan Indonesia, ada beberapa pengarang ketahuan menjiplak namun masih disebut keberadaannya, juga karyanya yang lain meski bukan plagiat. Parahnya berbondong-bondong orang seolah hendak mengamini tak menolak. Yang terjadi kualitas bangsa belunder tidak mandiri, silau mental-mental tidak berpayah-payah. Maka sekali tradisi kebohongan didukung, jangan keliru disusul berikutnya, seperti biang kerok korupsi tak dipenggal, usah heran menjamur koruptor membeludak lagi.

Lebih edan sekaligus kumprung, orang-orang pernah njiplak ditokohkan. Alamak, memang tiada lain? Sekuat apapun yang ngincipi njiplak, tak patutlah dijadikan taulatan. Pribadi terpedaya muka, bukan kandungan isi menariknya. Sekadar mengada ataupun diadakan demi manipulasi sejarah.

Suatu bangsa masih mengedepankan penjiplak, jelas tak punya harga diri di mata bangsa lain. Ia telah merusak martabat, mencoreng muka negerinya dengan arang abadi. Otomatis tidak ada rasa hormat pada kaum pengarang. Pantaskah menjadi pembaharu meski karya lainnya baik? Tidakkah asal kepergokan itu, mentalnya dangkal kekanak-kanakan, juga bukti mengabaikan fitroh diberikan Tuhan.

Kebesaran bangsa terletak betapa keras anak-anaknya mengumpulkan puing berserak, mewujud impian moyangnya di hadapan lain. Bahwa lingkup nafasnya tradisi, budaya mengeram lama menjelma pondasi terpenting di tiap guratannya.

Dan sejarah berangkat dari pembenaran keliru akan jatuh ke jurang nista, hinalah meneguknya. Di sini sepatutnya berontak pada pendahulu picisan, memberondong umpat mereka yang bersikap kemayu mendukung penjiplak berkidungan kolosal pembenaran, mungkin ia teman lamanya.

Secara sederhana-hakikatnya, pengarang dalam hidupnya berusaha mencipta, mencari temuan anyar, mereka-reka pantulan hayat. Tentu tiada kesamaan nasib dengan lainnya, andai ada kemiripan, semata lagu kesejatian universal. Jadi rupa-rupa memirip-miripkan bukan temuan, sekadar pemalas tak menguliti masa-masa direguk, penyakit turunan tak menyehatkan hati fikir sesama.

Kesenangan semu, kelezatan kulit dicecap plagiator, mengelabuhi pembaca sekilas, tertipu sebab tidak berbaca ulang karya di samping semangat jaman pengarangnya. Terperdaya tampakan tanpa menelisik putaran keberadaan, atau kesadaran karya di belahan jiwa pengarang. Padahal itu bisa ditengok berapa rentang usia pengalaman, tampak di setiap lekukan kata kehadirannya atas ciptaan, ataukah sekadar sulapan.

Jalan-jalan pintas dilewati pemalas yang cepat terpuaskan meski pemalsuan; di mana kapan pun, pasti terlihat boroknya. Mentalitas nanggung di alam keraguan, tiada kehendak menanjak dan was-was mudahlah tertangkap.

Sejatinya, pembaca suntuk mengetahui sejauh mana kata-kata racikan, rakitan, atau sungguh dari jiwa sederajat capaian niscaya. Karena penyuntuk memahami kerasnya mbeteti sukma, menghardik watak picik yang diturunkan alam dangkal kerap memenggal jalur-jalur pencariannya dalam berkarya.

Yang terbuai tumpukan bebuku tanpa mencangkul ladang diri, tanpa mengeduk keberadaannya di antara bacaan. Sekadar menambah sampah nan buram tidak meyakinkan di belantara dunia.

Di tanjung karang menjulang; penggagas, penemu, pelopor, tidak kering kaki-kakinya oleh datangnya penimba, dibasahi guyuran para peneliti. Tonggak itu nancap menelisiki bawah sadar pembaca. Maka hanya penyetia hayatnya demi berkarya, datang kemudian mampu keluar dari jaring laba-laba.

Nyatalah pengetahuan penjiplak selebar daun talas, ragu memelanting, asyik bermain di wilayah sempit, hawatir terjatuh nan tak mampu menguap kembali. Padahal kejadian itu menghadirkan kemurnian dari pesona daun-daun. Atau yang terpikat kilau terlupa dirinya ada inti cahaya, serupa kemalasan yang mengambil untung kemenangan para pelaku sebelumnya.

Tiada dalam sejarah dunia, pengarang yang kepincut menjiplak menjadi pemersatu dan jelas tak punya ajaran. Atau ujaran-ujaran terpantul darinya tak layak dan tidak langgeng dinafaskan. Ia hanya pengacau temuan sebelumnya, tiada isme dibelakang namanya, dan tidak pantas menduduki kursi kepengarangan sejati.

Karena kerja mengarang berangkat dinaya lahir-bathin nalar-perasaan menyatukan tekad, menyusuri laluan belum terjamah, air ganjil tak tersentuh, membuka kelambu asing belum terfikir. Maka jikalau terdapati mencontek, wajib dipertanyakan, sebab kerahasiaan insan tidak sama meski keyakinan serupa. Penyakit serakah ini paling buruk daripada tamak pada benda. Karena mengarang mengolah ruh rasa memendarkan kesadaran puitika penyimaknya, dengan bobot seirama lebih.

Sebenarnya, olah cipta dapat dinilai turunan, pencarian, ataukah penggembira. Ini terlihat perjuangan dalam kehidupan, pengorbanan kemanusiaan. Tersebab tidak mungkin keyakinan cemerlang, kalau tidak ditempa ribuan soal jutaan masalah menggayuh. Minimal gagasan penulis sejati yang tak ke medan sosial langsung berwatak keras, karakter tanggung jawab dikeluarkan, telah ditimang selaksa menimbang nyawa di depan algojo;

pergulatan bersama masa-masa penciptaan, sebelum dihadapkan berpundi-pundi kemenangan, selepas sekapan. Kerangkeng nalar-hati menggemuruh, ruh karya meledak segunung memuntahkan lahar. Andai alunannya halus, telah melewati ketabahan tanpa pamrih, kecuali demi abadi ke tanah dijanjikan.

Panggilan menjadi pengarang semisal undangan berjanji, kesaksiannya dipertanggungjawabkan, nilainya kejujuran. Tepat hidupnya mandiri, dinamis menggalang kejayaan umat. Yang rasanya tidak berharap sepeser pun kecuali gagasan ditimbangnya lama diterima sewarna kain maslahat. Andai tak sampai, jiwanya dicukupkan kesaksian hari-harinya bersuntuk mempelajari lekukan hayat.

Seperti penyeru ta’at atas apa yang diserap, siap menanggung resiko terburuk pada segenap dinaya capaiannya. Keimannya pada ondakan penelitian, serupa kefahaman menyeluruh merasai udara sekeliling. Di sana mencecapi madu murni tempaan waktu, maka tiada mungkin dilepas sekejapan. Itu nirwananya, keintiman bathin kepuasan iman pada pencariannya tidak menyerah, kecuali diambil nyawanya oleh el-maut.

Lamongan, JaTim, Untuk 8 Maret 2011

Problematik Teater Remaja (SMA)

(Dialog Jambore Teater Remaja 2008) Pendopo TBJT, 2 Agustus 2008
Pemateri : Eko ‘Ompong’ Santoso (Yogjakarta) AGS Arya Dwipayana (Jakarta).
Pemandu : R Giryadi (Surabaya)
http://teaterapakah.blogspot.com/

Kendala Aktualisasi

Kendala utama yang banyak ditanyakan dalam forum dialog oleh para peserta Jambore Teater Remaja 2008, adalah sulitnya mengaktualisasi diri. Aktualisasi diri ini disebabkan kesalahan persepsi orang tua terhadap kegiatan teater. Rata-rata orang tua menganggap kegiatan teater tidak bermanfaat.

Hal ini seperti diungkapkan peserta dari Teater Lab 56 SMAN 1 Kalisat Jember. Dikatakannya bahwa problem utama berteater adalah tidak adanya kepercayaan orang tua terhadap kegiatan ini. Padahal menurutnya teater banyak manfaatnya. “Saya kesulitan mendapatkan ijin dari orang tua. Bagaimana bisa menjelaskannya?” katanya,

Dipihak lain ada juga yang menanyakan manfaat teater. Penanya dari teater Hitam Putih SMAN 1 Tuban ini lebih detail ingin menanyakan manfaat teater. “Kata Pembina saaya teater itu manfaatnya sangat luas. Apa yang dimaksud dengan luas?” tanyanya.

Mendapat dua pertanyaan itu, dua narasumber secara bergantian memberikan ilustrasi tentang manfaat teater dan mengapa teater selalu disalah artikan oleh orang tua. Eko Ompong Santoso memaparkan, bahwa semua kegiatan yang dilakukan pada dasarnya bermanfaat, asal semua dilakukan secara bersungguh-sungguh. Karena pada dasarnya berteater itu juga belajar memahami kehidupan. “Segala sesuatu yang kita lakoni dalam hidup ini bisa direfleksikan dalam teater,” kata Eko.

Lebih lanjut Eko Ompong memaparkan, bahwa sebenarnya teater merupakan bentuk terkecil dari kehidupan. Berteater pada dasarnya mencontoh segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Kalau ada perbedaan persepsi dengan orang tua, Eko menyarankan hal tersebut jangan dijadikan beban tatapi sebagai tantangan.

Sementara itu, AGS Arya Dwipayana atau yang biasa disapa Mas Aji ini mempertegas pernyataan Eko Ompong. Menurutnya, tujuan teater tidak hanya sekedar panggung atau pentas saja. kalau orientasinya ke panggung, makna teater menjadi sempit. Teater terkait dengan proses yang sangat panjang. “Teater merupakan tempat untuk berlatih bermasyarakat dalam bentuk yang paling sederhana,” tegas Mas Aji.

Dipaparkannya, bahwa berteater itu didalamnya terdapat pelajaran bekerjasama, menghormati orang lain, tanggungjawab, disiplin, dan lain sebagainya. Drama atau teater juga bisa untuk dimanfaatkan untuk pembangunan karakter. Karena didalam teater juga dipelajari tentang olah rasa. Dia menconto beberpa sekolah di luar negeri mewajibkan pelajaran drama. Hal ini terkait dengan pembangunan karakter siswa. “Jadi kalau berbicara manfaat, manfaatnya sangat banyak,” kata Mas Aji.

Namun Mas Aji, memaklumi kalau banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian pada kegiatan teater. Hal ini disebabkan pemerintah sendiri tidak mempunyai goodwill tentang kebudayaan. Menurutnya pembangunan bangsa hanya melalui pendekatan ekonomi. “Hampir-hampir semua pembangunan diorientasikan pada ekonomi,” katanya.

Tak salah kalau akhirnya banyak orang tua yang cari selamat. Mereka banyak mengarahkan anaknya untuk berkegiatan yang punya nilai ekonomi. karena itu untuk meyakinkan orang tua, Aji menyarankan agar para siswa giat berlatih, untuk membuktikan bahwa berteater juga ada manfaatnya. “Anggap saja larangan orang tua sebagai bagian dari proses berteater,” tegasnya.

Problim Teknis

Pertanyaan yang tidakkalah menariknya adalah tentang seluk beluk teater. Seluk beluk teater ini banyak ditanyakan oleh peserta dialog. Yang pertama ada yang menanyakan tentang perbedaan antar teater dan drama. Kedua ada juga yang menanyakan bagaimana cara berakting yang baik dan ketiga bagaimana metode menyutradarai yang baik.

Pertanyaan pertama disampaikan oleh peserta dari Teater Angin SMAN 2 Tuban. Dia mengaku masih bigung membedakan antara teater dan drama. Menurutnya selama ini dirinya tidak bisa membedakan apa yang dimaksud drama maupun teater.

Pertanyaan kedua disampaikan oleh peserta dari Teater Pandhan Room dari SMAN 2 Bangkalan dan juga dari teater Angin SMAN 2 Tuban. Kedua penanya ini mempertanyakan bagaimana tekni berakting yang baik. Penannya dari Teater Angin Tuban mengatakan, kalau dirinya sering terbawa dengan karekater yang pernah diperankan. Ia mencontohkan, pada penampilan pertama ia memerankan tokoh berkarakter garang seperti penjahat. Pada penampilan ke dua ia memerankan orang yang alaim. “Tetapi kendalanya saya sering terbawa dengan karakter peran saya yang pertama,” katanya.

Sementara penanya ketiga menanyakan tentang pendekatan penyutradaraan. Peserta dari SMAN 1 Papar, Kediri ini mengaku terkendala memilih pendekatan penyutradaraan. Menurutnya dengan metode otoriter (ditakor) ada kelemahanya, begitu juga dengan pendekatan (demokratis) juga punya kelemahan. “Kalau ditaktor, siswa cenderung melawan. Sementara kalau demokratis tidak akan memenuhi target,” katanya.

Mendapat pertanyaan ini Mas Aji tidak menjawab banyak, mengingat waktu yang sangat terbatas. Mas Aji mengatakan masalah perbedaan teater dan drama akan dijawab secara akademis oleh Eko Ompong Santoso. Tetapi dia memaparkan, pada dasarnya Indonesia punya sejarah yang panjang tentang pemahaman teater. Dia mengilustrasikan, kata teater tidak popular bagi sebagian orang misalnya orang betawi. Mereka menyebutnya Tonil. Hal ini menurut mas Aji karena factor sejarah. Di betawa misalnya menyebut tonil, karena dulu kebudayaan yang dibawa oleh penjajah Belanda disebut tonil, oleh Suryadi Suryadiningrat (KI Hajar Dewantara) disebut sandiwara. “Orang betawi tidak mengerti teater, tetapi tonil,” katanya.

Sutradara teater tetas ini menegaskan, kalau teater pasti berhubungan dengan panggung. Segala sesuatu yang dipentaskan di atas panggung disebut teater. Apakah disana ada konfliknya atau tidak, selama dipentaskan dalam panggung pertunjukan dinamakan teater. “Arti teater pada dasarya gedung pertunjukan,” katanya.

Sementara Eko Ompong lebih mempertegas pernyataan dari Mas Aji. Menurutnya drama berkaitan dengan sastra. Yang dimaksud drama adalah naskah lakon. Selum dipertontonkan naskah itu disebut drama (karya sastra). Kalau sudah dipertontonkan dinamakan teater.

Drama berkaitan dengan penulisan dan analisis naskah, seperti didalamnya ada konflik, latar (setting), penolohan, plot, alur, dan tema. Karena drama juga disebut cerita tentang kehidupan. “Kalau naskah itu kemudian dipentaskan dinamakan teater,” katanya.

Sementara itu menjawab pertanyaan lainnya, seperti bagaimana berakting yang baik dan bagaimana menyutradarai yang baik, Eko menegaskan hal itu tidak bisa dijawab sebelum ada pertanyaan apa? “Pertanyaan bagaimana hanya bisa dijawab kalau anda tahu dulu ‘Apa’?” kata Eko, bertanya balik.

Dipaparkan Eko, untuk mengetahui berakting yang baik, pertanyaannya bukan bagaimana, tetapi apa. Apa yang ada dalam naskah tersebut, apa tokoh, apa karakter, dan apa yang lainnya. “Kalau tidak tahu apa, tidak bisa menjawab bagaimana,” katanya.

Begitu juga dalam menyutradarai tidak bagaimananya yang ditanyakan, apa itu sutradara, baru bagaimana menyutradarai,, Seorang sutradara harus tahu apa itu sutradara berikut tugas dan fungsinya. Kalau pertanyaan ini tidak bisa terjawab, maka tidak mungkin seseorang bisa menyutradarai dengan baik.

“Jangan menjadi generasi ‘bagaimana’ atau piye. Tetapi jadilah generasi apa,” tegasnya.

Saran-Saran

Selain pertanyaan tersebut di atas, juga ada saran-saran yang disampaikan oleh Pembina teater di SMA. Saran petama hadir dari Harwi Mardianto, guru tetar dari SMKN 9 Surabaya. Ia menyarankan agar kegiatan jambore dimanfaatkan seoptimal mungkin, terutama untuk menjalin komunikasi.

Menurut Harwi, para peserta sebaiknya saling saring kepada peserta yang lain sehingga tahu kelebihan dan kelemahan masing-masing sekolah. “Orang teater harus kreatif. Jangan malas, orang teater tidak malas,” katanya.

Sementara dari Pembina SMAN 1 Papar, Kediri, menyarankan agar Taman Budaya Jawa Timur juga mengadakan festival teater remaja di daerah-daerah. Menurutnya agar panitia tahu persoalan teater di daerah yang sebenarnya. Begitu juga ia menyarankan agar panitia juga mengadalan pelatihan bagi pembina teater di daerah.

Surabaya, Agustus 2008

DI ATAS TANDU LANGITAN, JALAN CINTA PENYAIR I

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

PENDAHULUAN

Cinta, seperti halnya alur kehidupan pada umumnya, sebagai esensi dari perasaan manusia, pun, di dalamnya terdapat adanya jalan yang ditempuh oleh pecinta. Sesingkatnya, saya mengatakan kalau cinta merupakan jalan kehidupan manusia itu sendiri. Suatu jalan yang biasa, namun memiliki karakter tersendiri dan memuat nilai-nilai yang bisa dilihat dari tapak laku pecinta. Dalam pembahasan ini, sang pecinta yang saya maksudkan adalah seorang penyair. Kita akan melihat bagaimana seorang penyair menjalani kehidupan, menjalani kehidupan dalam cinta pada Kesejatian. Di Atas Tandu Langitan, Jalan Cinta Penyair I merupakan analisis dari puisi Di Atas Tandu Langitan, VIII: I – CXXIII (2007: 45-50) karya Nurel Javissyarqi dalam bukunya antologi puisi “Kitab Para Malaikat”. Dalam tulisan ini, saya memilah beberapa bait (baca: ayat) yang menurut pandangan saya mencerminkan beberapa pengambaran mengenai jalan cinta yang penyair tempuh.

Analisis ini berangkat dari keyakinan saya, yang menekankan kemurnian batin dalam setiap berucap dalam karya sastra. Sebab, bagaimana pun juga penyair mendapatkan perhatian tersendiri dari Tuhan Yang Maha Esa, bahwa: “Dan penyair-penyair itu diikuti orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. 26: 224-227).

Penyair, ibarat manusia yang dipilih untuk dibimbing dalam menerima saripati dunia setelah masuk ke dalam runung pemahaman. Berbagai kebijaksanaan hidup dan kebaikan universal yang termuat di dalam setiap sajak (puisi). Akantetapi, terkadang kita sering lupa bahwa kebijaksanaan yang diraih hakekatnya adalah untuk diri sendiri dan orang lain yang nasibnya sudah digariskan untuk bertemu dengan puisi tersebut. Dan cukup masuk akal ketika Tuhan Yang Esa berfirman: “Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?”

IA MANUSIA MERDEKA

Penyair manusia yang merdeka, tidak terbatasi pada gerak zaman yang terus melaju menawarkan berbagai penjara dunia dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan yang mampu mengkerdilkan pikiran dan kemurnian jiwa. Sebab, bagaimana pun juga seorang penyair merengkuh dunia dengan kedalaman jiwa yang kemudian memanifestasikan ke dalam karya sebagai cahaya. Sanusi Pane (Sayuti, 2002: 13) dalam puisinya “Sajak” menyatakan kalau sajak bukan hanya mengenai bagaimana menyampaikan perasaan dengan pilihan dan permainan kata yang bagus, akantetapi hendaknya mampu menjadi seperti matahari yang menyinari bumi yang di dalamnya tidak ada pamrih.

Manusia yang menempuhi hidupnya untuk menjadi penyair, hendaknya dia menjadi manusia yang merdeka, seperti yang diungkapkan Sanusi Pane dalam “Sajak”nya, bebas dari kepentingan dan keinginan akan keuntungan material ketika dia membawa membagi pencerahan yang didapatkan. Penyair adalah manusia merdeka, dia tidak berpihak pada siapa pun selain Kebenaran. Karena merdekanya seorang penyair, dengan puisinya “bisa mengajari kita untuk berkata: TIDAK!” seperti yang diungkapkan Emha Ainun Najib dalam “Sajak Luka Menganga” (Sesobek Buku Harian Indonesia, hlm. 103-104)

Berperan sebagai manusia merdeka, seorang penyair memiliki penilaian tersendiri mengenai suatu fenomena yang ditemui. Kemerdekaan itu mutlak dimiliki seorang penyair. Kemerdekaan di sini lebih merujuk pada kebebasan hati dan pikiran. Hal itu saya temui dalam larik:

Dia tidak mengikut siapa-siapa, dirinya tegar lagi murni (VIII : II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Pencapaian kemerdekaan hati dan pikiran seorang penyair memberikan karakter tersendiri dalam menginterpretasikan dunia kehidupan untuk dimanifestasikan ke bentuk karya. Pikirannya tidak dibayangi ketakutan, keinginan, serta nafsu yang sifatnya sementara. Hal tersebut diungkapkan dalam “dirinya tegar lagi murni”. Karena kemerdekaan ini, seorang penyair pun tidak mengikuti dirinya sendiri, maksud saya adalah pikiran-pikiran yang menjelma dalam keinginan. Saya berlandaskan pada alasan, bahwa pikiran manusia tidak murni karena di dalamnya terdapat unsur hawa nafsu.

Penyair mengikuti hatinya sendiri, sanubari manusia yang hampir tidak memiliki kepentingan duniawi. Tidak ada kepentingan untuk mencapai ketenaran akan nama besar bersamaan dengan karya hebat yang dilahirkan. Apabila karya sudah memicu untuk tumbuhnya kesombongan di dalam hati penyair, maka kemurnian yang ada di dalam dirinya sudah terkotori. Penyair yang masih memiliki kemerdekaan dan kemurnian hati, dia tidak memiliki kepentingan dengan manusia lain dan dunianya selain menyampaikan pesan (baca: saripati dunia) yang penyair terima melalui proses perenungan dan pembelajaran.

Penyair (dan sastrawan pada umumnya) menggunakan karya mereka sebagai media penghambaan dirinya pada Tuhan Esa. Karya diciptakan penyair untuk berdoa, mendekatkan diri pada Tuhan, sebagaimana Taufik Ismail (1983: 62) menulis: “Dengan puisi aku berdoa, perkenankanlah kiranya”. Melalui berbagai karya hasil dari cipta, pikir, dan karsa, penyair berkomunikasi secara bebas dengan Tuhan Esa, karena puisi (karya) berangkat dari kemurnian jiwa penyair. Murni yang tidak terkotori hal-hal keduniawian.

Bersebab dari kemerdekaan yang ada di dalam jiwanya, penyair pun mampu berperan sebagai seorang pengamat, saksi sekaligus hakim atas suatu masalah di dalam kehidupan. Dengan puisi yang diciptakan, penyair memberikan kesaksian, bahwa “penyair berdiri dan bersaksi di pinggi” (Linus Suryadi dalam Sayuti, 2002: 6) atau bagaimana Rendra (1993: 99) mengatakan: “Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.

Banyak hal yang bisa dilakukan manusia merdeka karena tiada ikatan pengekang antara dirinya dan kehidupan selain garis vertikal antara penyair dengan Hidup (Tuhan). Penyair mampu menjadi saksi yang jujur, pengamat yang objektive, serta hakim yang adil karena penyair tidak memihak apa pun selain nurani. Ketika dia melakukan sesuatu, penyair melakukannya dengan keikhlasan dan ketulusan hati, memainkan perannya sebagai manusia yang merdeka berbuat apa pun demi hubungan dirinya dan Hidup.

Jadilah hakim adil pertukaran dan jangan ikuti riak gelombang
atau sungguhlah mempersembahkan tanpa mengidam (VIII : LI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 47).

Penyair adalah seorang hakim yang membidik permasalahan dengan nuraninya. Dia tidak memiliki kepentingan apa pun, selain menegakkan keadilan bagi manusia, “Orang-orang harus dibangunkan, kesaksian harus diberikan. Agar kehidupan bisa terjaga” (Rendra, 1993: i). Kesaksian di sini dapat dimaknai sebagai hakim, mengabarkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana benar dan mana salah demi menjaga kehidupan manusia yang adil, selaras, dan sejahtera. Penghakiman penyair atas suatu persoalan juga diketengahkan Rendra (1993: 31) yang dengan puisinya “Aku Tulis Pamplet ini”, Rendra mengatakan: “Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam”.

Untuk mampu bisa menjadi hakim yang adil, penyair tidak boleh memihak siapa pun, termasuk hawa nafsunya sendiri, sehingga dia akan “mempersembahkan tanpa mengidam”. Dengan seperti itu, dia manusia merdeka yang bebas mengungkapkan diri di tengah masyarakat. Bersebab dari kebebasan itu juga, penyair mampu berdiri dimana pun, kapan pun, dan bukan untuk siapa pun yang bersinggungan dengan kepentingan duniawi. Karena dunia ini, seperti: perempuan jalang yang menarik pertapa ke rawa mesum dan membunuhnya di pagi hari (Sastrowardjojo dalam Sayuti 2002, 34). Untuk itu, penyair yang menempuhi jalan ini, maksud saya jauh dari kepentingan duniawi, dia adalah penyair yang mencintai-Nya, penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.

PEMBINASAHAN DIRI

Kata pembinasahan diri memang terdengar mengerikan namun hal yang diwakili dari istilah ini justru sebaliknya. Di sana adalah bangunan kata yang mewakili hal yang menyenangkan, seperti pertemuan kita dengan sesuatu yang paling kita cintai di dunia. Suatu waktu dimana yang mampu membuat kita lupa dengan semua isi dunia kecuali yang paling kita cintai itu. Pertemuan itu akan membawa kita untuk melepaskan semua yang tidak berhubungan, hanya ada kita dan yang tercinta, yang selanjutnya akan membawa pada proses penyatuan.

Penyatuan antara pecinta dengan yang dicintai sebagai bentuk tingkatan tertinggi, karena di sana sudah tidak ada pecinta dan yang dicintai tetapi sudah lebur menjadi satu. Dalam kebudayaan kebatinan Jawa, terdapat konsep penyatuan antara manusia dan Tuhan, sebagai puncak spiritualitas manusia Jawa. Keberadaan Tuhan dapat dilihat dalam perwujudan rasa, seperti dalam konsepsi manusia menyatu dalam rasa (Beatty, 2001: 229).

Konteks pembinasahan diri seorang penyair dapat berangkat dari konsepsi Jawa ini. Dimana penyair membutuhkan adanya totalitas diri, dalam berjalan menempuhi jalan kepujanggaan. Totalitas diri adalah pembinasahan diri, dimana sudah tidak ada pembedaan antara penyair, karya, kehidupan, serta alam karena kesemuanya sama-sama berjalan menuju Hakekat Hidup. Babak perjalanan yang hanya bisa dilakukan ketika manusia sudah memiliki kemerdekaan yang murni. Kehidupan yang dilaksanakan untuk mewujudkan proses penyatuan itu, diumpakan seperti Laron yang keluar untuk mencari cahaya.

Bukankah kau mencari gagasan ranum, kepemudaan lebih bayangan laron
yang berputar mendekati lelampu, terpesona-terpedaya magnit sendiri (VIII : IV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Pembinasahan diri, terhadap karya, alam semesta, dan sifat ketuhanan dapat membantu seorang penyair di dalam mencapai kesatuan yang melahirkan suatu “gagasan ranum”. Pembinasahan diri yang dilandasi kesadaran dan cinta diungkapkan melalui perumpamaan simbol laron yang mendekati cahaya. Laron perwujudan simbol dari kehendak rasa sedangkan cahaya adalah nilai kebenaran ketuhanan.

Nilai religius yang tergambar di sini memberikan pengertian yang cukup luas, dimana manusia yang berjalan dalam pembinasahan diri sudah tidak memperdulikan keadaan dirinya. Yang ada hanya mengenai bagaimana dia menyatu, dengan suatu jalan tertentu sehingga rasa yang dirasakan termanifestasikan ke dalam bentuk karya. Kita perlu mengingat hakekat dari karya sastra, puisi sekalipun, sebagai mimesis, tiruan alam semesta. Penyair dalam renungannya mencipta karya yang di dalamnya, terjadi pembinasaan diri.

Fahami kembali selagi kabut pedut menutupi punggung bukit,
memeluk pohon sungai yang mengalirkan mata air hayati (VIII : XIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45)

KESADARAN ALUR

Perjalanan hidup manusia dapat dipandang sebagai aliran sungai yang diawali dari mata air kemudian berproses menuju lautan. Dalam aliran sungai itu, kita menemukan alur perjalanan yang juga disebut dengan proses untuk mencapai samudra. Kalau sempat kita mengikuti, proses perjalanan air tidak pernah lurus, di sana akan bertemu dengan belokan dimana air tidak mampu menerobos, tapi air terus mengalir sampai pada titik akhir perjalanannya.

Begitu juga dengan manusia. Perjalanan hidupnya tidak pernah lurus, dia akan menemui hambatan-hambatan yang membuatnya berbelok untuk melanjutkan perjalanan hidup. Seperti air, perjalanan manusia tidak selesai dengan batu yang menghadang, ia musti menggumpal menjadi satu untuk menggeser batu itu, atau perlahan-lahan berputar mencari jalan lain. Dan dengan pengertian akan perjalanan seperti ini, manusia yang menapaki akan lebih mudah dan ringan dalam menjalani kehidupannya. Memuat nilai pasrah pada takdir hidup serta tidak berangan panjang yang membuat manusia lebih mampu (bijak) untuk menjalani dan menghayati hakekat kehidupan.

Permasalahan ini saya wakili dengan istilah kesadaran alur, dimana manusia yang mau menerima kondisinya mengingat alur perjalanan kehidupan manusia sendiri. Manusia Jawa, memandang pemahaman alur kehidupan tertuang dalam konsep “sangkan paraning dumadi” yaitu suatu pengetahuan yang berusaha memahami asal-usul manusia dan tempat kembali manusia setelah selesai menempuhi perjalanan di dunia (Zoetmulder dalam Magnis Suseno, 1985: 130) sebagai pencapaian dari perjalanan rasa.

Manusia yang memahami alur kehidupannya, dia justru akan lebih berhati-hati dalam proses menjalani hidup. Sebab, di dalam kesadaran akan kehidupan, manusia juga mengetahui berbagai konsekuensi hidup yang lahir dari tindakan manusia. Bahwa, apa yang akan kita terima adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Manusia Jawa, bersinggungan dengan pandangan ini mengetengahkan istilah karma yang mana sebagai hukum ilahi yang memayungi tindak-tanduk manusia (Magnis Suseno, 1985: 153).

Serindu-rindunya petani memetikmu melati adalah ibunda
penjual bunga pada pasar Menganti kembali (VIII : VIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Sebuah loncatan pikiran yang dapat kita tangkap, bagaimana Nurel Javissyarqi menyuguhkan dua aspek kehidupan yang berbeda, namun sejalan. Di satu sisi menggambarkan mengenai hidup petani dan langsung dilanjutkan dengan penggambaran mengenai perdagangan. Tapi mungkin saja, Nurel Javissyarqi berpendapat kalau seorang petani dapat menyuruh istrinya untuk menjual bunga hasil panennya di pasar. Memang seperti itu kenyataan yang tergambar di kehidupan realitas.

Akantetapi, mari kita kembali mempertimbangkan hukum ilahi yang bernama karma, “apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu panen”. Hidup selayaknya petani, perbuatan kita adalah benih yang kita tanam setiap hari untuk kita panen kelak. Hukum tabur-tuai yang purba ini pun dipercayai oleh Stephen Covoey (Darmanto Jatman dalam Jejak Tanah, 2002: 143) yang datang dari masyarakat urban industrial, bahwa: “siapa yang menabur gagasan akan menuai perbuatan/ siapa yang menabur perbuatan akan menuai kebiasaan/ siapa yang menabur kebiasaan akan menuai karakter/ siapa yang menabur karakter akan menuai nasib.”

Hukum yang tentu saja, sampai hari ini terus menggerakkan kehidupan manusia walau keberadaannya seringkali tidak disadari. Oleh diri sendiri seseorang menjadi kotor, oleh diri sendiri seseorang menjadi suci (Dhammapada dalam Narada, 1996: 156) yang mana manusia menentukan bagaimana keadaan dirinya, entah itu nasib baik atau buruk, semuanya ditentukan oleh diri manusia itu sendiri.

Kesadaran alur ini lah yang saya bidik dari ayat VIII puisi Di Atas Tandu Langitan karya Nurel Javissyarqi. Manusia yang menilik kehidupan petani, yang kemudian mendapatkan bahan untuk membawa diri pada perenungan. Secara gambalang saat kita melihat petani menanam padi, jelas tidak mungkin akan tubuh pohon apel dan membuahkan pohon semangka. Akantetapi, padi yang ditanam petani tetap akan menumbuhkan padi, dan menghasilkan padi. Kesadaran akan alur kehidupan manusia yang hanya seperti seorang petani, akan membawa manusia, dalam konteks ini adalah seorang penyair untuk berkata yang baik-baik, mengajak yang baik-baik karena karya itu akan dipanen kelak ketika hari telah tiba.

Selanjutnya, ketika “petani memetikmu melati” dapat dibawa ke pemahaman bahwa bunga melati melambangkan kesucian dan keharuman batin. Penyair, yang telah dengan sadar akan alur kehidupannya akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk menghadirkan melati di dalam karyanya sehingga karya tersebut mampu membawa pencerahan pada manusia, dalam hakekat sastra sebaga khatarsis. Puisi yang diciptakan penyair dan dibacakan untuk seseorang, diharapkan manusia yang mendengarnya akan mereguk kedalaman makna melati yang sudah disemayamkan di dalamnya.

Berjalan dari hukum petani yang memetik melati, kita menemui lompatan imajinasi Nurel Javissyarqi yang juga membawa kita untuk menuju ke pasar. Ada benarnya juga, seperti yang Nurel Javissyarqi bilang, kalau petani yang sudah memanen melati, istrinya pergi ke pasar untuk dijual. Saya menemukan penggamaran yang lebih jauh, ketimbang hukum jual beli sederhana yang ada di dalam realitas kita.

Jual beli, bahwa setiap manusia pada hekakatnya adalah seorang pedagang. Lalu apa yang manusia miliki sebagai barang dagangan? Dalam salah satu firman-Nya, Tuhan bersabda: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS. At-Taubah: 111). Demikian, kita dapat menempatkan diri sebagai penjual yang memiliki barang dagangan perilaku untuk membeli surga yang telah Tuhan janjikan. Barang dagangan perilaku ini bermodalkan kehidupan, yang mana hidup secara keseluruhannya disimbolkan dengan “napas”.

Perniagaan manusia (penyair) dengan Tuhan adalah mengenai bagaimana dia menggunakan napas, menjadikan waktu hidup dalam pengisian akan penciptaan karya. Bagaimana seorang penyair berkarya, bagaimana karya itu ketika berada di lingkungan masyarakat, bagaimana penyair menjalani hidup, di sanalah terjadi perhitungan perdagangan antara penyair dan Tuhan di hari yang sudah ditentukan. Ini mengenai pemahaman akan kesadaran alur seorang penyair, sebab melalui karya yang dihasilkan, mewakili tindakan dari penyair itu sendiri. Esensi dari sebuah karya menghasilkan perilaku untuk penyairnya, yang kelak akan dijadikan sebagai kualitas dari barang yang akan diperdagangkan. Ini, merupakan hasil dari kesadaran alur, tentang “sangkan paraning dumadi”.

Kesadaran alur ini juga, akan membawa seorang manusia (penyair) untuk lebih menyibukkan diri pada aspek rohani (batin) ketimbang urusan badaniah dan keduniawian. Memahami hidup yang tidak hanya sekedar berlaku untuk memburu kesenangan sesaat maka membuat seorang penyair untuk:

Menunggu buah runduk seawan keemasan, cahaya senja membentang lebur
di sebilah keris baja hitam atas purnanya tirakat dalam rahim malam (VIII : XXIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 46).

Kesederhanaan dalam menjalani hidup dengan disertai kerendahan diri, bahwa dirinya merasa “saya tidak bisa apa-apa, saya tidak punya apa-apa” (Mulder, 1984: 41). Masyarakat Jawa, secara sadar menyembunyikan kekuatan diri demi mencapai keutamaan laku untuk hidup dalam kesederhanaan dan kerendahan diri untuk menghindari kesombongan hati yang memiliki efek buruk terhadap kekuatan batin (rasa). Kesombongan manusia atas manusia lainnya akan melahirkan rasa angkuh yang dapat menjadi penghalang antara dirinya dan kesempurnaan laku untuk mencapai kesempurnaan mati. Untuk itu, tidak heran jika kita seringkali menemukan manusia Jawa dalam ungkapan: “manungso ojo rumangso iso, nanging sing bisa ngrumangsani”.

Kerendahan diri inilah yang menjadikan manusia (penyair) mencapai “seawan keemasan” yang serupa dengan langit sore memberikan manusia umum, maksud saya adalah publik pembaca karya sastra, untuk mencapai renungan yang mengantarkan pada makna terdalam. “Seawan keemasan” merupakan pencitraan dari langit sore yang juga menyiratkan perjalanan kehidupan manusia. Renungan yang dihadirkan penyair melalui karyanya membimbing manusia untuk menyatukan setiap fokus perhatian pada satu titik, yaitu hakekat kehidupan itu sendiri atas “sangkan paraning dumadi”.

Aspek renungan mengenai “sangkan paraning dumadi” secara tidak langsung mengarahkan perhatian manusia kepada Tuhan Semesta Alam yang dalam puisi ini tersimbolkan ke dalam kalimat “sebilah keris baja hitam”. Sebilah keris yang digunakan simbol atas penyatuan manusia dan Tuhan “keris memasuki sarung dan sarung memasuki keris (curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga)” (Magnis-Suseno, 1985: 121). Penyatuan fokus manusia ini sebagai kemanunggalan tujuan ketika manusia sudah memahami kesadaran alur, bahwa manusia akan kembali pada Tuhan Semesta Alam dan selanjutnya menempuhkan laku hanya untuk menuju pada-Nya.

Kemanunggalan tujuan yang saya maksudkan adalah keinginan manusia yang didasari oleh kesadaran untuk menuju secara sadar pada hakekat asal-usul. Ini menjadi titik fokus perhatian bagi manusia (penyair) dalam menjalankan kehidupannya (atau berkarya) hanya sebagai usaha untuk mencapai kesempurnaan laku dan kesempurnaan kematian. Karena itu lah, manusia (penyair) yang telah memahami alur kehidupannya akan mencapai apa yang namanya “purnanya tirakat dalam rahim malam” yang mana waktu sebagai ruang antara dirinya dan Tuhan.

Pemahaman akan alur kehidupan ini, yang oleh penyair digunakan sebagai landasan dalam proses penciptaan karya. Seni sastra yang dihasilkan ditujukan sebagai ibadah kepada Tuhan Semesta Alam, yang senada dengan pendapat Akiya Yutaka (Abdul Hadi W.M., 2004: 5) bahwa “doa, cinta, serta sembahyang sangat penting dalam penciptaan puisi”. Sehingga, puisi dan karya sastra yang lain tidak hanya sebagai luapan perasaan tanpa makna, akantetapi lebih sebagai ungkapan cinta dari penyair kepada Tuhan dalam rangka sembah-Hyang.

Karena itu, melalui karya yang dihasilkan seorang penyair, kita bisa menemukan berbagai aspek religi yang tersimbolkan ke dalam bahasa, yang mana seperti:

; dalam kesunyian terbuka sendiri, lembaran kalbu terlepas hitunganmu,
di sini masih bersimpan jejak silang ia tempuh (VIII : LXXXII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 48)

Penggambaran yang terjadi pada bait ini membawa kita pada pemahaman yang lain, yaitu mengenai kebenaran akan dosa dan ibadah. Manusia yang melakukan sesuatu, entah sebagai doa, dosa, atau ibadah yang dijalankan terlepas dari kebenaran yang dimiliki manusia lain. Setiap orang memiliki posisi yang sama, yaitu sebagai pelaksana dari apa yang dia kehendaki. Dan manusia tidak bisa saling menentukan, apakah manusia yang satu sebagai manusia yang baik atau tidak. Yang dalam konsep ini adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan laku manusia dalam menjalankan kegiatan peribadatan.

“Lembaran kalbu terlepas hitunganmu” yang mana memberikan pengetahuan, bahkan dengan diri sendiri, manusia tidak bisa menghitung-hitung apakah perbuatannya sebagai amal bakti atau tidak. Sebab, dalam khasanah ini dipercayai, hanya Tuhan Semesta Alam yang memiliki hak penuh untuk menghitung, hak untuk melihat dan menilai setiap “jejak silang” yang “ia tempuh”.

PENYAIR SEORANG PELAJAR

Hakekat dari pendidikan adalah mengajarkan sesuatu yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan melakukan transfer pemahaman (ilmu pengetahuan). Akantetapi, seorang pelajar tidak lantas musti berada di sekolah-sekolah yang menawarkan berbagai teori impor maupun lokal yang kelak memperoleh sertifikat untuk mengesahkan bahwa seorang pelajar telah menempuh ilmu ini dan ilmu itu.

Pendidikan itu sendiri, menurut George F. Kneller (Sumitro, 1998: 16) memiliki dua cakupan, yaitu pendidikan dalam arti luas dan teknis. Pendidikan dalam arti luas, sebagai pengalaman yang memiliki pengaruh, yang berhubungan dengan perkembangan jiwa (mind), watak (character) dan kemampuan fisik (physical ability). Oleh karena itu, pendidikan dapat dilakukan oleh alam dan lingkungan melalui berbagai fenomena yang ditangkap seorang pelajar. Melalui kegiatan pendidikan inilah, pelajar mampu merekontruksi dan mengorganisasi pengalaman yang menambah pengetahuan untuk mengarahkan ke pengalaman selanjutnya (Dewey dalam Sumitro, 1998: 17).

Di keseharian hidup seorang penyair yang melihat alur kehidupan masyarakat, yang “berdiri dan bersaksi di pinggir” (Linus Suryadi dalam Suminto, 2002: 6) maka seorang penyair terus berperan sebagai pelajar. Penyair berguru dari pengalaman dunia (kehidupan) yang didapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengalaman yang didapat secara tidak langsung adalah pengalaman yang diperoleh melalui buku, sedangkan pengalaman langsung sebagai hasil interaksinya dengan dunia (isi alam semesta).

Penyair sebagai seorang pelajar, ketika menemukan suatu fenomena yang akan menjadi bahan renungan di dalam berkarya. Fenomena di dunia realitas inilah yang akan mempengaruhi penyair di dalam proses penciptaan karya seperti yang diungkapkan Shcoles (Junus, 1983: 3) bahwa orang tidak mungkin melihat realitas tanpa interpretasi pribadi, dan tidak mungkin berimajinasi tanpa pengetahuan suatu realitas. Karenanya, sastra sebagai karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia (Fananie, 2000: 132).

Penyair yang bertemu dengan realitas yang menyentuh kalbunya, akan membawa fenomena itu masuk ke dalam renungan. Fenomena yang terjadi sebagai bahan yang mana, penyair saat itu berperan sebagai pelajar dalam menghadapi suatu masalah. Penyair mempercakapkan fenomena yang dilihat dengan dirinya sendiri, mencari berbagai kemungkinan atas penyelesaian atau persoalan lain yang mungkin mendasari.

Aspek perenungan, menempatkan penyair sebagai pelajar yang dapat kita temukan dalam:

Diammu banyak menyimpan percakapan dalam,
dengan lama tentu menemukan ujung jawaban (VIII : XIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

“Diammu banyak menyimpan percakapan” sebagai kegiatan renungan yang dilakukan dalam menghadapi berbagai fenomena yang telah disaksikan. Seorang penyair dalam mencari “ujung jawaban” lebih cenderung membawa persoalan untuk masuk ke dalam diri sendiri. Di dalam dirinya, fenomena atau masalah itu akan dianalisis, dibicarakan dengan dirinya sendiri untuk mencapai pemahaman, sehingga tidak salah kalau “penyair adalah pelamun yang diterima masyarakat” (Wellek dan Warren, 1995: 92). Perilaku melamun yang dilakukan penyair lebih dimaknai sebagai perbicangan dengan diri sendiri, boleh jadi kalau penyair lebih asyik berdialog dengan dirinya ketika mempelajari suatu fenomena ketimbang dengan manusia lain.

Berdialog dengan diri sendiri untuk mencapai pengetahuan akan suatu realitas lain dari fenomena lingkungan (manusia dan alam) dapat saja disebut sebagai bagian dari penyakit. Semisal, seperti anak yang autis, sibuk dengan dirinya sendiri. Akantetapi, perbedaannya di sini, seorang penyair sedang menempuh suatu mata pelajaran tertentu yang berguru dari alam dan memiliki kawan diskusi yang hanya dirinya sendiri.

Tidak berlebihan juga ketika seorang penyair dikatakan mengalami kegilaan (madness) karena ketika dirinya berdialog dengan dirinya sendiri, penyair terkadang menemukan suatu aspek yang jauh dari rasional bahkan supra-natural (Wellek dan Warren, 1995: 90). Langkah untuk menjadikan alam (kehidupan) secara menyeluruh dan sebagai guru dapat memberikan perkembangan karakter dan jiwa tersendiri yang tercermin di dalam karya yang dihasilkan, seperti:

Lewat nafasmu ke ujung laut berkabut mengatur kelokan arus nasibmu,
telah lama bertahan menghisap puting kepenuhan, selaksa perbincangan waktu,
arah melampaui abad sebelummu (VIII : XVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Penyair membaktikan hidupnya untuk terus belajar, memahami setiap fenomena (baca: tanda-tanda) untuk diterjemahkan ke dalam sebuah karya. Aktivitas ini bukanlah sebagai sesuatu yang mudah, mengingat bahwa penyair juga seorang manusia biasa yang sama dengan manusia lain, yang memiliki berbagai keinginan (baca: hawa nafsu). Di tengah keadaannya yang sebagai manusia biasa, penyair harus mampu meresapi hakekat dunia dan tanda-tanda yang selalu dihadapi, “lewat nafasmu ke ujung laut berkabut mengatur kelokan arus nasibmu” adalah pekerjaan yang berat.

Tugas yang berat membawa seorang penyair ke dalam pembelajaran sepanjang hayat, yang harus terus berkembang untuk menjawab kehausan jiwanya demi mencapai keutamaan laku hidup. Ibarat ilmu wadah dari ilmu pengetahuan, penyair telah meresapi pengetahuan (pemahaman) dari manusia terdahulu sebagai pijakan awal dalam langkah kakinya. Pemahaman dari manusia terdahulu ini muncul dalam “menghisap puting kepenuhan” yang mana menyiratkan akan penegukan saripati dari Ibu atau orang tua atau manusia yang hidup lebih dahulu. Manusia yang menyusu ibu oleh dalam bait ini terbaca sebagai langkah belajar dari orang tua bijak – perempuan sebagai ibu yang penuh kebijaksanaan.

Penyair tidak hanya mempelajari yang nampak sekarang, akantetapi juga menelusur di masa silam yang tersimbolkan ke dalam dua ungkapan, yaitu “menyusu puting kepenuhan” dan “perbincangan waktu”. Pada simbolisme kedua lebih terbaca sebagai penegas akan usaha dalam memahami ilmu pengetahuan dari orang-orang terdahulu. “Perbincangan waktu” membawa kita dalam sistem yang mana di sana tergambar adanya perbincangan (transfer) ilmu antar waktu, yaitu waktu lampau dan waktu sekarang.

Apabila pengetahuan itu dipandang sebagai sebuah bangunan, seorang penyair telah belajar mengenai bangunan dari manusia terdahulu. Penyair yang bijak adalah belajar dengan cara langsung mempraktekkan, dan pada hasilnya penyair tahu di mana letak kekurangan dari bangunan ilmu pengetahuan manusia terdahulu. Ini proses belajar, yang kemudian penyair pun berusaha menyempurnakan sampai menjadi bangunan dengan struktur yang lebih baik. Oleh karena itu, bangunan (ilmu pengetahuan) disempurnakan untuk menjadi bangunan yang lebih baik, tergambar dalam: “arah melampaui abad sebelummu”.

Selayaknya pelajar yang lain dalam menimba suatu ilmu pengetahuan, penyair pun memiliki sifat yang sama, yaitu ketekunan dalam berusaha dan diiringi kesabaran untuk terus belajar. Penyair sadar dirinya memulai sesuatu dari kecil, dari ketidak-mengertian untuk menjadi mengerti dan menuju ke arah sana membutuhkan adanya proses.

Dia teguh tegar memegang tongkat kesetiaan
demi meniti jalan berkah berkeseimbangan (VIII : XXI) (Kitab Para Malaikat: 45-46).

Bait ini mengambarkan ketekunan dan kesabaran penyair sebagai seorang pelajar yang dituntut untuk tidak lelah. Konsep pembelajaran yang semestinya dipegang oleh seorang penyair adalah pendidikan sepanjang hayat, yaitu sampai dirinya mati. Karena ini, juga didukung kepercayaan yang mungkin seringkali kita dengar, bahwa belajar (dan menulis atau berkarya) sama dengan ibadah. Tujuan dari proses pembelajaran adalah ilmu pengetahuan, sebab ilmu merupakan imam sedangkan amal adalah makmum (Al-Jauziyah, 2009: 393).

Manusia yang berilmu, dia tahu dengan apa yang harus dia lakukan ketika menghadapi tanda-tanda yang terus ada di dalam fenomena kehidupan manusia. Penyair menyadari ini, ilmu juga sebagai pijakan bagi seseorang dalam menentukan perbuatan ketika manusia dihadapkan pada suatu persoalan. Ilmu juga seperti bintang penunjuk yang memberikan arah perjalanan, sehingga ketika manusia teguh dalam usaha untuk terus belajar, maka manusia dapat “meniti jalan berkah berkesimbangan”.

Manusia yang berilmu tahu dengan setiap konsekuensi dari apa yang dia lakukan. Terlebih untuk seorang penyair yang membuat saripati dunia yang termanifestasikan ke dalam karya dan dibaca oleh manusia lain. Tentu saja, karya membawa beban tanggung jawab tersendiri sampai Tuhan Semesta Alam berfirman: “Dan penyair-penyair itu diikuti orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?” (QS. 26: 224-225). Ilmu membawa pengetahuan akan tanggung jawab pribadi seorang penyair terhadap karya (puisi) yang dihasilkan, sehingga menuntut penyair untuk terus belajar karena ia seorang pelajar.

Dalam proses belajar, penyair tidak harus menjelajahi waktu untuk mencapai pengetahuan. Ibarat rasa sakit, tidak perlu seorang penyair merasakan sendiri bagaimana rasa sakit itu. Jelas tidak perlu seorang penyair membakar dirinya untuk menjabarkan bagaimana panasnya api dan terlebih panasnya balasan orang-orang zalim dengan api neraka. Akantetapi, penyair belajar esensi dari sesuatu hal yang Tuhan Semesta Alam turunkan sebagai tanda-tanda, salah satunya adalah alam di sekitar kita.

Tidak harus mendaki, tengoklah ujung-ujung ketinggian di setiap pepagi,
kabut membumbung ke pegunungan menghiasi pepohonan jati, mahoni, trembesi,
kepada randu juga rumpun bebambu hati (VIII: LXI). (Kitab Para Malaikat, 2007: 47).

Belajar dari alam dan belajar kepada kebenaran yang ada di dalam hati manusia itu sendiri dapat mendatangkan pengetahuan akan hakekat kehidupan yang sebenarnya. Alam raya ini, sebenarnya sudah menjadi saksi dan andaikata kita bisa memahami bahasa hewan, tumbuhan, awan, dan lain sebagainya, manusia akan menemukan keindahannya. Misalkan saja, Semut, hewan kecil yang banyak dan sering membuat manusia jengkel karena mengeroyok gula atau minuman manis, semut ini pun sebenarnya bertasbih kepada Allah (Imam Az-Zabibi, 1996: 610).

Simbolisme yang muncul mengenai nama pohon, pagi, bukit atau pun ketinggian mengajak penyair untuk lebih dekat lagi dengan alam. Lebih dekat lagi sebagai usaha memahami dan berkomunikasi dari alam semesta. Pada langit pagi tentang awal kehidupan, atau pada sore hari tentang hari tua manusia. Apabila manusia memahami alur kehidupan alam, manusia akan menemukan ilmu sejati yang bernilai tinggi. Kemudian, “rumpun bebambu hati” menyimbolkan mengenai diri manusia sendiri, yaitu hati. Seperti yang seringkali diucapkan manusia Jawa, “Gusti Allah ada di dalam hati setiap manusia” yang termanifestasikan ke dalam rasa sejati yang tidak pernah mengajak manusia ke dalam hal-hal buruk.

Menjadi pelajar di depan alam semesta dan tubuh manusia dapat dijadikan sebagai bekal dalam menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Perjalanan manusia Tuhan yang mencintai Tuhan melebihi apa pun, bahkan dirinya sendiri yang akan mengajak manusia untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk yang tercinta (Tuhan). Aktivitas ini, apabila dalam khasanah Islam ditunjukkan dalam perilaku ibadah, misalnya saja shalat dan dzikir (mengingat) Tuhan. Manusia pada umumnya, apabila kita merujuk ke khasanah Jawa, maka akan mengantarkan pada paradigma “laku” dengan cara melaksanakan “tapa brata” dan “lelana brata”. Sebagai usaha untuk belajar dari hati manusia (rasa sejati manusia).

Aktivitas belajar seperti ini, dalam puisi Di Atas Tandu Langitan antologi puisi Kitab Para Malaikat (2007) terbaca dalam bait:
Tentramlah dirimu berkepompong lalu munculkan bulu sayapmu,
kepakanmu memikat pandang membelai peputik kembang (VIII : LXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 48).

Menyepi menjadi salah satu jalan untuk belajar dari diri sendiri, dari kesunyian dengan lebih memperhatikan keberadaan rasa manusia. Kenapa dalam aktivitas menyepi, manusia lebih harus mengejawantahkan perasaannya ketimbang pikiran? Dan menjadikan manusia sebagai patokan dalam memulai sebuah perjalanan panjang pembelajaran?

“Dunia terwujud bersama dengan manusia” (Beatty, 2001: 230) yang mana keberadaan dunia ini ditentukan oleh keberadaan esensi dari manusia. Adanyanya wilayah yang disebut dengan dunia, karena ada manusia yang menyaksikan keberadaan material dan non-material dari dunia itu. Bersebab landasan ini, tidak menjadi suatu pemikiran semu ketika dalam kepercayaan batin jalan spiritual manusia Jawa, diri sendiri (rasa sejati) sebagai pusat dari tatanan dunia.

Selayaknya titik kosmos kehidupan masyarakat Jawa, titik berada di tengah yang mengatur segala aspek yang ada di tepian. Hati yang memiliki otoritas penuh dalam tatanan kosmos, sehingga dia (hati manusia atau rasa sejati) menjadi makro-kosmos dan tubuh adalah mikro-kosmos (Magnis-Suseno, 1995: 118). Dengan menyepi yang tertuang dalam “berkepompong” sebagai usaha untuk membangkitkan kekuatan batin manusia. Diketika manusia “berkepompong” dia, maksud saya manusia itu (penyair) memiliki ruang dan waktu yang lebih banyak untuk mendengarkan rasa sejati, dimana cahaya Tuhan Semesta Alam bersemayam, sebagaimana diungkapkan Mulder (1984: 11) bahwa Tuhan ada di dalam hati manusia, dan hidup manusia sendiri harus menjadi doa yang terus menerus kepada Tuhan. Dan orang yang memiliki hubungan dekat (yang secara sadar) dengan Tuhan, maka sudah tentu akan muncul keindahan di dalam jiwanya.

Ini sebagai bagian dari tujuan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang penyair. Kedekatan batin dengan makro-kosmos akan memberikan ruang yang lebih banyak dan makna terdalam dari saripati dunia yang termanifestasikan. Suatu perjalanan yang memang musti ditempuh dengan keyakinan akan “jalan hidup” seorang penyair, sebagaimana yang terbaca dalam bait dibawah ini:
Ketika mengunjungi keganjilan, tarikanlah penamu sampai batas lunglai,
bukan kesiaan memalukan, menelan buah maja tercapainya kerajaan (VIII : CIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 49-50)

“Ketika mengunjungi keganjilan” aspek ini yang menterjemahkan mengenai proses dalam meraih kedekatan dan pembangkitan kekuatan dari rasa sejati (makro-kosmos). Saya mendefenisikan istilah “ganjil” sebagai hal yang merujuk pada kegiatan yang bernilai spiritual, katakan saja Tuhan itu satu sehingga dia bernilai ganjil. Menempuh perjalanan untuk mencapai kekuatan batin memerlukan kerja keras dalam niatan “laku” akan “tapa brata dan lelana brata” yang mana suatu kegiatan yang tidak enak. Sebab, manusia akan digiring ke aktivitas untuk mengurangi makan, tidur, maupun berbincang untuk menjalani ritual kebatinan.

Kemauan dan tekat untuk mencapai “laku” kebatinan bukan suatu aktivitas yang tanpa hasil, walau sudah mencapai pada “batas lunglai” yaitu keterbatasan manusia dalam usaha menembus batas-batas tubuh(badaniah)nya. Aktivitas “laku” ini yang seringkali disebut dengan prihatin, memakan yang pahit dulu untuk mencapai manisnya hidup yang lebih hakekat. Untuk itu, memang menjadi hal yang berat ketika hidup hanya sekali dan dijalani untuk menempuh dan mereguk proses yang pahit, akantetapi “maja tercapainya kerajaan”, tinggal kita memilih, mana yang akan kita capai dahulu. Apakah kita akan memakan pahit kemudian manis, atau manis terlebih dahulu kemudian pahit? Perlu kita ingat, manis dan pahit ditentukan oleh tempatnya, apabila dia berada di akhir, maka kita menuju ke arah itu. Surga atau neraka.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Azis Masyhuri A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Riyadi Amar A. Yusrianto Elga A.H. J Khuzaini A.J. Susmana A.S Laksana Abd. Basid Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abimardha Kurniawan Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adi Faridh Adian Husaini Adreas Anggit W. Adrizas Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agni Rahadyanti Aguk Irawan M.N. Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Hartanto Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Naufel Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Airlangga Pribadi Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Aldila Avrikartika Alfred Tuname Ali Audah Ali Soekardi Amien Wangsitalaja Andhi Setyo Wibowo Andi Andrianto Andong Buku #3 Andry Deblenk Angela Anggota FSL Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Septian Anwar Nuris Any Rufaidah APSAS (Apresiasi Sastra) Arafat Nur Ari Saputra Ariany Isnamurti Arie Yani Arief Junianto Arifin Hakim Arim Kamandaka Arina Habaidillah Armada Riyanto CM Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Arysio Santos AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atafras Atmakusumah Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Babad Nuca Nepa Babe Derwan Badrut Tamam Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bambang Kuncoro Bambang Satriya Bambang Sugiharto Bandung Mawardi Banyuwangi Bengawan Solo di Karanggeneng Beni Setia Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Blambangan kuno Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P Hatees Budiawan Dwi Santoso Bujang Tan Domang Bung Tomo Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerkak Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah CNN Indonesia D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahlan Kong Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Daniel Paranamesa Danilo Kis Danuji Ahmad Darju Prasetya Darmanto Jatman David ZA Dea Anugrah Dedi Pramono Deni Jazuli Denny Mizhar Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dian Diana A.V. Sasa Didin Tulus Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djibril Muhammad Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Yan Masfa Dom Dinis Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo U. Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Edi Purwanto Edith Koesoemawiria EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Endarmoko Eko Nuryono Elin Yunita Kristanti Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Em Syuhada’ Emha Ainun Nadjib Eny Rose Eriyanti Esai Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fakhrudin Aris Fanani Rahman Fariz al-Nizar Faruk Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fauzan Al-Anzhari Fazabinal Alim Felix K Nesi Ferdiansyah Thajib Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Forum Sastra Lamongan Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawan Gede Mugi Raharja Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gito Waluyo Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Haaretz Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamzah Fansuri Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Harry Susilo Hartono Harimurti Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Henri Nurcahyo Hepi Andi Bastoni Heri CS Heri Latief Heri Listianto Heri Santoso Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru CN Heru Joni Putra Hikmat Gumelar Hilmi Abedillah Hudan Hidayat I Made Prabaswara I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Yunanto Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra J. Piliang Indra Tjahjadi Indra Tranggono IPNU Kabupaten Lamongan 1955 Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iwan Kurniawan Iwank Jadid Al Farisy Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D Rahman Jamaluddin Mohammad Jamrin Abubakar Jauhari Zailani Javed Paul Syatha Jean Couteau Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Joao Ruiz De Castelo Branco Johan Khoirul Zaman John Halmahera John Sinartha Wolo Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K.H. Anwar Manshur K.H. Ma'ruf Amin Karanggeneng Kasnadi Katrin Bandel Kemah Budaya Panturan (KBP) Khoshshol Fairuz Ki Ompong Sudarsono Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) KOSTELA Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kukuh Yudha Karnanta Kurnia EF L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Sitoresmi Lamongan Lamongan 1916 Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Christanty Liza Wahyuninto Loe Lan Ing Lukisan Rengga AP Lukman Santoso Az Lutfi Rakhmawati Lynglieastrid Isabellita Lysander Kemp M Anta Kusuma M. Aan Mansyur M. Harir Muzakki M. Latief M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahamuda Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Majelis Sastra Asia Tenggara Makalah Tinjauan Ilmiah Mala M.S Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marsi Ragaleka Martin Aleida Martin Lings Masdharmadji Mashuri Mathori A Elwa Matroni Muserang Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Misbahus Surur Mochtar Lubis Mohammad Eri Irawan Muafiqul Khalid MD Mudjia Rahardjo Muh Syaifullah Muhajir Arifin Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yamin Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mujtahid Mujtahidin Billah Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak Nadhi Kiara Zifen Nafi’ah Al-Ma’rab Nailunni’am Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Thaleb Nawa Tunggal Nevatuhella Nezar Patria Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nitis Sahpeni Nizar Qabbani Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nunung Nurdiah Nurel Javissyarqi Nurjanah Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Octavio Paz Olivia Kristina Sinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pagelaran Musim Tandur Pawang Surya Kencana PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin PDS HB Jassin Pesantren Tebuireng Petrus Nandi Philipus Parera Pipiet Senja Plato Pramoedya Ananta Toer Pratono Pringadi AS Priyatna Abdurrasyid Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi Puji Santosa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Ratnaning Asih Ratno Fadillah Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak 1991-1992 Rheza Ardiansyah Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riyadhus Shalihin Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Rodli TL Rojiful Mamduh Romi Zarman Rosihan Anwar Roso Titi Sarkoro Rudy Polycarpus Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Mueller Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Samin Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Saparinah Sadli Sartika Dian Nuraini Sarworo Sp Satmoko Budi Santoso Satriani Satriwan Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sejarah SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Siwi Tri Puji B Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Solihin Solo Exhibition Rengga AP Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi St Sularto Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudartomo Macaryus Sugiarta Sriwibawa Sugiarto Sujatmiko Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suripto SH Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutamat Arybowo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syamsudin Walad Syi'ir Sylvianita Widyawati Syu'bah Asa TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Th Sumartana Thales Theo Uheng Koban Uer Timur Budi Raja Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto To Take Delight Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tomas Transtroemer Tosa Poetra Toto Gutomo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wahyu Awaludin Warih Wisatsana Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Wemmy Alfadhli Wicaksono Widya Oktaviani Wina Bojonegoro Wingko Legendaris dari Babat-Lamongan Wisnu T Hanggoro Wowok Hesti Prabowo Y Alprianti Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yanto Musthofa Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yoram Kaniuk Yunit Permadi Yusi A. Pareanom Yusri Fajar Yuval Noah Harari Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito